Ungkapan Keprihatinan Melihat Wajah Dunia Pendidikan di Era Pandemi

on
Minggu, 11 April 2021

 Huaaa, udah setahun lebih ya ternyata ada kita hidup dengan tatanan baru, semenjak Virus Corona ada!

 

Sebuah tatanan hidup yang sama sekali gak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu tuh mana kebayang sih ke mana-mana harus pakai masker. Mana kebayang lihat anak-anak susia sekolah tiba-tiba harus tiap hari pakai HP, padahal sebelumnya ramai sekali teori parenting soal membatasi anak bersentuhan dengan benda berlayar.

 

credit: Pixabay

 

Dulu kita kira kondisi seperti itu akan beres dalam dua minggu. Lalu molor lagi, masih optimis akan beres dalam dua bulan. Dua bulan berlalu, eh kok gak beres-beres sampai hari ini akhirnya udah setahun lebih.

 

Terutama untuk para orangtua yang anaknya sekolah, dan harus menerima kenyataan bahwa anak mereka harus School From Home sejak pandemi. Bagi masyarakat kota, atau yang memadai secara sumber daya, mungkin waktu setahun sudah cukup membuat mereka beradaptasi dengan baik menghadapi kondisi ini. Tapi bagi yang tidak memadai sumber dayanya, rasanya makin hopeless. Masa depan anak-anak mereka terasa semakin buram.

 

Contohnya di desa kampung halaman saya. Yang sebagian besar orangtuanya sama sekali nggak ngerti teori parenting kekinian. Yang sama sekali nggak ngeh membersamai anak sekolah dari rumah itu gimana caranya. Apalagi di sana, banyak sekali para orangtua yang sekarang memilih bekerja di pabrik, dari pagi sampai sore. Yang artinya, anak dilepas tanpa pengawasan sedikit pun.

 

Lho, orangtua itu kan sebenarnya adalah pendidik utama bagi anak. Sekolah hanya mitra. Ya iya sih. Idealnya begitu. Tapi kan banyak hal di kehidupan ini yang jauh dari kata ideal. Dan selama ini, sekolah ada solusi terbaik bagi ketidakidealan fungsi keluarga dan orangtua di desa saya itu, dan saya yakin juga di banyak desa lain.

 

FYI, dalam kurun setahun ini, ada beberapa kasus anak-anak usia sekolah yang hamil di luar nikah. Ada juga yang tiba-tiba salah pergaulan, ikut kelompok punk. Sedih dan prihatin sekali melihatnya.

 

Terus gimana, kan masih pandemi? Pemerintah juga mengambil kebijakan itu untuk melindungi para anak sekolah?

 

Pertanyaannya (ini sebenarnya bukan pertanyaan saya, melainkan pertanyaan beberapa orangtua di kampung halaman saya itu), sekolah nggak boleh beroperasi kok pasar boleh buka? Pusat perbelanjaan juga hampir semuanya masih beroperasi. Titik kumpul keramaian masih banyak ditemui. Kenapa hanya sekolah yang benar-benar 100% nggak boleh beroperasi?

 

Anak nggak boleh sekolah, toh mereka tetap kumpul dengan teman-temannya, malah tanpa kontrol sedikitpun. Sekali lagi, iya memang ini tidak ideal. Iya, memang bagaimanapun, orangtua harusnya punya andil dalam mengatasi kondisi itu. Tapi yang saya ceritakan di sini adalah kondisi yang memang jauh dari kata ideal.

 

Kalau TK dan SD, okelah memang mungkin terlalu riskan, karena mereka belum cukup mampu memahami jika diberi peraturan untuk menjaga jarak, dll. Tapi untuk anak usia SMP ke atas, rasa-rasanya kok sudah agak bisa diatur ya. Akan jauh lebih baik mereka datang ke sekolah dengan guru yang memberi pengawasan, dibanding kumpul dengan teman tanpa sedikitpun pengawasan.

 

"Data ke sekolah tiap hari saja, mereka belum tentu paham pelajarannya. Belum tentu pinter. Lha apalagi ini sama sekali nggak pernah ke sekolah dan disuruh belajar sendiri?" begitu keluh salah satu orangtua yang saya temui.


