ads

Mengeksplorasi Pesona Danau Toba di Parapat, Sumatera Utara

on
Minggu, 31 Juli 2016
Traveling bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Jika Anda sudah cukup menjelajah hampir di semua wilayah Pulau Jawa, tidak ada salahnya saat ini melakukan eksplorasi di Pulau Sumatera Utara. Sebagai salah satu kelurahan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Parapat menawarkan pesona alam yang tak kalah menarik. Wilayah ini sebagai jalur utama menuju Danau Toba dan menjadi lokasi penghubung antara Kota Medan dengan Padang.

Sejak tahun 1990, Parapat telah dikenal dunia karena keindahan alamnya terutama tentang pesona Danau Toba yang masih tetap menjadi daya tarik utama kota ini. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di lokasi obyek wisata ini. Selain menikmati keindahan alam danau yang indah dari wilayah tepian danaunya, Anda juga bisa melakukan kegiatan lain seperti berkeliling danau dengan kapal, bermain sepeda air atau pun speed boat.

Sumber: idwikipedia.org

Perjalanan Anda akan semakin menyenangkan karena tersedia beragam fasilitas yang akan Anda dapatkan saat mengunjungi Kota Parapat. Ada cukup banyak restoran dengan berbagai menu serta penginapan dan hotel-hotel menarik yang dapat Anda pesan dengan berbagai pilihan. Beberapa hotel dan penginapan menarik tersebut bisa Anda temukan di sekitar Dana Toba, seperti di Jalan Justin Sirat Long Beach Ajibata, Jalan Marihat, Jalan Nelson Purba, Siuhan, dan jalan-jalan utama di kota ini. Namun, akan lebih baik lagi jika reservasi dilakukan beberapa hari sebelum keberangkatan Anda dan keluarga melalui situs dan website yang tersedia. Seperti misalnya http://www.traveloka.com.

Pemandangan alami berupa danau terbesar di Asia Tenggara ini akan membuat Anda betah berlama-lama menikmati pesonanya. Sejuknya udara dan indahnya warna air danau yang berada di tengah-tengah lahan berbukit dan pegunungan serta pepohonan hijau dan tanaman berbunga di sekitarnya ini dapat Anda nikmati di sini.  

Sumber: idcyber.org

Di sekitar danau Toba juga terdapat sebuah desa dengan masyarakatnya yang ramah dan siap menyambut kedatangan Anda menikmati suasana perjalanan dan liburan di danau yang sudah dikenal mendunia ini. Tak sekedar menyuguhkan keindahan alamnya saja, tetapi juga keelokan adat dan budaya masyarakat setempat yang sangat khas. 

Di wilayah Danau Toba, atau tepatnya di Pulau Samosir juga terdapat pegunungan atau bukit berkabut dan air terjun yang aliran airnya mengalir menuju Danau Toba. Di area ini, Anda juga bisa melakukan beragam aktivitas seperti memancing, bermain sepeda air, berenang dan ski air. Dari atas bukit ini juga bisa terlihat panorama berupa pemandangan Danau Toba yang menakjubkan dengan latar Kota Parapat dan Pulau Siantar.

Keindahan batu gantung juga bisa ditemukan tak jauh dari Danau Toba, hanya berjarak sekitar 3 km dari Kota Parapat dan dapat ditempuh dengan speed boat.  Sementara, jika Anda ingin mengeksplorasi keunikan sejarah dan benda-benda bersejarah lainnya di kota ini, dapat mengunjungi beberapa museum, salah satunya adalah Museum Huta Bolon. 

Hal menarik lainnya, Danau Toba sering dijadikan sebagai lokasi berlangsungnya acara adat, pesta rakyat dengan tarian khas tor-tor bersama boneka sigale-gale dan juga festival Toba. Festival Toba digelar sebagai penghargaan untuk pemain pentas seni dan budaya. Festival tahunan yang diadakan di bulan Agustus-September ini meliputi pertunjukkan seni tari-tarian masyarakat Batak, juga berbagai pameran, kompetisi renang dan balap perahu. Di sini, sangat direkomendasikan untuk melihat ulosnya yang unik yang akan membuat Anda takjub dengan dominasi warna merah dan hitamnya yang memikat.

Sumber: Indonesiaexplorer.net

Meskipun berjarak cukup jauh, yaitu sekitar 176 km dari Medan, akses yang tersedia cukup mudah dilalui. Jika Anda menggunakan pesawat, maka perjalanan akan menghabiskan waktu lebih singkat. Mengawali perjalanan dari Bandara Kualanamu atau pun transit di Bandara Sibisa. Dari bandara dapat melanjutkan dengan menggunakan angkutan umum ataupun jasa penyewaan mobil. 

Parapat juga mudah dicapai dengan menggunakan kapal fery dan kapal motor dengan harga terjangkau yang berada di Pelabuhan Ajibata dan Pelabuhan Tiga Raja. Anda bisa menggunakan angkutan umum untuk melanjutkan perjalanannya. Tentu hal ini menjadi pengalaman tersendiri bagi Anda. Jangan khawatir akan mabuk kendaraan laut karena waktu tempuh yang cukup singkat. 

