Jumat, 10 Juli 2015

#Ramadhan23: Syukuri Saja Bagianmu

"Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan tidaklah didapatkan pada seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin : Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya, maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya." (Riwayat Muslim)

Huaaa... udah masuk 10 hari terakhir aja, ya... cepet banget! Ngrasa belum dapet apa-apa di Ramadhan ini... target-target ibadah melenceng jauh dari harapan :( Bener kata Ustadz saya. Kita semua tuh tahu betapa mulia bulan Ramadhan, tapi herannya kok kita masih terus mengulang kebodohan tiap Ramadhan: menyia-nyiakan waktu dengan perbuatan yang ga penting. Nggak cuma target ibadah yang melenceng, target posting tiap hari di bulan Ramadhan pun turut keteteran. udah berapa hari ya bolong nggak nulis :((
Yuk ah, bangkit!!! *melecut diri sendiri*

Nah, sekarang saya mau cerita. Namanya juga Rosa Bercerita, ya isinya kebanyakan cerita. hehe.

Pernah nggak sih kalian merasa gimanaaa gitu (halah, bilang aja iri!) ketika melihat teman sejawat yang pencapaian hidupnya sudah jauuhhh melebihi kita? Kalau saya sih sering! *jujur* Saya sering nelangsa kalau liat teman sejawat yang sudah 'mapan'. Cantik, karier oke, sudah menikah, suaminya punya karier cemerlang, sedang mendapat anugrah berupa kehamilan, tiap update status kayaknya hidupnya seneng terus, dll. Duuhhhh, sumpah... irinya tuh bukan iri dengki, tapi lebih ke: meratapi nasib. Merasa kerdil banget.

"Duh, Ya Allah... aku sama dia kan dulu sama-sama culun, hidup bareng di kost, kok dia udah kayak gitu, akunya masih gini-gini aja :( Dia udah sibuk mikir nabung buat beli mobil, rumah, de el el, sayanya masih 'cuma' mikir beli cilok sama siomay!"

Terdengar kufur nikmat, ya? Mungkin, iya.

Tapiii tapiii... semalam saya 'disentil' sama Allah. Mata saya terbuka lebar. Nooohhh, yang kamu lihat 'sempurna' banget ituu belom tentu bener-bener sempurna kenyataannya!! Jadi inget sebuah quotepict ini:

sumber
Jadi teman-teman, gini ceritanya... semalam, teman sejawat saya yang sempet bikin saya iri hati itu semalam tiba-tiba nge-chatt saya, bilang pengen curhat. Saya mempersilakannya. Tahukah kalian apa isi curhatnya? Ternyata, suaminya masih 'hobi' BBM-an sama teman-teman cewek dan mantannya, bahkan juga sempat punya 'pacar' lagi. Lebih parahnya lagi, suaminya suka kasar (omongannya), dan beberapa kali bilang 'silahkan pergi dari rumah' tiap teman saya mengingatkan suaminya atas perilaku buruknya. Emm, itu udah termasuk talak belum sih?

Duh, Ya Allah... saya malu sama diri saya sendiri. Betapa saya amat sangat kurang bersyukur sekali :( Saya lupa bahwa Allah itu Maha Adil. Takdir senang dan susah dipergilirkan dalam takaran yang PAS buat kita. Adil itu nggak selalu harus sama kan, ya? Adil itu berarti sesuai porsi.

Yang jomblo (saya maksudnya!) seringkali mengeluh dan merengek untuk segera dipertemukan dengan jodoh sampai lupa menikmati dan mensyukuri masa jomblonya. Padahal, pernikahan yang mereka bayangkan akan membuat mereka terbebas dari macam-macam intimidasi pun pada kenyataannya nggak sesederhana itu. Belum nikah ditanya kapan nikah, sudah nikah ditanya kapan punya anak, sudah punya anak ditanya kapan punya rumah sendiri, dan seterusnya.

Akan selalu ada 'hal-hal menyakitkan' dalam hidup ini. Siapa yang bisa mengobati? Diri kita sendiri. Dengan cara apa? Bersyukur. *Teorinya pinter, prakteknya NOL BESAR!* *nangis di pojokan*

Yah begitulah hidup. Daripada mengeluhkan apa yang belum kita punya, kenapa tidak memilih mensyukuri yang sudah kita punya saja? Mari, syukuri bagian kita masing-masing, tanpa merasa bahwa orang lain sudah mendapat jauh lebih banyak dari kita :)
 

4 komentar:

  1. Biasanya memang gitu, ca. Adilnya Allah dalam takaran yg tepat. Klo iri dg pencaoaian dunia, balikin lg udah sejauh mana usahanya. Karena ada rezeki yang datang dari sunnatullah seperti klo orang itu rajin pasti bakal lebih dibanyakin rezekinya. Ini siapa pun bisa dapet, asal rajin. Tidak peduli apa dia berislam dg baik atau ga. Tp ada jg yg rezeki dlm bentuk keimanan. Lagi2 semuanya udah tertakar dg sempurna sama Allah. :)

    BalasHapus
  2. Betul mbak...saya juga masih sering gitu. Kalau sudah begitu...biasanya trus mengingatkan diri sendiri...hidup itu "wang-sinawang"...apa yang keliatan enak di kita, blm tentu enak di mereka....nice posting mb...

    BalasHapus
  3. SETUJU... hihihi
    di bawah kolong jembatan ada yang lebih menderita :D
    Nice post

    BalasHapus
  4. Kalau melihat teman, orang lain sukses, lanjut doa saja, Rose.

    "Ya Tuhan, jadikan aku seperti dia." Kata Pak Mario Teguh. :D

    Itu ngeri pisan tmenmuu ih. . .

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)