Tampilkan postingan dengan label Arisan Link. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arisan Link. Tampilkan semua postingan

Peluang Penghasilan dari Macam-Macam Hobi. Coba Cek yang Mana Hobimu?

on
Kamis, 09 April 2020
Di era digital seperti sekarang ini, apa sih yang nggak bisa jadi peluang penghasilan? Kayaknya hampir nggak ada. Asalkan kita pinter mencari dan menemukan peluang tersebut.

Jadi, menghasilkan uang dari hobi seperti yang diidamkan banyak orang, sekarang sebenernya bukan hal mewah lagi. Siapapun bisa melakukannya. Sekali lagi, asalkan kita jeli mencari dan menemukan peluangnya.

Tapi pasti masih ada aja tuh yang belum ngeh dan masih bertanya-tanya, 'peluang penghasilan untuk hobiku ini apa sih sebenernya?'

Kalian kah salah satunya?

peluang-penghasilan-dari-hobi


Nah, yuk coba cek macam-macam hobi yang menghasilkan di bawah ini!

1. Hobi menulis

Siapa yang jaman SMP hobinya nulis di buku diary, hayooo? *angkat tangan tinggi-tinggi* Haha.

Mungkin itu salah satu tanda bahwa kamu punya hobi menulis. Nggak jadi soal meskipun 'cuma' nulis curhatan. Asal terus diasah, kemampuan menulismu pasti akan terus berkembang kok. Sambil terus mengasah kemampuan menulis, kamu juga bisa lho mendapatkan peluang penghasilan dari hobi menulis ini. Apa tuh?


Salah satunya bisa dengan nulis blog gini. Hehe. Bisa juga nulis buku kalau kemampuanmu sudah semakin mumpuni. Siapa tau kan bukumu bisa jadi best seller seperti karya-karyanya Tere Liye atau Dee, who knows? Harus optimis dong!

Nggak cuam itu sih sebenernya. Bisa juga dengan rajin nulis tentang review macam-macam produk di IG. Asal konsisten, bisa jadi akan banyak brand yang datang menawarkan kerjasama untuk minta dibuatkan review produknya olehmu. Oh, atau bisa juga kamu jadi content writer di media-media online yang buanyak sekali bermunculan sekarang ini.

Ayooo, semangat menulis yaa :)

2. Hobi membaca

Duh duh, ini kok kayak template jawaban jaman SD saat ditanya sama guru 'apa hobimu?' ya! Haha. Pasti jawabnya kebanyakan ya membaca. Urusan beneran hobi baca beneran atau enggak, pikir belakang. Xixixi.

Tapi bagi kamu yang hobi membacanya nggak sekedar basa-basi, bisa juga lho mendapatkan peluang penghasilan dari hobi super bermanfaat itu.

Biasanya, orang yang suka baca itu juga suka dan bisa nulis. Nah, gabungin deh tuh duo maut. Maka kamu bisa menjadi seorang resensor buku handal. Kalau tembus ke media besar, resensi buku itu dapet fee lho. Gurih lah pokoknya!

Kalian juga bisa menjadi seorang editor. Sekarang banyak kok yang membuka peluang untuk menjadi seorang freelancer editor, jika kamu memang belum siap untuk menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama.

3. Hobi menggambar

Ada yang mikir 'ih kayak anak kecil aja hobi menggambar!'. Eits, jangan salah. Di era digital gini, visual itu punya peran sangat penting lho. Maka, skill-skill yang berhubungan sama dunia visual juga punya banyak sekali peluang penghasilan. Dan lagi, hobi menggambar sama sekali enggak cuma untuk anak kecil kok.

Coba kepo-in beberapa nama di IG, seperti: @byputy, @ditut, @pinot, dan masih banyak lagi yang lain.

Mereka adalah orang-orang yang yang punya hobi menggambar, dan akhirnya menemukan peluang penghasilan dari hobinya tersebut.

Peluang itu di antaranya adalah, menjadi seorang ilustrator, membuat kain printing dengan gambar signature karyamu, dll.

4. Hobi memasak

Buibu pasti banyak banget nih yang punya hobi memasak?!

Daripada sekedar dicicip, dimakan, lalu nggak ada jejaknya, ayoo coba didokumentasikan resep-resepnya lewat blog dengan tema memasak atau di akun IG. Kalau kamu hobi tampil, boleh juga dibikin video tutorial memasaknya di channel Youtube. Siapa tau kan bisa jadi kayak Tasyi Farasya, Bunda Diah Didi, atau Mbak Ayu Diah Respatih :)

5. Hobi crafting

Ada yang punya hobi merajut? Atau bebikinan ala-ala DIY?

Bisa banget jadi peluang penghasilan lho itu! Gimana caranya?

Kalian bisa bikin video tutorial DIY-nya, atau bisa juga menjual hasil crafting kalian lewat media sosial. See? Nggak ada yang nggak punya peluang sekarang ini.

6. Hobi fotografi

Ada kan ya orang yang feed IG-nya tuh baguusss banget. Foto-fotonya super niat, dan hampir semua hasil jepretannnya sendiri. Jika kamuu salah satunya, ayo kembangkan hobi fotografimu itu!

'Ah, aku mah fotonya cuma pake kamera HP, gak punya DSLR!'

Iihh, jangan pesimis dulu. Pake kamera HP-pun kalau kamu pinter mengeksplore secara maksimal kemampuanmu, pasti akan tetap berkembang kok.

Banyak lhoo yang tadinya cuma iseng upload foto-foto bagus hasil jepretan kamera HP, terus sekarang nerima banyak job foto produk. Keren nggak tuh!

Kalau nggak percaya, cek aja hastag #uploadkompakan di IG.

7. Hobi menyanyi

Hibi menyanyi dan punya suara bagus sih sayang banget ya kalau cuma dipakai nyanyi di kamar mandi :(

Kenapa enggak bikin cover lagu, lalu diunggah di Channel Youtube-mu?

Bahkan sekarang banyak penyanyi cover yang nggak kalah kaya dibanding penyanyi asline, Hehe.

Dari tujuh macam jenis hobi di atas, adakah salah satunya merupakan hobimu? Jika ada, ayo jangan kasih kendor. Asah terus! Kunci utamanya tetap ketekunan ya. kalau sekear hobi terus nggak diasah, dilakukannya sesekali dan asal-asalan sih jangan berharap terlalu tinggi akan menemukan peluang penghasilan dari hobi tersebut :)

Tapi saran saya, fokus utamanya jangan ke penghasilan. Hobi yang menyenangkan kan yang bikin kita bahagia dan enjoy saat melakukannya. Kalau fokus utamanya adalah gimana caranya mendapatkan peluang penghasilan dari hobi, lalu jadi nggak enjoy melakukannya sih buat apa?

Lakukan saja dengan bahagia, asah dengan sungguh-sungguh, Insya Allah jalan rejeki akan terbuka :)

Selamat menemukan hobi dan peluang penghasilanmu yaaa!


Tips Ngeblog Untuk Pemula

on
Sabtu, 28 Maret 2020
Setiap share link postingan blog entah di status WA atau di FB, masih saja ada beberapa teman yang tanya, gimana caranya ngeblog? Gimana dulu awalnya saya ngeblog? Dan terakhir, gimana caranya bisa dapat uang dari ngeblog? Huehehehe.

Jenis pertanyaan terakhir itu selalu sukses bikin saya speechless.

