Tampilkan postingan dengan label Self Reminder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Self Reminder. Tampilkan semua postingan

Urusan Perut

on
Senin, 04 Juni 2018

Sudah separuh lebih bulan Ramadhan. masih lancar kan puasanya? Saya bolong hari pertama nih. Nah mumpung lagi 'free', sini saya ceritain sesuatu 😁

Saya bekerja di sebuah lembaga yang membawahi bidang pendidikan dan kesehatan. Bidang pendidikannya terdiri dari TK sampai tingkat Perguruan Tinggi. Setiap tahun setelah libur lebaran, salah satu agenda rutin kami adalah mengadakan halal bihalal akbar yang mengundang seluruh entitas lembaga.

Namanya ngundang orang, pastilah kami menyediakan snack yang dibagikan di awal, dan nasi kotak yang diberikan saat acara berakhir. Sedihnya, adaaa aja yang buru-buru ingin meninggalkan tempat acara sebelum acara berakhir. Yah, namanya juga orang banyak. Mau dibikin sebagus apapun acaranya, tetep aja gak bakal bisa bikin semua orang bertahan sampai acara tuntas.

Tapi sebagai panitia, tentu saja kami berusaha mengatur siasat dong. Gimana caranya biar yang pergi sebelum acara selesai bisa seminimal mungkin. Nah, salah satunya dengan membuat kebijakan bahwa bagi siapapun yang meninggalkan tempat acara sebelum acara berakhir, maka tidak berhak mendapatkan nasi kotak.

Karna kalo satu-dua orang keluar tempat acara dan dapet nasi kotak, pasti seolah yang ditangkap sama undangan yang lain adalah memang sudah boleh keluar. Dan dijamin, gak sampe 10 menit pasti BRUULLLL keluar hampir separuh undangan.

Yang kemudian bikin saya menghela nafas adalah, meski kebijakan itu sudah selalu disosialisasikan lengkap beserta alasannya, masih adaaaa aja lho yang protes dan sewot. Fyi, kebetulan saya tiga tahun berturut-turut jadi seksi konsumsi, jadi ngadepin langsung soal ini.

Yang bikin lebih nyesek lagi, beberapa yang sewot adalah orang-orang dengan beberapa gelar pendidikan di depan dan belakang namanya. Kemapanan finansial jelas lah gak perlu dijelasin. Ketika yang seperti itu sewot dengan kalimat kurang elegan hanya karna nasi kotak, mmm gimana yaa... kutakut mendefinisikannya 😪

Pengalaman pertama jadi seksi konsumsi dulu, dan ngadepin yang ginian, saya shock banget jujur aja. Gak nyangka sama sekali bakal ketemu kejadian gitu. Saya pikir, ah nasi kotak doang. isinya juga apa sih -- cuma ayam goreng kok paling. Saya bilang 'cuma ayam goreng' bukan karna nganggap sepele ayam goreng ya. Bukan. Tapi saya pikir, ayam goreng pastilah makanan sehari-hari blio-blionya.

Makanya kaget (dan sedih) banget ketika ada yang sebegitu sewotnya ketika kami bilang kami gak bisa ngasih nasi kotak kalo acara belum selesai 😭

Tapi momen itu bikin saya merenung dan sadar. Bahwa ternyata urusan perut tuh gak pernah sesederhana itu. Mau menu sebiasa apapun,gak otomatis bikin orang merasa 'ah udahah, gitu doang, udah tiap hari makan'.

Semacam ada dorongan nafsu yang bikin gak rela kalo gak dapet. Padahal gak jarang begitu sampai rumah, nasi itu tergeletak begitu saja gak termakan. Bagian ini saya sendiri pun pernah melakukannya 😔

Pernah gak datang ke suatu acara yang menghidangkan berbagai macam menu? Sebagian dari kita, pasti ingin berusaha untuk mencicipi semuanya. Kalau ada satu menu saja yang terlanjur habis dan kita gak kebagian, dongkol banget, padahal perut udah kenyang. 

Melamun lebih jauh lagi, saya jadi inget berbagai macam pertikaian yang terjadi. Kalo dipikir-pikir, sebagain besar sebabnya gak jauh-jauh dari urusan perut.

Ambil satu contoh, soal pertikaian dunia maya antara pendukung capres A dan capres B saat itu. Sebabnya kalo dijabarkan sih panjang banget. Ada yang sangat ilmiah, ada pula yang sungguh relijiyes.

Tapi menurut saya, ujung-ujungnya urusan perut lagi. Orang-orang di atas sana, dukung kubu A atau kubu B salah satunya pasti dengan iming-iming posisi, yang akan berdampak pada besarnya pendapatan. Pendapatan buat apa sih kalo gak sebagian besarnya untuk ngurusin perut?

Atau kita level rakyat jelata ini. Dukung kubu A atau kubu B juga salah satunya yang bikin tergiur pasti janji-janji akan lebih sejahteranya kehidupan kan? Apalagi kalo bukan urusan perut diantaranya. Pun berbagai tindak kriminal yang terjadi. Maling, begal, dll. Urusan perut lah yang membuat mereka para pelaku menjadi kehilangan akal sehat. Demi bisa makan. Demi anak-istri kenyang 😭

Mungkin ini hikmah terbesar puasa ya. Terutama untuk kita-kita yang hampir gak pernah ngerasa kelaparan karna keadaan. Untuk kita-kita yang tiap harinya tanya 'mau makan apa hari ini?' saking banyaknya pilihan.

