Cara dan Manfaat Berpikir Kritis Menurut Gita Savitri Devi

on
Kamis, 24 September 2020

Beberapa hari lalu di tengah jam kerja, saya mendengarkan salah satu video di channel Youtube milik salah seorang influencer berhijab asli Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman, yaitu Gita Savitri Devi. Video yang saa tonton itu berjudul "Gimana Caranya Berpikir Kritis?".


Pada era digital seperti ini, tiap hari kita digempur dengan puluhan informasi. Ada informasi-informasi yang mudah untuk dicerna, tapi banyak juga yang menuntut kita untuk berpikir kritis. Karena sekarang banyak informasi atau isu yang banyak zona abu-abunya, sehingga jika kita nggak berpikir dengan kritis, ada kemungkinan kita akan terombang-ambing dalam kebingungan untuk mempercayai mana informasi yang benar dan mana yang salah.

 

Kenapa Saya Tertarik Menonton Video Tentang Berpikir Kritis Tersebut?

 

Jadi, beberapa hari sebelumnya, saya membaca buku Pak Rhenald Kasali yang berjudul Strawberry Generation. Di dalam buku tersebut, Pak Rhenald sempat membahas tentang isu yang sempat viral sekitar tahun lalu. Yaitu tentang serangan tenaga kerja dari China yang masuk ke Indonesia dan membuat beberapa orang gusar. Isu tersebut dibagikan secara berantai melalui akun media sosial maupun aplikasi pesan Whatsapp, sehingga melaju dengan sangat tak terkendali.

 

Dalam bukunya, Pak Rhenald Kasali mengatakan,

"Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginao juga sangat mudah dan murah. Kalau saja rajin, dia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 tengaa kerja Indonesia bekrja di Taiwan. Sebanyak 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar dan Brasil, Bahkan juga Kanada dan Amerika.

Jadi, bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 orang saja, kita sudah rasial? Ini tentu mengerikan."

(dikutip dari Buku Stawberry Generation, karangan Pak Rhenald Kasali, yang diterbitkan oleh Mizan, halaman 171)


Saat membaca hal tersebut, saya merasa tertampar. Pasalnya, saya salah satu orang yang dengan dulu menelan mentah-mentah berita virak tentang serangan tenaga kerja dari China tersebut. Saya sempat ikut kebakaran jenggot. Setelah membaca buku Pak Rhenald Kasali, saya jadi sadar bahwa selama ini saya belum menggunakan cara berpikir kritis dalam mencerna banyak informasi yang saya dapat.

 

Maka dari itu, saat melihat video milik Gita yang membahas tentang cara dan manfaat berpikir kritis, saya langsung tertarik untuk menyimaknya dengan seksama.


Apa Sih Berpikir Kritis Itu?

 

Dalam video "Gimana Caranya Berpikir Kritis", Gita Savitri Devi mengutip pendapat dari salah seorang Psikolog bernama John Dewey tentang definisi dari berpikir kritis.


Menurut John Dewey,

Critical thinking or reclective thinking is an active, persistent and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it, and the further conclusions to which it ends.

 

Di Indonesia sendiri, berpikir kritis masih memiliki banyak tantangan. Karena salah satu cara untuk berpikir kritis adalah salah satunya dengan banyak bertanya. Sedangkan di Indonesia, orang yang banyak bertanya sering dianggap ngeyel, keras kepala dan beberapa judge negatif lainnya.

 

Mungkin gara-gara itu, banyak anak muda di Indonesia yang akhirnya tidak memiliki cara berpikir yang kritis. Karena saat baru mulai mencoba berpikir kritis, mereka sudah terlebih dahulu mendapat judge nagatif. 


Padahal, berdasarkan 21 Century Partnership Learning Framework disebutkan, bahwa 1 dari 4 keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh seseorang di antaranya adalah critical thinking atau berpikir kritis.

 

cara-dan-manfaat-berpikir-kritis

 

Dalam videonya, Gita Savitri Devi menyebutkan bahwa berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses tersebut terdiri dari:

1. Mengidentifikasi

2. Mengobservasi

3. Menganalisis

4. Mengevaluasi

5. Merefleksi

6. Menyimpulkan

7. Mengambil keputusan

 

Kenapa sih Kita Harus Berpikir Kritis?


Lagi-lagi, dalam video Gita yang saya tonton, penulis buku Rentang Kisah yang telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar itu menyebutkan beberapa alasan kenapa kita butuh berpikir kritis. Di antaranya adalah:

 

1. Agar kita memiliki kebebasan dalam berpikir dan punya kepemilikan 100% atas keputusan kita.

2. Kita akan memiliki kepercayaan diri atas setiap opini dan kita sendiri, karena memiliki dasar yang kuat.

3. Membuat kita jadi lebih open minded atau berpikiran terbuka.

4. Memahami nuance, atau perbedaan-perbedaan kecil.

5. Terhindar dari manipulasi, baik manipulasi media, berita palsu, penipuan, dll.

 

Gimana Caranya Agar kita Bisa Berpikir Kritis?


Dalam videonya, Gita Savitri Devi juga tidak lupa memaparkan gimana sih caranya agar kita bisa memiliki cara berpikiri kritis.

 

Berikut pemaparannya:

1. Berpikir terhadap suatu masalah seobjektif mungkin.

2. Sadar atas kemungkinan bias. Sebagai manusia kita tentu memiliki perasaan suka dan tidak suka, atau faktor-faktor internal lain yang akan membuat cara berpikr kita menjadi bias.

3. Mengidentifikasi argumen atau sudut pandang lain yang berhubungan dengan hal tersebut. Semakin banyak kita memperlajari sudut pandang lain atas suatu masalah, maka kita akan bisa semakin berpikir dengan kritis.

4. Jangan lupa mengevaluasi sudut pandang kita sendiri, apakah sudah valid atau belum.

5. Memperhatikan efek dan implikasi dari argumen kita. Dan apa argumen kita atas implikasi yang mungkin akan muncul tersebut.