Gimana nggak speechless sih? Mulai aja belum, udah tanya kapan dapat uang. Seriously? Emang sih, salah satu manfaat ngeblog yang saya syukuri sekali adalah menjadi salah satu pintu rejeki untuk saya. Tapi kan nggak bimsalabim langsung terima krincing-krincing gitu.

Ya mungkin ada sih Blogger yang baru mulai udah langsung panen rupiah. Tapi yakin deh, pasti mereka mulainya udah berbekal ilmu. Dan saya bukan bagian dari mereka. Beneran deh, waktu mulai ngeblog, saya tuh nggak ada kepikiran bakal menjadikan blog ini sebagai salah satu sumber penghasilan. Baru akhirnya bisa dapat penghasilan lewat blog ini kalau nggak salah setelah kurang lebih tiga tahun ngeblog. Dan itu Masyaa Allah senengnyaaa!

tips ngeblog
sumber: pixabay.com

Inget ya, tiga tahun. Jadi nggak ujug-ujug. Bisa sih lebih cepat dari itu. Banyak kok yang bisa. Tapi ya baliknya, harus tau ilmunya, dan ada usahanya.

Nah, daripada saya speechless tiap dapet pertanyaan-pertanyaan seputar tips ngeblog untuk pemula -- karna pada dasarnya saya memang bukan orang yang pandai menjelaskan sesuatu -- mending saya tulis aja deh tips ngeblog a la saya. Biar kalau ada yang tanya, tinggal kasih link tulisan ini. Hehe.

Tips Ngeblog Untuk Pemula

1. Bikin Akun Blognya

Ya iya dong. Masa mau ngeblog, tapi nggak punya blog? Xixixi

Tentang cara bikin blog, kalian bisa googling tutorialnya yaa. Buanyak kok. Kalau masih tetep ada yang dibingungkan, saya siap bantu Insya Allah. Kalau masih basci mah Insya Allah masih bisa. Kalau udah masuk advance, baru deh saya melambaikan tangan ke kamera.

2. Pilih Tema yang Sesuai Hobi/Passion

Demi kelancaran ide, pastikan kamu memilih tema blog yang sesuai dengan passion/hobi kamu. Kalau kalian suka masak, ya udah bikin aja blog tentang resep-resep masakan. Kalau kalian suka baca  buku, ya bikin aja blog buku, Dan seterusnya.

Tapi kalaupun kalian nggak pengen fokus hanya di satu tema, ya udah nggak masalah juga. Kayak saya ini contohnya. Campur aduk, hihi.

3. Nulis Aja Pokoknya

Nah, ini alasan kenapa blog saya isinya campur aduk. Karna prinsip saya, nulis aja pokoknya.

Dan kayaknya, ini wajib jadi prinsip utama blogger pemula. Nulis aja pokoknya. Nggak usah mikirin yang baca berapa orang, ada yang komentar nggak, kapan bakal dapet uang dari blog ini, Dll.

Beneran deh kalau pemula udah mikirin gituan, nggak bakal jadi nulis. Udah pusing duluan. Jangankan yang blogger pemula, yang blogger lama aja kalau mikirin segala Domain Authority, pageview, dan kawan-kawan uang puyeng duluan. Haha.

Dulu awal ngeblog tuh saya menjadikan blog seperti diary pribadi aja. Curhat nggak jelas. Dibaca sendiri, diedit sendiri, terus adakalanya akhirnya dihapus. Wkwkwkwk. Tapi saya terus aja nulis. Dulu pas rajin-rajinnya, seminggu bisa lebih dari dua kali nulis di blog ini. Sekarang mah sebulan sekali aja Alhamdulillah. Hehe.

Jadi, konsisten adalah kunci.

4. Banyak Baca

Yep, kunci biar kita bisa menulis dengan baik adalah banyak baca. Nulis apapun. Nulis status pun, kalau mau bagus ya harus banyak baca. Apa yang kita baca, akan tergambar dalam tulisan kita. Jadi kalau tiap hari bacanya status-status curhat nggak jelas, pasti kalau kita nulis status pun akan mirip-mirip seperti itu. Hehe, peace!

Dulu salah satu alasan kenapa saya tiba-tiba pengen bikin blog juga awalnya karna saya sukaaaa banget baca blog orang. Hari ini, blog-blog yang dulu sering saya baca udah pada gulung tikar satu per satu, hiks.
5. Cari Ilmunya

Nah, setelah ke-empat poin di atas susah kalian lakukan, lengkapi dengan pint ke-lima ini. Biar mantul.

Kalau udah mulai bisa konsisten nulis, sudah mulai tau seperti apa nulis yang baik, langkah selanjutnya dalah cari ilmunya. ilmu ngeblog tentu saja. Di titik ini, kalian udah boleh mulai mikir gimana caranya biar blog kalian menghasilkan uang.

Dan jangan salah. Ilmu soal ngeblog itu luaaaasss sekali. Tentang SEO lah, inilah, inulah. Jujur aja saya payah banget di point ini. Itu mungkin alasan utama kenapa udah sekian tahun, blog saya gini-gini aja. Hehe.

Nah, udah sih, lima aja tips ngeblog dari saya. Jadi gimana, masih minat mau ngeblog? Atau nggak jadi aja?

Jadi dooong. Ayooo, semangat. Saya selalu bilang ke teman yang tanya soal gimana biar rajin nulis, bahwa nulis itu menyembuhkan. Salah satu sarana self-healing terbaik. Sekalian buat sarana menghabiskan jatah dua puluh ribu kata per hari sebagai perempuan kan, hehe. Daripada habisnya dipakai ghibah, eeuuuhh.

Hayuk ngeblog. Dimulai, jangan cuma tanya-tanya tapi nggak mulai-mulai. Ups!


Ketika Lidah Mampu Menghancurkan Hidup Seseorang

on
Rabu, 09 November 2016

Beberapa hari lalu, seorang teman lama tiba-tiba nyapa lewat FB Messanger. Dia bahas soal Hanum Salsabiela Rais yang satu dasawarsa lebih menunggu hadirnya buah hati -- yang kebetulan baru saja saya share di FB. Dia bilang terenyuh dan merinding. Lalu obrolan berlanjut dengan dia cerita soal salah satu saudaranya yang juga lama nunggu hadirnya buah hati. Baru dua tahun sih. Tapi siapa yang berani bilang dua tahun itu sebentar? Kalo yang udah pernah tau rasanya nunggu, jangankan dua tahun, dua bulan tiga bulan aja bisa terasa lama banget, kan?

Teman saya cerita, bahwa saudaranya (sebut saja Melati, ya, biar gak ribet) baru saja cerai dari suaminya. Gara-garanya, si Melati ini ternyata sudah lama sakit. Bukan, bukan penyakit fisik, tapi sakit yang... emm, mungkin semacam depresi. Saya mulai tertarik mengikuti cerita teman saya. Dan ternyata lanjutan ceritanya bikin hati saya ngilu.

Beberapa bulan setelah nikah, si Melati ini gak kunjung dinyatakan hamil. Padahal, ya pastilah sudah sangat mengidam-idamkan. Orang yang sedang menunggu hadirnya buah hati (atau jodoh) itu, tanpa ditanya ini-itu aja seringkali sudah merasa tertekan, kan? Nah, apalagi kalau ditanya ini-itu, dikomentarin begini-begitu? Ohya, si Melati ini tinggalnya di desa -- dimana desa itu tingkat 'kepeduliannya' pada tetangga tinggi banget. Bahkan kadang hal-hal yang harusnya gak perlu dipeduliin -__- Singkat cerita, lama-kelamaan si Melati menunjukkan perubahan sikap. Dia jadi sering diem, susah banget diajak ngobrol bahkan sama suaminya sendiri. Kadang tiba-tiba teriak-teriak, nangis, dll. Wallahu a'lam sebabnya, tapi pihak keluarga hanya bisa meraba satu kemungkinan,  yaitu tertekan dengar omongan orang tentang dia yang gak kunjung hamil.