Supaya kita mendidik perut kita, biar lebih jinak. Biar gak makin buas jika dituruti terus-menerus apa maunya, tanpa pernah di-rem.

Semoga hikmah itu beneran bisa kita ambil. Bukan puasa sekedar menggugurkan kewajiban. Yang ujung-ujungnya hanya akan mengendalikan di siang hari, lalu menge-gas sekencang-kencangnya selepas magrib.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Selamat mendidik perut kita dari ketamakan 😇


Membeli Masalah Dengan Sedekah

on
Kamis, 15 Juni 2017

Bismillahirrahmanirrahim,
Apa yang saya ceritakan dalam tulisan ini, Insya Allah semata karna ingin berbagi hikmah.

Kita pasti sudah sering sekali mendengar tentang manfaat sedekah. Ratusan buku dan ribuan artikel mengulas tentang ini. Apalagi ada salah satu Ustadz yang sempat mengkhususkan diri untuk berdakwah soal sedekah ini. Siapa lagi kalau bukan Ustadz Yusuf Mansur.

Tapi... kita-kita ini, meskipun sudah tau ilmunya, sudah khatam teorinya, tetap saja suka maju-mundur kalau disuruh praktek. Atau jangan-jangan cuma saya yang kayak gini? =D

Iya, meski sudah tau bahwa salah satu manfaat sedekah adalah membantu kita keluar dari berbagai masalah tetap aja sedekahnya hitung-hitungan. Mau dapet jodoh, sedekah dua rebu rupiah. Beuh, sama dong dengan tarif toilet *eh*.

Meskipun yaaa... Allah pastilah gak hitung-hitungan seperti ini. Tapi cek deh Qur'an Surah Ali Imran ayat 92:

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui

Em, Anyway... saya yakin kebanyakan dari kita sudah khatam teorinya. Sekarang saya mau cerita tentang pengalaman pribadi saya. Sekali lagi, Insya Allah niat saya karna ingin berbagi hikmah.

Jadi, sekitar dua bulan lalu hidup saya penuh dengan kegalauan. Wkwkwk. Sudahlah babyblues masih bertubi-tubi menyerang, pikiran saya juga dibuat gak tenang oleh beberapa hal.

Salah satunya tentang gimana nanti Faza ketika saya sudah masuk kerja. Saya, mas suami, bahkan bapak-ibu mertua pun sama sekali gak ada bayangan dan referensi siapa yang akan kami percayai untuk menemani Faza nanti. Sedangkan kalau resign, sungguh saya belum siap :(

Saat sedang berbagi rasa dengan mas suami, beliau meminta saya tetap tenang dan yakin. Yakin bahwa Allah pasti akan menolong. Saya yang imannya masih cetek langsung ngeyel lah!

"Waktunya tinggal sebulan dan kita sama sekali belum ada bayangan mas, gimana aku bisa tenaaaaang??!!" *drama queen mode: ON*

Tapi lain waktu saat saya sedang agak waras, tiba-tiba saya ingat cerita salah satu teman blogger -- Mbak Esti Sulistyawan. Beliau pernah cerita, saat menjelang masuk kerja setelah cuti melahirkan, beiau juga galau sekali karna belum mendapat pengasuh untuk putri cantiknya. Karna Mbak Esti merasa sudah gak mampu mencari jalan keluar sendiri, akhirnya beliau meminta bantuan Allah dengan cara menyedekahkan beberapa bagian (saya lupa persisnya berapa bagian) gajinya. Dan qodarullah, gak lama setelahnya Mbak Esti mendapat mbak pengasuh untuk putrinya.

Nah, saya cerita itu sama mas suami. Tapi ya udah, cerita aja. Gak terus bilang, "Ayo mas, sedekah!" =D Padahal katanya yakin sama manfaat sedekah. Tapi yang di otak isinya ngitung terus. Kalo disedekahin segini, nanti tinggal segini, dan seterusnya -___-

Beberapa hari kemudian, dapet konfirmasi bonus tahunan dari kantor cair, YEAY! Saya sama mas suami kan sekantor, jadi dapetnya dua ya. Segerrr. Haha.

Eh pas mas suami pulang ke Jepara (waktu cuti melahirkan kami LDR-an Jepara-Semarang), beliau bilang bahwa beliau akan menyedekahkan seluruh bonus tahunan bagiannya. Sembari berdoa agar kami diberi kemudahan dalam menemukan 'teman' yang baik untuk Faza kalau nanti saya sudah masuk kerja.

Gimana perasaan saya waktu itu?

Terenyuh. Masya Allah, suamikuuu.

Tapi di sisi lain tetap ada perasaan semacam: Hah, semua??? Aduh, harusnya sebagian aja, atau seperempat aja. Kan lumayan sisanya bisa buat ini itu -____-

Iya, saya gak muna, sempat ada perasaan seperti itu. Meski saya cepat-cepat berusaha memungkiri.

