Selasa, 12 Mei 2015

Terjangan Arus Fashion

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26)

Hari-hari sekarang ini -- ketika online shop semakin menjamur, fashion blogger bermunculan, dan akun instagram para artis wanita selalu memanjakan mata, menahan diri untuk nggak terseret arus fashion memang rasanya berat sekali. Kalaupun sudah mampu meneguhkan hati untuk nggak terseret, masih ada satu lagi tantangan yang tak kalah berat. Yaitu, menebalkan telinga. Pasti akan ada saja komentar yang membuat telinga menjadi merah. Ketinggalan jaman, nggak fashionable, kuno, dll -- adalah beberapa contoh komentar yang cukup menguji hati tersebut.

Kebetulan saya bekerja di lingkungan sebuah kampus swasta. Dan seringkali, saya dibuat melongo oleh penampilan para mahasiswinya. Gaya berpakaian a la hijabers community bertebaran di penjuru kampus (karna kampus tempat saya kerja adalah kampus islami). Kadang malah saya merasa gaya berpakaian beberapa mahasiswi lebih mirip hendak ke mall atau ke kondangan dibanding hendak kuliah. Hehe. Saya kadang suka mikir, berapa budget yang harus mereka keluarkan untuk mengikuti mode hingga sedemikian rupa? Dan bukankah mereka mahasiswi yang belum punya penghasilan sendiri? Dulu, rasanya saya hampir nggak pernah dikasih uang khusus untuk beli baju, dll. Uang saku ya cuma buat makan. Beli baju paling kalau pas lebaran, atau dari hasil ngumpulin sisa uang saku. Ah, tapi itu kan saya, mungkin beda dengan mereka.


Ya, mungkin sebagian besar mahasiswi memang berasal dari keluarga berada. Jadi, tentu bukan masalah besar jika mereka hendak mengikuti arus fashion yang semakin hari semakin menggila. Tapi bagaimana dengan yang berasal dari keluarga seperti saya -- yang buat biaya hidup dan biaya kuliah saja sangat pas-pasan? Akan ada dua pilihan jalan. Meneguhkan hati tetap pada penampilan apa adanya, atau memilih terjungkal-jungkal dan ngotot mengikuti apapun caranya. Duh, ngeri sekali jalan yang kedua itu -- yang sayangnya, saya tahu persis ada beberapa yang nekat memilihnya. Pernah dengar prostitusi di kalangan mahasiswi? Itu adalah contoh ekstrim dari pilihan jalan yang ke dua tadi.

Saya punya kenalan salah satu mahasiswi. Dia berasal dari keluarga yang 11-12 dengan saya. Awalnya saya salut dengan cara dia menghemat uang saku. Dia makan seadanya, seringnya masak sendiri. Tapi lama-kelamaan saya merasa cara makan dia sangat nggak sehat. Kadang cuma bikin bubur pake magic com, tanpa lauk apapun. Kadang malam nggak makan. Anehnya, saat ia sedang punya uang (habis dapat kiriman uang saku), ia tak sungkan untuk segera membeli baju yang harganya menurut saya lumayan. Dan yang bikin gemes ,setelah membeli baju ia akan sibuk mengeluh nggak punya uang setiap jam makan. Yang lebih mengherankan lagi, dia punya utang ke beberapa orang, yang tetap belum dibayar padahal dia udah bisa beli baju -- sedangkan utangnya 'hanya' sepersepuluh harga baju yang barusan dia beli. Tapi hal seperti itu ternyata menjangkit hampir seluruh lapisan usia -- nggak cuma anak muda. Di lingkungan rumah saya, saya juga pernah beberapa kali mendengar cerita tentang para ibu rumah tangga yang punya banyak hutang demi membeli baju-baju dengan model paling update. Subhanallah...

Yah, hidup memang pilihan. Dan tiap orang Allah beri kebebasan untuk memilih jalannya. Termasuk memilih untuk tetap tampil sederhana, atau menceburkan diri dalam terjangan arus fashion yang nggak akan ada habisnya. Hanya yang perlu diingat, harusnya kita cukup dewasa untuk tidak menggadaikan banyak hal berharga demi memenangkan keinginan untuk mengikuti mode. Hidup terlalu berharga dibanding sekedar 'penampilan luar' bukan? Ada hal yang lebih hakiki yang harusnya lebih menguras perhatian kita dibanding hanya sekedar mempercantik penampilan, yaitu mempercantik hati. Eits, tapi tentu saja saya nggak bilang memperhatikan penampilan itu salah. Yang paling penting, sewajarnya saja :)

10 komentar:

  1. kadang prihatin juga,hanya demi pakaian dan fashion terkini..kalau punya uang lebih g masalah tapi kalau sampai cuma makan bubur aja dan malamnya g makan itu bener2 memprihatinkan sekali :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, maka dari itu mbak... saya kasian sama tubuhnya :|

      Hapus
  2. untung saya orang'a cuek mba ga terlalu mikirin yang nama'a fashion

    BalasHapus
  3. Hal kayak gitu kebanyakan sih udah jadi gaya hidup Mbak. Ibu-ibu rumah tangga yang udah terbiasa kredit, duh gak bakal punya hati buat ngelunasin utangnya. --"
    Karena itulah realita yang terjadi pada pelanggan baju ibu saya. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... ga di sana ga di sini ternyata sama aja yaaa *tepok jidat*

      Hapus
  4. masyarakat kita memang sedang terjangkit gaya hedon ya....

    BalasHapus
  5. nice post
    http://ramuantradisionalkita.com/pengobatan-tradisional-kanker-serviks/

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)