Kegiatan Untuk Mengisi Akhir Pekan Buat Para Jomblo

on
Sabtu, 12 Desember 2015
Akhir pekan rasanya menjadi waktu yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Baik yang masih sekolah, apalagi yang sudah bekerja. Setelah berhari-hari bergelut dengan aneka aktivitas yang menuntut tenaga maupun pikiran diperas, punya 1-2 hari untuk rehat sejenak dari semua itu pastilah amat membahagiakan.

Pertanyaannya, adakah yang tidak menyambut bahagia akhir pekan? Hmm, sayangnya sepertinya tetap ada. Siapa mereka? Para jomblo, salah satunya. Hihi. Meskipun tentu saja enggak semua jomblo, ya, kakaaaa... Jangan tersinggung dulu :p Saya bilang gitu karna saya juga jomblo, dan saya pernah tidak bahagia-bahagia amat menyambut akhir pekan.

Tetap senang sih saat akhir pekan datang. Hanya saja kadang merasa tidak bisa memanfaatkan akhir pekan dengan maksimal. Sementara banyak teman saya menikmati akhir pekan dengan pasangan mereka, saya yang jomblo hanya bisa kebingungan di rumah. Hihi. Kenapa? Mungkin karna saat itu saya bingung dan belum menemukan kegiatan untuk mengisi akhir pekan saya dengan status jomblo yang saya sandang.

Tapi itu masa lalu, kakaaa... Sudah tertinggal jauh di belakang. Oohh, berarti saya sudah engga jomblo lagi, ya?? Ya, masih lah! Kan prinsipnya tetep jomblo sampai akad *jiah* :D Iya, saya masih jomblo, tapi sekarang saya bisa menikmati akhir pekan dengan jauh lebih baik, karna saya sudah punya pilihan kegiatan untuk mengisi akhir pekan saya :)

Apa saja pilihan kegiatannya? Yuk, mari disimak :)

1. Membaca

Duh, kegiatan ini memang asli engga ada matinya, ya. Akhir pekan kok membaca? Bukannya bikin pusing? Ya bacanya jangan buku pelajaran dong, ah :D Baca saja buku-buku ringan -- novel, majalah, atau buku-buku nonfiksi ringan yang temanya kamu sukai. Kalau saya sih seringnya memilih novel :D

Asli lho, dengan membaca akhir pekanmu bisa sangat bermanfaat. Apalagi kalau musim hujan seperti ini. Bergelung dibawah selimut sambil membaca, ditemani cemilan dan teh hangat sungguh rasanya seperti surga *agak lebay* :D

2. Memasak

Ahaaa... Yang ini juga tidak kalah seru. Akhir pekan menjadi waktu yang sangat tepat untuk mencoba resep-resep simple yang bisa dengan mudah kita dapat di internet. Selain kita bisa memanfaatkan akhir pekan dengan positif, keluarga juga pasti turut senang saat masakan kita jadi. Hehe.

Saya lumayan sering memilih kegiatan ini di akhir pekan. Salah satunya adalah membuat pizza magic com yang super simple. Selain pizza, beberapa minggu lalu saya juga membuat nugget ayam untuk keponakan dan untuk saya bawa ke kost :)

3. Internetan

Waaahh, kalau ini sih sebenarnya engga hanya kita lakukan saat akhir pekan, ya. Siapa sih hari ini yang mampu benar-benar memisahkan diri lebih dari sehari dari internet? Sudah sangat jarang rasanya. Tapi, tetap tidak ada salahnya memilih internetan sebagai kegiatan untuk mengisi akhir pekan.

Setidaknya, pada akhir pekan kita bisa menggunakan internet dengan lebih maksimal untuk hal-hal yang bermanfaat. Atau jika kamu blogger seperti saya (malu sebenarnya menyebit diri sebagai blogger), akhir pekan tentulah menjadi saat-saat 'balas dendam' untuk bisa maksimal 'bermesraan' dengan dunia blogging :)

4. Berkumpul Dengan Keluarga

Terdengar mainstreem? Iya, sih! Tapi sejatinya pilihan kegiatan ini harus menjadi prioritas, menurut saya. Semakin dewasa, kegiatan kita semakin bertambah, orang yang kita kenal juga semakin banyak. Hal itu kadang membuat orang-orang terpenting dalam hidup kita, yaitu keluarga, semakin tersisihkan dari perhatian kita.

Maka, memilih berkumpul dengan keluarga saat akhir pekan tentu saja merupakan pilihan yang amat bijak. Mengobrol hal-hal ringan dengan ibu-bapak, main ke rumah kakak yang sudah pisah rumah, bermain bersama keponakan, dll.

Naaahhh, ternyata menjadi jomblo bukan berarti tidak punya banyak pilihan kegiatan, kan, di akhir pekan? Justru kalau punya pacar pilihannya alan jadi sangat sempit :)

Eh eh, tapi kata Pak Ridwan Kamil, jomblo itu nasib, single itu pilihan. Baiklah, sebaiknya kita ganti saja istilahnya dengan SINGLE :D

Yang single, apa pilihan kegiatanmu di akhir pekan kali ini??

Sholat Ritual VS Sholat Aktual

on
Jumat, 11 Desember 2015
Sholat ritual VS sholat aktual? Lho, apa itu? Memangnya ada, ya, istilah seperti itu?

Saya mendapat materi ini dalam salah satu pertemuan kajian pagi rutin di kantor saya. Pertama tentang sholat ritual. Kita semua yang mengaku muslim pasti tahu bahwa kita terikat kewajiban untuk melakukan ritual sholat minimal 5 kali dalam sehari. Ritual sholat ini menjadi jurang pemisah dan pembeda antara muslim dan kafir. Tapi apa jika kita sudah selalu menunaikan sholat 5 waktu lalu sudah cukup? Tentu saja belum.

Sebagian besar dari kita pasti familiar dengan ayat Innassholata tansa anil fahsya' i wal munkar -- sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Nah, inilah yang dinamakan sholat aktual. Yaitu sebuah cerminan sikap sebagai seorang muslim yang senantiasa menunaikan sholat. Jadi sejatinya, tidak cukup hanya dengan menunaikan sholat lalu kewajiban kita sebagai muslim selesai. Perlu ada tindak lanjutnya. Kata Pak Ustadz, jeda antar-waktu sholat adalah saatnya untuk menindaklanjuti sholat ritual kita melalui sholat aktual. Dengan berbuat baik, menghindari perbuatan keji dan munkar, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Lalu mengapa banyak orang yang sholat belum mampu membuat mereka tercegah dari perbuatan keji dan munkar? Mungkin karna salah satunya mereka masih memaknai sholat sebagai ibadah ritual semata.

Wallahu a'lam bishawwab...

Pengumuman (Yang Telat) Giveaway Pertama :D

on
Selasa, 08 Desember 2015
Maafkan saya, ya, teman-teman... beberapa hari kemarin saya sedang dijajah, jadi telat sekali bikin pengumuman ini. Iya, saja sedang dijajah kesibukan, kelelahan, serta kemalasan. Hahaha

Saya ucapkan terima kasiiihhhh sekali atas partisipasi teman-teman dalam event kecil-kecilan saya ini. Jujur, saya cukup sulit menentukan siapa yang akan saya pilih sebagai pemenang dan mendapatkan 'tanda cinta' dari saya. Semua jawaban menggetarkan hati saya. Semua jawaban membuat saya semakin sadar betapa kita punya harta tak ternilai yang amat cukup menjadi segala pelipur urusan duniawi kita, yaitu Al Qur'an.

Tapi, sesulit apapun tentu saja saya harus tetap mengambil keputusan, kan :)

Dengan mengucap Bismillah, saya memilih jawaban Intan Novriza Kamala Sari sebagai jawaban terbaik yang sukses bikin mata saya berkaca-kaca. Berikut ini jawaban dia:

Ikutan ya mbak. Udah follow blog ini sejak beberapa waktu lalu :D
Ini ayat Al-Qur’an yang paling berkesan buat aku,

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
(Q.S.Ar-Ra'd (13): 26)

Subhanallah.

‘Bertemu’ dengan ayat ini membuatku seperti diingatkan kembali tentang betapa kecilnya urusan duniawi jika dibandingkan dengan urusan akhirat.


Barangkali kita pernah merasa, sudah berusaha keras sekali, tapi hasilnya belum sesuai dengan apa diharapkan.

Barangkali pernah merencanakan sesuatu dengan sangat rapi, tapi ada hal kecil yang mengacaukan rencana tersebut.

