Senin, 03 Agustus 2015

Suka Duka Masa Orientasi Siswa

Beberapa hari lalu, timeline FB saya dipenuhi dengan uplotan foto ibu-ibu yang sedang suka-cita yang buah hatinya masuk sekolah hari pertama. Apa artinya? Tahun ajaran baru telah dimulai! Kemarin waktu di rumah saya nonton TV, dan harus tercengang mendengar berita duka tentang seorang siswa yang meninggal -- dan diduga karena kelelahan mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa alias MOS.

Ya Allah, miris bayangin betapa sedih orangtuanya :( :( :(

Saya nggak berkompeten sih untuk menyoroti tentang MOS dari segi psikologis, dan lain-lain. Biarlah itu menjadi tugas para ahli, dan tentunya pihak-pihak yang berwenang di Kementrian Pendidikan. Tapi setelah melihat berita itu kemarin, saya jadi pengen flashback -- mengenang 'kayak apa sih MOS yang pernah saya jalani dulu?'.

Seingat saya, MOS nggak seseram ulasan berbagai media massa akhir-akhir ini. Yah, meskipun pada kenyataannya memang ada sih beberapa sekolah yang 'khilaf' menyelenggarakan MOS yang di luar kewajaran. Alhamdulillah-nya, saya selalu mendapat sekolah yang kegiatan MOS-nya masih tergolong wajar-wajar saja.

Bagi saya MOS saya -- baik di SMP maupun SMA -- itu seru. Iya siihh tetep disuru pake aksesoris aneh-aneh yang bikin lumayan malu waktu naik bus. Emm, mungkin waktu itu saya lumayan dongkol juga sih. Tapi lucu aja kalo diinget sekarang -- jadi semacam kenangan manis, karna saya sudah lupa seperti apa dongkolnya. hehehe. Dikasih tugas bawa macem-macem juga, yang bikin malem harus begadang. Tapi ya itu tadi, kalo diinget-inget lagi sekarang, malah jadi kenangan manis. Soal hukuman? Ada siihh hukuman... kalau nggak ada hukuman ntar pada membangkang semua bisa-bisa. Tapi nggak pernah pake hukuman fisik. Uugghh, BIG NO-NO kalo itu! Hukumannya cenderung yang lucu-lucu aja. Ya emang bikin malu yang dihukum, tapi nggak mempermalukan yang gimana banget. Saya sih anak baik, ya... jadi nggak pernah tuh kena hukuman :p

Masa Orientasi Siswa juga menjadi moment perkenalan yang efektif dengan para teman baru -- menurut saya. Karna kita (sesama siswa baru) seolah merasa 'senasib sepenanggungan' saat MOS. Coba kala masuk sekolah hari pertama langsung dikasih pelajaran... bisa-bisa nggak sempet kenalan dan langsung sibuk belajar?! Biasanya salah satu agenda dalam MOS seingat saya adalah pengenalan tentang lingkungan sekolah. Kan nggak lucu, ya kalo entar mau ke kantin atau ke musholla di sekolah baru pake acara nyasar dulu. Haha. Tapi, yang paling seru dari MOS sih tetep satu, yaaa: jadi bisa tau -- syukur-syukur kenal -- sama para kakak kelas yang keren-keren itu :D. Siapa hayooo di sini yang nge-fans sama kakak kelas bermula saat Masa Orientasi? Ngaku! Bahkan saya ngrasain indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat MOS di SMA #tsaaahhhh :D :D :D

Menurut saya MOS itu tetep perlu diselenggarakan. Cuma, mungkin 'mainset' tentang MOS -- baik dari sisi panitia maupun pesertanya yang harus diubah. Bagi panitia, ayoooo dong... jangan lagi anggap MOS sebagai ajang balas dendam. Plis dehhh, masih sama-sama siswa... apa sih yang bikin kalian lebih SUPER dari para adik kelas kalian?! Coba logikanya diubah. Yang tadinya 'Dulu saya diginiin, sekarang aku akan perlakukan saya seperti itu juga!', jadi: 'Dulu saya sedih diperlakukan nggak baik sama kakak kelas. Sekarang saya nggak boleh memperlakukan adik kelas seperti itu, karna itu akan bikin mereka sedih juga'. Lebih indah, kan? :)

Nahhh, bagi peserta, ayoooo dong, jangan jadi penakut! Kalian boleh patuh sama kakak kelas, tapi tetap ada batasnya. Jangan takut bertanya alasan atau menolak saat kakak kelas kalian memberi tugas atau hukuman yang bagi kalian berlebihan. Jangan pula ragu untuk meminta ijin istirahat jika kalian merasa fisik kalian sudah nggak mampu mengikuti berbagai kegiatan dalam MOS. Berhenti juga menganggap MOS sebagai ajang penyiksaan. Karna bisa-bisa MOS yang sebenarnya 'wajar' berubah jadi 'neraka' karna kalian terlanjur punya anggapan seperti itu. MOS itu seru kok kalau kalian bisa menikmatinya :)

Intinya, saya turut prihatin jika ada hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dalam MOS. Saya nggak masuk dalam barisan orang yang menuntut MOS dihapuskan, tapi saya mendukung sepenuhnya perbaikan dalam berbagai aspek dunia pendidikan, termasuk tentang penyelenggaraan MOS ini :)

5 komentar:

  1. Sudah bukan zamannya lagi perpeloncoan, ya, Mbak. Masa orientasi siswa semestinya mendidik, bermartabat, dan beradab. Bener begitu, kan, Mbak? Salam dr Bantul :)

    BalasHapus
  2. Hehe iya mbak, kebanyakan media memblow up dari sisi korban, tapi klarifikasi dari pihak sekolah tidak pernah ditayangkan :D

    BalasHapus
  3. Salah satu yang saya ingat dari MOS adalah mengumpulkan ttd dari kakak2 OSIS. Memang kdg disuruh yang aneh2, tapi gak fisik. Dan malah bikin banyak temen kenal kakak kelas.

    BalasHapus
  4. untung di sekolah saya dulu dari SMP-SMA g ada mos2an hehe,yaaa sekali ngerasain waktu kuliah hehehe.

    BalasHapus
  5. kalau saya mos dianggap seruseruan ajalah yaa :D

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)