ads

Tips Traveling Bersama Balita

on
Kamis, 02 Juli 2020
Bagi orang-orang yang mencintai kegiatan traveling, bisa jadi pergi traveling bersama balita bukanlah masalah besar. Namun bagi orang yang tidak terlalu menyukai traveling seperti saya, bertraveling bersama balita merupakan sesuatu yang harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang segala sesuatunya. Karna jika tidak, bisa jadi bukannya jadi enjoy dan rileks saat traveling, malah jadi uring-uringan karna kondisi yang serba tidak sesuai harapan.

Tapi tidak dipungkiri, mengajak balita traveling mempunyai banyak sekali manfaat. Salah satunya adalah memberikan ia mutiara pengalamanku yang tak terlupakan bersama si kecil, yang harapannya menjadi salah satu media membangun bonding yang kuat antara dia dengan ayah-ibunya.

tips-traveling-bersama-balita
Traveling saat faza usianya belum genap 3 tahun


Maka, meskipun sedikit lebih repot, traveling bersama balita tidak untuk dihindari, malah sebaiknya harus diagendakan. Berikut adalah beberapa tips yang biasanya saya lakukan saat harus traveling dengan membawa balita:

1. Pastikan si Balita Sehat Ketika Hendak Pergi dan Selama Traveling

Ini adalah tips pertama dan utama yang harus kita pastikan sebelum dan selama traveling. Karna jika si balita dalam kondisi kurang fit, maka hampir bisa dipastikan ia akan lebih mudah rewel.

Jadi, memastikan ia dalam kondisi benar-benar sehat adalah sebuah keharusan. Karna jika badannya sedang sehat, artinya kita sudah menutup 50% lebih peluang ia rewel selama traveling.

2. Bawa Vitamin dan Obat Darurat

Meskipun kita sudah memastika si balita dalam kondisi benar-benar sehat sebelum berangkat, rasanya vitamin dan obat-obatan darurat semacam paracetamol tetap tidak boleh ketinggalan dari list barang bawaan kita.

Namanya juga anak-anak. Adakalanya mereka tiba-tiba demam, padahal sebelumnya tampak sehat. Jadi lebih baik berjaga-jaga kan?

3. Bawa Makanan dan Mainan Kesukaannya

Makanan dan mainan kesukaan merupakan salah satu kunci jika ingin membuat seorang balita tetap ceria dan terhindar dari cranky. Jadi, jangan sampai lupa yaaa, bu :)

4. Pilihkan Pakaian yang Nyaman

Adakalanya kita sebagai orangtua, ingin memakaikan pakaian yang lucu dan modis kepada anak, tapi mengesampingkan kenyamanannya. Padahal bagi anak, kenyamanan adalah yang terpenting.

Nah, saat sedang traveling, jangan lupa untuk memilihkan pakaian yang tetap nyaman untuk si kecil ya. Pastikan bahannya menyerap keringat, dan modelnya tidak menghalangi kelincahannya dalam bergerak.

5. Pilih Tujuan Traveling yang Ramah Anak dan Ramah Orangtua

Meski ada d list tips paling akhir, bukan berarti ini yang paling tidak penting. Justru ini adalah hal pertama yang harus dipikirkan sejak pertama kali merencanakan traveling dengan membawa balita. Yaitu, tujuan traveling.

Saat mengajak balita traveling, sebaiknya pilih tujuan traveling yang ramah untuk anak, dalam artian membuat anak merasa nyaman dan senang dengan suasananya, sekaligus yang ramah untuk orangtua, yaitu membuat orangtua tidak kesulitan saat hendak beristirahat sejenak. Karna traveling dengan balita pasti capeknya dobel-dobel kan?

Nah, itulah lima tips traveling dengan membawa balita. Jika ke-lima tips di atas sudah dilakukan, Insyaa Allah traveling akan berjalan menyenangkan baik bagi orangtuanya maupunn bagi si balitanya.

