ads

Mengikhlaskan Kenangan Masa Kecil Sebagai Korban Bullying

on
Kamis, 31 Maret 2016

Memutuskan untuk menuliskan tentang ini memaksa saya menimbang ulang beberapa kali. Hingga akhirnya saya merasa mantap. Kenapa saya memilih menuliskan tentang ini? Sementara selama ini hanya orang-orang terdekat dalam hidup saya lah yang tau. Saya memilih menyimpan kenangan atas sakit dan sedihnya. Tapi kemudian saya sadar, dengan menyimpan ternyata tidak membuat kenangan menyedihkan itu serta-merta terhapuskan. Karna saya tau dan mengakui, selama ini saya menyimpannya bukan dalam rangka telah mengikhlaskan, melainkan menyimpannya sebagai dendam.

Tapi tidak dengan hari ini. Semalam saya membaca tentang pentingnya cleansing atas hal-hal buruk yang pernah kita alami. Sekuat apapun mencoba mengabaikan, selama kita belum melakukan cleansing, hal tersebut akan terus meneror diam-diam. Dan secara tidak sadar mempengaruhi beberapa hal dalam kepribadian kita. Dengan rendah hati dan ikhlas, saya mengakui... rasanya ada hal-hal buruk dalam diri saya yang masih terpengaruh oleh kenangan masa kecil saya. Maka hari ini, dengan menuliskannya di sini, saya ingin pelan-pelan mengikhlaskan semuanya dan memaafkan mereka yang pernah melukai saya.

Saya lahir di sebuah desa yang letaknya bisa dibilang cukup terpencil yang ada di wilayah Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Desa saya terletak 8 km dari Kota Kecamatan. Masa kecil hingga SMA saya habiskan di desa tersebut. Saya melewati masa sekolah dasar di sebuah SD Negeri yang letaknya di desa sebelah.

Teman-teman saya di SD mayoritas berlatar-belakang ekonomi menengah ke bawah, bahkan lebih banyak yang ada di tingkatan 'bawah' dibanding yang menengah. Pasa masa itu, ibu dan kakak perempuan saya sudah amat memperhatikan 'penampilan' saya. Pergi ke sekolah dengan dandanan rambut 'aneh-aneh' meniru rambut artis cilik jaman itu. Sepatu, tas, dan perlengkapan sekolah saya pun tergolong bagus. Setidaknya jika dibandingkan teman-teman saya kebanyakan. Tas lusuh, sepatu lusuh, baju lusuh, bahkan tidak jarang ada yang tidak bersepatu. Sungguh ini bukan dalam rangka menghina. Saya hanya menceritakan kondisinya. Intinya, penampilan saya saat itu tampak 'berbeda' dengan mayoritas teman.

Mungkin karna saya tampak 'berbeda', beberapa teman saya juga memandang saya berbeda. Beberapa di antaranya amat jaga jarak dengan saya. Beberapa kali saya mendengan mereka mencibir (ini doa sih sebenarnya, tapi saat itu saya belum kenal istilah berpikir positif) saya dengan istilah 'wong sugih' (orang kaya), yang membuat mereka - entah segan, sungkan atau apa saya tidak tau - menjaga jarak dengan saya. Lalu, beberapa teman lelaki sekelas saya menjadikan saya sebagai sasaran empuk untuk terus-terusan dikerjain, diusilin, dll. Ada saja ulah mereka. Saya sudah lupa detil apa saja tindakan mereka pada saya. Tapi saya masih sangat ingat takutnya, was-wasnya, sedihnya, dan tersiksanya.

Masa-masa SD merupakan masa yang amat menyiksa bagi saya. Seingat saya, saya tidak pernah pergi ke sekolah dengan hati sukacita. Karena alasan inilah saya benci jika ada yang memanggil saya dengan panggilan 'santi'. Kenapa? Karena Santi adalah nama sapaan saya di jaman SD. Dan karena itu pulalah saat saya berhasil lulus dengan nilai tertinggi di SD saya, saya memutuskan untuk membenci teman-teman SD saya yang pembully itu. Bahkan ekstrimnya, untuk beberapa nama yang saya ingat paling 'jahat' saat itu, saya putuskan untuk pura-pura tidak mengenal mereka. Saya tidak pernah bersedia disapa apalagi menyapa saat sekali waktu berpapasan di jalan.

Tapi buat apa? Apa untungnya buat saya? Bukannya mengobati luka, saya justru membuat kenangan masa kecil itu semakin bernanah. Maka hari ini, melalui tulisan ini, saya memutuskan... Bismillah, saya akan berusaha mengikhlaskan semua kenangan masa kecil saya itu.


Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.


Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.
~Kurniawan Gunadi~

3 Hal Tentang Mbak Ernawati Lilys Yang Pernah Jadi Impian Saya

on
Rabu, 30 Maret 2016
Hidup berawal dari mimpi, katanya. Ya, banyak orang hebat mengawali hal-hal luar biasa dari mimpi-mimpinya. Bill Gates, contohnya. Ia pernah bermimpi bahwa suatu saat, setiap rumah di dunia akan memiliki PC (Personal COmputer). Lihatlah, hari ini mimpinya hampir terwujud! Atau contoh lainnya yang lebih dekat adalah seorang anak muda Indonesia yang amat menginspirasi. Siapa lagi kalau bukan Merry Riana! Kondisi terhimpit telah membuatnya menancapkan mimpi untuk bisa memiliki kebebasan finansial sebelum umur 30 tahun. Dengan perjuangan yang amat total, mimpinya berhasil ia genggam.