Sebuah kutipan orang bijak mengatakan ->> “Jika engkau ingin berbicara pada Allah, maka sholatlah. Jika engkau ingin Allah berbicara padamu, maka mengajilah.”

Dalam kehidupan ini, bekerja keras memang harus kita lakukan. Tapi ada yang harus diperbaiki mengenai pola pikir. Bekerja untuk apa sih? Mendapat harta berlimpah atau mendapat berkah dari Allah?

Yang harus kita percaya adalah jika Allah sudah ridho, hidup ini akan bahagia. Jika penghasilan yang kita terima diberkahi Allah, berapapun akan terasa cukup.

Trims mbak :)
Tunggu jilbabnya sampai, ya, Intan :)

Nahh, Alhamdulillah saya juga mendapatkan rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Seorang sahabat yang sekaligus blogger kondang menghibahkan sebuah pashmina untuk saya, sebagai tambahan hadiah untuk event ini. Dan saya memilih Mbak Inayah sebagai penerima pashmina tersebut. Alasannya? Bagi saya amazing sekali, karena Mbak Inayah 'menemukan' ayat tersebut melalui mimpi :)

Laluuu, saya juga memutuskan untuk memberi 'tanda cinta' untuk satu lagi jawaban. Tanda cintanya yaitu berupa sebuah bros bunga karya Mbak Susi. Dan bros itu akan saya persembahkan untuk Mbak Ninda yang menurut saya jawabannya JLEB dan ngena.

Nah, sayangnya karna satu dan lain hal, saya gak bisa nampilin foto pashmina dan brosnya tersebut. Hihi. Jadi ditunggu saja ya teman-teman :)

Semoga giveaway ini nggak hanya berakhir sampai sini, tapi bisa 'berbuntut' silaturahim yang terus berlanjut. Aamiin :)

Cara Mengatasi Kesedihan

on
Senin, 07 Desember 2015
Yang namanya hidup pastilah ada sedih dan senang. Kita nggak mungkin kenal bagaimana rasanya sedih, kalo kita belum pernah merasakan senang. Begitu juga sebaliknya. Maha besar Allah yang menciptakan segala sesuatunya secara seimbang :)

Sayangnya, kita sering kurang sabar menerima pergiliran siklus sedih dan senang itu. Saat kebahagiaan yang sedang menjadi bagian kita, kita sering lupa diri, hingga ketika sudah saatnya siklus bahagian berganti nestapa, kita kewalahan mengendalikan perasaan sendiri. Kata pak Ustadz, sedih dan senang itu sama-sama bentuk ujian dari Allah -- bagaimana kita merespon dua hal itu. Cuma, sebagai manusia kita, kesedihanlah yang lebih sering kita hayati sebagai ujian.

Meskipun sedih-senang merupakan siklus rutin kehidupan, sayangnya masih banyak orang yang bingung cara mengatasi kesedihan. Lihat saya status-status socmed -- betapa banyak yang meratapi kesedihannya dengan mengumbar di media sosial. Yang paling ekstrim tentu saja kasus-kasus bunuh diri. Semua itu merupakan cerminan betapa banyak orang yang belum tahu cara mengatasi kesedihan.

Beberapa hari lalu saya tengah dilanda kesedihan. Saya menangis semalaman, mencoba tidur, lalu terbangun beberapa kali untuk melanjutkan tangisan. Alhamdulillah, tidak lama kemudian Allah menunjukkan pada saya tentang cara mengatasi kesedihan saya, melalui salah satu materi pelatihan yang diadakan oleh kantor tempat saya bekerja.

Bagaimana cara mengatasi kesedihan tersebut?

Sederhana saja. Hanya dengan mengatakan dengan sepenuh hati, dan menanamkannya pada pikiran:

"Semua ini pasti akan berlalu..."

Coba deh diinget-inget... sudah berapa-puluh kali kita mengalami kesedihan yang sama, atau bahkan yang jauh lebih besar? Nyatanya, semua itu berlalu dan kita masih baik-baik saja hingga hari ini, kan? Jadi, santai sajalah... Semua itu pasti akan berlalu :)

Setelah mendengar hal itu dari pemateri, saya mencoba mempraktekkannya. Saya mengatakannya dengan ikhlas, dan sungguh-sungguh... dan, taraaa.... dada saya yang semula masih sesak oleh kesedihan, tiba-tiba menjadi terasa lapaaaang sekali :)

Semoga bermanfaat teman-teman, selamat mencoba :) 

Cara Mengatasi Bau Badan

on
Kamis, 03 Desember 2015
Dulu, saat usia saya memasuki usia remaja atau sering disebut sebagai masa puber, ibu dan kakak perempuan saya sempat meresahkan beberapa hal dalam diri saya. Selain memberitahu saya tentang beberapa hal yang harus saya ketahui setelah mendapatkan menstruasi yang pertama, mereka juga cukup resah dengan bau badan saya. Hihi

Saat sebelum remaja saya cenderung jarang berkeringat. Setelah memasuki masa remaja, kuantitas keringat saya mulai bertambah. Setiap pulang sekolah, ibu saya pasti mengeluh, ' euurghh... Kecuuttt'

Apa yang kemudian disodorkan pada saya oleh kakak perempuan saya? Tidak, ia tidak menyodorkan deodorant yang banyak diiklankan itu. Karna menurut kakak saya, kalau bau badannya tidak diatasi dulu, tapi langsung dikasih wangi-wangian semacam deodorant, yang ada baunya malah jadi gak karuan ketika berkeringat. Jangan bandingkan apa yang dikatakan iklan dengan kenyataan di lapangan, ya, guys :D Kakak saya hanya menyodorkan: TAWAS, atau ada yang menyebut trawas.

sumber

Ada yang belum pernah melihat langsung? Cari aja deh di pasar, Insya Allah gamoang di cari kok. Dipakai dengan cara dioleskan pada ketiak seperti memakai deodorant pada umumnya, setiap habis mandi. Eh beneran loh, ketiak jadi ga burket lagiii.... Engga ada bau kecuuttt sekecut asem juga. Nah, setelah bau badan teratasi, baru deh silahkan memakai macam-macam wewangian :)

Sekarang saya sudah gak pakai lagi sih.. Karna alhamdulillah saya sudah gak punya masalah sama bau badan :p

Selamat mencoba, yaaa... Semoga bermanfaat :)

#SelfReminder: Ibarat Air Dan Garam

on
Kamis, 26 November 2015
dr Tumblr

Masalah itu diibaratkan garam.
Hati kita ibarat air. Hati yang sempit ibarat air dalam gelas, sedangkan hati yang luas ibarat air di luasnya telaga.

Saat segenggam garam dimasukkan pada segelas air, tentu rasanya akan berubah menjadi asin tak terperi.
Tapi jika garam dengan jumlah yang sama dimasukkan ke dalam air di luasnya telaga, akankah mampu mempengaruhi rasanya? Sama sekali tidak.

Begitu juga tentang hati kita.
Saat segenggam masalah menimpa orang yang hatinya sempit, bisa jadi hal itu sudah sangat mampu membuatnya amat terpengaruh. Hidupnya berantakan. Reaksinya berlebihan.
Tapi saat masalah yang sama menimpa orang berhati luas, tak akan pernah masalah tersebut mempengaruhinya kecuali membuatnya semakin banyak mengingat Tuhannya.

Masalah kita dan orang-orang di sekitar kita mungkin sama.
Sikap kita atas masalah tersebutlah yang membuatnya jadi berbeda.


**Nasehat ini kalo gak salah saya baca dari FP-nya Teh Ninih (dengan perubahan kalimat)
Dan jadi sadar bahwa hati saya masih terlampau sempit dalam menghadapi banyak hal :((

Artis Cilik Dalam Kenangan

on
Rabu, 25 November 2015
Kemarin Paman datang... Pamanku dari desa...
Dibawakannya rambutan, pisang dan sayur-mayur segala rupa... Bercerita Paman tentang ternaknya, berkembang-biak semua...

Adakah yang gak kenal sama lagu tersebut? Bagi yang kenal, selamat! Itu artinya masa kecil anda terselamatkan. *niru kata2 di meme* :D

Akhir-akhir ini -- setiap saya pulang kampung, saya selalu didaulat keponakan saya untuk menyanyikan lagu itu -- berulang-ulang sampai saya bosan sendiri :D

Iya, dia sedang gandrung sekali sama lagu itu sejak saya iseng mengenalkannya sebulanan lalu. Mungkin dia excited ya dengar lagu bagu yang liriknya sepenuhnya bisa dia pahami dan 'khas' dunianya dia. Hari ini lagu anak-anak sudah hampir tinggal sejarah kan, ya?