Selang semingguan (kalau gak salah), mas suami yang -- saat itu ada di Semarang -- telfon. Ia mengabarkan sesuatu yang membuat saya menyesal karna sempat menyayangkan keputusan beliau soal sedekahnya.

Mas suami cerita, ibu mertua saya baru saja ngobrol dengan tetangga depan rumah -- sebut saja Bu Heri. Bu Heri bercerita, bahwa cucunya yang saat ini ditemani oleh Mbak Hana ketika ibunya kerja, rencananya akan ditemani oleh Bu Heri sendiri mulai bulan depan. Jadi mulai bulan depan Mbak Hana sudah lepas kontrak dengan anaknya Bu Heri.

Allahu Akbar!

Saya merinding. Pasalnya, hampir gak ada bayangan skenario seperti ini dalam benak kami sebelumnya. Jujur, Mbak Hana adalah orang yang dari awal kami 'incar'. Karena beliau juga lah yang menemani keponakan pertama mas suami dari bayi hingga umur dua tahun. Jadi track record Insya Allah kami sudah paham betul. Orangnya sangat telaten dan lembut. Tapi apa daya ketika beliau sudah dikontrak oleh tetangga depan rumah kami saat saya masih hamil 7 bulan.

Siapa sangka Mbak Hana dilepaskan tepat ketika kami butuh. Subhanallah walhamdulillah :') Saya dan mas suami menangis seketika saat itu.

See? Padahal mas suami baru sekedar bertekad untuk sedekah. Belum benar-benar mengeluarkan sedekah. Tapi kemudahan kontan Allah berikan jalan keluarnya.

Tapi di atas semua itu, ini semata-mata pastilah karna rahmat dan pertolongan Allah untuk kami. Sama sekali bukan karna kebaikan kami.

Sekali lagi, cerita saya ini semata-mata karna ingin mengingatkan diri saya pribadi agar tak sungkan bersedekah, sembari berharap cerita ini membawa manfaat bagi orang lain yang membaca.

Mari membeli masalah dengan sedekah :)

#SelfReminder: Ibarat Air Dan Garam

on
Kamis, 26 November 2015
dr Tumblr

Masalah itu diibaratkan garam.
Hati kita ibarat air. Hati yang sempit ibarat air dalam gelas, sedangkan hati yang luas ibarat air di luasnya telaga.

Saat segenggam garam dimasukkan pada segelas air, tentu rasanya akan berubah menjadi asin tak terperi.
Tapi jika garam dengan jumlah yang sama dimasukkan ke dalam air di luasnya telaga, akankah mampu mempengaruhi rasanya? Sama sekali tidak.

Begitu juga tentang hati kita.
Saat segenggam masalah menimpa orang yang hatinya sempit, bisa jadi hal itu sudah sangat mampu membuatnya amat terpengaruh. Hidupnya berantakan. Reaksinya berlebihan.
Tapi saat masalah yang sama menimpa orang berhati luas, tak akan pernah masalah tersebut mempengaruhinya kecuali membuatnya semakin banyak mengingat Tuhannya.

Masalah kita dan orang-orang di sekitar kita mungkin sama.
Sikap kita atas masalah tersebutlah yang membuatnya jadi berbeda.


**Nasehat ini kalo gak salah saya baca dari FP-nya Teh Ninih (dengan perubahan kalimat)
Dan jadi sadar bahwa hati saya masih terlampau sempit dalam menghadapi banyak hal :((

#SelfReminder: Ukuran "Sepatu" Kita Beda

on
Rabu, 09 September 2015
"Menyenangkan orang, itu baik. Namun bila kamu menaruh kata ‘semua’ di antara dua kata itu, kamu harus hati-hati, besar kemungkinan akan terjadi dua hal padamu:
Satu, kamu sulit menjadi diri sendiri.
Dua, kamu sulit bahagia."
(Tia Setiawati)

Iya juga sih, ya. Ukuran sepatu masing-masing orang berbeda. Sepatu yang si A pakai, belum tentu nyaman untuk dipakai si B. Bahkan seringkali meski nomornya sama pun tetap terasa tidak pas saat memakai sepatu yang bukan punya kita sendiri. Kalau kita memaksa memakai sepatu orang lain, nggak akan ada manfaat selain ketidaknyamanan.

Begitu juga dengan banyak hal dalam hidup ini. Cara seseorang menghadapi sesuatu akan sangat mungkin berbeda dengan cara kita saat menghadapi hal yang sama. Kita nggak bisa memaksanya untuk memaksa dia memakai cara yang sama dengan yang kita pakai. Nggak akan! Kalau kita nekat memaksanya, nggak akan ada kebaikan selain sakit hati atau perseteruan -- nggak peduli sebaik apapun niatmu. Kalau kamu punya cara yang menurutmu baik untuk menuju ke suatu hal baik, bukan berarti cara orang lain salah hanya tujuannya nggak baik hanya karna dia nggak pakai cara yang sama dengan kamu.