Saya sama sekali nggak berniat menyalahkan pemerintah melalui tulisan ini. Saya paham kondisinya memang masih serba sulit. Dan kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Pemerintah pastilah tengah memikirkan langkah terbaik. Semoga dengan sudah divaksinnya para guru dan orang-orang yang ada di bidang pendidikan, pelan-pelan sekolah akan mulai beroperasi kembali. Aamiin.

Review G Cup: Pengalaman Pertama Memakai Menstrual Cup

on
Selasa, 16 Maret 2021

Wow, gak nyangka saya akan menulis tentang pengalaman pertama memakai menstrual cup. Karena dulu juga gak nyangka suatu hari akan beralih dari pembalut ke menstrual cup. Hehe.

 

Pertama kali banget tau bahwa di dunia ini ada alternatif pembalut bernama amenstrual cup, kalau gak salah tahun 2019 dari cerita Mbak @atiit di blognya, yang saat itu juga sedang bercerita tentang pengalaman pertamanya menggunakan menstrual cup.


Saat itu saya benar-benar yang heran campur takjub campur ngeri. Gak bisa bayangin benda dengan bentuk semacam itu dimasukin ke vagina. Setelah membaca cerita Mbak @atiit tentang menstrual cup itu, saya cerita ke paksu. Hanya sekedar cerita bahwa ternyata ada lho alternatif pembalut macam begitu.


Respon pertama paksu? Udah, gak usah aneh-aneh pengen coba! Wkwkwkwk, tau banget istrinya mudah digoyahkan rasa penasaran. Tapi saat itu rasanya belum terbersit sedikitpun untuk beralih ke menstrual cup.


Lambat laun, postingan tentang menstrual cup di IG semakin banyak. Makin banyak yang beralih ke menstrual cup, tidak terkecuali para selebgram, yang kemudian sharing tentang pengalamannya beralih dari pembalut melalui postingan feed maupun instastory. Yang kemudia membuat menstrual cup semakin dikenal.


Saat itulah rasa penasaran saya mulai terpancing. Saya mulai banyak baca tentang menstrual cup, meskipun tetap saja ada rasa 'ngeri' tiap kali membacanya. Cuma yang bikin saya makin penasaran adalah, kenapa sepertinya 'ngeri banget', tapi kok hampir semua orang bilang pakai menstrual cup super nyaman, nyesel kenapa gak dari dulu pindah ke menstrual cup, dan gak akan mau balik ke pembalut biasa lagi setelah kenal menstrual cup? Masa iya sih mereka semua bohong? Kan gak mungkin.


Pertengahan 2020, saya mulai mengalami masalah tiap menstruasi datang. Apalagi kalau bukan iritasi kulit. Dan parah. Dari dulu saya memang selalu iritasi jika memakai pembalut yang ada sayapnya. Merk apapun. Cuma gak separah beberapa bulan belakangan ini. Sedangkan sekarang flow menstruasi saya makin banyak di hari pertama sampau ketiga, yang membuat saya harus memakai pembalut bersayap.


Mulai deh tuh instens cari tau tentang menstrual cup lagi. Dan mulai terbersit niat untuk beralih dari pembalut. Akhirnya saya gabung komunitasnya G Cup. G Cup adalah salah satu merk menstrual cup lokal. Mereka memberi wadah bagi orang-orang yang sedang ingin beralih ke menstrual cup, atau baru awal-awal pakai, di sebuah grup chatt. Meski gak tiap hari ada obrolan, tapi lumayan sering ada yang sharing tentang pengalaman pertama mereka menggunakan G Cup.


Akhirnya, setelah sekian lama menimbang-nimbang, mengawali tahun 2021 (awal Januari) saya memantapkan diri untuk membeli G Cup.


Review Singkat G Cup, Reusable Menstrual Cup


G-Cup-Menstrual-Cup


Seperti yang saya bilang di atas, G Cup merupakan brand menstrual cup lokal, yang tentu saja harganya jauh lebih terjangkau dari menstrual cup brand luar. Tapi mereka menjamin bahan silikon yang mereka gunakan adalah silikon medical grade. Jadi aman, Insyaa Allah.