 

Menurut salah seorang psikolog bernama Jordan Peterson, dalam satu cara mudah berpikir kritis adalah dengan menulis. Karena menulis akan melatih otak kita untuk berpikir lebih sistematis, dan memilah mana info yang penting dan mana yang tidak penting.


Saya jadi berpikir. Sepertinya, salah satu faktor yang membuat sebagian besar rakyat Indonesia ini agak sumbu pendek dan mudah termakan berita palsu adalah karna kemampuan berpikir kritis yang masih belum terasah. Kita terbiasa memakan informasi mentah-mentah, tanpa mencari terlebih dahulu apakah sumbernya valid atau tidak, siapa yang menulis, adakah sudut pandang lain atas informasi tersebut, dan banyak faktor lain yang seharusnya kita telisik lebih dulu secara mendalam sebelum memutuskan sebuah sudut pandang yang kita yakini.


Andai saja kita bisa berpikir kritis, pasti berita hoax akan kehilangan peminat dan lambat laut akan semakin berkurang. Semoga.

 

Yuk latihan berpikir kritis, dimulai dari diri kita sendiri dulu :)


Pesan Untuk Orangtua dari Drakor It's Okay To Not Be Okay

on
Selasa, 22 September 2020

Dulu, tiap ada teman yang dengan seru membicarakan tentang drakor, saya nggak pernah bisa relate. Karena nggak pernah nonton dan sama sekali nggak tertarik. Padahal waktu kecil saya termasuk yang beberapa kali bolos ngaji demi biar bisa nonton Full House, hihi. Tapi nggak cuma drakor sih, pada dasarnya saya memang kurang suka nonton apapun, karena pasti langsung ngantuk.

 

Sampai akhirnya pandemi melanda Bumi Pertiwi tercinta, dan keputusan WFH diberlakukan juga di tempat saya bekerja. Seminggu pertama masih aman. Senang bisa di rumah sama anak dan suami dari pagi sampai sore. Bisa mencoba aneka resep yang sudah lama ingin dicoba tapi belum sempat. Dan melakukan hal-hal lain yang biasanya nggak bisa dilakukan karena bekerja di kantor dari pagi hingga sore.

 

Memasuki minggu kedua, mulai oleng. Bukan karena bosan di rumah terus dan pengen jalan-jalan. Tapi seperti merasa linglung gitu. Ini mau ngapain lagi ya di rumah? Kok tiap hari gini-gini terus? Kok monoton banget?

 

Dari situ, saya mulai mencari-cari kegiatan ringan yang 'baru' untuk mengusir rasa bosan. Kemudian entah dari mana ide itu datang, akhirnya saya mencicipi nonton drakor. Dan saya jadi paham kenapa ada banyak orang yang mengeluh kecanduan drakor, dan begadang semalaman demi drakor. Ternyata nonton drakor memang asyik banget kalau pas nemu yang cerita dan pemerannya klik di hati. Hihi.

 

Beda banget dengan sinetron Indonesia, konflik yang disuguhkan drama Korea cenderung lebih beragam. Meskipun sama-sama dasarnya tentang hubungan asmara pun, tetap ada konflik lain yang mengikuti. Nggak jarang, drama Korea juga mengusung isu-isu tertentu, seperti soal pemerintahan, kesehatan mental, dan lain-lain. 


Jadi gara-gara WFH, saya yang tadinya sama sekali nggak paham dan nggak pernah nonton drakor, tiba-tiba jadi punya drakor favorit dan aktor drakor favorit. Hihi. Siapa? Rahasia ah, malu!


Anyway, beberapa waktu lalu, drakor berjudul "It's Okay To Not Be Okay" lumayan banyak dibicarakan. Drakor ini konon mengangkat tema tentang kesehatan mental. Saya juga agak tertarik untuk menonton, tapi karena sudah mulai kerja dengan normal dari jam 8 pagi hingga 4 sore selama 5 hari kerja, nontonnya jadi nyicil sedikit-sedikit banget. Udah sebulan lebih, saya baru sampai episode 3.

 

drakor-it's-okay-to-not-be-okay

 

Salah satu teman dekat yang gencar mempengaruhi saya untuk menonton drakor, memotivasi saya untuk menyelesaikan menonton drakor It's Okay To Not Be Okay ini, karena di dalamnya ada pesan penting terutama untuk para orangtua.

 

Karena penasaran dengan pesan apa yang ada dalam drakor It's Okay To Not Be Okay, saya memaksa dia -- teman saya yang memiliki akun IG @zulaichah_adiwibowo -- untuk menceritakannya pada saya.

 

Menurut teman saya, dari It's Okay To Not Be Okay, kita sebagai orangtua akan mendapatkan pesan bahwa pola asuh kita terhadap anak-anak akan berefek sangat pada kehidupan mereka. Baik pada sikap, mental maupun kepribadian.

 

Apapun yang kita lakukan, perlakuan kita terhadap mereka, hal-hal yang kita tanamkan, akan mengakar sangat kuat di benak mereka. Terutama yang terjadi di masa anak-anak, yang menurut banyak pakar psikologi sedang ada dalam fase gelombang otak yang sangat mudah mengingat sesuatu.


Hal itu bisa dilihat dari tokoh Ko Moon-young, yang tumbuh menjadi orang yang antisosial, arogan, berkarakter dingin dan sadis. Hal itu lantaran ia dibesarkan oleh seorang ibu yang merupakan seorang psikopat. Sejak kecil, Ko Moon-young dididik untuk bersikap sadis dan dilarang memiliki belas kasihan pada hewan. Salah satu contohnya dengan menyuruh Ko Moon-young tega membunuh kupu-kupu dengan sadis.

 

Parahnya lagi, Ko Moon-young harus mengalami kejadian traumatis saat ia harus melihat jasad ibunya yang penuh darah, lalu tiba-tiba menghilang. Sekaligus sempat hampir dibunuh ayahnya sendiri yang juga tengah menghadapi masalah mental. Kejadian-kejadian traumatis itu semakin membuat jiwa anak-anak Ko Moon-young terluka. Dan seperti yang kita tahu, inner child yang terluka akan membawa banyak dampak negatif bahkan hingga dewasa.