Sumber: medantribunnews.com

Rute perjalanan juga dapat ditempuh dengan menggunakan bus melalui Terminal Pinang Baris, Medan menuju Parapat atau dari Medan menuju Brastagi. Waktu tempuh perjalanan adalah sekitar 6 jam. Sedangkan untuk biayanya, Anda hanya dikenakan biaya perjalanan sebesar Rp40.000 hingga Rp60.000 per orang. Namun, jika menyewa kendaran beroda empat, akan menjadi lebih mahal, yakni sekitar Rp600.000 hingga Rp750.000 per hari.

Saat mengunjungi daerah ini, tidak ada salahnya juga mencicipi makanan khas daerah setempat seperti Ikan Bakar, Lemang, Roti Ganda, Dodol, dolung-dolung dan keripik. Dan satu hal yang jangan sampai terlewatkan, yaitu mencoba mangga udang, buah mangga yang hanya terdapat di Parapat.

Tak hanya kekayaan budaya dan keelokan pesona alami Danau Toba, kulinernya juga wajib Anda coba. Jadi jangan tunda lagi perjalanan dan pengalaman Anda untuk mengeksplorasi keistimewaan Danau Toba dan wilayah Parapat, Sumatera Utara lainnya. Jangan lupa abadikan momen terindah Anda bersama semua sahabat dan keluarga tercinta di kota ini.

Happy traveling and exploring!

Resep Ayam Suwir Lezat: Solusi Untuk Yang Gak Suka Bagian Dada Ayam

on
Kamis, 28 Juli 2016
Kemarin, pagi-pagi sebelum berangkat kerja saya belanja. Bukan buat menu pagi, melainkan untuk menu sore karna si Mas Suami kebetulan sedang puasa syawal. Meskipun sudah tergolong pagi, ternyata persediaan bahan masakannya sudah minim sekali. setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya memilih membeli daging ayam -- yang sayang sekali tinggal bagian dada. FYI, saya gak suka banget bagian dada. Dagingnya kayak gak ada rasanya menurut saya, bumbunya gak bisa meresap sampai dalam. Tapi ya gimana lagi, gak ada pilihan lain waktu  itu.

Sebelum berangkat kerja -- karna gak punya kulkas -- daging ayam tersebut saya rebus dulu, biar gak bau sampe sore nanti. Rebusnya tanpa bumbu apapun karna saya sudah dikejar waktu untuk berangkat kerja. Nah, sampai kantor saya bingung. Itu daging ayam harus saya apain nanti sore?! Kalau mau dibikin ayam goreng kan setau saya waktu diungkep sudah harus dikasih bumbu, kan? Mau disemur, duh, ragu... sekali lagi, bagian dada menurut selera pribadi saya gak cocok kalo disemur.

Alhamdulillah, ada google. Ah, ia memang senantiasa menjadi penolong setia untuk berbagai kebuntuan ide saya =D Setelah browsing - galau - menimbang - browsing - galau lagi - menimbang lagi, akhirnya saya menemukan resep yang 'klik'. Saya nemunya di cookpad, sayangnya saya lupa nama mbak pemilik resepnya. Yang jelas, ia mengatakan bahwa resep yang ia bagi tersebut terinspirasi dari resep di justtryandtaste.com. Blog resep masakan favorit saya tuh =D

Di JTT dan di cookpad, mereka menyebutnya sebagai resep ayam suwir bumbu Bali. Tapi, seperti kebiasaan selama ini, saya gak pernah patuh sama resep. Maka dari itu saya jadi ragu untuk memberi nama resep ini sebagai Ayam Suwir Bumbu Bali. Jadi saya nyebutnya Resep Ayam Suwir Lezat aja, hehe.


Bahan Utama:

1/4 kg Daging ayam bagian dada, rebus, lalu suwir-suwir
1/2 gelas air (aslinya pakai santan)

Bumbu Halus:

5 siung bawang merah
1 siung besar bawang putih
5 buah Cabe merah
1/2 buku jari kunyit
1/2 buku jari kencur
1 SDM air jeruk nipis (di resep aslinya air asam jawa, karna gak ada saya ganti air jeruk nipis)
1 SDM Gula merah sisir
Terasi sesuai selera
Gula pasir secukupnya
Garam secukupnya
Kecap secukupnya

Bumbu pelengkap:

Serai Geprek
Lengkuas Geprek
1 lembar Daun salam
2 lembar Daun Jeruk

Langkah memasak:

Panaskan sedikit minya goreng, lalu masukkan bumbu halus dan bumbu pelengkap setelah minyaknya panas. Setelah bumbu berwarna keemasan dan harum, masukkan ayam suwir ke dalamnya, aduk-aduk hingga bumbu merata. Tambahkan air, dan tunggu hingga airnya menyusut habis. Jangan lupa dicicipi, dan koreksi rasanya jika masih ada yang kurang pas. Jadi deh!!!

