}); Archive for Juni 2014

#Ramadhan2: Nafsu

on
Senin, 30 Juni 2014
Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu[2] selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku[3]. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun[4] lagi Maha Penyayang[5]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yunus-ayat-53-66.html#sthash.V9zuK7fH.dpuf
 

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Qs. Yusuf: 53)

oOo
Nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. Harusnya kita yang mengendalikan nafsu, bukan nafsu yang mengendalikan kita. Nafsu itu konon semakin dituruti bakal jadi semakin liar. Nah, Ramadhan adalah waktu yang paling tepat bagi kita untuk mendidik nafsu.
Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu[2] selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku[3]. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun[4] lagi Maha Penyayang[5]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yunus-ayat-53-66.html#sthash.V9zuK7fH.dpuf
Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu[2] selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku[3]. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun[4] lagi Maha Penyayang[5]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yunus-ayat-53-66.html#sthash.V9zuK7fH.dpuf
Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu[2] selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku[3]. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun[4] lagi Maha Penyayang[5]. - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-yunus-ayat-53-66.html#sthash.V9zuK7fH.dpuf

#Ramadhan1: Dunia-Akhirat

on
Minggu, 29 Juni 2014

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." (Terjemah QS. Hud: 15-16)

Dunia dan akhirat bukan dua hal yang boleh saling mengalahkan. Harusnya keduanya berjalan imbang. Nyatanya? Seringkali keinginan atas dunia masih jauh lebih besar dibanding keinginan atas akhirat. Saya sedang membicarakan diri saya sendiri :(

Marhaban Ya Ramadhan :)

on
Kamis, 26 Juni 2014
Apa lantaran beberapa doa saya di Ramadhan tahun lalu masih Allah tunda pengabulannya, lalu kebahagiaan saya bertemu kembali dengan Ramadhan tahun ini harus tereduksi?
Tidak
Demi Allah semoga tidak.

Marhaban Yaa Ramadhan...
Saatnya menambal berbagai kekurangan pada Ramadhan sebelumnya, Insya Allah.

dr. google
Selamat menyambut bulan suci nan penuh berkah untuk teman-teman semua.
Mohon maaf lahir batin jika dalam tulisan-tulisan saya di blog ini atau sikap saya dalam interaksi kita di dunia maya ada yang kurang berkenan di hati kalian :)
*Ramadhan tahun lalu dapet ujian yang cukup WOW, buat saya dan keluarga. bagaimana dengan tahun ini? Apapun, semoga mampu kami lewati dengan baik :)* 

#SelfReminder7: Bagai Memakan Bangkai

on
Rabu, 25 Juni 2014
Rasulullah bilang, barangsiapa yang beriman pada hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam. Peribahasa bilang, diam adalah emas, meski bicara seringkali menjelma mutiara. Tapi toh kenyataannya belum banyak yang mampu memutiarakan kata-katanya.

Konon, surga dikelilingin oleh banyak hal yang tidak disenangi nafsu, dan sebaliknya... neraka dikelilingi oleh banyak hal yang disenangi nafsu. Begitu juga soal bicara. Lihatlah betapa membicarakan orang lain menjelma menjadi begitu mengasyikkannya?! Tidak peduli meski perumpamannya amat menjijikkan: bagai memakan bangkai sodara sendiri.

Ah, nafsu, betapa berat menundukkannya. Sudahlah memang kadang sekali-duakali memulai, ada di lingkungan yang suka memancing pula -____-. Benarlah jika kita berdiri dibawah agama teman kita, bahkan dikatakan bahwa salah satu cara paling efektif mengenali seseorang adalah dengan melihat seperti apa orang-orang di sekitarnya. Tau itu dosa, tau sekali. Tapi lalu setan membisiki, nanti dibilang sok suci kalo kamu menghentikan, nanti disebelin sama temenmu kalo kamu mengacuhkan, nanti bla bla bla.

Lihatlah, betapa tipisnya iman kala iming-iming surga bahkan tak cukup mampu untuk melawan semua bisikan itu. Ya, lalu saya tau... menghindari dosa itu soal komitmen dan keberanian. Komitmen melawan nafsu diri kita sendiri, dan keberanian untuk menghadapi segala konsekuensi yang terlihat kurang menyenangkan di mata awam kita sebagai manusia.


Bicara soal ini, maluuuu sekali rasanya tiap menekuri ulang video ini:

Tentang Menemukan

on
Sabtu, 21 Juni 2014
Enggak tau kenapa, dari duluuu banget, sejak awal SMA kalo nggak salah, saya selalu kagum setiap melihat wanita berjilbab lebar (tapi bukan yang warnanya gelaap-gelap ato pakai cadar *tapi bukan berarti juga saya anti sama yg pakaiannya begitu loh ya*). Di mata saya terlihat anggun, menentramkan dan mempesona. Padahal waktu itu saya bisa dibilang belum 'kenal' jilbab. Pake jilbab cuma pas ke sekolah aja, begitu sampe rumah, meskipun ada temen sekolah yang maen dan sayanya lagi pake celana pendek, ya cuek aja. Parah, yah -,-

Waktu kuliah kekaguman saya sama mereka para muslimah berjilbab 'rapi' pun tetep nggak pudar. Dan itu bikin saya langsung menjatuhkan pilihan pada Forum Silaturahim Annisa (FSA-Unissula) sebagai UKM yang saya ikuti. Kenapa? Karna di FSA-lah tempat 'berkumpulnya' para wanita berjilbab rapi. Dan disitu pula saya pertama kali berinteraksi dan mengenal mereka yang dulu hanya saya kagumi dari jauh. Hal yang kemudian bikin saya sadar, mereka tetep manusia. Bisa salah, bisa bercanda, bisa marah, dll. Jadi, jangan sekali-sekali menganggap wanita berjilbab itu sempurna, ya... Soalnya nanti kamu bakal bilang, "Yah, berjilbab tapi kok kayak gitu?!". Beuh, saya nggak suka banget kalimat semacam itu.

