Persentase Ideal Pengeluaran Bulanan dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga

on
Minggu, 18 Oktober 2020

 Bulan Februari lalu, saya berkesempatan mengikuti kulwap alias kuliah whatsapp bertema pengelolaan keuangan keluarga yang diadakan duo Blogger terkenal yaitu Mbak Windi Teguh dan Mbak Annisast. Dari kulwap tersebut, saya mendapatkan banyak sekali ilmu tentang pengelolaan keuangan keluarga. Yah, meskipun ilmu yang saya dapat dari situ belum sepenuhnya saya terapkan hingga saat ini, hehe. Terutama soal mencatat dengan detail pengeluaran bulanan. Huhu, sampai sekarang belum bisa disiplin.

 

Tapi setidaknya, saya jadi tau tentang apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Seperti, apa saja pos pengeluaran bulanan yang harus ada, persentase ideal dari masing-masing pos tersebut, rasio utang ideal agar keuangan keluarga tetap sehat, dan masih banyak lagi hal lainnya.

 

Bagi yang sedang ingin memulai untuk mencatat dengan rutin pengeluaran bulanan agar pengelolaan keuangan keluarga semakin rapi, mungkin ada yang masih bingung, pos apa saja sih yang harus ada dalam pengeluaran bulanan? Bagaimana mengelompokkannya? Berapa persentase ideal dari masing-masing pos pengeluaran tersebut? Dan banyak pertanyaan lain tentang gimana cara mengatur duit yang baik dan benar.


Nah, berikut ini saya akan sharing sedikit tentang hal tersebut.

 

Macam-macam Pos Pengeluaran Bulanan dan Persentase Idealnya 

 

1. Tabungan, Investasi dan Proteksi

 

Menabung itu harus ada di urutan pertama pengeluaran ya. Jangan sebaliknya, malah ditaruh paling belakang, alias dari uang sisa belanja aja. Iya kalau sisa, kalau nggak sisa berarti nggak jadi nabung dong? Hehe, ini sih 'saya banget' dahulu kala.

 

Pos tabungan, investasi dan Proteksi ini, bisa di breakdown lagi menjadi beberapa jenis. Misalnya, tabungan haji, tabungan pendidikan anak, investasi reksadana, dll. Untuk bagian proteksi bisa berupa premi asuransi yang mungkin dimiliki, seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dll.

 

Nah, dari keseluruhan pengeluaran yang tergolong dalam pos tabungan, investasi dan proteksi ini, persentase idealnya adalah 10% per bulan dari total pendapatan per bulan.


2. Pengeluaran Rumah Tangga 

 

Nah, ini nih pos primadona yang sudah pasti menjadi pos yang selalu mendapatkan porsi terbesar setiap bulannya. Iya, kan? Bahkan mungkin banyak yang menjadikan ini sebagai pos utama dan pertama yang diperhatikan. 

 

Tapi nggak bisa dipungkiri, pengeluaran rumah tangga memang yang punya porsi persentase paling besar sih. Yaitu sebesar 45% dari total pendapatan sebulan. Soalnya breakdownnya juga paling banyak. Belanja harian, bayar listrik, PAM dan lain-lain, kebutuhan anak, uang bensin, gaji ART, dan masih banyak lagi yang lain.


3. Keluarga / Sosial 

 

Hidup di dunia nggak selamanya. Ada akhira yang menanti setelah kehidupan dunia selesai. Jadi, nggak ada alasan untuk nggak menyisihkan pendapatan kita untuk akhirat. Salah satunya melalui sedekah.

 

Jadi jangan sampai pos untuk sosial ini ketinggalan ya dalam pengelolaan keuangan keluarga kita. Atau kalau memang kita masih punya keluarga yang butuh dibantu, bisa juga dimasukkan ke pos ini. Persentasenya nggak besar, cuma 5%. Jadi makin nggak ada alasan untuk nggak memenuhinya kan?

 


 

4. Pribadi / Lifestyle

 

Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Boleh banget lho kita memasukkan pos 'senang-senang' dalam pengeluaran bulanan. Pos ini bisa dipakai untuk pengeluaran pribadi seperti beli skincare, ngopi-ngopi cantik atau nyalon. Persentase idealnya sebesar 10%. Cukup lah ya seharusnya :)


6. Cicilan / Angsuran


Hari gini mau nggak punya cicilan atau angsuran kok susaaaahhh sekali ya rasanya. Huhu, so sad. Tapi ya udah, hadapi saja. Nggak apa-apa kok selama nggak jauh melebihi porsi. Persentase ideal untuk cicilan per bulan yang harus kita keluarkan adalah sebesar 30%. Kalau sudah melebihi angka itu, artinya pengelolaan keuangan keluarga kita harus dievaluasi ulang, karna sudah termasuk nggak sehat.