Sayangnya, seringkali kita merasa berhak menjadi 'hakim' untuk oranglain, tapi berubah menjadi 'pengacara' paling hebat untuk diri sendiri. Merasa cara kita baik, lalu menutup mata sambil menuding cara orang lain salah. Saya rasa ini salah satu ujung pangkal dari banyak perseteruan di dunia. Tentang perseteruan ibu-ibu pro sufor dan pro ASI, tentang perseteruan antara working Mom dan Stay At Home Mom dan tentang hal-hal yang lebih kecil yang sering kita jumpai dalam keseharian.

#SelfReminder: Jangan Menilai Hanya Dari Penampilan Luar

on
Kamis, 13 Agustus 2015

Kemarin di angkot -- pas pulang kerja -- saya ketemu ibu-ibu. Ibu-ibunya dandan lumayan menor -- menurut saya. Nggak pake jilbab. Modis -- sekali lagi, untuk ukuran ibu-ibu. Pokoknya kalo cuma dilihat dari fisik, sudah sangat cukup bagi otak saya yang masih lumayan 'hobi' mikir negatif ini untuk ngasih nilai 'merah' ke si ibu tersebut.

Etapi beberapa menit kemudia saya tercenung. Saat si ibu naik ke angkot, beliau sedang asyik bertelpon -- entah siapa. Yang jelas dalam potongan percakapannya, si ibu bilang, "Jangan lupa bangunin dia sholat subuh. Tahajud juga. Iya, udah pasang alarm, tapi dia kadang cuma dimatiin... iya, jadi harus dibangunin..." -- kurang lebih seperti itu.

Masya Allah. Si ibu, yang tadinya mau saya kasih nilai 'merah', menampar saya seketika melalui percakapannya. Melalui percakapan tersebut terlihat betapa beliau amat memperhatikan sholat subuh dan tahajud. Sedangkan saya? Ya persis kayak yang diomongin si ibu -- pasang alarm tapi cuma dimatiin trus tidur lagi -____-

Jadi semakin yakin, menilai hanya dari tampilan luar sama sekali nggak adil. Meskipun saya jadi serta-merta meyakini bahwa memperbaiki penampilan (baca: berjilbab) itu gak penting, ya. Berjilbab -- bagaimanapun -- akan tetap wajib hukumnya bagi muslimah. Tapi tetap saja kita muslimah yang sudah pake jilbab nggak pernah jadi dibenarkan untuk menilai yang belum berjilbab 'lebih buruk' dari kita. Situ Oke?! :p *ngomong sama diri sendiri ini*

#Ramadhan5: Hikmah Dari Sepotong Cerita Serial 'Di Bawah Lindungan Abah'

on
Senin, 22 Juni 2015
"Seungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al Ahzab: 35)
“....Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” 
(Al Hujuraat: 13)

Semalem ada yang nonton serial 'Di Bawah Lindungan Abah' nggak? Saya untuk pertama kalinya nonton. Ternyata, ada Reza Rahardian yang selalu mempersonaahh itu, yah. #eh #apasih #abaikan

Saya termasuk jarang banget nonton TV, apalagi kalau di rumah. Paling nonton TV cuma buat pengantar tidur. Nah, semalam saya nyetrika buanyaakk *ditulis, biar keliatan rajin, hihi*, sambil nonton TV. Setelah pindah-pindah channel, ketemulah sama wajah gantengnya Bang Reza *halah* serial 'Di Bawah Lindungan Abah'. Nggak dari awal sih saya nontonnya, cuma sepotong. Cumaa, qodarullah passs banget dapet potongan yang syarat makna. *ehm

Buat yang semalem nggak nonton, saya ceritain secara singkat, ya. Jadi, Gaza (diperankan oleh Reza Rahardian) yang merupakan anak orang kaya raya tengah jatuh cinta pada seorang muslimah cantik nan anggun bernama Jasmine (diperankan oleh Shireen Sungkar). Nah, Jasmine ini kebetulan berasal dari keluarga yang 'beda kasta' sama keluarga Gaza. Bumi-langit deh pokoknya. Ayah Jasmine yang tunanetra merupakan seorang mubaligh di kampungnya. Em, ahya, adegan pertama yang saya lihat semalem adalah adegan ketika Gaza tertegun saat ia diam-diam mengintai rumah Jasmine. Saat itu, ia melihat ibunda Jasmine sedang menjual botol bekas dan koran bekas. Yah, kalo saya sih biasa aja, yaa... ada botol bekas yang bisa diuangkan buat tambah-tambah beli cabe sama bawang kan lumayan banget. Lha tapi kalo Gaza yang (ceritanya) udah kaya bawaan orok? Ya shock lah! Hahaha

Nah nah... sesampainya di rumah Gaza ditanya-tanya sama orangtuanya perihal cewek yang sedang ditaksirnya (Jasmine). Pertanyaan intinya, seperti apa latar belakang keluarga si wanita itu. Tadinya si Gaza (yang juga masih terlihat depresi setelah mengetahui latar belakang Jasmine) hanya mengatakan pada orangtuanya bahwa Jasmine tinggal di sebuah gang sempit, dan berasal dari keluarga sederhana. Orangtuanya masih kekeuh ngejar, minta penjelasan yang lebih detail. 'Sederhananya tu sesederhana apaaaa???', pekik mamanya geregetan. Haha. Lalu pertanyaan-pertanyaan spesifik mulai muncul satu persatu secara bergantian dari papa-mama Gaza.

