ads

FENOMENA MENGERIKAN: Semakin Maraknya Hamil di Luar Nikah

on
Jumat, 28 Februari 2014


Dalam jangka waktu beberapa tahun yang lalu, saat saya masih bari akan menginjak usia remaja, seingat saya ‘hamil di luar nikah’ menjadi hal yang amat mengerikan di mata masyarakat. Dan di benak sederhana saya sebagai anak-anak, hal seperti itu ‘hampir’ tidak akan saya temui di lingkungan sekitar saya – dan hanya akan dilakukan atau terjadi pada orang-orang ‘kota’ seperti di sinetron-sinetron itu. Ya, karna lingkungan tempat saya tumbuh adalah sebuah masyarakat desa yang masih amat menjunjung tinggi norma – agama, pergaulan, maupun kesopanan.

Tapi apa yang terjadi saat ini? Saya benar-benar bergidik ngeri. Semoga bukan karna saya merasa baik. Dimulai dari berubahnya gaya berpakaian remaja-remaja di sekitar saya yang… ah, dulu padahal saat saya SMP dan belum berjilbab, memakai rok biru selutut hampir selalu menjadi ‘perhatian’ para tetangga. Lalu pergaulan remaja dan laki-laki perempuan yang melonggar sedemikian rupa. Padahal seingat saya, dulu ketika saya masih SMP dan SMA, lalu da teman laki-laki yang tiba-tiba datang ke rumah, adalah hal yang membuat saya amat malu pada tetangga kanan-kiri, depan-belakang rumah. Lalu perubahan-perubahan tersebut bermetamorfosis menjadi semakin ‘hebat’ lalu meledak menjadi fenomena yang, sungguh… harusnya kita menangis sedih atas ini.

Beberapa waktu lalu, kepala saya seperti dihantam godam ketika mendapat sebuah cerita yang setting tempat, waktu dan tokohnya ada di dekat saya. Berawal dari cerita ibu, bahwa anak salah satu tetangga sakit, dan diopname di puskesmas dekat rumah kami. Sakit perut, katanya. Ba’da magrib waktu itu, Ibu mengajak saya menjenguk ke puskesmas, tapi kami harus pulang tanpa hasil karna ternyata si tetangga kami tersebut baru saja dirujuk ke Rumah Sakit Daerah. Sampai disini kami sama sekali tidak berpikiran jelek sedikitpun, justru turut khawatir – sakit apa kok sampai dirujuk ke Rumah Sakit. Keesokan harinya, Ibu menjenguk bersama rombongan Ibu-Ibu se-RT, tentu saja saya tidak ikut, karna harus kerja. Dan betapa tercengangnya saya… ah, rasanya tidak hanya tercengang – ketika mendapati cerita Ibu, bahwa ternyata eh ternyata si ‘gadis’ anak tetangga saya itu KEGUGURAN! Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… bagaimana bisa? Bukankah kabar rencana pernikahannya masih sekitar dua bulan lagi???!! Tapi begitulah kenyataannya!

Oke, tidak cuma sampai disitu, karna ternyata itu hanya satu dari sekian banyak kisah serupa. Teman saya di kantor pernah beberapa kali bercerita tentang tetangga-tetangganya yang masih berumur sangat belia, menikah ‘mendadak’ karna sudah ‘kecelakaan’. Bahkan katanya, kalau ada 10 orang menikah di daerahnya, maka 7 diantaranya sudah dalam keadaan hamil. Mbak saya seorang perias pengantin, dan tidak sekali-dua kali beliau merias penganti dengan perut yang telah terisi jabang bayi. Yang lebih mengenaskan adalah cerita mbakku tentang tanggapan orang-orang di sekitar si pengantin yang seperti menganggap wajar hal tersebut.

“Ya Allah, Mbak… pengantinnya sampun isi tah? (Ya Allah, Mbak… pengantinnya sudah hamil, ya?)” tanya Mbak saya kepada salah satu saudara si penganti seusai merias.

Yang ditanya mengangguk ringan, “Halah, Mbak… ngono kui lakyo wis biasa to jaman saiki! (Ah, Mbak… seperti itu kan sudah ‘biasa’ di jaman sekarang!)”

“Astaghfirullah… ampun dianggep biasa, Mbak!! (Astaghfirullah, jangan dianggap biasa, Mbak!” keluh Mbak saya, antara tercengang, kelu dan perih.