 

Persentase ideal dari masing-masing pos pengeluaran di atas tentunya bukan sesuatu yang saklek ya. Kembalinya tentu saja ke masing-masing keluarga. Itu hanya patokan bagi yang ingin mengelola keuangan keluarga dengan lebih tertata dan terarah.

Investasi Emas Mulai 50 Ribu-an Aja dengan MiniGold

on
Jumat, 09 Oktober 2020
Kalau dengar kata investasi, dulu rasanya udah minder duluan. Soalnya mainsetnya, investasi itu membutuhkan uang banyak. Investasi itu ya saham, tanah, emas batangan, dll gitu. Yah, kalangan menengah ke bawah yang penghasilan bulanannya buat kebutuhan sehari-hari aja ngepaaasss banget mah nggak punya investasi tu kayak cuma mimpi.
 

Itu mainset yang totally salah banget! Dan saya berkubang dalam kesalahan mainset itu selama bertahun-tahun. Efeknya? Penghasilan saya sebelum menikah habis begitu saja! Karna merasa, ah, penghasilan dikurangi biaya hidup tinggal sisa segini. Uang segini sih bisa buat apa? Buat investasi ya nggak bakalan cukup. Udahlah, habisin aja sekalian. Gitu! Kalau inget, cry banget sih :((

 

Tapi ya udah. Penyesalan tidak pernah ada gunanya kan? 

 

Sekarang, setelah belajar lebih banyak dari berbagai konten tentang keuangan dan investasi di media sosial, pelan-pelan saya mulai melek tentang pentingnya investasi. Lebih pentingnya lagi, saya mulai paham bahwa sekarang, seiring kemajuan jaman, ragam pilihan investasi semakin banyak. 

 

Investasi Untuk Orang dengan Penghasilan Kecil

 

Kabar bahagianya, bersamaan dengan semakin beragamnya jenis investasi, bermunculan juga jenis investasi yang ramah untuk orang-orang dengaan penghasilan kecil, atau nggak jauh-jauh dari UMR seperti saya. Hehe.

 

Contohnya?

 

Ada reksadana yang sekarang semakin mudah dijangkau melalui beberapa platform marketplace. Kita sudah bisa punya investasi reksadana hanya dengan 50 ribu-an saja.

 

Sebagai orang yang sedang mencari-cari jenis investasi apa yang cocok buat saya, saya nggak ketinggalan mencoba berinvestasi reksadana melalui Tokopedia. Meskipun nggak lanjut, karena investasi ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kemantapan dan kenyamanan hati.



Baca juga: Pengalaman Berinvestasi Reksadana Melalui Tokopedia

 

Mungkin karena saya masih agak konvensional kali ya. Rasanya nggak tenang aja berinvestasi di sebuah lembaga yang saya nggak tau di mana wujud fisiknya. Yah, meskipun reksadana yang ada di marketplace itu sudah diawasi OJK dan Insyaa Allah aman sih. Tapi gimana lagi kalau hati sudah nggak yakin?

 

Cari-cari jenis investasi lain lagi, akhirnya saya kembali tertambat dengan jenis investasi yang sudah lama familar bagi saya. Emas. Ya, investasi emas rasanya saat ini yang paling membuat hati saya merasa nyaman.

 


 

Tapi eh tapi, harga emas di masa pandemi ini sempat terus meroket. Yaaahhh, mana cukup uang saya. Satu gram emas murni antam aja sekarang satu juta!

 

Sampai akhirnya saya diberitahu oleh seorang teman, bahwa sekarang kita bisa investasi emas mulai 50 ribu-an aja, sama seperti reksadana. Wow, sungguh kabar bahagia di tengah pandemi ini!

 

Investasi MiniGold, Semua Bisa Punya Emas

 

Adanya emas MiniGold ini serupa angin segar bagi orang-orang yang berpenghasilan kecil, dan memimpikan punya investasi emas. Sekarang, nggak cuma orang-orang kaya yang bisa punya simpanan emas. Kita pun bisa!

 

Emas MiniGold, menawarkan logam mulia atau emas murni 99,99% dengan pilihan pecahan atau gramasi mulai dari yang sangat kecil, sehingga murah dan bisa dijangkau hanya dengan 50 ribu-an aja.

 

Ini nih contoh daftar harganya:

 

investasi-emas-minigold
Daftar harga tanggal 25 Agustus 2020 lalu

 

Nah, saat pecahan-pecahan kecil MiniGold itu sudah terkumpul total 1 gram, kita bisa menukarkannya dengan emas antam 1 gram. Misalnya, kita punya 0,05 gram MiniGold dan sudah terkumpul 20 keping. Nah, bisa tuh ditukar jadi emas antam 1 gram. Biasanya kita bisa menukarkannya untuk jadi emas antam ke si agen MiniGold-nya langsung. Untuk memastikan, tanyakan dulu pada si agen penjual MiniGold ya tentang hal ini. Amannya sih belinya ke orang yang sudah kita kenal aja.