Saya gak tanya detail pengobatan apa aja yang sudah diusahakan sih. Gak tanya juga sudah dibawa ke psikiater apa belum. Teman saya keburu cerita tentang suaminya yang akhirnya menyerah dan memilih untuk menceraikan istrinya =( Sumpah, sedih banget dengarnya. Betapa kasian si Melati ini. Tapi kita juga gak bisa nge-judge suaminya gak setia, dll. Kita gak pernah ada di posisi dia, kan?!


Terlepas dari apakah sebab si Melati ini depresi beneran karna omongan para tetangganya atau bukan, saya lebih milih ambil pelajaran. Kalau memang benar itu sebabnya, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Lidah, dear, lidah. Bahwa ternyata lidah itu mampu menghancurkan hidup seseorang. Bahwa ternyata lidah itu terkadang benar-benar lebih tajam daripada pedang. Oke mungkin kita bisa bilang si Melati ini gak punya kelapangan hati bla bla bla. Tapi kalau kita mikir gitu, mungkin kita lupa bahwa kondisi psikis tiap orang itu beda. Bersyukurlah kalau kita dianugerahi psikis yang tegar dan sekokoh karang. Tapi jangan sampai bikin kita jadi gampang nge-judge orang yang yang psikisnya rapuh. Ah, gitu aja dipikirin segitunya, bla bla bla. Plis, jangan!

Sudah terlalu banyak lah bukti bahwa lidah mampu menghancurkan hidup seseorang. Jangankan seseorang, negara pun bisa. Lha aksi 4 November kemarin sebabnya kan ya gara-garanya lidah yang gak dijaga, kan? Ah, cukup, gak mau perpanjang bahas itu, hihi.

Ayolah, bareng-bareng kita mulai belajar jaga lidah. Gak perlu komentar atau nge-judge macem-macem, gak perlu juga basa-basi gak penting. Saya juga masih suka jutek dan berpotensi menyakiti orang lain sih. Makanya saya bilang, ayok bareng-bareng belajar. Ini bukan cuma soal ke seseorang yang sedang menanti hadirnya buah hati, ya. Ke teman yang belum nikah juga, atau ke seorang ibu yang gagal memberikan ASI Eksklusif pada bayinya.

Seperti yang pernah ditulis Mbak Irawati Hamid -- seorang teman Bloger dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, tentang hal-hal yang gak seharusnya kita katakan pada ibu yang gagal memberikan ASI Ekslusif pada bayinya. Mbak Irawati ini merupakan bloger yang dulunya juga gagal memberikan ASI Ekslusif pada bayinya, dan merasakan betapa frustasinya saat-saat seperti itu. Frustasi karena merasa gagal sebagai ibu dan merasa bersalah karena gak bisa kasih yang terbaik untuk anak. Sudah gitu, eeehh masih dikomentarin macem-macem. Coba bayangin gimana rasanya -____-. Kalau mau baca selengkapnya buat referensi untuk menjaga lidah saat ketemu teman yang gagal kasih ASI Eksklusif buat anaknya, monggo berkunjung ke blog Mbak Irawati Hamid.

Header Blog Mbak Irawati Hamid
Ohya, tambahan dikit. Di era digital gini, jaga lidah aja kayaknya gak cukup, ya. Harus jaga jari juga biar gak nyetatus nyakitin hati yang baca, atau komentar nyinyir atau bikin gak enak hati. Kalau ada orang yang sekarang gendut, jerawatan, kusut dll padahal dulunya enggak, ya cukup dibatin aja kali, yaaa... gak perlulah diungkapkan lewat komentar yang artinya bakal dibaca banyak orang. Itu beda tipis sama mempermalukan lho. Ini setengah curhat sih =P

Agar Bisa Bekerja Dengan Bahagia

on
Senin, 03 Oktober 2016
pixabay.com

Kerja adalah kegiatan yang akan kita lakukan rutin, lengkap dengan berbagai rule, tuntutan dan tekanannya masing-masing. Wirausaha macam jualan online sekalipun, pasti ada lah ya tekanannya. Jadi gak cuma yang kerja kantoran yang penuh tuntutan, tekanan dan aturan. Nah, apa jadinya kalau kita melakukan kegiatan rutin dan (hampir) setiap hari itu tanpa rasa bahagia? Atau jangan-jangan bahagianya cuma pas gajian aja? Duh, stres doang dong berarti?! Bisa bayangin gak kita melakukan sesuatu yang gak bikin kita bahagia itu tiap hari? Huaaa, bayanginnya aja ngeri menurut saya.

Maka, mengusahakan diri agar bisa bekerja dengan bahagia sepertinya merupakan sebuah keharusan. Karna kalau gak, siap-siap saja dicekam stress yang mengancam sewaktu-waktu. Nah, gimana sih cara agak kita bisa bekerja dengan bahagia? Ini beberapa cara yang saya lakukan. Siapa tau bermanfaat buat kamu :)

Jangan Bekerja Hanya Demi Uang

Kedengarannya klise sekali, ya. Klise atau muna? Tapi serius, kalau kita kerja hanya semata demi uang, kita cuma akan merasa tertekan. Yah, salah satu sifat jeleknya manusia itu kan susah merasa puas toh? Hari ini dapet gaji sekian, terpacu untuk bisa mendapat gaji yang lebih dari itu. Begitu seterusnya. Nah, gimana gak stress kalau kayak gitu?

Terus demia apa bekerja kalau bukan demi uang? Seperti kata Pak Ustadz, anggap kerja sebagai bagian dari ibadah kita pada Tuhan. Jadikan bekerja sebagai salah satu pembuktian bahwa kita mau berusaha untuk mendapatkan rizki. Lagi-lagi terdengar klise, tapi silahkan dibuktikan. kalau kita sudah bisa menanamkan mindset ini, Insya Allah bekerja akan terasa lebih ringan dan kita bisa bekerja dengan bahagia.

Cintai Pekerjaanmu!

Yup, ini juga cara yang ampuh agar kita bisa bekerja dengan bahagia. Sebagaimana rumah tangga akan sulit bahagia jika kita tak mencintai pasangan kita, kita pun akan sulit bekerja dengan bahagia jika kita tak mencintai pekerjaan kita.

Gimana bisa mencintai kalau dari awal kita memang gak suka bidang pekerjaan kita?

Seperti kata para bijak bestari, cinta selalu bisa diusahakan kan, say :) Salah satunya dengan terus belajar dan berusaha untuk menjadi expert di bidang pekerjaanmu. Saya lupa pernah baca di mana, yang jelas di tulisan tersebut dijelaskan bahwa kita akan lebih mudah mencintai pekerjaan kita saat kita sudah merasa expert di bidang tersebut.

Kalau tetep gak bisa mencintai pekerjaan tersebut, gimana dong? Nah, cara ketiga ini mungkin jauh lebih cocok.

