Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan hati. Tampilkan semua postingan

Surat Cinta Untuk Bapak

on
Kamis, 13 April 2023

Assalamu'alaikum. Hai, Pak... Apa kabar di sana?

 



Seandainya Bapak benar-benar bisa membaca surat ini dari dimensi bapak sekarang, mungkin bapak akan tertawa, ya?

 

Lucu memang, pak... Bisa-bisanya aku kepikiran menulis surat cinta untukmu, justru saat engkau sudah ada di lain dunia. Dulu ke mana saja?


Dulu, jangankan menulis surat cinta, sekedar kirim WA saja hampir gak pernah kecuali ada perlu penting. Jangankan menulis surat cinta, ngobrol sama bapak lama-lama saja aku enggan.

 

Tapi itu dulu, Pak. Sekarang beda. Karena sekarang, hanya lewat nulis ini (semoga) hatiku bisa sedikit lega.



Melalui surat cinta ini, Pak... Ijinkan aku meminta maaf. Maaf yang sayangnya tidak pernah sempat aku katakan langsung pada Bapak, karena aku sombong sekali merasa Bapak lah yang harusnya minta maaf ke aku.


Iya, aku merasa Bapak harus minta maaf, karena bapak banyaaakkk sekali salah sama aku. Aku dulu selalu iri, Pak. Iri sama anak-anak perempuan yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertama. Alih-alih cinta pertama, Bapak justru menjadi patah hati pertamaku.


Patah hati yang kemudian membuatku terbelenggu dan jadi sulit sekali melihat kebaikan Bapak.

 

Gak perlu rasanya aku jabarkan di sini betapa banyak pengorbanan dan perjuangan bapak demi aku. Karena aku gak akan mampu mengurainya satu per satu.


Yang jelas, Pak... seburuk apapun sikapku padamu dulu, semoga bapak percaya aku tetap sayang bapak. Meski sayangku hanya diam-diam dan tak pernah berusaha aku ekspresikan.

 

Kalau gak sayang, Pak... dulu aku gak mungkin menangis tiap lihat Bapak masih harus nyopir truck di usia yang sudah senja, tapi juga gak kuasa meminta berhenti karena aku gak mampu menanggung konsekuensinya.



Foto yang dulu sekali pernah dikirimkan Mas Thol dan bikin aku nangis seketika melihat wajah kuyumu


Kalau gak sayang, Pak... Aku gak mungkin selalu marah dan berusaha mengingatkan Bapak saat Bapak melakukan kesalahan. Meski caraku ternyata jauh dari adab seharusnya anak kepada orangtua.

 

Iya, Pak... aku sayang Bapak. Gak cuma aku... Mbak Nita dan Mas Thol pun sayang Bapak. Sama sekali tidak seperti yang Bapak pikir, bahwa kami selama ini hanya sayang pada Ibu.

 

Maaf ya, Pak... maaf jika rasa sayang kami ternyata tidak cukup besar sehingga kurang bisa Bapak rasakan. Maaf jika rasa sayang kami akhirnya hanya bisa kami ungkapkan dengan cara seperti ini. Maaf jika bapak pergi masih dengan membawa pertanyaan tentang anak-anakmu yang seperti tidak menyayangimu.

 

Selepas kepergianmu, Ibu bercerita... ternyata selama ini Bapak sering berdoa, meminta agar Allah memberi akhir hidup yag mudah tanpa menyusahkan anak-cucumu.

 

Kenapa, Pak? Apakah lagi-lagi karena Bapak merasa kami gak sebegitu sayang pada Bapak, hingga Bapak takut kami tidak mengurus Bapak dengan baik jika Bapak sakit?

 

Tapi nyatanya kok iya ya, Pak. Dulu, dikabari Bapak sakit pun kok aku biasa saja. Pulang dalam rangka menjenguk Bapak sakit pun, kok aku belum pernah duduk dekat dengan tubuhmu, lalu memijat atau mengelus punggungmu.

 

Ya Allah, Bapak... iya, pantas saja jika Bapak merasa aku gak sayang Bapak.

 

Apakah saat berdoa minta dimudahkan akhir hidup Bapak tanpa merepotkan anak-cucu itu, Bapak sambil memendam sakir dan sedih karena kami, Pak? Hingga doa itu makbul sekali dan langsung Allah kabulkan dengan pengabulan yang beribu-kali lebih indah?

 

Ya Allah, Pak... habis kata untuk mengungkapkan apa yang bergumul dalam dadaku.

 

Sedih dan tidak menyangka sedikit pun Bapak pergi tanpa pernah kembali lagi. Sedih karena aku ternyata gak pernah punya kesempatan untuk memeluk tubuhmu untuk yang terakhir. Kesempatan yang sebenarnya Allah berikan bertahun-tahun, tapi aku sia-siakan. Sedih karena bahkan batu nisanmu pun kami gak tahu seperti apa wujudnya.

 

Tapi apakah aku layak sedih, Pak?

 

Apakah aku layak sedih jika ternyata ini adalah bentuk dikabulkannya doamu pada Allah? Apakah aku layak sedih, sedangkan Bapak pergi dengan begitu indah... saat sedang ihrom, di tengah-tengah ibadah, di tempat yang sangat baik (masjidil haram) dan di hari terbaik?


Pakaian terakhir yang Bapak kenakan saat tutup usia: pakaian ihram. Masyaa Allah 🤍


Di tengah carut-marut perasaanku, Pak... Alhamdulillah masih ada sedikit penghiburan. Setidaknya meski hanya sepotong-sepotong, di 7 hari terakhirmu kita selalu bertukar pesan WA. Setidaknya di pekan terakhir hidupmu, kami melihat Bapak tampak bahagia sekali.


Salah satu senyum terbahagia yang pernah aku lihat di wajahmu


Terima kasih ya, Pak. Terima kasih untuk ribuan kilometer jalan yang pernah engkau lalui demi beberapa lembar rupiah untuk melunasi uang SPP kami. Terima kasih untuk bentakan-bentakan kecilmu untuk memaksa kami sholat dan belajar ngaji. Terima kasih untuk doa diam-diammu yang gak pernah aku tau, yang mengantarkanku pada aku yang hari ini. Terima kasih untuk besarnya sayangmu, yang gak pernah kuasa engkau tunjukkan, atau berusaha engkau tunjukkan tapi malah aku salah artikan.




Selamat beristirahat ya, Pak. Selamat beristirahat dari dunia yang begitu melelahkan dan tidak ramah padamu. Selamat beristirahat dari kerasnya hidup yang sudah puluhan tahun kau jalani. Semoga kuburmu, menjadi tempat istirahat yang jauh lebih nyaman dibanding kasur kerasmu di rumah. 


Sampai jumpa di dimensi berbeda ya, Pak. Semampuku, aku akan berusaha menjadi salah satu amal yang tidak terputus untuk Bapak, yaitu menjadi anak sholihah, meski jalannya pasti terjal dan berliku sekali.


Kapan-kapan, datang di mimpiku ya, Pak... Pengen lihat senyum Bapak lagi seperti di foto-foto terakhirnya Bapak yang ada di HP-ku :')


NB:

Bapak berpulang ke Rahmatullah:

Jum'at, 10 Maret 2023M/18 Sya'ban 1444H,

di Makkah Mukarromah, seusai thowaf sebelum sa'i,

sebelum subuh waktu Makkah.

Ungkapan Keprihatinan Melihat Wajah Dunia Pendidikan di Era Pandemi

on
Minggu, 11 April 2021

 Huaaa, udah setahun lebih ya ternyata ada kita hidup dengan tatanan baru, semenjak Virus Corona ada!

 

Sebuah tatanan hidup yang sama sekali gak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu tuh mana kebayang sih ke mana-mana harus pakai masker. Mana kebayang lihat anak-anak susia sekolah tiba-tiba harus tiap hari pakai HP, padahal sebelumnya ramai sekali teori parenting soal membatasi anak bersentuhan dengan benda berlayar.

 

credit: Pixabay

 

Dulu kita kira kondisi seperti itu akan beres dalam dua minggu. Lalu molor lagi, masih optimis akan beres dalam dua bulan. Dua bulan berlalu, eh kok gak beres-beres sampai hari ini akhirnya udah setahun lebih.

 

Terutama untuk para orangtua yang anaknya sekolah, dan harus menerima kenyataan bahwa anak mereka harus School From Home sejak pandemi. Bagi masyarakat kota, atau yang memadai secara sumber daya, mungkin waktu setahun sudah cukup membuat mereka beradaptasi dengan baik menghadapi kondisi ini. Tapi bagi yang tidak memadai sumber dayanya, rasanya makin hopeless. Masa depan anak-anak mereka terasa semakin buram.

 

Contohnya di desa kampung halaman saya. Yang sebagian besar orangtuanya sama sekali nggak ngerti teori parenting kekinian. Yang sama sekali nggak ngeh membersamai anak sekolah dari rumah itu gimana caranya. Apalagi di sana, banyak sekali para orangtua yang sekarang memilih bekerja di pabrik, dari pagi sampai sore. Yang artinya, anak dilepas tanpa pengawasan sedikit pun.