 

Nggak cuma tokoh Ko Moon-young, tokoh utama pria yang bernama Moon Gang-tae juga mengalami pola asuh yang salah, yang berpengaruh sangat besar terhadap kepribadian dan perilakunya. Moon Gang-tae memiliki kakak yang berkebutuhan khusus alias spesial. Hal itu membuat ibunya selalu memprioritaskan kakaknya yang bernama Moon Sang-tae. Sejak kecil, Moon Gang-tae diberikan tanggung jawab untuk menjaga kakaknya.

 

Ibunya pernah dengan tega mengatakan bahwa Moon Gang-tae dilahirkan hanya untuk melindungi kakaknya. Bahkan dia pernah dipukuli oleh ibunya karena tidak bisa melindungi kakaknya saat dibully oleh teman-temannya di sekolah. Huhu, so sad :(

 

Hal itu membuat Moon Gang-tae tumbuh menjadi orang yang terus mengabaikan perasaannya sendiri. Hidupnya tercurah hanya untuk kakaknya. Bahkan ia sering sekali berpindah tempat kerja demi melindungi kakaknya.

 

Dari kisah itu, kita belajar. Bahwa bagaimanapun keadaan anak-anak kita, tidak seharusnya kita membedakan kasih sayang dan prioritas terhadap mereka. Dan tidak seharusnya mereka diberi tanggung jawab untuk menjaga saudaranya yang lain, tanpa mempedulikan perasaan si anak sendiri.

 

Gara-gara mendengar cerita panjang lebar si Cite -- panggilan akrab si teman saya itu -- saya jadi termotivasi untuk melanjutkan nonton drakor It's Okay To Not Be Okay ini. Ditonton sambil nyetrika aja kali ya, biar tetap produktif. Hehe.

 

Kalian sudah nonton drakor "It's Okay To Not Be Okay"? Gimana kesan kalian?

Belajar Tentang Toleransi Beragama yang Benar pada Ayahanda Shandy Aulia

on
Senin, 21 September 2020
Beberapa hari lalu, dunia hiburan sekaligus dunia maya sempat agak heboh dengan kabar pernikahan artis sinetron Audi Marissa yang menikah dengan kekasihnya – Anthony. Pasalnya, Audi Marissa dikabarkan berpindah keyakinan mengikuti keyakinan suaminya, yang ditandai dengan tidak hadirnya ibunda dari Audi Marissa.

Sebagai orang yang kadang masih suka kepo dengan gosip, saya sempat iseng menengok akun IG Audi Marissa, lalu membaca komentar para netizen di beberapa postingannya. Saya sedih sekaligus miris sekali membaca komentar-komentar itu. Yah, sebenarnya yang seperti itu sudah khas komentar ala netizen +62 banget sih.

Yang bikin sedih sekaligus miris adalah, banyak komentar yang sebenarnya mungkin didasari niat baik, tapi karena disampaikan dengan cara, waktu dan tempat yang tidak tepat, jadi sama sekali nggak tersampaikan niat baiknya tersebut. Contohnya, ada beberapa netizen yang menasehati Audi Marissa, tapi ujung-ujungnya ada unsur menjelekkan agama lain. Huaaa, alih-alih nasehatnya sampai, kolom komentar malah berubah jadi ajang debat antar-agama. Kan miris ya :(

Lalu saya jadi ingat sekitar seminggu yang lalu, saya menonton vlog-nya Shandy Aulia. Di vlog yang saya tonton saat itu, Shandy Aulia ngobrol dengan ayahandanya tentang perbedaan keyakinan di antara mereka. Mereka cukup gamblang menceritakan bagaimana awalnya hingga Shandy Aulia bisa berbeda keyakinan dengan ayahanda dan tiga kakak perempuannya yang lain.

Dari vlog tersebut, saya belajar cukup banyak tentang toleransi yang benar dan lurus. Dalam hal ini, benar dan lurus berdasarkan keyakinan saya sebagai muslim. Menurut saya, saat ini masih banyak orang yang masuk ke dalam dua ekstrim. Ekstrim pertama adalah orang-orang yang meneriakkan toleransi dengan amat lantang, tapi salah kaprah. Sedangkan ekstrim kedua adalah orang-orang yang memang benar-benar belum bisa bersikap toleran. Saya menemukan sampel dari masing-masing ekstrim ini di kolom komentar beberapa postingan Audi Marissa tadi.
 
 
Potongan vlog Shandy Aulia
 
 
Sekali lagi, dalam tulisan ini saya membahas toleransi dari sudut pandang saya sebagai muslim. Dalam Islam, sikap toleransi adalah salah satu sikap yang sangat dianjurkan oleh Allah melalui teladan yang diberikan oleh Rasulullah. Salah satunya dalam peristiwa Fathul Makkah, di mana pasukan Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Makkah. Saat itu, penduduk Makkah ketakutan, karena dulu mereka menindas Rasulullah dan para pengikutnya. Mereka khawatir Rasulullah akan memperlakukan mereka sebagaimana dulu mereka memperlakukan Rasulullah. Tapi yang mereka takutkan sama sekali tidak terjadi.

Ya, Islam sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Namun jangan lupa, ada aturan main yang jelas tentang ini. Toleransi bagi kaum Muslim hanya dibolehkan dalam perkara muamalah, atau hubungan antar-manusia saja. Tapi tidak dibenarkan bertoleransi jika sudah menyangkut masalah aqidah dan ibadah.

Dalam Vlog Shandy Aulia yang saya tonton sepekan lalu itu, saya belajar tentang toleransi beragama yang benar dari ayahandanya. Ayahanda Shandy Aulia bersikap sangat toleran dengan tetap menyayangi satu-satunya putrinya yang berbeda keyakinan dengannya, tanpa membeda-bedakan dengan anak lain. Tapi di sisi lain beliau tetap memegang teguh hukum yang telah ditetapkan dalam Islam.
 