Waktu itu, saya 'menjelma' seperti mereka -- sesuatu yang memang saya idamkan. Tapi, apa saya melakukannya benar-benar karna saya tau itu baik dan disukai oleh Tuhan saya? Apa saya melakukannya karna hal itu telah menjelma menjadi prinsip yang akan saya pegang kuat-kuat? Atau 'hanya' karna saya harus menyesuaikan dengan lingkungan pergaulan saya? Aha, saya tau pasti jawabannya. Yup, yang terakhir! Dan itu artinya niat saya belum bener. Kok bisa tau? Taulah! Lihat saja betapa saya mudah 'berubah' lagi setelah lepas dari mereka. Lepas dari dunia kampus, dan hidup di tengah masyarakat yang lebih kompleks pemahamannya. Pasti taulah, yaa... banyak orang yang masih memandang 'ajaib' wanita berjilbab 'rapi'. Dan ternyata iman saya belum cukup kuat buat mengabaikan itu.

Semua itu bikin perspektif saya berubah. Saya tetap menyimpan kekaguman yang sama pada mereka wanita berjilbab 'rapi'. Kekaguman saya tak sedikitpun berkurang. Tapi ada beberapa sudut pandang saya yang berubah. Saya nggak seberapa kagum (bukan berarti nggak kagum sama sekali loh, ya!) pada mereka yang berjilbab 'rapi' ditengah komunitas yang hampir semuanya seperti itu -- homogen. Kenapa gitu? Ya karna mereka ada di 'zona aman'. Malah akan jadi aneh buat mereka kalo nggak seperti itu. Gampangnya, tantangannya tuh nggak seberapa (sekali lagi, saya sama sekali nggak bermaksud meremehkan, saya tetep kagum pada keistiqomahan mereka). Tapi saya akan dibuat teramat kagum saat bertemu dengan seorang wanita berjilbab 'rapi' yang ada di lingkungan heterogen. Wow, betapa keistiqomahan mereka sangat keren... sesuatu yang saya sama sekali nggak punya :(

Nah, alhamdulillah minggu lalu saya dipertemukan Allah sama sosok seperti di acara nikahan sodara -- tepat saat saya tengah tertatih mencoba kembali membangun 'keberanian' untuk memperbaiki cara berpakaian saya. Waktu ngobrol-ngobrol saya dia, saya tanya aktif di 'halaqah' yang mana dia... nggak dinyana nggak diduga, dia menggeleng. Yup, dia bukan anggota ormas, kelompok, halaqah, ato partai apapun. Saya terperangah. Lalu bertanya lagi, apa gerangan yang bikin dia se-istiqomah itu mempertahankan 'kerapiannya'? Lalu jawabannya bikin saya merinding.

"Hati, Mbak. Hati saya nyamannya kalo saya berpakaian seperti ini..." Ucapnya lembut, sambil tersenyum simpul.

Saya masih belum puas. Lalu tanya lagi apa dia pernah dapet tanggepan/pandangan yang bikin risih telinga dan bikin mikir 'udahlah, berpakaian kayak kebanyakan orang aja!'?!

Jawabnya, "Pernahlah pasti... pernah juga nyoba. Tapi mau gimana lagi, ternyata memang saya nggak nyaman, hati saya nggak mau. Jadi yaudahlah, gakpapa mereka lihat saya aneh, tapi semoga Allah ridho dengan saya lebih milih tetep kayak gini"

Gimana saya nggak ngrasa kerdil banget cobaaa???!!! :(. Saya kagum banget sama beliau itu. Dan saya tau sepertinya ini tentang menemukan. Menemukan keyakinan dan keteguhan hati yang sering disebut 'hidayah'. Sesuatu yang belum berhasil saya temukan, karna saya tak sungguh-sungguh berusaha mengusahakannya.

Akhir-akhir ini saya suka baca kisah wanita yang tetep istiqomah berjilbab di negeri yang mayoritas bukan muslim. Wow, betapa saya harusnya malu sekali. Pandangan 'ajaib' tentu saja berkali-kali lipat lebih bikin ciut nyali dibanding yang saya dapet di sini. Tapi sedikitpun nggak bikin mereka goyah. Siang tadi saya baca tulisan putrinya Pak Jamil Azzaini -- dan, saya belajar Insya Allah. Saya juga salut sekali dengan Mba Kivitz -- yang tetep istiqomah dengan pakaian syar'inya meskipun tetep modis dan stylist, di tengah pergaulan metropolis.

Seperti kata Mbak Octa Nh di salah satu blogpostnya yang judulnya sama dengan blogpost saya ini *sengaja*, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu maka seringkali kita akan 'dipertemukan'. Dipertemukan orang-orang yang punya keinginan sama lalu kamu bisa saling menguatkan dengannya, dipertemukan dengan jalan untuk kamu bisa sampai di titik yang kamu mau, dll -- jadi bukannya langsung simsalabim dikabulkan.

Maka, saya berdoa... semoga Allah berkenan mempertemukan saya dengan orang-orang baik yang semakin menguatkan niat dan keinginan saya untuk belajar menjadi lebih baik. Aamiin.

**Emm, ngomong-ngomong soal menemukan... saya juga menemukan banyak sekali orang-orang yang keren sekali dalam hal 'melahap' buku, ditengah keinginan saya untuk menjadi lebih rajin baca. Alhamdulillah :)

Terapi Hati

on
Jumat, 20 Juni 2014
Sedih dan bahagia. Bersemangat lalu malas. Merasa sangat sibuk kemudian sama sekali tidak punya kegiatan hingga dirantai bosan. Ya, begitulah hidup. Silih berganti, bergilir satu sama lain.

Seperti saat beberapa tahun lalu saya rasakan. Setelah berhasil menyelesaikan skripsi dan melewati ujian pendadaran dengan baik, tibalah saya pada masa tunggu sebelum wisuda. Mau apa? Bertahan di kost rasanya hanya membuang-buang biaya hidup saja. Mau mulai melamar kerja juga belum bisa maksimal karna hanya berbekal surat keterangan lulus. Pilihan terbaiknya tetap saja ‘anteng’ di rumah. Tapi saya merasa bisa mati bosan kalau tidak mencari kesibukan saat itu. Sayangnya waktu itu saya belum kenal dunia blogging, kecuali hanya sebagai ‘diary’ semata XD

Entah mendapat ide darimana waktu itu, saya tiba-tiba kepikiran untuk ‘berkarya’. Dan pilihan saya saat itu jatuh pada flannel. Yup, flannel memang sedang sangat naik daun waktu itu. Maka, dengan modal kurang dari lima puluh ribu, saya berbelanja kain flannel, lem lilin dan peniti di toko Satria – di kawasan Jalan Pemuda Semarang, ditemani seorang sahabat karib. Sesampainya di rumah, saya segera ‘bermain-main’ dengan kain flannel tersebut, menjadikannya bros jilbab – berbekal tutorial yang saya unduh dari internet.
Bros buatan saya yang kalau dibandingkan dengan buatan Mbak Susi ibarat bumi-langit itu kemudia saya titipkan di toko kakak perempuan saya yang kebetulan jug amenjula macam-macam aksesoris. Dan, wow… ternyata bros saya laku! Meski tidak seberapa hasilnya, mengingat kemampuan saya membuat bros juga hanya sekitar 3 bros sehari, tapi senang sekali rasanya waktu itu. Uang dari hasil penjualan saya gunakan untuk beli pulsa, karna orang tua saya tidak pernah memberikan jatah pulsa pada anak-anaknya, dan tidak pula memberi uang jajan saat sedang libur sekolah/kuliah – saya rasa itu salah satu bentuk pendidikan buat kami :).



