Jangan Dibiarkan, Berikut 4 Cara Menghilangkan Trauma Kecelakaan

on
Kamis, 17 Juni 2021
Sebagian orang mungkin pernah mengalami suatu kejadian yang membuat trauma. Kondisi ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya yaitu kecelakaan. 


Biasanya Untuk menghapus trauma tersebut memang gak mudah dan membutuhkan usaha yang lebih. Meskipun begitu, ada beberapa cara menghilangkan trauma kecelakaan yang patut dicoba.


Apa aja sih cara yang bisa dicoba? Yuk, simak!

 

credit: Pixabay

 


1. Jangan Ragu Untuk Meminta Dukungan Terhadap Sekitar 


Bagi seseorang yang pernah mengalami kecelakaan dan selamat dari kejadian tersebut, sering kali merasakan trauma. Gak jarang, ada yang jadi menutup diri, lebih banyak diam, dan bahkan ada yang sampai histeris jika dihadapkan dengan alat transportasi tersebut. 


Kondisi mental yang seperti ini harus segera ditangani dengan langkah yang tepat agar tak berujung pada depresi. 


Untuk itu, lakukan cara pemulihan diri dengan meminta bantuan pada orang sekitar. Jangan ragu untuk meminta dukungan dari keluarga dan kerabat. Agar gak semakin berlarut, dan memberi efek buruk pada mental lebih jauh lagi.


Ungkapkan apa yang sebenarnya kita pendam agar lebih lega. Karena memendam perasaan duka sendirian bisa bikin mental makin tertekan. 


2. Memberikan Waktu Terhadap Diri Sendiri


Salah satu langkah yang bisa kita terapkan yaitu dengan memberikan waktu terhadap diri sendiri. Self healing ya bahasa kerennya. Wajar saja jika memilih cara menghilangkan trauma kecelakaan dengan menyendiri tanpa adanya pemaksaan. 


Lama waktu yang diperlukan pun juga berbeda-beda bagi setiap orang yang mengalaminya. Hal ini memang berdasarkan apa yang kita rasakan. Gak bisa dipukul rata antara satu orang dengan orang lainnya.


Dalam jangka waktu tersebut, kemungkinan psikis kita akan berupaya untuk menerima apa yang telah terjadi. Tak hanya itu saja, kita bahkan juga akan belajar memahami cara belajar untuk melanjutkan hidup. 


Hal ini mungkin terjadi, terutama pada kecelakaan yang ada anggota keluarganya tidak bisa diselamatkan. Hiks, naudzubillah.


Selain itu, kita juga bisa menyampaikan pada orang sekitar jika sedang melakukan pemulihan diri sendiri dengan kegiatan positif. 


Kita bisa melakukan berbagai aktivitas yang kita sukai, seperti berlibur, melakukan hobi, atau hanya sekedar beristirahat sejenak. Cara menghilangkan trauma kecelakaan ini mungkin menjadi langkah yang tepat dan ampuh untuk memulihkan diri sendiri. 


3. Melakukan Rutinitas atau Aktivitas Sehari-hari Seperti Biasanya 


Tak berhenti sampai disitu saja, untuk mengatasi rasa trauma sering kali waktu dianggap menjadi obat alami yang paling ampuh. Namun, Jangan paksakan diri kita bisa kembali pada rutinitas yang ada sesegera mungkin.


Cobalah  secara perlahan-lahan untuk kembali melakukan rutinitas sebisa mungkin, seperti makan dengan teratur dan bekerja. 


4. Menghadapi Ketakutan Yang Dirasakan


Cara selanjutnya yang terbilang ampuh untuk atasi trauma karena kecelakaan yaitu dengan mengingat kembali kejadian tersebut. 


Kemudian, cobalah untuk mengatasi rasa takut yang menyertai kita secara bertahap. Langkah ini bermanfaat untuk mengendalikan apa yang dirasakan mengenai kejadian traumatis.

 
Namun perlu diketahui jika cara menghilangkan trauma kecelakaan ini harus dilakukan bersama tenaga profesional atau psikiater. Kita bisa mencobanya jika sudah merasa siap dan ingin mengembalikan hidup seperti sedia kala. Tenang aja ya, datang ke psikiater itu gak apa-apa lho. Jangan termakan stigma datang ke psikiater artinya gila.


Sebab, trauma bisa diatasi tergantung dari kesiapan dan mental dari seseorang. Jadi, carilah bantuan profesional agar bisa mengendalikan emosi dan lekas pulih. 


Itulah beberapa tips yang bisa kita terapkan untuk memulihkan kondisi mental dari trauma kecelakaan. Memang awalnya tidak mudah, namun seiring berjalannya waktu bisa diatasi dengan baik. 


Cobalah dengan memberi waktu sendiri dan meminta dukungan pada orang sekitar. Namun jika kondisinya semakin memburuk, ada baiknya menemui tenaga profesional untuk konsultasi. 


Kecelakaan memang bukan sesuatu yang bisa kita hindari, tetapi bukan berarti tidak bisa kita cegah. Selalu utamakan keselamatan baik di jalan maupun tempat kerja. Lengkapi diri dengan asuransi kecelakaan agar lebih merasa tenang dan nyaman.

Review Bakuchiol Oil Serum Somethinc: Apa sih Manfaat Bakuchiol?

on
Senin, 07 Juni 2021

 Dunia perskincare-an tanah air berkembang pesat banget beberapa tahun belakangan ini. Dinamis buanget. Adaaa aja produk baru yang muncul, dengan berbagai inovasinya. Termasuk inovasi bahan dan kandungan serta fungsi dari sebuah produk skincare. Salah satu yang bisa dibilang lumayan baru di dunia skincare adalah Bakuchiol.


Sekitar satu tahun terakhir ini, retinol jadi salah satu kandungan skincare yang sangat hype di kalangan para peminat skincare. Soalnya dia menjanjikan banyak manfaat yang menjanjikan untuk kulit. Tapi, di samping manfaatnya yang konon oke banget buat kulit itu, dia juga tergolong sebagai salah satu kandungan yang agak rentan iritasi apabila tidak disertai dengan produk pendamping yang oke, terutama untuk kulit sensitif.

