ads

PROJECT 2015: DONATE FOR COMMENTS

on
Selasa, 30 Desember 2014
Sebagai seorang muslim sejak lahir, tentu saja perintah untuk bersedekah sama sekali bukan hal asing buat saya. Saya mengetahui tentang ilmu bersedekah, anjuran, janji pahalanya sepertinya sudah saya dapatkan sejak di bangku sekolah dasar. Tapi seperti banyak ilmu yang lain, ilmu tentang sedekah hampir nggak membekas sama sekali di hati saya -- jadi saya anggap 'hanya' materi pelajaran yang harus saya ingat biar waktu tes bisa jawab -- sebatas itu.

Sudut pandang saya tentang sedekah berbalik arah hampir 180 derajat sejak saya 'mengenal' Ustadz Yusuf Mansur yang terkenal dengan sebutan 'Ustadz Sedekah', karna seringnya beliau mengangkat tema sedekah dan memotivasi jamaahnya untuk bersedekah. Kalo nggak salah sekitar tahun 2012 akhir. Ustadz Yusuf Mansur selalu menekankan bahwa sedekah adalah salah satu pembuka jalan atas berbagai macam kesulitan. Sedekah dapat 'memancing' rizki yang lebih besar dan berkali-kali lipat. Sedekah dapat menjadi pendorong bagi untai-untai doa agar lekas mendapat pengabulan. Tentu saja 'iming-iming' tersebut bukan semata rekaan Ustadz YM. Semuanya tertera jelas di banyak hadist dan ayat dalam Al-Qur'an.


“Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.” (QS. Al Baqarah: 261)
"Turunkanlah (datangkanlah) rejekimu dengan bersedekah" (HR. Baihaqi)
 Sayangnya, perubahan sudut pandang saya belum benar-benar seiring sejalan dengan 'keberanian' saya mempraktekkannya. Yap, jujur saya masih cukup sering merasa 'sayang' saat harus bersedekah. Berbagai macam alasan akan langsung bermunculan. Dan tentu saja itu nggak boleh dibiarkan. Saya harus memikirkan cara untuk 'memaksa' diri saya sendiri agar bersedekah.

Saya pernah meniru cara Mas Muhammad Assad (penulis Notes From Qatar) yang menyiapkan kotak sedekah di depan pintu apartemennya. Jadi, setiap hari ketika hendak memulai aktivitas ia selalu memasukkan sejumlah uang ke kotak tersebut, lalu menyedekahkannya pada akhir bulan -- saat sudah terkumpul dalam jumlah yang lumayan. Sayangnya, cara itu hanya bertahan beberapa bulan. Ya Allah, bebal sekali, ya, saya T.T

Tapi saya nggak mau nyerah. Saya akan mencoba cara lain.

Dan, Aha! Alhamdulillah Allah menuntun saya pada sebuah ide cemerlang yang dicetuskan oleh salah satu teman di komunitas Blog Buku Indonesia, sekaligus teman rumpi di grup whatsapp BBi JogloSemar -- Oky -- melalui blogpost-nya. Bismillah, saya ingin join dengan project tersebut, di dua blog saya: blog ini dan blog buku. Doakan saya istiqomah dengan project ini hingga akhir tahun 2015, ya :) Semoga Allah sampaikan umur saya, Aamiin. Seperti anak kecil yang harus dipaksa sholat untuk kemudia menjadi terbiasa menjaga sholat, semoga project ini menjadi sarana saya membiasakan diri untuk bersedekah, Aamiin.