Sayang, saya orangnya ‘anget-anget tai ayam’ :(. Semangat sekali di awal, mlempem kemudian. Apalagi setelah diterima kerja, otomatis kegiatan membuat bros saya tinggalkan sama sekali. Sampai akhirnya saya sampai pada titik yang sering disebut dengan istilah ‘titik jenuh’. Saya jenuh dengan aktivitas serba monoton di tempat kerja. Ditambah beberapa hal yang membuat mood dan perasaan menjadi labil sekali. Karna mood baca juga sedang agak buruk, akhirnya saya kembali memutuskan berpaling pada flannel. Saya membeli beberapa lembar kecil-kecil kain flannel yang dijual seharga Rp 1500,-, lalu kembali saya buat menjadi bros. tapi kali ini saya tidak menjualnya, melainkan saya pakai sendiri. Hihi. Dan seperti biasa, saya kembali bosan :(.

Salah dua karyaku :D

Waktu akhir maret lalu berkesempatan silaturahim ke rumah Mbak Susi, saya benar-benar dibuat takjub. Takjub pada keahlian beliau menyulap kain flannel menjadi bermacam-macam bunga indah dan menjadikannya sumber penghasilan. Takjub juga karna ternyata segala sesuatu itu ada ilmunya, dan dengan ilmu semua jadi lebih mudah. Memotong kelopak yang dam bayangan saya tampak amat rumit ternyata bisa jadi sederhana saat beliau memberitahukan tips dan triknya.

Saya jadi membayangkan, betapa menyenangkannya bisa menghasilkan uang dari bidang yang hobi yang memang sangat kita cintai. Selain menyenangkan saat melihat hasil karya kita, berketrampilan seperti ‘terapi hati’ bagi saya. Kegiatan itu terbukti ampuh membunuh kebosanan dan memperbaiki mood yang semula sangat berantakan. Beberapa hari ini, hasrat untuk berketrampilan lagi mulai kembali mengemuka. Tapi saya masih menundanya, untuk memastikan terlebih dahulu agar saya lebih bisa konsisten dan tidak sekedar (lagi-lagi) ‘anget-anget tai ayam’.

Baru Tahu (Ini Bukan Soal SARA)

on
Selasa, 17 Juni 2014
Sebenernya udah lama banget pengen cerita ini. Tapi (pura-pura) lupa terus. hihi.
Nggak penting sih sebenernya *kapan saya nulis hal yg penting ya :(* -- hanya tentang betapa kupernya saya.

Jadi, hampir dua tahun lalu waktu pertama kali kerja di tempat ini, saya dibuat kaget (sekali) waktu tau mbak-mbak (2 orang) office girl adalah pemeluk agama Budha. Kenapa kaget? Ya itu tadi, karna saya kuper. Selama ini yang saya tuh ngira kalo di kota kecil kayak Jepara ini, kalopun ada pemeluk agama selain Islam ya cuma Kristen sama Katolik. Eh, ternyata ada Budha (!). Dan ini bener-bener kali pertama saya mengenal secara langsung (dan berinteraksi) dengan pemeluk agama selain Muslim dan Nasrani. Lihatlah, betapa kupernya saya :(

Yang lebih bikin WOW lagi, ternyata di Jepara ini, tepatnya di Kecamatan Batealit ada sebuah perkampungan yang warganya mayoritas beragama Budha. Saya pernah ke sana sih -- karna dilewati waktu jalan-jalan ke Gong Perdamaian Dunia sama temen-temen. Sayangnya nggak sempet ambil foto. Perkampungannya mirip Bali gitu bentuk bangunan-bangunannya. Kapan-kapan deh semoga punya kesempatan buat ke sana lagi.

Sementara fotonya ini dulu yaa... foto pas di gong perdamaian dunia. Hihi *maksa banget kesannya*

Hei, Lelaki...

on
Jumat, 13 Juni 2014

Kemarin malam hati saya dibuat ngiluuu sekali oleh curhatan seorang teman melalui inbok FB. Dia mengabarkan bahwa rencana pernikahan yang sedianya akan diselenggarakan usai lebaran nanti batal. Sampe situ saya baru 'sekedar' kaget. Lalu kekagetan saya menjelma menjadi 'marah' saat teman saya menceritakan tentang alasan si lelaki 'menyudahi' semuanya begitu saja.

"Katanya, setelah beberapa kali dia sholat memohon petunjuk, ternyata wajah saya nggak pernah muncul. Dia bilang, bagi Allah aku nggak baik..." begitu kurang lebih intinya alasan yang teman saya ceritakan.

Hah?? Saya terhenyak seketika. Seenteng itukah laki-laki itu memperlakukan perasaan wanita? Jujur saya sempat emosi. Memang sebaik apa dia? Atau setinggi apa ilmunya hingga 'pintar' sekali mengartikan 'penilaian' Allah atas seseorang?

Oke, misalpun ternyata petunjuk yang dia raba benar, bahwa teman saya memang tidak baik buat dia, apa nggak bisa dia 'lebih' menjaga perasaan wanita yang sempat ia perjuangkan? Kenapa dia cuma dateng ke kost teman saya lalu 'menyudahi' semuanya begitu saja, padahal semua sudah nggak lagi sederhana urusannya? Kalo dia laki-lali baik-baik dan bukan 'banci', dateng dong ke orangtuanya, jelaskan semuanya dengan sama meyakinkannya seperti saat minta ijin untuk akan menikahi.