 

Gara-gara itu, banyak yang jadi mikir ulang ketika mau mencoba skincare yang mengandung retinol, terutama serum. Termasuk salah satunya adalah saya. Hehehe. Belum siap mental kalau misal harus menghadapi purging kulit saat mencoba retinol.

 

 Beruntungnya, ternyata ada sebuah komposisi yang konon menjadi salah satu alternatif untuk retinol ini. yaitu Bakuchiol. Kenapa Bakuchiol dianggap sebagai alternatif dari retinol? Karena mereka punya fungsi yang hampir sama, meskipun konon secara kinerja tetap lebih efektif retinol.

 

Tapi sebagai orang yang sukanya main aman, Bakuchiol ini seperti angin segar. Karena dia termasuk kandungan yang 'ramah sekali' untuk kulit, minim iritasi, dan bisa dilayer dengan hampir semua bahan aktif lain dalam skincare.

 

Serum bakuchiol pertama yang saya coba adalah Bakuchiol Skin Repail Oil Serum dari Somethinc.

 

Kita bahas yuuukk serum ini.

 

Netto dan Harga

 

 
Bakuchiol-oil-serum-somethinc

Netto: 20 ml

Harga: 89.000


Packaging

 

Dikemas dalam botol kaca tebal berwarna kuning, dilengkapi dengan pipet berwarna putih. Seperti umumnya banyak serum lainnya sih kemasannya. Gak dilengkapi dengan karton juga waktu aku beli. Jadi dia hanya dibungkus segel plastik gitu seluruh bagian botolnya.

 

Menurutku kurang eye-catching sih. Hehehe. Akan lebih oke kalo kemasannya dilengkapi karton. Yah meskipun ujung-ujungnya cuma jadi sampah juga sih yaaa.


Tekstur & Aroma

 

Teksturnya oily (yaiyalah, namanya juga oil serum) yang tergolong runny. Ringan, encer. Berwarna bening agak kekuningan.

 

Aromanya semacam aroma rempah, tapi tipiiss banget. Enggak mengganggu. Tapi bagi saya yang cenderung suka dengan skincare yang ada aroma harum tipisnya buat ningkatin mood, aroma Bakuchiol Oil Serumnya Somethinc ini kurang bikin saya nyaman.

 

Klaim

 

Berikut ini saya kutip dari web resmi miliknya Somethinc:

 

- Berbasis tumbuhan + Alternatif Alami untuk Retinol

(Ya! Wanita Hamil & Remaja dapat menggunakan produk ini juga!)

- Sifat Antioksidan & Anti Penuaan yang Kuat

- Anti-iflamatory, Mengurangi Jerawat (Shoutout to Acne Fighter)

- Photostable (aman digunakan di pagi hari)

- Memperbaiki Tekstur & Elastisitas Kulit

- Efek Samping lebih sedikit dari Retinol

- Merangsang produksi Kolagen & Pergantian sel kulit Anda

 

 Impresi Setelah Mencoba Bakuchiol Skin Repair Oil Serum Somethinc

 

Saya biasa menggunakan serum ini di rangkaian skincare malam, atau biasa disebut PM Routine. Yang paling menyenangkan ketika menggunakan serum ini di malam hari adalah ketika bangun tidur di pagi harinya, saya akan menemukan kulit wajah saya super lembab, lembut, plump dan glowing. Huhu. Pengen cubit-cubit pipi sendiri jadinya.

 

Karena dia oil serum, jadi sangat membantu mengunci kelembaban di kulit wajah. Kayaknya akan bagus banget buat kulit yang cenderung kering dan butuh kelembaban ekstra. Saya aja yang kulitnya normal to oily tetep suka dan bagus kok di kulit!

 

Tapi jangan lupa. Karena dia oil serum, ya akan tetap ada sensasi 'minyakan' setelah pakai serum ini. Soalnya di IG ada beberapa teman yang komen, "tapi kok rasanya jadi berminyak ya pas pakai serum ini". Yah gimana, namanya juga oil serum.

 

Saya juga merasa noda bekas jerawat saya yang baru jadi agak lebih cepat pudar setelah pakai serum ini. Meskipun untuk mengatasi jerawat yang baru muncul, rasanya serum ini gak terlalu membantu mempercepat penyembuhannya. 


Untuk klaim yang lain-lain, rasanya butuh waktu yang lebih lama untuk saya bisa merasakannya. Terutama klaim tentang anti penuaan dini. Itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan dalam waktu satu-dua minggu. Iya, kan?

 

Kalian ada yang sudah pernah nyobain Bakuchiol Serum juga? Share pengalamanmu di kolom komentar ya!

Ungkapan Keprihatinan Melihat Wajah Dunia Pendidikan di Era Pandemi

on
Minggu, 11 April 2021

 Huaaa, udah setahun lebih ya ternyata ada kita hidup dengan tatanan baru, semenjak Virus Corona ada!

 

Sebuah tatanan hidup yang sama sekali gak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu tuh mana kebayang sih ke mana-mana harus pakai masker. Mana kebayang lihat anak-anak susia sekolah tiba-tiba harus tiap hari pakai HP, padahal sebelumnya ramai sekali teori parenting soal membatasi anak bersentuhan dengan benda berlayar.

 

credit: Pixabay

 

Dulu kita kira kondisi seperti itu akan beres dalam dua minggu. Lalu molor lagi, masih optimis akan beres dalam dua bulan. Dua bulan berlalu, eh kok gak beres-beres sampai hari ini akhirnya udah setahun lebih.

 

Terutama untuk para orangtua yang anaknya sekolah, dan harus menerima kenyataan bahwa anak mereka harus School From Home sejak pandemi. Bagi masyarakat kota, atau yang memadai secara sumber daya, mungkin waktu setahun sudah cukup membuat mereka beradaptasi dengan baik menghadapi kondisi ini. Tapi bagi yang tidak memadai sumber dayanya, rasanya makin hopeless. Masa depan anak-anak mereka terasa semakin buram.