G Cup memiliki tiga pilihan ukuran, yaitu XS yang biasanya disarankan untuk remaja. Lalu size S untuk wanita yang belum pernah melahirkan, dan size L untuk wanita yang sudah pernah melahirkan. Tapi menurut obrolan teman-teman di komunitas G Cup, banyak juga yang tidak mengikuti pakem itu. Karena pada dasarnya, ukuran vagina dan flow darah menstruasi tiap orang berbeda. Balik lagi ya, kita harus mengenal diri kita sendiri.


Nah, karena ini pengalaman pertama saya membeli G Cup dan baru akan mencobanya, saya akhirnya memutuskan untuk membeli size S meskipun sudah pernah melahirkan secara pervaginam. Kenapa? Karena biar gak parno duluan lihat ukurannya yang gedhe banget. Hehehe.


Itupun setelah sebelumnya saya melemparkan pertanyaan ke grup komunitas, apakah ada yang sudah melahirkan pervaginam tapi pakai size S? Ternyata ada, dan aman aja, yeay!


Pengalaman Pertama Memakai Menstrual Cup


Setelah dinanti-nanti, akhirnya tanggal 29 Januari bulan lalu tamu bulanan saya datang. Antara excited dan deg-degan. Tapi karena mens saya datang ketika saya di kantor, jadi saya nggak langsung nyobain pake G Cup. Karena G Cupnya di rumah, dan belum saya steril.


Barulah keesokan harinya, untuk pertama kalinya saya nyobain pakai G Cup. Yang di luar dugaan, Alhamdulillah saat itu saya tenang. Justru lebih panik saat masih sekedar membayangkan. Hihi. Dan memang salah satu kunci utamanya memang harus tenang, agar G Cup bisa masuk dengan mudah dan tidak sakit.


Apakah langsung bisa? Alhamdulillahnya iya, bisa langsung masuk dengan lancar. Tapi urusan udah bener apa belum makainya, nah itu lain urusan. Hehe.


Tapi pada bulan kedua saya menggunakan menstrual cup, Alhamdulillah sudah mulai ngeh. Udah mulai bisa merasakan, apakah si menstrual cup-nya sudah terpasang dengan baik atau belum.


Beberapa Hal yang Harus diperhatikan Saat memakai Menstrual Cup


Hal pertama yang harus diperhatikan tentu saja tentang kebersihannya. Mengingat menstrual cup ini akan dimasukkan ke dalam tubuh kita. Menurut petunjuk, menstrual cup ini harus disterilkan dengan cara direbus di dalam air mendidih selama kurang lebih 2-3 menit, setiap akan di pakai pertama kali saat menstruasi datang, dan saat menstruasi berakhir atau sebelum menstrual cup kembali disimpan.


Sedangkan selama masa menstruasi, menstrual cup hanya perlu dibersihkan dengan air mengalir saja. Atau beberapa orang menggunakan sabun khusus untuk menstrual cup. Saya sendiri gak pakai sabun sih. Karena sabun khusus menstrual cup agak mahal, sedangkan kalau mau pakai sabun asal-asalan kok takut gak bagus untuk vagina.


Selain kebersihan menstrual cup, kebersihan tangan kita saat akan memasang dan melepas menstrual cup juga harus diperhatikan. Jadi, jangan lupa cuci tangan ya!


Macam-Macam Jenis Lipatan Menstrual Cup

 

Gedhe banget gitu, gimana masukinnya??

 

Tenang, guys... ada caranya.

 

Jadi, ada tigajenis lipatan (sepertinya lebih sih, cuma saya tau dan paham cuma tiga, hehe) yaitu, C-Fold, punch down dan 7-Fold.


Kayak gini nih gambarnya:


G-cup-menstrual-cup


Favorit saya adalah jenis lipatan punch down. Tapi mohon maaf, itu di fotobsaya melipatnya kurang rapi. Soalnya ternyata susah megangin lipatan menstrual cup sambil tangan yang satunya pegang HP untuk ambil gambarnya. Hehe.


Kesan Tentang Menstrual Cup dan Pesan Untuk yang Baru Mau Beralih dari Pembalut

 

Apa yang akhirnya menguatkan saya untuk memutuskan beralih ke menstrual cup?