Terlalu pengecut dan tidak berperasaan rasanya kalo merasa cukup menjelaskan pada si wanita lalu membiarkannya pasang badan sendirian untuk mengatasi luapan kekecewaan dan luka hati orang tuanya. Ya Allah... Sungguh hati saya turut luka. Apalagi saat teman saya bercerita bahwa tadinya ibunya nggak begitu sreg pada sosok si laki-laki terkait masa lalunya. Lalu akhirnya teman saya terus berusahan meyakinkan ibunya dan akhirnya berhasil. Bisa bayangkan betapa teman saya gentar menyampaikan pada bapak-ibunya, sementara si laki-laki merasa semuanya sudah 'beres'??!! Allah....

Saya tau jodoh sepenuhnya urusan takdir langit. Saya tau sengotot apapun kita memperjuangkan seseorang akan tetap nihil hasilnya kalo Allah nggak menggariskan dia buat kita, saya juga tau Allah Maha membolak-balik hati. Saya tau dan saya sepenuhnya percaya tentang hal itu. Tapi semua itu sama sekali nggak berarti kita (terutama laki-laki dalam hal ini) menganggap simple hal-hal seperti itu.

Entahlah. Rasanya saya ikut terluka, meski nggak bisa berbuat banyak kecuali berusaha terus memeluk teman saya melalui doa. Cerita dia seperti menambah satu lagi rasa was-was saya terhadap laki-laki, di tengah berbagai kasus wanita yang tersakiti atas sikap mereka.

Tiba-tiba saya teringat kutipan dari penulis kondang - Asma Nadia. "Jika cinta bisa membuat seorang wanita bertahan hanya pada satu cinta, kenapa tidak begitu dengan pria?"

Entahlah. Saya ingin tetap berkhusnudzon bahwa tetap masih banyak laki-laki baik di luar sana, termasuk yang kelak ditakdirkan untuk saya. Karna saya yakin Allah sesuai persangkaan hambaNya. Aamiin.

Untuk teman saya, semoga Allah menguatkannya, lalu menggantikan untuknya dengan yang jauh lebih baik. Saya tau dia pantas untuk tidak pantas mendapatkan laki-laki itu, karna laki-laki itu tidak cukup baik untuknya.

Semoga Allah berkenan segera memberikan obat untuknya. Aamiin.

Terhimpit Waktu

on
Kamis, 12 Juni 2014
Saya baru mulai ngerti kenapa dulu waktu saya kuliah, seminar-seminar kewirausahaan gencar sekali diadakan. Baru tau juga kenapa dulu salah satu kakak angkatan saya begitu bersemangat untuk berwirausaha -- dan menjadi pengusaha adalah cita-cita terbesarnya. Dulu saya apatis sama semua itu. Hampir nggak pernah terlintas di benak saya untuk belajar berwirausaha sejak dini. Nggak punya jiwa dagang -- begitu alibi saya. Pusing aja rasanya bayangin harus mikirin strategi marketing bla bla bla biar usahanya lancar jaya. Bukannya lebih enak kerja yang 'pasti-pasti' aja? Yang tiap pagi tinggal berangkat, dan tiap bulan dapet pemasukan tetap? Begitu pikir saya saat itu. Ah, sekarang saya justru malu sendiri kalo inget itu.

Setelah 'mencicipi' dunia kerja dengan jam kerja pagi sampe sore, senin sampe jum'at hampir 2 tahun, saya mulai merasa megap-megap. Waktu yang saya punya jadi sempiiiitttt sekali rasanya. Banyak banget hal-hal yang pengen sekali saya lakukan, tapi terbentur soal waktu. Emm, oke, mungkin sebenernya ini lagi-lagi cuma alibi saya. Alasan sebenernya mungkin tetep satu: saya belum mampu melawan diri saya sendiri.

Contoh kecil, baca. Ada beberapa buku yang sudah cukup lama tergeletak di meja kamar menunggu saya baca. Tapi apa? Dalam waktu sebulan paling saya hanya dapet beberapa lembar. Yah, gimana dong... kalo di kantor nggak mungkin nyolong baca. Istirahat kan cuma 45 menit, udah dipake makan siang, sholat, ngaji, sama nengok blog bentar udah habis. Kalo malem, seriiing banget bertekad buat baca, tapi sering lebih menang ngantuknya :(. Kalo pagi, duh, nggak enak lah sama ibu, masa' ibu sibuk masak, bersih-bersih dll sayanya malah santai-santai baca?!

Itu baru soal baca. Belum lagi soal keinginan buat menyelesaikan naskah novel yang entah sudah berapa lama saya mulai dan belum juga berhasil menemui ending :D. Kalo ngeblog seringnya masih bisa nyolong-nylong disela jam kantor sih, hihi. Trus keinginan buat mengasah hobi crafting. De el el.

Rasanya iriiii banget liat beberapa temen di dumay yang kayaknya fleksibeeellll banget waktunya. Bisa melakukan banyak hal yang mereka suka, tapi tetep bernilai positif. Apalagi kalo liat yang bisa menghasilkan uang dari hobinya... duuuhhh, mupeng beraaattttt.

Tapi saya tau rumput tetangga selalu lebih hijau. Orang yang saya iriin itu, sangat mungkin juga merasa hidup orang lainnya lagi lebih indah. Saya juga tau perasaan ini kalo nggak difilter baik-baik bisa jadi peluang buat saya nggak bersyukur sama apa yang saya dapet saat ini. So, iri nggak papa, asal secukupnya dan dijadiin motivasi buat jadi diri yang lebih oke lagi.

Em, sama satu lagi pelajarn penting yang harus saya ambil: nggak boleh sia-siain waktu. Waktu yang keliatannya sedikit kalo digunakan seefektif mungkin juga pasti bisa bermanfaat sekali.

Hantu Bagi Kaum Wanita

on
Selasa, 10 Juni 2014
Setelah beberapa hari lalu saya bercerita tentang kakak perempuan saya yang mengalami 'cobaan' saat menyusui, kali ini saya ingin bercerita tentang sepupu perempuan saya yang mengalami 'cobaan' dalam hal kehamilan. Hmm, cerita-cerita ini semakin membuka mata saya tentang betapa luar biasanya menjadi seorang wanita, terlebih menjadi seorang ibu. Ah, pantas saja surga pun ada di telapak kakinya.