 

Contohnya di desa kampung halaman saya. Yang sebagian besar orangtuanya sama sekali nggak ngerti teori parenting kekinian. Yang sama sekali nggak ngeh membersamai anak sekolah dari rumah itu gimana caranya. Apalagi di sana, banyak sekali para orangtua yang sekarang memilih bekerja di pabrik, dari pagi sampai sore. Yang artinya, anak dilepas tanpa pengawasan sedikit pun.

 

Lho, orangtua itu kan sebenarnya adalah pendidik utama bagi anak. Sekolah hanya mitra. Ya iya sih. Idealnya begitu. Tapi kan banyak hal di kehidupan ini yang jauh dari kata ideal. Dan selama ini, sekolah ada solusi terbaik bagi ketidakidealan fungsi keluarga dan orangtua di desa saya itu, dan saya yakin juga di banyak desa lain.

 

FYI, dalam kurun setahun ini, ada beberapa kasus anak-anak usia sekolah yang hamil di luar nikah. Ada juga yang tiba-tiba salah pergaulan, ikut kelompok punk. Sedih dan prihatin sekali melihatnya.

 

Terus gimana, kan masih pandemi? Pemerintah juga mengambil kebijakan itu untuk melindungi para anak sekolah?

 

Pertanyaannya (ini sebenarnya bukan pertanyaan saya, melainkan pertanyaan beberapa orangtua di kampung halaman saya itu), sekolah nggak boleh beroperasi kok pasar boleh buka? Pusat perbelanjaan juga hampir semuanya masih beroperasi. Titik kumpul keramaian masih banyak ditemui. Kenapa hanya sekolah yang benar-benar 100% nggak boleh beroperasi?

 

Anak nggak boleh sekolah, toh mereka tetap kumpul dengan teman-temannya, malah tanpa kontrol sedikitpun. Sekali lagi, iya memang ini tidak ideal. Iya, memang bagaimanapun, orangtua harusnya punya andil dalam mengatasi kondisi itu. Tapi yang saya ceritakan di sini adalah kondisi yang memang jauh dari kata ideal.

 

Kalau TK dan SD, okelah memang mungkin terlalu riskan, karena mereka belum cukup mampu memahami jika diberi peraturan untuk menjaga jarak, dll. Tapi untuk anak usia SMP ke atas, rasa-rasanya kok sudah agak bisa diatur ya. Akan jauh lebih baik mereka datang ke sekolah dengan guru yang memberi pengawasan, dibanding kumpul dengan teman tanpa sedikitpun pengawasan.

 

"Data ke sekolah tiap hari saja, mereka belum tentu paham pelajarannya. Belum tentu pinter. Lha apalagi ini sama sekali nggak pernah ke sekolah dan disuruh belajar sendiri?" begitu keluh salah satu orangtua yang saya temui.


Saya sama sekali nggak berniat menyalahkan pemerintah melalui tulisan ini. Saya paham kondisinya memang masih serba sulit. Dan kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Pemerintah pastilah tengah memikirkan langkah terbaik. Semoga dengan sudah divaksinnya para guru dan orang-orang yang ada di bidang pendidikan, pelan-pelan sekolah akan mulai beroperasi kembali. Aamiin.

Review G Cup: Pengalaman Pertama Memakai Menstrual Cup

on
Selasa, 16 Maret 2021

Wow, gak nyangka saya akan menulis tentang pengalaman pertama memakai menstrual cup. Karena dulu juga gak nyangka suatu hari akan beralih dari pembalut ke menstrual cup. Hehe.

 

Pertama kali banget tau bahwa di dunia ini ada alternatif pembalut bernama amenstrual cup, kalau gak salah tahun 2019 dari cerita Mbak @atiit di blognya, yang saat itu juga sedang bercerita tentang pengalaman pertamanya menggunakan menstrual cup.


Saat itu saya benar-benar yang heran campur takjub campur ngeri. Gak bisa bayangin benda dengan bentuk semacam itu dimasukin ke vagina. Setelah membaca cerita Mbak @atiit tentang menstrual cup itu, saya cerita ke paksu. Hanya sekedar cerita bahwa ternyata ada lho alternatif pembalut macam begitu.


Respon pertama paksu? Udah, gak usah aneh-aneh pengen coba! Wkwkwkwk, tau banget istrinya mudah digoyahkan rasa penasaran. Tapi saat itu rasanya belum terbersit sedikitpun untuk beralih ke menstrual cup.


Lambat laun, postingan tentang menstrual cup di IG semakin banyak. Makin banyak yang beralih ke menstrual cup, tidak terkecuali para selebgram, yang kemudian sharing tentang pengalamannya beralih dari pembalut melalui postingan feed maupun instastory. Yang kemudia membuat menstrual cup semakin dikenal.


Saat itulah rasa penasaran saya mulai terpancing. Saya mulai banyak baca tentang menstrual cup, meskipun tetap saja ada rasa 'ngeri' tiap kali membacanya. Cuma yang bikin saya makin penasaran adalah, kenapa sepertinya 'ngeri banget', tapi kok hampir semua orang bilang pakai menstrual cup super nyaman, nyesel kenapa gak dari dulu pindah ke menstrual cup, dan gak akan mau balik ke pembalut biasa lagi setelah kenal menstrual cup? Masa iya sih mereka semua bohong? Kan gak mungkin.


Pertengahan 2020, saya mulai mengalami masalah tiap menstruasi datang. Apalagi kalau bukan iritasi kulit. Dan parah. Dari dulu saya memang selalu iritasi jika memakai pembalut yang ada sayapnya. Merk apapun. Cuma gak separah beberapa bulan belakangan ini. Sedangkan sekarang flow menstruasi saya makin banyak di hari pertama sampau ketiga, yang membuat saya harus memakai pembalut bersayap.