 

Kalau diakumulasi kok jadinya jauh lebih mahal dengan jika kita beli emas langsung emas antam 1 gram?

 

Ya iya memang.

 

Tapi, hidup sebagai kaum menengah kan memang harus selalu berhadapan dengan pilihan kan? Hehe.

 

Kalau memilih untuk mengumpulkan uangnya dulu sampai terkumpul dan cukup untuk membeli emas antam 1 gram, ya boleh-boleh aja. Dengan catatan, kitanya nggak gatal makai itu uang buat belanja, atau saat uang kita terkumpul, eh harga emasnya udah naik lumayan sehingga uang kita nggak cukup lagi. Hehe.

 

Sekali lagi, semua pilihan ada di tangan kita.

 

Saya pun akhirnya ada di kubangan dilema tersebut. Sampai akhirnya di masa pandemi ini saya memutuskan, udahlah nggak apa-apa jatuhnya lebih mahal, tapi saya kesampaian punya investasi emas. Daripada disimpan dalam bentuk uang, tapi kepakai untuk yang lain terus.

 

Nah, jadi sekarang sudah nggak ada alasan untuk nggak berinvestasi yaaa meskipun penghasilan kita kecil. Ayo semangat berinvestasi!

Tips Mengelola Keuangan Rumah Tangga di Masa Pandemi

on
Rabu, 07 Oktober 2020
Melewati hampir delapan bulan masa pandemi covid-19, rasanya banyak sekali yang berubah. Rutinitas, kebiasaan, gaya hidup, termasuk dalam hal mengelola keuangan rumah tangga. Banyak jenis-jenis pengeluaran baru, sekaligus mengharuskan kita memangkas beberapa pengeluaran lain.
 

Dari segi pendapatan, Alhamdulillah saya pribadi tidak mengalami banyak perubahan. Karena saya bekerja di sebuah lembaga yang Alhamdulillah masih tetap bisa memenuhi gaji pegawainya seperti sediakala, dan tidak melakukan PHK di masa pandemi ini. Tapi bukan berarti saya bisa santai-santai dan tidak harus mengevaluasi pengelolaan keuangan dalam rumah tangga saya.

 

Kita nggak tahu kapan pandemi covid-19 ini akan berakhir. Kita semua pasti berharap keadaannya akan segera membaik. Tapi di sisi lain, kita juga harus siap jika sewaktu-waktu keadaannya justru semakin memburuk. Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan mengelola keuangan rumah tangga, agar tetap bisa survive menghadapi segala kemungkinan di depan. 

 


 

Tips Mengelola Keuangan Rumah Tangga di Masa Pandemi

 

Berikut adalah beberapa tips mengelola keuangan yang beberapa bulan ini saya jalankan.

 

1. Mengurangi Pengeluaran yang Tidak Mendesak

 

 Kalau tidak bisa menambah penghasilan, maka cara alternatif yang paling efektif dan efisien adalah dengan mengurangi pengeluaran. Terutama pengeluaran yang tidak mendesak.

 

Misalnya dengan mengurangi pengeluaran di pos gaya hidup. Ngopinya kalau biasanya seminggu tiga kali, coba dikurangi dulu jadi seminggu sekali. Kalau ngopinya di kedai kopi kekinian, itu lumayan banget lho nominalnya.

 

Atau yang biasanya hobi coba-coba skincare, sekarang belinya yang beneran udah yakin cocok dan benar-benar dibutuhkan kulit aja.

 

2. Menganggarkan Pembelian Suplemen yang Menunjang Daya Tahan Tubuh

 

 Nah, anggaran daya hidup yang dipangkas itu, bisa dialihkan untuk suplemen untuk menunjang daya tahan tubuh. Apalagi untuk yang masih berativitas di luar rumah seperti saya. Rasanya mengandalkan makanan saja tidak cukup untuk kondisi seperti saat ini.


Baca juga: Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh di Era New Normal

 

3. Menganggarkan Bantuan Finansial Untuk Keluarga yang Terdampak Pandemi

 

Selain untuk membeli suplemen, penguragan anggaran yang tidak mendesak di atas juga bisa dipindahkan ke pos ini. Bagi yang masih memiliki penghasilan tetap, dan punya keluarga yang terdampak ekonominya karena pandemi covid-19 ini, jangan ragu untuk menganggarkan bantuan finansial untuk mereka ya.

 

Di kondisi seperti ini, saling membantu merupakan sebuah keharusan yang nggak bisa lagi diabaikan. Insyaa Allah akan diganti oleh Allah dengan rejeki yang jauh lebih baik, semoga salah satunya adalah kesehatan.