Ya, mungkin kita luput menyadari bahwa sebagian besar masyarakat kita sudah mulai memberikan ‘pemakluman’ yang terlalu longgar untuk maksiat. Harusnya kita mulai merenung dan bertanya, adakah sikap kita turut membuat beberapa kemaksiatan semakin menjamur? Dulu seingat saya, jika ada kejadian hamil di luar nikah, makan sanksi social yang ditimpakan pada orang tersebut dan keluarganya amat luar biasa. Bahkan orang tuanya pun akan ‘menghukum’ anaknya sedemikian rupa – beda dengan saat ini yang bahkan orang tuanya pun seperti ‘mengikhlaskan’ dan tetap bersuka-cita atas pernikahan ‘tak biasa’ putrinya. Sudah waktunya kita mulai bertanya pada diri masing-masing, adakah ketakutan atas merebaknya kemaksiatan telah berkurang jauh pada hati kita? Atau jangan-jangan kita bahkan secara tidak langsung sudah tak lagi menganggap hal tersebut sebagai sebuah maksiat? Naudzubillah…

Ketika saya menulis ini, sungguh ada ketakutan luar biasa pada diri saya. Sungguh saya tidak bermaksud mencibir, menghina atau merasa jauh lebih baik dari para pelaku fenomena ‘hamil di luar nikah’ tersebut. Sungguh saya tidak sedikitpun merasa jauh lebih pandai menjaga diri – karna hingga saat ini saya pun masih berada di titik yang amat rawan dimana kekokohan penjagaan diri akan terus diuji. Saya memutuskan untuk menulis ini semata untuk menyuarakan keprihatinan saya yang amat mendalam – terlebih, kalau boleh agak ‘muluk’ saya berharap, siapa tahu ada yang bersedia membaca lalu turut prihatin dan melakukan sesuatu.

Bukankah ketika melihat kemaksiatan kita diperintahkan untuk mencegahnya dengan tangan kita, atau jika tak mampu cukup dengan mulut kita, jika masih tak mampu maka cukup dengan pengingkaran dalam hati kita – dan inilah bentuk selemah-lemah iman. Maka, semoga tulisan ini mewakili pengingkaran hati saya, karna saat ini tak ada yang mampu saya lakukan kecuali menyuarakannya lewat blog saya ini.

Terakhir, ijinkan saya mengajak… yuk, sadari bahwa ZINA sama sekali bukan hal yang boleh dianggan BIASA. Yuk, berikan sanksi social pada para pelaku – bukan bermaksud merendahkan atau mencibir, tapi semata agar semoga bisa ‘sedikit’ membendung semakin mewabahnya kemaksiatan ini. Dan yang lebih penting, yuk menguatkan penjagaan diri, dengan disertai doa tak henti agar Allah bersedia membantu menjaga kita.

**Allahu Robb… pada siapa lagi kami memohono pertolongan jika bukan kepada-Mu, ditengah gempuran ancaman kemaksiatan yang semakin menyesakkan dada ini. Allahu Robb… jagalah diri ini, sanak-saudara, sahabat, teman, serta anak keturunanku kelak dari perbuatan hina seperti itu.

Pengen Kursus Memasak

on
Rabu, 26 Februari 2014
Kemarin ada temen lama Mbakku yang maen ke rumah - Mbak Nurul namanya. Menurut cerita si Mbakku, Mbak Nurul sekarang buka catering. Aku tanya, pinter masak daridulu ya, Mbak? Ternyata Mbak Nurul sempet kursus masak setelah nikah.

Nggak tau karna latah atau gimana, aku kok jadi pengen banget ya kursus masak. Selain memang cukup suka masak tapi merasa nggak punya 'bakat dari langit', aku juga punya feeling kursus masak akan banyak banget manfaatnya buat ke depan.

pengen bisa bikin kaya' dua gambar ini deh!

Yah, bilang aku idealis, naif ato apa-lah, kalo aku bilang bahwa bagaimanapun aku nggak berniat selamanya kerja di luar rumah dari pagi sampe sore, harus mengikhlaskan banyak moment serta mungkin harus rela melewatkan beberapa tahap tumbuh kembang anak-anakku kelak. Apa saya mikir terlalu jauh? Aku rasa tidak.