Saya tiba-tiba jadi bersyukur karna saya hidup pada jaman di mana artis cilik masih cukup banyak. Saya bersyukur karna telinga kanak-kanak saya masih cukup mudah mendapatkan suguhan lagu-lagu ceria yang sesuai umur saya saat itu. Saya miris saat mendengar anaknsalah satu tetangga saya dengan amat fasih dan menghayati menyanyikan lagu 'mana mungkin selimut tetangga, hangati tubuhku...' Omaigaaddd :|

Saya jadi tiba-tiba ingin mengenang beberapa artis cilik yang cukup saya gemari saat saya masih kanak-kanak. Mereka merupakan salah satu hal yang membuat masa kanak-kanak saya menjadi berwarna dan menyenangkan. Tapi iya lho, sosok yang dikagumi seorang anak itu sedikit-banyak pasti memberi pengaruh pada anak tersebut. Siapa saja artis cilik yang saya idolakan dan apa pengaruh yang mereka bawa buat saya? Cekidot :p

1. Maissy

From google
Ci luk ba!!! Udah sih... Saya ingetnya cuma itu aja, udah gak inget lagunya seperti apa. Ahahaha. Faktor U :p

Saya dulu ngefans banget sama artis cilik yang sekarang udah jadi Mbal Dokter cantik (dan SUDAH MENIKAH) *capslock jebol!* ini. Sampai-sampai, saya sering merengek sama ibu saya agar diijinkan gak berangkat sekolah madrasah demi menonton acaranya maissy. Apa ya judul acaranya? Saya lupa. Ada yang ingat?

Itu pengaruh negatifnya, ya. Pengaruh postifinya juga ada banget. Dulu, entah dari mana saya tahu bahwa Maissy ini anak pintar dan selalu ranking 1 di sekolah. Nah, saya terobsesi untuk bisa jadi seperti dia! Taraaaa.... Beneran loh di penerimaan raport pertama semenjak tekad itu tertanam saya ranking 1 terus sampai lulus SD. Sayangnya siihhh, prestasi itu perlahan memudar seiring memudarnya rasa suka saya pada sosok Maissy. Haha. Kalo saya tetap ngefans sama Maissy mungkin saya juga bakal ambil kuliah kedokteran :D *Mau bayar pake daun, mbak? :p*

2. Sherina

From Google
Naahh, ini nih artis cilik yang bikin saya agal berpaling dari maissy. Ngefansnya pun bertahan lumayan lama -- kira-kira sampai SMP. Dulu bermimpi banget bisa ikut macem-macem les kayak si Sherina kecil dulu. Balet, bahasa ingris, piano, dll. Tapi apa daya tangan tak sampai :D

Ada satu hal yang paling berkesan dari sejarah saya ngefans sama Sherina. Sampai hari ini, kado paling manis yang pernah saya terima adalah: kaset Sherina yang album Andai Aku Besar Nanti, yang diberikan oleh kakak laki-laki saya. Selain seneeeeng banget akhirnya bisa beli kaset itu, saya juga terharu karna kakak laki-laki saya membelikan dengan cara mengumpulkan sisa uang jajannya yang saya tahu udah pas-pasaaaannn bangetttt :')

Ohya, satu lagi yang terkenang banget. Gara-gara Film Petualangan Sherina yang entah berapa-puluh kali saya tonton waktu itu :D saya terobsesi banget pengen sok-sokan 'berpetualang' di hutan kayak si Sherina. Pengen juga main-main di tengah-tengah kebun teh/sayur gitu. Tahu gak gimana saya mewujudkan obsesi tersebut? Saya bersama genk masa kecil saya 'kabur' ke sawah dekat rumah, sambil bawa tas dan jajan coklat kayak si Sherina. Ahahahaha.

3. Tasya

From Google
Kalau sama Tasya saya gak terlalu gimana-gimana sih. Sekedar suka aja. Yang paling terkenang ya pipinya yang gembul gemesin bangettt.

Tapi saya jadi gak takut tidur dalam gelap gara-gara lagunya si Tasya yang duet sama Duta itu.

'Jangan takut akan gelap... Karna gelap melindungi kita dari kelelahan...' -- ada yang tahu lagu itu?

Yuhuu... Itulah 3 artis cilik yang dulu mewarnai hari-hari saya. Kalau kamu, punya idola artis cilik gak dulu? :)

3 Alasan Orang Enggan Datang ke Kajian

on
Minggu, 22 November 2015
Apa yang terlintas di otak kalian saat mendengar kata kajian? Berapa perbandingan antara tertarik untuk datang versus malasnya? Lebih sering mana hayoo?

Saya pernah beberapa kali mengajak teman untuk datang ke kajian keagamaan. Sayangnya, saya beberapa kali nggak berhasil meyakinkan mereka untuk turut berangkat bersama saya. Seperti ada keengganan di wajah mereka saat saya mencoba mengajak. "Kenapa, ya? Apa cara saya mengajak yang masih belum oke?" pikir saya. Setelah mencoba merenung dan menelaah beberapa penolakan dari beberapa teman, akhirnya saya menarik 3 alasan yang (mungkin) menjadi alasan orang enggan datang ke kajian.

1. Belum tahu keutamaan menuntut ilmu

Salah satu jawaban yang saya dapat saat mengajak teman datang ke kajian adalah: 'Duh, aku kan nggak pinter soal agama. Malu ah!'

Lho, padahal datang ke kajian itu dalam rangka menuntut ilmu kan, ya? Justru karna kita belum pinter soal agama makanya kita seharusnya sering datang ke kajian biar makin pinter. Sering dengar kan kalimat-kalimat mutiara yang mengatakan tuntutlah ilmu meski ke Negeri China? Atau tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat? Nah, kalimat mutiara itu seharusnya nggak cuma kita hafalin waktu jaman kuliah, buat jaga-jaga siapa tahu keluar di soal ujian.

Kalimat mutiara itu juga senada loh sama sebuah hadist yang mengatakan bahwa barangsiapa menempuh sebuah jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

2. Malu (?)

Masih senada sama alasan yang pertama tadi, biasanya ada tambahan kata malu di belakangnya. 'Malu, kan pakaianku masih gini', 'malu aku nggak bisa ngaji', 'malu nanti bla bla bla'

Iya sih, harus diakui memang ada beberapa forum kajian yang jamaahnya berpakaian 'sejenis', dan akhirnya membuat beberapa orang merasa 'nggak pantas' untuk turut serta bergabung bersama mereka. Tapi percaya deh, ada (semoga banyak) kok forum kajian yang pesertanya memakai berbagai macam style (tapi tetep memakai jilbab), dan sama sekali nggak akan dianggap 'aneh'. Saya bersyukur bertemu forum kajian semacam ini. Yang nggak terkesan 'kotak-kotak', dan merangkul berbagai kalangan: dari yang masih sangat awam, sampai yang sudah expert.

Soal malu nggak bisa ngaji (maksudnya baca qur'an)... Hehe, di forum kajian jarang kok kita disuruh ngaji satu-satu gitu. Jangan parno duluan :) Kalo memang belum bisa ngaji, di forum kajian Insya Allah kamu bakal ketemu orang-orang yang bisa kamu mintai tolong nemenin kamu belajar ngaji :)

3. Takut (??)

Alasan cukup bikin sedih ya sebenarnya. Sejak munculnya berbagai rumor tentang terorisme, aliran radikal, dll.. Banyak orang yang jadi salah kaprah menempatkan rada was-was. Gencarnya pemberitaan media yang harus diakui sering nggak seimbang, membuat kaum muslim yang 'lurus' jadi ikut terpojok.

'Takut ah, jangan-jangan itu aliran keras'

Okey, waspada boleh. Tapi jangan kebablasan ya, dear. Jangan sampai bikin kita jadi 'tega' nuduh macam-macam saudara (sesama muslim) kita sendiri. Sekali lagi, waspada boleh. Tapi jangan sampai bikin kita jadi kehilangan kesempatan dan kemauan belajar. Belajar itu bukan hanya ilmu duniawi aja loh.. Belajar ilmu agama juga gak boleh lupa :)

Kalau memang takut 'salah gabung', bergabunglah sama kelompok kajian yang mana sudah ada teman/saudara/siapapun yang kamu percaya yang juga sudah ikut kajian tersebut.


So, jangan ragu datang ke kajian, yaa.. Yakin, Insya Allah gak bakal nyesel.