Simpel banget, kan?! Kenapa saya ingin membagikan resep sederhana ini? Karena selain simpel, Alhamdulillah hasil masakan saya semalam tergolong enak menurut saya sendiri dan Mas Suami. Haha, subjektif sekali, ya. Tapi beneran, menurut saya, resep ini bisa jadi solusi untuk yang gak suka daging bagian dada ayam seperti saya. Karna berhubung dagingnya di suwir-suwir, bumbunya bisa meresap dan yummy. Dimakan dengan sepiring nasi hangat, bikin pengen nambah terus =D Kata Mas Suami, "Kayak gini kok disuruh kurus, gimana caranya?!" =D

Berkarya di Tengah Keterbatasan

on
Selasa, 26 Juli 2016
Jaman kuliah dulu, saya pernah minder sekali. Hampir semua teman-teman saya menenteng laptop saat kuliah. Hotspot-an di jam-jam jeda antar-mata kuliah, gak perlu lagi ke warnet atau rental komputer untuk mengerjakan berbagai proposal. Sementara saya? Jangankan laptop, komputerpun saya gak punya. Saya masih mengandalkan warnet dan rental sebagai andalan.

Saat menginjak semester lima, saya sudah mulai bersiap mengerjakan proposal skripsi. Keinginan  untuk bisa punya laptop semakin menjadi-jadi. Tapi apalah daya, saya cuma bisa nangis. Nangis, karna mau minta ke orang tua gak bakal tega, karna saya tau mereka bukan gak mau, tapi gak mampu. Mau nabung biar bisa beli sendiri juga lebih gak mungkin, karna uang saku saya untuk makan dan operasional sehari-hari saja mepeeeettttt banget. Dan yang lebih disayangkan, saya belum punya kemampuan untuk menghasilkan uang sendiri saat itu. Kenapa gak dari dulu ya saya kenal job review =D

Sejak belum punya laptop, saya sudah suka menulis. Meski baru menulis yang pendek-pendek. Sudah mulai belajar menulis FF untuk event yang digawangi oleh Mbak Leyla Imtichanah dan ternyata turut dibukukan dalam sebuah buku antologi, juga mulai getol belajar menulis cerpen untuk event-event antologi kroyokan yang saat itu hits sekali di dunia perfesbukan. Biasanya, saya menulis draft-nya dulu di kertas, lalu mengetiknya saat sedang ada jadwal ke warnet. Atau sesekali saya meminjam laptop milik teman. Dalam hati saya berjanji, jika kelak akhirnya saya punya laptop, saya janji akan lebih rajin menulis dan menghasilkan lebih banyak karya.

Sampai akhirnya -- menjelang saya skripsi, kakak laki-laki saya berbaik hati membelikan saya laptop sekadarnya dari sisa gajinya. Kenapa saya sebut sekadarnya? Karna laptop yang ia belikan adalah laptop milik temannya, yang sudah mengalami beberapa gangguan dan akhirnya dijual dengan harga rendah. Tapi tak masalah, saya amat bahagia saat itu. Meski tidak saya pungkiri, saat mengerjakan skripsi dengan lptop tersebut kesabaran saya benar-benar diuji. Laptopnya sering sekali ngadat, error, hang, dll. Kenangan lucunya, pada suatu malam - ditengah-tengah mengerjakan skripsi dan laptop yang kembali ngadat - saya menangis sambil berdoa dan membelai-belai laptop tersebut. "Ya Allah, semoga laptop ini bisa sehat sampai skripsi saya selesai...", dan percaya gak percaya, hingga skripsi selesai laptopnya tiba-tiba jadi sehat. Dan setelah skripsinya selesai dia kembali ngadat. Haha, tampaknya saya salah doa, ya =D

Sayangnya, meskipun sudah punya laptop, tampaknya saya mengingkari janji yang saya buat pada diri sendiri. Dulu saya berjanji akan lebih banyak berkarya, nyatanya sama sekali tidak. Saya masih belajar nulis, tapi tetap seadanya -- tidak lebih keras, masih biasa saja. Alibi saya banyaaakkk. Laptop yang sering bikin jengkel lah, gak ada waktu karna sudah mulai kerja lah, dll.

Hingga akhirnya, awal tahun baru 3 tahun yang lalu (kalau gak salah), saya bertemu seseorang yang memberikan contoh langsung tentang berkarya di tengah keterbatasan itu sesuatu yang sangat mungkin. Buku tentang berkarya di tengah keterbatasan sepertinya sudah banyak, tapi bertemu pelakunya langsung saya jarang (atau malah belum pernah?). Dan pertemuan dengan orang dengan sikap tersebut bagi saya benar-benar tamparan sekaligus nikmat. Tamparan dan nikmat yang membuat saya malu pada diri saya sendiri.

Nah, siapakah dia?