Tapi di sisi lain aku juga nggak pengen jadi ibu rumah tangga yang nggak 'berkarya'.Aku tau aku akan tetep butuh media aktualisasi diri. Kalo kata Mbakku, masa' iya kita mau jadi istri yang cuma 'menadah' bahkan untu sekedar beli lipstik? Nggak salah, sih... sama sekali nggak salah, karna toh itu memang kewajiban suami. Tapi apa iya kita nggak risih sendiri? Emm, pernah juga salah satu teman yang aku kenal lewat FB - dan sudah berumah tangga bilang, bahwa cara keluarga suami 'memandang' menantu yang 'berkarya' dan yang 'hanya' ibu rumah tangga tuh beda banget! Yah, aku akan tetap khusnudzon sih bahwa aku akan dapet mertua yang baik hati... tapi nggak ada salahnya juga kan kalo aku bertekad menjadi menantu yang nggak cuma menjadi 'penadah' kerja keras anak lelakinya :)

Btw, kenapa jadi melebar kemana-mana? Intinya, aku pengen kursus masak, dan salah satu motivasinya adalah untuk bekal masa depanku jika kelak akhirnya benar-benar memutuskan untuk keluar dari dunia kerja serba-monoton seperti ini. Bagaimanapun, seperti nasehat Ibu, bekal ketrampilan memang sangat penting dimiliki oleh seorang wanita (*jadi, kapan mau belajar menjahit? Nanti dulu!).

Emm, saya juga jadi kepikiran buat kembali mengasah ketrampilan saya bikin kerjainan tangan dari kain flanel ato kain perca. Fyi, aku udah pernah jualan bros dari flanel hasil karyaku sendiri loh selepas wisuda. Kenapa nggak dilanjutkan?!

Oke, sebagai penutup, aku suka banget sama sebuah kutipan *lupa siapa yang nulis* yang mengatakan bahwa, Ibu hebat bukanlah yang berpenghasilan tetap, tapi yang tetap berpenghasilan meskipun ada di rumah. 

Hebatnya Wanita

on
Senin, 24 Februari 2014
Sabtu pagi kemarin saya diminta Ibu untuk mengantarnya membeli beras ke desa sebelah. Tapi sayang kami haru kembali dengan tangan kosong, karna beras dengan kualitas yang diingankan Ibu nggak ada.

"Tinggal yang beras kawak (lama)" kata Ibu.

Kami sekeluarga memang lebih suka nasi yang cenderung lembek. Dan nasi yang lembek tidak akan bisa dihasilkan dari beras stock lama. Tapi kemarin 'nakal'ku kumat. Kalau sekarang Ibu belum dapet, berarti saya harus mengantar ulang beliau besoknya - dan saya (agak) malas. hehe

"Nggak papa-lah, Bu, sekali-sekali makan beras lama" rayuku, tentu saja penuh tendensi.

"Nggak ah! Buat apa? sudahlah nggak suka nasinya, lebih mahal pula!" sanggah ibuku.

Hah? Lebih mahal? Tak urung saya tergelitik mendengar pernyataan ibu tersebut, dan menjadikannya tema 'diskusi' dalm perjalanan pulang kami. Tentu saja saya heran saat mengetahui fakta bahwa beras lama harganya lebih mahal dari beras baru. Kok bisa? Secara secara rasa dan kualitas tentu saja beras baru lebih unggul. Rasanya nggak cuma pada beras hukum ini berlaku.

Ternyata eh ternyata, menurut Ibu hal itu terjadi karna tingkat permintaan beras lama di daerah kami jauh lebih tinggi dibanding beras baru. Kok bisa (lagi)?? Menurut Ibu lagi, karna beras lama saat dimasak akan menghasilkan nasi dengan volume lebih banyak (lebih mekar kalo bahasa Ibu saya) dibanding beras baru, dan hal itu menjadi alasan sebagian ibu-ibu yang memiliki anggota keluarga cukup banyak disekitar kami lebih memilih beras lama. Jadi singkatnya, rasa jadi nomor dua, yang utama adalah jumlah nasi yang jadi lebih banyak - dan otomatis akan lebih irit beras.

Wow! Ini memang hal sederhana, tapi entah mengapa saya kagum. Kagum pada ibu-ibu disekitar saya yang begitu lihainya mengatur keuangan keluarga agar berjalan se-efektif dan se-efisien mungkin. Dan satu lagi bukti bahwa wanita memiliki 'keistimewaan' luar biasa yang seringkali tidak disadari. Kira-kira apa laki-laki akan sampai berpikir sedetail itu? Saya rasa tidak :)

#KotakMimpi2: Seribu Menara

on
Jumat, 21 Februari 2014

Kalau ada tempat yang paling ingin kukunjungi di dunia ini, maka tak lain adalah kota seribu menara itu.

Menyungkurkan kening pada lantainya, berjalan mengelilingi titik kiblat umat muslim sedunia...

Mereka-reka adakah langkah kakiku bersinggungan dengan bekas langkah Baginda Rasul tercinta... Menapaktilasi perjalanan Nabi Ibrahim yang Mulia...