 

Lho, orangtua itu kan sebenarnya adalah pendidik utama bagi anak. Sekolah hanya mitra. Ya iya sih. Idealnya begitu. Tapi kan banyak hal di kehidupan ini yang jauh dari kata ideal. Dan selama ini, sekolah ada solusi terbaik bagi ketidakidealan fungsi keluarga dan orangtua di desa saya itu, dan saya yakin juga di banyak desa lain.

 

FYI, dalam kurun setahun ini, ada beberapa kasus anak-anak usia sekolah yang hamil di luar nikah. Ada juga yang tiba-tiba salah pergaulan, ikut kelompok punk. Sedih dan prihatin sekali melihatnya.

 

Terus gimana, kan masih pandemi? Pemerintah juga mengambil kebijakan itu untuk melindungi para anak sekolah?

 

Pertanyaannya (ini sebenarnya bukan pertanyaan saya, melainkan pertanyaan beberapa orangtua di kampung halaman saya itu), sekolah nggak boleh beroperasi kok pasar boleh buka? Pusat perbelanjaan juga hampir semuanya masih beroperasi. Titik kumpul keramaian masih banyak ditemui. Kenapa hanya sekolah yang benar-benar 100% nggak boleh beroperasi?

 

Anak nggak boleh sekolah, toh mereka tetap kumpul dengan teman-temannya, malah tanpa kontrol sedikitpun. Sekali lagi, iya memang ini tidak ideal. Iya, memang bagaimanapun, orangtua harusnya punya andil dalam mengatasi kondisi itu. Tapi yang saya ceritakan di sini adalah kondisi yang memang jauh dari kata ideal.

 

Kalau TK dan SD, okelah memang mungkin terlalu riskan, karena mereka belum cukup mampu memahami jika diberi peraturan untuk menjaga jarak, dll. Tapi untuk anak usia SMP ke atas, rasa-rasanya kok sudah agak bisa diatur ya. Akan jauh lebih baik mereka datang ke sekolah dengan guru yang memberi pengawasan, dibanding kumpul dengan teman tanpa sedikitpun pengawasan.

 

"Data ke sekolah tiap hari saja, mereka belum tentu paham pelajarannya. Belum tentu pinter. Lha apalagi ini sama sekali nggak pernah ke sekolah dan disuruh belajar sendiri?" begitu keluh salah satu orangtua yang saya temui.


Saya sama sekali nggak berniat menyalahkan pemerintah melalui tulisan ini. Saya paham kondisinya memang masih serba sulit. Dan kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Pemerintah pastilah tengah memikirkan langkah terbaik. Semoga dengan sudah divaksinnya para guru dan orang-orang yang ada di bidang pendidikan, pelan-pelan sekolah akan mulai beroperasi kembali. Aamiin.

Ketika Saya dan Suami dinyatakan Positif Covid-19

on
Kamis, 17 Desember 2020
Bulan Februari 2020 lalu, saat berita tentang Corona mulai ramai dan kabar burung bahwa Corona telah sampai di Indonesia merebak, saya termasuk yang cuek. Ah kayaknya nggak bakal sampai di Indonesia deh. Begitu pikir saya. Saat itu bahkan saya sempat pelatihan pajak ke Jakarta, menikmati suasana ibukota yang masih normal.


Bulan Maret, saat Covid-19 resmi dinyatakan telah masuk ke Indonesia, saya mulai agak panik. Tapi tetap yakin bahwa Covid-19 nggak akan menghampiri kami. Seiring berjalannya waktu yang ternyata menunjukkan angka pasien Covid-19 yang masih terus meningkat, sempat terbersit dalam benak saya. Sepertinya tinggal tunggu waktu untuk melihat nama kita sebagai salah satu pasien Covid-19.


Dan Qodarullah, apa yang sempat terbersit di benak saya itu akhirnya terjadi juga. Benar ya ternyata, bahkan lintasan pikiran sekalipun bisa berubah menjadi sebuah doa. Selasa tanggal 15 Desember lalu, kami dinyatakan positif terinfeksi Virus Corona atau yang sekarang lebih sering disebut sebagai Covid-19.


Bagaimana Awal Mulanya Sampai Bisa dinyatakan Positif Covid-19?


Kamis, tanggal 10 Desember 2020, petang sepulang kerja, suami saya mengeluhkan kepalanya yang pusing. Saya minta dia beristirahat tanpa ada kecurigaan apapun. Suami memang sering mengeluhkan hal serupa saat sedang lelah. Pagi harinya, badannya demam. Saat ditermo, ternyata suhunya menunjukkan angka 37 derajat lebih sedikit. Akhirnya saya memintanya untuk tidak usah berangkat kerja. Daripada diminta pulang karena tidak lolos pengecekan suhu di pos security. Tapi saya tetap belum curiga apa-apa, karena suami juga cukup sering demam tiap kelelahan.


Hari Sabtunya, suami merasa jauh lebih sehat. Sudah tidak demam lagi, meskipun belum benar-benar fit. Seharian itu kami di rumah saja. Sabtu malam, beliau demam lagi. Beliau pamit pada saya untuk tidur di kamar sebelah. Jaga-jaga saja jika ternyata bukan sembarang demam, tapi saya pribadi tetap yakin itu demam biasa.


Minggu pagi, selain demam, suami juga mengeluhkan kehilangan kemampuan membau atau disebut dengan anosmia. Deg! Saat itulah saya mulai curiga bahwa demam yang dialami suami sejak kemarin lusa merupakan gejala Covid-19. Karena salah satu gejala paling khas dari Covid-19 adalah anosmia.


Kalau pas flu parah gitu sih wajar ya nggak bisa nyium bau apa-apa. Lha ini suami enggak flu. Maka, saya dan anak mulai menjaga jarak dari beliau. Saat usai tidur siang, saya merasa badan saya ikutan nggak enak, dan seperti agak demam, dan seluruh tubuh saya terasa linu. Saat ditermo, ternyata suhu tubuh saya 38 derajar. Jederrr! Makin menjadi-jadilah kecurigaan kami. Apalagi selama ini saya jarang sekali demam.


Paginya, hari senin tanggal 14 Desember 2020, kami memutuskan untuk datang ke Puskesmas terdekat dengan tempat tinggal kami, sesuai saran dari salah satu teman kami yang merupakan tenaga kesehatan. Sebelumnya, kami sudah lebih dahulu menitipkan Faza pada budhe yang biasa menjaga dia saat saya bekerja. Di Puskesmas, kami daftar priksa biasa. Saya mendapatkan nomor urut untuk masuk lebih dahulu.


Saat saya masuk dan ditanya apa yang saya keluhkan, saya mengatakan bahwa saya demam, pusing parah dan tenggorokan sedikit tidak nyaman dan merasa linu di sekujur badan. Oleh tenaga kesehatan yang bertugas, saya diminta untuk tes darah 3 hari lagi. Artinya, sepertinya mereka belum terlalu curiga bahwa saya terinfeksi Covid-19.


Selang dua nomor, giliran suami saya masuk. Saat itulah para medis mulai curiga. Oh, kok bapaknya anosmia ya. Oh, yang sebelumnya masuk dan demam juga itu istrinya. Oh, kok barengan ya.


Maka, kami langsung diminta untuk isolasi mandiri, sembari mereka berkoordinasi dengan Puskesmas Kelurahan kami, karena meskipun letaknya jauh lebih dekat, Puskesmas yang kami datangi itu beda keluarahan dengan tempat tinggal kami.


Paginya, kami diswab-antigen. Bukan PCR. Swab antigen itu konon serupa rapid, tapi bukan melalui darah, tapi melalui lendir hidung. Hasilnya bisa diambil pada Pukul satu siang hari itu juga.


swab-antigen-covid-19
lokasi swab, di bagian paling belakang Puskesmas


Sepulang dari Puskesmas, suami demam lagi disertau pusing hebat. Siangnya, akhirnya saya datang lagi ke Puskesmas sendiri, untuk mengambil hasil swab. Begitu kami datang, petugas yang ada di tempat pengambilan hasil langsung kalang kabut. Dia meminta saya menunggu, lalu berlari ke sana-ke mari memanggil petugas lain yang tampaknya jauh lebih senior. Dari situ, saya sudah menebak bahwa hasilnya positif.


Dan begitulah adanya. Saya akhirnya dijelaskan bahwa hasilnya memang positif, dan kami diminta untuk isolasi. Saya diminta untuk meneruskan obat yang diberikan dari Puskesmas yang kemarin kami datangi, lalu diberi tambahan antibiotik dan vitamin. Selain itu, saya juga dibekali dengan surat keterangan isolasi, untuk diberikan kepada kantor.


Apa yang Kami Lakukan Setelah dinyatakan Positif Covid-19?


Sesampainya di rumah dan menyampaikan hasilnya, Bapak-Ibu mertua yang tinggal serumah dengan kami cukup panik, meskipun tidak berlebihan. Saya dan suami menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum akhirnya bisa memutuskan langkah apa yang harus kami ambil segera.


Pihak tenaga kesehatan memang mempersilakan kami untuk isolasi mandiri di rumah, karena saya mengatakan bahwa gejala yang kami rasakan Insyaa Allah masih bisa kami atasi. Tapi setelah kami timbang lagi, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan isolasi di Pesantren Covid Sultan Agung. Sebuah pesantren yang dikhususkan untuk para pegawai lembaga tempat kami bekerja, yang dinyatakan positif Covid-19.


kamar isolasi kami


Akhirnya suami menghubungi teman untuk minta tolong dipesankan kamar di Pesantren Covid. Setelah dipastikan kami mendapat kamar, kami langsung berangkat malam itu juga seusai sholat maghrib.


