Rabu, 12 Oktober 2011

Untuk Sang Ustadzah


Siang itu matahari bersinar terik sekali, tapi tak menyurutkan secuil pun niatnya untuk tetap melangkah memenuhi janji untuk hadir membagi ilmu pada kami anak – anak muda yang haus ilmu.
Padahal, beliau pasti tahu bahwa beliau tak akan membawa balasan jasa yang berarti dari kami ketika pulang nanti
Padahal, gaji beliau dari pekerjaan resminya tak lagi perlu tambahan untuk mencukupi segala kebutuhan. Belum lagi gaji suami yang punya jabatan strategis disebuah instansi.
“Kenapa Ibu mau berpanas – panas hanya untuk memenuhi undangan kami, padahal kami tak mampu memberi balasan apapun?”, tanya salah satu dari kami suatu hari seusai beliau menyampaikan beberapa nasehat tentang hak – hak saudara muslim atas diri kita.
Beliau terlihat menarik nafas pelan, lalu tersenyum simpul sebelum akhirnya memberi jawaban yang bagi kami sungguh mengesankan.
“Karna selalu ada kebahagiaan yang tidak pernah saya temui dalam aktivitas saya yang lainnya ketika saya melihat sorot mata antusias kalian dalam mencari ilmu Allah…”, ucapnya pelan sembari menepuk pundak teman kami yang tadi melempar pertanyaan, “Dan agar saya selalu merasa bodoh dengan berbagai pertanyaan dari  kalian, sehingga saya tidak lantas merasa puas kemudian berhenti belajar”, lanjutnya kemudian.
Umurnya berbilang 30 – an. Namun nampak jauh lebih matang dari umur sebenarnya. Senyumnya meneduhkan setiap jiwa, kata – katanya lembut tak pernah menghakimi, nasehat – nasehatnya nyaman tak terkesan menggurui.
Tapi, kembali ada yang mengganjal di hati salah satu teman kami. Ganjalan yang tak kuasa untuk menahan dia tak bertanya meski pertanyaannya sempat membuat kami memicingkan mata kemudian menggumam dalam hati, “Nggak penting banget sih!”.
“Bu, Ibu kan dari segi  penghasilan pribadi sangat cukup. Penghasilan suami, apalagi. Kok Ibu nggak pernah terlihat memakai satu pun perhiasan, cincin misalnya, seperti wanita pada umumnya, kenapa to Bu? Kan Islam juga tidak melarang untuk itu!”
Sang Ustadzah terkekeh pelan, “ada – ada saja kamu ini…”, ucapnya kemudian.
Kami kira, cukup sampai disitu, dan tak perlu ada penjelasan lebih lanjut untuk pertanyaan semacam itu. ternyata kami salah. Beliau tak pernah membiarkan tiap moment berlalu tanpa sebuah madu hikmah yang bisa kita cecap manisnya. Toh kalau diperhatikan lebih seksama, kami akhirnya bisa memahami keheranan teman kami tadi. Beliau sungguh lebih dari mampu untuk membeli berbagai macam perhiasan apalagi sekedar baju – baju mahal seperti pada umumnya kaum hawa.
“Jangan lantas mengira saya nggak suka lho pake’ perhiasan – perhiasan gitu!”, ucapnya sembari masih dengan tertawa tipis.
“Dulu pernah ada 2 cincin dijari saya, Sampai akhirnya ada tetangga yang  rumahnya selang 2 rumah dari rumah saya jatuh sakit…”, beliau berhenti sejenak mengambil nafas. Matanya tiba – tiba nampak mengkristal.
Setelah mengambil jeda, beliau melanjutkan, “Saat saya datang menjenguk, suaminya bercerita bahwa kata dokter istrinya keracunan karna memakan singkong yang sudah tidak layak konsumsi…”, setetes bening akhirnya tak lagi tertahankan.
“Kalian tahu mengapa tetangga saya itu memakan singkong tersebut? karna keadaan yang mengharuskan! ya Allah…”, suara beliau bergetar, membuat kami tertunduk dalam – dalam.
“Saya malu sekali… malu sekali…!! Ditengah kelapangan rizki kami, bahkan masih ada tetangga yang tak bisa makan nasi dan kami sama sekali tidak peduli..”, ucap beliau lagi. Mata beningnya menyapu wajah – wajah kami satu per satu, seperti sedang memastikan kami mencerna dengan baik tiap kalimat yang beliau ucapkan.
“Bukankah Rasulullah bilang bahwa tidaklah termasuk golongan beliau bagi siapa saja yang bisa tidur nyenyak sedangkan ada seorang tetangganya yang tak bisa tidur karna lapar?! Ya, mulai saat itu lah saya malu pada diri saya sendiri jika ada uang yang Allah titipkan, lalu saya belanjakan untuk hal – hal yang kemanfaatannya untuk saya seorang.”
Ya, itulah kisah seorang Ustadzah yang dengan segala pekertinya mampu membuat kami merasa pantas menempatkannya sebagai salah satu tauladan, tanpa diminta. Seorang Ustadzah, yang pantas bergelar Ustadzah, pun tanpa pernah sekalipun meminta digelari sebagai Ustadzah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)