Mengunjungi tempat demi tempat yang jadi saksi atas ribuan potong kisah dalam Siroh... Menatap langit malam di Masjidil haram, menghirup udara fajar di Nabawi, menikmati letih antara shafa marwa, meresapi terik di jabal nur...

Allah... Semoga Engkau perkenankan, sebelum usia disambang renta

Bersama orang-orang tercinta, juga bersama 'dia' yang masih entah siapa. Aamiin...

Karna saya percaya, menulis mimpi adalah bentuk lain dari berdoa.

Ada Apa Dengan Rosa?

on
Kamis, 20 Februari 2014

Saya kok geli sendiri yah baca judulnya. Heuheu...
Tapi meskipun bikin geli, judul itu emang cocok banget kayaknya sama cerita yang mau saya tumpahkan disini.

Emm, dua mingguan terakhir ini saya ngrasa lagi nggak 100%, nggak tau deh kenapa. Kayak nggrambyang gitu... Duh, gimana ya jabarinnya? Ah, pokoknya gitu deh.

Dan dampaknya tu nyata banget. Tiap ditanya, suka nggak ngeh - nggak nyambung pula jawabannya. Diajak ngobrol juga gitu, lemot abis. Yang paling bahaya sih, kalo naek motor juga jadi sering nglamun >.<

Dua harinan lalu, salah satu temen kayaknya mulai gemes sama kelemotan saya. Trus tiba-tiba dia nyletuk tanya, "kamu tuh lagi jatuh cinta apa patah hati, sih? Soalnya dampaknya mirip!"

Eh?

Saya speechless, cuma tersenyum dodol akhirnya. Haha

Tapi saya jadi mikir. Iya ya, saya ini kenapa sebenernya? Jatuh cinta ato patah hati? Duh, sayangnya saya nggak kenal baik sama dua hal itu, jadi ya nggak bisa mengenalinya dengan akurat.

Emm, tunggu.. Saya pernah baca tulisan *lupa siapa* yang bunyinya kira-kira gini, "Aku merasa kehilangan sesuatu, tanpa tau apa yang sudah aku temukan"

Ahiya! Kayak gitu deh kayaknya rasanya. Kosong, tanpa arah, ngambang.

Emm, apa jangan-jangan saya kayak gini gara-gara sahabat baik saya bentar lagi nikah, dan saya diliputi kekhawatiran bahwa dia pasti akan berubah dan jadi nggak asyik lagi? Omaigad, semoga saya nggak se-kekanakkanakan itu! Saya sepenuhnya berbahagia untuknya. Kalo sekarang waktu yang tepat untuk dia, berarti sebentar lagi akan tiba waktu yang tepat untuk saya. Insya Allah.

Jadi, Kesimpulan yang paling aman dan logis adalah: saya lagi ada pada puncak titik jenuh. Oke, baiklah.. Semoga tidak lama.

**duhai hati dan perasaanku, lekas membaiklah :)

Ponakan Paling Pengertian

on
Rabu, 19 Februari 2014
Kayaknya nggak ada ponakan sepengertian ponakan cewek saya - si Andien deh. haha. Ya, beberapa hari lalu saya ngikik denger cerita soal betapa pengertiannya dia atas keadaan tantenya ini dari mamanya. *Peyuukkk Kak Andien :*

Jadi, beberapa minggu lalu waktu seperti biasa Andien melewati weekend-nya di rumahku. Dan seperti biasa pula dia pasti minta tantenya ini nemenin dia maen - baca cerita-lah, nge-gambar-lah, ato yang paling sering sih nge-game. Nah, waktu itu dia minta ditemenin maen game di nebi saya. Duh, saya males banget waktu itu. Selain ngantuk, saya juga gemes sama Andien yang pengen nge-game, tapi ujung-ujungnya saya yang disuruh menjalankan - gegara dia nggak siap dapet score jelek. *Tepokjidat*

Kebetulannya, nebi saya yang memang sudah cukup renta dan tak lagi fit performanya itu error. Tanpa ba-bi-bu matilah dia. Waktu di charge dan berusaha diidupin lagi sama si Andien, eh malah muncul tulisan-tulisan gajelas gitu. Aha, dapetlah alasan buat mengakhiri hasrat nge-game dia.

"Tuh kan, Dek... lepinya Tante tuh udah sering error, udah mau rusak!" ucapku melas.

"Nggak diperbaiki, Te?" tanyanya #sokdewasa.

"Nggak punya uang oq, Dek... pinjemin laptopnya Ayahmu, tah..."