Nah, itu tadi 3 alasan hasil 'penerawangan' saya. Menurutmu, apalagi alasan orang atau mungkin kamu sendiri enggan datang ke kajian?

#YukNgaji :)

Terapi Hati: Belajar Merajut

on
Selasa, 17 November 2015
karya pertama dan kedua

Saya sedang minat lagi sama crafting. Kali ini saya sedang semangat belajar merajut, setelah beberapa tahun lalu semangat sekali sama flanel, kali ini saya mencoba rajut dan kristik. Dan seperti sebelum-sebelumnya, kalo lagi semangat gini saya suka sampai lupa makan dan minum -- dan efeknya udah mulai kerasa: perut perih dan punggung sakit :(

Seperti sebelumnya juga, saya nggak tahu ini bakal bertahan berapa lama. Saya lumayan lemah soal konsistensi :D

Tapi saya masih selalu percaya, bahwa punya ketrampilan itu ngak pernah ada ruginya. Apalagi perempuan :)

Yang jelas, bagi saya crafting itu terapi hati.

Giveaway Pertama :)

on
Rabu, 11 November 2015
Huaa... Akhirnya saya ngadain giveaway :D

Sebenarnya ini cuma sekedar latihan sih buat saya. Pertama, karna ini giveaway pertama saya. Kedua, hadiahnya amat sangat sederhana sekali :) Dan ketiga, saya belom siap untuk bikin 'soal' yang susah-susah, karna itu berarti juga butuh tenaga dan waktu 'lebih' untuk menentukan pemenang.

Okay, langsung saja, yaa.. Aturan main giveaway pertama saya sangat sederhana, Insya Allah.
1. Follow blog saya ini, ya.. Tapi ga wajib kok, yang berkenan saja :)
2. Tulis di kolom komentar: sebutkan ayat Al-Qur'an atau hadist yang paling berkesan buat kamu, berserta alasannya. Kenapa soalnya kayak gini? Biar sembari menilai, saya juga sekaligus belajar, Insya Allah :)
3. Pesertanya punya alamat di Indonesia, ya. Hehe.
4. DL-nya 30 November 2015, yaaa...

Udah gitu aja sih :)

Apa hadiahnya? Ini dia:

Tuu kaann, hadiahnya sederhana sekali: khimar berbahan satin :) dan maaf yaa, habis disimpen di lemari, ga sempet nyetrika :D

Semoga berkenan meramaikan 'hajatan' sederhana pertama saya, yaaa... Dan semoga lewat 'hajatan' ini, saya mendapat banyak teman baru, aamiin :)

Menjaga Kondisi Badan dengan Rutin Mengonsumsi Buah

on
Sabtu, 07 November 2015
Alhamdulillah, hujan sekali-dua kali sudah mulai hadir, ya. Meskipun teriknya siang masih cetar. Nah, cuaca seperti ini seringkali bikin badan jadi gak enak. Saat ini panas banget, beberapa jam berselang angin berhembus dingin. Kalau gak pinter-pinter jaga kondisi, badan pasti akan drop. Mriang ga karuan.

Dulu, saya termasuk orang yang kurang tahan sama perubahan cuaca. Apalagi jika orang-orang di sekitar saya juga daya tahannya kurang bagus. Klop lah. Tepar sama-sama. Hehe

Tapi alhamdulillah tahun ini saya merasakan perbedaan yang cukup signifikan pada daya tahan saya. Beberapa waktu lalu, banyak sekali orang di sekitar saya yang terkesan batuk dan pilek. Dan alhamdulillah daya tahan tubuh saya masih bisa melawannya.

Lalu apa kira-kira yang membuat daya tahan tubuh saya jadi jauh lebih baik? Kalau menurut saya, mungkin karna beberapa bulan ini saya rutin mengonsumsi buah. Dulu, makan buah bagi saya hanya hiburan, jauh dari kata sadar bahwa ia merupakan kebutuhan. Sekali-sekali saja. Terlebih lagi saya mendapat tambahan ilmu belum lama ini, bahwa waktu terbaik mengonsumsi buah adalah saat perut dalam keadaan kosong, agar kita bisa mendapatkan manfaat maksimal atas buah yang kita makan.



Saya jadi semakin sadar bahwa pengetahuan dan kesadaran tentang makanan sehat, signifikan sekali dampaknya pada perbaikan kondisi kesehatan. Dulu salah satu alasan saya enggan rutin membeli buah adalah karna merasa buah itu mahal. Tapi mainset itu ternyata salah. Salah besar. Mahal tidaknya tetap bisa kita sesuaikan dengan kantong. Kalau kita membeli buah lokal, apalagi yang sedang musim, tentu saja tidak akan mahal. Apalagi jika dibandingkan dengan kesehatan yang merupakan harta paling tak ternilai. Iya, kan?

So, yuk jangan ragu untuk rutin makan buah :)

Bagaimana Rasanya Bekam?

on
Rabu, 04 November 2015
Beberapa waktu lalu badan saya terasa amat tidak fit. Kepala pusing luar biasa -- seolah sekrupnya dipasang terlalu kencang =D *kepala kok ada sekrupnya, ya*. Saya memang tergolong lumayan gampang gak enak badan gitu sih selama ini, terutama kalo kecapekan =(

Tapi setahunan terakhir ini saya berusaha untuk sebisa mungkin menghindari obat-obatan. Contohnya kalo lagi flu. Dulu saya pasti langsung cepat-cepat minum obat titiktitikflu deh begitu hidung meler. Kalau sekarang? No! Saya akan lebih memilih minum vitamin C, perbanyak minum, makan buah dan istirahat. Yah, walaupun enggak simsalabim langsung sembuh, alhamdulillah flu-nya gak bertahan lama menyerang saya. Nahh, susahnya kalau masuk angin dan kecapekan. Terutama kalau sekrup di kepala kencengnya udah keterlaluan. Selama ini saya memilih dua cara: pijit dan kerokan. Tau kerokan, kan?

Sayangnya, di masuk angin saya yang kemarin itu, dua cara di atas sama sekali ga mempan. Kepala saya makin berat. Waktu di kantor saya hampir ga bisa mikir saking gak karuannya badan saya. Naahh, saat melihat saya loyo gitu, seorang teman menyarankan saya untuk bekam.

Seumur hidup saya belum pernah bekam. Sama sekali nggak punya bayangan kayak apa rasanya. Malah ada sedikit bayangan ngeri karna teringat tayangan di TV tentang bekam. Darah dikeluarin gitu, apa gak sakit ya? Apa gak perih ya? Dll. Tapi, entah karna saking gak tahannya saya sama rasa sakit yang saya rasakan saat itu, atau entah karna 'sekedar' pengen nyoba, saya seketika mengiyakan saran dari teman saya itu. Pasti udah banyak yang tau ya, bekam adalah pengobatan alternatif yang dianjurkan oleh Rasulullah. Jadi saya yakin sekali sama manfaat positif pengobatan itu. Bismillah.

Saya pun kemudian membuat janji dengan seorang ibu ahli bekam bernama Bu Tanti yang juga biasa membekam teman saya yang ngasih saran itu. FYI, Bu Tanti ini sudah terdaftar sebagai anggota ABI alias Asosiasi Bekam Indonesia, jadi Insya Allah terpercaya. Selain itu, beliau tidak keberatan untuk datang ke rumah pasien yang membutuhkan jasanya. Maka, di petang hari berikutnya Bu Tanti datang ke kost saya.

Sebelum bekam, saya sudah diberitahu sebelumnya untuk makan dan mandi terlebih dahulu. Buat jaga-jaga aja sih biar gak lemes atau kelaperan selama proses bekam. Setelah bekam juga tidak dianjurkan untuk mandi, makanya sebelum bekam disuruh mandi dulu. Dan mandinya gak boleh berselang bentar dari dimulainya proses bekam. Karna menurut Bu Tanti, bekam nggak akan efektif jika dilakukan pada tubuh yang sedang dalam kondisi dingin.

Bagaimana rasanya bekam? Sakitkah? Sama sekali enggak! Jangan dibandingin sama sakit saat disuntik. Jelas lebih sakit disuntik meskipun sama-sama pakai jarum. Yakiiiin, ga bohong.

Lalu bagaimana rasanya setelah dibekam?? Badan rasanya enteeeeeeng banget. Sekrup di kepala yang tadinya terasa terlalu kencang langsung pada ilang semua! Ahihihi, lebay ya? Tapi beneran loh. Alhamdulillah pusing yang sebelumnya saya rasakan hilang seketika. Malamnya pun tidur saya pulas dan nyenyak sekali. Paginya? Fresh!!!