'Itu rumah sendiri apa ngontrak?'

'Rumahnya ada garasinya?'

'Rumahnya ada parabolanya?'

de el el

Setelah pertanyaan-pertanyaan itu dijawab gaza apa-adanya, makin histerislah papa-mamanya. Ahahaha. Malamnya - menjelang tidur - mereka resah. Merana memikirkan kemungkinan harus mempunyai besan yang 'beda kasta' sama mereka.

Pada potongan cerita selanjutnya, jasmine sedang berbincang-bincang dengan abahnya. Abahnya bertanya perihal Gaza. Lalu Jasmine dengan nada sendu mengatakan bahwa ia minder karna latar belakang keluarga mereka dengan keluarga Gaza beda jauuuhh banget. Nah, pada potongan adegan inilah saya termehek-mehek. Berikut akan saya tulis percakapan antara Abah dan Jasmine. Emm, mungkin nggak bisa sama plek, tapi Insya Allah intinya sama dengan percakapan semalam.

Abah: Jasmine, bolehkah Abah bertanya? Jawablah dengan jujur

Jasmine: Boleh, Bah...

Abah: Bagaimana sholat lima waktumu selama ini?

Jasmine: Alhamdulillah selalu tepat waktu, Bah

Abah: Sudah berapa kali kamu khatam Al-Qur'an?

Jasmine: Emm, sekitar 10 kali, Bah

Abah: Bagaiamana puasa sunnahmu?

Jasmine: Insya Allah, tiada pekan yag Jasmine lewatkan tanpa puasa sunnah senin-kamis

Abah: Bagaimana hubunganmu dengan orangtua?

Jasmine: Kalau itu, kan Abah dan Umi yang lebih tau. Sekarang Jasmine tanya, apakah Abah dan Umi ridho pada bakti Jasmine selama ini?

Abah: Ya, Abah dan Umi menerima baktimu. Apakah keluarga ini pernah memberimu makanan yang tidak halal?

Jasmine: Setahu Jasmine Insya Allah tidak pernah, Bah...

Abah: Lalu apa yang membuatmu merasa minder?? Keluarga ini memang miskin, tapi Insya Allah keluarga ini menghasilkan wanita-wanita berkualitas baik. Percayalah, sampai akhir jaman, akan selalu ada laki-laki yang mencari wanita baik untuk dijadikan istri.

Duh, rasanyaaa... JLEB JLEB JLEB!!!

Jleb pertama... mendengar jawaban-jawaban Jasmine, membuat saya merasa tertampar sekali. Noohhh, wanita sholihah tuh kayak gituuu, bukan kayak giniii *tunjuk hidung sendiri*.

Jleb kedua, kadang secara nggak sadar kita masih sering dibuat minder sama hal-hal 'sepele' dan 'duniawi sekali', sedangkan untuk hal-hal yang lebih hakiki, kita sering luput memperhatikannya.

Emm, apa perbedaan mencolok dari keluarga Gaza dan jasmine yang tercermin dalam percakapan mereka? Kalau menurut saya, kelurga Gaza mungkin memang kaya raya. 'Terlihat' punya segalanya. Tapi mereka 'miskin' hati, hingga mudah dibuat resah dan gundah oleh hal-hal yang tidak hakiki. Terlihat dari apa yang mereka tanyakan. Garasi, parabola, dll???!!! Sedangkan keluarga Jasmine yang sederhana, justru menjelma 'kaya raya'. Karna mereka punya Allah. Mereka nggak merasa perlu mengkhawatirkan apapun, selama mereka selalu menjalankan apa yang Tuhan mereka perintahkan.

Fiuhhh... harusnya kita belajar dan introspeksi, ya, dari mereka - keluarga Gaza maupun keluarga Jasmine.
Dari keluarga Gaza kita bisa bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih sering memikirkan hal-hal yang tidak hakiki dan menjadikannya pertimbangan? Apakah kalau saya sekaya mereka, saya juga akan memandang sebelah mata orang yang 'di bawah' kita?

Dari keluarga Jasmine kita bisa bertanya, sudah semaksimal apa kita berusaha menjadi hamba yang di ridhoi oleh Allah?

Di Bawah Lindungan Abah pada dasarnya bercerita tentang realita. Apa masih ada orang-orang seperti orangtua Gaza yang merasa pilihan anaknya amat menyedihkan 'hanya' karna latar belakang sosial yang tidak sepadan? Banyaaaakkkk!!!! Yup, meski sistem kasta 'sepertinya' hanya pernah kita baca dalam buku pelajaran SMA, sejatinya kita masih sering melihat prakteknya dalam keseharian.

Untuk itu, meski bukan fans Bapak Presiden Jokowi, saya angkat topi untuk beliau -- yang sama sekali tidak tampak keberatan berbesanan dengan rakyat jelata, saat tampuk kepemimpinan sedang ia genggam. Semoga Allah mencurahkan berkahnya bagi keluargamu, Pak :)

Akhir kata, yuk, sama-sama memperbaiki konsep diri. Nggak perlu minder sama hal-hal yang tidak hakiki, dan berhenti menilai sesuatu dari sudut pandang yang tidak hakiki pula. Kalau salah satu kalian pernah jadi 'Jasmine' yang akhirnya tidak diterima oleh keluarga 'Gaza', percayalah, mereka tidak cukup baik untuk mempunyai menantu sebaik kamu :) Yup, intinya satu: fokus menjadikan diri sendiri sebagai pribadi yang lebih Allah ridhoi. udah, itu aja.