Singkat cerita si Andien kayaknya jadi langsung berempati gitu, dan berlapang dada untuk nggak jadi nge-game.

Beberapa hari cerita itu berlalu, saya nggak nyangka hal itu terekam dengan baik di benak Andien. Ketika pada suatu sore mamanya si Andien cerita tentang obrolan dia dan ayahnya.

Andien: "Yah, laptopnya Tante rusak oq... trus meh pinjem laptopnya Ayah..." (*dengan intonasi #Sokdewasa)

Ayah Andien: "Lhoh, kok pinjem??!! Suruh beli doooong!!!" (*Nada meledek khas Ayah Andien)

Andien: "Jangan, Yah... jangan..." (*Ekspresi penuh empati)

Ayah Andien: "Lhoh, lha kenapa??? Tantemu nggak punya uang, iyaaa???"

*Andien terdiam beberapa saat

Ayah Andien: "Hah, Dek? Kenapa? Tante nggak punya uang??"

Andien: *Mengangguk-angguk samar sembari matanya melirik ayahnya -masih dengan wajah penuh empati.

Ahahahaha.... sumpah, saya ngakak waktu diceritain mamahnya soal ini. Nggak nyangka banget ponakan saya ternyata sudah gedhe, dan sudah mampu memahami kondisi orang-orang disekitarnya - termasuk tante tercintanya ini. *Peyuuuuuk Andien lagi :*

#KotakMimpi1: Nak...

on
Senin, 17 Februari 2014
gb. diambil dr google

Nak, kelak... saat kamu telah menjelma nyata dalam hari-hariku, semoga aku telah mampu memastikan
bahwa tak ada yang keluar dari mulut ini kecuali hanya kalimat-kalimat yang baik saja.

Nak, kelak... semoga kamu mampu memahami bahwa ketika aku tak akan selalu menuruti apa yang kamu mau, itu semata demi kebaikanmu.

Nak, ketika aku menulis ini, semoga tak berarti aku sedang memanjangkan angan - hal yang Allah tak suka. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu pengingat saat kelak aku lalai atas kewajibanku atasmu.

Entahlah, Nak... aku tak tahu disebut apa perasaan ini, ketika hatiku tiba-tiba merasakan rindu yang teramat, melihat bibir mungilmu memanggilku "Bunda", meski wajahmu masih abu-abu, pun tentang siapa bapakmu.

Ah, aku tahu tak ada gunanya menghabiskan waktu tunggu ini dengan keluhan-keluhan. Belajar menjadi Ibu terbaik untukmu dari sekarang sekaligus memantaskan diri untuk itu, semoga menjadi salah satu hal yang membuat Allah berkenan segera membuatmu nyata untukku.

14 February?? Nothing Special!

on
Jumat, 14 Februari 2014
Hari ini nggak tau kenapa banyak sebagian teman cewek di kantor pada pake' baju bernuansa pink atau merah. Saya sih ngiranya ya karna kebetulan aja. Haha, naif banget yaa! Iya, jadi ternyata tuh pada ngepas-ngepasin gitu... konon karna ini tanggal 14 Februari.

gb. diambil dari sini

14 Februari?? So, apa yang spesial coba?? Valentine day, itu??? Hmm...

Mungkin ini juga jadi kelemahan kita kali yaa... sering terperdaya tradisi, yang asal usulnya sama sekali nggak kita tau. Atau kalopun akhirnya kita tau, kadang sering mengabaikan - berpikir, toh banyak yang melakukan. Kadang jadi muncul anggapan bahwa yang benar ya yang lebih banyak pengikutnya, sementara yang nggak sependapat harus terbungkam mulutnya dengan kalimat-kalimat semacam, "Yaelah, nggak usah gitu-gitu amat lah, ekstrim!"

Yah, alhamdulillah hati saya diberi kesadaran tentang ini. Masih banyak sekali sih tradisi kurang tepat, yang mungkin masih saya ikuti. Semoga diberi kemampuan untuk terus mencari ilmu dan mengamalkan.

Intinya, sesuatu yang salah nggak lantas bisa jadi benar saat jumlah follower-nya jauh lebih banyak. Begitupun sebaliknya.

gb. diambil dari sini

Abstrak

on
Kamis, 13 Februari 2014
Sejak kejadian 'lumayan' tragis yang menimpa salah satu kerabat beberapa waktu lalu, jam tidur saya jadi amburadul. Beberapa malem kemaren nggak pernah bisa tidur sesuai 'jadwal' saya, alhasil bangunnya juga setelah denger adzan.

