Rabu, 14 Desember 2011

Pintalan Kata untuk 3 Tahun Persahabatan kita


Bersama mendung yang datang membayang cakrawala,
Dipojok kamarku, 22 Juli ‘11

Sahabatku… mendekatlah padaku
Duduklah sejenak disisiku
Akan kubisikkan tentang berbagai kisah sendu, juga haru birunya hatiku
Tentang jalinan asa kita yang terasa begitu syahdu, hingga karnanya aku bertanya pada diriku, “maka nikmat Tuhanku  yang manakah yang harus ku dustakan??”

Meski ku tau, memang tak selalu indah, tak selalu mulus, tak selalu putih, pun tak selalu merdu
Pertengkaran kecil adalah riak yang tak pernah sepi mewarna hari kita
Rintang dan salah paham menjadi kerikil yang sering menggores luka

Kala mendung dihati kadang mengubah putih itu menjadi kelabu yang Nampak menyembilu jiwa
Pun saat derai air mata mengubah melodi menjadi terasa menyayat jiwa

Biarlah… biarlah semua itu menjadi bagian dari catatan kisah kita
Biarlah Nampak tak sempurna bak kisah cinta para shahabat terbaik Rasul kita
Biarlah… karna sepenggal episode ini akan tetap menjadi hal yang akan selalu ku syukuri adanya

Sahabatku… aku mencintaimu karna Allah, tuhanku…
Ungkapan ini kadang terasa hambar jika terucap tak beserta iman yang turut menghangat
Karna cintaku itu ternyata belum mampu membuatku iri pada kebaikan – kebaikanmu hingga melecutku bak irinya Umar kepada Abu Bakar atas amal tak tertandinginya

Karna cintaku padamu ternyata juga belum mampu membuatku mengutamakanmu diatas kepentinganku, bak kaum Anshar terhadap Muhajirin
Karna cintaku padamu ternyata juga belum mampu membuatku selalu ridho atas segala alpa dan khilafmu

Semoga engkau memaafkan cintaku yang tak sempurna ini sahabatku….
3 tahun pintalan benang persahabatan ini kita rajut bersama… dengan warna yang belum sepenuhnya senada, dengan motif yang belum sepenuhnya sempurna… semoga tidak membuat kita luput mensyuukurinya

Jika orang – orang yang saling mencinta karna-Nya dijanjikan naungan dihari tak ada naungan selain dari-Nya… maka aku selalu berharap tautan ukhuwah ini membuat kita terpilih menjadi salah satu diantaranya

Jika sejenak lagi perpisahan menjadi babak yang tak lagi mampu terelakkan… semoga Rabithah menjadi pengikat hingga kita kembali bersua di taman Firdaus-Nya…

Sahabatku… bahwa **jika ada kesalahan yang tertakdir atasmu pada diriku, maka aku selalu berharap takdir kemaafanku selalu menjadi pengiring setianya
Semoga begitu pula denganmu…
#Dari yang senantiasa memelukmu dalam Rabithahku,
Rosa Al-Rosyid



4 komentar:

  1. aku komen....

    aul : uda jadi mama
    isty : sarungnya gak kuat...gak..gak...gak kuat
    ocha : plis, gayanya jangan monoton donk!!!kaya ku gitu, lucu...unyu2
    uni : idup uni!!!
    ndandut : jo galau yo dek...:P
    mba' ari : sering2 gabung ma kita donk
    cite : kena angin ya cit?koq roboh...:D

    BalasHapus
  2. kak Unil... biarin tooo, kan aku niru asma nadia yg gaya fotonya selalu manis dan kalem nggak neko - neko :P


    Asep... salam kenal juga :) makasii ya udah mau berkunjung ke rumahku :D

    BalasHapus
  3. mb iyang: emg aku roboh piye? makna konotasi atau denotasi ki?????

    uchay: ak terharu namaku tertera di picture atas, ^^

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)