Tapi, sebaik apapun kita menata mimpi, tetap ada Allah Sang Perencana Terbaik yang menentukan, apakah mimpi kita layak di ACC oleh-Nya atau tidak. Meski kata banyak orang, terwujud atau tidaknya sebuah mimpi, usaha adalah hal terpenting yang menjadi penentunya.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut, tapi adakalanya saya tidak setuju. Tentang mimpi memiliki anak misalnya. Bukankah setiap manusia normal memimpikan memiliki anak yang merupakan darah dagingnya sendiri? Tapi bukankah ada orang-orang yang diuji Allah dengan tidak diijinkan memiliki anak kandung? Nah, di situlah usaha sekuat apapun tak mampu memberikan pengaruh jika Allah tak berkehendak.

Saya juga punya banyak mimpi. Meski mimpi saya mungkin tak sehebat orang-orang di atas. Beberapa di antara mimpi saya ada yang di-ACC oleh Allah, ada pula yang tidak. Namun ada juga beberapa mimpi yang saya revisi ulang. Dunia ini tidak statis, kan? Apalagi tentang pikiran, rencana dan mimpi seseorang. Tentu saja akan sangat mungkin bisa berubah.

Seorang teman Blogger yang saya kenal (awalnya) melalui sebuah grup chatt blogger di WA mengingatkan saya pada beberapa mimpi saya itu. Ia adalah Ernawati Lilys. Menyimak kisah yang ia paparkan di grup, membaca potongan ceritanya di blog, dan mengamati akun facebooknya, membuat saya seperti bernostalgia mengingat beberapa mimpi saya yang salah satunya tak mampu saya raih, satunya lagi saya revisi, dan satunya lagi masih saya simpan. Apa saja 3 mimpi tersebut?


Mbak Ernawati Lilys dan 2 buah hatinya

1. Menikah MUDA!

Yippiii... ini mimpi saya saat masih duduk di bangku kuliah. Saat semangat belajar ilmu agama, termasuk tentang keutamaan menikah dalam Islam tengah menggelora pada diri saya dan teman-teman sekeliling saya. Saya ingin sekali menikah pada umur kurang dari 25 tahun! Nyatanya, Allah tidak meng-ACC mimpi saya tersebut.

Maka, membaca kisah Mbak Erna yang menikah di usia 24 tahun, ada sepercik rasa iri di hati saya. Apalagi membaca kisah pertemuannya dengan sang suami tercinta. Saat itu Mbak Erna tengah merantau (kost) di Bekasi dalam rangka bekerja sekaligus kuliah. Sedangkan sang suami merupapakan warga asli Bekasi, yang diam-diam tertarik pada si pendatang (Mbak Erna). Menurut Mbak Erna, laki-laki yang saat ini menjadi suaminya merupakan lelaki pertama yang dengan gagah berani dan mantap mendatangi orang tua Mbak Erna di Bogor untuk menyampaikan maksud hatinya. Meski sejak SMA banyak lelaki yang melamarnya atau 'sekedar' mengajaknya berpacaran, Mbak Erna tetap teguh pada prinsipnya. Mbak Erna juga berpesan pada para pencari jodoh (Plis, istilah apa ini :D) agar memilih lelaki yang tegas berani datang ke rumah dan meminta restu pada orang tua, bukan sekedar bilang ingin ngajak menikah di pinggir jalan :D

2. Menjadi Penulis

Bagian ini paling membuat saya berdecak kagum, sekaligus malu pada diri sendiri. Dulu saya pernah bermimpi akan menulis sebuah novel, dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Nyatanya? Nihil hingga hari ini! Hehe. Draft novel saya yang sudah mencari seratus halaman lebih teronggok begitu saja di laptop, dan tak pernah saya sentuh lagi -- dengan berbagai alibi.

Sedangkan Mbak Erna, lihatlah deretan karyanya di sini. Statusnya sebagai ibu rumah tangga yang kita tau tugasnya hampir tidak pernah ada jedanya, sekaligus ibu dari dua orang anak yang masih balita tak menjadikan ia berhenti berkarya. Totalitasnya pada passion menulisnya amat luar biasa. Selain melahirkan karya-karya berbentuk buku, Mbak Erni jus amat giat mengelola blognya. Bahkan kata Mbak Erni, ia hampir selalu ingin menulis. Jeda saat mencuci pun ia ingin menulis. Bahkan ketika tak ada laptop pun, Mbak Erna tidak sungkan menulis di buku tulis. Luar biasa!!

3. Menjadi Stay At Home Mom

Lagi-lagi ini mimpi saat di bangku kuliah. Saat idealisme masih menggelora. Jadi ibu rumah tangga, total mengurus anak dengan tangan sendiri, dll. Tapi semakin ke sini, saya merasa impian yang ini mungkin harus saya revisi dulu. Tentu impian sangat memungkinkan untuk kembali mengemuka.

Dan Mbak Erna membuat saya sadar, yakin dan jadi tidak takut jika sewaktu-waktu nanti harus menjadi stay at home mom. Mbak Erna membuktikan, bahwa meskipun tidak berkarir di luar rumah, Mbak Erna bisa tetap menjaga eksistensinya, bisa tetap menggali potensinya dan mengembangkan passionnya di dunia menulis.

Senang sekali rasanya bisa mengenal Mbak Ernawati Lilys. Dengan mengenal beliau, saya merasa ikut bahagia melihat cerminan impian saya terpantul dari sosoknya, meskipun impian tersebut belum kuasa saya genggam.

3 Golongan Orang Yang Wajib Memperbanyak Silaturahim



Bicara tentang silaturahim ke sanak famili, saya bisa dibilang gak punya banyak pengalaman. Selain jumlah sanak famili yang gak bisa dibilang banyak, kebanyakan juga tinggal sedesa, bahkan sebagian ada di satu RT! Haha

Maka, hampir gak ada momen yang terasa khusus dan istimewa untuk silaturahim dengan sanak famili. Lha wong tiap hari ketemu, gitu! Bahkan lebaran pun rasanya gak yang gimanaaa gitu :( Makanya saya suka iri tiap melihat seorang teman mengunggah foto saat sedang kumpul-kumpul dengan saudara, atau status yang mengekspresikan kebahagiaan saat akhirnya bisa kumpul dengan sanak famili.