Jadwal nulis ba'da magrib ato ba'da Isya' juga terlibas begitu saja. Jadi ngrasa nggak punya waktu buat diri sendiri beberapa hari ini. Kosong - tak menghasilkan apa-apa.

Oke, nggak boleh ngeluh! Semoga esok segala sesuatunya membaik, bahkan jadi jauh lebih baik :)

*Alhamdulillah mulai kemaren malam jadwal tidur sudah mulai membaik, dan itu kabar baik.

Menikmati Masa Kriuk Sebagai Single

on
Rabu, 12 Februari 2014


I’m single, I’m very happy! Begitulah penggalan lagu milik Oppi Andaresta yang sempat jadi kesukaan saya. “Ah, itu sih kamu menghibur diri sendiri aja!” cibir seorang teman saat saya iseng menyanyikan lagu tersebut. So? Emang kenapa kalo saya memang sedang menghibur diri? Saya rasa jauh lebih baik dibanding kalo saya menggalau nggak jelas dan berusaha memamerkannya pada dunia lewat berbagai media social – seperti yang banyak dilakukan orang di luar sana.

Single. Ya, saya bertekad menjadikan status itu sebagai pilihan terbaik sebelum akhirnya ada seorang lelaki yang dengan tegas menjawab kalimat ijab yang diucapkan oleh Bapak saya, dengan kalimat qobulnya. Apa nggak pernah terbersit di benak saya pengen pacaran seperti kebanyakan orang? Pernah lah! Tapi Allah sepertinya ‘sengaja’ menjaga saya dari hal tersebut. Ya, kalo secara status, saya memang nggak pernah pacaran. Sejak dulu sampai sekarang, ada beberapa orang yang ‘mengaku’ jatuh cinta pada saya, dan ‘kebetulan’ diantara beberapa orang tersebut nggak ada yang bikin saya jatuh cinta balik. Tapi saya pernah sih beberapa kali dekat dengan teman cowok – yang nggak bisa dibilang sekedar teman, tapi juga nggak bisa disebut pacaran.

Intinya, saya nggak pacaran bukan karna sudah tahu sejak dulu tentang aturan main pergaulan antar lawan jenis. Saat memasuki dunia kampus-lah akhirnya saya mendapat sedikit ilmu tentang itu, dan mulai mengubah sedikit demi sedikit mainset saya tentang ‘keakraban’ dengan teman lawan jenis.

Kadang suka heran dan pengen ketawa kalo denger cerita temen soal ‘kehidupan pacaran’ mereka. Kemana-mana harus ijin lah, ngapa-ngapain harus selalu lapor lah, nggak boleh lupa sms sehari berapa kali lah, dan lain-lain. Yaelah, padahal sekedar pacar ya? Sama orang tua sendiri aja kita nggak segitunya. Iya, kan?! Belum lagi kalo lagi marahan. Beuh, alamat bakal jadi tempat sampah buat nampung segala kicauan dia mencurahkan hati deh pokoknya.
Kadang jadi mikir, kayaknya ‘latihan punya pasangan’ sebelum bener-bener halal malah bikin kita jadi kurang produktif deh ya. Dan kalo kita mau sadar, masa-masa single sebelum akhirnya menikah itu masa-masa plaing kriuk loh! Kita bisa melakukan banyak banget hal positif, berteman dengan siapapun, main kemanapun, tanpa ada orang yang sok-sokan ngatur, minta dilaporin apapun gerak-gerik kita, padahal aslinya dia nggak punya hak sedikitpun atas kita. Iya, kan?

Pernah baca sebuah kalimat di salah satu buku (lupa buku apa), katanya “Berlatih menjadi istri atau suami yang baik, hanya bisa dilakukan dengan benar-benar menjadi istri/suami” – jadi bukan dengan pacaran. Omong kosong deh menurutku kalo ada yang bilang salah satu manfaat pacaran adalah untuk mengenal lebih banyak sang calon pasangan hidup! Nggak lihat tuh salah satu artis yang pacarannya lengkeeett banget, eh begitu nikah langsung bubar jalan padahal baru hitungan hari. Naudzubillah…

Jadi, yuk nikmati masa-masa kriuk kita sebagai single. Nggak perlu terus-terusan galau. Yah, bukan nggak boleh sih, saya juga sering galau – tapi ya sewajarnya aja, dan energi galaunya dibelokkan ke arah positif. Contohnya, buat ngaji, berdoa agar lekas dipertemukan dengan jodoh kita, atau dibuat nulis dan ikut giveaway aja kayak saya. Hehe

Oh ya, kalo kata salah satu sahabat saya yang belum lama ini dikhitbah seorang lelaki, kalo memang jodoh itu nggak pake’ galau loh! Jadi, langsung yakin dan matap aja gitu katanya – setelah istikhoroh tentunya.