Maka, mari kita berdoa agar pandemi lekas berakhir dan hidup kembali benar-benar normal, sehingga kita bisa segera merencanakan traveling bersama si kecil. Sekarang nabung dulu yaaa :)

Yang Orang Lain Lihat dan Yang Orang Lain Tidak Tahu

on
Rabu, 24 Juni 2020
Udah lamaaa sekali rasanya saya nggak nulis curhatan, atau uneg-uneg pikiran di blog ini. Kadang saya mikir, kenapa ya? Rasanya bukan karna males lho. Tapi lebih  karena rasanya gak ada uneg-uneg yang sangat butuh ditumpahkan melalui tulisan super panjang seperti dulu. Pertama, sekarang udah punya teman berbagi setiap waktu. Kedua, kalaupun ada uneg-uneg yang ingin ditumpahkan lewat tulisan, sekrang lebih sering numpahinnya lewat caption di Instagram. Hehe.

Tapi kali ini saya tiba-tiba kembali merasa butuh.

credit: Pixabay


Jadi ceritanya, saya punya teman yang sama beberapa orang dinilai bossy. Yah, saya akui sih, beliaunya emang gaya ngomongnya kadang mengesankan bossy gitu. Terutama buat yang nggak kenal dekat.

Nah, suatu hari dia minta tolong OB kantor untuk dibuatkan teh panas, karna badannya agak meriang. Sama si OB, teh hangat tersebut dianter ke mejanya pake nampan gitu. FYI, yang seperti itu memang enggak lazim di kantor saya. Padahal kalo di kantor lain kebanyakan, OB mah emang tugasnya gitu kan. Di sini enggak. Hampir nggak pernah ada pegawai yang minta dibuatkan minuman sama OB.

Nah, jadi heboh kan teman-teman yang lain. Image bossy-nya jadi makin tampak jelas. Dan, yah seperti biasa, memancing beberapa orang untuk menjadikannya bahan 'obrolan'.

Kebetulan, saya lumayan dekat sama si teman yang dianggap bossy itu. Enggak dekat banget sih, cuma dibanding dengan teman-teman yang lain, bisa dibilang saya yang paling dekat dengan beliaunya.

Kebetulan juga, saya tau bahwa si teman bossy ini sering sekali membantu si OB yang sering mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Nah, bagian ini nih yang teman-teman yang lain tidak tau.

Bukannya saya mau bilang, wajarlah dia nyuruh-nyuruh si OB, wong dia sering bantuin si OB. Bukan. Bukan maksud saya untuk bilang memanfaatkan orang lain yang selama ini sering kita bantu itu nggak masalah.

Cuma dalam hal ini, orang lain -- dalam hal ini teman-teman kebanyakan - cuma tau si teman satu itu bossy. Titik. Tapi mereka tidak tau bahwa di balik sikap bossy-nya, dia juga sering bermurah hati membantu orang lain.

Dari situ, saya mengambil pelajaran. Betapa antara yang orang lain lihat dan yang orang lain tidak tau itu jaraknya bisa jauh banget. Bisa menghasilkan persepsi yang 180 derajat bertolak belakang.

Yang orang lain lihat si A itu bisnisnya sukses, hidupnya sempurna. Tapi yang orang lain tidak tau, bisa jadi si A tidurnya tiap malam cuma 1 jam demi mikirin inovasi apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan bisnisnya.

Yang orang lain lihat si B rumah tangganya harmonis, suaminya mapan, anaknya pintar-pintar. Yang orang lain tidak tau, bisa jadi si B harus selalu menekan egonya habis-habisan demi menghindari konflik dengan suami, harus menyiapkan macam-macam media pembelajaran dan mendampingi anak-anaknya sampai gak sempet me time.

Dan seterusnya.

Kita selalu punya pilihan atas persepsi kita, selama kita mau mencoba melihatnya dari beberapa sudut pandang berbeda :')

Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh di Era New Normal Ala dr. Reisa Broto Asmoro

on
Jumat, 19 Juni 2020
Sejak libur lebaran berakhir, saya termasuk salah satu orang yang sudah mulai menjalani era new normal. Setelah dua bulan lebih diberlakukan sistem kerja piket dan work from home, sejak dua minggu lalu jam kerja kembali seperti semula. Dari jam 8 pagi hingga 4 sore. Yang membuat beda adalah beberapa protokol kesehatan dari pimpinan yang wajib kami taati.

Takut nggak sih udah masuk era new normal?