Ayahanda Shandy Aulia tidak hadir dalam acara pemberkatan pernikahan Shandy dengan suaminya, karena acara tersebut diselenggarakan di gereja dan merupakan salah satu bentuk prosesi agama. Sebagai seorang muslim, ayahanda Shandy Aulia tidak boleh hadir karena pemberkatan tersebut merupakan salah satu bentuk ritual ibadah. Ini sudah masuk ranah aqidah, jadi tidak boleh menggunakan 'toleransi' sebagai tameng. Tapi saat acara resepsi, beliau hadir karena resepsi sudah bukan termasuk prosesi ibadah. Jadi masuknya ke ranah muamalah.

Yang membuat saya cukup surpraised adalah ketika di dalam Vlog tersebut, ayahanda Shandy Aulia 'mendakwahi' putrinya dengan menyampaikan harapan supaya Shandy bersedia belajar tentang Islam.

"Papa nggak nyuruh kamu masuk Islam. Papa cuma minta kamu belajar" begitu salah satu potongan kalimat ayah Shandy Aulia.

Sekali lagi, ayahanda Shandy tetap berusaha menjalankan salah satu perintah agamanya -- yaitu berdakwah -- tapi tetap dengan cara yang baik. Bahkan beliau bilang, sudah lama ingin mengatakan itu, tapi belum pernah menemukan waktu yang tepat sampai akhirnya ada kesempatan karena Shandy memancing obrolan terkait itu terlebih dahulu.

Saya makin kagum ketika ayah Shandy Aulia menegaskan bahwa jika akhirnya Shandy Aulia tetap pada keyakinannya yang sekarang, hal itu tidak akan mengurangi kasih sayang beliau pada putri bungsunya itu. Huhu, sweet yaaa :)

Maka, dari ayahanda Shandy Aulia saya belajar banyak. Tentang bagaimana menempatkan toleransi pada tempat yang seharusnya, tanpa harus menabrak garis yang telah disyariatkan. Toleransi beragama itu bukan berarti kita harus turut merayakan hari besar agama lain. Toleransi beragama yang benar cukup ditunjukkan dengan bersikap baik pada siapapun, baik yang seiman maupun yang berbeda keyakinan. Lalu tidak saling mengganggu apalagi menjelekkan agama lain.
 
Satu lagi yang banyak dilupakan orang hari ini. Ketika berbicara tentang toleransi beragama, seringkali yang terpikir di benak kita hanya tentang toleransi antara kita, dan orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Padahal dengan yang satu keyakinan pun tetap harus menerapkan sikap toleransi.
 
Hari ini, ada beberapa orang yang bisa sangat toleran dengan orang yang berbeda keyakinan, tapi justru sama sekali tidak bisa toleran terhadap orang yang satu keyakinan. Contohnya, ada beberapa orang Islam yang memandang perempuan bercadar dengan sebelah mata atau bahkan penuh prasangka, lalu memperlakukannya dengan berbeda. Atau dengan yang berbeda ormas atau ustadz rujukan, jadi saling mengolok-olok di media sosial. Sikap seperti itu sama sekali nggak bisa dibilang toleran.
 
Nah, semoga kita bisa belajar lebih jauh tentang toleransi beragama yang benar, demi Indonesia yang damai dan terjaga persatuannya. Aamiin.

Review Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru Organics

on
Kamis, 17 September 2020

Pernah dengar peribahasa 'buruk rupa, cermin dibelah'?

 

Peribahasa itu bermakna tentang seseorang yang menyalahkan pihak lain atas kondisinya yang buruk. Saya kira, peribahasa itu hanya akan menjadi salah satu materi Bahasa Indonesia di masa sekolah bagi saya. Siapa sangka bahwa pada suatu masa, saya ada di kondisi yang merasa relate sekali dengan peribahasa itu. Tapi dalam arti harfiahnya.

 

'Buruk rupa, cermin dibelah'. Yap, kurang lebih dua bulan lalu, setiap bercermin rasanya saya ingin membelah cermin di depan saya. Jengkel, marah, sedih, nggak percaya diri. Semua bercampur menjadi satu.

 

Pasalnya, tiap bercermin saya melihat banyak sekali noda hitam bekas jerawat bertebaran di muka saya. Jerawat aktifnya memang sudah mulai berkurang saat itu, tapi bekas jerawatnya, oh my God! Sumpah ya, saya nggak pernah menyangka kalau masalah jerawat ini bisa sebegitu mempengaruhi mood dan kepercayaan diri.

 

Singkat cerita, akhirnya saya berselancar di dunia maya untuk mencari produk skincare apa kira-kira yang bisa membantu untuk menghilangkan bekas jerawat saya dengan agak lebih cepat. Setelah memebaca banyak review dan testimoni, serta menimbang dari berbagai aspek, akhirnya pilihan saya jatuh pada Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru Organics.

 

 

 

Kleveru merupakan nama salah satu brand skincare lokal yang promosinya berbasis di Instagram, dan penjualannya melalui beberapa marketplace, serta ada juga beberapa reseller. Saya memang cenderung berusaha untuk selalu memilih brand lokal, karena kalau ada produk lokal yang bagus, kenapa harus produk luar kan? Itu menurut saya sih.

 

Baca juga: Kesalahan Saat Proses Mencari Produk Skincare yang Cocok 

 

Nah, langsung saja yuk kita kupas tuntas tentang Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru ini.


Ingredients:

Aqua, Lactic Acid, Panthenol, Glycolic Acid, Daisy Bellis Perennis Extract, Aloe Vera Leaf Extract, Salicylic Acid, Centella Asiatica Extract, Glycerin, Tromethamine, Ceramide, Licorice Glycyrrhiza Glabra Extract, Phenoxyethanol, Propanediol, Hydroxyethylcellulose, Albatrellus Ovinus Extract, Citric Acid, Tocopheryl Acetate (Vitamin E).