Bagaimana Kondisi Kami Saat Ini?


Banyak sekali teman yang bertanya tentang kondisi kami saat ini. Alhamdulillah kondisi kami baik, meskipun belum bisa dikatakan sehat. Kondisi tubuh kami masih naik turun, meskipun jika dibandingkan dengan dua hari lalu, rasanya jauh lebih baik.


positif-covid-19
saat jalan-jalan pagi di sekitar pesantren covid


Saya sendiri saat ini diare disertai dengan kehilangan kemampuan membau atau anosmia dan kemampuan mencecap rasa. Jadi semua makanan yang saya makan rasanya hambar. Saya bahkan nggak bisa membedakan antara susu dan air putih jika saya meminumnya sembari memejamkan mata.


Sedangkan suami masih merasa mriang, demamnya kadang masih datang, pusing juga kadang masih datang, sedangkan kemampuan membaunya perlahan mulai kembali meskipun masih sangat tipis.


Obat Atau Suplemen Apa Saja yang Kami Konsumsi Selama Isolasi?


Selain obat-obat yang diberikan oleh tenaga kesehatan berupa obat penurun panas, pereda nyeri, obat radang dan obat batuk, kami juga mengonsumsi vitamin C 500 mg sehari dua kali, habbatussauda dua butir sehari, madu dua sendok makan sehari  dua kali dan propolis lima tetes per hari.


Selain itu kami juga melakukan beberapa tips dari teman, seperti sering-sering membaluri tubuh dengan minyak kayu putih, serta sering-sering menghirupnya. Semoga segala ikhtiar ini membuat imun tubuh kami segera menguat, karena Covid-19 konon hanya bisa dilawan dengan menguatnya daya tahan tubuh.


Mohon doa dari teman-teman semua, agar kondisi kami semakin membaik dan kami lekas bisa pulang serta berkumpul lagi dengan keluarga tercinta.


Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang membaca. Terutama untuk orang-orang yang sebelumnya menganggap remeh Covid-19. Banyak yang bilang Covid-19 itu hanya seperti flu biasa. Menurut saya pribadi, kalaupun toh seperti flu biasa, bukankah tetap jauh lebih enak sehat?


Setelah kami merasakan betapa tidak enaknya terinfeksi Covid-19, saya jadi sangat menghargai usaha banyak pihak untuk mengadakan vaksin corona di Indonesia. Beneran deh, saya mau banget vaksin asalkan segala sesuatu sudah clear (kehalalannya, dll).


Karena terinfeksi corona ternyata rasanya seperti di prank dari kepala sampai kaki. Kepala pusing, hidung dan lidah nggak berfungsi. Perut terus bergejolak, seluruh tulang linu-linu. Pokoknya nggak enak!


Saya baca di halodoc tentang update vaksin corona di Indonesia. Sudah ada beberapa perusahaan farmasi terkemuka yang siap meluncurkan produk vaksinnya. Kita tunggu saja kabar baik selanjutnya ya. Di Halodoc, kita memang bisa mendapatkan banyak informasi ter-update tentang dunia kesehatan. Selain itu, kita juga bisa konsultasi dengan dokter jika merasakan beberapa gejala, tapi sedang berhalangan untuk menemui dokter secara langsung.

Tentang Menjadi Orangtua dan Menjadi Anak

on
Sabtu, 12 Desember 2020


Saat melihat cuitan itu, hati saya langsung tergelitik untuk menuliskannya.


Sejak saya merasakan dua peran, yaitu menjadi orangtua dari anak saya, sekaligus menjadi anak bagi orangtua saya, saya jadi sering tergelitik oleh hal-hal semacam ini.


Tentang doktrin-doktrin bagaimana seharusnya hubungan anak dan orangtua, yang rasanya seringkali menempatkan orangtua di posisi yang egois. Doktrinnya sama sekali nggak salah -- (iyalah, masa' perintah yang ada dalam Al-Qur'an saya anggap salah?) -- cuma sepertinya perlu dipahami lebih luas lagi.


"Anak harus membahagiakan orangtua. Emangnya orangtua nggak bisa membahagiakan dirinya sendiri?"


Kebahagiaan itu sebenarnya sumbernya dari dalam diri sendiri kan? Maka tugas untuk membahagiakan orang lain -- meskipun itu orangtua sendiri -- bukankah terlalu berat jika si orang yang ingin dibahagiakan tidak bahagia dari dalam dirinya sendiri?


Nggak jarang kita lihat para anak yang mati-matian berusaha membuat pencapaian, demi ingin membuat orangtuanya bahagia, toh pada akhirnya harus kecewa. Karena nyatanya, si orangtua tetap saja nggak merasa bahagia. Masih kurang, kurang, kurang. Sialnya, yang jadi kambing hitam adalah si anak. Selalu menganggap si anak yang 'bermasalah' karena nggak bisa membahagiakan orangtuanya. padahal yang seperti ini sebenarnya sih orangtuanya yang emang masih ada masalah di dalam dirinya.


"Anak harus membahagiakan orangtua?". Mohon maaf, bukankah (pada umumnya, kecuali kasus-kasus tertentu), sejak si anak lahir, bahkan ketika baru hadir dalam bentuk janin aja anak sudah memberikan kebahagiaan untuk orangtuanya? Bukankah hal pertama yang dibawa anak memang adalah kebahagiaan untuk orangtuanya?


Kenapa tiba-tiba begitu anak tumbuh, anak harus menanggung tugas begitu berat dengan di 'harus-haruskan' membahagiakan orangtua -- yang definisi kebahagiaannya -- seringkali terlalu rumit?


Sama halnya dengan 'anak harus berbakti pada orangtua'.


Masalahnya, definisi berbakti versi orangtua itu kadang terlalu egois. Ada beberapa orangtua yang menganggap si anak nggak berbakti, hanya karena si anak tidak menjalankan beberapa kehendaknya. Lhadalah, padahal si anak itu kan juga manusia yang punya kehendak. Yang adakalanya nggak selalu selaras dengan orangtua.

 

Ego. Sekali lagi tentang ego sebagai orangtua, yang seringkali membuat kita merasa berhak atas sepenuhnya hidup anak. Merasa selalu lebih tau yang terbaik untuk anak. Lalu ketika anak ternyata nggak sependapat, si orangtua kadang dengan serta-merta menganggap anaknya nggak berbakti. Duh Gusti...


Sedihnya lagi, ketika orangtua merasa anaknya nggak berbakti atau nggak bisa membuatnya bahagia -- atau katakanlah memang si anak melakukan kesalahan, orangtua kadang dengan 'enteng' mengatakan kalimat-kalimat menyakitkan bagi si anak.


Kalimat-kalimat menyakitkan itu, mungkin akan mudah dilupakan oleh si orangtua. Pun dengan kesalahan anak. Karena apa? Pada dasarnya, kasih sayang orangtua ke anak memang jauh lebih besar dibanding kasih sayang anak ke orangtua. Karena itu, orangtua mungkin akan jauh lebih mudah memaafkan kesalahan anak, sekaligus melupakan kalimat menyakitkan yang terlontar pada anak.


Tapi apa kabar hati si anak yang tersakiti oleh kalimat kita? Mungkin itulah kenapa banyak kasus tentang anak yang menyimpan luka pengasuhan. Sama sekali bukan karena anak tidak berterima kasih atas segala jasa baik orangtua. Tapi karena pada dasarnya, anak nggak dianugerahi rasa sayang sebesar orangtua, sehingga nggak semudah orangtuanya berlapangdada.


Lagipula, doktrin tentang 'anak harus berbakti pada orangtua' dan 'anak harus membahagiakan orangtua' itu sebenarnya ada doktrin lain yang sayangnya kadang dilupakan oleh kita para orangtua sendiri.


Apa itu?


Tentang keharusan mendidik dan mengasuh anak sebaik mungkin. Tentang keharusan menjadi teladan bagi anak, dan memperlakukan anak dengan baik. Kewajiban ini sejatinya jauh lebih dilaksanakan kan, sebelum segala keharusan tentang anak terhadap orangtua itu?


Jika orangtua sudah melakukan itu terlebih dahulu, sepertinya -- Insyaa Allah, tanpa 'diharus-haruskan' pun, anak pasti akan punya keinginan dan berusaha sekuat yang ia bisa untuk berbakti pada kita.


Tentang membahagiakan, sekali lagi, anak jauh lebih dulu membawa kebahagiaan untuk kita orangtuanya, sebelum kita membahagiakannya. Coba ingat-ingat perasaan kita saat moment pertama kali USG dan melihat si anak yang baru berupa titik kecil di layar. Bahagia, kan?

 

Semoga kita nggak memakai perintah Allah pada anak untuk berbakti dan berlaku baik pada orangtua, sebagai pembenaran untuk membumbungkan ego kita sebagai orangtua.