Aahh, daripada cuma dengerin cerita dan deskripsi saya yang ga jelas, mending coba sendiri deh ya =D

Yuk mari, sehat dengan terapi ala Rasulullah :)

Tentang Dunia Kerja

on
Minggu, 01 November 2015
'Duh, bos gue tuh nyebelin banget. Sama karyawan gak care, gak pernah peduli sama kesejahteraan bla bla bla'

'Ih, tempat kerjaku tuh gak oke banget. Masa' iya bla bla bla...'

Pernah gak dengar keluhan-keluhan semacam itu dari teman kita? Keluhan yang ladang bernada menjelek-jelekkan tempat kerja kita. Atau jangan-jangan kita sendiri pelakunya? Hehehe. *tutupmuka*

Saya pernah dengar (atau baca, ya? Lupa) sebuah nasehat. Bahwa menjelek-jelekkan tempat yang menjadi perantara kita menjemput rizki itu ibarat kita meludahi sumur yang airnya kita pakai untuk minum sehari-hari. Jijik banget gak sih?? Hiii....

Sayangnya, sepertinya hal seperti itu sudah sangat 'umum' di masyarakat kita. Anehnya lagi, tiap hari mengeluhkan macam-macam tentang tempat kerjanya, tapi kok ya tetap tahan bertahun-tahun dan gak resign. Ehehehe. Mengeluh wajar sih ya. Manusia memang sifat dasarnya suka berkeluh-kesah, kan? Tapi kita selalu bisa berusaha meminimalisir sifat-sifat 'bawaan' yang kurang baik itu tersebut, Insya Allah.

Saya belum lama ada di dunia persilatan (baca: dunia kerja) ini. Tapi saya sudah belajar beberapa hal. Tentang rizki, tentang bermuamalah dengan teman kerja, dan tentang bijak menerima penilaian orang lain.

Pernah gak melihat teman kita dengan pandangan iri. Merasa pekerjaan dia lebih ringan, lebih santai... Sementara kita seolah harus jungkir balik menyelesaikan pekerjaan yang tak ada habisnya. Dulu saya juga gitu. Merasa pekerjaan saya adalah yang paling berat bla bla bla.

Tapi kemudian saya belajar. Segala sesuatu di dunia ini relatif. Rumput tetangga seringkali terlihat lebih hijau. Sawang-sinawang kalo kata orang jawa. Coba tukar posisi dengan orang yang kamu anggap lebih enak kerjanya itu. Dijamin kamu akan merasa posisimu sebelumnya tetap lebih enak setelahnya -- selama kamu gak berusaha merubah sudut pandang hatimu dalam melihat sesuatu. Kuncinya ada pada syukur memang. Saya sudah belajar tentang ini, sudah menemukan pointnya... Tapi memang tidak mudah kok aplikasinya :) Maka dari itu saya menulis. Bukan karna saya sudah pandai mempraktekkan. Saya menulis untuk menasehati diri saya sendiri.

Belajar bijak di tengah 'keras'nya dunia kerja tak ubahnya belajar tentang kehidupan itu sendiri. Pahit-manis, susah-senang, liku-terjal. Apapun itu, pointnya selalu ada di hati. Kuncinya ada pada seberapa lapang dada kita memandang semuanya.

Kata Bang Tere Liye dalam novel Pulang, 'Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan orang lain. Hidup ini adalah tentang mengalahkan diri sendiri'. Setuju sekali :)

Curcol: Tentang Komentar Orang

on
Selasa, 27 Oktober 2015
Yeayy, curcol lagi :D Hobi kok curcol ya *tepok jidat*

Kali ini saya pengen curhat tentang komentar orang -- khususnya komentar tentang ukuran badan *gagal menemukan diksi yang lebih enak* seseorang. Saya benar-benar baru tahu kalo komentar orang atas badan yang kurus itu juga sangat mampu memancing perasaan melankolis, bete, dll. Selama ini saya kira hanya orang-orang gemuk saja yang merasa terintimidasi atas banyaknya komentar. Wajar kali ya, karna selama ini yang lebih banyak terekspos adalah badan gemuk. Lihat iklan-iklan di TV... susu pelangsing banyaaakk. Susu penggemuk? Ada siihh, tapi ga sebanyak susu pelangsing kayaknya. Belum lagi tentang ukuran-ukuran baju nan lutcu yang umumnya lebih bersahabat dengan orang yang berbadan slim. Atas dasar itulah saya mengira bahwa hanya orang berbadan gemuk yang banyak 'diintimidasi'. Orang kurus sih adem ayem aja.

Eh, ternyata enggak loh.. saya salah! Beberapa tahun terakhir ini saya merasakan intimidasi yang nggak kalah bikin nyesek -- terutama setahun terakhir sih. Hampir setiap ketemu teman atau kenala yang udah lumayan lama nggak ketemu, pasti salah satu tema basa-basinya adalah: 'Kok tambah kecil sih?' atau 'Kok tambah kurus sih?' atau 'Kok badanmu makin habis sih?'


sumber
Padahal yaa, padahal... sejauh yang saya ingat, angka timbangan saya itu stabil dan SAMA dengan saat terakhir saya ketemu si orang-orang tersebut. Aneh, kan?! Yang lebih bikin nyesek, raut wajah mereka waktu menyampaikan komentar tentang badan kurus saya itu adalah raut wajah memelas dan penuh simpati. Seolah badan kurus saya merefleksikan hidup saya yang cukup menyedihkan. Huhu. Pengeeennn banget rasanya bilang ke mereka: 'Haiiii... aku baik-baik aja loh, happy-happy ajaa... badan juga segini-segini aja, ga berubah dari dulu!' -_____- Apalagi kalo basa-basi mereka ditambahi kalimat: 'Mbok ya makan yang banyak to'. Rasanya pengen ketawa sekaligus pengen nangis *lebay sih*. Ya soalnya saya bingung harus sebanyak apa lagi saya makan (",)

Yah, tapiii... inilah hidup. Kita nggak pernah bisa mengendalikan apapun yang ingin orang lain katakan. Yang kita bisa adalah mengendalikan apa yang kita sendiri katakan, dan bagaimana hati kita menyikapi. *kibas jilbab*

Jadi, harusnya saya sih cuek aja kalo ada yang komentar saya kurus, dll. Senyumin aja. Kalo perlu jawab aja: 'Iya nih aku tambah kurus.. mbok ya jangan komentar aja, yuk traktir aku makan biar aku gak kurus lagi!' Ahahahaha =P

Kata Pak Ustadz, orang lain itu ketika komentar seringkali asal nyeplos aja. Nggak pake tendensi apa-apa, nggak pake mikir apa-apa. Basa-basi yang kadang basi. Yang bikin ribet seringkali kita sendiri. Dengerin komentar-komentar tersebut pake hati -- dipikir dan dihayati. Jadi, orang yang komentar udah lupa dia ngomong apa, eeehhh kitanya masih termehek-mehek mikirin omongan dia. Omaigat =D *manggut-manggut*

Tentang Ujian

on
Kamis, 22 Oktober 2015
Tentang ujian. Bukan, ini bukan ujian sekolah. Melainkan ujian hidup. hehe

Kalau dengar kata ujian, pikiran kita lebih sering tertuju pada segala sesuatu yang menyedihkan, musibah, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Benarkah begitu? Rasanya tidak.


“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Beberapa minggu lalu, saya bertemu seorang sahabat yang sudah cukup lama nggak ketemu. Agenda rutin bertemu sahabat tentu saja curhat. Hehe.

"Ternyata kebahagiaan itu juga ujian, ya, te..." ucapnya membuaka sesi curhat kami. Dia biasa memanggil saya dengan sebutan tante (tanpa girang :D). Lalu rangkaian curhat mengalir.

Dia bercerita tentang seorang teman kostnya yang sedang mendapat sebuah kebahagiaan, yaitu baru saja bertunangan dengan kekasihnya. Si teman tersebut tak henti-hentinya meluapkan kebahagiannya, tak henti bercerita tentang sosok si tunangannya, dll. Sementara di sisi lain, si sahabat saya itu masih sendiri (belum memiliki calon) sedangkan keinginan menikah sudah cukup besar. Si sahabat saya yang tadinya turut bersukacita atas kebahagiaan si teman lama-kelamaan mulai merasakan perasaan-perasaan berenergi negatif. Sedih karna belum kunjung bertemu seseorang yang ditakdirkan Allah sebagai pasangannya, iri, dan jengah dengan euforia si teman yang tak kunjung usai.