 

Cara Pakai:

Gunakan saat malam hari pada wajah dan leher yang sudah dibersihkan. *Lanjutkan 10 menit kemudian dengan face oil atau pelembab. Waktu penggunaan diawali 2-3 kali per minggu.

 

Klaim:

Kleveru Glass Skin Overnight Serum adalah serum yang mengeksfoliasi kulit secara lembut dengan AHA(5%) & BHA (1%) untuk membantu mengangkat sel kulit mati dan menstimulasi regenerasi sel kulit baru. Menggunakan bahan baku berkualitas pilihan yang aman digunakan pada kulit wajah.


 

Selain mengeksfoliasi secara lembut, serum ini mengandung ekstrak Licorice, bunga Daisy, Vitamin B5 (panthenol) dan Ceramide sehingga membantu kulit tampak lebih cerah, melembabkan, menghaluskan kulit wajah, memberikan kenyamanan saat pemakaian sehingga anti inflamasi dan melindungi barrier kulit agar tetap sehat.

 

Packaging:

Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru dikemas dalam sebuah botol yang terbuat dari kaca yang cukup kokoh, dan dilengkapi pump sehingga higienitas produk terjaga. Sayangnya, tutup botolnya kurang bisa menutup dengan kencang, alias mudah lepas.

Botol Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru dikemas lagi dalam sebuah karton berwarna kombinasi biru muda dan putih, seragam dengan motif pada botol di dalamnya. Di badan karton, tercantum semua informasi produk, seperti nomor registrasi BPOM, ingredients, cara pakai, klaim, dll.

 

Tekstur dan Aroma:

Glass Skin Overnight Serum memiliki tekstur cair dan bening. Karna tanpa fragrance, jadi aromanya menurut saya khas produk exfoliant. Nggak bisa dikatakan enak aromanya, tapi nggak terlalu mengganggu juga.

 

Harga:

Kurang lebih Rp 150.000. Tapi Kleveru sering memberi diskon, begitu juga dengan beberapa resellernya.


Impression:

Di awal pemakaian dulu, saya memakai serum ini dua kali dalam sepekan. Saya memakainya sebanyak 2 pump setiap kali memakainya. 2 pump sudah cukup untuk satu muka. Hemat banget, kan?

 

Saat diaplikasikan, Glass Skin Overnight Serum ini mudah menyerap. Saya sempat deg-degan dulu, karna di awal pemakaian serum ini, kebetulan saya belum nemu moisturizer yang cocok. Karna saya sudah bertekad untuk nggak memakai dua produk baru dalam waktu bersamaan, jadi saya putuskan untuk nggak pakai moisturizer dulu, sampai melihat reaksi Glass Skin Overnight Serum di wajah saya.

 

Sebenarnya itu sebuah kesalahan besar dalam teori per-skincare-an.  Pasalnya, Glass Skin Overnight Serum ini merupakan salah satu produk exfoliant, yang mana seharusnya diimbangi dengan pemakaian produk yang menghidrasi dan melembabkan kulit, agar kulit tidak kering dan iritasi. Seperti juga yang sudah dicantumkan di bagian cara pemakaian.

 

Amazingnya, Alhamdulillah kulit saya baik-baik saja. Tidak kering, mengelupas atau iritasi. Wow! Padahal bisa dibilang ini produk dengan kandungan AHA tertinggi yang pernah saya coba.

 

Efek pasca pemakaian, kulit jadi terasa lembut sekali. Pori-pori kulit juga jadi agak mengecil. Efek cerahnya terlihat setelah beberapa kali pemakaian. Untuk kemampuan mengatasi jerawat, menurut saya nggak se-oke Centella Herb Serum-nya Aubree. Tapi kalau untuk mengatasi bruntusan, Glass Skin Overnight Serum ini jago sekali!

 

Baca juga: Review Centella Herb Serum dari Aubree 

 

Lalu bagaimana dengan mengatasi bekas jerawat kehitaman?

 

Saya nggak akan melebih-lebihkan. Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru ini memang cukup membantu menyamarkan noda bekas jerawat kehitaman agak lebih cepat. Tapi jangan expect langsung terlihat efeknya setelah satu-dua kali pemakaian ya! Tidak seampuh itu.

 

Kesimpulan

Glass Skin Overnight Serum dari Kleveru ini menurut saya produk yang sangat keren dan patut dicoba, karna dia mengeksfoliasi kulit dengan sangat lembut dan tapa iritasi atau kemerahan. Apakah akan re-purchase? Maybe YES, maybe NO. Maybe NO-nya bukan karena tidak puas dengan produk ini, tapi bisa jadi saya ingin mencoba produk lain. Hehehe. 


Anyway, saya menemukan rahasia lain untuk mengatasi bekas jerawat kehitaman yang sudah sekian lama bertengger di wajah saya. Mau tau? Tunggu di postingan selanjutnya ya! :)

Berwisata Saat Pandemi, Sebaiknya Perhatikan Beberapa Hal di Bawah Ini

on
Jumat, 11 September 2020

Saat anjuran untuk work from home dan di rumah aja mengemuka bersamaan dengan resminya Indonesia terjangkit virus covid-19 seperti berbagai negara lain, saya adalah salah satu orang yang sama sekali merasa nggak masalah dengan anjuran tersebut. Bahkan cenderung menyambut dengan sukacita -- di luar perasaan takut dan waswas melihat perkembangan kasus covid-19 tentu saja.

 

Tapi ternyata nggak semua orang seperti saya. Sebagian orang -- sepertinya yang punya karakter ekstrovert -- cenderung cukup resah menghadapi anjuran di rumah aja. Bagi mereka, beraktivitas di luar rumah dan bisa bertemu banyak orang adalah kebutuhan. Apalagi yang selama ini memang sering traveling, hang out, kumpul-kumpul, pasti nggak mudah menghadapi era kebiasaan baru seperti ini.