Belajar Melukis dengan Cat Air Secara Otodidak

on
Kamis, 01 Oktober 2020
Pertengahan tahun 2018 lalu, salah satu Blogger favorit saya -- Mbak Annisast -- sedang semangat-semangatnya belajar menggambar. Dia sering sekali cerita lewat story instagramnya, tentang betapa asyik belajar menggambar. Waktu itu Mbak Icha sedang belajar melukis dengan cat air.

Gara-gara sering mantengin IG story-nya beliau, saya jadi ter-trigger untuk mencoba juga. Bukan tanpa alasan, bukan pula sekedar ikut-ikutan. Ini semacam keinginan yang sudah lama terpendam, lalu dipancing untuk kembali keluar. Ya, sejak kecil saya ingin sekali belajar melukis dengan cat air. Tapi belum pernah kesampaian karena keterbatasan dana untuk membeli perlengkapan cat airnya. Sekarang Alhamdulillah bisa nyari uang sendiri, jadi bisa beli, meskipun belum bisa yang mahal. Hehe.

 

Belajar sesuatu yang baru memang selalu seru ya. Semangatnya menyala-nyala. Meskipun nggak jarang juga merasa putus asa. Apalagi kalau seperti saya, belajar melukis dengan cat air secara otodidak. Sering banget merasa, kok nggak kunjung ada progress ya. Kok gini-gini terus hasilnya ya. Kok nggak bisa kayak si A dan si B yang udah bagus banget.

 

Tapi saya tertegun ketika iseng-iseng melihat lagi perjalanan belajar melukis dengan cat air yang saya lalui lewat rangkaian IG story yang pernah saya buat. Ternyata, meskipun belum mahir benar, saya sudah menunjukkan progress yang lumayan sekali.

 

Lihat deh, ini hasil melukis dengan cat air saya di awal-awal sekali belajar.

 

belajar-melukis-dengan-cat-air

 

 

belajar-melukis-dengan-cat-air


Sedangkan ini gambar yang baru beberapa saat lalu saya buat.

 

belajar-melukis-dengan-cat-air

belajar-melukis-dengan-cat-air

Lumayan kan progressnya?

 

Ini salah satu point penting dari belajar hal baru menurut saya. Yaitu sekaligus kembali belajar mencintai proses yang mungkin sering lupa kita terapkan. Maunya apa-apa instan.

 

Tapi beberapa minggu ini, saya sempat lumayan galau. Ada keinginan untuk punya 'guru' dalam belajar melukis dengan cat air, agar nggak otodidak lagi belajarnya. Sudah mencari beberapa rekomendasi kelas berbayar. Hanya saja, masih maju-mundur.

 

Kenapa maju-mundur? Pertama jujur soal biaya. Ada sih sebenernya, cuma saya ragu, apakah hobi ini sudah patut saya masukkan ke dalam salah satu prioritas budget? Sementara banyak pos kebutuhan lain yang juga harus saya prioritaskan.

 

Lagipula, saya agak optimis, asal saya lebih rajin berlatih, kemampuan melukis dengan cat air saya pasti akan semakin meningkat, meskipun belajar secara otodidak. Apalagi sekarang tutorial bertebaran di mana-mana. Materi-materi di kelas berbayar juag sebenarnya bisa saya dapatkan melalui video-video di Youtube.

 

Yang harus saya lakukan mungkin adalah menyusun kurikulum untuk diri saya sendiri. Mulai dari yang paling basic dulu. Karena selama ini saya belajar secara acak, dan cenderung langsung maunya loncat ke materi yang 'susah', padahal yang paling basic belum dipelajari.

 

Jadi setelah ini, saya berencana mengulang dari awal materi belajar saya melukis dengan cat air. Saya berencana ingin belajar logika warna dulu dengan cara membuat tabel warna dan roda warna.

 

Setelah itu, saya ingin belajar mengendalikan kuas dan membuat berbagai macam bentuk garis melalui video Youtube Kak Pikapoppin. Setelah itu lanjut ke mencoba bentuk-bentuk sederhana dengan garis-garis tersebut. Kemudian belajar macam-macam teknik melukis dengan cat air. Dll.


Kalau ditanya, apa impian saya atas hobi melukis dengan cat air ini? Apakah saya bercita-cita akan mendapat penghasilan melalui hobi ini seperti halnya ngeblog?

 

Belum. Belum sejauh itu.

 

Impian saya sederhana. Yaitu ingin bisa dengan percaya diri memajang hasil melukis dengan cat air saya di tembok rumah saya sendiri :)

 

Kalian sedang semangat belajar apa saat ini?

Muslim Melek Politik, Untuk Apa?

on
Selasa, 29 September 2020
Saya mungkin salah satu orang yang punya pandangan buruk tentang politik. Menurut saya, politik itu kotor. Penuh tipu muslihat.
 

Dan pandangan negatif saya tentang politik itu diperkuat dengan suguhan berita-berita di TV tentang para politikus yang kerapkali menunjukkan kebobrokan perilakunya. Debat kusir tanpa sedikit pun memperhatikan adab, misalnya.

 

Semakin hari saya semakin nggak tertarik dengan politik. Nggak melek dengan perkembangan politik dalam negeri, apalagi luar negeri. Hal itu membuat saya jadi orang yang tiba-tiba kuper ketika ada yang mengajak ngobrol tentang isu-isu politik terkini.

 

 

melek-politik

Suatu saat, saya memilih jalan pintas. Saya ingin tau isu politik terkini, tapi nggak pengen mengikuti terlalu detail. Akhirnya, saya hanya baca sekilas-sekilas aja berita yang ada di beberapa portal berita. Bahkan adakalanya saya hanya membaca judulnya saja. Yang mana tau sendiri lah, banyak judul berita yang sama sekali tidak menggambarkan isi berita sesungguhnya.

 

Akhirnya saya jadi sumbu pendek. Judgemental. Mudah tersulut isu politik yang dibumbui banyak drama oleh media.

 

Tapi saat suatu hari saya berdiskusi dengan suami yang cukup melek politik, saya mendapat insight baru. Sebelumnya saya sempat agak protes saat dia sering mengajak saya diskusi tentang isu-isu politik di Indonesia.  Saya ngomel, ngapain sih ngurusin politik. Udahlah, yang penting fokus sama diri dan kehidupan kita sendiri. Fokus ibadah.

 

Suami saya langsung menyanggah. Kita sebagai muslim tidak bisa apatis terhadap isu politik. Karena Indonesia mayoritas penduduknya adalah muslim. Dan saat ini, banyak para politisi yang menyasar umat muslim untuk diperdaya dan dipecah-belah demi kepentingan golongan tertentu. Jika kita sebagai muslim tidak melek politik, tentu kita akan mudah diperdaya, dan bingung menentukan sikap.

 

Lagipula, bukankah kita memimpikan Indonesia menjadi bangsa yang damai dan sejahtera? Sehingga kita bisa beribadah dengan tenang? Untuk tujuan itu, maka politik adalah salah satu kendaraannya.

 

Saat melihat para ustadz dan ulama yang ramai-ramai masuk ke ranah politik, saya jengah sekali. Ngapain sih? Dunia politik terlalu kotor, dan mereka seharusnya nggak perlu ada di wilayah kotor itu. Begitu pikir saya.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, kalau orang-orang yang paham agama tidak ikut serta mewarnai ranah politik, maka ranah itu akan diisi sepenuhnya oleh orang yang tidak paham agama. Padahal negeri ini salah satu penentu arah mata angin utamanya ya para politisi itu. Terus mau dibawa ke mana nanti Indonesia kalau ranah politiknya nggak ada sama sekali orang yang paham agama? Huhu, bayangin aja udah sedih.

 

Jadi tidak bisa tidak, kita sebagai muslim memang harus melek politik. Setidaknya tau isu-isu politik terkini secara menyeluruh, agar kita bisa menentukan sikap.


Yang Orang Lain Lihat dan Yang Orang Lain Tidak Tahu

on
Rabu, 24 Juni 2020
Udah lamaaa sekali rasanya saya nggak nulis curhatan, atau uneg-uneg pikiran di blog ini. Kadang saya mikir, kenapa ya? Rasanya bukan karna males lho. Tapi lebih  karena rasanya gak ada uneg-uneg yang sangat butuh ditumpahkan melalui tulisan super panjang seperti dulu. Pertama, sekarang udah punya teman berbagi setiap waktu. Kedua, kalaupun ada uneg-uneg yang ingin ditumpahkan lewat tulisan, sekrang lebih sering numpahinnya lewat caption di Instagram. Hehe.

Tapi kali ini saya tiba-tiba kembali merasa butuh.

credit: Pixabay


Jadi ceritanya, saya punya teman yang sama beberapa orang dinilai bossy. Yah, saya akui sih, beliaunya emang gaya ngomongnya kadang mengesankan bossy gitu. Terutama buat yang nggak kenal dekat.

Nah, suatu hari dia minta tolong OB kantor untuk dibuatkan teh panas, karna badannya agak meriang. Sama si OB, teh hangat tersebut dianter ke mejanya pake nampan gitu. FYI, yang seperti itu memang enggak lazim di kantor saya. Padahal kalo di kantor lain kebanyakan, OB mah emang tugasnya gitu kan. Di sini enggak. Hampir nggak pernah ada pegawai yang minta dibuatkan minuman sama OB.