**Sejatinya, ini nasehat untuk diri sendiri. Saya bagi di sini,
dengan selaksa harap semoga bermanfaat untuk yang sengaja/tidak sengaja membaca :)

#SelfReminder10: Separuhnya Sabar, Separuhnya Syukur

on
Kamis, 13 November 2014
Kemarin saya pake pict yang saya capture dari IG salah satu olshop. Ini dia pict-nya:


Selang beberapa menit, ada teman yang merespon display picture saya tersebut. Ini capturenya:





#Doeeeng!!
Nggak tau kenapa saya pengen nangis bacanya T.T
FYI, temen saya itu -- saya yakin -- ilmu agamanya jauh lebih mapan dibanding saya. Dia 6 tahun hidup di balik tembok pesantren. Dari latar belakang tersebut, bohong kalo saya nggak punya ekspektasi tentang gimana seharusnya kehidupan spiritual dia.

Lalu, kalimatnya itu? Ketika dia bilang dia memprotes isi DPku, yang jelas mengutip terjemahan Al-Qur'an -- yang sebagai muslim, harus kita yakini sepenuh jiwa sepenuh raga kebenarannya? Aahh...

Saya khusnudzon dia hanya sedang khilaf sesaat. Saya khusnudzon dia hanya sedang labil.

Tapi saya harus belajar tentang ini. Betapa kita manusia seriiiing sekali nggak sabar menanti Allah tunainya janji Allah, padahal Allah selalu sabar menunggu kita kembali kepada-Nya setelah berjalan 'keluar track'. Betapa kita seriiiiiing sekali terlalu cepat komplain sama apa yang belum Allah kasih, lalu melupakan ribuan anugerah Allah yang tak akan mampu kita menghitungnya. Dan... betapa kita seriiiing sekali 'sok tau' ngotot minta sesuatu yang belum pasti baik untuk kita -- sementara Allah yang Maha Mengetahui apa-apa yang kita nggak tau. Astaghfirullah...

Saya ingin kembali mengingatkan diri saya sendiri melalui tulisan ini. Butuh dan ingin itu beda. Kita sering sekali meminta apapun yang kita ingini, tapi Allah hanya memeberi apapun yang benar-benar kita butuhkan.

Iman itu separuhnya sabar, separuhnya lagi syukur. Bersabar atas apapun yang Allah gariskan bagi kita, lalu bersyukur atas apapun yang telah Allah karuniakan.

Jangan-jangan, kita terlalu sering meratapi apap yang belum tergenggam, hingga lupa mensyukuri apa yang telah ada di hadapan.

Yaa muqollibal quluub, tsabits qalbi 'ala dinik :')

#SelfReminder9: Di Mana Aku Berada?

on
Jumat, 12 September 2014
Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan

Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan

Ada orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman

Ada yang berlisan fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu' namun sibuk dalam kesendirian

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombong iblis, ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan, ada juga penzina yang tampil sebagai figur panutan

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham ilmu tapi tidak mengamalkannya

Ada yang pintar tapi tukang membodohi umat, ada yang bodoh malah sok pintar

Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tidak bertuhan

Lalu di antara semua itu, di mana aku berada ?

(Sayyidina Ali Bin Abi Thalib)

**Setelah nyasar di beberapa bacaan di siang menjelang sore hari ini, tiba-tiba jadi inget sama renungan dari Sayyidina Ali di atas.

#SelfReminder8: IKHLAS ITU...

on
Kamis, 11 September 2014
IKHLAS ITU ...
 
menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah,
Karenanya pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita

Ikhlas itu…. Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu… Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu… Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu… Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu… Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.

Ikhlas itu… ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu.. ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu… ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.

Ikhlas itu… ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.

Ikhlas itu… ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.

Ikhlas itu… ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

Ikhlas itu…. Gampang diucapkan, sulit diterapkan….. namun tidak mustahil diusahakan….

Ikhlas itu… Seperti surat Al Ikhlas.. Tak ada kata ikhlas di dalamnya…

**Re-share dr Tumblr 

#SelfReminder7: Bagai Memakan Bangkai

on
Rabu, 25 Juni 2014
Rasulullah bilang, barangsiapa yang beriman pada hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam. Peribahasa bilang, diam adalah emas, meski bicara seringkali menjelma mutiara. Tapi toh kenyataannya belum banyak yang mampu memutiarakan kata-katanya.

Konon, surga dikelilingin oleh banyak hal yang tidak disenangi nafsu, dan sebaliknya... neraka dikelilingi oleh banyak hal yang disenangi nafsu. Begitu juga soal bicara. Lihatlah betapa membicarakan orang lain menjelma menjadi begitu mengasyikkannya?! Tidak peduli meski perumpamannya amat menjijikkan: bagai memakan bangkai sodara sendiri.