Mulai deh tuh instens cari tau tentang menstrual cup lagi. Dan mulai terbersit niat untuk beralih dari pembalut. Akhirnya saya gabung komunitasnya G Cup. G Cup adalah salah satu merk menstrual cup lokal. Mereka memberi wadah bagi orang-orang yang sedang ingin beralih ke menstrual cup, atau baru awal-awal pakai, di sebuah grup chatt. Meski gak tiap hari ada obrolan, tapi lumayan sering ada yang sharing tentang pengalaman pertama mereka menggunakan G Cup.


Akhirnya, setelah sekian lama menimbang-nimbang, mengawali tahun 2021 (awal Januari) saya memantapkan diri untuk membeli G Cup.


Review Singkat G Cup, Reusable Menstrual Cup


G-Cup-Menstrual-Cup


Seperti yang saya bilang di atas, G Cup merupakan brand menstrual cup lokal, yang tentu saja harganya jauh lebih terjangkau dari menstrual cup brand luar. Tapi mereka menjamin bahan silikon yang mereka gunakan adalah silikon medical grade. Jadi aman, Insyaa Allah.


G Cup memiliki tiga pilihan ukuran, yaitu XS yang biasanya disarankan untuk remaja. Lalu size S untuk wanita yang belum pernah melahirkan, dan size L untuk wanita yang sudah pernah melahirkan. Tapi menurut obrolan teman-teman di komunitas G Cup, banyak juga yang tidak mengikuti pakem itu. Karena pada dasarnya, ukuran vagina dan flow darah menstruasi tiap orang berbeda. Balik lagi ya, kita harus mengenal diri kita sendiri.


Nah, karena ini pengalaman pertama saya membeli G Cup dan baru akan mencobanya, saya akhirnya memutuskan untuk membeli size S meskipun sudah pernah melahirkan secara pervaginam. Kenapa? Karena biar gak parno duluan lihat ukurannya yang gedhe banget. Hehehe.


Itupun setelah sebelumnya saya melemparkan pertanyaan ke grup komunitas, apakah ada yang sudah melahirkan pervaginam tapi pakai size S? Ternyata ada, dan aman aja, yeay!


Pengalaman Pertama Memakai Menstrual Cup


Setelah dinanti-nanti, akhirnya tanggal 29 Januari bulan lalu tamu bulanan saya datang. Antara excited dan deg-degan. Tapi karena mens saya datang ketika saya di kantor, jadi saya nggak langsung nyobain pake G Cup. Karena G Cupnya di rumah, dan belum saya steril.


Barulah keesokan harinya, untuk pertama kalinya saya nyobain pakai G Cup. Yang di luar dugaan, Alhamdulillah saat itu saya tenang. Justru lebih panik saat masih sekedar membayangkan. Hihi. Dan memang salah satu kunci utamanya memang harus tenang, agar G Cup bisa masuk dengan mudah dan tidak sakit.


Apakah langsung bisa? Alhamdulillahnya iya, bisa langsung masuk dengan lancar. Tapi urusan udah bener apa belum makainya, nah itu lain urusan. Hehe.


Tapi pada bulan kedua saya menggunakan menstrual cup, Alhamdulillah sudah mulai ngeh. Udah mulai bisa merasakan, apakah si menstrual cup-nya sudah terpasang dengan baik atau belum.


Beberapa Hal yang Harus diperhatikan Saat memakai Menstrual Cup


Hal pertama yang harus diperhatikan tentu saja tentang kebersihannya. Mengingat menstrual cup ini akan dimasukkan ke dalam tubuh kita. Menurut petunjuk, menstrual cup ini harus disterilkan dengan cara direbus di dalam air mendidih selama kurang lebih 2-3 menit, setiap akan di pakai pertama kali saat menstruasi datang, dan saat menstruasi berakhir atau sebelum menstrual cup kembali disimpan.


Sedangkan selama masa menstruasi, menstrual cup hanya perlu dibersihkan dengan air mengalir saja. Atau beberapa orang menggunakan sabun khusus untuk menstrual cup. Saya sendiri gak pakai sabun sih. Karena sabun khusus menstrual cup agak mahal, sedangkan kalau mau pakai sabun asal-asalan kok takut gak bagus untuk vagina.


Selain kebersihan menstrual cup, kebersihan tangan kita saat akan memasang dan melepas menstrual cup juga harus diperhatikan. Jadi, jangan lupa cuci tangan ya!


Macam-Macam Jenis Lipatan Menstrual Cup

 

Gedhe banget gitu, gimana masukinnya??

 

Tenang, guys... ada caranya.

 

Jadi, ada tigajenis lipatan (sepertinya lebih sih, cuma saya tau dan paham cuma tiga, hehe) yaitu, C-Fold, punch down dan 7-Fold.


Kayak gini nih gambarnya:


G-cup-menstrual-cup


Favorit saya adalah jenis lipatan punch down. Tapi mohon maaf, itu di fotobsaya melipatnya kurang rapi. Soalnya ternyata susah megangin lipatan menstrual cup sambil tangan yang satunya pegang HP untuk ambil gambarnya. Hehe.


Kesan Tentang Menstrual Cup dan Pesan Untuk yang Baru Mau Beralih dari Pembalut

 

Apa yang akhirnya menguatkan saya untuk memutuskan beralih ke menstrual cup?

 

Selain karena sungguh sudah tidak nyaman memakai pembalut karena sering iritasi (perih dan gatal) tiap memasuki hari ketiga menstruasi, saya lama-lama juga mikir, kenapa saya harus takut sih? Kalau se-ngeri yang saya bayangkan, pasti gak akan ada yang mau pakai menstrual cup. Sedangkan kenyataannya, hampir semua orang yang beralih ke menstrual cup, rata-rata bilang nyesel kenapa gak dari dulu kenal menstrual cup.

 

Kesimpulan yang saya ambil, memakai menstrual cup tidak se-ngeri yang ada di bayangan saya selama ini.