Nah, jadi heboh kan teman-teman yang lain. Image bossy-nya jadi makin tampak jelas. Dan, yah seperti biasa, memancing beberapa orang untuk menjadikannya bahan 'obrolan'.

Kebetulan, saya lumayan dekat sama si teman yang dianggap bossy itu. Enggak dekat banget sih, cuma dibanding dengan teman-teman yang lain, bisa dibilang saya yang paling dekat dengan beliaunya.

Kebetulan juga, saya tau bahwa si teman bossy ini sering sekali membantu si OB yang sering mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Nah, bagian ini nih yang teman-teman yang lain tidak tau.

Bukannya saya mau bilang, wajarlah dia nyuruh-nyuruh si OB, wong dia sering bantuin si OB. Bukan. Bukan maksud saya untuk bilang memanfaatkan orang lain yang selama ini sering kita bantu itu nggak masalah.

Cuma dalam hal ini, orang lain -- dalam hal ini teman-teman kebanyakan - cuma tau si teman satu itu bossy. Titik. Tapi mereka tidak tau bahwa di balik sikap bossy-nya, dia juga sering bermurah hati membantu orang lain.

Dari situ, saya mengambil pelajaran. Betapa antara yang orang lain lihat dan yang orang lain tidak tau itu jaraknya bisa jauh banget. Bisa menghasilkan persepsi yang 180 derajat bertolak belakang.

Yang orang lain lihat si A itu bisnisnya sukses, hidupnya sempurna. Tapi yang orang lain tidak tau, bisa jadi si A tidurnya tiap malam cuma 1 jam demi mikirin inovasi apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan bisnisnya.

Yang orang lain lihat si B rumah tangganya harmonis, suaminya mapan, anaknya pintar-pintar. Yang orang lain tidak tau, bisa jadi si B harus selalu menekan egonya habis-habisan demi menghindari konflik dengan suami, harus menyiapkan macam-macam media pembelajaran dan mendampingi anak-anaknya sampai gak sempet me time.

Dan seterusnya.

Kita selalu punya pilihan atas persepsi kita, selama kita mau mencoba melihatnya dari beberapa sudut pandang berbeda :')

Cara Mengatasi Dampak Negatif Akibat Bullying di Masa Kecil

on
Selasa, 28 April 2020
Ramadhan tahun lalu, saya pernah cerita di blog ini tentang bullying. Siapa korbannya? Saya sendiri. Hehe.

Yup, saat kecil, saya salah satu korban verbal bullying. Cerita lengkapnya silakan baca di sini yaa.

Apakah verbal bullying yang pernah saya alami saat kecil menyisakan dampak negatif yang saya rasakan hingga dewasa? Ya. Meskipun bukan jenis trauma yang parah, tapi tetap saja sempat cukup mengganggu saya dalam menjalani kehidupan saya selanjutnya.

Seiring berjalannya waktu dan dengan semakin meluasnya wawasan saya, beberapa tahun belakangan ini saya akhirnya tiba di titik 'oh, ternyata ada yang belum sembuh dari diri saya'. Lewat kesadaran itu, saya kemudian mulai mencari tahu, apa yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkan diri saya sendiri dari beberapa dampak negatif akibat verbal bullying yang pernah saya alami.

dampak-negatif-bullying
Credit: Pixabay


Beberapa bentuk dampak negatif itu di antaranya adalah:

1. Masih menyimpan dendam pada beberapa teman masa SD
2. Kepercayaan diri yang sangat rendah
3. Tidak mudah berteman dengan orang baru
4. Mudah down saat mendengar komentar negatif
5. Sering cemas berlebihan ketika memikirkan 'apa kata orang'

Setelah membaca beberapa buku, artikel dan mengikuti beberapa akun psikolog dan praktisi kesehatan mental di Instagram, akhirnya saya pelan-pelan memulai proses untuk menyembuhkan diri dengan melakukan beberapa hal di bawah ini:

1. Cleansing

Cleansing yang saya maksud di sini bukan cleansing wajah ya -- yaiyalah jelas, hehe.

Cleansing yang saya maksud adalah mebersihkan diri -- jiwa, hati dan pikiran -- dari sisa-sisa luka akibat verbal bullying yang pernah saya alami di masa kecil.

Gimana caranya?

Pertama, sadari dan akui apapun perasaan yang kita rasakan. Karna, gimana mau nyembuhin kalo kita bahkan gak tau apa penyakitnya?

Adakalanya, kita itu nggak mau mengungkapkan apa yang sebenernya kita rasakan. Adakalanya kita seperti sengaja memungkiri perasaan kita. Seolah merasa kita jadi pribadi yang sangat buruk jika merasakan hal itu. Contoh, saat kita marah sama orangtua atau pasangan, tapi kita berulangkali bilang ke diri sendiri 'ah, enggak kok. aku nggak marah kok' -- karna takut dosa. Padahal sebenernya kita masih marah.

Hal seperti itu, akan membuat rasa marah yang masih tersisa justru akan terakumulasi dan menjadi bom waktu.

Kata dr. Jiemi Ardian, apapun yang kita rasakan adalah valid. Jangan pernah merasa bersalah hanya karna merasakan perasaan tertentu.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa mengakui dan menyadari dampak negatif akibat bullying di masa kecil yang masih kita rasakan hingga saat ini?

Kalau saya pribadi, dengan menulis. Saya menuliskan segala yang saya rasakan saat saya mengingat bully-an teman-teman SD saya dulu. Saya tulisakan kemarahan saya pada teman-teman SD yang dulu membully saya. Semuanya.

Setelah tuntas fase menyadari dan mengakui segala perasaan kita, lalu masuk fase berikutnya. Yaitu memaafkan. Memaafkan yang benar-benar memaafkan. Bukan memaafkan yang hanya di lisan saja. Dan ini saya akui proses yang paling nggak mudah, dan butuh proses yang nggak instan.

Pertama, maafkan diri kita sendiri dulu. Maafkan diri kita yang dulu nggak berani melawan, nggak kuasa membela diri atau melakukan tindakan perlawanan agar verbal bullying itu tidak berkepanjangan. Maafkan segala ketidakberdayaan diri kita yang nggak mampu membela diri saat kecil dulu.

Saya juga memaafkan orang-orang terdekat saya, yang seharusnya bisa menjadi pihak yang melindungi saya dari bully-ing berkepanjangan. Misalnya, peran orangtua saya yang nggak melakukan apa-apa meski saya sering bercerita tentang teman-teman SD saya yang sering membully. Saya memafkan mereka karena saya tau mereka nggak paham seberapa besar dampaknya, dan gimana cara menghentikannya. Mereka hanya taunya menyuruh saya terus bersabar.

Yang berikutnya, baru memaafkan para pembully. Maafkan mereka yang saat itu mungkin tidak tau betapa buruk yang mereka lakukan. Caranya menurut saya nggak selalu dengan menyambung pertemanan dengan mereka lagi, ngobrol, dll. Saya justru sebaliknya.

Jika memang merasa nggak ingin berteman lagi dengan mereka para pembully, ya nggak usah. Memaafkan bukan berarti harus kembali menjalin hubungan kan? Kita berhak memilih siapa saja yang ada di hidup kita, dan siapa saja yang nggak perlu ada di hidup kita.

Saya sudah memaafkan para teman SD yang membully saya dulu. Tapi saya nggak ingin mereka ada di hidup saya lagi. Dan itu sah-sah saja :)

2. Cari Lingkaran Pertemanan yang Positif dan Supportif

Mempunyai lingkaran pertemanan yang positif dan supportif merupakan faktor yang sangat penting dalam mengatasi dampak negatif akibat bullying yang masih terbawa hingga dewasa. Caranya, salah satunya mungkin bisa dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan positif. Biasanya, yang tertarik ikut kegiatan positif adalah orang yang positif juga kan?

3. Kenali Diri dan Lejitkan Potensi

Karna salah satu dampak terburuk akibat bullying yang masih saya rasakan hingga dewasa adalah rendahnya tingkat kepercayaan diri, maka saya butuh sesuatu untuk memperbaiki tingkat kepercayaan diri saya.

Saya berusaha untuk mengenali apa saja sih potensi yang ada di diri saya. Setelah mengenali diri, lalu saya berusaha untuk melejitkan potensi yang ada dalam diri saya tersebut.

Dengan memiliki kelebihan tertentu, Insya ALlah akan otomatis membuat tingkat kepercayaan diri kita meningkat.

Tiga point di atas adalah hal yang saya lakukan dalam upaya mengatasi dampak negatif akibat bullying yang saya alami di masa kecil. Alhamdulillah tiga langkah di atas cukup efektif membuat saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Belum 100% hilang sih dampak negatifnya, tapi setidaknya sudah tidak terlalu mengganggu.

Bagi teman-teman yang pernah menjadi korban bullying juga, dan merasa dampak negatif yang dirasakan hingga saat ini jauh lebih parah dari yang saya rasakan, dan merasa nggak mampu mengatasinya sendiri, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan orang yang berkompeten di bidang ini ya. Bisa dengan cara datang ke psikolog atau praktisi kesehatan mental. Kalau sakit fisik aja kita nggak pernah ragu datang ke dokter kan? Begitu juga dengan sakit batin. Jangan ragu untuk meminta pertolongan dan mengobatinya :)

"Artikel ini menjadi sumber inspirasi dan terpilih untuk dimasukkan ke dalam kampanye  "Anti-Bullying Week 2024/2025" dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl."