Emm, kalo saya enggak sih Alhamdulillah. Memang awalnya merasa agak serem ya. Era new normal itu menurut saya mirip hukum rimba. Yang kuat ya yang bertahan. Jadi, jadikan aja itu sebagai prinsip.

Gimana agar kita bisa bertahan di tengah jajahan virus covid-19 yang belum juga mereda tapi sudah harus beraktivitas seperti biasa? Mau nggak mau kita harus jadi kuat!

cara-meningkatkan-daya-tahan-tubuh-di-era-new-normal
sumber: pixabay


Terus gimana caranya agar kita bisa kuat? Tidak lain adalah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh kita.

Dokter Reisa Broto Asmoro sebagai tim komunikasi gugus tugas percepatan penanganan covid-19 memebrikan beberapa tips untuk meningkatkan daya tahan tubuh di era new normal seperti saat ini.

1. Makan dengan Gizi Seimbang

Makan dengan gizi yang seimbang sebenarnya sudah menjadi anjuran yang harus dilakukan untuk menjaga ksehatan sejak dulu. Tapi selama ini masih sangat banyak yang mengabaikan. Apalagi dengan makin menjamurnya produk-produk fast food yang menggiurkan.

Di era new normal life, kita tidak boleh lagi mengabaikan itu. Perlahan, pola makan kita harus diubah menjadi lebih baik, dengan menerapkan pola makan dengan gizi seimbang jika ingin daya tahan tubuh kita baik dan bisa menangkal berbagai serangan virus, termasuk virus covid-19.

2. Rutin Olahraga

Sejak masa WFH dan #dirumahaja, salah satu yang hits di sosial media -- terutama tiktok dan instagram -- adalah banyaknya orang yang memposting kegiatan olahraga di rumah. Selain untuk mengisi waktu luang dan mengusir rasa bosan selama di rumah aja, kegiatan itu juga sejalan dengan tips meningkatkan daya tahan tubuh ala dr. Reisa Broto Asmoro.

3. Perbanyak Minum Air Putih

Memperbanyak minum air putih juga bukan hal baru dalam berbagai tips kesehatan. Tapi lagi-lagi, di era new normal, tips ini harus jauh lebih diperhatikan dan diusahakan. Apalagi sekarang banyak sekali minuman-minuman hits, yang secara tidak sadar membuat porsi minum air putih kita menjadi berkurang.

4. Istirahat yang Cukup

Yang selama ini sering begadang, sepertinya harus segera mengubah gaya hidupnya tersebut. Pun yang selama ini workaholic.

Sebagus apapun pola makannya, kalau istirahatnya tidak cukup, tetap saja daya tahan tubuh akan melemah. Terutama jam tidur malam. Konon, tidur di malam hari itu nggak bisa digantikan kualitasnya dengan tidur di siang hari sebanyak apapun.

5. Jaga Kebersihan

Nah, menjaga kebersihan ini ibaratnya benteng pertahanan terakhir dari tubuh kita, saat kita sudah diharuskan beraktivitas seperti biasa di era new normal.

Sering-sering cuci tangan nggak bisa lagi diabaikan. Langsung mandi sesampainya di rumah, setelah beraktivitas di luar, memakai masker saat berkegiatan dan berinteraksi dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Ya, mau nggak mau, suka nggak suka, virus mungkin masih akan terus ada di sekitar kita. Dan hidup nggak boleh dibuat lumpuh olehnya. Kita harus bangkit, memperbaiki yang sempat koyak, mengejar yang sempat tertinggal dan melakukan kewajiban-kewajiban yang sempat tertunda karna pandemi ini.

Era new normal mungkin awalnya terdengar menakutkan. Tapi yakin saja, semua akan baik-baik saja, asal kita berusaha dan tidak abai.

Waspada boleh, panik jangan. Gitu, kan?

Selamat menyambut era new normal, teman-teman. Selamat kembali beraktivitas :)

Menumbuhkan Self Love, Bagaimana Caranya?

on
Kamis, 11 Juni 2020
Gimana orang lain mau mencintai kita, jika kita sendiri tidak mencintai diri sendiri? Gitu kata banyak orang.

Tapi saya kurang setuju sih. Akan tetap ada orang yang mencintai kita, meskipun kita tidak atau belum mencintai diri kita sendiri. Yang akan membedakan mungkin adalah penerimanaan kita terhadap cinta orang lain atau pun sikap kita saat mencintai orang lain.