Ah, nafsu, betapa berat menundukkannya. Sudahlah memang kadang sekali-duakali memulai, ada di lingkungan yang suka memancing pula -____-. Benarlah jika kita berdiri dibawah agama teman kita, bahkan dikatakan bahwa salah satu cara paling efektif mengenali seseorang adalah dengan melihat seperti apa orang-orang di sekitarnya. Tau itu dosa, tau sekali. Tapi lalu setan membisiki, nanti dibilang sok suci kalo kamu menghentikan, nanti disebelin sama temenmu kalo kamu mengacuhkan, nanti bla bla bla.

Lihatlah, betapa tipisnya iman kala iming-iming surga bahkan tak cukup mampu untuk melawan semua bisikan itu. Ya, lalu saya tau... menghindari dosa itu soal komitmen dan keberanian. Komitmen melawan nafsu diri kita sendiri, dan keberanian untuk menghadapi segala konsekuensi yang terlihat kurang menyenangkan di mata awam kita sebagai manusia.


Bicara soal ini, maluuuu sekali rasanya tiap menekuri ulang video ini:

#SelfReminder6: Pembuktian

on
Senin, 02 Juni 2014
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. 
(TQS. Al-Ankabut: 2-3)

Baca ayat itu disaat kondisi sedang seperti sekarang tuh rasanya JLEB sekali. Betapa sering saya merasa sudah 'cukup' beriman? Betapa sering saya beretorika tentang keharusan untuk ridho atas apapun ketentuan Allah? Betapa sering saya -- entah sadar atau nggak -- sombong bilang saya selalu mampu khusnudzon sama takdir? Ahh.

Ya, saya bisa saja enteng bilang semua itu. Orang lain mungkin akan percaya, memuji, bilang salut, dll. Tapi gimana dengan Allah? Apa Allah juga akan percaya begitu saja? Tidak. Ternyata Allah butuh bukti. Allah nggak akan begitu saja membiarkan saya memproklamirkan diri bahwa 'Saya telah beriman', tanpa terlebih dahulu menguji saya.

Saya kemudian menghela nafas pela, berucap istighfar. Mungkin ini salah satu moment saya. moment untuk membuktikan semua retorika saa agar nggak lebih dari sekedar omong kosong. Dan, see... nyatanya saya masih nggak luput mengeluh, meski sekuat hati saya rem.

Jadi inget nasehat Ustadz Yusuf Mansur waktu beliau masih rutin ngisi acara tausiyah tiap pagi. Adakalanya kita justru butuh ujian, dan harus bersyukur dikasih ujian. Karna kalo nggak dikasih ujian seringnya kita lalai... dan nggak sadar langkah kita mendekat pada-Nya menjadi semakin melambat (atau malah berhenti?). Nasehat Cite juga tadi pagi, 'harus ttp khusnudzon sama takdir'.

Yup, Bismillah... ini moment saya. Moment buat buktiin bahwa saya sepenuhnya percaya bahwa janji Allah tidak pernah dusta, bahwa segala ketentuan-Nya adalah yang terbaik, dan bahwa saya ridho pada apapun yang diberikan-Nya buat saya :)

**Tetep pegang tangan saya, Rabb... melalui hamba-hamba terbaik-Mu yang ada di sekelilingku, Ku mohon :')**


#SelfReminder5: Maha Adil

on
Jumat, 25 April 2014
Beberapa hari yang lalu sempat terbersit rasa iri di hati saya pada seorang teman. Kenapa? Karna saya merasa jalan rizki dia terbuka lebih lapang dibandingkan jalan rizki saya. Sempat pula terbersit ujub bahwa saya harusnya juga 'pantas' mendapatkan apa yang dia dapatkan.

Siang tadi saya kebetulan saya ngobrol dengan si teman saya itu. lalu ia bercerita tentang beberapa hal mengenai hidupnya. Dan, ahh... saya tertegun. Saya amat menyesal pernah mengotori hati saya dengan perasaan seperti tadi. Saya seperti ditampar keras, dan mata saya dibuat terbuka lebar.

Ya, saya sadar bahwa saya 'sempat' lupa bahwa Allah - Tuhan saya adalah Tuhan yang Maha Adil. Yang takaran rizkinya tak pernah sedikitpun salah. Teman saya yang sempat membuat bersitan iri itu muncul, tak pernah saya nyana ternyata punya tanggung jawab amat besar - entah berapa puluh kali lebih besar dari yang saya punya.

Lalu saya mencatat ini dalam benak saya: Saat saya iri atas sesuatu, harusnya saya bertanya akankah saya bersedia menukar seluruh hidup kita dengan hidup orang yang membuat saya iri tersebut??? Dan saya yakin jawabannya akan selalu tidak. Hidup saya terlalu indah untuk saya tukar dengan hidup siapapun - dengan segala kurang lebihnya.

Mengutip tulisan seorang teman, bahwa ketika kita mengira hidup kita 'tidak baik-baik saja' harusnya kita tau bahwa hidup orang lain di luar sana banyak sekali yang jauh 'lebih tidak baik-baik saja'.

Syukur. Itu kunci utamanya.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, Rosa?"