Nah, berikut ini aturan main saya:


  1. Saya menargetkan Rp 500,- untuk setiap komentar yang masuk di tahun 2015 (1 Januari 2015-31 Desember 2015) ini (di blogpost saya di tahun berapapun), termasuk reply dari saya pribadi.
  2. Komentar SPAM tidak dihitung.
  3. Saya akan bikin rekap tiap bulan di post ini. Biar gak mabok ngitung pas akhir tahun, biar temen-temen bisa bantu mantau, dan biar saya bisa menyisihkan donasinya sedikit demi sedikit. 
  4. Saya akan menyumbangkan dana dari project ini untuk orang-orang di sekitar saya yang masih tergolong fakir miskin. Yup, karna setau saya sedekah itu sebaiknya untuk orang yang paling dekat dulu :)
  5. Dana dari saya pribadi. Teman-teman hanya perlu membantu saya dengan menyumbangkan komentar, agar jumlah donasinya semakin banyak :)
Oke, Bismillah... I will donate Rp500 for every comments in 2015... :)

Jadi, bantu dan dukung saya dengan mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog ini, di blog buku saya, dan di blog teman-teman saya yang join di project ini, yaa... biar kami termotivasi untuk sedekah semakin banyak :)

Yuhuu... Saatnya merekap jumlah komentar bulan Januari 2015.
1. Januari: 72 Komentar x Rp 500,- = Rp 36.000,-
2. Februari: 74 Komentar x Rp 500,- = Rp 37.000,-
3. Maret: 54 Komentar x Rp 500,- = Rp 27.000,-
4. April: 37 Komentar x Rp 500,- = Rp 18.500,
5. Mei: 66 Komentar x Rp 500,- = Rp 33.000,- 
6. Juni: 55 Komentar x Rp 500,- = Rp 27.500,-
7. Juli: 32 Komentar x Rp 500,- = Rp 16.000,-

Total = Rp 195.000,-

Terimakasih atas partisipasi temen-temen dalam project ini. Semoga bulan-bulan ke depan komentar yang masuk makin banyak, Aamiin :)  

Mengisi Masa Liburan Dengan Kegiatan Positif

on
Kamis, 25 Desember 2014
"Libur tlah tiba, libur tlah tiba... hore, hore, hore, horee..."

Yippiii... libur 4 hari buat saya yang kerja terkekang waktu (karna buat pengusaha yang konon waktunya lebih fleksibel) itu lumayan banget, kan, ya?! Selain saya, ponakan saya yang kelas 2 SD juga libur sekolah karna bertepatan dengan setelah tes semester.

Kalo diinget-inget pas jaman sekolah dulu, kalo libur panjang baru mau mulai tuh seneeeeng banget, kan, rasanya? Tapi setelah libur berjalan beberapa hari, jenuh perlahan menghinggapi. Tiap hari isinya cuma nonton tiviiiii terus, sampe Ibu sebel lihatnya. Tapi sayangnya, dulu jaman saya kecil, saya belom punya kesadaran dan kemampuan untuk mencari kegiatan yang bermanfaat buat mengisi liburan. Ibu dan kakak saya juga saat itu wawasannya belom terbuka soal itu.

Nah, belajar dari masa kecil saya itu, saya nggak pengen ponakan saya - Andien - juga mengalami hal serupa. Waktu luang yang sama sekali tanpa manfaat. Saya pengen dia punya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, tapi tanpa menghilangkan unsur kebahagiaan masa kecilnya.

Pagi ini, di hari libur pertama saya dan hari liburnya Andien yang entah ke berapa (saya nggak tahu persisnya, hehe) , saya ngajak Andien mengasah kreatifitasnya dengan membuat kerajinan dari kain flanel. Dan, wow... ternyata kemampuan dia untuk itungan anak kelas dua SD sudah lumayan banget lhoh, asal saya kasih contoh dan membimbingnya sabar. hehe. Sepagian sudah menghasilkan beberapa bros flanel, yang katanya mau dijual ke temen-temennya. haha

Setelah bosen bikin bros, saya ajak dia baca buku cerita. Kebetulan dia masih punya satu buku cerita tentang Nabi Muhammad yang saya beliin pas ulang tahun dan belom dibaca. *Omaigad, kecil-kecil sudah jadi penimbun buku! Gimana gedhenya? haha*. Sementara dia baca buku ceritanya, saya juga nggak mau kalah dong... baca novelnya Tere Liye yang judulnya Rindu (pinjeman dari temen, hehe).