Dan karena kondisi tersebut, saya tumbuh sebagai orang kurang akrab dengan kebiasaan silaturahim. Tapi saya mulai sadar bahwa silaturahim memiliki banyak sekali manfaat. Salah satu manfaat silaturahim baru saja saya rasakan langsung. Saat tengah galau memilih vendor untuk pesan undangan pernikahan, berkat menyambung silaturahim dengan seorang kakak angkatan yang ternyata punya usaha percetakan undangan, akhirnya saya pun mendapat diskon yang amat lumayan darinya :)

Rasanya, silaturahim memang memiliki manfaat yang gak bisa diabaikan. Apalagi bagi 3 golongan orang berikut ini, rasanya amat wajib memperbanyak silaturahim. Siapa saja mereka?

1. Golongan 'Job Seeker'

Kamu baru saja wisuda, dan belum mendapatkan kerja? Jangan galau dan patah semangat dulu, ya! Di samping terus berikhtiar mengirim lamaran kerja, perbanyak juga silaturahim ke rumah sanak familimu.

Kenapa harus begitu? Satu, dengan banyak silaturahim dan bertemu banyak saudara, maka Insya Allah akan semakin yang bantu doa. Kedua, siapa tau jalan rizki kamu diperantarakan lewat salah satu saudaramu. Misal, saudaramu ada yang tau tentang info lowongan kerja yang pas sama potensimu, atau di tempat kerjanya ada sedang membutuhkan tenaga yang sesuai sama background pendidikanmu. Iya, kan?

Jadi, jangan malah malas silaturahim gara-gara jengah ditanya-tanya kenapa belum dapat kerja, ya ;)

2. Golongan 'Para Pencari Jodoh'

Ups, istilahnya gak nahan, ya :D

Iya sih, saya tau bagi para pencari jodoh, silaturahim menjadi hal yang cukup menyesakkan. Ada di tengah orang-orang yang 'amat perhatian' pada kita yang belum kunjung bertemu jodoh memang bukan hal yang mudah. Tapi, keep positive thinking dong, ya!

Siapa tau dengan banyak silaturahim justru kamu menemukan jalan untuk segera bertemu jodoh. Seperti di point pertama tadi. Selain akan lebih banyak yang membantu doa, bukan gak mungkin akan banyak juga yang tulus ingin membantu.

Eits, jangan antipati dengan istilah 'dijodohkan', ya! Apa salahnya dijodohkan kalau dengan orang yang baik? Kan gak mungkin saudaramu memilihkan orang yang 'gak bener' buat kamu :)

3. Golongan 'Kantong Kering'

Kamu anak kost dan belum berpenghasilan? Atau bahkan masih SMA yang uang sakunya pas-pasan? Silaturahim!

Apalagi jika kost di kota lain, dan di kota tersebut ada saudaramu. Dijamin, silaturahim akan jadi solusi ampuh saat tanggal tua dan kamu tengah dilanda kantong kering :D

Minimal, kamu bisa makan siang atau makan malam gratis. Kalau beruntung, pulangnya bisa bawa cemilan buat di kost. Lebih beruntungnya lagi, kamu bisa dapat uang saku tambahan.

Haha, point ini murni ngawur dan gak patut dijadikan pedoman :D

Nah, apakah kamu masuk ke salah satu dari tiga golongan di atas? Yuk ah, jangan ragu-ragu memperbanyak silaturahim! Ini Pe Er untuk saya juga sih :)

Menjaga Kesehatan Dengan Apotek Hidup

on
Selasa, 29 Maret 2016

Kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya. Adakah yang tidak setuju dengan ungkapan tersebut? Rasanya tidak ada. Sekaya apapun seseorang, jika kesehatan tak ia miliki, maka hampir tak sedikitpun kenikmatan bisa ia rasakan.

Tak perlu mengambil contoh penyakit-penyakit menyeramkan seperti kanker, diabetes, dll. Cukup sariawan, misalnya. Kelihatannya sepele sekali, kan? Tapi ketika kita tengah mengalami sariawan beberapa hari saja, rasanya hampir 70% kenikmatan hidup, terutama saat makan akan sirna.

Contoh lain masuk angin. Lagi-lagi, gangguan kesehatan yang kelihatannya amat sepele. Tapi ketika mengalami, rasanya tak karuan. Saya adalah salah satu orang yang amat mudah masuk angin. Terutama saat terkena angin malam. Ketika masuk angin, perut rasanya mual, kepala seperti ditindih batu teramat besar. Dan saat seperti itu, kerja pun rasanya saya tidak bisa berpikir.

Lalu bagaimana cara mengatasi masuk angin? Haruskah selalu minum jamu atau pil yang iklannya mengadu antara orang pintar dan orang bejo (beruntung)? Hehe. Kalau saya, selama masih ada cara lain untuk mengatasinya, maka saya pilih cara lain itu. Minum obat adalah langkah terakhir, jika rasanya memang sudah tak tertahankan sakitnya.

Beruntunglah kita hidup di alam Indonesia, yang sering mendapat julukan gemah ripah loh jinawi. Hampir segala tanaman yang punya banyak manfaat ada di sekitar kita. Termasuk tanaman-tanaman yang mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai keluhan kesehatan. Tanaman-tanaman tersebut banyak dibudidayakan, atau sekedar ditanam di pekarangan rumah sebagai apotek hidup.