Bekerjalah Sesuai Passionmu

Nah, kalau bekerja di bidang yang sesuai sama passion kita, rasanya akan jauh lebih mudah ya bagi kita untuk bisa mencintai pekerjaan kita. Seperti seorang teman Blogger saya yang bernama Akarui Acha. Ia yang memang sejak dulu menyukai dunia kepenulisan, memilih untuk bekerja di bidang yang sesuai dengan passionnya tersebut. Dan dari cerita-ceritanya di Blog pribadinya yang bertajuk "Taman Rahasia Acha", ia tampak amat menikmati pekerjaannya di bidang kepenulisan sebagai copywriter. Ketika kita bisa bekerja dengan bahagia, bukan gak mungkin potensi kita akan semakin tergali dan melejit. Seperti Acha yang tak berhenti sebagai copywriter saja, ia juga terus berkarya melalui tulisan di berbagai media bahkan buku.

Berusahalah Untuk Selalu Meminimalkan Konflik

Sesuka-sukanya kita dengan bidang pekerjaan kita, senyaman-nyamannya tempat kerja kita, kita akan susah sekali bahagia jika terlibat banyak konflik, terutama dengan teman kerja. Iyalah ya, gimana bisa bahagia kalau sama orang-orang yang membersamai kita selama bekerja aja kita gak nyaman? Yah, walaupun namanya hidup -- tidak terkecuali dunia kerja -- gak mungkin sih kalau bener-bener gak bakal ada konflik. Pasti ada. Tapi setidaknya kita berusaha untuk meminimalkan terjadinya konflik. Contoh paling sederhana, gak usaha nyinyir jadi orang. Karna kenyinyiran adalah salah satu penyebab konflik yang paling dahsyat. Haha.

Yup, empat cara diatas semoga bisa kita terapkan saat bekerja, dan membuat kita bisa bekerja dengan bahagia, ya. Rugi banget lah kayaknya kalau tiap hari kita mengerjakan sesuatu yang gak bikin kita bahagia. Iya, kan?

Kamu punya cara lain? Share yuk di kolom komentar :)


Berkarya di Tengah Keterbatasan

on
Selasa, 26 Juli 2016
Jaman kuliah dulu, saya pernah minder sekali. Hampir semua teman-teman saya menenteng laptop saat kuliah. Hotspot-an di jam-jam jeda antar-mata kuliah, gak perlu lagi ke warnet atau rental komputer untuk mengerjakan berbagai proposal. Sementara saya? Jangankan laptop, komputerpun saya gak punya. Saya masih mengandalkan warnet dan rental sebagai andalan.

Saat menginjak semester lima, saya sudah mulai bersiap mengerjakan proposal skripsi. Keinginan  untuk bisa punya laptop semakin menjadi-jadi. Tapi apalah daya, saya cuma bisa nangis. Nangis, karna mau minta ke orang tua gak bakal tega, karna saya tau mereka bukan gak mau, tapi gak mampu. Mau nabung biar bisa beli sendiri juga lebih gak mungkin, karna uang saku saya untuk makan dan operasional sehari-hari saja mepeeeettttt banget. Dan yang lebih disayangkan, saya belum punya kemampuan untuk menghasilkan uang sendiri saat itu. Kenapa gak dari dulu ya saya kenal job review =D

Sejak belum punya laptop, saya sudah suka menulis. Meski baru menulis yang pendek-pendek. Sudah mulai belajar menulis FF untuk event yang digawangi oleh Mbak Leyla Imtichanah dan ternyata turut dibukukan dalam sebuah buku antologi, juga mulai getol belajar menulis cerpen untuk event-event antologi kroyokan yang saat itu hits sekali di dunia perfesbukan. Biasanya, saya menulis draft-nya dulu di kertas, lalu mengetiknya saat sedang ada jadwal ke warnet. Atau sesekali saya meminjam laptop milik teman. Dalam hati saya berjanji, jika kelak akhirnya saya punya laptop, saya janji akan lebih rajin menulis dan menghasilkan lebih banyak karya.

Sampai akhirnya -- menjelang saya skripsi, kakak laki-laki saya berbaik hati membelikan saya laptop sekadarnya dari sisa gajinya. Kenapa saya sebut sekadarnya? Karna laptop yang ia belikan adalah laptop milik temannya, yang sudah mengalami beberapa gangguan dan akhirnya dijual dengan harga rendah. Tapi tak masalah, saya amat bahagia saat itu. Meski tidak saya pungkiri, saat mengerjakan skripsi dengan lptop tersebut kesabaran saya benar-benar diuji. Laptopnya sering sekali ngadat, error, hang, dll. Kenangan lucunya, pada suatu malam - ditengah-tengah mengerjakan skripsi dan laptop yang kembali ngadat - saya menangis sambil berdoa dan membelai-belai laptop tersebut. "Ya Allah, semoga laptop ini bisa sehat sampai skripsi saya selesai...", dan percaya gak percaya, hingga skripsi selesai laptopnya tiba-tiba jadi sehat. Dan setelah skripsinya selesai dia kembali ngadat. Haha, tampaknya saya salah doa, ya =D

Sayangnya, meskipun sudah punya laptop, tampaknya saya mengingkari janji yang saya buat pada diri sendiri. Dulu saya berjanji akan lebih banyak berkarya, nyatanya sama sekali tidak. Saya masih belajar nulis, tapi tetap seadanya -- tidak lebih keras, masih biasa saja. Alibi saya banyaaakkk. Laptop yang sering bikin jengkel lah, gak ada waktu karna sudah mulai kerja lah, dll.

Hingga akhirnya, awal tahun baru 3 tahun yang lalu (kalau gak salah), saya bertemu seseorang yang memberikan contoh langsung tentang berkarya di tengah keterbatasan itu sesuatu yang sangat mungkin. Buku tentang berkarya di tengah keterbatasan sepertinya sudah banyak, tapi bertemu pelakunya langsung saya jarang (atau malah belum pernah?). Dan pertemuan dengan orang dengan sikap tersebut bagi saya benar-benar tamparan sekaligus nikmat. Tamparan dan nikmat yang membuat saya malu pada diri saya sendiri.

Nah, siapakah dia?

Dia adalah Jiah Al Jafara, seorang blogger muda dari kota Jepara. Pertama kali bertemu dia, saya bahkan belum sedikitpun tau dia siapa. Alamat blognya pun saya belum tau. Saat itu kami kopdar berempat, saya-Mbak Esti-Mbak Susi-Jiah, dan baru Mbak Esti-lah yang saya kenal. Saat itu saya memang masih awal sekali menekuni dunia bloging. Saya masih menjadikan blog murni sebagai sarana curhat semata, dan belum bergabung dengan satupun komunitas Blogger. Jadi, dari manalah saya tau siapa itu Jiah =D

Baca cerita kopdar pertama saya dengan jiah di SINI.

ini foto kopdar pertama kami :)
Jujur saja, pertama kali bertemu Jiah, saya sama sekali gak nyangka Jiah adalah blogger yang udah sekeren itu -- identitasnya sebagai blogger sudah diakui banyak orang. Ya gimana enggak, dia saat itu usai memenangkan sebuah lomba blog yang hadiahnya liburan ke Bali. Wow! Sesuatu yang belum terbayang sedikitpun di benak saya akan bisa didapatkan dari dunia bloging. Padahal, jujur saja saya sempat menganggap remeh Jiah saat itu. Saat itu Jiah berpenampilan sederhana sekali, benar-benar khas anak kampung (cocok dengan tagline blognya yang berbunyi 'The Power of Anak Kampung'), sama seperti saya. Bedanya, saya anak kampung yang pernah sok-sokan ingin terlihat 'kota', dan akhirnya gagal. Haha. Tetap menjadi anak kampung ternyata nikmat =)) Melihat blognya pertama kali pun saya sempat mencibir. Tampilannya apa adanya sekali, belum lagi pilihan warnanya yang saya gak suka (Inget warna blogmu yang hitam-hijau itu, Ji? =D) *sungkem sama Jiah*. Tapi begitu melihat deretan komentar di setiap tulisannya, wuiiihh, minder seketika! Pembaca blognya Jiah sudah banyak sekali. Sedangkan blog saya saat itu pembacanya masih saya sendiri. Hahaha.