Saat kita belum mencintai diri sendiri atau belum punya self love, saat dicintai orang lain bisa jadi kita akan skeptis. Menganggap orang tersebut tidak tulus, ada maksud buruk tertentu, dll. Karena kita merasa diri kita penuh kekurangan sehingga tidak mungkin atau tidak pantas dicintai seperti itu.

self-love


Begitupun saat mencintai orang lain, tanpa punya self love. Bisa jadi kita akan bersedia menjadi 'budak cinta'. Diam saja saat disakiti, pasrah meski dilakukan semena-mena. Karna meraa 'pantas' diperlakukan buruk oleh orang yang kita cintai.

Di jaman yang makin penuh tantangan ini, menumbuhkan self love menjadi sangat penting. Self love bisa menjadi salah satu benteng perlindungan diri kita dari berbagai terpaan badai dan angin yang melanda. Jika kita punya self love, kita tidak akan mudah goyah, down atau putus asa saat membaca komentar negatif di media sosial untuk kita. Kita tidak akan mudah terpengaruh nyinyiran orang, dan akan lebih tegas dan berani untuk melindungi diri dari berbagai perlakuan buruk.

Sayangnya, masih banyak sekali yang belum punya self love alias belum mencintai dirinya sendiri. Beberapa teman saya masih ada yangs eperti ini. Mereka cenderung selalu menganggap rendah diri sendiri, merasa tidak punya kelebihan dan tidak pantas dicintai.

Makanya kali ini saya ingin membagikan beberapa cara sederhana untuk menumbuhkan self love dalam diri kita. Beberapa cara di bawah ini sudah pernah saya lakukan, dan ada juga yang masih terus-terusan berusaha saya lakukan.

Yuk simak, apa aja sih cara yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan self love?

1. Cari Support System

Kenapa support system ada di urutan pertama? Yup, karena memang sepenting itu perannya. Tanpa support system yang kuat, usaha apapun akan mudah mentah. Mengingat emosi dan keinginan kita sebagai manusia seringkali naik-turun. Hari ini bertekad kuat untuk menumbuhkan self love, bisa jadi minggu depan tiba-tiba putus asa karna merasa itu bukan hal yang mudah.

Di situasi seperti itu, support system akan mengambil perannya. Dengan kembali menguatkan dan mengembalikan kita pada tekad yang sebelumnya kita ikrarkan. Support system bisa berupa keluarga, teman, atau saudara.

Yang jelas, pastikan support system kita se-frekuensi dengan apa yang tengah kita perjuangkan ya!


2. Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Menurut saya, ini adalah langkah awal paling sederhana. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sederhana kan? Sayangnya, prakteknya tidak sesederhana itu. Bagi teman-teman yang belum punya self love, membandingkan diri dengan orang lain rasanya menjadi salah satu kebiasaan. namanya kebiasaan, pasti akan susah untuk menghentikan.

Tapi sesusah apapun, kalau kita ingin bisa mencintai diri sendiri, kita harus berhenti mebanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita harus meyakini bahwa masing-masing pribadi punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang tidak seharusnya dibandingkan.

3. Fokus Pada Potensi Diri

Setelah berhenti membandingkan diri dengan orang lain, maka kita bisa lanjut ke langkah selanjutnya. Yaitu fokus pada potensi diri sendiri.

Kalau masih membanding-bandingkan terus, gimana mau fokus?

Jika kita bisa fokus untuk melejitkan potensi diri, itu akan menjadi bekal penting yang membuat kita punya penilaian positif terhadap diri sendiri, dan akhirnya menumbuhkan self love.

4. Me Time

Ini sih sepertinya udah pada fasih ya, hihi. Jangan lupa me time. Me time itu bisa jadi salah satu sarana yang efektif untuk menumbuhkan self love lho.

Dan me time nggak harus selalu belanja, atau nyalon, dll. Apalagi di masa pandemi di mana kita sebaiknya lebih banyak di rumah seperti sekarang ini. Me time bisa juga dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat potensi kita yang sudah kita bahas di point 3 meningkat. Misal suka nulis, ya me time-nya dengan nulis. Suka baca novel, ya me time-nya dengan baca novel.