Dia adalah Jiah Al Jafara, seorang blogger muda dari kota Jepara. Pertama kali bertemu dia, saya bahkan belum sedikitpun tau dia siapa. Alamat blognya pun saya belum tau. Saat itu kami kopdar berempat, saya-Mbak Esti-Mbak Susi-Jiah, dan baru Mbak Esti-lah yang saya kenal. Saat itu saya memang masih awal sekali menekuni dunia bloging. Saya masih menjadikan blog murni sebagai sarana curhat semata, dan belum bergabung dengan satupun komunitas Blogger. Jadi, dari manalah saya tau siapa itu Jiah =D

Baca cerita kopdar pertama saya dengan jiah di SINI.

ini foto kopdar pertama kami :)
Jujur saja, pertama kali bertemu Jiah, saya sama sekali gak nyangka Jiah adalah blogger yang udah sekeren itu -- identitasnya sebagai blogger sudah diakui banyak orang. Ya gimana enggak, dia saat itu usai memenangkan sebuah lomba blog yang hadiahnya liburan ke Bali. Wow! Sesuatu yang belum terbayang sedikitpun di benak saya akan bisa didapatkan dari dunia bloging. Padahal, jujur saja saya sempat menganggap remeh Jiah saat itu. Saat itu Jiah berpenampilan sederhana sekali, benar-benar khas anak kampung (cocok dengan tagline blognya yang berbunyi 'The Power of Anak Kampung'), sama seperti saya. Bedanya, saya anak kampung yang pernah sok-sokan ingin terlihat 'kota', dan akhirnya gagal. Haha. Tetap menjadi anak kampung ternyata nikmat =)) Melihat blognya pertama kali pun saya sempat mencibir. Tampilannya apa adanya sekali, belum lagi pilihan warnanya yang saya gak suka (Inget warna blogmu yang hitam-hijau itu, Ji? =D) *sungkem sama Jiah*. Tapi begitu melihat deretan komentar di setiap tulisannya, wuiiihh, minder seketika! Pembaca blognya Jiah sudah banyak sekali. Sedangkan blog saya saat itu pembacanya masih saya sendiri. Hahaha.

Lalu, apa hubungannya sosok Jiah dengan tema 'berkarya di tengah keterbatasan'? Karna Jiah adalah seorang blogger tanpa modal laptop atau komputer. Ia berkarya dengan fasilitas sangat seadanya. Saat saya tanya tentang bagaimana ia mengikuti lomba blog yang hadiahnya liburan ke Bali itu, dia bilang sering ngedraftnya lewat HP. HP-nya pun saat itu seingat saya bukanlah HP mahal dengan fasilitas mumpuni jika digunakan untuk ngeblog. Tapi lihatlah, postingan di blog Jiah hampir gak pernah macet.

Saya malu. Maluuuu sekaliiii. Saya pernah berikrar untuk lebih banyak berkarya saat sudah punya laptop. Nyatanya? Nol besar! Setahun terakhir ini bisa dibilang saya sudah gak punya laptop lagi. Sudah rusak. Dan ternyata, saya justru bisa berkarya sedikit lebih baik. Setidaknya blog ini sudah mulai ada yang baca.

Kesimpulannya, berkarya itu gak perlu menunggu punya fasilitas lengkap dan memadai. Karna sudah banyak orang membuktikan, di tengah segala keterbatasan, orang justru akan punya kemampuan berkali-lipat untuk melawan keterbatasan tersebut. Yang terpenting cuma satu: kemauan. Jiah salah satu yang sudah membuktikan.

TV, Yes or No?!

on
Jumat, 15 Juli 2016
Pas masih awal banget nikah dan mulai tinggal di kontrakan (iya, kami memutuskan mengontrak rumah dengan tujuan belajar mandiri, bukan karna saya takut tinggal sama mertua :v), Mas Suami sempet tanya, “mau beli TV gak, nok?”. Saya dengan (sok) mantap jawab, “gak usah, mas!” dan langsung disahut Mas Suami dengan tegas, “tak pegang omonganmu!” =D Beberapa menit kemudian agak nyesel sama jawaban tersebut. Haha.

Dulu saya memang pernah punya keinginan (idealisme tepatnya) bahwa saat sudah berumahtangga nanti, saya ingin tak ada TV di rumah kami. Saya ingin anak-anak saya gak teracuni sama acara-acara TV yang semakin hari semakin gak jelas arah-tujuannya.

Yah, tapi apalah saya ini. Cuma seorang istri dan calon ibu yang masih suka galau dan plin-plan =D sudah beberapa kali saya merevisi jawaban saya tempo hari pada Mas Suami, dan mencoba bernegosiasi, “gimana kalau kita beli TV, mas?”. Sejujurnya, saya malu. Tapi gimana dong?! Haha. Etapi, si Mas kekeuh pegang jawaban saya tempo hari. Dia bilang, saya harus belajar konsisten, gak boleh plin-plan. Huhu, nasib -_-

Saya sebenernya gak hobi banget nonton TV sih. Beneran! Duh, makin hari makin minim acara yang bagus dan menarik, apalagi sinetron, dadaahh bye-bye deh! Kalaupun nonton TV, acara yang menarik menurut saya paling infotainment sih. Huahahaha. Mas Suami bully saya terus gara-gara itu. Acara super gak penting, katanya. Dih, ya biarin sih. Beliaunya juga hobinya nonton berita terbaru manchester united 2016 sindonews. Itu ghibah show juga gak sih? Hehe.

soccer.sindonews.com
Ada juga kondisi-kondisi dimana saya merasa butuh TV. Buat apa? Buat nemenin saya kalo si Mas lagi butuh keluar rumah. Iya, saya sering menyalakan TV sekedar biar ada suara aja, jadi saya gak merasa kesepian dan sendirian. Nah, saat ada berita terbaru manchester united 2016 sindonews itulah si Mas Suami juga merasa butuh TV seperti saya. 