4. Dana Darurat, Apa Kabar?

 

Hayolooo, lagi-lagi soal dana darurat. Di saat mendesak seperti inilah dana darurat sangat terasa manfaatnya. Meskipun, kalau masih menerima penghasilan tetap, seharusnya sih dana darurat nggak perlu disenggol-senggol dulu yaa.

 

Bagi yang belum punya dana darurat sesuai persentase ideal, ayok semangat untuk tetap mengumpulkannya!


5. Berinvestasi

 

Emang bener ya. Waktu terbaik untuk berinvestasi adalah saat ini. Ya, saat ini. Bukan besok atau lusa.

 

Di masa pandemi ini, saya baru semakin sadar bahwa berinvestasi itu sangat penting. Nggak cukup hanya dengan menabung uang. Karna uang akan tergerus inflasi.

 

Sebelumnya saya selalu disibukkan dengan pertanyaan, investasi apa yang cocok untuk saya. Sampai akhirnya saya nggak kunjung berinvestasi. Hanya sibuk mencari info, tanpa praktek.

 

Di masa pandemi ini, akhirnya saya menemukan tipe investasi yang paling membuat hati saya nyaman dan cocok untuk saya. Jenis investasi yang saya pilih ini merupakan investasi dengan nominal yang sangat kecil. Insyaa Allah saya akan cerita di postingan berikutnya ya!

 

Semoga tips mengelola keuangan rumah tangga yang saya share di atas bermanfaat ya! Semoga kita bisa melewati pandemi covid-19 ini dengan kondisi keuangan yang tetap stabil dan aman terkendali. Aamiin.

Belajar Melukis dengan Cat Air Secara Otodidak

on
Kamis, 01 Oktober 2020
Pertengahan tahun 2018 lalu, salah satu Blogger favorit saya -- Mbak Annisast -- sedang semangat-semangatnya belajar menggambar. Dia sering sekali cerita lewat story instagramnya, tentang betapa asyik belajar menggambar. Waktu itu Mbak Icha sedang belajar melukis dengan cat air.

Gara-gara sering mantengin IG story-nya beliau, saya jadi ter-trigger untuk mencoba juga. Bukan tanpa alasan, bukan pula sekedar ikut-ikutan. Ini semacam keinginan yang sudah lama terpendam, lalu dipancing untuk kembali keluar. Ya, sejak kecil saya ingin sekali belajar melukis dengan cat air. Tapi belum pernah kesampaian karena keterbatasan dana untuk membeli perlengkapan cat airnya. Sekarang Alhamdulillah bisa nyari uang sendiri, jadi bisa beli, meskipun belum bisa yang mahal. Hehe.

 

Belajar sesuatu yang baru memang selalu seru ya. Semangatnya menyala-nyala. Meskipun nggak jarang juga merasa putus asa. Apalagi kalau seperti saya, belajar melukis dengan cat air secara otodidak. Sering banget merasa, kok nggak kunjung ada progress ya. Kok gini-gini terus hasilnya ya. Kok nggak bisa kayak si A dan si B yang udah bagus banget.

 

Tapi saya tertegun ketika iseng-iseng melihat lagi perjalanan belajar melukis dengan cat air yang saya lalui lewat rangkaian IG story yang pernah saya buat. Ternyata, meskipun belum mahir benar, saya sudah menunjukkan progress yang lumayan sekali.

 

Lihat deh, ini hasil melukis dengan cat air saya di awal-awal sekali belajar.

 

belajar-melukis-dengan-cat-air

 

 

belajar-melukis-dengan-cat-air


Sedangkan ini gambar yang baru beberapa saat lalu saya buat.

 

belajar-melukis-dengan-cat-air

belajar-melukis-dengan-cat-air

Lumayan kan progressnya?

 

Ini salah satu point penting dari belajar hal baru menurut saya. Yaitu sekaligus kembali belajar mencintai proses yang mungkin sering lupa kita terapkan. Maunya apa-apa instan.

 

Tapi beberapa minggu ini, saya sempat lumayan galau. Ada keinginan untuk punya 'guru' dalam belajar melukis dengan cat air, agar nggak otodidak lagi belajarnya. Sudah mencari beberapa rekomendasi kelas berbayar. Hanya saja, masih maju-mundur.

 

Kenapa maju-mundur? Pertama jujur soal biaya. Ada sih sebenernya, cuma saya ragu, apakah hobi ini sudah patut saya masukkan ke dalam salah satu prioritas budget? Sementara banyak pos kebutuhan lain yang juga harus saya prioritaskan.