Lalu, apa hubungannya sosok Jiah dengan tema 'berkarya di tengah keterbatasan'? Karna Jiah adalah seorang blogger tanpa modal laptop atau komputer. Ia berkarya dengan fasilitas sangat seadanya. Saat saya tanya tentang bagaimana ia mengikuti lomba blog yang hadiahnya liburan ke Bali itu, dia bilang sering ngedraftnya lewat HP. HP-nya pun saat itu seingat saya bukanlah HP mahal dengan fasilitas mumpuni jika digunakan untuk ngeblog. Tapi lihatlah, postingan di blog Jiah hampir gak pernah macet.

Saya malu. Maluuuu sekaliiii. Saya pernah berikrar untuk lebih banyak berkarya saat sudah punya laptop. Nyatanya? Nol besar! Setahun terakhir ini bisa dibilang saya sudah gak punya laptop lagi. Sudah rusak. Dan ternyata, saya justru bisa berkarya sedikit lebih baik. Setidaknya blog ini sudah mulai ada yang baca.

Kesimpulannya, berkarya itu gak perlu menunggu punya fasilitas lengkap dan memadai. Karna sudah banyak orang membuktikan, di tengah segala keterbatasan, orang justru akan punya kemampuan berkali-lipat untuk melawan keterbatasan tersebut. Yang terpenting cuma satu: kemauan. Jiah salah satu yang sudah membuktikan.

Ibu Rumah Tangga dan Memasak

on
Rabu, 29 Juni 2016

Ibu rumah tangga dan memasak. Dua hal itu kayaknya sangat berhubungan erat, ya? Karna salah satu tugas penting seorang ibu rumah tangga adalah menyiapkan makanan bagi keluarganya. Ibu rumah tangga yang saya maksud di sini tuh ibu rumah tangga tanpa syarat ia harus ada di rumah 24 jam, ya. Ibu yang bekerja di kantor menurut saya juga tetep berhak disebut ibu rumah tangga.

Kembali soal Ibu rumah tangga dan memasak. Menurut saya pribadi, ibu rumah tangga wajib pandai memasak. Pandai itu bukan berarti harus bisa masak semua menu dari yang sederhana sampai yang rumit. Pandai yang saya maksud, seenggaknya ia tau harus diapakan ketika ada bahan masakan di depannya. Lagi-lagi menurut saya, lucu rasanya kalo ibu rumah tangga gak tau harus diapakan ketika ada bayam di depannya. Hehe.

Dari dulu saya selalu bercita-cita, saya selalu ingin berusaha menyiapkan sendiri makanan untuk keluarga saya. Mungkin efek dari kecil saya selalu melihat ibu saya gak pernah absen memasak buat kami. Bagi saya, ada cinta yang terkandung di setiap menu yang dimasak sendiri oleh seorang ibu atau istri. Dan saya ingin anak dan suami saya selalu merasakan aliran cinta melalui tiap suap makanan yang mereka makan setiap harinya :)

Tapi saya tau kok, banyak yang gak sepakat. Ada juga yang merasa bahwa memasak merupakan salah satu tugas yang bisa dilimpahkan ke orang lain -- ART misalnya. Gak salah sih, apalagi jika ia bekerja di kantor dengan jam kerja pagi hingga sore. Adakalanya kita kelelahan, atau memilih mengerjakan pekerjaan yang lebih penting. Yah, setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Hanya saja, sebagai seorang istri, bolehlah kiranya sesekali membuatkan makanan untuk suami tercinta. Gak mungkin kan selalu gak ada waktu? Weekend, misalnya.

Gak bisa masak? Ah, saya percaya, memasak itu merupakan skill yang bisa dipelajari setiap orang. Seperti yang dibilang oleh salah satu teman blogger -- Mbak Sri Rahayu. Beliau mengatakan, memasak itu mudah.

"Adakah manusia yang terlahir dengan kemampuan memasak? Tentu saja tidak.  Kemampuan memasak diperoleh melalui suatu proses coba-coba dan belajar.  Di sini siapapun dapat menguasainya, bukankah menjerang air adalah kegiatan memasak yang sangat mudah?  Mulailah memasak sesuatu yang mudah dan simple dengan perasaan yang senang, misalnya telur mata sapi, tempe goreng, telur dadar.  Pastinya andapun bisa melakukannya." Begitu tutur Mbak Sri. Dan saya mengamininya. Saya juga belum pinter masak. Masih sering gagal saat mencoba sebuah resep. Tapi seenggaknya saya berusaha, karna saya punya impian bahwa suatu saat suami dan anak-anak saya akan selalu merindukan makanan yang saya masak dengan tangan saya sendiri :)


Dalam postingan Mbak Sri Rahayu yang  berjudul Memasak Itu Mudah, beliau juga membagikan tips memasak mudah dan lezat. Salah satu pointnya adalah: Hilangkan semua pakem dan aturan. Itu saya banget. Saat sedang mencoba sebuah resep, saya gak mau direpotkan dengan pakem-pakem yang tertulis di resep jika sekiranya itu saya rasa sangat ribet, dan bisa diganti dengan cara a la saya sendiri yang lebih simpel. Hehe.

Dalam blognya, Mbak Sri Rahayu juga sering membagikan resep-resep lezat yang mudah cara membuatnya. Ah, bisa jadi salah satu referensi blog yang dituju saat sedang ingin mencoba menu baru nih :)

Yuk, belajar masak! Memangnya gak pengen suatu saat kita mendengar anak kita memuji di depan teman-temannya, "masakan ibu saya lezat sekali!" ?! :')

Warna-Warni Kisah Bertemu Jodoh

on
Selasa, 14 Juni 2016
Katanya, setiap orang punya kisah romantisnya masing-masing saat bertemu jodohnya. Jaman masih gadis belum nikah dulu, saya selalu penasaran, bakal kayak apa atau seromantis apa sih kisah saya bertemu jodoh nanti? Sebagai pelahap novel-novel cinta, saya memang pernah amat mendambakan kisah bertemu jodoh yang romantisnya seperti di novel-novel itu. Sampai salah satu teman merasa perlu menasehati saya agar berhenti dulu baca novel, biar dia pikir otak saya udah mulai teracuni sama kisah-kisah yang saya baca itu. =))


Dulu saya hobi sekali mengulik tentang kisah seseorang saat bertemu jodohnya. Ah, kayaknya sampai sekarang pun masih ding =P Kalo ada blogpost yang judulnya bertema seputar kisah bertemu jodoh, pasti akan langsung saya baca. Karna entah kenapa, seperti ada setruman perasaan bahagia saat membaca kisah semacam itu. Kan jarang ya kayaknya orang nulis kisah bertemu jodoh, tapi sambil sedih dan patah hati? Ternyata benar, kebahagiaan itu bisa menular =))

Saat pertama kali Mas Suami mengungkapkan keinginannya untuk meminang saya dulu, sempet terbersit pikiran gak penting saya. Duh, nikah sama teman sekantor, kok klise ya, gak romantis! Eheheheh. Komentar si mbak ipar ketika saya bilang gitu adalah: Please deh te, ini bukan sinetron atau novel, apa pentingnya hal seperti itu! Haha, iya juga sih. Tapi kalo sekarang saya pikir-pikir lagi, kayaknya kisah saya dan Mas Suami tetep ada sisi romantismenya deh. Terutama dari sisi gimana Allah mengatur skenario yang kalo ditarik mundur seperti 'sengaja' pelan-pelan menggiring kami sampai kisah ini. Halah, apa sih, kapan-kapan aja deh saya cerita di blogpost tersendiri kalau inget.