 

Dan ternyata? Absolutely, YES! Semua kengerian yang ada dalam benak saya sebelumnya, sama sekali nggak terjadi. Sama sekali nggak sakit, nggak ngganjal, dll.

 

Cuma, saya nggak mau berlebihan. Kalau banyak orang bilang, pakai menstrual cup seperti nggak pakai apa-apa, saya sih gak gitu ya. Saya tetap 'merasa' pakai apa-apa. Bukan karena gak nyaman, tapi lebih ke mainset. Atau mungkin karena masih proses adaptasi. Jadi di pikiran saya masih terus berdengung, ada 'sesuatu' di tubuhku'. Hehe.

 

Tapi sama sih dengan saat pertama kali pakai pembalut dulu. Bahkan dulu lebih parah. Malam pertama saya menstruasi dan tidur dengan pembalut, saya sama sekali nggak bisa tidur. Gara-gara ada sesuatu yang asing nempel di badan saya.

 

Jadi tegangnya pakai menstrual cup justru gak se-tegang saat pertama kali pakai pembalut.

 

Bocor gak?

 

Saya baru dua periode menstruasi memakai menstrual cup. Periode pertama, hari pertama dan kedua masih bocor. Dan masih clueless tentang apakah saya masangnya udah bener atau belum, sudah membuka sempurna di dalam atau belum. Kapan ngosonginnya, dll. Ya wajar lah ya, namanya juga baru pertama kali.


Pada periode kedua, Alhamdulillah udah mulai 'ngeh' tentang gimana cara masang yang bener, udah pas apa belum, jika dipasang seperti ini akan bocor, sedangkan jika seperti ini gak bocor. Dan itu beneran hanya bisa dipraktekkan dan dipelajari langsung, sambil mengenal tubuh kita sendiri. Bener-bener harus learning by doing.

 

Menurut saya, menstrual cup ini terasa sangat nyaman dipakai justru saat flow menstruasi sedang deras-derasnya. Hari kedua-ketiga gitu. Karena bikin sama sekali gak merasa 'becek' seperti saat pakai pembalut, dan bener-bener ngrasa seperti gak sedang pakai apa-apa.


Sedangkan saat darah keluarnya sudah tinggal dikit-dikit, akan agak terasa gak nyaman ketika memasukkan. Sebagian orang menyiasarinya dengan memakai pelumas. Tapi saya sendiri sih enggak. Dan ketika sudah masuk pun sedikit terasa agak mengganjal. Sedikit sih tapi.


Oh ya satu lagi, apakah yang masih virgin boleh memakai menstrual cup? Boleh. Tapi memang ada resiko akan merobek selaput dara. Tergantung value masing-masing orang dalam memaknai sebuah 'keperawanan'.


Tapi kalau saya sendiri, misal saya masih virgin, rasanya saya gak akan pakai menstrual cup. Bukan karena takut selaput dara robek, melainkan rasanya jika saya masih virgin, gak akan kebayang aja untuk memasukkan sesuatu ke vagina. Hehehehe.


So, selamat memantapkan hati untuk beralih ke menstrual cup yaaa teman-teman yang sedang galau :)

Utang, Demi Kebutuhan atau Keinginan?

on
Selasa, 05 Januari 2021

 Hidup tanpa utang. Siapa yang nggak mau? Saya rasa hampir tidak ada satu pun manusia yang ingin memiliki utang. Tapi apa daya jika kondisi menempatkan kita pada posisi yang akhirnya mengharuskan kita untuk memiliki utang? Ya sudah, gimana lagi. Selama utang demi kebutuhan, dan bukan demi keinginan, menurut saya masih bisa dimaklumi.


Saya mengenal utang sebagai metode bertahan hidup yang termasuk paling awal saya ketahui. Sejak kecil. Saat saya mengangsurkan kartu SPP sekolah pada Ibu, kemudia ibu dengan mata menerawangnya menerima. Tidak lama kemudian, biasanya ibu pamit pergi sebentar. Beberapa kali saya curi dengar obrolannya dengan Bapak, ibu harus mencari orang yang bersedia memberikan utang. Demi membayar biaya sekolah 3 anak.

 

Credit: Pixabay

 

Berulang-kali Bapak-Ibu bercerita, bahwa dulu saat kami masih sekolah, gali lubang-tutup lubang, pinjam uang-bayar utanng -- memang siklus yang terus berlangsung. Siklus yang akhirnya bisa diputus, ketika kami anak-anaknya sudah lulus dan kemudian bekerja. Bapak-Ibu bilang, mereka hanya ingin anak-anaknya sekolah dengan baik. Sesuatu yang semoga bisa mengantarkan kami pada  takdir yang jauh lebih baik dibanding apa yang orangtua kami jalani sebelumnya.


Jika kondisinya seperti itu, apakah kita bisa bilang bahwa utang harus tetap dihindari? Lalu lebih memilih anak-anak nggak bisa bayar sekolah?

 

Kembali lagi, utang jika memang demi kebutuhan yang tidak dapat dielakkan, menurut saya tidak apa-apa. Kalau mau utang demi keinginan, pertanyaannya, mau sampai kapan? Mau sampai kapan semua keinginan dituruti sampai harus berutang, sedangkan kita tau keinginan kita itu tidak ada habisnya.


Yang tetap harus diperhatikan meskipun berutang demi kebutuhan, adalah jangan lupa untuk melakukan pertimbangan matang. Pertimbangan seperti apa? Yang paling sederhana sih dengan melihat, berapa persentase utang kita yang masih berjalan jika dibandingkan dengan penghasilan yang kita terima. Persentase idealnya, jumlah utang kita nggak boleh lebih dari 30% dari penghasilan kita.