Kalo saat ini, sayanya ngeblog, dia maen game. hehe. Susah banget, ya, jaman sekarang kalo mau bener-bener melepaskan daya tarik gadget dari anak-anak. Tapi saya pikir gak masalah lah, asal proporsional waktunya. Emm, besok pagi rencananya sih kami mau bersepeda bareng keliling desa menghirup udara segar, sembari memanjakan mata dengan pemandangan sawah yang menghijau.

Kalo kamu, apa kegiatan positif untuk mengisi masa liburanmu?

SALAH DIAGNOSA

on
Selasa, 16 Desember 2014
Minggu lalu saya diuji dengan diberi sakit yang… yang sakit banget. Ehehehe

Tanda-tanda sakit udah saya rasain hari minggu, tapi saya pikir capek biasa. Seperti biasa minta dipijet sama Ibu, karna sugesti saya kuat banget. Yup, saya meyakini bahwa jemari Ibu itu mengandung obat yang luaaarrr biasa (atas ijin Allah). Dan sugesti itu berkali-kali terbukti (lagi-lagi mutlak juga karna ijin Allah).

Tapi yang kali ini beda. Hari senin saat saya udah balik ke kost, rasanya semakin sakit. Hari selasa, sakit makin tak tertahankan. Hingga saya dibawa oleh seorang teman ke IGD sebuah rumah sakit. Nah, setelah dilakukan pemeriksaan (hanya pemeriksaan luar semacam perut ditekan-tekan, kaki ditekuk) plus ditanya beberapa pertanyaan oleh Bu Dokter, beliau langsung menyebut sebuah nama penyakit yang sama sekali asing buat saya. Lalu Bu Dokter pergi begitu saja, dan menyuruh seorang perawat menyuntikkan entah apa ke tangan saya. Emm, katanya sih biar sakitnya cepet ilang sekitar 30an menit setelah disuntik. Tapi ternyata nggak ilang tuh sakitnya.

Dari komunikasi singkat yang saya lakukan dengan Bu Dokter, jujur saya merasa agak kecewa sebagai pasien. Bu Dokter tampak kurang ramah, dan sama sekali nggak berusaha kasih saya pencerahan saya sebenernya kenapa, factor pencetusnya apa, trus saya mesti gimana biar sembuh total, dll. Singkatnya, saya pulang dengan membawa berpuluh tanda tanya di otak.

Tentu saja saya resah. Maka saya searching tentang nama penyakit yang tertera di  kertas hasil diagnose dari rumah sakit tersebut. Dan? Saya paranoid! Dua hari saya berurai air mata. ini sama sekali nggak lebay, kenyataannya seperti itu. Wanita mana yang nggak ketakutan didiagnosis terkena sebuah penyakit yang punya dampak terburuk berupa: sulit hamil, jika nggak tertangani dengan baik dan total. Saya nggak berhenti tanya-tanya ke beberapa temen yang dokter. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari second opinion… emm, enggak enggak… lebih tepatnya mencari kejelasan. Saya datang ke dokter spesialis kandungan. Dan hasilnya? Sama sekali nggak tampak ada masalah pada hal-hal yang berkaitan dengan rahim saya. Alhamdulillah… Alhamdulillah…

Saat itu rasanya legaaaaa sekali. Yah meskipun sampe sekarang jadi belum ketauan apa sebenernya pencetus sakit luar biasa yang saya rasain kemarin itu, karna harus ada beberapa pemeriksaan lanjutan. Seenggaknya saya jadi sadar bahwa seringkali saya dijajah habis sama pikiran negative saya sendiri. Dan ya itu… heran sama  dokter yang enteng banget mendiagnosa tanpa memastikan dengan upaya-upaya yang seenggaknya mendekati valid.

Ah tapi sudahlah. Rasanya sakit ini sebenernya teguran sekaligus pelajaran buat saya. Teguran karna saya seriiiing banget meremehkan kesehatan. Kalo udah sakit baru sadar. Eheheh. dan teguran yang membuat saya sadar bahwa ternyata selama ini tawakal saya masih kuraaaaaang banget. Denger diagnose gitu aja udah parno nangis-nangis kayak orang depresi. Seolah lupa bahwa Allah pemilik segala obat… bahwa hidup mati itu mutlak urusan Allah… ahh… iya, tawakal saya sangat sangat sangat kurang.