Komunitas Rasa Sahabat

on
Sabtu, 29 Februari 2020
Empat tahun lalu, saya tergabung dalam sebuah grup WA yang merupakan bagian dari Komunitas Blogger Perempuan. Grup WA ini merupakan grup Arisan Link yang digagas oleh Blogger Perempuan, agar anggotanya semakin produktif menulis dan bisa bertukar link antar teman.

Pada perjalanannya, ternyata nggak mudah. Banyak dari kami yang nggak mampu mematuhi jadwal yang sudah disepakati sebelumnya, karna kesibukan masing-masing. Anehnya, hal ini sama sekali nggak bikin salah satu dari kami marah atau protes. Kenapa aku udah nulis kamu tapi kamu nulis aku? Nggak pernah ada sekalipun yang protes seperti itu.

Hingga akhirnya, program arisan link itu benar-benar terlupakan. Tapi nggak lantas bikin grup ini jadi bubar. Karna alih-alih ngobrolin soal arisan link ataupun dunia bloging, kita malah jauh lebih sering ngobrolin masalah lain. Nggak terkecuali curhat masalah pribadi.

Lambat laun, komunitas ini beralih rasa menjadi sahabat. Sahabat online gitu kali ya kalau bahasa anak sekarang. Hehe.

Sebagai orang introvert, saya bukan termasuk orang yang suka atau pandai berkomunitas. Saya tergabung di banyak komunitas -- dalam rangka pengen belajar. Tapi hampir nggak ada satu pun komunitas yang saya benar-benar aktif di dalamnya.

Tapi beda sama komunitas grup Arisan Link ini. Grup ini bikin saya nyaman. Mungkin salah satunya karna nggaka ada aturan yang mengekang. Semua berjalan senyamannya kami para anggota. Kalau lagi ada obrolan dan saya sedang ingin nimbrung, ya saya nimbrung. Kalau lagi nggak pengen nimbrung ya saya nggak nimbrung.

Adakalanya juga, saya pengen cerita tapi ke orang yang nggak ada di 'dunia nyata' saya. Nggak ada di sekitar saya. Ya mereka pasti akan jadi salah satu pilihan saya sebagai tempat bercerita. Begitu juga dengan anggota lain. Banyaaaakkk sekali susah senang para anggota yang sudah saling kami bagi di dalam grup ini.

Dan sejauh ini, hanya di grup ini saya merasa bisa punya komunitas rasa sahabat :')

Selamat empat tahun Grup Jarang Sisiran Always 17Th!



Kenapa grupnya dikasih nama Jarang Sisiran? Karna kami para anggotanya punya satu kesamaan, yaitu sama-sama sering lupa sisiran. Haha. Kenapa Always 17Th? Ya karna kami merasa selalu muda, xixixixi.

Grup ini terdiri dari:


Teman2, minta daftar blog teman2 yg ada di sini dong. Mau aku cantumkan di tulisan blog, tapi gak di link ya:

1. https://rosasusan.com
2. https://naqiyyahsyam.com
3. https://www.jiahjava.com
4. https://desyyusnita.com
5. https://evrinasp.com/
6. https://www.hidayah-art.com/
7. https://www.diahalsa.com
8. https://www.noormafitrianamzain.com/
9. www.mildaini.com
10. www.ernawatililys.com
11. www.cahayatheprinces.com
12. https://www.momtraveler.com
13. https://siswiyantisugi.com
14. https://diajengwitri.id
15. https://www.irawatihamid.com/
16. https://www.muthihaura.com

Ghibah

on
Selasa, 24 Desember 2019
Beberapa waktu lalu, saya seperti tersadar dari tidur panjang. Saya merasa ada yang salah dengan diri saya sendiri. Seperti merasa 'kering' dan 'hampa'.

Setelah merenung cukup lama dan berdialog dengan diri sendiri, saya sadar. Iya, memang ada yang nggak beres. Saya akhirnya sadar saya sedang terjatuh ke dalam sebuah lembah curam yang sangat kotor dan menjijikkan.

Mau tau lembah apa itu?

Lembah dosa, tentu saja. Spesifiknya, dosa ghibah.

Iya. Saya sempat (atau mungkin masih sampai sekarang) ada di kubangan dosa ghibah. Terus-menerus. Hampir setiap hari. Saya seolah lupa bahwa itu merupakan sebuah dosa. Dosa besar, malah.

Saat menyadari itu, saya jijik sama diri saya sendiri. Saya kecewa sama diri saya sendiri. Saya ketakutan.

Gimana enggak jijik? Bukankah ghibah itu serupa dengan memakan bangkai sodara kita sendiri?

Dalam praktek sehari-hari -- kalau dipikir -- ghibah itu memang sangat menjijikkan bukan? Saya ngomongin A saat sedang bersama B. Lalu ngomongin B saat sedang bersama A. Lalu ketika A dan B bersama lalu ngomongin saya, saya marah. Menjijikkan,  kan?

Saya sering ngomongin keburukan orang. Seolah-olah saya yakin jauh lebih baik dari orang yang saya omongkan. Seolah lupa, bahwa saya punya aib yang mungkin lebih banyak dari ikan di lautan :(

Saya takut. Takuuuutt sekali. Takut di hari perhitungan kelak, ternyata saya menjadi orang yang bangkrut. Merasa punya banyak amal sebagai bekal, eh ternyata habis diambil sama orang yang tiap hari saya ghibahi :(

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat Radhiyallahu anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” [HR. Muslim, no. 2581]

Read more https://almanhaj.or.id/6486-kezhaliman-sebab-kebangkrutan-di-hari-kiamat.html
 “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat Radhiyallahu anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” [HR. Muslim, no. 2581]

Read more https://almanhaj.or.id/6486-kezhaliman-sebab-kebangkrutan-di-hari-kiamat.html

Pengen banget bisa keluar dari kubangan dosa ini. Tapi nggak mudah banget. Ada yang pernah ngerasain hal yang sama dengan saya nggak sih?

Ghibah itu sudah bak ranjau, yang siap di manapun dan kapanpun mencengkeram kaki saya untuk lagi-lagi ada di tengah kubangannya. Tapi ada kalanya pula saya yang masih saja dengan sengaja menyodorkan kaki saya ke dalam ranjau tersebut :(

Setan juga pinter banget nakut-nakutin saya, dengan hal-hal yang seharusnya nggak perlu saya takutkan. Takut dibilang sok suci kalau nggak ikutan komentar pas lagi pada ghibah, Takut jadi dijauhin gara-gara nggak asyik lagi diajak ghibah. Dan lain-lain :(

Beneran ya. Kadang kesendirian itu jauh lebih baik, jika di tengah keramaian membuat pahala kita habis tak bersisa. Iya kalau kita punya banyak pahala. Sudahlah memang dikit, dihabiskan pula. Sungguh celaka :(

dr Tumblr

 Sekarang yang bisa saya lakukan hanya berdoa. Berdoa agar Allah mampukan saya menghindar dari jeratan ranjau dosa ghibah ini. Sambil berusaha semampu saya.

Saya enggak sedang menuduh teman-teman saya sering mengajak saya ghibah. Saya sendiri lah yang justru sering mengajak ghibah. Kalaupun teman saya ngajak, bukan salah mereka. Harusnya saya bisa menjaga diri dan mulut saya sendiri. Saya sepenuhnya bertanggungjawab atas respon dan tindakan saya. 

Saat menuliskan ini, saya bukannya sedang marah atau kecewa dengan siapapun gara-gara merasa dighibahi. Enggak. Saya benar-benar sedang butuh menumpahkan betapa kacaunya perasaan saya. Betapa saya mengkhawatirkan nasib saya di alam setelah dunia, kelak.

Adakah yang sedang merasakan perasaan serupa?

Disamain Sama Orang Lain

on
Selasa, 10 September 2019
Kemarin, salah satu teman blogger membagi gosip pada saya. Iya, sekarang saya payah banget soal ngikutin berita. Sering banget kudet.

Nah, si teman ini cerita tentang seorang public figur, yang habis mencak-mencak gara-gara nama anaknya disamain alias dipakai oleh orang lain untuk nama anaknya. Yang mana, katanya nama tersebut merupakan nama yang si artis buat sendiri, murni dari pemikirannya sendiri, nggak cari-cari dari buku manapun, dll.

Ini jadi heboh gara-gara si artis komen langsung di salah satu foto si anak yang namanya sama dengan nama anak si artis itu. Gak cuma komen di salah satu foto, bahkan si artis kirim DM panjaaaaang banget ke ortu si anak. Secara blak-blakan menunjukkan kemarahan karna nama anaknya dijiplak, plek setulisan-tulisannya. Bahkan sampe bilang 'anakmu gak pantas pakai nama ini', gitu. Ahihihi.



Btw, ada yang belum tau soal gosip ini juga sebelum baca tulisan saya ini? Atau saya doang yang kemarin ketinggalan? Haha.

Pas pertama kali tau soal kasus ini, saya melongo sih. Antara geli, lucu, heran, dll. Soalnya kayaknya belum pernah ada kasus kayak gini ya sebelumnya?