Yup, idealnya tentu saja sahabat saya nggak perlu merasakan perasaan-perasaan negatif terus. Harusnya stay positive. Tapi itu idealnya :)

Dari situ kami diskusi. Bahwa ternyata ujian itu nggak hanya saat kita ditimpa hal-hal yang kurang menyenangkan, tapi juga saat kita sedang dikucuri hal-hal membahagiakan. Saat sedang ditimpa hal kurang menyenangkan kita diuji apakah kita bisa sabar menghadapinya. Sedangkan saat ditimpa hal yang membahagiakan kita diuji apakah kita bisa sabar untuk tidak mengekspresikannya secara berlebihan. Apa itu berarti kita nggak boleh cerita atau berbagi saat sedang bahagia? Tentu saja boleh. Pointnya ada di "jangan berlebihan" dear :) Kita harus ingat bahwa di sekitar kita ada hati-hati yang mungkin harus dijaga karna belum mendapat apa yang kita dapat. Bukan, tentu saja bukan karna teman kita itu adalah teman-teman yang punya sifat iri dan dengki. Tapi karna kita harus menjaga agar tawakal dan prasangka baiknya pada Allah yang mungkin ia bangun dengan susah payah menjadi luluh-lantak begitu gara-gara kita yang tak pandai memanajemen perasaan bahagia.

sumber: google


Kita nggak pernah punya kuasa mengatur perasaan orang lain. Tapi kita Insya Allah bisa berusaha untuk turut menjaga perasaannya :)

Tentang Rizki

on
Rabu, 21 Oktober 2015
"Tentang rizki yang sudah diatur dan tidak akan tertukar, kita semua mungkin akan menjawab 'percaya' jika ditanya. Tapi apakah kepercayaan itu benar-benar merasuk dalam hati dan pikiran kita, itu soal lain. Nyatanya, masih saja ada orang yang 'resah' jika melihat temannya mendapat sebentuk rizki yang tidak ia dapatkan, meski ia ada di sebuah lingkungan di mana pemahaman-pemahaman 'langit' senantiasa ditanamkan. Wallahu a'lam bishawwab."

Wardhani: Wanita Yang Menemukan Cahaya (2)

on
Selasa, 13 Oktober 2015
sumber
Baca cerita sebelumnya di sini, yaa :)

"Justru mungkin karna saya gak tahu banyak tentang Islam itu, pola pikir saya jadi lebih sederhana. Ketika saya tahu bahwa ternyata berjilbab itu wajib dan ada dalam Al-Qur'an, maka saya memutuskan untuk memenuhinya. Titik. Padahal saya belum sholat, belum bisa ngaji, dan lain-lain"

Saya semakin melongo. Sungguh semua itu karna hidayah, tentu saja. Rasa penasaran saya semakin menggelitik. Dengan hati-hati saya bertanya, "Lalu apa respon kakek-nenek Mbak Dhani??"

"Nah itu... alhamdulillah sekali Kakek dan Nenek sama sekali gak keberatan. Iya sih mereka sempat kaget, tapi kalau memang aku mantap ya mereka mendukung..."

Masya Allah. Saya masih terus terpana mendengar cerita mbak Dhani. Sesekali mata Mbak Dhani berkaca-kaca. Terutama ketika ceritanya sampai pada moment di mana sang kakek membawakannya tiga potong jilbab berwarna putih sepulangnya dari bersepeda pagi, dan ketika Mbak Dhani bercerita betapa perih hatinya ketika seorang diri mengurusi kematian neneknya -- lantaran orangtuanya tengah berada di luar kota -- yang harus dikremasi. Yah, bagimu agamamu, bagiku agamaku -- mungkin kalimat itu yang menguatkan Mbak Dhani. Ketika kakek dan neneknya mampu berlapangdada membiarkan Mbak Dhani berjilbab demi agama yang ia pilih, maka Mbak Dhani pun harus ikhlas membiarkan jasad neneknya dikremasi sesuai keyakinannya meskipun Mbak Dhani sangat ingin jasad neneknya dimakamkan. Pada bagian ini, saya teringat pada Baginda Rasulullah dan paman tersayangnya Abu Thalib. Betapa begitu besarnya kasih sayang Abu Thalib pada keponakannya, dan kasih sayang Rasulullah padanya tak juga mampu meluluhkan hatinya untuk memeluk Islam, jika hidayah memang belum menyapa.

Kembali pada Mbak Dhani. Lalu apa yang ia lakukan setelah berjilbab? Apakah ia mencukupkan diri begitu saja? Tentu tidak. Mbak Dhani lalu mencari guru mengaji. Pada sang guru ia meminta untuk kembali dituntun bersyahadat demi kembali meneguhkan dirinya sebagai seorang muslim. Mbak Dhani juga belajar mengaji, dan dalam setahun pertama masa belajarnya, Mbak Dhani berhasil dua kali mengkhatamkan Al-Qur'an. Allahu Akbar!

Nah, kisah Mbak Wardhani ini adalah cerminan nyata bahwa memutuskan berjilbab tidak harus menunggu jadi sempurna. Alibi-alibi semacam 'aku belum bisa ngaji masa' pake jilbab?!' dan lain-lain jadi terpatahkan, kan? Justru dengan memutuskan berjilbab, maka kita Insya Allah akan terus terpacu untuk memperbaiki diri. Tapi ya kembalinya ke soal hidayah, sih.

Semoga saja kita bukan golongan orang yang menutup diri dan mengabaikan hidayah padahal ia sudah menyapa tepat di depan mata. Aamiin :)

Bertemu Tere Liye

on
Kamis, 08 Oktober 2015

Tanggal 4 Oktober kemarin, sepulang dari acara study pranikah, saya mampir ke Gramedia Pandanaran Semarang. Bukan, bukan buat borong buku, tapi cuma karna pengen datang di acara launching novel plus booksigning terbarunya Bang Darwis Tere Liye yang berjudul Pulang. Yeayy, seneng! Itu untuk pertama kalinya saya datang ke acara launching buku. Hahaha, kemana aja ya saya selama ini -___-. bahkan saking semangatnya datang ke acara tersebut, yang mana infonya saya dapat cuma dari obrolan teman-teman di grup whatsapp Goodreads Semarang (dan itupun cuma saya simak sekilas), saya sempet salah jadwal. Jadi hari sabtu, tanggal 3-nya, saya udah dengan pede nongkrong di Gramedia yang terlihat sepi-sepi aja. Hihi.

Alhamdulillah penantian saya terbayar manis *halah*. Sekian lama mengidolakan tulisan-tulisan Bang Tere Liye, seneng akhirnya bisa lihat orangnya langsung, ngomong cas-cis-cus gak jauh dari saya berdiri (Yep, saya dapet tempat di sebelah kanan panggung persis). Sosok Bang Tere nggak jauh sih sama yang ada di bayangan saya, hampir persis malah. Saya sudah merasa mengenal beliau jauh sebelum hari itu -- melalui karya-karyanya. Ya, Bang Tere seperti wujud nyata dari Dalimunte, Thomas, Danar, dll. Sayangnya, saya gak berhasil dapet tanda tangan beliaunya di novel Pulang. Lha saya beli novelnya hari sabtu, sedangkan hari minggunya gak saya bawa cobaaakkk!! -_______-

Saya jatuh cinta sejak pertama kali membaca novel Tere Liye yang berjudul Hafalan Sholat Delisa. Saya dibuat menangis perih oleh novel itu. Lalu satu-persatu novel Tere Liye saya baca. Belum semua, tapi sebagian besar. Satu hal yang membuat saya amat mengagumi karya-karya Tere Liye, yaitu: Konsistensinya untuk terus mengusung tema yang memuat pesan-pesan kebaikan di setiap karyanya.

Semoga Indonesia akan melahirkan banyak penulis yang punya visi-misi kebaikan seperti bang Tere (dengan cara dan gaya tulisannya masing-masing tentunya). Bukan hanya penulis-penulis yang mementingkan selera pasar, tanpa peduli apakah tulisannya membawa dampak baik atau sebaliknya.

Study Pranikah :)

on
Selasa, 06 Oktober 2015

Hari minggu tanggal 4 oktober 2015 kemarin, saya bersama beberapa teman saya mengikuti sebuah acara yang cetar membahana *halah* =D acara apakah itu?

