Hidup yang Sedang Lelah-Lelahnya

on
Selasa, 22 September 2026

 Di tengah kemacetan arus lalu-lintas di jam pulang kerja, saya sudah berangan-angan ingin segera merebahkan punggung yang rasanya pegal luar biasa di atas kasur. Maklum, jarak rumah dan kantor tempat saya bekerja adalah 44 Km. Setiap hari saya melaluinya dengan berboncengan sepeda motor bersama suami, karena kami kebetulan satu kantor.

Sayangnya, jauh panggang dari api. Alih-alih bisa segera merebahkan punggung sesampainya di rumah, kami justru disambut ‘perang saudara’ antara anak pertama kami yang berusia 9 tahun dengan adiknya yang berusia 4 tahun.

Sandal dan sepatu sudah berserakan di segala penjuru rumah. Sobekan-sobekan kertas ada di sela-selanya. Disertai suara pekikan, teriakan dan isak tangis yang silih berganti.

Tanpa sempat menenangkan diri dari hiruk-pikuk jalan raya yang sungguh melelahkan, kami — saya dan suami, harus langsung berganti peran menjadi wasit bagi anak-anak kami. Di saat seperti ini, segala teori parenting yang pernah kami pelajari seringkali hanya menjadi bayang-bayang yang berterbangan dari ingatan dan terlupakan begitu saja.

Setelah anak-anak berhasil kami tenangkan, dan kami akhirnya bisa merebahkan badan, apakah artinya kami bisa sepenuhnya beristirahat? Sayangnya, tidak.

Raga boleh rebah, tapi isi kepala masih berlari-larian tak kunjung diam. Dari menghitung-hitung di kepala sisa budget belanja dengan sisa hari menuju gajian, mempertanyakan diri sudahkah benar dalam mendidik anak-anak, dan ratusan pertanyaan lain yang saling berkelindan.

Ketika pagi belum benar-benar terbit, kami sudah harus kembali berpacu dengan waktu. Sambil menahan sisa kantuk, karena tidur pun harus terbangun beberapa kali untuk menyusui. Suami memutar mesin cuci, saya mencuci perlengkapan memerah ASI sambil membuat sarapan. Suami menata ini dan itu, saya menyiapkan ini dan itu.

Jam 07.00, anak-anak berangkat sekolah, kami kembali terjun ke semrawutnya lalu lintas untuk menuju ke tempat kerja.

Jujur, lelah. Banget. Kadang saya bertanya-tanya, hidup tuh memang gini ya? Aktivitas rasanya muter-muter terus, hanya berisi pengulangan-pengulangan kegiatan yang sama setiap hari. Tapi seperti nggak pernah ngasih jeda.

Saat bertemu dengan teman-teman seumuran, ternyata hidup mereka juga gak beda jauh dengan yang saya jalani. Saya jadi berpikir, apakah usia-usia rentang 30 sampai 40 ini memang fase di mana hidup sedang lelah-lelahnya?

Usia yang hidupnya sedang diisi pertarungan dengan hidup, antara berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, menabung, menyekolahkan anak, juga membesarkan dan mendidiknya. Lengkap dengan berbagai standar media sosial yang kadang menghantui.

Saya kadang bertanya-tanya, sampai kapan ya fase hidup yang sangat melelahkan ini akan terlampaui? Apakah saat anak-anak sudah selesai sekolah? Apakah saat anak-anak sudah bekerja? Atau saat mereka sudah menikah?

Kalau iya, berarti usia kami sudah menginjak senja. Ya memang sudah saatnya istirahat gak sih?

Hmm, tapi ya udahlah. Katanya, fokus saja dengan apa-apa yang bisa disyukuri.

Alhamdulillah meskipun lelah, tapi punya kerjaan yang stabil. Alhamdulillah meski gak berkelebihan, tapi cukup. Alhamdulillah meski kadang capek banget ngadepin rewelnya anak-anak, tapi juga menjadi pelipur lara lihat lucunya mereka.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Kalau kata ustadz Adi Hidayat, dunia memang tempatnya capek. Tempatnya lelah. Istirahatnya nanti kalau sudah di surga. Makanya harus banget masuk surga, biar lelahnya gak lanjut lagi.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)

Signature

Signature