 

Lagipula, saya agak optimis, asal saya lebih rajin berlatih, kemampuan melukis dengan cat air saya pasti akan semakin meningkat, meskipun belajar secara otodidak. Apalagi sekarang tutorial bertebaran di mana-mana. Materi-materi di kelas berbayar juag sebenarnya bisa saya dapatkan melalui video-video di Youtube.

 

Yang harus saya lakukan mungkin adalah menyusun kurikulum untuk diri saya sendiri. Mulai dari yang paling basic dulu. Karena selama ini saya belajar secara acak, dan cenderung langsung maunya loncat ke materi yang 'susah', padahal yang paling basic belum dipelajari.

 

Jadi setelah ini, saya berencana mengulang dari awal materi belajar saya melukis dengan cat air. Saya berencana ingin belajar logika warna dulu dengan cara membuat tabel warna dan roda warna.

 

Setelah itu, saya ingin belajar mengendalikan kuas dan membuat berbagai macam bentuk garis melalui video Youtube Kak Pikapoppin. Setelah itu lanjut ke mencoba bentuk-bentuk sederhana dengan garis-garis tersebut. Kemudian belajar macam-macam teknik melukis dengan cat air. Dll.


Kalau ditanya, apa impian saya atas hobi melukis dengan cat air ini? Apakah saya bercita-cita akan mendapat penghasilan melalui hobi ini seperti halnya ngeblog?

 

Belum. Belum sejauh itu.

 

Impian saya sederhana. Yaitu ingin bisa dengan percaya diri memajang hasil melukis dengan cat air saya di tembok rumah saya sendiri :)

 

Kalian sedang semangat belajar apa saat ini?

Muslim Melek Politik, Untuk Apa?

on
Selasa, 29 September 2020
Saya mungkin salah satu orang yang punya pandangan buruk tentang politik. Menurut saya, politik itu kotor. Penuh tipu muslihat.
 

Dan pandangan negatif saya tentang politik itu diperkuat dengan suguhan berita-berita di TV tentang para politikus yang kerapkali menunjukkan kebobrokan perilakunya. Debat kusir tanpa sedikit pun memperhatikan adab, misalnya.

 

Semakin hari saya semakin nggak tertarik dengan politik. Nggak melek dengan perkembangan politik dalam negeri, apalagi luar negeri. Hal itu membuat saya jadi orang yang tiba-tiba kuper ketika ada yang mengajak ngobrol tentang isu-isu politik terkini.

 

 

melek-politik

Suatu saat, saya memilih jalan pintas. Saya ingin tau isu politik terkini, tapi nggak pengen mengikuti terlalu detail. Akhirnya, saya hanya baca sekilas-sekilas aja berita yang ada di beberapa portal berita. Bahkan adakalanya saya hanya membaca judulnya saja. Yang mana tau sendiri lah, banyak judul berita yang sama sekali tidak menggambarkan isi berita sesungguhnya.

 

Akhirnya saya jadi sumbu pendek. Judgemental. Mudah tersulut isu politik yang dibumbui banyak drama oleh media.

 

Tapi saat suatu hari saya berdiskusi dengan suami yang cukup melek politik, saya mendapat insight baru. Sebelumnya saya sempat agak protes saat dia sering mengajak saya diskusi tentang isu-isu politik di Indonesia.  Saya ngomel, ngapain sih ngurusin politik. Udahlah, yang penting fokus sama diri dan kehidupan kita sendiri. Fokus ibadah.

 

Suami saya langsung menyanggah. Kita sebagai muslim tidak bisa apatis terhadap isu politik. Karena Indonesia mayoritas penduduknya adalah muslim. Dan saat ini, banyak para politisi yang menyasar umat muslim untuk diperdaya dan dipecah-belah demi kepentingan golongan tertentu. Jika kita sebagai muslim tidak melek politik, tentu kita akan mudah diperdaya, dan bingung menentukan sikap.

 

Lagipula, bukankah kita memimpikan Indonesia menjadi bangsa yang damai dan sejahtera? Sehingga kita bisa beribadah dengan tenang? Untuk tujuan itu, maka politik adalah salah satu kendaraannya.

 

Saat melihat para ustadz dan ulama yang ramai-ramai masuk ke ranah politik, saya jengah sekali. Ngapain sih? Dunia politik terlalu kotor, dan mereka seharusnya nggak perlu ada di wilayah kotor itu. Begitu pikir saya.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, kalau orang-orang yang paham agama tidak ikut serta mewarnai ranah politik, maka ranah itu akan diisi sepenuhnya oleh orang yang tidak paham agama. Padahal negeri ini salah satu penentu arah mata angin utamanya ya para politisi itu. Terus mau dibawa ke mana nanti Indonesia kalau ranah politiknya nggak ada sama sekali orang yang paham agama? Huhu, bayangin aja udah sedih.