 

Baca juga: Persentase Pengeluaran Bulanan Ideal


Masalahnya, soal utang juga sekarang bukan hal yang sederhana. Dulu jaman Bapak-Ibu masih rutin berutang untuk membayar SPP bulanan saya, mereka bisa hanya modal 'omongan', alias meminjam ke saudara atau tetangga. Sekarang? Sepertinya sulit. Apalagi di masa pandemi seperti ini. Semua orang punya beban hidupnya masing-masing. Pinjam ke bank? Lebih nggak mungkin lagi, karena prosesnya yang cukup panjang dan syaratnya yang cukup banyak.


Sebagai solusi bagi yang memang benar-benar butuh pertolongan keuangan, Tunaiku mungkin bisa menjadi jawabannya. Tunaiku adalah sebuah situs pinjaman online yang telah yang telah beroperasi sejak tahun 2014, dan berdiri di bawah PT. Bank Amar Indonesia, Tbk. Selain itu, Tunaiku juga telah diawasi oleh OJK, sehingga bisa dipastikan Tunaiku merupakan lembaga resmi dan aman.


Proses pengajuan pinjaman melalui Tunaiku hanya butuh waktu yang sangat singkat. Yaitu hanya dengan mengisi form pengajuan pinjaman melalui website. Apa agunan yang dibutuhkan? Kabar baiknya, Tunaiku bisa meminjamkan uang tanpa agunan. Sudah mirip pinjam ke tetangga sendiri ya. Hehe.


Nanti gimana bayar utangnya? Pembayaran utang bisa dilakukan dengan cara transfer melalui ATM maupun M-Banking, atau bahkan bisa dibayar melalui Indomaret atau Alfamart. Wow, kurang mudah apalagi ya?


Tapi sekali lagi mohon diingat, berutanglah jika memang kondisi benar-benar mengharuskan. Bukan karena keinginan. Kemudahan berutang yang diberikan Tunaiku, bisa jadi membuat kita jadi terlena jika tidak diikuti dengan kesadaran finansial dan pengendalian diri yang kuat.


Ingat, jika ingin berutang demi keinginan, mau sampai kapan kita terus menuruti keinginan kita?



Ketika Saya dan Suami dinyatakan Positif Covid-19

on
Kamis, 17 Desember 2020
Bulan Februari 2020 lalu, saat berita tentang Corona mulai ramai dan kabar burung bahwa Corona telah sampai di Indonesia merebak, saya termasuk yang cuek. Ah kayaknya nggak bakal sampai di Indonesia deh. Begitu pikir saya. Saat itu bahkan saya sempat pelatihan pajak ke Jakarta, menikmati suasana ibukota yang masih normal.


Bulan Maret, saat Covid-19 resmi dinyatakan telah masuk ke Indonesia, saya mulai agak panik. Tapi tetap yakin bahwa Covid-19 nggak akan menghampiri kami. Seiring berjalannya waktu yang ternyata menunjukkan angka pasien Covid-19 yang masih terus meningkat, sempat terbersit dalam benak saya. Sepertinya tinggal tunggu waktu untuk melihat nama kita sebagai salah satu pasien Covid-19.


Dan Qodarullah, apa yang sempat terbersit di benak saya itu akhirnya terjadi juga. Benar ya ternyata, bahkan lintasan pikiran sekalipun bisa berubah menjadi sebuah doa. Selasa tanggal 15 Desember lalu, kami dinyatakan positif terinfeksi Virus Corona atau yang sekarang lebih sering disebut sebagai Covid-19.


Bagaimana Awal Mulanya Sampai Bisa dinyatakan Positif Covid-19?


Kamis, tanggal 10 Desember 2020, petang sepulang kerja, suami saya mengeluhkan kepalanya yang pusing. Saya minta dia beristirahat tanpa ada kecurigaan apapun. Suami memang sering mengeluhkan hal serupa saat sedang lelah. Pagi harinya, badannya demam. Saat ditermo, ternyata suhunya menunjukkan angka 37 derajat lebih sedikit. Akhirnya saya memintanya untuk tidak usah berangkat kerja. Daripada diminta pulang karena tidak lolos pengecekan suhu di pos security. Tapi saya tetap belum curiga apa-apa, karena suami juga cukup sering demam tiap kelelahan.


Hari Sabtunya, suami merasa jauh lebih sehat. Sudah tidak demam lagi, meskipun belum benar-benar fit. Seharian itu kami di rumah saja. Sabtu malam, beliau demam lagi. Beliau pamit pada saya untuk tidur di kamar sebelah. Jaga-jaga saja jika ternyata bukan sembarang demam, tapi saya pribadi tetap yakin itu demam biasa.


Minggu pagi, selain demam, suami juga mengeluhkan kehilangan kemampuan membau atau disebut dengan anosmia. Deg! Saat itulah saya mulai curiga bahwa demam yang dialami suami sejak kemarin lusa merupakan gejala Covid-19. Karena salah satu gejala paling khas dari Covid-19 adalah anosmia.


Kalau pas flu parah gitu sih wajar ya nggak bisa nyium bau apa-apa. Lha ini suami enggak flu. Maka, saya dan anak mulai menjaga jarak dari beliau. Saat usai tidur siang, saya merasa badan saya ikutan nggak enak, dan seperti agak demam, dan seluruh tubuh saya terasa linu. Saat ditermo, ternyata suhu tubuh saya 38 derajar. Jederrr! Makin menjadi-jadilah kecurigaan kami. Apalagi selama ini saya jarang sekali demam.


Paginya, hari senin tanggal 14 Desember 2020, kami memutuskan untuk datang ke Puskesmas terdekat dengan tempat tinggal kami, sesuai saran dari salah satu teman kami yang merupakan tenaga kesehatan. Sebelumnya, kami sudah lebih dahulu menitipkan Faza pada budhe yang biasa menjaga dia saat saya bekerja. Di Puskesmas, kami daftar priksa biasa. Saya mendapatkan nomor urut untuk masuk lebih dahulu.