Tapi sebagai penggemar novel (meskipun udah lumayan lama gak baca novel), saya kurang setuju kalau ada yang menganggap kisah di novel itu berlebihan dan gak relevan sama dunia nyata. Hei, para penulis novel itu juga sebagain besar ambil inspirasinya dari dunia nyata loh (kecuali novel fantasi lah). Buktinya, setelah mendengar atau membaca kisah beberapa teman saat bertemu jodoh, banyak banget lho yang mirip, sama, bahkan jauh lebih romantis dari kisah di novel.

Kisah bertemu jodohnya Mbak Rohma Mauhibah dan suami salah satunya. Itu romantis banget. Sama-sama 'orang matematika', kenal lewat blog bertema matematika, terpisah jarak sekian ribu kilometer, bahkan benua, lalu akhirnya bertemu dan menikah dengan mahar buku matematika. Ahh, saya masih sangat sukaaa sama kisah mereka. Sialhkan ubek-ubek deh mezzalena.wordpress.com yang udah lama dianggurin sama Mbak Rohma =))

Minggu lalu, saya juga nemu satu lagi kisah romantis (sekaligus lucu) saat bertemu jodoh. Kisah ini milih Mbak Ade Anita, seorang blogger kondang yang orangnya cantik dan pipinya kayak bakpao (Piisssss, Mbak :D). Dalam tulisannya yang berjudul When I Met May Husband, Mbak Ade menceritakan tentang kisah pertama kali bertemu laki-laki yang kini menjadi suaminya. Sebenernya kisahnya gak ada romantis-romantisnya kalo dinilainya saat Mba Ade mengalami hal tersebut. Yang ada konyol =)) Tapi lain cerita kalo dikenang saat ini, kisah itu akan menjelma jadi kisah yang amat romantis. Saya gak akan menceritakan ulang di sini, kan udah saya kasih linknya, monggo di baca kalo penasaran. Haha.


Kini, pertemuan pertama yang konyol antara Mbak Ade dan suami telah membuahkan tiga orang buah hati, dan tumbuh menjadi keluarga yang amat menyenangkan di mata saya. Iya, saya suka banget mengikuti cerita Mbak Ade tentang keluarganya yang kadang ia bagi melalui akun facebooknya. Keluarga yang tampak ceria dan diliputi kebahagiaan. Semoga keluarga saya kelak bisa seperti itu, Aamiin :)

Kalo kamu, punya gak kisah bertemu jodoh yang jadi favorit kamu? Kisah orang lain atau kisah kamu sendiri, share yukkk... saya sukaaa banget baca kisah semacam itu :)

Mencintai Bumi

on
Selasa, 24 Mei 2016

Beberapa waktu lalu, Indonesia heboh soal plastik kresek yang dihargai Rp 200,- di beberapa supermarket. Ya bukan Indonesia sih ya kayaknya kalo gak heboh. Hehe. Jujur saat itu saya cukup heran. Kenapa ada orang-orang yang sebegitu kebakaran jenggot sih cuma gara-gara harus bayar Rp 200,-? Lagian misalnya memang gak mau, kan kita tetap punya pilihan untuk menolak toh?!

Kebijakan memungut Rp 200,- untuk setiap kantong plastik konon merupakan salah satu upaya pemerintah dalam rangka mengurangi konsumsi plastik. Harapannya, masyarakat jadi lebih memilih membawa kantong belanja sendiri dari rumah agar tak perlu membayar Rp 200,-. Meskipun pada kenyataannya sepertinya kurang efektif, terutama buat saya pribadi. Saya sama sekali belum bisa merasa keberatan membayar Rp 200,- yang akhirnya membuat saya mengurangi konsumsi plastik. Ah!

Padahal banyaknya konsumsi plastik pastilah berbanding lurus dengan jumlah sampah plastik. Sedangkan sampah plastik baru bisa terurai selama ratusan tahun. Lalu, apa kabar bumi kita jika sampah plastik semakin hari semakin tak terkendali?

Sayangnya, semakin mengkhawatirkannya kondisi bumi tak menjadikan kesadaran masyarakat untuk peduli pada usaha perbaikan dan kepedulian lingkungan semakin membaik. Mungkin termasuk diri saya sendiri, yang masih sering sekali abai pada isu-isu tentang lingkungan. Maka, saya sangat mengapresiasi jika bertemu atau mengenal orang yang punya kepedulian tinggi pada kondisi bumi.

Salah satunya adalah seorang teman Blogger, Mbak Evrina Budiastuti. Wanita bergelar Sajana Pertanian ini berprofesi sebagai Penyuluh Pendamping Lapangan bidang pertanian, sekaligus seorang Blogger yang mengelola blog pribadi dengan tag line "Menghijaukan Bumi Melalui Tulisan". Ia sering menulis artikel-artikel bertema lingkungan. Salah satu tulisannya yang mengggugah hati saya adalah tulisan berjudul "Apa Kabar Bumiku?". Dalam tulisan tersebut, Mbak Evrina memaparkan beberapa point kondisi bumi yang harusnya membuat kita merasa prihatin dan mulai menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi bumi. Ia adalah contoh nyata bagi kita, untuk mencintai bumi meski dengan cara yang sederhana, salah satunya dengan menyuarakan kepeduliannya melalui tulisan.

Selain melalui tulisan, rasa cinta Mbak Evrina pada bumi juga direfleksikan pada hobinya yang lain, yaitu mendaki gunung. Mbak Evrina telah berhasil menaklukkan beberapa gunung, termasuk menaklukkan mimpinya untuk bisa berdiri di puncak Mahameru. Wow, iri!

Membaca tulisan-tulisan Mbak Evrina di blognya, rasanya mulai membuka mata saya bahwa sudah saatnya kita turut menyumbangkan kepedulian dan rasa cinta pada planet tempat kita tinggal ini, meskipun dari hal yang terkecil. Dengan membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi konsumsi plastik, misalnya. Agar anak-cucu kita bisa turut merasakan kenyamanan tinggal di planet Bumi ini.

Yuk, cintai bumi dengan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan :)

Tips Membangun Hubungan Baik Dengan Mertua Dari Eni Martini

on
Senin, 02 Mei 2016
Entah kenapa saya amat tertarik tentang hubungan antara menantu wanita dengan ibu mertua, bahkan sejak saya masih gadis unyu-unyu (?). Bahkan, tulisan dengan pengunjung terbanyak, sekaligus dengan komentar-komentar paling dahsyat adalah tulisan yang bertema seputar menantu wanita dan ibu mertuanya.


Saya pernah ada pada fase dimana saya merasa takut sekali pada bayang-bayang sosok ibu mertua saya kelak. Tapi seiring berjalannya waktu dan kedewasaan yang semakin meningkat, saya mulai punya sudut pandang baru tentang bayangan sosok ibu mertua. Salah satu yang membantu saya menemukan sudut pandang baru mungkin adalah bergabungnya saya di grup obrolan yang para anggotanya sebagian besar terdiri dari para wanita yang sudah menikah.