#SelfReminder4: Tidak Seharusnya Resah Ini Ada

on
Jumat, 04 April 2014
Ya, tidak seharusnya resah ini ada. Tidak seharusnya saya resah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu saya resahkan. Tidak seharusnya saya resah jika saya mengaku percaya, bahwa satu halaman dalam Lauhul Mahfudz sana telah menuliskannya dengan rapi tentang ini semua.

Bukankah Allah bilang apa yang baik menurutku belum tentu baik menurut-Nya? Bukankah Allah bilang yang memang untuk saya pasti akan jadi milik saya? Ya, sungguh... tak seharusnya saya resah dengan apa-apa yang tak seharusnya saya resahkan.

Allah... jaga hatiku... genggam hatiku... hingga aku mampu memenangkan-Mu lebih dari sekedar perasaanku...

Gb. diambil dr google

#SelfReminder3: Tetaplah Anggun :D

on
Rabu, 12 Maret 2014
Kemarin pagi, saya sempet ngobrol-ngobrol sama atasan terkait pekerjaan - yang... huuufftt, lumayan ruwet akhir-akhir ini.

Di penghujung pembicaraan kami, tiba-tiba beliaunya bilang mau kasih sedikit kritik buat saya, dan beliau berharap saya nggak tersinggung. Sayanya udah ngira bakal dikritik soal kerjaan ato apa lah. Eeeeh, taunyaaa... hihi

"Kamu itu jangan mudah panik dan mengekspresikan kepanikanmu..."

Ahihihi... iyaa siiihhh, saya sadar banget kok kadang saya agak 'lebay' kalo lagi dikejar DL kerjaan gitu - panik nggak jelas. Kalo kata saya, saya jadi kehilangan keanggunan kalo lagi kayak gitu *Hah??? emangnya biasanya anggun ya???* :D

Intinya sih, saya sadar saya harus meningkatkan kualitas diri dan mental saat sedang ada dalam kondisi setidaknyaman apapun. Karna sejatinya saya tau, orang yang berkualitas akan tetap mampu tenang dan 'anggun' dalam situasi apapun :)

#SelfReminder2: Lalai Atau Kikir?

on
Jumat, 07 Februari 2014
 Mencoba merenungi musibah yang kembali menimpa seorang kerabat tadi pagi. Betapa Allah tak pernah kekurangan cara membuat harta lenyap seketika. Lalu, apa yang lantas membuat saya begitu berat mengeluarkan sedekah? Alasan pendapatan yang belum seberapa besar dan banyaknya kebutuhan harusnya tak begitu saja membuat saya jadi enteng mengurangi bahkan menahan hak orang lain yang di lewatkan pada tangan saya. Jadi, saya ini lalai, atao kikir?

Yang mengumpulkan harta dan berulang-ulang menghitung kekayaannya;  Ia menyangka bahawa hartanya itu dapat mengekalkannya (dalam dunia ini) (TQS. Al Humazah: 2-3)

"Jika seorang anak Adam telah dikaruniai emas satu lembah, niscaya dia akan menginginkan yang kedua. Apabila telah memiliki dua lembah emas, dia menginginkan yang ketiga. Dia tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan keinginannya, kecuali setelah mulutnya penuh disumpal tanah." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi)

"Kalau kamu enggan mengeluarkan sebagian hartamu, maka jangan salahkan jika sewaktu-waktu Allah yang akan mengambilnya langsung dengan cara-Nya" (Ust. Yusuf mansur)

#SelfReminder1: Tentang Perasaan Kita Dan Perasaan orang Lain

on
Rabu, 05 Februari 2014
^^ Ketika kamu berpikir bisa ngomong apa aja dan berekspresi semaumu saat kamu bercanda, maka kamu salah besar. Ketahuilah bahwa nggak semua orang punya mampu menangkap maksud humormu, dan nggak semua orang pula punya selera humor yang levelnya sama denganmu. Siapa tahu saat kamu tengah ingin bercanda, seseorang yang kamu bercandai justru tengah berada dalam kondisi hati yang compang-camping, hingga kalimat bercandamu justru akan sangat melukai.

^^ Ketika kamu tengah bersedih, janganlah merasa bahwa semua orang harus mengetahuinya pula, lalu memposisikan diri seolah menjadi orang paling menderita di dunia. Ketahuilah bahwa semua orang punya masalahnya masing-masing, tapi nggak semua orang mengumumkannya. Ada yang menyimpannya dan menghadapinya sendiri, dan berusaha terlihat selalu baik-baik saja di depanmu. Maka, akan jadi sangat memuakkan baginya jika masalahnya sendiri sebenarnya beribu kali lipat lebih berat dari masalah yang kamu gembar-gemborkan.

^^ Kamu tau kenapa kita diperintahkan untuk menjaga lisan dari menyakiti orang? Mungkin salah satunya karna Allah membuat makbul do'a orang yang tersakiti. Dan adakalanya orang yang tengah tersakiti tidak dapat mengendalikan diri dari mengucap doa kurang baik atas orang yang menyakitinya.

Ya, karna hidup bukan hanya tentang menjaga perasaan diri sendiri, tapi lebih dari itu. Ada hati-hati orang lain di sekitar kita yang wajib kita jaga pula perasaannya. Sekian.

Signature

Signature