Sepupu saya tinggal di Palembang, sudah punya dua orang putri cantik, dan 2 bulan yang lalu mengalami keguguran. Yang baru saya tau dan membuat saya tercengang adalah, ternyata dia nggak baru sekali ini keguguran, melainkan 4 kali. Bayangkan, 4 kali! Menururt cerita ibundanya, keguguran yang pertama disebabkan karna sepupu saya terjangkit toksoplasma. Keguguran kedua dan ketiga disebabkan karna virus rubella. Sedangkan keguguran yang terakhir belum diketahui faktor penyebabnya. Katanya sih masih nunggu hasil tes darahnya.

Ya Allah... saya merinding disko deh. Betapa banyak sekali 'hantu mengerikan' yang harus kita waspadai, dan saya seperti baru sadar tentang itu. Toksoplasma dan rubella sudah beberapa kali saya dengar, tapi belum pernah punya keinginan buat nyari tau tentang hal-hal tersebut lebih dalam sebelumnya. Nah, semenjak denger cerita itu, keinginan itu mulai muncul. Yah, setidaknya biar bisa hati-hati. Lebih baik mencegah kan daripada mengobati :)

Saya sempet resah sih waktu baca beberapa artikel yang bilang bahwa kucing sangat berpeluang menularkan tokso. Soalnya saya suka sekali sama hewan lucu satu itu. Di rumah saya juga memelihara satu ekor bernam Catty. Jujur jadi was-was. Tapi jadi lumayan lega waktu ketemu sama artikel ini. Jadi katanya yang paling berpeluang menularkan tokso adalah mengonsumsi daging yang kurang matang, atau mencuci sayuran kurang bersih. Sedangkan soal virus rubella saya baca artikel ini.

Selain dua penyakit itu, ada 'hantu-hantu' lain yang sudah sangat sering disosialisasikan untuk diwaspadai oleh para wanita. Apalagi kalau bukan Kanker serviks dan kanker payudara. Aduh, nyebutnya aja saya mrinding. Tapi menurut saya, hal terpenting dalam upaya menjaga diri dari berbagai 'hantu' itu satu sih, jaga kebersihan. Bersih diri, bersih lingkungan, bersih makanan. Nah, terutama kalo lagi menstruasi, harus bener-bener jaga kebersihan (catatan buat diri sendiri).

Yah meskipun ujung pangkal dari semuanya sih tetep Allah, ya. Semoga Allah melindungi kita dari berbagai 'hantu mengerikan' itu. Aamiin.

Trauma Menyusui

on
Jumat, 06 Juni 2014
Jadi ceritanya kakak perempuan saya tuh punya 'sedikit' trauma tentang menyusui. Dan trauma itu salah satu yang bikin dia baru berani berikhtiar untuk dapet momongan kedua setelah anak pertamanya umur 6 tahun. Kalo aku bilang sih itu agak kelamaan. Hehe

Alhamdulillah saat ini dia hamil, memasuki usia kandungan 4 bulan. Nahh, untuk anaknya yang kali ini dia bilang pengen lebih 'menikmati' perannya sebagai ibu, termasuk dalam hal menyusui. Maka dari itu dia minta tolong saya buat cariin artikel-artikel seputar menyusui, biar dia nggak ngalami kejadian kayak 6 tahun lalu. Oke, sekarang saya mau cerita tentang sebab musabab trauma menyusui yang dialami kakak saya itu.

Ponakan pertama saya lahir dengan cara caesar. Nggak ada deh itu cerita soal inisiasi dini bla bla bla. Padahal konon inisiasi dini itu penting banget, ya? Tapi kalo caesar apa iya memungkinkan? Nah, di bagian itu saya belum paham. Yang jelas, begitu si adek bayi di bersihkan dan si mama masih dalam tahap perawatan, mbak-mbak perawatnya langsung bertanya pada ayah si bayi tentang merk susu yang mau dipilih untuk anaknya. Singkat kata, ponakan saya dikasih sufor. Paginya kakak saya udah bisa mulai belajar menyusui, tapiii... sufor masih tetep diberikan. Jadi selang-seling gitu antara ASI dan sufor (tapi keknya lebih banyak sufornya). Yahh, seperti yang saya ceritakan singkat di sini, kesadaran masyarakat sekitar saya tentang pentingnya ASI tuh terasa anjlok sekali. Apalagi yang 'beruang' -- sebagian dari mereka mikir sufor yang mahal bingit itu bagus banget buat anak mereka. Nahh, termasuk kakak saya sepertinya. Apalagi dia mikir dia bakal sering meninggalkan si bayi buat kerja, sedangkan pengetahuan tentang memerah ASI dan menyimpannya masih 0.

Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, kakak saya mulai merasakan beberapa keluhan. Putingnya lecet dan periiihhh sekali katanya kalo lagi dibuat ngASI. Dia juga sempet pake alat penyambung puting yang dari karet itu -- tapi si dedek bayi keliatan nggak nyaman banget gitu. Berawal dari situ, semakin seringlah sufor diberikan. Lalu beberapa hari kemudian kakak saya merasa salah satu payudaranya nyeriiii sekali. Apalagi kalo lagi dibuat ngASI. Duh, kalo inget nggak tega banget lihatnya. Dia menyusui sambil berlinang air mata nahan sakit gitu. Badannya sempet demam juga. Dan rasa nyerinya dari hari ke hari semakin tak tertahankan.

Karna kami orang desa yang masih punya beberapa sesepuh, biasalah, mereka ngasih saran-saran penyembuhan yang saya bilang sama sekali nggak masuk akal gitu. Tapi akhirnya kakak saya pergi ke bidan, dan di kasih obat. Si bidan bilang, kalo di kasih obat nggak mempan, ya harus di bedah. Ya Allah...

Nahh, kemarin saya baca-baca dan menemukan artikel ini. Aha, saya jadi yakin banget yang dialami kakak saya itu namanya mastitis. Kalo menurut pemahaman sederhana saya sih, mastitis itu terjadi salah satunya karna kurang lancarnya siklus pengosongan ASI. Jadi, produksinya jalan terus dan banyak, tapi diberikan ke si bayi cuma dikit dan nggak di perah pula. Jadi kan ngumpul tuh di dalem, jadi penyakit deh. Gitu nggak, sih? Hihi. Yang jelas, saya sudah lumayan ada pencerahan tentang langkah-langkah pencegahan untuk disarankan ke kakak saya supaya nggak ngalamin kesakitan seperti 6 tahun lalu lagi.