Yaudah gitu dulu ceritanya. Mohon doa yaaaa teman-teman:)

#KajianPagi: Posisi Sujud Yang Benar

on
Kamis, 04 Desember 2014
Bismillah...

Di blogpost kali ini, Insya Allah saya ingin membahas satu dari bermacam gerakan dalam sholat, yaitu sujud.

Sujud adalah salah satu bagian paling istimewa dalam sholat. Yah, semuanya istimewa sih, ya... tapi kalo ada yang teristimewa, mungkin adalah sujud.

Buktinya ada hadist ini:

"Dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika dia sujud. Maka perbanyaklah doa" (HR. Muslim, Abu 'Awamah dan Baihaqi)

Selain hadist di atas, dari segi filosofi juga sujud rasanya istimewa sekali, yah. Bayangin aja... kita dengan sukarela meletakkan bagian tubuh yang sering jadi hal yang kita banggakan (otak dan wajah) di lantai yang biasa kita injak-injak. Buat siapa? Buat Yang Maha Segalanya, dong, ya :)

Nah nah... berhubung sujud itu istimewa sekali, pastinya nggak mau dong ya kalo sujud kita asal-asalan. Ingat, sujud itu bagian dari ibadah, dan setiap ibadah ada aturannya -- nggak asal :) Emang apa sih yang harus dipelajari dari sujud? Kan cuma gitu-gitu aja?! Eits, jangan gampangin, ya... Yuk belajar bareng hal-hal yang harus kita perhatikan dari sujud kita.

1. Menuju Sujud

Saat dari posisi berdiri (setelah ruku') menuju sujud, ada hal yang harus kita perhatiin banget nih ternyata. Jadi kata Pak Ustadz Muhtar Arifin Sholeh (narasumber Kajian Pagi YBWSA), yang sampai di lantai duluan tuh nggak boleh lutut duluan -- melainkan harus telapak tangan duluan. Hayooo, pasti banyak deh yang masih lutut duluan yang sampai lantai :)

Nih hadistnya:

"Apabila kamu sujud, maka jangan meletakkan lutut terlebih dahulu seperti unta, namun letakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut" (Hadist shahih diriwayatkan Ahmad, Abu Daud)

2. Posisi tangan

Saat sujud, tangan juga harus diperhatikan. Siku nggak boleh nempel di lantai.

Terus, nggak boleh terlalu dekat dengan lambung (tangannya harusnya agak membuka).

“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tapi kata Pak Ustadz, dalam hal ini ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kalo perempuan diperbolehkan agak masuk karna untuk menyangga dadanya. Tapi beliaunya nggak nunjukin dasar dalilnya sih :(

3. Wajah

Sujudnya yang tulus, ya, dear... jangan kayak orang terpaksa dan jijik gitu. Lihat deh, kalo orang sujud terus yang nempel cuma keningnya, sedang hidungnya dijauhin dari tempat sujud, kesannya kayak orang nggak ikhlas, kan, ya?! Iya, jadi yang bener hidung itu harus nempel lantai saat sujud.

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani

4. Posisi Kaki

Posisi kaki yang benar saat sujud adalah dengan menghadapkan jemari kaki ke arah kiblat, atau lebih gampangnya, jari-jari kaki harus ditekuk.