Nama anak artis disamain bukannya udah hal yang sangat sering terjadi? Bahkan biasanya sebuah nama akan jadi nama yang sangat pasaran saat ada artis yang makai nama tersebut untuk anaknya.

Tapi sebenernya, saya ngerti banget sih perasaan si mbak artis. Saya mungkin juga salah satu orang yang kurang suka kalo ada orang lain yang nyama-nyamain apa-apa tentang kita.

Waktu kecil, saya pernah dibikinin baju sama ibu. Eh terus ada teman yang bikin baju dengan model yang sama. Sayanya ngambek nggak mau pake baju itu. Haha. Pun sebaliknya. Misal saya pengeeennn banget gamis warna A karna lagi hits. Terus tiba-tiba orang-orang di lingkungan saya udah ada yang makai. Saya seringnya lebih milih untuk nggak jadi beli aja, karna nggak mau banget dikira nyama-nyamain.

Pun tentang nama anak. Saya nggak sekreatif itu untuk bikin nama anak yang nggak ada yang nyamain di dunia ini. Tapi saya emang bertekad untuk ngasih nama anak saya dengan nama yang setidaknya nggak pasaran banget. Makanya saya menghindari nama-nama yang ada di hasil pencarian "daftar nama anak laki-laki" dll di google, nama anak yang udah dipakai sama artis, dan nama tokoh-tokoh. Karna fix deh, pasti udah banyak banget yang pakai.

Tapi ya tetep aja bukan berarti nama si Faza nggak ada yang nyamain. Dan saya akui, kalo ketemu anak yang namanya sama dengan si Faza, ada sedikit perasaan nggak nyaman. 'Ih, kok namanya sama sih, 'Mafaza''. Tapi yaudah. Lha wong nama itu dari Al-Qur'an, emang bisa saya larang orang lain untuk pakai?

Point dari cerita saya di atas adalah, memang ada kok orang yang nggak nyaman banget kalo disamain sama orang lain. Iya, kan?

Makanya, saya bisa ngerti sikap si mbak artis itu. Dia pasti geraaaam bangetttt, karna udah berusaha banget bikin nama anaknya beda, eeehh malah ada yang nyamain, plek-ketiplek pula 😂 Jelaslah mencak-mencak.

Jadi, menurut saya nggak adil kalo netijen langsung semena-mena ngejudge negatif banget si mbak artis, tanpa mempertimbangkan perasaan si mbak artis. Hmmm. Tapi netijen julid emang pernah pake pertimbangan perasaan? 😅

Tapi di sisi lain, ya emang sih si mbak artis agak berlebihan. Bukan soal ketidaksukaannya ada yang nyamain nama anaknya. Tapi, heii... si mbak apa lupa kalo belionya seorang public figure? Yang mana, saat dia melakukan tindakan seperti itu, haqqul yaqin pasti akan jadi viral. Apalagi sampai ngatain 'anakmu gak pantes pakai nama itu'. Hmmm.


Kecuali emang sengaja pengen viral sih ya apa boleh buat. Hahaha.

Dan apa mbaknya nggak tau, bahwa nama anak artis itu salah satu rujukan banyak orangtua dalam memberi nama untuk anaknya? Kalo misal emang dari awal nggak pengen nama anaknya ditiru, ya nggak usah dong dipublish nama si anak. Kan bisa pake inisial aja, misalnya. Atau pake nama julukan aja. Kan ada juga ya yang kayak gitu? Yang saya tau Blogger sih ada, kalo artis saya kurang tau. Ada gak sih?

Atau kenapa gak dari awal daftarin hak paten nama anaknya itu. Ahihi. Eh, bisa nggak sih nama orang dihak patenkan? 😂

Yah, gitulah. Jadi postingan ini memang bukan postingan berfaedah sih. Cuma pengen ngoceh receh aja 😅

Kalian termasuk yang cuek aja kalo ada yang nyamain kalian, atau sebel juga kayak saya?

Tentang Penerimaan Diri dan Mengenali Diri Sendiri

on
Selasa, 23 April 2019
Gara-gara Mbak Icha nulis tentang alis dan penerimaan diri, saya jadi ketrigger untuk nulis tentang penerimaan diri juga. Hehe.



Kalian inget gak, dulu pernah ada trend pake jilbab dengan berbagai model yang lilit sana-lilit sini itu?

Di masa itu pula, youtube dipenuhi dengan konten tutorial memakai jilbab. Dan saya adalah salah satu penikmatnya. Tiap nonton video tutorial pake jilbab itu saya pengeeeen banget praktekin. Tapi gak pede. Gak pede, tapi pengen banget.

Jadi, dalam beberapa kali kesempatan, saya akhirnya 'nekat' mempraktekkan video tutorial memakai jilbab yang saya tonton. Ada rasa puas, tapi lebih dominan gak pede-nya. Tapi tetep ada perasaan harus. Harus ngikuti yang lagi hits. Pengen gaya dikit. Pengen keliatan modis. Dll.

Jadi tiap lagi makai jilbab lilit-lilit gitu, pasti ada rasa, "kok gak bagus ya? Padahal di tutorial bagus gitu. Apa karna aku gak secantik model tutorialnya ya?"

Yup, ujung-ujungnya pasti ngerasa jelek dan berbagai perasaan negatif lainnya.

Sayangnya, bukannya menyadari dan segera sadar, saya malah masih terus berusaha mengingkari rasa tidak pede itu.

Sampai akhirnya capek sendiri -____-

Dan sampailah saya pada hari ini. Sebagaimana Mbak Icha yang akhirnya pede-pede aja gak gambar alis, saya pun akhirnya pede-pede aja untuk tetap tampil 'gak modis'.

Menurut yang saya pahami sekarang, kayaknya memang ada orang-orang yang dilahirkan untuk jadi orang yang gak modis. Gak pantes ngikutin model apapun yang sedang hits. Pantesnya ya gitu-gitu aja. Sebagaimana ada aja orang yang mau ngikuti mode kayak apapun juga kok kesannya pantes-pantes aja.

Nah, saya masuk ke golongan orang yang dilahirkan untuk jadi orang yang gak modis kayaknya. Hahaha.

Bukan bukan, ini bukan rendah diri. Justru saya sudah merasa sampai ke taraf penerimaan diri. Bahwa, oke saya memang gak selalu pantes mengikuti apa yang sedang hits. Oke, saya memang pantesnya pakai gamis model standar dan jilbab model gitu-gitu aja.

Lebih dari itu, saya merasa sudah mengenali diri sendiri. Bahwa saya adalah Rosa yang sejatinya memang suka model-model baju atau gamis simpel. Berwarna kalem. Bahwa saya adalah Rosa yang justru merasa sangat Pede dan merasa 'ini aku banget' saat pakai jilbab bergo atau jilbab segiempat super standar.

Jadi udah bukan masanya saat ngiler lihat model-model baju yang modis, dan memaksakan diri untuk pakai. Iya sih masih suka ngikuti trend, tapi sekedar ngikuti aja, tanpa mengaplikasikan. Karna sudah sangat tau, bahwa yang seperti itu bukan untuk saya 😊

Mungkin ini ya yang dimaksud menemukan jati diri.

Kalian gimana gengs, sudah merasa menerima keadaan diri dan mengenali diri sendiri juga kah?

Antara Passion, Uang dan Berdagang

on
Rabu, 30 Januari 2019


Dua mingguan lalu, saya nyobain tes personality lagi. Udah pernah sih sebelumnya. Cuma dulu asal selintas lewat aja. Gak terlalu diresapi. Halah.

Yang kemarin itu, saya baca dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Halah lagi.

Dan saya jadi makin sadar. Saya ini sebenernya sedang tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Halah lagi Zzzzz.

Mau ngomongin apa sih sebenernya?

Ngomongin passion pemirsah. Jadi, Saya tu udah lamaaaa banget ya ngrasa ada yang salah. Sejak SMA kayaknya.

Saya selalu mikir. Kenapa ya saya tu gak ada tertarik-tertariknya sama pelajaran matematika, dll yang berhubungan sama angka. Apalagi Fisika dan Kimia. Beneran saya blas gak mudeng. Sedikitpun.

Dulu saya sedih banget. Dan minder. Diagnosis yang saya tegakkan atas hal itu cuma satu: saya bodoh. Iya, saya pernah merasa sebodoh itu.

Waktu kelas 2 dan kita diminta memilih jurusan, saya pilih Bahasa di pilihan pertama, dan IPS di pilihan kedua. Ternyata di angkatan saya, peminat Bahasan rendaaahhh banget. Akhirnya jurusan itu ditiadakan, dan saya masuk IPS.

Di IPS, saya merasa agak bisa ngikuti materi. Meski masih gak suka sama pelajaran Matematika, tapi masih bisa nyaut dikit lah. Akuntansi yang juga ngurusin angka, juga saya bisa ngikuti banget. Nilai gak mengecewakan. Langsung deh tanpa ragu saya menganggap cocok masuk akuntansi untuk pilihan Jurusan kuliah.

Awalnya saya pengen banget masuk Psikologi. Tapi, mau jadi apaaaa?, kata bapak saya -___-

Maklum ya gengs, sini orang desa. Psikologi itu masih terdengar sangat sangat absurd.