Bagi saya yang mudah terkena masuk angin, tanaman jahe merupakan primadona di apotek hidup milik ibu saya di kampung halaman sana. Setiap perut terasa agak kembung, tinggal jalan menuju apotek hidup yang ada di halaman, mengambil beberapa siung jahe, lalu membuatnya menjadi segelas minuman yang segar dan menghangatkan. Selain ampuh mengatasi perut kembung dan masuk angin, jahe juga konon memiliki banyak sekali khasiat untuk kesehatan.

Selain jahe, tanaman-tanaman lain pun memiliki khasiat yang tak kalah penting bagi kesehatan. Contohnya kencur yang memiliki khasiat untuk mengobati radang lambung, lalu tanaman serai yang bisa membersihkan bakteri dan infeksi jamur. Semua tanaman itu amat mudaj dibudidayakan di pekarangan apotek hidup rumah kita.

Nah, jika masih punya sedikit lahan kosong di rumah, kenapa tak memanfaatkannya dengan membuat apotek hidup? Mari menjaga kesehatan dengan cara bersahabat dengan alam, dan mengurangi ketergantungan pada obat-obat kimia :)

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Apa Yang Harus Kita Lakukan Untuk Menghadapinya?

on
Senin, 28 Maret 2016
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang telah sekian lama menjadi tema perbincangan antar-negara ASEAN kini telah resmi diberlakukan. Gagasan tentang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini terbentuk dengan tujuan menciptakan kawasan ASEAN yang sejahtera dan makmur. Namun, gagasan ini tentu saja memiliki dampak negatif serta positif yang beriringan.

Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), persaingan di bidang perdagangan maupun jasa tak urung semakin ketat. Hal itu menjadi tantangan baru bagi masyarakat di kawasan Asean, terutama Indonesia. Masyarakat Indonesia dituntut untuk semakin giat meningkatkan kualitas diri agar bisa bersaing di era perdagangan bebas ini. Jika tak sigap mempersiapkan diri, maka siap-siap saja akan tersingkir dari kerasnya persaingan di bidang perekonomian.

Sebagai anak muda, yang di pundak kitalah harapan atas jayanya negeri ini, apa saja yang harus kita lakukan? Akankah kita masih akan berpangku tangan dan malas-malasan, sedangkan di luar sana banyak orang tengah menempa diri untuk menghadapi ketatnya persaingan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini?!

Maka, sudah waktunya dan sudah seharusnya kita turut mempersiapkan diri untuk menghadapi era ini. Tak perlu memikirkan langkah yang muluk, tapi akhirnya justru tak terealisasi. Cukup siapkan langkah-langkah kecil berkesinambungan, yang membuat kualitas diri kita terus semakin baik dari hari ke hari.

Salah satu langkah kecil saya dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini, adalah dengan memperbarui tekad untuk belajar bahasa inggris kembali. Skill berbahasa, terutama bahasa internasional, tentu saja amat penting untuk dimiliki di era perdagangan bebas seperti saat ini. Bagi saya yang kemampuan bahasa inggrisnya masih amat minim, maka langkah untuk belajar bahasa inggris merupakan salah satu hal yang mendesak.



Gayung bersambut, alam rupanya merestui keinginan saya. Beberapa hari lalu, salah seorang teman blogger memberikan info tentang diadakannya sebuah kursus (sekolah) TOEFL gratis, yang diadakan oleh salah satu anak bangsa yang punya keinginan besar untuk membagi ilmunya. Sistem pembelajarannya dilakukan secara online, sehingga cocok sekali untuk para pekerja full time yang tak memiliki banyak waktu untuk mengikuti kelas formal.

Maka, siang tadi saya memantapkan diri untuk mendaftar di sekolah TOEFL tersebut. Jika ada juga berminat dan hendak mendaftarkan diri, caranya amat mudah. Yaitu cukup dengan mengisi formulir pendaftaran di sini. Insya Allah kelas akan dimulai pada tanggal 4 April 2016 mendatang.

Jadi, apa langkah yang kamu persiapkan untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini? Jangan sampai kita tergilas oleh kerasnya persaingan gara-gara lalai menyusun langkah, ya!

Melawan Rasa Tidak Percaya Diri

on
Kamis, 24 Maret 2016
Siapa yang sering merasa gak percaya diri dan minderan, tunjuk jari?!!

Kalau ada yang tanya seperti itu, saya pasti menjadi salah satu orang yang segera tunjuk jari. Iya, saya sering diliputi rasa tidak percaya diri. Dan rasa percaya diri itu terasa seperti penjajah. Ia membuat gerak langkah saya amat terbatas dan membuat saya gak bisa mengembangkan diri dengan optimal. Sejak saya menyadari hal itu, saya bertekad melawannya sekuat tenaga. Saya gak ingin terus-menerus dijajah.

Meski sudah memiliki tekad untuk melawan tidak rasa percaya diri, tentu saja jajahan perasaan itu tidak serta-merta hilang. Tekad itu membutuhkan perjuangan berat berupa perlawanan pada diri sendiri. Yah, wajar saya rasa... Indonesia saja butuh waktu sekian ratus tahun untuk melawan penjajah, dan membutuhkan perjuangan yang sedemikian berat, kan? Alhamdulillah, meskipun mungkin belum terlalu signifikan, sedikit demi sedikit saya mulai berhasil melawan rasa minder dan tidak percaya diri.

Blog ini -- dan dua blog saya yang lain, merupakan salah satu hasil perjuangan saya melawan rasa tidak percaya diri. Saya sudah suka menulis sejak SMP sebenarnya. Tapi dulu mana berani saya membiarkan tulisan saya dibaca oleh orang lain. Jangankan orang lain yang tidak saya kenal, dibaca oleh teman sebangku saya di sekolah saja rasanya saya tidak percaya diri sama sekali.