 “Beliau menghadapkan punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

Selain itu, posisi tumit harus nempel, ya, dear... jangan jauh-jauhan. hehe

 “Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud).” (HR. At Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan dishahihkan Al Albani)

5. Saat Bangun

Yang juga nggak kalah penting dan harus kita perhatikan adalah posisi saat bangun dari sujud untuk berdiri ke rakaat selanjutnya. Saat bangun dari sujud, kita harus bertumpu dengan kedua telapak tangan lho, dear... bukan satu tangan doang :)

Selain itu, saat di rakaat ganjil harus istirahat duduk dulu, enggak langsung berdiri. (Hihi, ini nih saya yang masih sering salah berarti)

6. Thuma'ninah

Ahaa... sebagai penutupnya, point yang juga sangaaatt penting adalah harus thuma'ninah! Sering kan ya kita lihat orang yang sujudnya cepet banget. Kayaknya belom juga dahi beneran nempel di lantai, eeehh udah bangun aja. Hehe. Masih inegt hadist di point 1 tadi, kan? Sujud itu salah satu kondisi dimana kita dekeeettt banget sama Allah. Masa' iya sih kita rela membiarkan moment istimewa itu berlalu begitu saja dengan kilat khusus (Pos kaliii) tanpa dinikmati sedikitpun? So, yuk nikmati sujud kita dengan thuma'ninah saat sujud :)

"Bersujudlah sehingga engkau berthuma'ninah dalam sujud, dan bangunlah dari sujudmu, sehingga engkau berthuma'ninah dalam duduk" (Muttafaqun 'alaih)

Kata Pak Ustadz, sujud itu momentum dimana kita terus diingatkan ulang untuk tawadhu'/tidak sombong. Yang Maha Tinggi itu Allah, bukan kita :)

Maka, yuk perbaiki sujud kita, lalu perbanyak doa di dalamnya. Semoga Allah menggenapkan segala hajat kita dengan Rahmat-Nya, Aamiin :)

Sekian materi kajian pagi yang bisa saya share di sini. Feel free buat komentar, diskusi, ataauuu yang paling penting feel free buat mengoreksi jika memang ada yang salah dari apa yang saya ulas di atas, ya. Saya masih belajar, ilmunya baru setebal kulit bawang, jadi pasti banyak banget salahnya :)

Wallahu A'lam Bisshawwab

Balada Anak Kost

on
Jumat, 28 November 2014
Haloooo semuaaa… lama nggak nulis nih, sediiiih :(

Masih masa-masa adaptasi kali, yeee… *halah, alasan!! Bilang aja males!*

Jadi ceritanya saya sekarang jadi anak kost lagi, hehe. Jadi anak kost ronde kedua nih, dan entah kenapa beda banget antara jadi anak kost jaman masih kuliah dulu, sama sekarang.

Padahal saya kost-nya di rumah yang sama dengan rumah kost saya jaman kuliah dulu. Haha. Seminggu awal di sini tuh rasanya kayak orang déjà vu tiap hari -_-

Tapi semakin lama perbedaannya semakin keliatan sih. Dulu saya mahasiswa yang masih unyu-unyu dan masih ‘polos’, dan punya kakak kost yang dewasaaa banget di mata saya (beliaunya udah kerja waktu itu). Sekarang, gentian deh saya ada di posisi kakak kost yang udah kerja, dan punya adek-adek kost mahasiswi-mahasiswi unyu yang masih ‘polos’ dan kadang ‘gemesin’. Haghag

Jadi anak kost berarti harus siap menekan ego. Bersedia saling bertenggangrasa dengan orang-orang baru yang bukan siapa-siapa kita. Emm, tapi catetannya, ini buat yang kost-nya di rumah kost dengan fasilitas standart loh ya. Kalo rumah kost yang kamar mandi dalem dan semuanya serba private mungkin beda cerita lagi.

Berhubung sekarang saya ceritanya yang paling dewasa (untuk nggak bilang tua -_-), harusnya sih saya bisa lebih berlapang dada atas beberapa tingkah ‘menggemaskan’ para adek kost, ya. Sama seperti kakak kost saya dulu yang sabaaarrrr banget ngadepin tingkah saya dan temen-temen. Hihi.
Iya, saya jadi merenung memang. Apa dulu saya suka ‘gemesin’ kayak gitu? Pake barang umum pake kost (alat dapur atau sendok, missal) trus habis itu nggak dibalikin ke tempat semula – asal taruh, bahkan nyuci pun kadang ‘lupa’. Haha. Emm, terus… sekedar peduli sama lampu yang masih nyala padahal udah siaang pun kadang enggak. Yaaahh, hal-hal semacam itulah.