Oke, stop menghubung-hubungkan antara bahas soal nikah dengan galau. Apa salahnya? Nikah itu ibadah yang mulia, kan? Gak pernah ada yang salah jika yang belum menikah mendamba-dambakan sebuah pernikahan. Apalagi jika ditindaklanjuti dengan mencari ilmu tentang pernikahan yang didambakannya itu. *alibinya keren banget gak sih =P*

Study pranikah ini diselenggarakan oleh Wisata Hati Semarang, bertempat di Wisata Hati Building yang terletak di Jalan Simongan Nomor 69 Semarang. Emm, kami sempat nyasar-nyasar dulu waktu berangkat. Biasaaa, penunjuk jalannya gak oke *tunjuk hidung sendiri* =(

Menurut panitia, acara ini diselenggarakan karena melihat tingginya kasus tentang rumah tangga yang dikeluhkan oleh jamaah Wisata hati Semarang di forum Konsultasi. Nah, kemungkinan salah satu penyebabnya adalah banyaknya orang yang menikah tanpa terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu. Berawal dari situlah ide acara ini tercetus.

Study pranikah ini dimulai Pukul 09.00 sampai Pukul 03.00. Kurang sih menurut saya. Banyak materi yang kelewatan. Tapi yasudah, semoga akan Allah kasih kesempatan lagi di lain waktu untuk belajar. Pematerinya ada dua. Yang pertama Ustadzah Diyah Zubair (Huhu, seneeeng ketemu Ustadzah Diyah lagi. Dulu waktu kuliah pernah ikut kajian Minggu pagi di rumah beliau. Cara nyampein materinya selalu ngena sampe hati) yang menyampaikan tema tentang “Apa itu Nikah?”dan Ustadz Syafi’i yang menyampaikan materi tentang “Fiqih Berkeluarga”.

Pada materi pertama, Ustadzah Diyah lebih banyak menyampaikan materi lewat cerita. Cerita-cerita nyata yang menggiring kami pada sebuah pemahaman tentang apa itu nikah. Dan saya mewek di dua cerita pertama =’( tentang pasangan suami-istri yang melakukan pemeriksaan karena sudah cukup lama belum dikaruniai keturunan. Saat akhirnya sang suami diberitahu dokter bahwa istrinyalah yang positif mandul, sang suami memaksa dokter untuk mengatakan sebaliknya pada sang istri. Karena apa? Karena sang suami tahu bahwa saat ia mengambil istrinya sebagai pasangan, ia bertanggungjawab penuh pada sang istri, tidak terkecuali sedih dan bahagianya. Masya Allah =’) tapi Ustadzah Diyah bilang laki-laki model begini gak tahu apa masih terbit lagi apa gak =D

Lewat cerita-cerita yang disampaikan Bu Diyah saya mengambil kesimpulan. Nikah adalah sebuah perjalanan di mana kita akan bertemu banyaaakkk sekali hal yang menuntut kita untuk memanajemen hati sebaik-baiknya. Terutama tentang lapang dada. Dan untuk setiap kelapangan dada kita, yakinlah bahwa Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang luaaaasss sekali. Duh, jujur saya malu dan jadi pengen ngaca lagi. Pantas saja sampai hari ini Allah belum ijinkan saya berumahtangga, karna pada kenyataannya saya masih belum mampu berlapangdada atas banyak hal.

Materi yang kedua agak berat sih. Tentang Fiqh, dan yang ditampilkan dalam slide presentasinya tuh hadist dan ayat yang menjadi landasan dalam teks aslinya (tulisan arab gundul gituh, ampun dije lah! =D). Yang jelas Ustadz Syafi’i menyampaikan (dan menekankan) tentang pembedaan hak dan kewajiban antara suami dan istri tentang masalah harta. Pemberian materi dari suami ke istri itu wajib hukumnya, yaitu dinamakan nafkah. Suami juga wajib memberikan hal-hal yang sepadan untuk istri, misalnya makanan, tunggangan, fasilitas, dll. Jadi jangan mau ya Girl’s kalo nanti suami kamu makan steak terus kamu Cuma makan tempe. Apalagi kalo suami naik mobil, istri naik angkot. Gak bener itu =P. Nah, kalo istri punya uang sedangkan suami sedang gak punya, maka gakpapa istri membantu suami, dan itu dihitung sebagai sedekah. Panjang sih ya soal ini. Ohya, Ustadz Syafi’i juga menjelaskan tentang urutan saat akad, lalu saat pasangan pengantin berada di kamar berdua untuk pertama kalinya, dan tentang apa itu khiyar. Saya gak bisa jelasin tapinya, postingan sudah terlalu panjang. Hehehe. Maapkeun ya, teman =))

Yuk, isi masa-masa penantian kita (kita?) dengan banyak-banyak belajar dan membekali diri dengan ilmu sebelum benar-benar terjun ke kawah candradimuka bernama pernikahan =))

Ohiya, salah satu teman saya yang juga ikut acara tersebut Insya Allah akan melepas masa lajang awal tahun depan. Happy for you, Dear... meskipun saya ‘patah hati’ kamu tinggal, saya tetap bahagia buat kamu *Kiss* *Kiss*

Wardhani: Wanita Yang Menemukan Cahaya

on
Kamis, 01 Oktober 2015
sumber
Namanya Mbak Wardhani. Bukan nama samaran. Saya sudah minta ijin kok mau menulis tentang beliau di sini :) Wajahnya cantik sekali. Matanya indah menyiratkan keramahan, senyumnya amat meneduhkan. Beliau seorang mahasiswi Pascasarjana Kenotariatan di sebuah Universitas Negeri di Semarang, berasal dari Purwokerto.

Baru tiga kali kami bertemu di forum kajian buka puasa sunnah Senin-kamis di Wisata Hati Semarang. Meski begitu, saya sudah merasa dekat dengan beliau. Saya jatuh cinta pada parasnya yang ayu sejak pertama kali bertemu. Meski saat itu belum muncul rasa simpatik yang amat besar seperti saat ini. Penampilannya amat modis. Jauh lah pokoknya dari kesan 'tipe-tipe kebanyakan' cewek yang 'hobi kajian'. Ehehehe. Ternyata? Wuihh, saya melongo. Setelah basa-basi perkenalan, dia cerita (dan bermaksud mengajak saya pula) bahwa hampir setiap hari sepulang kerja (beliau kuliah hanya weekend, sisanya kerja) beliau datang ke kajian, di tempat-tempat berbeda. "Daripada diem di kost, Mbak.. waktunya terbuang sia-sia," katanya. Mulai saat itu lah simpati saya tumbuh. Kagum.

Pada pertemuan ketiga, saya semakin dibuat terkagum-kagum. Entah dari mana obrolan kami berawal. Yang jelas, saat itu saya tiba-tiba bercerita bahwa saya kadang masih sering 'kaget' melihat 'perbedaan', karna sejak kecil terbiasa hidup di lingkungan yang homogen.

"Kalau saya justru kebalikannya, Mbak... saya sudah terbiasa hidup di lingkungan heterogen, bahkan di dalam keluarga juga heterogen sekali" Kata Mbak Wardhani.

"Oh ya, Mbak?" Sahut saya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Ya, saya segera menangkap sinyal akan segera mendapat cerita menarik dari gadis berparas bidadari itu. Dan benar saja, cerita mengagumkan mengalir tanpa sungkan dari mulutnya.

Mbak Wardhani berasal dari keluarga yang menganut beberapa agama berbeda. Ayahnya seorang muallaf sejak masih muda (Waktu kuliah kalo saya gak salah ingat). Tapi ya begitulah. Saat itu ayahnya baru 'sekedar' berstatus Islam, belum menjalankan konsekuensi jika sudah berislam. Kerabat banyak juga yang muallaf. Tapi banyak juga sepupu yang pindah agama (keluar dari Islam) karna menikah dengan pria non-muslim. Kakek-Nenek Mbak Wardhani beragama Budha. Dan bersama merekalah Mbak Wardhani tinggal, sejak remaja hingga kuliah. Jadi masa remaja Mbak Wardhani amat 'berwarna'. Islam, tapi kadang juga ke vihara.

Sampai akhirnya dekapan hidayah menyapa Mbak Wardhani saat ia duduk di bangku SMA. Saat sedang rapat OSIS (FYI, saat itu Mbak Dhani ketua OSIS), seorang anak rohis menegur Mbak Dhani.

"Dhan, agama kamu apa sih?" Tanya si anak Rohis.

"Islam lah!" Jawab Mbak Dhani.

"Islam kok gitu? Nggak pake jilbab, nggak pernah sholat juga!"