Beberapa tahun lalu -- kalau tidak salah saat SMA, saya diam-diam punya sebuah resolusi untuk diri saya sendiri. Masih dalam rangka melawan rasa tidak percaya diri. Apa itu? Saya ingin berani tampil di depan umum. Saat SMP sebenarnya saya sudah beberapa-kali melakukannya. Menjadi petugas upacara, menjadi pemeran utama dalam pentas drama sekolah, dan menjadi wakil kelas dalam lomba peragaan busana muslim di sekolah. Tapi entah kenapa saat SMA, keberanian saya untuk tampil di depan umum seperti hilang tak berbekas. Saya iri tiap melihat teman saya berani berbicara di depan umum. Saya ingin keberanian saya kembali, dan itu membuat saya berbisik dalam hati, 'suatu hari saya harus berani tampil lagi di depan umum'.

Alhamdulillah, beberapa hari lalu saya mendapatkan dan menggenggam kesempatan itu! Ya, apa artinya tekad sebesar apapun jika tak mendapatkan kesempatan? Dan apa artinya kesempatan sebanyak apapun, jika tak kita genggam?

Cieee... :D
Jadi ceritanya, divisi kerja saya -- Akuntansi & Perpajakan -- mempunyai program kerja untuk memberikan sosialisasi atau sharing tentang perpajakan kepada seluruh teman-teman sekretariat. Tujuannya, biar teman-teman setidaknya punya pengetahuan tentang pajak, terutama PPh Pasal 21. Nah, saya dipercaya oleh Kepala Bagian saya dan Kepala Sekretariat untuk menyampaikan materinya kepada teman-teman. Pertimbangannya, selain karna tugas kerja saya sehari-hari memang menangani Pajak, saya juga sudah beberapa kali diikutkan pelatihan-pelatihan mengenai perpajakan oleh kantor (ini juga pernah jadi 'doa' saya).

audiens bapak-bapak
audiens ibu-ibu dan mbak-mbak
Meskipun masih ada rasa gak percaya diri, akhirnya saya memantapkan diri untuk berani. Maklum, kan, kalau masih ada rasa kurang percaya diri?! Karna yang akan saya suguhi materi adalah teman-teman yang 90% lebih senior dari saya, dan sebagian juga punya pengetahuan mumpuni. Alhamdulillah, meskipun agak sempat agak grogi dan jadi blank saat presentasi, secara keseluruhan acara berjalan lancar. Saya juga dibantu oleh salah satu teman yang tau banyak tentang pajak, saat saya gak bisa jawab pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang teman. *Sungkem sama pak azhar*. hehe

Semoga pengalaman ini menjadi pelecut bagi saya untuk bisa lebih percaya diri lagi. Aamiin :)

Kalau kalian gimana, pernah punya pengalaman melawan rasa tidak percaya diri nggak? Share, yuk :)

Bertemu Orang Baru

on
Rabu, 16 Maret 2016
Bertemu orang baru itu ada yang bilang seperti saat kita membuka kado. Kita tidak tau seperti apa isinya, dan akan selalu ada dua kemungkinan, yaitu suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, bermanfaat dalam jangka waktu lama atau hanya dalam waktu sekejap. Sama seperti saat bertemu orang baru. Kita tidak pernah tau seperti apa karakter orangnya, meskipun sebelum bertemu secara langsung, kita sudah mengenalnya cukup lama di dunia maya. Sering kan ya, saat kopdar kita bertemu dengan orang yang ternyata karakternya berbeda dengan apa yang kita sangka berdasarkan kehidupan dunia mayanya? Sama juga seperti membuka kado tadi, bisa jadi kita akan merasa 'klik', bisa jadi tidak. Bisa jadi pertemuan tersebut akan berlanjut menjadi pertemanan jangka lama, bisa jadi hanya selintas lalu -- seperti jika kita dikado makanan. Hehe.

Saya termasuk orang yang kesiapan bertemu orang-orang barunya tidak cukup baik. Simpelnya, saya kurang percaya diri alias minderan. Setiap hendak bertemu orang baru, saya pasti grogi. Sibuk bertanya-tanya dalam hati, 'orangnya seperti apa ya, karakternya bagaimana, nanti nyambung gak ya obrolannya, ngobrolin apa ya', dan pertanyaan yang oaling menghantui adalah, 'saya diterima dengan baik gak ya'. Hehe.

Perasaan-perasaan tersebut rasanya bak penjajah yang terus mengintimidasi, dan menjadi penghalang saya untuk berkembang. Maka, perlahan-lahan saya berusaha untuk menumpas perasaan itu. Dan salah satu aktivitas yang membantu saya dama usaha menumpas perasaan di atas adalah ngeblog ini.

Dengan ngeblog, Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa teman baru. Teman yang mulanya hanya berinteraksi di dunia maya, beberapa ada yang akhirnya berkesempatan bertemu di dunia nyata. Dan Alhamdulillah, sejauh ini ketakutan-ketakutan saya seperti di atas sama sekali tidak terbukti. Beberapa di antaranya yaitu, Mbak Ella Sofa, Mbak Susindra, Jiah, Mbak Esti, dan yang terakhir adalah Mba Muna Sungkar yang saya temui hari senin lalu.

Mbak Muna Sungkar, pemilik blog www.momtraveler.com, merupakan seorang Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi sekaligus Fakultas Bahasa di Universitas yang bernaung di bawah Yayasan yang mana saya juga berkeja di situ. Meski bekerja di lingkungan yang sama, nyatanya kesibukan membuat janji bertemu kami tidak lantas terlaksana dengan mulus. Beberapa kali pertemuan harus kami tunda lantaran ada pekerjaan yang harus diutamakan.