 

Saya kira, saya akan selamanya enjoy dengan kebiasaan untuk nggak ke mana-mana selain kerja. Toh selama ini saya memang jarang sekali berwisata atau semacamnya. Tapi ternyata saya salah. Ada masa di mana saya merasa jenuh dan ingin melihat 'dunia luar'. Dan sepertinya apa yang saya rasakan itu, juga dirasakan oleh banyak orang.

 

Sayangnya, banyak yang ketika merasakan itu, langsung memperturutkan hawa nafsunya untuk jalan-jalan atau berwisata, dan mengabaikan protokol kesehatan yang seharusnya tetap diperhatikan. Contohnya saat salah satu mall besar baru di Semarang yang digadang-gadang bisa menjadi salah satu destinasi wisata Semarang mulai beroperasi meskipun belum total, banyak orang yang langsung berbondong-bondong datang ke sana. Tidak peduli meskipun harus berdesakan -- yang merupakan salah satu larangan di era pandemi ini. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sudah jenuh dengan anjuran di rumah aja.

 

Apakah salah?

 

Jenuhnya sih nggak salah ya. Itu manusiawi. Tapi mengabaikan protokol kesehatannya, jelas salah banget. Kalau sakit terus sakitnya dibawa sendiri sih ya, silakan. Resiko ditanggung penumpang. Masalahnya, virus covid-19 adalah virus yang mudah sekali menular. Belum lagi tenaga kesehatan dan Rumah Sakit yang sudah mulai kewalahan.

 

 

Nah, kalau memang sudah sangat jenuh dan ingin sekali berwisata padahal masih pandemi, sebaiknya tetap perhatikan hal-hal di bawa ini:

 

1. Tetap patuhi protokol kesehatan

 

Jelas ini yang utama. Pakai masker, jaga jarak, jaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan lain-lain. 


2. Pilih destinasi yang tidak terlaluh jauh dari rumah dan memungkinkan untuk jaga jarak

 

Sekarang destinasi wisata sudah banyak sekali dan ada di mana-mana. Biasanya, destinasi wisata yang ada di alam terbuka, lebih memungkinkan kita untuk bisa tetap jaga jarak. Untuk yang tinggal di Semarang, destinasi wisata keluarga di Cimory, atau Ayanaz di Gedong Songo.


3. Minimalkan bertransaksi dengan orang lain

 

Sebaiknya, nggak perlu beli oleh-oleh macam-macam dulu ketika berwisata saat pandemi, demi meminimalkan bertransaksi dengan banyak orang.


4. Bawa Bekal Makan dan Minum dari Rumah

 

Ini juga salah satu bentuk usaha agar tidak banyak bertransaksi dengan orang lain. Sebisa mungkin kita sudah membawa bekal dari rumah, minimal air mineral dan snack. Terutama jika kita mengajak anak kecil saat berwisata. Kalaupun harus makan di tempat makan yang ada di area wisata, kembali perhatikan protokol kesehatan. Pilih tempat makan yang tetap memungkinkan kita untuk menjaga jarak.

 

5. Segera membersihkan diri sepulang dari berwisata.

 

Ini termasuk salah satu bagian dari protokol kesehatan ya sebenarnya. Saat pulang dari beraktivitas di luar rumah, termasuk berwisata, segeralah membersihkan diri dengan mandi dan berganti baju. Baju yang sebelumnya dipakai, sebaiknya segera dicuci.

 

Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, semoga kita bisa mendapatkan win-win solution. Jenuh teratasi, namun tetap menjaga diri dari paparan virus covid-19. Yah, meskipun tetap saja, sebenarnya yang terbaik adalah dengan tetap menahan diri untuk tidak banyak bepergian dulu saat ini, kecuali benar-benar mendesak.

 

Stay safe and stay healthy yaaa, teman-teman :)

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Proses Mencari Produk Skincare yang Cocok

on
Kamis, 10 September 2020
Memiliki kulit cantik, sehat dan glowing merupakan idaman setiap wanita. Meski dalam perjalanannya, seringkali hal itu bukanlah hal yang mudah untuk dimiliki. Banyaknya aktivitas di luar rumah yang mengharuskan kulit terpapar sinar UV, debu dan polusi, bisa membuat kulit mengalami banyak masalah. Di antaranya, kulit kusam, berminyak dan jerawat.

Karena itu, mau tidak mau kita harus melakukan sesuatu jika ingin memiliki kulit wajah yang cantik dan sehat. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan air wudhu untuk membuat kulit kita bercahaya. Dulu saat kita masih usia remaja mungkin bisa. Tapi semakin bertambahnya usia, kemampuan kulit untuk meregenerasi diri juga semakin menurun.

Skincare menjadi salah satu jurus jitu untuk membantu menutrisi kulit kita yang sudah mulai berkurang kemampuan regenerasinya. Saat ini, sudah banyak sekali berbagai jenis produk skincare yang muncul di pasaran. Apalagi sejak merebaknya tren metode skincare berlapis-lapis a la Korea.

Banyak wanita yang mulai gencar untuk mencoba berbagai macam produk skincare, dan menerapkan berlayer-layer step, demi mendapatkan kulit mulus tanpa cela seperti para artis Korea. Dari mulai first cleanser, second cleanser, essence, toner, serum, dll. Tidak terkecuali saya.
 

 
Sayangnya, sebagian orang yang sedang sangat semangat mencari produk skincare yang cocok untuk kulitnya itu, seringkali membuat beberapa kesalahan yang justru membuat kulitnya jadi bermasalah. Lho kok bisa gitu? Bisa jadi karena dalam proses mencari produk skincare yang cocok, mereka tidak memiliki bekal pengetahuan sama sekali. Sehingga seperti berjalan di kegelapan tanpa penerangan, alias hanya meraba-raba.

Nah, berikut ini merupakan beberapa kesalahan yang biasa dialami saat sedang dalam proses mencari produk skincare yang cocok untuk kulit. Termasuk saya sendiri pun mengalami beberapa kesalahan di bawah ini.

Apa aja sih?