Dari mereka saya belajar banyak tentang bagaimana memposisikan diri sebagai menantu wanita, dan bagaimana membangun hubungan baik dengan ibu mertua. Kenapa membangun hubungan baik dengan ibu mertua begitu penting? Karena bagaimanapun, seorang laki-laki (suami) tetap wajib menomorsatukan ibunya sebagai bentuk bakti, dan kita wanita (istri) wajib mendukung beliau dalam hal itu. Apa iya kita bisa dengan ikhlas mendukung suami menomorsatukan ibunya, sedangkan kita gak punya hubungan baik dengan beliau? Rasanya sulit.

Baca: Sosok Ibu Mertua (Yang Masih) Dalam Angan

Seperti minggu lalu. Saat terjadi obrolan seru di salah satu grup yang membahas tentang hubungan menantu wanita dan ibu mertua. Ternyata hal itu memang menjadi salah satu tantangan 'seru' di masa-masa awal pernikahan. Salah satu teman (lupa siapa) melontarkan sebuah kalimat yang membuat saya sadar. Kalimatnya kurang lebih, "Kita seringkali hanya sibuk mengurusi ketakutan kita pada sosok ibu mertua, dan kadang lupa bahwa ibu mertua juga punya ketakutan yang bahkan mungkin lebih besar. Takut apakah anak laki-laki yang selama ini ia rawat dan ia sayang, akan diurus dengan baik oleh menantu wanitanya atau tidak". Hihi, iya juga ya... Jadi kedua belah pihak sebenarnya punya ketakutannya masing-masing.

Salah satu anggota grup, yaitu Mbak Eni Martini -- seorang ibu dari 4 orang anak sekaligus blogger dan penulis novel -- juga sempat menceritakan pengalamannya dalam berusaha membangun hubungan baik dengan mertuanya. Ya, dalam kasus Mbak Eni, usahanya gak hanya dengan ibu mertua, melainkan juga dengan bapak mertua. Di beberapa tahun pertama pernikahan, hubungan Mbak Eni Martini dengan mertua cenderung agak alot. Mbak Eni Martini yang cenderung tomboy dan cuek, dipandang kurang sesuai dalam beberapa hal oleh mertuanya yang sangat 'njawani'. Konflik demi konflik terjadi, tapi Mbak Eni tetap teguh untuk berusaha untuk bisa mengambil hati mertuanya. Ia mengesampingkan segala ego, dan menanamkan dalam hatinya bahwa bagaimanapun, mereka (mertuanya) adalah orang yang telah membentuk laki-laki yang kini mencintainya. Dan keteguhan hatinya selama beberapa tahun akhirnya membuahkan hasil. Kini, hubungannya dengan mertua cukup harmonis.

Sebagai calon menantu wanita yang sebentar lagi Insya Allah agar segera jadi menantu, saya pun penasaran. Apa sih tips-tips untuk bisa membangun hubungan yang baik dengan mertua menurut Mbak Eni Martini? Nah, ini dia ternyata tipsnya :)

1. Tulus untuk segala hal yg kita lakukan

2. Menyadari sepenuh hati bahwa mereka adalah orangtua dari laki-laki yg mencintai kita

3.Jangan banyak cerita hal buruk mertua ke suami, karna bisa merenggangkan hubungan antara anak (suami) dengan orangtuanya

4. Tetap menjadi diri sendiri secara positif agar mertua dapat menerimamu apa adanya

5.Jangan kuasai suamimu, tapi juga beri batasan antara kewajibannya sabagai anak dan kewajibannya sebagai suami dan bapak

Lima point di atas, tentu saja harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing orang. Dari cerita Mbak Eni, inti yang saya tangkap untuk bisa membangun hubungan baik dengan mertua, hal pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan kesadaran bahwa bagaimanapun mertua adalah orangtua dari suami kita dan tanpa mereka suami kita gal akan jadi seperti yang kita kenal saat ini, bahkan mungkin gak pernah ada.

Berikut adalah beberapa karya Mbak Eni Martini yang bercerita tentang kehidupan  rumah tangga, termasuk hubungan antara mertua dan menantu:

Beberapa karya Eni Martini

3 Hal Tentang Mbak Ernawati Lilys Yang Pernah Jadi Impian Saya

on
Rabu, 30 Maret 2016
Hidup berawal dari mimpi, katanya. Ya, banyak orang hebat mengawali hal-hal luar biasa dari mimpi-mimpinya. Bill Gates, contohnya. Ia pernah bermimpi bahwa suatu saat, setiap rumah di dunia akan memiliki PC (Personal COmputer). Lihatlah, hari ini mimpinya hampir terwujud! Atau contoh lainnya yang lebih dekat adalah seorang anak muda Indonesia yang amat menginspirasi. Siapa lagi kalau bukan Merry Riana! Kondisi terhimpit telah membuatnya menancapkan mimpi untuk bisa memiliki kebebasan finansial sebelum umur 30 tahun. Dengan perjuangan yang amat total, mimpinya berhasil ia genggam.

Tapi, sebaik apapun kita menata mimpi, tetap ada Allah Sang Perencana Terbaik yang menentukan, apakah mimpi kita layak di ACC oleh-Nya atau tidak. Meski kata banyak orang, terwujud atau tidaknya sebuah mimpi, usaha adalah hal terpenting yang menjadi penentunya.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut, tapi adakalanya saya tidak setuju. Tentang mimpi memiliki anak misalnya. Bukankah setiap manusia normal memimpikan memiliki anak yang merupakan darah dagingnya sendiri? Tapi bukankah ada orang-orang yang diuji Allah dengan tidak diijinkan memiliki anak kandung? Nah, di situlah usaha sekuat apapun tak mampu memberikan pengaruh jika Allah tak berkehendak.

Saya juga punya banyak mimpi. Meski mimpi saya mungkin tak sehebat orang-orang di atas. Beberapa di antara mimpi saya ada yang di-ACC oleh Allah, ada pula yang tidak. Namun ada juga beberapa mimpi yang saya revisi ulang. Dunia ini tidak statis, kan? Apalagi tentang pikiran, rencana dan mimpi seseorang. Tentu saja akan sangat mungkin bisa berubah.

Seorang teman Blogger yang saya kenal (awalnya) melalui sebuah grup chatt blogger di WA mengingatkan saya pada beberapa mimpi saya itu. Ia adalah Ernawati Lilys. Menyimak kisah yang ia paparkan di grup, membaca potongan ceritanya di blog, dan mengamati akun facebooknya, membuat saya seperti bernostalgia mengingat beberapa mimpi saya yang salah satunya tak mampu saya raih, satunya lagi saya revisi, dan satunya lagi masih saya simpan. Apa saja 3 mimpi tersebut?


Mbak Ernawati Lilys dan 2 buah hatinya

1. Menikah MUDA!

Yippiii... ini mimpi saya saat masih duduk di bangku kuliah. Saat semangat belajar ilmu agama, termasuk tentang keutamaan menikah dalam Islam tengah menggelora pada diri saya dan teman-teman sekeliling saya. Saya ingin sekali menikah pada umur kurang dari 25 tahun! Nyatanya, Allah tidak meng-ACC mimpi saya tersebut.