Minta difotoin sama Mahasiswa yg lagi di lobi. Harap maklum kalo hasilnya jelek, ya :)
Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapakali gagal janjian, hari Senin tanggal 14 maret 2016 kemarin, saya dan Mbak Muna bisa bertemu. Bagaimana kesan pertama saat bertemu Mbak Muna? Cantik. Hihi. Meskipun dari wajahnya Mbak Muna terlihat agak kuyu. Namun, hal itu menjadi sangat wajar ketika di tengah obrolan Mbak Muna mengabarkan sebuah berita yang amat membahagiakan, yang sudah beliau ceritakan di sini.

Bertemu Mbak Muna juga membuat saya malu sekaligus termotivasi. Dengan segala kesibukannya -- mengajar di dua Fakultas, menjadi istri dan ibu -- Mbak Muna juga istiqomah menulis di blog, menulis buku, dan juga menjadi salah satu kontributor sebuah majalah. Wow! Sedangkan saya yang masih single, 'cuma' kerja begini, sudah merasa pantas mengeluh dan menjadikannya alasan untuk tidak istiqomah merawat blog?!

Ya, saya mulai tau sekarang. Bahwa bertemu orang baru selalu membuat kita belajar sesuatu, asal kita jeli melihat 'pelajaran-pelajaran' yang kadang tersembunyi. Bertemu Mbak Muna membuat saya belajar, bahwa saat kita memutuskan untuk menekuni passion, maka kita harus total -- jangan setengah-setengah. Seperti Mbak Muna yang memiliki passion traveling dan menulis yang kemudian ia kombinasikan dan tekuni dengan sangat apik dan total. Terbukti dengan terbitnya buku berjudul 'Jelajah Ujung Barat Indonesia Banda Ceh Sabang' dan blog bertema traveling yang istiqomah ia update. Sukses selalu, Mbak Muna... semoga bisa bertemu kembali di lain kesempatan :)

Perasaan Takut Berbuat Dosa, Ke mana Perginya?

on
Selasa, 15 Maret 2016
Dulu, saat masih SD, saya suka berimajinasi -- mungkin seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Salah satunya saat melihat awan di langit kala siang. Setiap melihat ke langit dan menemukan gumpalan-gumpalan awan, saya berimajinasi bahwa di antara sela-sela awan itu merupakan tempat menghukum anak-anak yang nakal dan berbuat dosa.

Setiap saya berniat berbohong pada Ibu misalnya, saya langsung melihat awan, lalu bergidik ngeri. Saya berimajinasi bahwa kalau saya berbuat dosa -- yaitu berbohong pada Ibu -- maka akan ada nenek-nenek jahat yang mengambil dan membawa saya ke awan-awan itu untuk dihukum. Maka, dengan serta-merta saya pun mengurungkan niat saya untuk berbuat dosa membohongi Ibu.

Lalu bagaimana dengan hari ini?

Seiring dengan berkurangnya imajinasi saya sekaligus bertambahnya pengetahuan saya, saya pun tau bahwa imajinasi saya tentang awan adalah SALAH. Awan sama sekali bukan tempat untuk menyiksa anak yang berbuat dosa -- tentu saja kita semua tau tentang hal ini. Saya sudah mulai tau yang benar -- tentang di mana hukuman atas dosa diberlakukan, dll.

Tapi apakah dengan bertambahnya pengetahuan saya tentang dosa dan hukumannya, menjadikan rasa takut saya akan berbuat dosa juga semakin jauh meningkat dibanding saat saya masih sekedar bermain dengan imajinasi tanpa didasari pengetahuan? Dengan hati perih dan jiwa besar, saya menjawab jujur: TIDAK.

Jika dulu bayangan dihukum di awan sudah mampu membuat saya seketika mengurungkan diri berbuat dosa, bukankah harusnya pengetahuan tentang pedihnya neraka bisa jauh lebih ampuh untuk membuat saya berbuat dosa?! Sekali lagi, sayangnya tidak. Kini, saat hendak berbuat dosa dan terbayang akan neraka, akal (atau nafsu?) saya segera membisikkan: 'Kan Allah Maha Pengampun, nanti Istighfar...'

Laa Ilaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz Zhalimiin...

Pagi ini, di tengah kondisi hati yang diliputi kegelisahan, saya mendengarkan tausiyah Aa' Gym melalui YouTube. Saya pilih acak, yang judulnya sesuai dengan kondisi hati saya. Dan Qodarullah... PAS sekali nasehatnya untuk saya.

Dalam tausiyahnya, Aa' Gym mengatakan, bahwa Ibnu Mas'ud berkata tentang perbedaan orang beriman dengan orang munafik dalam menyikapi dosa yaitu, orang beriman memandang dosa seperti gunung yang amat besar dan siap menimpanya, sedangkan orang munafik memandang dosa seperti lalat. Subhanallah :(

Selain itu, Aa' Gym juga menasehatkan agar kita banyak-banyak bertaubat. Jika sedang dalam kondisi apapun, terutama kondisi sulit, sadarilah bahwa kemungkinan besar sebabnya adalah karna dosa kita yang belum kita taubati. jangan terburu-buru menyalahkan keadaan, apalagi orang lain. Fokus taubat saja. Seperti Nabi Adam yang sama sekali tidak menyalahkan Hawa saat ia diturunkan dari Surga, tapi hanya sibuk mengucap permohonan ampun: 'Rabbana Dzalamna anfusana...', atau seperti Nabi Yunus yang tak sedikitpun menyalahkan kaumnya saat ia dimakan Ikan Paus, melainkan hanya menyibukkan lisan berucap: 'Laa Ilaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz Zhalimiin...'