Ohya, perbedaan lainnya antara jadi anak kost ronde pertama dengan ronde kedua (emangnye tinju :p) adalah: kalo dulu biaya hidup nodong orangtua, kalo sekarang dari hasil sendiri. #yaiyalah!
Dan imbas dari hal itu adalaaahhh… jadi belajar ebih bijak ngella uang. Hehehe, itu sih harus dong, yaaa.

Dari dulu saya tipe anak kost yang prihatin sih, uang saku mingguan selalu mepeeeettt, gak pernah jajan yang aneh-aneh apalagi beli barang-barang yang gak mendesak banget-banget setatusnya… jaraaang banget. Tapi gak tau kenapa kok rasanya tetep beda loh. Sekarang rasanya dorongan untuk lebih bijak ngelola uang jauh lebih gedhe.

Dan hal pertama yang saya lakukan untuk mewujudkan niat tersebut adalah: masak sendiri. Iya, Alhamdulillah kost ada dapurnya. Magic com bawa sendiri dari rumah. Kalau dulu kan full jajan yaa… plus nasi juga. Kalo sekarang, pulang kerja belanja. Sekaligus belajar mengkombinasi menu biar gak bosen juga akhirnya. Hehe. Naahh kaan, apa saya bilang… kemampuan memasak tuh emang penting banget dijaman di mana harga-harga semakin serba melejit seperti sekarang ini. haha. Sampe-sampe, kemarin waktu kompor kost rusak, saya tetep ngotot masak sayur buat pecel pake magic com, loh! Kereen, kaaannn?!! *narsis* :D

Emm, mau cerita apalagi, ya… kalo soal nyuci-nyetrika sendiri sih udah dari dulu itu, nggak beda. Malah kalo sekarang kadang laundry – kan uang sendiri soalnya, kalo dulu sih sayang uang sakunya. Hehe

Kayaknya segitu dulu deh cerita soal balada anak kost kali ini. yang jelas, saya jauh lebih enjoy yang sekarang dibanding sama dulu:)

Habis ini Insya Allah saya mau posting tema kajian pagi lagi… doakan gak kebawa males terus, yaaa :))

Curhatan Petang Kemarin

on
Kamis, 20 November 2014
Apa yang kita  lihat hanya dari covernya saja, tak selalu menggambarkan bagaimana keadaan sebenernya di dalam. Percaya soal itu nggak? Saya percaya.

Saya punya temen. Cantik, smart, supel, dan karir sudah tergolong mapan untuk gadis seumuran dia. Saya, dan mungkin teman-teman lain, mungkin mengira bahwa dia sudah demikian bahagia dengan pencapaian-pencapaiannya. Tapi apa? Kemarin saya ketemu dia, setelah beberapa tahun nggak ketemu. Dan saya nggak lagi lihat dia yang bicara menggebu-gebu dan penuh semangat serta optimisme kayak dulu. Hanya rentetan kalimat-kalimat penuh keputusasaan. Duh, sungguh, saya sedih melihat sebegitu layunya dia.

Mau tau apa yang bikin dia seperti itu? Intinya cuma satu: dia belum ketemu jodoh. Ya Allah...

Saya tau tema itu memang menguras banyak air mata dan salah satu penyebab utama kegalauan. Tapi saya baru bener-bener sadar kalau tema itu juga bisa bikin seseorang sebegitu putus asa hingga merasa hidupnya nggak lagi sedikitpun menarik. Saya baru sadar betapa tema itu amat rawan untuk bikin seseorang menutup mata dari luasnya nikmat dan anugrah Allah.