 

Selain karena sungguh sudah tidak nyaman memakai pembalut karena sering iritasi (perih dan gatal) tiap memasuki hari ketiga menstruasi, saya lama-lama juga mikir, kenapa saya harus takut sih? Kalau se-ngeri yang saya bayangkan, pasti gak akan ada yang mau pakai menstrual cup. Sedangkan kenyataannya, hampir semua orang yang beralih ke menstrual cup, rata-rata bilang nyesel kenapa gak dari dulu kenal menstrual cup.

 

Kesimpulan yang saya ambil, memakai menstrual cup tidak se-ngeri yang ada di bayangan saya selama ini.

 

Dan ternyata? Absolutely, YES! Semua kengerian yang ada dalam benak saya sebelumnya, sama sekali nggak terjadi. Sama sekali nggak sakit, nggak ngganjal, dll.

 

Cuma, saya nggak mau berlebihan. Kalau banyak orang bilang, pakai menstrual cup seperti nggak pakai apa-apa, saya sih gak gitu ya. Saya tetap 'merasa' pakai apa-apa. Bukan karena gak nyaman, tapi lebih ke mainset. Atau mungkin karena masih proses adaptasi. Jadi di pikiran saya masih terus berdengung, ada 'sesuatu' di tubuhku'. Hehe.

 

Tapi sama sih dengan saat pertama kali pakai pembalut dulu. Bahkan dulu lebih parah. Malam pertama saya menstruasi dan tidur dengan pembalut, saya sama sekali nggak bisa tidur. Gara-gara ada sesuatu yang asing nempel di badan saya.

 

Jadi tegangnya pakai menstrual cup justru gak se-tegang saat pertama kali pakai pembalut.

 

Bocor gak?

 

Saya baru dua periode menstruasi memakai menstrual cup. Periode pertama, hari pertama dan kedua masih bocor. Dan masih clueless tentang apakah saya masangnya udah bener atau belum, sudah membuka sempurna di dalam atau belum. Kapan ngosonginnya, dll. Ya wajar lah ya, namanya juga baru pertama kali.


Pada periode kedua, Alhamdulillah udah mulai 'ngeh' tentang gimana cara masang yang bener, udah pas apa belum, jika dipasang seperti ini akan bocor, sedangkan jika seperti ini gak bocor. Dan itu beneran hanya bisa dipraktekkan dan dipelajari langsung, sambil mengenal tubuh kita sendiri. Bener-bener harus learning by doing.

 

Menurut saya, menstrual cup ini terasa sangat nyaman dipakai justru saat flow menstruasi sedang deras-derasnya. Hari kedua-ketiga gitu. Karena bikin sama sekali gak merasa 'becek' seperti saat pakai pembalut, dan bener-bener ngrasa seperti gak sedang pakai apa-apa.


Sedangkan saat darah keluarnya sudah tinggal dikit-dikit, akan agak terasa gak nyaman ketika memasukkan. Sebagian orang menyiasarinya dengan memakai pelumas. Tapi saya sendiri sih enggak. Dan ketika sudah masuk pun sedikit terasa agak mengganjal. Sedikit sih tapi.


Oh ya satu lagi, apakah yang masih virgin boleh memakai menstrual cup? Boleh. Tapi memang ada resiko akan merobek selaput dara. Tergantung value masing-masing orang dalam memaknai sebuah 'keperawanan'.


Tapi kalau saya sendiri, misal saya masih virgin, rasanya saya gak akan pakai menstrual cup. Bukan karena takut selaput dara robek, melainkan rasanya jika saya masih virgin, gak akan kebayang aja untuk memasukkan sesuatu ke vagina. Hehehehe.


So, selamat memantapkan hati untuk beralih ke menstrual cup yaaa teman-teman yang sedang galau :)

Utang, Demi Kebutuhan atau Keinginan?

on
Selasa, 05 Januari 2021

 Hidup tanpa utang. Siapa yang nggak mau? Saya rasa hampir tidak ada satu pun manusia yang ingin memiliki utang. Tapi apa daya jika kondisi menempatkan kita pada posisi yang akhirnya mengharuskan kita untuk memiliki utang? Ya sudah, gimana lagi. Selama utang demi kebutuhan, dan bukan demi keinginan, menurut saya masih bisa dimaklumi.