Makanan yang Difoto Dulu Sebelum Dimakan Rasanya Lebih Enak

on
Jumat, 11 Maret 2016
dr. Google
Zaman udah canggih begini, rasanya aneh ya kalo kita nyobain makanan baru tapi lupa mem-posting fotonya. Iya, gak kekinian deh kalo makanan yang bentuknya unyu malah lupa difoto. Tapi tau gak sih, faktanya ya, memfoto makanan sebelum dimakan tuh bisa membuat rasa makanan jadi lebih enak lho.

Penelitian Tentang Makanan yang Difoto

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas San Diego dan Universitas Saint Joseph di Amerika Serikat, memfoto makanan bisa meningkatkan penilaian rasa terhadap makanan tersebut. Ketika kita memfoto makanan sebelum menyantapnya, rupanya ada jeda waktu yang memberikan kesempatan lebih bagi indera kita.

Hasilnya, alat indera kita akan membentuk suatu sinergi yang membayangkan kelezatan makanan di hadapan kita. Studi yang dilakukan oleh 120 orang menyatakan hasil bahwa orang yang memfoto makanan sebelum makan akan memberikan penilaian rasa yang lebih tinggi. Maksudnya, makanan yang sudah difoto jadi tampak lebih enak dan menggiurkan.

Ada ketertarikan visual yang membuat orang jadi lebih tergiur dengan makanan yang ada di depannya. 

Tentang Penampilan Makanan yang Menarik

Nah, supaya makanan yang mau difoto jadi menarik, para pengelola restoran jelas harus memperhatikan tampilan makanannya, ya. Jangan sampai rasa makanan yang super enak gak diimbangi dengan penampilan yang menarik.

Penataan makanan rupanya bikin pelanggan jadi semakin semangat foto-foto. Kalo foto-foto makanan yang menarik udah nyebar di sosmed, pasti para pengguna sosmed lainnya jadi penasaran pengen ikutan nyoba.
Hal ini juga jadi pelajaran nih buat para ibu rumah tangga. Lho kok ibu rumah tangga?

Iya, dong. Ibu rumah tangga juga jangan mau makanannya kalah sama makanan restoran. Sesekali gak masalah kan kalau meluangkan waktu buat menata makanan. Sekarang belanja murah bisa dilakukan secara cepat di MatahariMall. Kalau udah mengunjungi MatahariMall, gak perlu berlama-lama memilih barang. Semua spesifikasinya udah disiapin secara lengkap dan proses pembayarannya juga praktis.

Gak ada alesan lagi bagi ibu rumah tangga buat males menata makanan secara apik di atas piring saji. Udah punya bahan-bahan makanan berkualitas dari MatahariMall, sekarang tinggal berkreasi aja, deh. Selamat memasak!

Langkah-Langkah Lapor SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi Melalui aplikasi E-Filing

on
Selasa, 08 Maret 2016
Nah, sesuai janji saya kemarin, kali ini saya akan berbagi tentang langkah-langkah lapor SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi melalui aplikasi E-Filing. Jaman sekarang ya, apa-apa sudah jauh lebih mudah dengan internet. Daripada harus repot-repot ke KPP, harus antri panjang pula, mending lapor pake E-Filling.

Nah, langsung aja ya masuk ke langkah-langkahnya :)

Langkah Pertama: Masuk ke URL http://efiling.pajak.go.id
Kemudia masukkan NPWP dan password kita. Pastikan dulu bahwa kalian sudah aktivasi EFIN dulu ya :)
Baca juga:  Jika Kamu Punya NPWP, Maka Jangan Lupakan Hal Ini!

Nah, setelah berhasil login, lanjut ke langkah kedua: klik 'Efiling' di pojok kanan atas seperti gambar di bawah ini:
 

Langkah ketiga: Klik 'Buat SPT'



Langkah keempat: Setelah klik 'Buat SPT', kalian akan disuguhi 3 pertanyaan. SIlahkan dijawab sesuai dengan kondisi kalian masing-masing, ya :)
Nah, isian kalian akan menentukan tipe SPT kalian. Kalau jawaban kalian sama dengan saya, dan pendapatan bruto kalian kurang dari 60 juta setahun, maka tiper SPT kalian adala 1770 SS.


Langkah kelima: Isi Tahun pajak dengan angka 2015 (Tahun yang akan kita buat SPT-nya), dan klik 'Normal' (Kecuali kalau kalian sedang membuat SPT Pembetulan). Kalau sudah, lalu klik 'Berikutnya'


Langkah keenam: Nahh, saatnya kalian mengisi SPT kalian. Karna negara kita memakai prinsip self assesment, maka perhitungan pajak kita menjadi tanggung jawab masing-masing pribadi. Bagi yang berstatus sebagai karyawan di sebuah instansi mungkin akan lebih mudah, karna kita bisa mengisinya sesuai Form A1 yang diberikan oleh perusahaan/instansi kita. Kalau belum dikasih? Ya sana gih minta :P


Langkah ketujuh: Setelah mengisi angka-angkanya pada kolom yang tersedia, silahkan klik 'berikutnya' di pojok kanan bawah.

Langkah kedelapan: Klik 'berikutnya' lagi aja :D


Langkah kesembilan: SIlahkan isi berapa jumlah kekayaan kalian, lalu klik 'Berikutnya' lagi :D

Langkah kesepuluh: Centang kolom 'setuju', lalu klik 'Berikutnya' lagi :)

Langkah kesebelas: Klik kata 'di sini' yang diberi warna orange.