Seperti bulan Ramadhan kemarin, saat Mas Suami harus pergi dari sebelum waktu buka puasa sampai sekitar jam 9 malam karena beliaunya jadi panitia tarawih bersama keluarga besar yayasan tempat kami kerja. Tadinya saya mau ikut sih, cuma karna setrikaan banyak, yaudah deh saya akhirnya gak ikut. Kebayang gak gimana krik-kriknya saya di rumah sendirian, malem-malem, dan tanpa TV. Haduuuhhh, merinding cyiinn -_- tapi saya gak kehilangan akal dong. Akhirnya saya youtube-an. Untung punya kuota, hihi. Begitu Mas Suami sampai rumah, saya cerita kalau tadi saya Youtube-an biar gak sepi. “Beuh, boros kuota dong,” sahut beliau. Tak cubit langsung lah perut gendutnya, siapa suruh gak mau beliin TV -_-
Tapi kalo saya pikir-pikir ulang, kayaknya memang lebih baik gak ada TV aja deh. Kalau gak ada TV, begitu sampai rumah, kita biasanya ngobrol ringan, memupuk cinta dan kemesraan #cieeehhh. Coba kalau ada TV? Pasti momen seperti itu akan terkurangi kalau ada TV. Apalagi kalau lagi ada film box office yang tayang di stasiun televisi swasta, udah gak bakal bisa deh ngajak Mas Suami ngobrol. Yang ada bakal dikacangin -_-

Yasudah, akhirnya dengan lapang dada saya rela gak punya TV dulu. Entah sampai kapan, saya gak tau. Semoga sih saya bisa konsisten sama komitmen saya itu ditengah berbagai godaan =D lagian, banyak banget barang elektronik yang lebih penting untuk dibeli bagi kami yang baru berumahtangga ini. Apa salah satunya? Mesin cuci!

Kado Lebaran: Positif! :)

on
Rabu, 13 Juli 2016
Sisa-sisa suasana lebaran kayaknya belum benar-benar hilang, ya. Terutama sih sisa-sisa ‘malasnya’ gara-gara libur lumayan lama, termasuk libur ngeblog. Tapi yuk ah, gak boleh terus-terusan malasnya!
Lebaran. Momen yang membahagiakan, sekaligus horor buat sebagian orang. Kok bisa? Bisalah! Apalagi kalo bukan soal berbagai pertanyaan kapan – kapan lulus, kapan nikah, kapan hamil dan kapan-kapan yang lainnya. Iya apa iya? Hehe.

Sejak menjelang Ramadhan, saya sudah optimis sih bakal merdeka dari pertanyaan ‘kapan nikah’ yang telah menghantui saya di lebaran beberapa tahun terakhir. Soalnya kan Alhamdulillah saya udah nikah beberapa minggu sebelum Ramadhan. Hihi. Tapi saya tau, akan ada ‘kapan yang lain’ yang menghantui saya. Ya apalagi kalo bukan pertanyaan kapan hamil! Eh, tapi di kasus saya, karana nikahnya belum lama, redaksi pertanyaannya bukan kapan hamil ding, melainkan ‘sudah hamil belum?’.

Kalo sebagian artis menjawab, ‘kami gak ngoyo, sedikasihnya aja’ ketika ditanya soal rencana memiliki anak, saya beda. Jujur, saya cenderung ngoyo sih memaang. Meskipun ya tetep yang menentukan tetap Allah. Tapi saya ngoyo bukan gara-gara ngejar target biar merdeka dari pertanyaan di atas lho, bukan! Jadi kenapa saya ngoyo soal anak? Kalian tau, saya sudah pengeeeennn banget hamil sejak kuliah. Saya selalu iri tiap lihat wanita sedang hamil. Hihi, aneh ya. Yang kedua, salah satu tujuan utama pernikahan kan memang melanjutkan keturunan, kan? Apalagi saya punya cita-cita punya tujuh anak, sedangkan umur saya udah seperempat abad. Hehe.

Kebetulan, saat hari H pernikahan, saya sedang kedatangan tamu – hari kedua pula. Kebayang gak kayak apa rasanya? Perut sakit, was-was takut tembus pula. Tapi ada rasa syukur (tau gak, ini salah satu doa gak penting saya sejak lama lho: nikah saat mens. Hihi), karna dengar slentingan orang-orang sekitar yang bilang kalo nikahnya pas mens itu Insya Allah tokcer, alias langsung ‘jadi’. Jelas dong saya meng-aamiin-kan dengan sepenuh hati.