Iya, temen saya sudah sampai pada titik putus asa. Dia bahkan 'berani' protes sama Allah. "Allah... aku udah doa, udah berbuat baik, udah sholat... tapi mana? Kok Engkau mengacuhkan doa-doaku? Engkau ingkar janji...." kurang lebih seperti itu. Dia bahkan pernah sampai pada titik... (ah, saya sedih sekali di bagian ini) protes dengan cara meninggalkan beberapa kali sholat wajib secara sadar. Lidah saya kelu. Saya nggak bilang apa-apa memang kemarin soal ini di depan dia. Saya menahan diri sekuat yang saya bisa untuk nggak menghakimi. Dia cerita bukan untuk mencari penghakiman. Dia cerita sekedar ingin membagi keresahan. Tapi di sini saya pengen dan harus bilang, atas alasan apapun, cara itu nggak pantes :((

Saya juga sempet cerita sama dia tentang kisah beberapa orang yang perjalanan bertemu jodohnya juga amat penuh onak dan duri. Tapi, yah, sebgian dimentahkan olehnya -- saya maklum. Saya juga menunjukkan beberapa orang yang saya kenal, yang juga belum nikah, tapi mereka masih bisa menikmati hidup dan mengalihkan energi galaunya ke hal positif. Saya cuma nggak pengen lihat dia sejatuh itu, saya sedih lihatnya :((

Saya juga belum ketemu jodoh. Saya juga galau -- bo'ong banget kalo enggak. Tapi Alhamdulillah.... Alhamdulillah... Alhamdulillah.... Allah masih kasih saya kemampuan untuk tetap berprasangka baik sama jalan cerita-Nya. Alhamdulillah... karna Allah seperti dengan penuh kasih menyodorkan sederetan orang yang mampu membuat saya untuk tetep punya energi positif ditengah ancaman galau yang sungguh laten bahayanya. Ya, saya bersyukur karna Allah kasih saya kemampuan untuk mencari dan menemukan cara yang (menurut saya) cukup cantik untuk mengatasi kegalauan atas tema tersebut.

Saya kemarin bilanag sama dia, ayolah... jangan perlakukan hidupmu semenyedihkan ini... jangan lantas merasa nggak bisa menikmati hidup... lihat, buka mata, di luar sana banyak loh yang orang-orang yang keadaannya jauh lebih menyedihkan... tapi mereka bisa tetep menghargai hidup mereka! Kalo mau banding-bandingan, kondisi saya sama dia sih nggak ada apa-apanya. Dia jauh lebih cantik dan pinter dari saya. Gaji saya, mungkin nggak ada separo dai gajinya. Sama-sama belum ketemu jodoh, sama-sama sudah mendapat tekanan dari beberapa pihak. Tapi -- lagi-lagi -- Alhamdulillah, saya nggak merasa harus memperlakukan hidup saya semenyedihkan itu. Dan saya belajar bahwa: kemampuan untuk tetep bersyukur bahkan atas hal sekecil apapun adalah juga merupakan rizki yang amat luar biasa. Selalu ada jalan untuk kita mengeluhkan apapun tentang hidup, tapi juga selalu ada jalan untuk kita selalu merasa bersyukur atas apapun tentangnya. Lagi-lagi semua tentang pilihan.

Sungguh saya nggak pengen nyinyir. Sungguh bukan saya nggak bisa ngerti atau berempati sama apa yang dia rasa... saya ngerti. Saya ngerti betapa resah atas pasangan hidup yang Allah janjikan belum juga menemukan titik terang itu amat menyiksa. Saya ngerti ada beberapa aspek yang bikin tekanan buat dia lebih meresahkan dibanding saya... tapi... bukan berarti jadi nggak ada jalan buat dia untuk tetep berpikir positif dan bangun dari rasa putus asa. Saya yakin itu!

Dan salah satu jalan menurut saya adalah, membuka mata dan belajar untuk lebih bisa bersyukur. Iya, klise. Tapi memang itu obat mujarab bagi jiwa yang merana menurut saya.

Ah, sudahlah. Saya tau dia sedang ada dalam fase 'nggak bisa dengerin nasehat'. Dia hanya butuh merenung. Dan saya hanya bisa memeluknya melalui doa. Semoga Allah menguatkannya.

"Allah... kuatkan kami dalam beratnya masa penantian ini... Aamiin..."

**Pada dasarnya apa yang saya tulis di sini adalah untuk menasehati diri saya sendiri

Signature

Signature