Langkah keduabelas:Kalian akan diberi pilihan untuk menerima kode verifikasi melalui email atau sms. Silahkan pilih sesuai keinginan kalian, lalu klik 'OK'. Tidak lama kemudian kalian akan menerima Kode verifikasi melalui saluran yang kalian pilih. Silahkan isikan pada kolom kode verifikasi yang tersedia, lalu klik 'Kirim SPT'

Langkah ketigabelas: Kalian akan dapet pertanyaan basa-basi soal Puas atau Tidaknya kita atas aplikasi Efiling ini. Silahkan klik sesuai hati nurani :D

Nahh, akhirnya DONE! Kalian sudah gak perlu lagi deg-degan dapet 'surat cinta' dari KPP gara-gara belum lapor. Hehe


Sekian tutorial tentang langkah-langkah lapor SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi dari saya. Selamat mempraktekkan, dan semoga gak bingung, ya sama penjelasan saya :D

Resep Mie Kepiting Kuah: Menu Yang Cocok Untuk Musim Hujan

on
Senin, 07 Maret 2016
Akhir-akhir ini cuaca sedang lumayan sering gerimis dan syahdu, ya. Bikin udara jadi agak dingin-dingin empuk. Kalau cuaca sedang seperti itu, nafsu makan biasanya jauh lebih besar dari biasanya. Iya gak sih?

Seperti yang saya rasakan hari minggu kemarin. Kebetulan sedang ada di kampung halaman. Karna baru saja sembuh dari flu, akhirnya saja memilih di rumah saja seharian. Pagi-pagi saya lewati dengan chit-chat di beberapa grup chatting, baca buku, lalu nonton TV -- setelah lumayan lama saya gak nonton TV. Saya milih program TV yg paling positif saat ini: ulasan tentang kuliner. Haha. Kebetulan kemarin membahas tentang mie aceh kepiting. Hmm, bikin ngiler. Saat Mbak Tukang Sayur datang, dan ternyata bawa kepiting, langsung deh saya kepikiran untuk mengobati ngiler saya :D

Saya sempet coba browsing-browsing resep mie aceh kepiting. Tapiii... Saya putus asa sendiri karna ga semua bahan dan bumbu tersedia. Tapi saya gak nyerah begitu aja. Dengan segenap kreativitas saya, saya bumbui saja sesuai kreasi saya sendiri. Saya mah gitu orangnya :D

Dan... This is it... Saya namai masakan saya ini 'Mie Kepiting Kuah' :D



Berikut resepnya, siapa tau ada yang pengen coba:

Bahan:
2 bungkus mie instan, singkirkan bumbu instannya, rebus mienya, tiriskan
4 ekor kepiting, rebus sebentar
Sawi
Kol
Taoge
Seledri
Wortel
Kurleb 4 gelas air (silahkan sesuaikan dengan selera)

Bumb halus:

5 butir cabe rawit
7 butir cabe merah
(Ini untuk ukuran saya yang doyan banget pedes ya)
2 butir bawang merah
2 butir bawang putih
1/2 buku jari Kunyit
1/2 buku jari jahe
1/2 buku jari laos
Mrica secukupnya
3 butir kemiri
1 butir tomat

Cabenya ketinggalam, gak.ikut foto :D
Bumbu tambahan:

Garam secukupnya
Gula putih secukupnya
Kecap manis

Cara membuat:
Tumis bumbu halus dengan sedikit minyak goreng. Setelah harum, masukkan kepiting, aduk-aduk beberapa saat, lalu tambahkan air. Masukkan wortel dan kol, lalu tambahkan garam dan gula sesuai selera. Tunggu hingga air mendidih.

Setelah mendidih, masukkan mie yang sudaj direbus dan ditiriskan, sayur-sayuran yang belum dimasukkan, dan terakhir tambahkan kecap manis.

Jadi deh!!!

Rasanya segaaarrrr, dan hangat di badan. Cocok banget dimakan saat musim hujan seperti ini. Selamat mencoba :)

Jika Kamu Punya NPWP, Maka Jangan Lupakan Hal Ini!

on
Jumat, 04 Maret 2016
Sudah bulan Maret, lho! Terus kenapa?

Itu artinya, tenggat waktu pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi sebentar lagi habis. Yups, sebagai wajib pajak, khususnya yang memiliki NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak, wajib hukumnya untuk melakukan pelaporan SPT Tahunan. Terus kenapa kalau gak lapor? Siap-siap saja mendapat 'surat cinta' dari Kantor Pajak, dan kamu akan diwajibkan membayar denda atas kelalaianmu melaporkan SPT Tahunanmu. Hehe

Lalu gimana sih cara lapor SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi? Berbahagialah kita, karna Direktorat Jenderal Pajak telah memberikan fasilitas untuk melaporkan SPT Tahunan dengan cara yang mudah, tanpa antri, tanpa harus ribet datang ke KPP. Cukup dengan tetap duduk manis saja di meja kerja anda, sambil klik klik klik. Hehe.

Gimana caranya?

Pakai E-Filling!

Eits, tapi sebelum melakukan pelaporan SPT melalui e-Filling sebelumnya kamu harus punya EFIN dulu. Apalagi ituuuu??? Hehehe. e-FIN adalah singkatan dari Electronic Filing Identification Number. Gimana cara mendapatkan e-FIN? Mudah kok. Cukup datang ke KPP terdekat dengan membawa surat permohonan e-FIN, plus Fotocopy KTP dan kartu NPWP kamu. Surat permohonannya kayak gini nih:

Nah, kalau sudah lengkap, seahkan surat permohonan tersebut ke KPP. Biasanya gak bisa langsung dapet e-FIN sih. Seingat saya harus menunggu sekitar tiga hari setelah permohonan diserahkan. Setelah mendapatkan e-FIN, masih ada satu langkah lagi sebelum akhirnya kita bisa melakukan pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi melalui e-Filling. Yaitu, verivikasi melalui djponline.pajak.go.id.


Setelah melakukan verivikasi, taraaa... silahkan mulai megisi dan melaporkan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi kamu :) Langkah-langkahnya gimana? Insya Allah besok akan saya tulis di post tersendiri. Hehehe

Signature

Signature