 

Jadi tidak bisa tidak, kita sebagai muslim memang harus melek politik. Setidaknya tau isu-isu politik terkini secara menyeluruh, agar kita bisa menentukan sikap.


Cara dan Manfaat Berpikir Kritis Menurut Gita Savitri Devi

on
Kamis, 24 September 2020

Beberapa hari lalu di tengah jam kerja, saya mendengarkan salah satu video di channel Youtube milik salah seorang influencer berhijab asli Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman, yaitu Gita Savitri Devi. Video yang saa tonton itu berjudul "Gimana Caranya Berpikir Kritis?".


Pada era digital seperti ini, tiap hari kita digempur dengan puluhan informasi. Ada informasi-informasi yang mudah untuk dicerna, tapi banyak juga yang menuntut kita untuk berpikir kritis. Karena sekarang banyak informasi atau isu yang banyak zona abu-abunya, sehingga jika kita nggak berpikir dengan kritis, ada kemungkinan kita akan terombang-ambing dalam kebingungan untuk mempercayai mana informasi yang benar dan mana yang salah.

 

Kenapa Saya Tertarik Menonton Video Tentang Berpikir Kritis Tersebut?

 

Jadi, beberapa hari sebelumnya, saya membaca buku Pak Rhenald Kasali yang berjudul Strawberry Generation. Di dalam buku tersebut, Pak Rhenald sempat membahas tentang isu yang sempat viral sekitar tahun lalu. Yaitu tentang serangan tenaga kerja dari China yang masuk ke Indonesia dan membuat beberapa orang gusar. Isu tersebut dibagikan secara berantai melalui akun media sosial maupun aplikasi pesan Whatsapp, sehingga melaju dengan sangat tak terkendali.

 

Dalam bukunya, Pak Rhenald Kasali mengatakan,

"Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginao juga sangat mudah dan murah. Kalau saja rajin, dia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 tengaa kerja Indonesia bekrja di Taiwan. Sebanyak 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar dan Brasil, Bahkan juga Kanada dan Amerika.

Jadi, bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 orang saja, kita sudah rasial? Ini tentu mengerikan."

(dikutip dari Buku Stawberry Generation, karangan Pak Rhenald Kasali, yang diterbitkan oleh Mizan, halaman 171)


Saat membaca hal tersebut, saya merasa tertampar. Pasalnya, saya salah satu orang yang dengan dulu menelan mentah-mentah berita virak tentang serangan tenaga kerja dari China tersebut. Saya sempat ikut kebakaran jenggot. Setelah membaca buku Pak Rhenald Kasali, saya jadi sadar bahwa selama ini saya belum menggunakan cara berpikir kritis dalam mencerna banyak informasi yang saya dapat.

 

Maka dari itu, saat melihat video milik Gita yang membahas tentang cara dan manfaat berpikir kritis, saya langsung tertarik untuk menyimaknya dengan seksama.


Apa Sih Berpikir Kritis Itu?

 

Dalam video "Gimana Caranya Berpikir Kritis", Gita Savitri Devi mengutip pendapat dari salah seorang Psikolog bernama John Dewey tentang definisi dari berpikir kritis.


Menurut John Dewey,

Critical thinking or reclective thinking is an active, persistent and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it, and the further conclusions to which it ends.

 

Di Indonesia sendiri, berpikir kritis masih memiliki banyak tantangan. Karena salah satu cara untuk berpikir kritis adalah salah satunya dengan banyak bertanya. Sedangkan di Indonesia, orang yang banyak bertanya sering dianggap ngeyel, keras kepala dan beberapa judge negatif lainnya.

 

Mungkin gara-gara itu, banyak anak muda di Indonesia yang akhirnya tidak memiliki cara berpikir yang kritis. Karena saat baru mulai mencoba berpikir kritis, mereka sudah terlebih dahulu mendapat judge nagatif. 


Padahal, berdasarkan 21 Century Partnership Learning Framework disebutkan, bahwa 1 dari 4 keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh seseorang di antaranya adalah critical thinking atau berpikir kritis.

 

cara-dan-manfaat-berpikir-kritis

 

Dalam videonya, Gita Savitri Devi menyebutkan bahwa berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses tersebut terdiri dari:

1. Mengidentifikasi

2. Mengobservasi

3. Menganalisis

4. Mengevaluasi

5. Merefleksi

6. Menyimpulkan

7. Mengambil keputusan

 

Kenapa sih Kita Harus Berpikir Kritis?