Tapi jadi belajar juga, ternyata buat bisa kasih ASI eksklusif buat anak tantangannya luar biasa sekali, ya?! Nggak gampang. Tapi banyak yang bisa kok! Kalo niatnya tulus demi si buah hati, Insya Allah dimudahkan. Salut buat para bundASI :)

THE LIEBSTER AWARD

on
Kamis, 05 Juni 2014
2,5 tahun ngeblog, baru kali ini dapet award. Pertama kali tau ada award kayak gini tuh sudah tahun lalu kayaknya, dari blognya Mas Yudie, tapi waktu itu Cuma sekedar baca sih – belum bener-bener ngeh. 2 mingguan ini beberapa kali baca postingan temen tentang award ini, dan lumayan surpraise waktu semalem Mbak Delyanet nyolek lewat FB dan ternyata ngasih award ini ke saya. Semakin surpraise waktu pagi-pagi baca postingan Kak Rani tentang award ini juga, dan ada nama saya di antara 11 orang blogger yang dapet estafet dari dia. Untuk mereka berdua, saya ucapkan banyak terimakasih *kok mirip pidato ya, haha*. Seneng, karna artinya ada yang nganggep saya temen di dunia perbloggeran ini *halah*.




Ini dia award-nya: THE LIEBSTER AWARD. Menurut pemahaman saya, The Liebster Award ini tu semacam ‘tradisi’ di dunia blogger sebagai ajang saling mengenal satu sama lain. Karna di sini kita diharuskan jawab beberapa pertanyaan plus ‘membuka’ beberapa hal tentang diri kita.

Nah, karna Award ini juga dianggap sebagai ajang silaturahim, biar gak putus maka kita diharapkan meneruskannya. Aturan mainnya :

1. Post tentang award ini di blog masing-masing dengan gaya bahasa kalian sendiri
2. Kasih ucapan terima kasih sama yang kasih award ini dan backlink juga ke blognya ya
3. Share 11 hal tentang diri kalian, juga jawab 11 hal pertanyaan dari pemberi award
4. Pilih 11 teman blogger kalian, dan beri mereka 11 pertanyaan juga.

Nahh, 11 hal tentang diri saya yang mau saya buka di sini adalah:

1.    saya tuh orangnya nggak pedean alias minderan
2.    lebih suka baca novel daripada buku non-fiksi
3.    sering dikira orang kalem/pendiem, padahal aslinya cerewet abiisss :D
4.    deket banget sama dua kakak kandung
5.    sayang banget banget banget sama ponakan
6.    judes/jutek kalo perasaan lagi nggak enak
7.    nggak enakan sama orang
8.    paling nggak suka denger musik gedumbrangan *apasih* :D
9.    kalo pagi punya kebiasaan yang hampir nggak pernah ditinggal: minum kopi/susu/the panas
10.    pengen nikah sebelum umur 25 tahun
11.    bertekad kasih ASI eksklusif ke semua anak-anak saya kelak


oke, selanjutnya mau jawab 11 pertanyaan dari Kak Rani dulu. Cekidot ;)

1. Sejak kapan anda nge-blog ? sejak 2011 sih. Cuma kalo dulu memperlakukan blog bener-bener kayak buku diary. Nulis, trus di baca sendiri. Nggak pernah kepikiran kalo dunia blogger tu segegapgempita ini. hihi

2. Apa manfaat dari nge-blog menurut anda ? manfaat utama buat saya sih penyaluran galau yang positif. Nggak bisa jelasin di mana positifnya, pokoknya positif! haha

3. Pernah mengalami hal bahagia atau sedih saat nge-blog ? hal bahagia yang aku dapet dari ngeblog tuh kalo pas ikut giveaway dan ternyata menang :D. emm, selain itu waktu dapet komen dari salah satu blogger idola saya di salah satu postingan (siapanya, rahasia. Hehe)

4. Suka koleksi benda atau tidak ? Kalau iya apakah itu ? enggak. Sok-sokan berniat mengoleksi sesuatu sih sering, tapi pasti cepet bosen.

5. Bagaimana suasana kota anda sekarang ? Merasa nyaman tinggal disitu atau tidak ? tentram, damai. Tapi nggak tau kenapa beberapa kali punya niat pengen merantau meninggalkan kota ini. Doakan kesampaian :)

6. Media sosial yang paling sering kamu gunakan ? masih facebook, sih :D

7. Siapakah nama anda sesuai akta ? Rosalina Susanti (dan nggak tau kenapa saya nggak suka nama ‘susanti’ itu)

8. Apakah anda membuat peraturan untuk postingan blog setiap hari berapa postingan, setiap bulan berapa, dst ? nggak ada sih. Kalo lagi pengen nulis ya nulis, kalo enggak ya enggak.

9. Paling suka menulis tentang apa? Emm, kejadian-kejadian sederhana yang kemudian diambil hikmahnya. Saya selalu percaya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini menyimpan hikmah :)

10. Apa pendapat Anda tentang ibu rumah tangga ? profesi paling WOW, dan merupakan cita-cita besar saya ;)

11. Lebih milih pergi jalan-jalan bersama teman atau sendiri ? bersama teman dooong, saya paling mati gaya kalo jalan-jalan sendirian. Hehe

Nahh, lanjut lagu berikutnya *halah*. Sekarang giliran pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Delyanet. Ini dia 11 pertanyaannya:

1.    Adakah cita-cita Anda yang belum tercapai? Kalau ada, apa itu? Banyaaaakkk. Menikah dan punya anak *ini cita2 juga kan, yah?*, punya perpustakaan di rumah, dll. Lebih lengkapnya ada di sini.

2.    Daerah mana di Indonesia yang paling ingin Anda kunjungi? Aceh.


3. Orang seperti apa yang tidak Anda sukai? Yang sukanya ngurusin urusan orang :(, trus yang sok baik di depan tapi di belakang jelek-jelekin.

4. Bagaimana cara Anda menanggapi orang asing yang buang angin di dekat Anda? Nggak papa sih, paling pengen ketawa aja. hehe

5. Cerita lucu apa yang Anda alami baru-baru ini? Apa yaaa, aduh blank :(… otak lagi lumayan semrawut sih.

6. Adakah makanan/mainan favorit Anda saat kecil, yang tidak pernah Anda temukan lagi saat ini? Apa saja? Adaaaa. Es yang dijual embah2 dengan keliling naek sepeda. Tapi lupa nama esnya apa, yang jelas udah nggak pernah menjumapi sekarang.