5. Berani Berkata Tidak

Ini juga sepertinya mudah, tapi tetap butuh dilatih. Apalagi untuk tipe orang seperti saya yang sangat sulit bilang tidak.

Apa hubungannya berani berkata tidak dan menumbuhkan self love? Jadi gini, adakalanya (atau seringkali) kita bertemu dengan orang-orang yang meminta kita melakukan hal-hal yang sebenernya nggak kita suka. Tapi karna nggak enak, akhirnya kita mengiyakan.

Saat akhirnya melakukan hal tersebut, pasti kita jadi nggak bahagia. Terpaksa. Dan itu salah satu bentuk menyakiti diri sendiri.

Gimana mau menumbuhkan self love kalau kita masih sering menyakiti diri sendiri?

Itulah 5 cara yang bisa coba kita lakukan jika ingin menumbuhkan self love. Semuanya simpel ya kelihatannya, tapi tetap butuh latihan dan konsistensi. Jika teman-teman punya cara lain, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar ya :)

Dengan lebih mencintai diri sendiri, kita bisa membagikan cinta ke orang-orang di sekitar kita dengan lebih baik dan lebih banyak :')

3 Akun Instagram yang Gencar Mengedukasi Tentang Kesehatan Mental

on
Kamis, 21 Mei 2020
Di beberapa tulisan saya sebelumnya, saya menyinggung tentang isu kesehatan mental. Ya, saya memang termasuk orang yang bersyukur sekali dengan banyaknya orang yang dengan sukarela mengedukasi masyarakat tentang isu kesehatan mental beberapa tahun belakangan ini.

Kenapa?

Karna dengan begitu, wawasan saya tentang kesehatan mental sedikit demi sedikit mulai terbuka. Saya lebih aware tentang kesehatan mental orang-orang di sekitar saya. Tapi yang lebih penting dari itu, saya lebih aware dengan kesehatan mental saya sendiri.

Secara perlahan, saya mulai lebih bisa memahami diri saya dan apa yang saya rasakan. Kenapa saya melakukan sesuatu, dll. Saya juga sekarang tau tentang validasi emosi. Bahwa apapun yang kita rasakan adalah benar, valid. Karna ketidakmampuan memvalidasi emosi, kadang menjadi sumber masalah kesehatan mental seseorang.

Contoh, saya marah sekali dengan seseorang. Tapi saya tidak memvalidasi kemarahan saya sendiri. Saya memungkiri. Saya meneriakkan pada diri saya sendiri bahwa harusnya saya nggak perlu marah. Marah kan jelek. Tanda bahwa saya belum bisa mengelola perasaan dengan baik, dan lain sebagainya.

Akhirnya, saya berusaha memendam kemarahan itu hingga seolah-olah tidak ada. Akhirnya kemarahan itu terakumulasi dan menjadi bom waktu bagi diri sendiri.

Saya yakin banyak yang pernah merasa seperti itu. Apalagi dengan budaya toxic positivity yang masih cukup kuat mengakar.

Saat seorang ibu capek, orang-orang akan bilang, ibu mah kalau lihat anaknya ceria, capeknya langsung ilang semua. Lalu si ibu jadi berusaha mengabaikan rasa capeknya, karna merasa jadi ibu yang payah jika tetap mengeluh capek padahal melihat anaknya selalu ceria.

Padahal, semua orang bisa dan boleh capek. Kita manusia, bukan robot. Pun dengan seorang ibu. Seseorang nggak akan otomatis jadi ibu yang buruk hanya karna mengeluh capek, seceria apapun anaknya, kan?

Yah, hal-hal semacam itu lah yang coba dibuka oleh beberapa orang yang concern soal kesehatan mental. Mereka gencar mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mental yang selama ini masih sangat jarang menjadi perhatian -- jika dibandingkan dengan perhatian masyarakat soal kesehatan fisik.

Jika teman-teman ada yang ingin belajar tentang kesehatan mental juga, tapi dengan santai dan ringan, saya punya 3 rekomendasi akun instagram yang gencar mengedukasi para followersnya tentang kesehatan mental.