Saya mengenal utang sebagai metode bertahan hidup yang termasuk paling awal saya ketahui. Sejak kecil. Saat saya mengangsurkan kartu SPP sekolah pada Ibu, kemudia ibu dengan mata menerawangnya menerima. Tidak lama kemudian, biasanya ibu pamit pergi sebentar. Beberapa kali saya curi dengar obrolannya dengan Bapak, ibu harus mencari orang yang bersedia memberikan utang. Demi membayar biaya sekolah 3 anak.

 

Credit: Pixabay

 

Berulang-kali Bapak-Ibu bercerita, bahwa dulu saat kami masih sekolah, gali lubang-tutup lubang, pinjam uang-bayar utanng -- memang siklus yang terus berlangsung. Siklus yang akhirnya bisa diputus, ketika kami anak-anaknya sudah lulus dan kemudian bekerja. Bapak-Ibu bilang, mereka hanya ingin anak-anaknya sekolah dengan baik. Sesuatu yang semoga bisa mengantarkan kami pada  takdir yang jauh lebih baik dibanding apa yang orangtua kami jalani sebelumnya.


Jika kondisinya seperti itu, apakah kita bisa bilang bahwa utang harus tetap dihindari? Lalu lebih memilih anak-anak nggak bisa bayar sekolah?

 

Kembali lagi, utang jika memang demi kebutuhan yang tidak dapat dielakkan, menurut saya tidak apa-apa. Kalau mau utang demi keinginan, pertanyaannya, mau sampai kapan? Mau sampai kapan semua keinginan dituruti sampai harus berutang, sedangkan kita tau keinginan kita itu tidak ada habisnya.


Yang tetap harus diperhatikan meskipun berutang demi kebutuhan, adalah jangan lupa untuk melakukan pertimbangan matang. Pertimbangan seperti apa? Yang paling sederhana sih dengan melihat, berapa persentase utang kita yang masih berjalan jika dibandingkan dengan penghasilan yang kita terima. Persentase idealnya, jumlah utang kita nggak boleh lebih dari 30% dari penghasilan kita.

 

Baca juga: Persentase Pengeluaran Bulanan Ideal


Masalahnya, soal utang juga sekarang bukan hal yang sederhana. Dulu jaman Bapak-Ibu masih rutin berutang untuk membayar SPP bulanan saya, mereka bisa hanya modal 'omongan', alias meminjam ke saudara atau tetangga. Sekarang? Sepertinya sulit. Apalagi di masa pandemi seperti ini. Semua orang punya beban hidupnya masing-masing. Pinjam ke bank? Lebih nggak mungkin lagi, karena prosesnya yang cukup panjang dan syaratnya yang cukup banyak.


Sebagai solusi bagi yang memang benar-benar butuh pertolongan keuangan, Tunaiku mungkin bisa menjadi jawabannya. Tunaiku adalah sebuah situs pinjaman online yang telah yang telah beroperasi sejak tahun 2014, dan berdiri di bawah PT. Bank Amar Indonesia, Tbk. Selain itu, Tunaiku juga telah diawasi oleh OJK, sehingga bisa dipastikan Tunaiku merupakan lembaga resmi dan aman.


Proses pengajuan pinjaman melalui Tunaiku hanya butuh waktu yang sangat singkat. Yaitu hanya dengan mengisi form pengajuan pinjaman melalui website. Apa agunan yang dibutuhkan? Kabar baiknya, Tunaiku bisa meminjamkan uang tanpa agunan. Sudah mirip pinjam ke tetangga sendiri ya. Hehe.


Nanti gimana bayar utangnya? Pembayaran utang bisa dilakukan dengan cara transfer melalui ATM maupun M-Banking, atau bahkan bisa dibayar melalui Indomaret atau Alfamart. Wow, kurang mudah apalagi ya?


Tapi sekali lagi mohon diingat, berutanglah jika memang kondisi benar-benar mengharuskan. Bukan karena keinginan. Kemudahan berutang yang diberikan Tunaiku, bisa jadi membuat kita jadi terlena jika tidak diikuti dengan kesadaran finansial dan pengendalian diri yang kuat.


Ingat, jika ingin berutang demi keinginan, mau sampai kapan kita terus menuruti keinginan kita?



Signature

Signature