Maka, membaca kisah Mbak Erna yang menikah di usia 24 tahun, ada sepercik rasa iri di hati saya. Apalagi membaca kisah pertemuannya dengan sang suami tercinta. Saat itu Mbak Erna tengah merantau (kost) di Bekasi dalam rangka bekerja sekaligus kuliah. Sedangkan sang suami merupapakan warga asli Bekasi, yang diam-diam tertarik pada si pendatang (Mbak Erna). Menurut Mbak Erna, laki-laki yang saat ini menjadi suaminya merupakan lelaki pertama yang dengan gagah berani dan mantap mendatangi orang tua Mbak Erna di Bogor untuk menyampaikan maksud hatinya. Meski sejak SMA banyak lelaki yang melamarnya atau 'sekedar' mengajaknya berpacaran, Mbak Erna tetap teguh pada prinsipnya. Mbak Erna juga berpesan pada para pencari jodoh (Plis, istilah apa ini :D) agar memilih lelaki yang tegas berani datang ke rumah dan meminta restu pada orang tua, bukan sekedar bilang ingin ngajak menikah di pinggir jalan :D

2. Menjadi Penulis

Bagian ini paling membuat saya berdecak kagum, sekaligus malu pada diri sendiri. Dulu saya pernah bermimpi akan menulis sebuah novel, dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Nyatanya? Nihil hingga hari ini! Hehe. Draft novel saya yang sudah mencari seratus halaman lebih teronggok begitu saja di laptop, dan tak pernah saya sentuh lagi -- dengan berbagai alibi.

Sedangkan Mbak Erna, lihatlah deretan karyanya di sini. Statusnya sebagai ibu rumah tangga yang kita tau tugasnya hampir tidak pernah ada jedanya, sekaligus ibu dari dua orang anak yang masih balita tak menjadikan ia berhenti berkarya. Totalitasnya pada passion menulisnya amat luar biasa. Selain melahirkan karya-karya berbentuk buku, Mbak Erni jus amat giat mengelola blognya. Bahkan kata Mbak Erni, ia hampir selalu ingin menulis. Jeda saat mencuci pun ia ingin menulis. Bahkan ketika tak ada laptop pun, Mbak Erna tidak sungkan menulis di buku tulis. Luar biasa!!

3. Menjadi Stay At Home Mom

Lagi-lagi ini mimpi saat di bangku kuliah. Saat idealisme masih menggelora. Jadi ibu rumah tangga, total mengurus anak dengan tangan sendiri, dll. Tapi semakin ke sini, saya merasa impian yang ini mungkin harus saya revisi dulu. Tentu impian sangat memungkinkan untuk kembali mengemuka.

Dan Mbak Erna membuat saya sadar, yakin dan jadi tidak takut jika sewaktu-waktu nanti harus menjadi stay at home mom. Mbak Erna membuktikan, bahwa meskipun tidak berkarir di luar rumah, Mbak Erna bisa tetap menjaga eksistensinya, bisa tetap menggali potensinya dan mengembangkan passionnya di dunia menulis.

Senang sekali rasanya bisa mengenal Mbak Ernawati Lilys. Dengan mengenal beliau, saya merasa ikut bahagia melihat cerminan impian saya terpantul dari sosoknya, meskipun impian tersebut belum kuasa saya genggam.

Bertemu Orang Baru

on
Rabu, 16 Maret 2016
Bertemu orang baru itu ada yang bilang seperti saat kita membuka kado. Kita tidak tau seperti apa isinya, dan akan selalu ada dua kemungkinan, yaitu suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, bermanfaat dalam jangka waktu lama atau hanya dalam waktu sekejap. Sama seperti saat bertemu orang baru. Kita tidak pernah tau seperti apa karakter orangnya, meskipun sebelum bertemu secara langsung, kita sudah mengenalnya cukup lama di dunia maya. Sering kan ya, saat kopdar kita bertemu dengan orang yang ternyata karakternya berbeda dengan apa yang kita sangka berdasarkan kehidupan dunia mayanya? Sama juga seperti membuka kado tadi, bisa jadi kita akan merasa 'klik', bisa jadi tidak. Bisa jadi pertemuan tersebut akan berlanjut menjadi pertemanan jangka lama, bisa jadi hanya selintas lalu -- seperti jika kita dikado makanan. Hehe.

Saya termasuk orang yang kesiapan bertemu orang-orang barunya tidak cukup baik. Simpelnya, saya kurang percaya diri alias minderan. Setiap hendak bertemu orang baru, saya pasti grogi. Sibuk bertanya-tanya dalam hati, 'orangnya seperti apa ya, karakternya bagaimana, nanti nyambung gak ya obrolannya, ngobrolin apa ya', dan pertanyaan yang oaling menghantui adalah, 'saya diterima dengan baik gak ya'. Hehe.

Perasaan-perasaan tersebut rasanya bak penjajah yang terus mengintimidasi, dan menjadi penghalang saya untuk berkembang. Maka, perlahan-lahan saya berusaha untuk menumpas perasaan itu. Dan salah satu aktivitas yang membantu saya dama usaha menumpas perasaan di atas adalah ngeblog ini.

Dengan ngeblog, Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa teman baru. Teman yang mulanya hanya berinteraksi di dunia maya, beberapa ada yang akhirnya berkesempatan bertemu di dunia nyata. Dan Alhamdulillah, sejauh ini ketakutan-ketakutan saya seperti di atas sama sekali tidak terbukti. Beberapa di antaranya yaitu, Mbak Ella Sofa, Mbak Susindra, Jiah, Mbak Esti, dan yang terakhir adalah Mba Muna Sungkar yang saya temui hari senin lalu.

Mbak Muna Sungkar, pemilik blog www.momtraveler.com, merupakan seorang Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi sekaligus Fakultas Bahasa di Universitas yang bernaung di bawah Yayasan yang mana saya juga berkeja di situ. Meski bekerja di lingkungan yang sama, nyatanya kesibukan membuat janji bertemu kami tidak lantas terlaksana dengan mulus. Beberapa kali pertemuan harus kami tunda lantaran ada pekerjaan yang harus diutamakan.

Minta difotoin sama Mahasiswa yg lagi di lobi. Harap maklum kalo hasilnya jelek, ya :)
Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapakali gagal janjian, hari Senin tanggal 14 maret 2016 kemarin, saya dan Mbak Muna bisa bertemu. Bagaimana kesan pertama saat bertemu Mbak Muna? Cantik. Hihi. Meskipun dari wajahnya Mbak Muna terlihat agak kuyu. Namun, hal itu menjadi sangat wajar ketika di tengah obrolan Mbak Muna mengabarkan sebuah berita yang amat membahagiakan, yang sudah beliau ceritakan di sini.

Bertemu Mbak Muna juga membuat saya malu sekaligus termotivasi. Dengan segala kesibukannya -- mengajar di dua Fakultas, menjadi istri dan ibu -- Mbak Muna juga istiqomah menulis di blog, menulis buku, dan juga menjadi salah satu kontributor sebuah majalah. Wow! Sedangkan saya yang masih single, 'cuma' kerja begini, sudah merasa pantas mengeluh dan menjadikannya alasan untuk tidak istiqomah merawat blog?!

Ya, saya mulai tau sekarang. Bahwa bertemu orang baru selalu membuat kita belajar sesuatu, asal kita jeli melihat 'pelajaran-pelajaran' yang kadang tersembunyi. Bertemu Mbak Muna membuat saya belajar, bahwa saat kita memutuskan untuk menekuni passion, maka kita harus total -- jangan setengah-setengah. Seperti Mbak Muna yang memiliki passion traveling dan menulis yang kemudian ia kombinasikan dan tekuni dengan sangat apik dan total. Terbukti dengan terbitnya buku berjudul 'Jelajah Ujung Barat Indonesia Banda Ceh Sabang' dan blog bertema traveling yang istiqomah ia update. Sukses selalu, Mbak Muna... semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan :)

Signature

Signature