1. Adjie Santosoputro (@adjiesantosoputro)

Mas Adjie -- sapaan akrab si pemilik akun -- merupakan seorang praktisi kesehatan mental. Dia banyak memposting tulisan-tulisan yang memberikan edukasi tentang kesehatan mental. Beliau juga rutin membuka kelas pelatihan mindfullness yang diadakan di berbagai kota.


Selain itu, Mas Adjie juga menulisa beberapa buku, membuat podcast untuk berlatih meditasi, dll. Akun ini recommended sekali untuk kalian yang ingin lebih tenang.

2. dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ (@jiemiardian)

Dari gelarnya aja sudah kelihatan ya, Spesialis Kejiwaan. Jadi nggak diragukan lagi kredibilitas dr. Jiemi jika ia banyak bicara tentang isu kesehatan mental.


dr. Jiemi sering menjadi pembicara dalam berbagai acara tentang kesehatan mental. Beliau juga beberapa kali berkolaborasi dengan Mas Adjie untuk membahas tema-tema tentang mental health.

3. Karina Negara (@knegara)

Sejujurnya di antara 3 akun instagram yang saya tulis di sini, akun Karina Negara adalah yang paling belum lama saya follow.



Pertama kali tau akun ini dari seorang teman, dan tanpa pikir panjang langsung follow karna hampir semua postingannya berisi edukasi tentang kesehatan mental. Dan beliau seorang psikolog. Jadi Insya Allah bisa dipertanggungjawabkan tulisannya soal kesehatan mental.

Selain dari akun Instagram, kita juga bisa belajar tentang kesehatan mental dari platform-platform terpercaya, salah satunya adalah Halodoc. Selain sekedar mencari tau tentang kesehatan mental,kalian juga bisa sekalian konsultasi dengan dokter jika kalian merasa ada yang tidak beres dengan diri kalian. Di Halodoc banyak sekali pilihan dokter dari berbagai spesialisasi sesuai kebutuhan kita.

Di tengah dunia yang semakin banyak menuntut seperti sekarang ini, kalau kita tidak meningkatkan kepedulian kita tentang kesehatan mental, rasanya hidup akan terasa berat sekali.

Kalau kalian punya rekomendasi akun lain yang juga berisi edukasi tentang kesehatan mental, boleh ditulisa di kolom komentar yaa. Yuk, mulai peduli dengan kesehatan mental kita :)

5 Metode Sederhana Self Healing Untuk Menyembuhkan Luka Batin

on
Selasa, 19 Mei 2020
Dulu, saat kran informasi belum sekencang ini, kita mungkin menganggap bahwa orang yang punya luka batin adalah orang -orang yang mengalami gangguan mental berat. Bahkan kita menganggap, orang yang datang ke psikiater, pastilah orang gila.

Hari ini, informasi sudah semakin luas. Apalagi, isu kesehatan mental mulai santer dibicarakan. Kita jadi tau banyak hal tentang kesehatan mental. Hal itu membawa beberapa dampak positif. Selain menjadi lebih aware kepada kesehatan orang lain, kita juga menjadi lebih aware pada diri sendiri.

Setiap orang, punya luka batinnya masing-masing. Meski kadarnya pasti berbeda. Ada  yang ringan dan tidak terasa membebani, ada pula yang amat menggerogoti dan menghantui hari-hari. Penyebab luka batin bisa dari banyak hal. Dari perlakuan orang tua atau lingkungan di masa kecil, pernah menjadi korban bullying, Dll.


Seringan apapun luka batin, alangkah baiknya jika kita berusaha untuk menyembuhkannya, karna pastilah akan membawa dampak untuk hidup kita, sekecil apapun itu. Jika kita punya luka batin yang dirasa masih ringan, kita bisa melakukan self healing atau menyembuhkan diri sendiri untuk menyembuhkan luka batin kita tersebut.

self-healing-untuk-luka-batin


Ada beberapa metode self healing sederhana yang konon bisa menjadi sarana untuk menyembuhkan luka batin kita. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menulis

Saat batin kita menyimpan sesuatu yang amat menyakitkan, adakalanya kita tidak bisa mengungkapkannya melalui kata-kata kepada orang lain. Lidah terasa kelu, dan air mata sudah lebih dulu mengambil peran.