Karna mindsetnya cari jurusan yang bisa gampang dapet kerjaan, ya fix lah mantep masuk akuntansi. Di koran kan lowongan isinya staff administrasi, staff keuangan dan staff akuntansi semuaaa rata-rata. Haha.

Setelah kuliah di Akuntansi, eh kok perasaan itu kembali lagi. Perasaan yang dulu saya rasakan saat ngikuti pelajaran Fisika dan Kimia. Gak se-blank dulu sih. Agak mudeng, dan nilai juga gak mengecewakan. Tapi apa yaaa... semacam gak bergairah gituu. Kayak kalo lagi menjalin hubungan tanpa cinta. Hampa. Halah apaan sih 😂

Tapi yaudah, saya abaikan segala perasaan itu, meski rasanya ngganjel di hati. Setelah lulus kuliah dengan IPK gak mengecewakan, ya jelas langsung cari kerja dong. Cari kerjanya juga yang sesuai background banget.

Setelah enam tahun bergelut di dunia, saya masih seriiiing banget ngrasain perasaan semacam di atas. Adakalanya saya maleeeesss banget ngerjain kerjaan kantor. Jengah. Gak bergairah. Tapi ya gimana, kan butuh uang. Jadi ya tetep kerja apapun yang terjadi.

Untungnya, saya punya hobi yang saya tekuni sejak kuliah. Nulis. Ngeblog. Sesuatu yang dulu dilakukan murni karna ingin melakukan. Bukan karna kepikiran iming-iming ini dan itu.

Dari ngeblog juga, pikiran saya semakin terbuka. Saya dapet banyak ilmu dan info. Yang kadang kalo kebanyakan juga mayan bikin mumet. Xixixi.

Nah, termasuk tentang tema passion. Banyak banget Blogger yang bahas soal passion. Dan saya juga akhirnya jadi seperti sadar dari pingsan. Ooooohhh, apa ini sebabnya karna kerjaan yang selama ini saya geluti itu bukan passion saya, ya?

Jawabannya ada di tes personality kemarin itu. Yup, passion saya bukan di sini. Menurut hasil tes itu, passion saya adalah menulis. Profes yang cocok untuk saya salah duanya adalah menjadi penulis atau psikolog. Huhuhu. Beneran kan ternyata saya tersesat!

Setelah FIX tau kalo tersesat, apakah saya langsung buru-buru balik kanan untuk menuju arah yang benar?

Tentu tidak semudah itu, marimar!

Saya sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab. Saya tau suami saya masih butuh bantuan saya untuk memutar roda ekonomi keluarga kami. Jadi sesuatu yang sangat gak mungkin kalo saya tiba-tiba memutuskan resign HANYA KARNA tau bahwa kerjaan saya ini gak sesuai passion.

Masa bodo sama passion kalo butuh uang mah ya 😂

Tapi yang jelas saya makin yakin untuk gak akan di sini sampe pensiun. Entah kapan, saya harus resign. Bismillah.

Maka, pilihan terbaiknya saat ini adalah: tetap kerja, sembari menyiapkan pondasi biar saat tiba waktunya saya harus resign, saya gak oleng-oleng banget.

Tapi ngapain?

Ngeblog? So pasti, Insya Allah akan tetap saya tekuni.

Nulis. Nyoba-nyoba nulis di wattpad. Hihihi.

Lalu berdagang.

Apakah berdagang adalah passion saya? Kalo dari tes persinality di atas, sebenernya enggak. Saya tipe introvert. Harus sering berkomunikasi dengan orang lain yang asing akan sangat menyita energi saya.

Tapi saya pengen tetep nyoba berdagang. Cumaaa, saya mencari sesuatu yang bikin aktivitas dagang jadi menyenangkan. Jadi saya punya kriteria khusus.

Pertama, barang yang saya jual adalah barang yang saya sukai. Saya sempat nyoba jualan jilbab. Karna saya suka gonta-ganti jilbab. Haha.

Tapi karna satu dan lain hal, saya gak lanjut. Lalu saya kepikiran jualan baju anak. Karna, ibu mana coba yang gak suka beliin baju buat anaknya kan?

Kedua, saya gak mau jualan yang butuh banyak energi untuk meyakinkan calon pembelinya.

Saya sempet daftar jadi member sebuah MLM. Tapi, gak saya jalankan bisnisnya, karna fix, gak sesuai banget sama saya. Jualan produk MLM itu harus banget meyakinkan pembeli dengan macem-macem testimoni dan retorika. Apalagi berhubungan sama kulit wajah atau kesehatan kan. Orang gak akan sembarangan gampang percaya.

Saya diyakinkan berkali-kali untuk menjalankan bisnis MLM ini. Iya sih, saya melihat sendiri dengan nyata, banyak orang sukses besar di bisnis itu. Apa saya gak pengen sukses bareng mereka? Berkali-kali saya ditanya seperti itu.

Tapi ya saya realistis aja. Terlalu jauh dari passion saya. Cukup satu kerjaan ini aja yang gak sesuai sama passion. Saya gak merasa perlu memaksa diri saya untuk melakukannya, meski ditawari janji uang sekian banyak.

Begitulah. Maafkan curhat gado-gado saya ini 😅

Satu lagi. Follow @mafaza.babyshop dong guys 😊

Rasa yang Dulu Pernah Ada

on
Rabu, 23 Januari 2019
Judulnya sinetron banget gak sih? 😁

sumber: pixabay
Ini saya pinjem judul postingannya Nyonya Malas beberapa waktu lalu sih. Soalnya kebetulan waktu saya baca tulisan itu, saya sedang merasakan hal yang sama. Niatnya mau segera ditulis, eeehh ketunda terus. Hehe.

Sejak mulai baca novel lagi dua bulan lalu, saya beberapa kali membaca Novel Romance -- yang memang merupakan genre favorit saya.

Terus saya jadi baper. Haha. Tapi bapernya beda.

Kalau dulu waktu masih single,bapernya karna jadi bayangin yang 'iya-iya' kali yaa. Yah pokoknya baper khas single yang udah pengen nikah tapi belum ketemu jodoh lah. Haha.

Nah, kalau sekarang bapernya tu karna jadi terkenang rasa yang dulu pernah ada.Terkenang, lalu jadi kangen.

Kangen ngerasain debar-debar perasaan khas orang lagi jatuh cinta. Terkenang getar hati saat tangan saling menggenggam. Senyum-senyum sendiri waktu baca kata-kata manis si tokoh di novel yang bikin tokoh lainnya berbunga-bunga -- karna inget kayaknya dulu pernah ngerasain hal yang sama 😂

Lalu bertanya-tanya... kok kayak udah lama gak ngerasain yang kayak gitu yaaa. Ke mana perginya rasa yang dulu pernah ada itu?

Terus apakah rasa itu kini tak lagi ada yang artinya gak ada lagi cinta?

Ya enggak gitu dong! Tetep cinta. Tetep sayang.

Tapi ya mau gak mau pasti beda.

Kalo ada yang bilang menikah seharusnya bisa membuat kita jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama, yaiya sih bener. Tapi jatuh cintanya pasti beda kan? Emang ada gitu yang udah nikah bertahun-tahun tapi kasmarannya tetep sama terus kayak pas pengantin baru?

Hidup tidak se-novel itu, Marimar 😂

Dulu mah pegangan tangan doang kok rasanya berdebar-debar gak karuan ya 😂 Sekarang sih yang bikin berdebar-debar adalah masih tanggal 20-an eeehhh susu dan diapers udah nipis bangettt stoknya. Ahahaha.

Nah, gara-gara itu kali yaaa salah satunya. Rasa yang dulu pernah ada perlahan bergeser ke rasa yang lainnya 😃

Tapi jangan dipikir baca novel sama sekali gak ada manfaatnya dan cuma bikin baper. Enggak!

Ada loh manfaatnya.

Dengan baca novel romance, sisi-sisi romantis saya yang tadinya tergilas berbagai macam pikiran semacam hari ini masak apa, buahnya Faza apa, setrikaan banyak dan lain-lain, jadi seperti terasah kembali.

Saya jadi lebih peka pada cara lain mas suami menunjukkan kemesraan.

Misalnya, ketika saya sedang nyetrika, tiba-tiba mas suami datang mengusap punggung saya sambil bilang, "Kalau udah capek istirahat aja". Digituin aja saya tiba-tiba jadi berbunga-bunga banget 😂 Gara-gara saat itu saya lagi baca novel yang tokohnya sedang saling jatuh-cinta 😅

Walau gak akan pernah sama rasanya dengan saat pengantin baru, bagaimanapun juga nyala api cinta harus tetap dijaga pendarnya kan?

Dan hal itu bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana sebenernya. Bagi saya, sesederhana baca novel genre romance.

Tapi sayanjuga jadi tau sih. Mempertahankan pernikahan ternyata memang sama sekali gak cukup jika hanya bermodal kasmaran. Kasmaran umurnya gak akan panjang. Maka, komitmen adalah koentji.

Cuma kalo kasmarannya dibiarkan terus memudar dan gak pernah diusahakan untuk kembali menyala, akan sedingin dan sehambar apa kira-kira sebuah rumah tangga? Saya gak tau.

Kalau kalian, apa yang biasanya dilakukan untuk menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah ada?

Signature

Signature