Mungkin itu yang bikin saya optimis banget akan langsung hamil di bulan pertama pernikahan. Saking yakinnya, badan saya secara gak sadar seperti tersugesti. Saya sempet merasa mual-mual, yang bikin saya semakin Ge-Er. Saya sibuk cari info tentang tanda-tanda awal kehamilan, dan merasa tanda-tanda tersebut sama dengan apa yang saya rasakan. Hingga tiba saatnya, di tanggal 2 Juni 2016, semua ke-GR-an saya itu luluh lantak. Saya kembali kedatangan tamu! Saya sedih, tapi gak sampai nangis. Mas Suami sudah wanti-wanti dari awal memang – karna dia tau saya mudah banget patah hati ketika mendapati keadaan gak sesuai harapan saya – boleh berharap, tapi serahkan semua pada Allah. Allah yang tau kapan waktu yang tepat, dan kapan kita benar-benar siapa serta pantas. Tapi tetep aja gejolak perasaan yang bikin gak nyaman selalu menyusupi hati saya. Sempet juga ada ketakutan, apa saya gak sehat ya. Pikir saya yang masih polos (iya-in aja!), kalo suami-istri sama-sama ‘sehat’ itu, pasti akan langsung ‘jadi’ di bulan pertama pernikahan. Tapi anggapan saya itu langsung berubah ketika saya bertanya pada beberapa orang teman tentang di bulan keberapa pernikahan mereka akhirnya hamil (Hehe, ini hobi baru saya di bulan pertama pernikahan), saya kembali optimis. Banyak ternyata di antara teman saya yang hamil di bulan ke-4 sampai ke-6 pernikahan.

Di tengah perasaan patah hati dan was-was, alhamdulillah saya ketemu sama tulisan Mbak Widy (widyfarma.com) dan Mbak Puput Utami (pupututami.com) tentang tema ini. Tentang mereka yang juga sempat merasakan patah hati seperti saya, sebelum akhirnya hamil saat mereka justru sudah tawakal sama Allah. Persis seperti yang selalu Mas Suami bilang, serahkan semua sama Allah sambil kita terus berikhtiar. Aha, saya nemu poinnya. Ikhtiar mungkin sudah, tapi rasa berserahnya pada Allah yang saya belum punya.

Memasuki bulan kedua, perlahan-lahan saya membangun rasa berserah tersebut. Saya mencoba menyadari dan meyakini sepenuhnya, bahwa Allah adalah Sang Pengatur Skenario terbaik. Allah yang paling tau kapan saya dan Mas Suami siap dan pantas menerima titipan tersebut. Tapi bukan berarti saya menghentikan ikhtiar. Saya baca banyaaakkk sekali artikel tentang 'tips supaya cepat hamil'. Saya catat baik-baik makanan apa yang baik untuk dikonsumsi baik oleh suami ataupun istri ketika program hamil. Saya juga menggunakan kalkulator masa subur yang disediakan oleh salah satu web untuk melihat kapan masa subur saya.

Sekitar sepuluh hari menjelang jadwal menstruasi saya, saya sudah mulai menata hati. Meskipun masih ada sedikit rasa patah hati, saya sudah merasa lebih siap jika ternyata bulan ini saya mens lagi. Soalnya, beberapa tanda sudah mulai saya rasakan. Sebenernya saya pengen cuek sama jadwal mens. Tapi gimana ya, saya adalah orang yang merasakan sederetan tanda ketika mau mens. Nah, karna badan saya sudah capek-capek semua, punggung sakit, payudara sakit, yasudah, fix saya sebentar lagi mens, begitu batin saya. Cuma sempat merasa aneh juga. Kan biasanya tanda-tanda menjelang mens hadir sekitar enam hari sebelum mens, kok ini cepet banget? Tapi saya tetep segera beli pembalut sih, buat persiapan. Selain persiapan menjelang mens, saya juga semangat banget menyambut akan datangnya masa subur selanjutnya, untuk 'berikhtiar' lagi. Saya beli vitamin E, sari kurma, habbatussauda, dan madu. Itu beberapa suplemen yang konon sangat baik dikonsumsi saat program hamil.

Tanggal 29 Juni 2016, H-7 hari lebaran, harusnya merupakan jadwal mens saya. Seharian saya bolak-balik ke kamar mandi entah berapa puluh kali -- untuk mengecek. Sampe sore, tamu saya belum juga hadir. Mas Suami langsung warning, jangan GR dulu! Besoknya, saya masih bolak-balik ke kamar mandi lagi, masih tetep gak mens -- padahal teman-teman sekantor saya yang biasanya mensnya barengan sudah pada mens.

Sampai pada tanggal 4 Juli 2016 (H-2 lebaran), saat posisi saya sudah di kampung halaman, saya dipaksa oleh kakak laki-laki saya untuk mengetest dengan menggunakan testpack. Alasannya, semakin cepat tau semakin baik, agar bisa lebih berhati-hati dan memberikan yang terbaik sedini mungkin. Saya mengiyakan, tapi Mas Suami masih sempat bimbang. Lagi-lagi dia takut saya patah hati kalo ternyata hasilnya negatif. Tapi setelah beberapa pertimbangan, Bismillah, akhirnya tanggal 4 Juli 2016 menjelang sahur, saya mencoba memakai testpack. Gimana rasanya? Di dalam kamar mandi saya gemetaran, terutama saat menunggu hasilnya. Dan ternyataaa.... garis dua alias positif!!! Masya Allah... saya bener-bener gak tau harus gimana dan harus bilang apa waktu itu. Gemetar. Keluar dari kamar mandi, saya menyerahkan testpack yang saya masukkan ke kemasannya lagi pada Mas Suami yang masih setengah mengantuk. Setelah membuka, ekspresinya sama kayak saya. Ekspresi blank. Haha. Lalu disambut ucapan hamdallah oleh keluarga saya yang lain.