Nah, menulis bisa menjadi salah satu solusi untuk meluapkan berbagai macam sampah batin yang menyiksa diri. Kita bisa mengungkapkan kesedihan dan kemarahan kita tanpa takut dijudge orang lain, dengan cara menumpahkan perasaan kita di sebuah tulisan, dan menyimpan tulisan itu sendiri.

Sudah banyak sekali orang yang mengaku terbantu melalui kegiatan menulis dalam  proses self healingnya. Konon, tidak terkecuali dengan Almarhum Eyang Habibie saat kehilangan Ibu Ainun.

2. Mewarnai

Sejak beberapa tahun lalu, sempat booming coloring book for adult. Isinya adalah sekumpulan gambar-ga,bar yang cukup rumit, yang bisa diwarnai oleh orang-orang dewasa, sesuai dengan imajinasinya masing-masing.

Konon, kegiatan mewarnai ini bisa menjadi metode self healing. Beberapa ahli juga mengamini hal ini. Mewarnai bisa memberikan dampak positif bagi seseorang, membuat lebih rileks, dll.

Minggu lalu, saya mencobanya. Karna merasa sejak pandemi ini, kesehatan mental saya agak terusik dengan berbagai ketakutan dan keresahan berlebihan. Setelah beberapa hari rutin mewarnai, saya cenderung merasa lebih rileks dari sebelumnya.

3. Menggambar

Tidak beda jauh dengan mewarnai, menggambar juga menjadi alternatif lain metode self healing. Dengan menggambar, kita bisa mengekspresikan banyak hal, meski hanya berupa coretan yang sepertinya tanpa makna.

Menggambar juga membuat kita seolah kembali seperti anak-anak yang tanpa beban.

Jika ingin memulai untuk mencoba menggambar, coba ikuti @pinotski di Twitter. Beliau adalah seorang ilustrator hebat dari Indonesia yang sering memberikan motivasi bagi orang-orang agar tidak segan untuk mencoba menggambar.

4. Crafting

 Crafting ada banyak sekali macamnya. Merajut adalah salah satu jenis crafting yang dipilih banyak orang sebagai metode self healing untuk menyembuhkan luka batin mereka.

Saya pernah coba juga sih, hanya saja kurang telaten, Hehe. Passion juga turut mempengaruhi jenis metode yang dipilih.

5. Mindfullness

Akhir-akhir ini, metode mindfullness sedang sering diperbincangkan orang. Mindfullness adalah sebuah kemampuan untuk fokus hidup dan merasakan apa yang kita jalani saat ini dan kini. Bukan masa lalu, maupun hari esok. Karna masa lalu seringkali membayangi ketakutan, dan masa depan adakalanya menimbulkan keresahan.

Salah satu praktisi kesehatan mental yang juga turut mengenalkan metode ini ke banyak orang adalah Adji Santosoputro, melalui akun instagramnya. Dia juga membuka kelas untuk yang ingin belajar tentang midfullness.

Jika sudah mencoba 5 metode self healing untuk menyembuhkan luka batin, tapi kita tidak merasakan dampaknya, bisa jadi jenis luka batin yang kita punya sudah cukup serius. Di saat seperti itu, bertemu dengan tenaga ahli mungkin pilihan yang tepat dan bijak.

Sekali lagi, jangan sungkan apalagi malu jika memang merasa perlu datang ke psikolog atau psikiater. Itu nggak ada bedanya kok dengan saat kita sakit demam, lalu kita datang ke klinik untuk berobat :)

Ramadhan dan Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Hikmahnya?

on
Jumat, 08 Mei 2020
Ramadhan dan Lebaran tahun 2020 ini, pastilah akan menjadi salah satu Ramadhan dan lebaran tak terlupakan dalam hidup kita. Apalagi kalau bukan karna kita menjalani Ramadhan dan lebaran tahun ini di tengan pandemi covid-19 yang sedang melanda dunia.

beberapa hari lalu, saya melihat postingan bagus dari salah satu akun favorit saya di Instagram, yaitu @quranreview. Di situ, ada postingan yang isinya cukup menyentil orang-orang -- utamanya diri saya sendiri -- yang kadangkala sering bertanya "mengapa harus seperti ini kondisinya?"

