Jumat, 13 Februari 2015

Kata Mereka, Berhentilah Mencari Yang Sempurna

Kemarin sore, saya diajak makan sama temen (yang udah kayak adek sendiri). Ngobrol ngalor-ngidul, seperti biasa. Seperti biasa pula, dia mengungkit-ungkit teman favorit dia yang selalu berhasil bikin saya merasa terintimidasi -,-'

"Mbak, kamu tuh harus berhenti mencari orang yang sempurna," katanya.

JLEB. Kalimat itu senada sekali dengan perenungan saya beberapa waktu belakangan ini.

"Apa saya mencari orang yang terlalu sempurna?"

Tapi saya memungkiri, hati saya memungkiri. Satu, saya tidak mencari, tapi menunggu. Ya, saya menunggu 'keajaiban' milik saya datang, seperti halnya keajaiban-keajaiban milik orang lain menghampiri pemiliknya masing-masing. Kenapa saya sebut keajaiban? Karna saya sering melihat hal-hal yang terlalu sulit diurai dengan logika normal.
Berkali-kali saya kasih contoh ke adek saya itu, tentang seorang teman yang akhirnya 'menyerah' pada sosok yang jauh sekali - terlalu jauh - dari yang selama ini ia gambarkan dan inginkan. Apa sebabnya kalo bukan keajaiban? Apa yang bisa membuatnya terjadi kalo bukan takdir Tuhan? Nah, itu yang saya tunggu. Saya menunggu takdir Tuhan yang memaksa saya menyerah, karna saya merasa nggak cukup mampu memaksa hati saya -- sekeras apapun saya mencobanya.

"Kamu kayaknya harus berhenti baca novel deh, Mbak! Biar pikiranmu nggak dipenuhi sosok-sosok yang ada di novel," katanya lagi.

Berhenti baca novel? Jelas nggak mungkin -- setidaknya saat ini.

Tapi apa iya saya jadi mendambakan sosok yang seperti di novel lantaran sering baca novel? Mungkin ini nggak sepenuhnya salah.

Ya, saya mungkin nggak mencari sosok yang sempurna, tapi saya menunggu sosok seperti yang ada dalam pikiran saya hadir. Dan itu nggak lebih mudah, kan?

Saya ingat betapa saya pernah amat jatuh cinta pada sosok Makky Matahari Muhammad dalam novel Cinta di Ujung Sajadah-nya Asma Nadia. Saya ingat saya pernah berdoa untuk dipertemukan dengan sosok yang paling nggak punya kemiripan dengan dia. Apa hal itu yang bikin saya selalu merasa belum bisa mengijinkan hati saya ditempati? Apa itu yang bikin saya akhirnya harus sering dikecam karna dianggap terlalu pilih-pilih? Ah, entahlah.

Sekali lagi, saya menunggu takdir Tuhan yang datang memaksa saya, serta mengubah hati saya.

12 komentar:

  1. betul, karena tdk ada manusia yg sempurna :)

    BalasHapus
  2. Doa yang paling baik, minta dipertemukan dengan jodoh yang terbaik menurut Allah, bukan menurut pikiran kita. Apa yg menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Tapi, apa yang menurut Allah baik, pasti baik untuk kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget mbak... doa saya seperti itu, tapi hati saya mungkin belum bener-bener se-iya..

      Hapus
  3. "Ya, saya mungkin nggak mencari sosok yang sempurna, tapi saya menunggu sosok seperti yang ada dalam pikiran saya hadir. Dan itu nggak lebih mudah, kan?"

    kadang saya juga suka gitu. semakin banyak buku yg saya baca, semakin bertambah keinginan hati saya. yak. plak. hahaha

    BalasHapus
  4. Yang penting tetap istikharah dan bertawakkal pada-Nya ya Mbak, karena kita sebagai hamba-Nya tidak tahu apa-apa yang terbaik bagi-Nya..

    BalasHapus
  5. dear rosa, kalaupun ditunggu tak membuatnya bisa datang
    pakai sistem jodoh sebar cv aja, taaruf via ustadz
    hehe semoga sukses ocha...
    dan pertama yakin kalau kamu benar-benar sudah siap ketika memintanya dari Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebar cv??? kayak gimana itu mbakk??

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)