7. Apakah Anda suka minum air putih? Suka, tapi kuantitas meminumnyanya masih cenderung kurang banyak.

8. Apa warna favorit Anda untuk sepatu? Coklat, abu-abu (mau di kasih ya, Mbak? Hehe)

9. Apa kejadian besar dalam hidup Anda? Kalo sampe saat ini sih masih Wisuda.

10. Jika Anda mendapat paket perjalanan gratis ke luar negeri untuk 3 orang (termasuk Anda), siapa yang Anda ajak? Bapak dan Ibu dooong… dan semoga tujuannya adalah Makkah Madinah. Aamiin.

11. Apa kesan Anda tentang hutan? Emm… hutan tuh jantungnya bumi. Kalo hutan rusak, buminya ikut rusak. Kira-kira begitulah. Hehe, saya payah, rasa cinta sama alamnya kurang banget.

Next, 11 orang yang saya kasih award berantai ini berikutnya adalaaaahhh:
1. Jiah
2. Mbak Esti
3. Kak Fenita
4. Mbak Shabrina Ws
5. Mbak Ninda
6. Mbak Idah
7. Mba Susi
8. Kak Annur
9. Kak Hilda
10. Cite
11. Kak Uni

11 Pertanyaan yang aku ajuin buat mereka adalah:

1.    Apa alasan utama kamu ngeblog?
2.    Apa hobi utama kamu?
3.    Buku apa yang sampe sekarang kamu anggep paling berkesan buat kamu setelah membacanya?
4.    Siapa penuls favoritmu?
5.    Apa kamu punya sahabat yang kamu dapet dari ngeblog?
6.    Tulisan jenis apa sih yang paling suka kamu baca waktu blogwalking?
7.    Apa mimpi terbesar yang paling pengen kamu raih?
8.    Paling sering nulis pada jam berapa?
9.    Apa blog favorit yang paling sering kamu kunjungi?
10.    Kalo kamu mengunjungi sebuah blog, apa kamu akan berharap sekali dia berkunjung balik ke blogmu?
11.    Apa 3 kata yang paling menggambarkan diri kamu?

Oke, sekian dulu postingan kali ini.See you next post, yaaa... :) :D

Tentang Nasehat Sabar

on
Rabu, 04 Juni 2014
Kita sama-sama tau bahwa saling menasehati itu sangat dianjurkan dalam ajaran agama kita (Islam), apalagi saling menasehati dalam kesabaran. Tapi apa menasehati dalam kesabaran itu harus selalu diungkapkan dengan kalimat, "sabar, yaaa..."?? Saya kira tidak.

Salah satu temen kuliah dulu, pernah cerita bahwa dia nggak suka denger orang bilang, "sabar, yaa..." waktu dia lagi sedih, sebel, dll. Waktu itu saya heran banget, kok bisa sih dinasehatin kayak gitu malah sebel??!!

Tapi lama-lama saya ngerti. Bahkan saya juga merasakan hal yang sama -- sebel dapet nasehat kayak gitu. Hihi. Gimana yaa... kalo lagi sedih, trus ada temen yang bilang, "sabar, yaa.." dengan mimik penuh simpati tuh rasanya malah semakin nyesek. Air mata yang tadinya ditahan kuat-kuat juga jadi sering ambrol pertahanannya. Emm, ya jelas bukan salah yang bilang gitu sih.

Tapi kalo saya renungin, dengan bercermin pada diri saya sendiri, seringnya saya bilang gitu tu 'hanya' gara-gara bingung mau kasih tanggepan gimana waktu tau ada temen yang lagi ngadepin masalah atau musibah. Iya, nggak? Jadi sering terdengar klise banget dan terkesan cuma basa-basi. Kalo kata temen yang saya ceritain di awal tadi, dia sering ngomel dalem hati, "Sabar... sabar... ngomong sih gampang!". Hihi.

Jadi gimana song? Kalo menururt saya sih, kalo kita tau ada temen yang lagi sedih/ada masalah/dapet musibah trus curhat sama kita, tunjukin aja kalo kita bersedia menjadi telinga terbaik buat dia. Tunjukin juga kalo kita sangat menegrti perasaan dia, bahwa menghadapi itu memang berat, tapi kita yakin dia mampu melewatinya dengan baik. Itu lebih dari cukup. Gimana caranya nunjukin itu? Aduh, saya nggak bisa jelasin, tapi pasti bisa deh, asal kita tulus.

Seperti kemarin, waktu saya cerita ke temen tentang satu hal yang mungkin kalo orang lain tau pasti bakal bilang, "sabar, yaaa.." ke saya, tapi temen saya yang satu ini enggak. Dia cuma bilang satu kalimat singkat, "Tetep khusnudzon sama takdir, ya". Saya kok ngrasanya kalimat itu jauh lebih bikin hati saya lapang, dan nggak terdengar cuma basa-basi :)

Tapi diatas segalanya, yang namanya cerita sama manusia yang punya berbagai kekurangan, pasti sekali-duakali atau bahkan sering sekali, kita bakal ngrasa kecewa -- karna kita ngrasa tanggapan dia nggak sesuai yang kita harap. So, diatas segalanya pula, sejatinya sebaik-baik tempat menumpahkan segala cerita ya memang cuma Allah, yang nggak akan bikin kita kecewa. Sayangnya, kebanyakan manusia sering lupa, dan lebih memilih untuk cerita ke sesama manusia. Termasuk saya :((((

Tanpa Ibu

on
Selasa, 03 Juni 2014
Jadi ceritanya hari minggu kemarin Ibu diculik kakak saya buat dibawa ke Purworejo -- momong Danish. Soalnya si Danish belum dapet 'Mbak' baru, jadi yang nemenin dia selama Ayah-Ibunya kerja ya Mbah-Mbahnya (gantian gitu).

Begitu Ibu masuk mobil Kakak, dan mobil bergerak pergi meninggalkan halaman rumah, seketika seperti ada yang hilang. Hampa. Lebay, ya? Tapi serius. Jangankan saya, Mak Ami (Mbah saya) yang sehari-hari sering debat nggak penting sama Ibu aja langsung bilang, "Aku kok kowong-kowong ditinggal ibumu..." (Itu basa londo, artinya, intinya: ngrasa hampa ditinggal Ibu, hihi).