Saat saya masuk dan ditanya apa yang saya keluhkan, saya mengatakan bahwa saya demam, pusing parah dan tenggorokan sedikit tidak nyaman dan merasa linu di sekujur badan. Oleh tenaga kesehatan yang bertugas, saya diminta untuk tes darah 3 hari lagi. Artinya, sepertinya mereka belum terlalu curiga bahwa saya terinfeksi Covid-19.


Selang dua nomor, giliran suami saya masuk. Saat itulah para medis mulai curiga. Oh, kok bapaknya anosmia ya. Oh, yang sebelumnya masuk dan demam juga itu istrinya. Oh, kok barengan ya.


Maka, kami langsung diminta untuk isolasi mandiri, sembari mereka berkoordinasi dengan Puskesmas Kelurahan kami, karena meskipun letaknya jauh lebih dekat, Puskesmas yang kami datangi itu beda keluarahan dengan tempat tinggal kami.


Paginya, kami diswab-antigen. Bukan PCR. Swab antigen itu konon serupa rapid, tapi bukan melalui darah, tapi melalui lendir hidung. Hasilnya bisa diambil pada Pukul satu siang hari itu juga.


swab-antigen-covid-19
lokasi swab, di bagian paling belakang Puskesmas


Sepulang dari Puskesmas, suami demam lagi disertau pusing hebat. Siangnya, akhirnya saya datang lagi ke Puskesmas sendiri, untuk mengambil hasil swab. Begitu kami datang, petugas yang ada di tempat pengambilan hasil langsung kalang kabut. Dia meminta saya menunggu, lalu berlari ke sana-ke mari memanggil petugas lain yang tampaknya jauh lebih senior. Dari situ, saya sudah menebak bahwa hasilnya positif.


Dan begitulah adanya. Saya akhirnya dijelaskan bahwa hasilnya memang positif, dan kami diminta untuk isolasi. Saya diminta untuk meneruskan obat yang diberikan dari Puskesmas yang kemarin kami datangi, lalu diberi tambahan antibiotik dan vitamin. Selain itu, saya juga dibekali dengan surat keterangan isolasi, untuk diberikan kepada kantor.


Apa yang Kami Lakukan Setelah dinyatakan Positif Covid-19?


Sesampainya di rumah dan menyampaikan hasilnya, Bapak-Ibu mertua yang tinggal serumah dengan kami cukup panik, meskipun tidak berlebihan. Saya dan suami menenangkan diri terlebih dahulu, sebelum akhirnya bisa memutuskan langkah apa yang harus kami ambil segera.


Pihak tenaga kesehatan memang mempersilakan kami untuk isolasi mandiri di rumah, karena saya mengatakan bahwa gejala yang kami rasakan Insyaa Allah masih bisa kami atasi. Tapi setelah kami timbang lagi, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan isolasi di Pesantren Covid Sultan Agung. Sebuah pesantren yang dikhususkan untuk para pegawai lembaga tempat kami bekerja, yang dinyatakan positif Covid-19.


kamar isolasi kami


Akhirnya suami menghubungi teman untuk minta tolong dipesankan kamar di Pesantren Covid. Setelah dipastikan kami mendapat kamar, kami langsung berangkat malam itu juga seusai sholat maghrib.


Bagaimana Kondisi Kami Saat Ini?


Banyak sekali teman yang bertanya tentang kondisi kami saat ini. Alhamdulillah kondisi kami baik, meskipun belum bisa dikatakan sehat. Kondisi tubuh kami masih naik turun, meskipun jika dibandingkan dengan dua hari lalu, rasanya jauh lebih baik.


positif-covid-19
saat jalan-jalan pagi di sekitar pesantren covid


Saya sendiri saat ini diare disertai dengan kehilangan kemampuan membau atau anosmia dan kemampuan mencecap rasa. Jadi semua makanan yang saya makan rasanya hambar. Saya bahkan nggak bisa membedakan antara susu dan air putih jika saya meminumnya sembari memejamkan mata.


Sedangkan suami masih merasa mriang, demamnya kadang masih datang, pusing juga kadang masih datang, sedangkan kemampuan membaunya perlahan mulai kembali meskipun masih sangat tipis.


Obat Atau Suplemen Apa Saja yang Kami Konsumsi Selama Isolasi?


Selain obat-obat yang diberikan oleh tenaga kesehatan berupa obat penurun panas, pereda nyeri, obat radang dan obat batuk, kami juga mengonsumsi vitamin C 500 mg sehari dua kali, habbatussauda dua butir sehari, madu dua sendok makan sehari  dua kali dan propolis lima tetes per hari.


Selain itu kami juga melakukan beberapa tips dari teman, seperti sering-sering membaluri tubuh dengan minyak kayu putih, serta sering-sering menghirupnya. Semoga segala ikhtiar ini membuat imun tubuh kami segera menguat, karena Covid-19 konon hanya bisa dilawan dengan menguatnya daya tahan tubuh.


Mohon doa dari teman-teman semua, agar kondisi kami semakin membaik dan kami lekas bisa pulang serta berkumpul lagi dengan keluarga tercinta.


Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang membaca. Terutama untuk orang-orang yang sebelumnya menganggap remeh Covid-19. Banyak yang bilang Covid-19 itu hanya seperti flu biasa. Menurut saya pribadi, kalaupun toh seperti flu biasa, bukankah tetap jauh lebih enak sehat?


Setelah kami merasakan betapa tidak enaknya terinfeksi Covid-19, saya jadi sangat menghargai usaha banyak pihak untuk mengadakan vaksin corona di Indonesia. Beneran deh, saya mau banget vaksin asalkan segala sesuatu sudah clear (kehalalannya, dll).


Karena terinfeksi corona ternyata rasanya seperti di prank dari kepala sampai kaki. Kepala pusing, hidung dan lidah nggak berfungsi. Perut terus bergejolak, seluruh tulang linu-linu. Pokoknya nggak enak!