Oke, sekian dulu… selamat menikmati masa-masa kriuk sebagai single, yaa… buat kalian dan buat saya sendiri. Semoga masa-masa ini lekas berganti ke masa kriuk menjadi istri dan ibu, Aamiin :)

#SelfReminder2: Lalai Atau Kikir?

on
Jumat, 07 Februari 2014
 Mencoba merenungi musibah yang kembali menimpa seorang kerabat tadi pagi. Betapa Allah tak pernah kekurangan cara membuat harta lenyap seketika. Lalu, apa yang lantas membuat saya begitu berat mengeluarkan sedekah? Alasan pendapatan yang belum seberapa besar dan banyaknya kebutuhan harusnya tak begitu saja membuat saya jadi enteng mengurangi bahkan menahan hak orang lain yang di lewatkan pada tangan saya. Jadi, saya ini lalai, atao kikir?

Yang mengumpulkan harta dan berulang-ulang menghitung kekayaannya;  Ia menyangka bahawa hartanya itu dapat mengekalkannya (dalam dunia ini) (TQS. Al Humazah: 2-3)

"Jika seorang anak Adam telah dikaruniai emas satu lembah, niscaya dia akan menginginkan yang kedua. Apabila telah memiliki dua lembah emas, dia menginginkan yang ketiga. Dia tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan keinginannya, kecuali setelah mulutnya penuh disumpal tanah." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi)

"Kalau kamu enggan mengeluarkan sebagian hartamu, maka jangan salahkan jika sewaktu-waktu Allah yang akan mengambilnya langsung dengan cara-Nya" (Ust. Yusuf mansur)

Untuk Orang-Orang yang Salah Menilai Saya :)



Tiga hari balakangan ini ada beberapa hal yang lumayan bikin perasaan jadi nggak enak. Yah, tapi saya selalu berusaha menggaungkan alarm buat hati saya sendiri, bahwa hanya orang yang punya mental dan kualitas diri kerdil yang mudah terpengaruh hati, pikiran serta perasaannya dengan hal-hal kecil. Perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain, ditegur atasan, dll, misalnya.

Meskipun harus saya akui saya sedikit kepikiran sama kasus salah paham dengan salah satu teman kerja beberapa hari lalu sih. Emm, akan jadi plong setelah saya menumpahkan uneg-uneg saya di rumah maya saya ini.

Jadi, beberapa hari lalu saya melakukan sedikit negosiasi dengan bagian logistic terkait stock opname. Nah, ternyata salah satu staff logistic ada yang nggak setuju sama usul yang saya ajukan, lalu emosilah dia (diakui ato tidak!). pas balik ke ruangan, saya cerita ke temen-temen, “Eh, si Mbak X emosi loh! Tiap saya ngomong di-cut terus, pake melotot-melotot pula matanya”  yah, kurang lebih seperti itu.

Saya emang sempet kaget sih melihat si Mbak X itu emosi gitu. Tapi toh saya nggak benar-benar masukin hati, sumpah. Setelah saya cerita ke teman-teman, mereka juga menanggapinya dengan bercandaan-bercandaan khas kami. Lalu memang ada yang cerita juga bahwa dia juga udah pernah jadi ‘korban’ emosinya Mbak X itu. Tapi sekali lagi, tetep sambil bercanda.

Nah, sejak hari itu, tiap Mbak X ke ruangan kami, digodain lah dia sama teman-teman. Yah dasarnya teman-teman saya emang doyan banget bercanda, dan harus diakui kadang bercandaannya membutuhkan ketahanan hati yang cukup kokoh. Haha

Eh, kamu kok nakal sih, sukanya marah-marahin orang, Hayo kemarin rosa kamu apain? Sampe nangis gitu!, bla bla bla… gitu2-lah pokoknya bercandainnya. Apa iya ‘menyakitkan’ banget? Entahlah. Namanya juga hati manusia, nggak ada yang bisa meraba.

Tapi yang jelas, saya shock banget pangkat dua, saat saya membaca pesan inbox salah satu teman seruangan di FB. Dia meminta saya membaca status terakhir si Mbak X. dan, taraaa… saya tercengang, lalu (jujur) menangis. Bunyi statusnya, kurang lebih, “Pake Kerudung, sok alim, kalo ngomong di depanku lembut kaya’ kapas, tapi ternyata suka memfitnah di belakangku”.