Positif!

Subhanallah walhamdulillah... Entah bagaimana harus saya haturkan rasa syukur saya pada Allah atas karunia ini. Saat menulis ini, Insya Allah usia kandungan saya berusia enam minggu. Mohon doa dari teman-teman semua agar Allah berikan kesehatan, kelancaran serta keselamatan hingga proses melahirkan nanti. Aamiin.

Lebih terharu lagi ketika mengingat, betapa lebaran dua tahun terakhir ini merupakan lebaran yang amat luar biasa dan  tak terlupakan. Jika lebaran tahun lalu saya dikasih kado dari Allah berupa ujian sabar, lebaran tahun ini saya dapet kado berupa ujian syukur. Allhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah...

Baca: Lebaran Tak Terlupakan

Maafkan cerita saya yang terlampau panjang. Hihi

Tentang Pernikahan dan Rumah Tangga Baru

on
Sabtu, 02 Juli 2016
Beberapa orang pasti akan melewati masa dimana ia akan menikah dan memiliki rumah tangga yang akan mengubah hidunya. Mengubah cara pandang, cara berpikir serta cara mereka menjalani segala hal. Nah.. Mumpung masih muda nih, mumpung belum menikah, ada beberaa hal yang harus kamu tau tentang pernikahan dan rumah tangga, dan hal-hal tersebut gak akan pernah ada saat kamu masih sendiri atau punya pacar, semoga enggak pacaran ya..

Lelaki Sempurna Itu..

Banyak yang mendeskripsikan kesempurnaan lelaki adalah dari apa yang mereka lihat, yang kasat mata dan yang bisa dirasakan oleh orang lain. Kesempurnaan laki-laki, sesungguhnya bukan terletak di beberapa hal tersebut. Justru, hal-hal yang tidak nampak dan tidak kasat mata, adalah kesempurnaan tersembunyi yang harus kita perhatikan sebelum memilih calon suami. Cara melihatnya, tentu saja bukan bertanya langsung dengannya, melainkan bertanya dengan teman-temannya atau melihat bagaimana ia bersikap kepada ibunya. Tentu, sebagai orang yang akan memilih dan memiliki hak untuk menentukan pilihan, banyak kepo sana dan kepo sini kan. Manfaatkan ke kepoanmu untuk mencari tau sisi lain dia selain ketampanan hehe.

Jadi inget lagunya Lelaki Kardus yang viral itu, setidaknya.. Lelaki memang berbeda-beda, jeli jeli saja melihat mata hati, bukan hanya yang kasat mata saja karena sempurna itu tidak bisa kita lihat, tapi kita rasakan.

Pernikahan Sempurna itu..

Pernihakan, bukan hanya sekedar ijab qobul semata. Hanya menghadiri undangan Dian Maharani dan Vincent Setiadi saja misalnya, Pernikahan itu lebih kepada bagaimana kehidupan setelah acara tersebut. Pernikahan sempurna adalah yang bisa memberikan dampak positif setelahnya, saling memberi kasih sayang dan saling menghargai sesama pasangan. Bukan hanya semata karena cinta saja kita menikah, tapi karena kita butuh seseorang yang siap ada ketika kita menangis.

Rumah Tangga Baru

Awalnya.. Memang rumah tangga baru selalu terlihat indah dan romantis. Upload foto-foto mesra, namun.. Lama kelamaan, kita juga harus siap menerima kekurangan yang dimiliki oleh pasangan kita. Ada kalanya ritme rumah tangga naik turun. Misalnya saja, si Dian Maharani marah karena tidak diizinkan oleh suaminya Vincent Setiadi keluar rumah karena beberapa alasan. Disitu kita harus belajar menerima, bahwa.. Sekarang kita sudah berdua, dan harus mengutamakan kebutuhan suami dari pada diri sendiri. Semoga bermanfaat.

Lelaki Kardus Nova Rizqi Romadhon

Sebenarnya tidak kali ini saja generasi baru bangsa Indonesia menarik banyak perhatian bukan dalam arti positif melainkan sebaliknya. Setelah pemberitaan mengenai tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh beberapa bocah dibawah umur kini kembali kita dihebohkan dengan kehadiran sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Nova Rizki Romadhon yang berjudul “Lelaki Kardus.”

Lagu itu sendiri sebenarnya bercerita tentang keinginan bapaknya untuk menikah lagi namun mendapatkan tentangan dari sang ibu. Kemudian rasa sakit hati itulah yang dituangkan ke dalam lirik yang sebenarnya cukup menggugah namun sayangnya dibumbui dengan kata-kata yang tidak layak untuk diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya, atau kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang anak. Walau demikian, seharusnya kata-kata tersebut juga tidak sepantasnya kita dengarkan dari orang dewasa.

Lagu yang baru-baru ini menjadi viral baik di YouTube maupun di berbagai media menyedot cukup banyak perhatian. Dan untung saja pemerintah melalui menteri sudah mencoba untuk menghapus video tersebut dari youtube. Namun tentu saja ada banyak orang yang mungkin sudah mendownload dan mengcopy lagu tersebut dan lalu menguploadnya di channel yang mereka miliki. Namun tentu saja hal tersebut sudah cukup menunjukkan itikad baik dari pemerintah untuk menjaga generasi bangsa ini agar tidak semakin rusak.