Saya baca di halodoc tentang update vaksin corona di Indonesia. Sudah ada beberapa perusahaan farmasi terkemuka yang siap meluncurkan produk vaksinnya. Kita tunggu saja kabar baik selanjutnya ya. Di Halodoc, kita memang bisa mendapatkan banyak informasi ter-update tentang dunia kesehatan. Selain itu, kita juga bisa konsultasi dengan dokter jika merasakan beberapa gejala, tapi sedang berhalangan untuk menemui dokter secara langsung.

Tentang Menjadi Orangtua dan Menjadi Anak

on
Sabtu, 12 Desember 2020


Saat melihat cuitan itu, hati saya langsung tergelitik untuk menuliskannya.


Sejak saya merasakan dua peran, yaitu menjadi orangtua dari anak saya, sekaligus menjadi anak bagi orangtua saya, saya jadi sering tergelitik oleh hal-hal semacam ini.


Tentang doktrin-doktrin bagaimana seharusnya hubungan anak dan orangtua, yang rasanya seringkali menempatkan orangtua di posisi yang egois. Doktrinnya sama sekali nggak salah -- (iyalah, masa' perintah yang ada dalam Al-Qur'an saya anggap salah?) -- cuma sepertinya perlu dipahami lebih luas lagi.


"Anak harus membahagiakan orangtua. Emangnya orangtua nggak bisa membahagiakan dirinya sendiri?"


Kebahagiaan itu sebenarnya sumbernya dari dalam diri sendiri kan? Maka tugas untuk membahagiakan orang lain -- meskipun itu orangtua sendiri -- bukankah terlalu berat jika si orang yang ingin dibahagiakan tidak bahagia dari dalam dirinya sendiri?


Nggak jarang kita lihat para anak yang mati-matian berusaha membuat pencapaian, demi ingin membuat orangtuanya bahagia, toh pada akhirnya harus kecewa. Karena nyatanya, si orangtua tetap saja nggak merasa bahagia. Masih kurang, kurang, kurang. Sialnya, yang jadi kambing hitam adalah si anak. Selalu menganggap si anak yang 'bermasalah' karena nggak bisa membahagiakan orangtuanya. padahal yang seperti ini sebenarnya sih orangtuanya yang emang masih ada masalah di dalam dirinya.


"Anak harus membahagiakan orangtua?". Mohon maaf, bukankah (pada umumnya, kecuali kasus-kasus tertentu), sejak si anak lahir, bahkan ketika baru hadir dalam bentuk janin aja anak sudah memberikan kebahagiaan untuk orangtuanya? Bukankah hal pertama yang dibawa anak memang adalah kebahagiaan untuk orangtuanya?


Kenapa tiba-tiba begitu anak tumbuh, anak harus menanggung tugas begitu berat dengan di 'harus-haruskan' membahagiakan orangtua -- yang definisi kebahagiaannya -- seringkali terlalu rumit?


Sama halnya dengan 'anak harus berbakti pada orangtua'.


Masalahnya, definisi berbakti versi orangtua itu kadang terlalu egois. Ada beberapa orangtua yang menganggap si anak nggak berbakti, hanya karena si anak tidak menjalankan beberapa kehendaknya. Lhadalah, padahal si anak itu kan juga manusia yang punya kehendak. Yang adakalanya nggak selalu selaras dengan orangtua.

 

Ego. Sekali lagi tentang ego sebagai orangtua, yang seringkali membuat kita merasa berhak atas sepenuhnya hidup anak. Merasa selalu lebih tau yang terbaik untuk anak. Lalu ketika anak ternyata nggak sependapat, si orangtua kadang dengan serta-merta menganggap anaknya nggak berbakti. Duh Gusti...


Sedihnya lagi, ketika orangtua merasa anaknya nggak berbakti atau nggak bisa membuatnya bahagia -- atau katakanlah memang si anak melakukan kesalahan, orangtua kadang dengan 'enteng' mengatakan kalimat-kalimat menyakitkan bagi si anak.


Kalimat-kalimat menyakitkan itu, mungkin akan mudah dilupakan oleh si orangtua. Pun dengan kesalahan anak. Karena apa? Pada dasarnya, kasih sayang orangtua ke anak memang jauh lebih besar dibanding kasih sayang anak ke orangtua. Karena itu, orangtua mungkin akan jauh lebih mudah memaafkan kesalahan anak, sekaligus melupakan kalimat menyakitkan yang terlontar pada anak.


Tapi apa kabar hati si anak yang tersakiti oleh kalimat kita? Mungkin itulah kenapa banyak kasus tentang anak yang menyimpan luka pengasuhan. Sama sekali bukan karena anak tidak berterima kasih atas segala jasa baik orangtua. Tapi karena pada dasarnya, anak nggak dianugerahi rasa sayang sebesar orangtua, sehingga nggak semudah orangtuanya berlapangdada.


Lagipula, doktrin tentang 'anak harus berbakti pada orangtua' dan 'anak harus membahagiakan orangtua' itu sebenarnya ada doktrin lain yang sayangnya kadang dilupakan oleh kita para orangtua sendiri.


Apa itu?


Tentang keharusan mendidik dan mengasuh anak sebaik mungkin. Tentang keharusan menjadi teladan bagi anak, dan memperlakukan anak dengan baik. Kewajiban ini sejatinya jauh lebih dilaksanakan kan, sebelum segala keharusan tentang anak terhadap orangtua itu?


Jika orangtua sudah melakukan itu terlebih dahulu, sepertinya -- Insyaa Allah, tanpa 'diharus-haruskan' pun, anak pasti akan punya keinginan dan berusaha sekuat yang ia bisa untuk berbakti pada kita.


Tentang membahagiakan, sekali lagi, anak jauh lebih dulu membawa kebahagiaan untuk kita orangtuanya, sebelum kita membahagiakannya. Coba ingat-ingat perasaan kita saat moment pertama kali USG dan melihat si anak yang baru berupa titik kecil di layar. Bahagia, kan?

 

Semoga kita nggak memakai perintah Allah pada anak untuk berbakti dan berlaku baik pada orangtua, sebagai pembenaran untuk membumbungkan ego kita sebagai orangtua.

Signature

Signature