Hah??? Masya Allah!!! Rasanya bener-bener campur aduk waktu itu. Sumpah aku nggak pernah ngarasa alim, tapi aku juga nggak pernah ngrasa suka fitnah! Jadi siapa yang memfitnah siapa di sini??? Ah, tapi sudahlah, aku nggak mau ikut-ikutan menunjuk orang begini begitu, toh ada Dzat yang Maha objektif menilai bagaimana kita.

Ini kejadian sepele sih. Tapi nilai teguran dan himahnya saya rasa cukup banyak buat diri saya pribadi. Emm, yang pertama saya ambil sih ini ujian hati banget. Apa semangat saya untuk berproses menjadi lebih baik akan down karna takut dikatain ‘sok alim’ lagi untuk kesekian kalinya? Kalo iya, yah jadi jelas berarti keinginan saya menjadi baik itu semata karna ingin dinilai baik sama manusia. Maka dari itu, saya kembali mendengungkan sebuah kalimat yang pernah saya baca. “kalo ada yang ngatain sok alim, jawab aja, ‘daripada sok bejat?!’”. Hehe. Dan lagi-lagi saya heran. Kok ya masih adaaa ajaaa yang ngira saya tuh pendiem, lembut, dll sih??? Padahal aslinya??? Hahaha. Yang bikin jadi menyebalkan, setelah mereka menilai saya kayak gitu, terus tau aslinya saya kayak apa, eh dengan enteng bilang saya selama ini sok alim-lah, wajah menipu lah, bla bla bla. Wew, situ yang salah menilai kenapa saya yang disalahkan??!! Heuheu

Emm, tapi yang paling bikin saya sedih tu bagian yang nyinggung-nyinggung soal jilbab itu sih. Pada salah satu komentarnya, si Mbak X juga bilang “padahal orang berjilbab lho, mending brandal sekalian”. Masya Allah… ini kan salah kaprah sekali, disampaikan pula di ruang public yang nggak semua paham tentang ini. Jilbab itu WAJIB bagi wanita, seperti wajibnya Sholat – terlepas dari seperti apapun akhlaknya. Jadi jilbab itu satu hal, dan akhlak itu hal lain. Mereka nggak bisa saling menggugurkan – kalo akhlak masih buruk, hukum jilbab jadi nggak wajib, nggak bisa kayak gitu. Wallahu a’lam bishawwab… ilmuku masih dangkal banget sih.

Eh, satu lagi. Sesaat setelah baca status tersebut saya langsung konfirmasi ke beliaunya. Memastikan apa yang dimaksud itu saya, mencoba menjelaskan kesalahpahaman beliau tentang guyonan teman-teman, dan yang pasti memohon maaf sebesar-besarnya kalo memang sikap saya kemarin nggak berkenan di hati beliau. Dan beliaunya jawab bukan saya yang dimaksud (dengan kalimat manis). Tapi jujur saja saya belum benar-benar yakin karna salah satu yang komen juga teman kerja dan seolah paham banget duduk permasalahannya. Nah, kemarin saya ketemu salah satu teman seruangannya. Beliau nggak mudeng masalah ini sih, tapi beliaunya bilang memang sempet denger si Mbak X ngomel-ngomel yang isinya seperti di status itu sekembalinya dia dari ruangan saya kemarin itu. Hmm, berarti jelas dong? Saya cuma menyayangkan sih, kenapa cuma berani menumpahkan kekesalan lewat status, lalu justru bermanis kata saat saya sudah membukakan jalan diskusi atau bahkan menumpahkannya secara langsung pada saya? Saya malah jauh lebih lega lho kalo ngomong fair :)
Ah, sudahlah, orang kan tipikalnya beda-beda. Saya menghargai keputusan beliau. Cuma saya berharap teman-teman saya nggak lagi berlebihan menilai saya, seolah saya ini baaaiikkk banget, lalu ketika saya melakukan alpa akan jadi membuat mereka memandang saya melakukan kejahatan super duper parah. Etapi, saya harusnya bersyukur kali ya dinilai baik? Itu kan bisa jadi motivasi untuk jadi bener-bener baik, dan berarti juga Allah masih bersedia menutupi tumpukan aib dan keburukan saya :)

NB: wanita yang berjilbab tidak lantas menjadi malaikat yang tidak akan melakukan dosa. Tapi dengan berjilbab, setidaknya seorang wanita telah memiliki ikrar yang ‘lebih’ untuk taat pada Rabb-nya, dibanding mereka yang belum berjilbab :)

Signature

Signature