Saya pribadi sebenarnya merasa cukup miris dengan kehadiran lagu ini, sebuah lagu yang sebenarnya sah-sah saja dinyanyikan oleh seorang anak terutama untuk mengungkapkan perasaan atau isi hati yang mereka miliki. Akan tetapi tentu saja sebagai orang tua yang sudah memiliki anak, saya pun tidak ingin jika hal tersebut menjadi contoh yang buruk bagi anak saya. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama sama sama seperti yang dirasakan oleh Vincent Setiadi teman saya yang juga sama-sama geleng-geleng kepala saat mendengarkan lirik lagu Lelaki Kardus yang dinyanyikan oleh Nova tersebut.

Jadi, rasanya wajar apabila saya maupun Vincent Setiadi dan beberapa teman yang lain kembali merindukan tembang-tembang lawas yang dinyanyikan oleh anak-anak inspiratif seperti bondan, maisi atau enno lerian dulu.

Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang memang menghibur selain memiliki nilai-nilai pendidikan yang bisa dijadikan sebagai media untuk membangun karakter anak. Dan bukannya lagu-lagu yang terkadang memang tidak seharusnya dinyanyikan oleh anak-anak.

Jika sudah seperti ini, tentu saja tidak banyak yang bisa kita lakukan selain menjaga diri sendiri maupun keluarga serta anak-anak yang akan menjadi pemimpin kita di masa depan. Jika sejak dini mental mereka sudah bobrok, tentu tidak banyak harapan yang bisa kita bebankan di pundak mereka. Jadi sudah sepatutnya kita berharap kemunculan lagu-lagu baru yang dinyanyikan oleh anak-anak inspiratif yang memiliki nilai-nilai edukatif maupun lirik-lirik positif.

Benarkah Ibrahimovic Pindah ke Manchester United?

Berita kepindahan Ibrahimovic dari klub lamanya, Paris Saint Germain ke Manchester United sebenarnya belum resmi diumumkan, terutama oleh pihak klub The Red Devils sebutan untuk Manchester United. Akan tetapi Zlatan Ibrahimovic yang merupakan pesepakbola gaek dan ternama serta terkenal ternyata sudah terlebih dahulu mengumpulkan kepindahannya ke Manchester United dengan menuliskan beberapa postingan di akun Twitter miliknya. Sontak hal tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah kepindahan tersebut benar adanya?

Entah mengapa tampaknya Ibrahimovic tidak begitu memperdulikan beberapa peraturan yang biasanya cukup dijaga seorang pemain sepak bola yang akan pindah ke klub lain. Biasanya kepindahan-kepindahan pemain sepak bola selalu dirahasiakan hingga pihak klub mengumumkannya terlebih dahulu.
Saya sebenarnya bukanlah penggemar sejati dari "Ibracadabra" julukan Ibrahimovic. Akan tetapi karena kepindahan pemain sepak bola yang sudah mencicipi berbagai Liga Liga terkenal di dunia mulai dari Belanda, Italia, Spanyol, dan terakhir di Prancis itu, mau tidak mau menarik perhatian saya dan Vincent Setiadi yang sejatinya adalah penggemar berat Manchester United.

Akan tetapi tentu saja kami tidak ingin terlihat terlalu excited dengan berita tersebut mengingat belum ada pengumuman resmi dari Club ManUtd. Walau demikian, tampaknya kemungkinan besar kepindahan ini akan benar-benar terwujud karena bukan rahasia lagi apabila sudah sejak lama ada banyak berita yang beredar dan isu-isu mengenai ketertarikan Manchester United terhadap salah satu juru gedor terbaik dunia ini.

Sebagai penggemar salah satu klub Liga Inggris, Manchester United, tentu saja yang maupun Vincent Setiadi berharap Ibracadabra mampu mengangkat kembali mental dan daya tarik sesungguhnya dari Manchester United yang selama ini hilang karena pergantian manajer dari Sir Alex Ferguson.

Dengan hadirnya beberapa pemain baru seperti Ibrahimovic dan beberapa pemain lainnya tentu saja akan menjadikan Liga Inggris lebih seru di musim berikutnya. tidak hanya karena beberapa pemain terkenal yang akan merumput di Liga Inggris, melainkan karena hadirnya beberapa Manager kelas dunia seperti Guardiola yang akan menangani Manchester City maupun Conte yang akan menangani Chelsea.

Peta persaingan Liga Inggris di musim depan terutama untuk klub klub papan atas tampaknya akan semakin sulit ditebak. Dan patut kita tunggu juga apakah akan ada kejutan-kejutan seperti musim lalu pada saat Leicester City menjuarai Liga Inggris.

Saya juga sangat berharap Manchester United akan mendatangkan pemain-pemain baru berupa pemain bintang atau pemain-pemain terkenal. karena tentu saja sebagai seorang penggemar kita pasti menginginkan klub yang kita sukai mendatangkan pemain pemain kaliber dunia yang tentu saja akan menawarkan tontonan seru dan aksi-aksi menarik pada saat mereka berada di lapangan.

Signature

Signature