Daaannn, Selamat datang hari-hari tanpa Ibu yang bakal jadi tantangan tersendiri buat saya. Ini akan jadi 'training' yang sangat efektif buat saya untuk belajar jadi wanita yang bener-bener mandiri -- jadi wanita yang bisa ngurus rumah. Selama ini saya sering berkoar-koar mau belajar jadi wanita kayak gitu, biar saat waktunya nanti tiba saya sudah siap menjadi Ibu Rumah Tangga yang cakap -- nggak pake' gagap lagi. Tapi nyatanya? Semua itu akan menguap dan jadi sekedar omong kosong selama masih ada Ibu di rumah. Nggak tau sayanya yang kelewat pemales, atau Ibu yang kelewat baik sama saya. Yang jelas, selama ada Ibu, tekad saya buat latihan untuk jadi 'benar-benar mandiri' dijamin nggak bakal efektif.

Kalo Ibu di rumah, bangun tidur biasanya saya langsung ke kamar mandi, bikin kopi susu/susu, terus kadang nyapu. Kalo lagi nggak pengen nyapu paling bantuin Ibu ngiris bawang, atau kalo lagi males ya paling nglipetin baju-baju yang di cuci dan kering kemaren, sambil nonton tipi. Emm, kadang kalo lagi mood banget buat nulis malah dengan enteng bilang ke Ibu, "Bu, pagi ini aku mau nulis ya, jadi nggak bantu-bantu" -- dan Ibu pasti akan mengangguk manis. Hihi

Lalu gimana selama Ibu nggak ada ini? Bangun tidur saya langsung nge-cek kulkas, ada bahan apa yang bisa diolah, dan mau diolah jadi apa. Selain buat sarapan, saya juga harus masak buat bekal makan siang di kantor, plus sekalian buat menu makan siangnya Mak Ami. Jadi menunya sama? Yup! Dan bagi kami nggak masalah dibanding harus beli lauk dari warung gitu. Emm, kayaknya ini soal mainset. Sebenernya beli lauk mateng kan lebih praktis yaa, terlepas dari budget yang pastinya akan sedikit lebih tinggi. Iya, selain punya mainset irit, kita sekeluarga emang sama sekali nggak biasa beli lauk dari warung. Dan bisa dibilang, kalo jajan dan menunya menu rumahan, saya 'hampir' nggak pernah ngrasain nikmat atau puas. Jadi kalo jajan ya lebih suka yang menunya hampir nggak pernah dimasak Ibu di rumah (contoh: Pempek, bakso, steak *gaya!*, dll).

Meskipun selama ini saya lumayan suka masak, tapi lebih seringnya masak makanan-makanan geje (gajelas). Saya lebih suka ujicoba kue-kue selama ini dibanding lauk atau sayur buat sehari-hari. Bisa sih bisa, tapi apa-apa kalo belum biasa pasti gagap kan, yah? Tadi pagi saya mau masak bacem ceritanya, kan butuh kemiri, kan? Ehh, nyari-nyari kemiri nggak nemu. Mana bangunnya kesiangan pula (gegara lagi nggak sholat). Tapi ya mau nggak mau saya nyari ke warung terdekat... eeehhh, ternyata lagi kehabisa juga :(... Tapi untungnya mbaknya kasihan sama saya -- beliaunya tau saya lagi menderita ditinggal Ibu *lebay* -- jadi saya malah dikasih kemiri sama beliaunya. Hihi, Alhamdulillah.

Itu baru urusan masak, ya. Jangan ditanya sempet nyapu apa nggak. Sudah dua hari rumah saya belum disapu, Haha (Siapa tau ada yang mau bantuin, yes?! :D). Boro-boro nyapu, masak doang aja jadwal mandi plus berangkat kerja saya udah molor banget. Belum lagi soal ngurus cucian, tandon air yang kosong, dll. Oh ya, yang saya inget-inget banget, besok harus nyikat kamar mandi (dan ini kerjaan paling malesin -___-, Haha). Tapi alhamdulillahnya kemarin saya ditemenin kakak perempuan di rumah -- meskipun saya dan dia nggak beda jauh, 11-12 (Saya pikir memang Ibu kami yang 'kelewat baik), jadi kami bagi-bagi tugas.

Fiuuhh, overall saya jadi semakin ngerti betapa berharganya Ibu, betapa luas kasih sayang beliau ke kami, dan yang paling penting.... saya jadi ngerti kenapa Ibu sering ngeluh capek dan minta dipijitin kalo malem. *Luv yuu, Ibu, my everything, emmuaachh emmuaaach*

#SelfReminder6: Pembuktian

on
Senin, 02 Juni 2014
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. 
(TQS. Al-Ankabut: 2-3)

Baca ayat itu disaat kondisi sedang seperti sekarang tuh rasanya JLEB sekali. Betapa sering saya merasa sudah 'cukup' beriman? Betapa sering saya beretorika tentang keharusan untuk ridho atas apapun ketentuan Allah? Betapa sering saya -- entah sadar atau nggak -- sombong bilang saya selalu mampu khusnudzon sama takdir? Ahh.

Ya, saya bisa saja enteng bilang semua itu. Orang lain mungkin akan percaya, memuji, bilang salut, dll. Tapi gimana dengan Allah? Apa Allah juga akan percaya begitu saja? Tidak. Ternyata Allah butuh bukti. Allah nggak akan begitu saja membiarkan saya memproklamirkan diri bahwa 'Saya telah beriman', tanpa terlebih dahulu menguji saya.

Saya kemudian menghela nafas pela, berucap istighfar. Mungkin ini salah satu moment saya. moment untuk membuktikan semua retorika saa agar nggak lebih dari sekedar omong kosong. Dan, see... nyatanya saya masih nggak luput mengeluh, meski sekuat hati saya rem.

Jadi inget nasehat Ustadz Yusuf Mansur waktu beliau masih rutin ngisi acara tausiyah tiap pagi. Adakalanya kita justru butuh ujian, dan harus bersyukur dikasih ujian. Karna kalo nggak dikasih ujian seringnya kita lalai... dan nggak sadar langkah kita mendekat pada-Nya menjadi semakin melambat (atau malah berhenti?). Nasehat Cite juga tadi pagi, 'harus ttp khusnudzon sama takdir'.

Yup, Bismillah... ini moment saya. Moment buat buktiin bahwa saya sepenuhnya percaya bahwa janji Allah tidak pernah dusta, bahwa segala ketentuan-Nya adalah yang terbaik, dan bahwa saya ridho pada apapun yang diberikan-Nya buat saya :)

**Tetep pegang tangan saya, Rabb... melalui hamba-hamba terbaik-Mu yang ada di sekelilingku, Ku mohon :')**


Signature

Signature