@quranreview menerangkan bahwa di dalam Al Qur'an dikisahkan tentang malaikat dan Iblis yang juga pernah bertanya senada dengan itu. Yaitu menanyakan alasan atas ketetapan Allah. Malaikat bertanya 'mengapa?' ketika Allah hendak menciptakan manusia (ada dalam Surah Al Baqarah:30).

Sedangkan Iblis bertanya 'mengapa', ketika Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam 'Alaihissalam (ada dalam Surah Al Isra':61).

hikmah-ramadhan-di-tenga-pandemi
credit: Pixabay


Lalu apa bedanya antara malaikat dan iblis dalam hal ini? Bedanya terletak pada respon setelahnya. Malaikat langsung berkata:

"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (TQS. Al Baqarah:32)

ketika Allah mengatakan:

"...Senungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (TQS. Al Baqarah:30)

Sedangkan Iblis tetap ingkar dan bertanya dengan nada komplain dengan berkata, "Apakah aku harus bersujud kepada orang yang engkau ciptakan dari tanah?" (TQS. Al Isra':61).

So, kita boleh bertanya-tanya, "mengapa ya suasana Ramadhan dan persiapan lebaran tahun ini beda kondisinya seperti ini?" -- boleh, itu manusiawi. Hanya saja, jangan lupa untuk menutupnya dengan berkata, "Subhanallah..." dan menanamkan keyakinan bahwa apapun kondisi yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi kita semua.

Lagipula kalau kita mau merenung lebih jauh lagi, sebenarnya ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini juga membawa banyaaaak sekali hikmah, meski tidak dipungkiri ada jauh lebih banyak kepahitan. Tapi sebagai orang beriman, alangkah baik jika kita tetap mensyukuri hikmah yang ada meski terlihat sedikit di mata kita.

Apa saja sih hikmah Ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini?

Di keluarga saya sendiri, ada beberapa hikmah yang sangat saya rasakan, utamanya untuk diri saya. Di antaranya, fokus ibadah saya jauh lebih baik dibanding Ramdhan tahun-tahun sebelumnya -- terutama sejak punya anak. 2 Ramadhan terakhir setelah saya punya Faza, ibadah saya kacau balau. Tilawah Al Qur'an nggak pakai target, sedapetnya. Dan dapetnya sedikiiittt sekali. Tarawih pun jauh lebih banyak bolongnya, karna orang rumah pada tarawih ke masjid, sedangkan saya belum memungkinkan bawa Faza ke masjid untuk tarawih (karna butuh wkatu lama dan dia pasti crancky).

Tahun ini tilawah dan tarawih saya membaik sekali frekuensinya -- meskipun juga tetap belum bagus-bagus amat. Karena WFH, otomatis waktu saya untuk tilawah jauh lebih banyak. Tarawih pun bisa di rumah bareng dengan keluarga, jadi Faza pun tetap enjoy.

Hikmah selanjutnya adalah kami nggak perlu disibukkan dengan berbagai agenda buka bersama. Sehingga bisa full buka bersama keluarga dan membuat kedekatan semakin terbangun. Bukannya menganggap buka bersama itu agenda yang nggak baik atau nggak penting. Hanya saja diakui atau tidak, jika agenda buka bersama terlalu sering, biasanya ibadahnya juga makin kacau. Soalnya seringkali buka bersama pasti waktunya melewati waktu tarawih.


Sedangkan tentang lebaran, harus diakui berat sekali membayangkan lebaran nanti nggak bisa bertemu dengan keluarga di kampung dan sanak saudara. tapi -- lagi-lagi -- pasti ada hikmahnya. Yang saya rasakan hikmahnya adalah, saya nggak terlalu sibuk memukirkan tentang baju lebaran, sendal lebaran dan berbagai macam hal yang biasanya saya pikirkan setiap menjelang lebaran. Singkat kata, jadi nggak terlalu konsumtif. Apalagi jika melihat banyak sekali saudara yang butuh uluran tangan di tengah kondisi sulit ini.

Subhanallah. Maha suci Allah yanag nggak akan memberi kita cobaan melampaui batas kemampuan kita. Semoga semua ini seger berlalu, dan semoga kita menjadi orang yang berhasil mendapatkan hikmah dari beratnya kondisi ini. Aamiin.

Apa hikmah ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini untuk teman-teman?

Signature

Signature