Selasa, 09 Oktober 2012

Yang ini memalukan!



“Kesalehan seseorang tidak bisa dinilai sekedar dari mulut atau penampilannya saja,” begitu kira-kira quote dari salah satu novel favorit saya, karya Tere Liye. Dan saya setuju. Karna apa? Karna saya melihat kebenaran dari kalimat itu, bahkan dari diri saya sendiri.

Saya ini pinter ngomong macem-macem. Sering sekali menasehati teman yang sedang curhat, seolah saya sudah pinter dan sering mengamalkan apa yang saya nasehatkan. Padahal kenyataannya? Nol besar. Omong kosong. Saya lebih sering hanya bisa menasehatkan, tapi amat kepayahan untuk mengamalkan. Duh, padahal di Al-qur’an tertulis jelas tentang ancaman untuk orang yang bicara  tapi tidak mengamalkan kan yah?! T.T

Salah satu contohnya, *yang saat ini sedang saya rasakan* adalah soal syukur. Rasa-rasanya saya sering nasehati sahabat saya yang hobi galau (baca: isty) tentang itu. Tapi saya sendiri, coba lihat? Hamper nggak pernah melewati hari tanpa keluhan. Selalu merasa ada yang kurang dari hari-hari dan hidupku, selalu berharap lebih untuk apapun yang saat ini ada dalam genggaman. Duh, Allah… sebegitu menjijikannya-kah akhlak saya?? Hingga mata saya seolah tertutupi oleh begitu pekatnya ribuan titik hitam dosa untuk bisa melihat betapa sebenarnya Allah selalu dan selalu member apapun yang saya butuhkan. Sebegitu bodoh-kah saya, hingga saya seperti tak punya kemampuan untuk berucap “Segala puji hanya bagiMU, Rabb…” dari hati yang paling dalam, dari kejujuran yang paling jernih.

Ahh, apalgi di saat-saat seperti ini… detik-detik menjelang kedatangan tami rutin (bukan hal tabu kan ya?!). entah tersugesti oleh anggapan tentang pengaruh perubahan hormon wanita yang cenderung menjadi lebih sensitive saat menjelang menstruasi, atau bagaimana… saya kok jadi seolah sangat punya hak untuk selalu emosi, uring-uringan, menganggap ini-itu salah, dia-mereka menyebalkan, dan sebagainya dan sebagainya. Hmm… kalau dipikir-pikir, memangnya dalam tiga minggu masa suci saya, ada berapa gelintir amal sholeh yang saya cetak, hingga berani-beraninya melakukan “dosa rutin” seperti itu?! Astaghfirullah… astaghfirullah…

Yah, saya nggak punya tujuan apapun dari tulisan ini. Ini kan “rumah” saya kan ya? Jadi boleh kan saya mengeluarkan uneg-uneg bahkan yang amat memalukan ini. Emm, oh ya… tapi sepertinya saya harus memberi pesan seperti di tayangan-tayangan kekerasan di acara berita televisi: JANGAN DITIRU!!


Rumahku,
07 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)