1. Hanya fokus pada masalah utama kulit

Ini kesalahan utama yang dulu saya lakukan. Saat awal memiliki keinginan untuk mencari produk skincare yang cocok untuk kulit saya, wajah saya sedang mengalami masalah jerawat yang tidak berkesudahan. Maka saat itu saya hanya fokus pada masalah utama tersebut, yaitu jerawat. Saya asal comot produk apapun yang ada embel-embelnya ‘mengatasi jerawat’.

Padahal setelah mempelajari lebih lanjut, jerawat merupakan masalah kulit yang disebabkan oleh banyak sekali faktor. Jerawat bisa dipengaruhi kondisi internal tubuh, seperti hormon, asupan makanan, tingkat stress, dll. Juga bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kualitas air yang kita pakai, polusi udara di tempat tinggal kita, dl.

Pengetahuan tentang penyebab dari masalah utama kulit kita, sangat berpengaruh pada ketepatan kita dalam mencari produk yang tepat untuk mengatasinya. Contoh dari pengalaman saya saat itu, masalah jerawat saya ternyata karna faktor gaya hidup dan hormon. Tapi karna saya hanya asal comot produk yang punya embel-embel mengatasi jerawat, yang kebanyakan membuat kulit menjadi lebih kering, kulit saya bukannya membaik malah jadi berjerawat semakin parah.
 
2. Mudah tergiur klaim produk

Ini masih ada hubungannya dengan poin pertama di atas. Saya hanya fokus pada klaim produk, tanpa mencari tau apa ingredientsnya dan apa efek samping dari ingredients tersebut.

Padahal, ada beberapa ingredients dalam skincare yang tidak boleh dipakai bersamaan. Contohnya, Vitamin C dan AHA. Atau, ada juga beberapa ingredients yang sebaiknya dihindari oleh masalah kulit tertentu. Hal-hal seperti ini nggak akan pernah kita ketahui kalau kita hanya fokus dan mudah tergiur klaim produk, tanpa belajar tentang kandungan-kandungan dalam skincare.

3. Lapar mata tiap habis nonton review dari beauty influencer

Coba kalian buka video-videonya para beauty influencer seperti Suhay Salim, Tasya Farasya, dll. Kalian pasti akan mendapati banyak orang berkomentar, ‘duh aku lapar mata tiap habis nonton Suhay Salim’. Yup, itu merupakan perkara umum yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang dalam proses mencari produk skincare yang cocok. Tidak terkecuali saya dulu.

Namun kita seringkali lupa bahwa jenis kulit yang dimiliki oleh si beauty influencer dengan yang kita miliki bisa jadi amat berbeda. Belum lagi tentang produk-produk lain yang sehari-hari dia pakai, sudah pasti jauh berbeda dengan kita. Jadi salah besar jika kita lapar mata tiap habis nonton review produk tertentu dari para beauty influencer, lalu berharap kita punya kulit sebagus mereka.

4. Mencoba beberapa produk baru dalam waktu bersamaan

Ini nih yang paling fatal dan dulu sering saya lakukan! Saya sering mencoba produk baru dalam waktu bersamaan. Mengapa hal ini merupakan kesalahan?

Karena ketika kulit kita menunjukkan reaksi tertentu, misal jadi tumbuh jerawat, kita akan kebingungan hal itu disebabkan oleh produk yang mana. Kita jadi kesulitan menentukan mana produk yang cocok untuk kulit kita dan bisa dipakai untuk seterusnya, dan mana yang sebaiknya dihentikan.

Maka dari itu, sebaiknya beri jeda kurang lebih dua minggu untuk masing-masing produk saat akan mencoba beberapa produk skincare yang sama-sama belum pernah kita pakai sebelumnya.

5. Mengabaikan Basic Skincare

Saat masih mencari-cari produk skincare yang cocok untuk kulit kita, sebagian orang justru terlebih dulu fokus pada step tingkat lanjut seperti essence dan serum. Setidaknya dulu itu yang saya lakukan. Padahal di saat bersamaan, saat belum memiliki basic skincare yang solid.

Tentu saja hal ini termasuk kesalahan. Basic skincare yang terdiri dari cleansing, toning, moisturizing dan protecting atau sering disingkat CTMP, merupakan salah satu kunci utama kulit yang sehat. Jangan pernah abaikan basic. Karna mau sebagus apapun serumnya, kalau basic skincarenya diabaikan, maka tidak akan memberikan efek yang maksimal.

6. Ingin hasil instan


Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita sedang mencari produk skincare yang bisa menghilangkan noda bekas jerawat di wajahnya. Lalu ia mengeluh bahwa produk yang ia coba tidak memberikan efek yang signifikan. Saat saya tanya sudah berapa lama ia mencoba produk tersebut, ia menjawab 5 hari.

Saya melongo. 5 hari, dan ia berharap noda bekas jerawatnya sudah hilang sama sekali?

Tapi saya memaklumi, karna kesalahan ini memang sering dilakukan. Saya juga dulu begitu. Padahal, produk skincare yang aman, membutuhkan proses dan waktu yang tidak instan untuk bekerja dan menunjukkan hasilnya. Kalau hasilnya instan, kita justru patut waspada, jangan-jangan ada kandungan yang berbahaya di dalamnya.

6 point kesalahan di atas, merupakan pengalaman saya pribadi, dan ternyata banyak juga dilakukan oleh orang lain. Kok bisa tau? Dari hasil membaca postingan komentar-komentar di akun beauty inflencer seperti @kinans.review, vlog Mbak Affi Assegaf, dan lain-lain. Saya membagikannya di sini, agar kalian yang membaca tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama.

Menemukan produk skincare yang cocok untuk kulit kita memang sebuah perjalanan panjang yang kadangkala terasa berliku. Jadi wajar saja jika dihiasi beberapa kesalahan. Justru kita akan belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan itu.

Tidak apa-apa. Tetap semangat yaaa kalian yang masing proses pencarian. Insyaa Allah saat sudah menemukan produk yang kita butuhkan dan cocok untuk kulit kita, hasilnya akan sepadan dan membuat bahagianya berlipat ganda.