Lagi-lagi, dalam video Gita yang saya tonton, penulis buku Rentang Kisah yang telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar itu menyebutkan beberapa alasan kenapa kita butuh berpikir kritis. Di antaranya adalah:

 

1. Agar kita memiliki kebebasan dalam berpikir dan punya kepemilikan 100% atas keputusan kita.

2. Kita akan memiliki kepercayaan diri atas setiap opini dan kita sendiri, karena memiliki dasar yang kuat.

3. Membuat kita jadi lebih open minded atau berpikiran terbuka.

4. Memahami nuance, atau perbedaan-perbedaan kecil.

5. Terhindar dari manipulasi, baik manipulasi media, berita palsu, penipuan, dll.

 

Gimana Caranya Agar kita Bisa Berpikir Kritis?


Dalam videonya, Gita Savitri Devi juga tidak lupa memaparkan gimana sih caranya agar kita bisa memiliki cara berpikiri kritis.

 

Berikut pemaparannya:

1. Berpikir terhadap suatu masalah seobjektif mungkin.

2. Sadar atas kemungkinan bias. Sebagai manusia kita tentu memiliki perasaan suka dan tidak suka, atau faktor-faktor internal lain yang akan membuat cara berpikr kita menjadi bias.

3. Mengidentifikasi argumen atau sudut pandang lain yang berhubungan dengan hal tersebut. Semakin banyak kita memperlajari sudut pandang lain atas suatu masalah, maka kita akan bisa semakin berpikir dengan kritis.

4. Jangan lupa mengevaluasi sudut pandang kita sendiri, apakah sudah valid atau belum.

5. Memperhatikan efek dan implikasi dari argumen kita. Dan apa argumen kita atas implikasi yang mungkin akan muncul tersebut.

 

Menurut salah seorang psikolog bernama Jordan Peterson, dalam satu cara mudah berpikir kritis adalah dengan menulis. Karena menulis akan melatih otak kita untuk berpikir lebih sistematis, dan memilah mana info yang penting dan mana yang tidak penting.


Saya jadi berpikir. Sepertinya, salah satu faktor yang membuat sebagian besar rakyat Indonesia ini agak sumbu pendek dan mudah termakan berita palsu adalah karna kemampuan berpikir kritis yang masih belum terasah. Kita terbiasa memakan informasi mentah-mentah, tanpa mencari terlebih dahulu apakah sumbernya valid atau tidak, siapa yang menulis, adakah sudut pandang lain atas informasi tersebut, dan banyak faktor lain yang seharusnya kita telisik lebih dulu secara mendalam sebelum memutuskan sebuah sudut pandang yang kita yakini.


Andai saja kita bisa berpikir kritis, pasti berita hoax akan kehilangan peminat dan lambat laut akan semakin berkurang. Semoga.

 

Yuk latihan berpikir kritis, dimulai dari diri kita sendiri dulu :)


Pesan Untuk Orangtua dari Drakor It's Okay To Not Be Okay

on
Selasa, 22 September 2020

Dulu, tiap ada teman yang dengan seru membicarakan tentang drakor, saya nggak pernah bisa relate. Karena nggak pernah nonton dan sama sekali nggak tertarik. Padahal waktu kecil saya termasuk yang beberapa kali bolos ngaji demi biar bisa nonton Full House, hihi. Tapi nggak cuma drakor sih, pada dasarnya saya memang kurang suka nonton apapun, karena pasti langsung ngantuk.

 

Sampai akhirnya pandemi melanda Bumi Pertiwi tercinta, dan keputusan WFH diberlakukan juga di tempat saya bekerja. Seminggu pertama masih aman. Senang bisa di rumah sama anak dan suami dari pagi sampai sore. Bisa mencoba aneka resep yang sudah lama ingin dicoba tapi belum sempat. Dan melakukan hal-hal lain yang biasanya nggak bisa dilakukan karena bekerja di kantor dari pagi hingga sore.

 

Memasuki minggu kedua, mulai oleng. Bukan karena bosan di rumah terus dan pengen jalan-jalan. Tapi seperti merasa linglung gitu. Ini mau ngapain lagi ya di rumah? Kok tiap hari gini-gini terus? Kok monoton banget?

 

Dari situ, saya mulai mencari-cari kegiatan ringan yang 'baru' untuk mengusir rasa bosan. Kemudian entah dari mana ide itu datang, akhirnya saya mencicipi nonton drakor. Dan saya jadi paham kenapa ada banyak orang yang mengeluh kecanduan drakor, dan begadang semalaman demi drakor. Ternyata nonton drakor memang asyik banget kalau pas nemu yang cerita dan pemerannya klik di hati. Hihi.

 

Beda banget dengan sinetron Indonesia, konflik yang disuguhkan drama Korea cenderung lebih beragam. Meskipun sama-sama dasarnya tentang hubungan asmara pun, tetap ada konflik lain yang mengikuti. Nggak jarang, drama Korea juga mengusung isu-isu tertentu, seperti soal pemerintahan, kesehatan mental, dan lain-lain. 