Butuh Dana Darurat? Berikut 4 Situs Pinjaman Online Aman dan Terpercaya

on
Sabtu, 05 September 2020

Saat mengikuti kulwap tentang financial planing, salah satu komponen perencanaan keuangan yang nggak boleh dilupakan adalah pos dana darurat. Idealnya, kita harus memiliki dana darurat sebesar minimal 6 kali jumlah pengeluaran bulanan, jika masih berstatus single. Sedangkan jika sudah berkeluarga dan memiliki anak, idealnya kita harus memiliki dana darurat sebesar 12 kali jumlah pengeluaran bulanan.

Dana darurat tersebut berfungsi sebagai 'pertolongan pertama' jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat. Contohnya, tiba-tiba terkena PHK, atau sakit dalam jangka waktu lama sehingga tidak bisa bekerja selama beberapa bulan. Kita masih bisa memenuhi kebutuhan dengan menggunakan dana darurat tersebut. Atau saat tiba-tiba plafon rumah roboh tanpa terduga sebelumnya, kita juga bisa menggunakan dana darurat tersebut untuk membenahi rumah.

 

credit: Pixabay

Tapi harus diakui, jumlah dana darurat yang ideal tidak bisa dikatakan kecil. Bagi sebagain orang, menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana darurat merupakan hal yang rumit. Jangankan menyisihkan untuk dana darurat, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sudah mepet sekali.

Padahal dalam hidup, keadaan darurat tidak bisa dielakkan terjadinya. Tidak peduli kita punya dana darurat atau tidak, jika keadaan darurat terjadi, kita harus siap menghadapinya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya dana darurat, sedangkan keadaan darurat tiba-tiba menimpa? Pinjam, menjadi solusi tercepat yang mungkin bisa dilakukan. Tapi pinjam ke siapa? Beruntung jika ada saudara atau teman baik yang bersedia membantu kita dengan meminjamkan uang. Hanya saja, kita sama-sama tau bahwa orang lain yang bersedia meminjamkan uang dengan sukarela sekarang makin sulit dicari.

Menjamurnya situs pinjaman online akhir-akhir ini, bisa jadi merupakan solusi untuk masalah tersebut. Hanya saja, jangan lupa untuk memastikan situs pinjaman online tersebut aman dan terpercaya, agar tidak menyebabkan masalah berikutnya di kemudian hari. Minimal, situs pinjaman online tersebut harus terdaftar di bawah pengawasan OJK.

Berikut 4 situs pinjaman online aman dan terpecaya yang bisa kamu pakai jika sewaktu-waktu membutuhkan dana darurat.

1. Tunaiku

Tunaiku merupakan salah satu produk dari institusi finansial resmi yang berbentuk bank dan tercatat serta diawasi OJK, yaitu Amar Bank. Karena berdiri di bawah naungan institusi keuangan resmi berbentuk bank, keamanan data nasabah Tunaiku akan dijaga dengan baik. Situs pinjaman online ini sudah berdiri sejak tahun 2014.

Tidak seperti layanan pinjaman tradisional yang membutuhkan agunan dan macam-macam dokumen lainnya, Tunaiku menyediakan layanan tanpa agunan dan kartu kredit. Yang dibutuhkan jika kamu ingin mengajukan pinjaman di Tunaiku hanyalah KTP, dan formulir yang harus kamu isi secara online.

Jika sebagian besar situs pinjaman online hanya memberikan tenor atau jangka waktu pinjaman yang sangat singkat, Tunaiku memberikan tenor yang cukup panjang, yaitu maksimal 20 bulan. Untuk jumlah pinjaman pun, Tunaiku memberikan limit yang cukup besar, yaitu hingga 20 juta. Berbeda dengan situs pinjaman online lain yang biasanya memberikan limit kecil.

2. Kreditcepat

Jika kamu butuh dana darurat yang harus cair dalam 24 jam, Kreditcepat mungkin bisa jadi salah satu solusi. Hanya saja, limit yang diberikan tidak sebesar Tunaiku, yaitu 8 juta saja. Tenornya pun maksimal hanya 30 hari, sedangkan suku bunganya dihitung per hari.

Kamu hanya butuh mengunggah beberapa dokumen melalui situsnya, dan dana bisa cair dalam waktu 24 jam.

3. Cashwagon

Jika dana darurat yang kamu butuhkan tidak besar, Cashwagon bisa menjadi salah satu pilihan situs pinjaman online yang bis akamu pilih. Ia memberikan limit mulai 500 ribu hingga 5 juta rupiah, dengan tenor maksimal 40 hari dan bunga 1% per hari.

4. Kredivo

Nah, Kredivo ini memiliki plafond yang cukup besar, sama seperti Tunaiku. Yaitu mulai dari 1,5 juta hingga 30 juta. Hanya saja tenor yang diberikan maksimal hanya 12 bulan. Cairnya pun konon terhitunga cepat.

Sebenarnya masih banyak situs pinjaman online yang aman dan terpercaya lainnya. Tapi 4 situs pinjaman online di atas mungkin bisa kamu pertimbangkan, agar tidak bingung jika terlalu banyak pilihan.

Tapi, jangan lupa! Bijaklah dalam memutuskan untuk meminjam uang secara online. Pertimbangkan dengan sangat matang terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan untuk meminjam. Karna bagaimanapun, syarat dan ketentuan yang cukup mudah, bisa jadi membuat kita terperangkap dalam keputusan yang terburu-buru.

Padahal, sebagian besar situs pinjaman online memiliki suku bunga yang sangat tinggi. Beberapa situs bahkan suku bunganya bukan per bulan, melainkan per hari. Jika tidak dipertimbangkan dengan matang, kita bisa semakin terbebani dengan suku bunga yang besar tersebut.

Jadi sekali lagi, pertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan, dan bijaklah dalam memutuskan.

Signature

Signature