Jadi gara-gara WFH, saya yang tadinya sama sekali nggak paham dan nggak pernah nonton drakor, tiba-tiba jadi punya drakor favorit dan aktor drakor favorit. Hihi. Siapa? Rahasia ah, malu!


Anyway, beberapa waktu lalu, drakor berjudul "It's Okay To Not Be Okay" lumayan banyak dibicarakan. Drakor ini konon mengangkat tema tentang kesehatan mental. Saya juga agak tertarik untuk menonton, tapi karena sudah mulai kerja dengan normal dari jam 8 pagi hingga 4 sore selama 5 hari kerja, nontonnya jadi nyicil sedikit-sedikit banget. Udah sebulan lebih, saya baru sampai episode 3.

 

drakor-it's-okay-to-not-be-okay

 

Salah satu teman dekat yang gencar mempengaruhi saya untuk menonton drakor, memotivasi saya untuk menyelesaikan menonton drakor It's Okay To Not Be Okay ini, karena di dalamnya ada pesan penting terutama untuk para orangtua.

 

Karena penasaran dengan pesan apa yang ada dalam drakor It's Okay To Not Be Okay, saya memaksa dia -- teman saya yang memiliki akun IG @zulaichah_adiwibowo -- untuk menceritakannya pada saya.

 

Menurut teman saya, dari It's Okay To Not Be Okay, kita sebagai orangtua akan mendapatkan pesan bahwa pola asuh kita terhadap anak-anak akan berefek sangat pada kehidupan mereka. Baik pada sikap, mental maupun kepribadian.

 

Apapun yang kita lakukan, perlakuan kita terhadap mereka, hal-hal yang kita tanamkan, akan mengakar sangat kuat di benak mereka. Terutama yang terjadi di masa anak-anak, yang menurut banyak pakar psikologi sedang ada dalam fase gelombang otak yang sangat mudah mengingat sesuatu.


Hal itu bisa dilihat dari tokoh Ko Moon-young, yang tumbuh menjadi orang yang antisosial, arogan, berkarakter dingin dan sadis. Hal itu lantaran ia dibesarkan oleh seorang ibu yang merupakan seorang psikopat. Sejak kecil, Ko Moon-young dididik untuk bersikap sadis dan dilarang memiliki belas kasihan pada hewan. Salah satu contohnya dengan menyuruh Ko Moon-young tega membunuh kupu-kupu dengan sadis.

 

Parahnya lagi, Ko Moon-young harus mengalami kejadian traumatis saat ia harus melihat jasad ibunya yang penuh darah, lalu tiba-tiba menghilang. Sekaligus sempat hampir dibunuh ayahnya sendiri yang juga tengah menghadapi masalah mental. Kejadian-kejadian traumatis itu semakin membuat jiwa anak-anak Ko Moon-young terluka. Dan seperti yang kita tahu, inner child yang terluka akan membawa banyak dampak negatif bahkan hingga dewasa.

 

Nggak cuma tokoh Ko Moon-young, tokoh utama pria yang bernama Moon Gang-tae juga mengalami pola asuh yang salah, yang berpengaruh sangat besar terhadap kepribadian dan perilakunya. Moon Gang-tae memiliki kakak yang berkebutuhan khusus alias spesial. Hal itu membuat ibunya selalu memprioritaskan kakaknya yang bernama Moon Sang-tae. Sejak kecil, Moon Gang-tae diberikan tanggung jawab untuk menjaga kakaknya.

 

Ibunya pernah dengan tega mengatakan bahwa Moon Gang-tae dilahirkan hanya untuk melindungi kakaknya. Bahkan dia pernah dipukuli oleh ibunya karena tidak bisa melindungi kakaknya saat dibully oleh teman-temannya di sekolah. Huhu, so sad :(

 

Hal itu membuat Moon Gang-tae tumbuh menjadi orang yang terus mengabaikan perasaannya sendiri. Hidupnya tercurah hanya untuk kakaknya. Bahkan ia sering sekali berpindah tempat kerja demi melindungi kakaknya.

 

Dari kisah itu, kita belajar. Bahwa bagaimanapun keadaan anak-anak kita, tidak seharusnya kita membedakan kasih sayang dan prioritas terhadap mereka. Dan tidak seharusnya mereka diberi tanggung jawab untuk menjaga saudaranya yang lain, tanpa mempedulikan perasaan si anak sendiri.

 

Gara-gara mendengar cerita panjang lebar si Cite -- panggilan akrab si teman saya itu -- saya jadi termotivasi untuk melanjutkan nonton drakor It's Okay To Not Be Okay ini. Ditonton sambil nyetrika aja kali ya, biar tetap produktif. Hehe.

 

Kalian sudah nonton drakor "It's Okay To Not Be Okay"? Gimana kesan kalian?

Signature

Signature