JLEB! Mbak Dhani terdiam. Ego darah mudanya terusik. Tapi dia nggak marah, dia memilih berpikir.

"Emang harus ya orang Islam pake jilbab?" Lanjut Mbak Dhani.

"Harus dong, wajib! Ada di Al-Qur'an"

Mbak Dhani kemudian mencari tahu dari berbagai sumber tentang wajibnya jilbab bagi muslimah. Dan nggak lebih dari dua minggu sejak ditegur si anak rohis itu, Mbak Dhani mantap mengenakan jilbab -- sampai hari ini. Duh, Allahu Akbar... betapa saya berkaca-kaca saat mendengar cerita ini langsung.

"Kok bisa sih, Mbak? Yang mengenal Islam dengan baik sejak kecil saja nggak segampang itu lho memutuskan berjilbab. Banyak banget pertimbangan, banyak banget yang dipikirkan. Kok Mbak Dhani seberani itu?" Tanya saya keheranan.

((Bersambung)) -->> #TersinetronIndonesia. Ahahaha =D

Musim Nikah Telah Tiba!

on
Kamis, 17 September 2015

Musim kawin, eh.. nikah telah tibaaa... yeaayyy!!! Yah, meskipun saya masih belom beruntung sih di musim nikah tahun ini. Haha. Gakpapa, kata Nenek semua indah pada waktunya. *neneknya siapa coba?! =D*

Sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama orang Jawa, pasti tahu ya kalau ada bulan-bulan tertentu yang jadi bulan favorit untuk menyelenggarakan acara istimewa -- terutama pernikahan. Salah satunya bulan Dzulhijjah (Kalau orang-orang daerah saya sering menyebutnya Bulan Besar) ini. Saya gak mau bahas soal benar-salahnya mainset itu sih. Beraaattt, gak punya ilmunya pula. Hehe.

Saya mau bahas soal dua kubu yang punya 'perasaan' berseberangan dalam menyambut musim nikah. Hihi. Hidup memang selalu seperti ini, ya. Ada hitam ada putih. Ada Senang ada sedih. Termasuk soal musim nikah ini. Ada orang-orang yang menyambutnya dengan amat sukacita. Tapi ada juga yang menyambut dengan bermuram durja. Siapakah mereka?

Kalau yang menyambut dengan sukacita, tentu saja yang utama adalah mereka yang akan menikah di musim kali ini. Setelah penantian dan pencarian sekian lama, akhirnya semuanya akan berlabuh di dermaga cinta sebentar lagi #cieh. Gimana, ya, rasanya? Betapa bahagianya... Duh, kok saya jadi pengen :P Tapi sukacitanya mereka konon tetep campur stress. Stress menyiapkan segala sesuatunya. Dari mental, sampai berbagai detail yang berkaitan dengan acara, seperti sebarin undangan, menyiapkan kebaya untuk akad nikah dan resepsi, memastikan hidangan saat acara, dan lain lain.

Nah nah, yang gak kalah seneng setiap musim nikah tiba adalah kakak perempuan saya. Kok bisa? Ya bisa! Secaraaa, beliaunya adalah seorang perias pengantin. Beberapa minggu terakhir ini adaaa aja yang datang ke rumah untuk fitting kebaya pengantin. Yup, jadi bagi kakak perempuan saya ini, musim nikah = musim panen rizki bagi dia. Saya pasti kecipratan sih, minimal semangkuk bakso lah. Hehe.

Lalu siapakah orang yang menyambut musim nikah ini dengan bermuramdurja? Tentu saja kami para Jomblowan-Jomblowati =D Bagi mereka, musim nikah adalah saat dimana mereka harus pandai-pandai meredam perasaan galau. Galau karna sudah ingin menikmati musim nikah dengan sukacita pula sementara calon belum ada. Galau tersebut akan semakin menjadi-jadi manakala mereka harus selalu dihantui pertanyaan 'KAPAN' saat menghadiri undangan dari teman yang menikah. Tapi selain itu, yang gak kalah bikin galau adalah: budget untuk amplop yang membengkak drastis. Haha. Iya gak, iya gak? Kalo soal ini kayaknya bukan cuma para jomblo sih yang merasakan, para ibu rumah tangga juga =P

Alhamdulillahnya, musim nikah kali ini saya (baru) dapet undangan cuma satu. Jadi dompet masih lumayan aman sentosa. Haha. Saya harus seneng apa sedih, ya? Dapet undangan cuma satu karna gak punya banyak teman, atau punya banyak teman tapi udah pada nikah? Entahlah =D *pukpuk diri sendiri*

Kalau kamu, dapet berapa undangan bulan ini? =P

Bagaimana Rasanya Hidup Tanpa Gadget?

on
Selasa, 15 September 2015
Bagaimana rasanya hidup tanpa gadget? Kalau pertanyaan tersebut dilempar pada kita beberapa tahun yang lalu mungkin jawabannya akan sangat mudah, ya. Gak masalah! Tapi bagaimana dengan hari ini? Hari di mana hampir sebagian hidup kita, kita gantungkan pada gadget. Apalagi buat orang-orang yang punya 'kehidupan' di dunia maya. Emm, maksudnya... bersentuhan dengan dunia maya bukan sekedar buat update status di facebook doang gitu. Mudeng, kan? =D

Hari ini, rasanya sudah bukan hal langka kalau ada orang-orang yang bangun tidur pertama yang di cek gadget, bahkan sampai beranjak tidur pun gadget gak lepas. Siapa hayooo??? *ngacungin tangan tinggi-tinggi* =D

Lalu gimana jika tiba-tiba kita harus hidup tanpa gadget? Duh duh duh... resah dan gelisah lah yaaa pastinya. Yup, dan saat ini saya sedang mengalaminya. Tentu saja karna bukan karna sengaja. Saya dipaksa keadaan, cyiinn T.T =D Barang kesayangan saya itu rusak beberapa hari lalu. Dan membuat keinginan saya yang belum juga mampu saya wujudkan akhirnya terwujud juga: puasa gadget =D Emang sih ya, omongan tuh doa :P

Ini sudah jalan hampir 3 hari. Alhamdulillah saya masih kuat =D Tapi ya ituuu, gak mau muna kadang resah. Apalagi kalau lagi mau janjian sama teman, duh bingung banget. Gak cuma saya, tapi juga teman saya. Tapi lumayan menyenangkan juga lho bisa tahu bahwa masih ada orang-orang yang juga resah mencari kita saat kita 'menghilang' sejenak =D

Meskipun sedih gadget saya yang murah meriah dan sudah menemani saya dua tahun itu rusak. Tapi selalu ada hikmah di balik setiap musibah, kan? :) Ternyata adakalanya kita harus mengambil jeda. Dari segala sesuatu. Ada saatnya kita membuat jarak dari sesuatu yang selama ini hampir gak bisa kita lepaskan. Termasuk gadget. Benda kecil itu terlalu ajaib untuk bisa membuat hidup kita menjadi amat berwarna. Gak cuma warna-warna indah nan cerah, tapi juga warna kelam. Iya, kan? Kita mendadak jadi bisa tahu hampir segala sesuatu -- tentang berbagai pencapaian orang-orang di luar sana, tentang kesedihan mereka, kebencian, kebahagiaan, dll. Dan itu -- diakui atau tidak -- terkadang membuat hidup kita bak kompetisi yang seperti gak ada habisnya. Iya gak, sih?

Dua hari tanpa gadget hidup saya damai. Saya hanya menjalani dan menikmati apa yang ada di hidup saya sendiri. Saya gak harus turut 'terkontaminasi' berbagai perasaan orang di luar sana -- yang kadang amat melelahkan :) Allah tahu saya harus mengambil jeda. Tapi akan bertahan berapa lama? Yah, namanya jeda ya gak perlu lama-lama lah. Ahahaha.

Jadi gimana, apakah kamu tertarik untuk mengambil jeda dengan gadgetmu? :P

Cara Mendapat Teman Baru di Lingkungan Baru

on
Jumat, 11 September 2015
Pernah dengar peribahasan yang mengatakan "1000 teman terlalu sedikit, 1 musuh terlalu banyak"? Pasti pernah dong, ya :)

Siapa yang gak setuju? Pasti hampir semua orang setuju. Kalau ada yang gak setuju sama peribahasan itu, betapa anehnya orang itu. Hehehe

Siapa sih  orang yang gak ingin punya banyak teman? Pasti semua ingin punya banyak teman, ya. Punya banyak teman itu menyenangkan. Hidup rasanya lebih berwarna, karna dengan berteman banyak orang kita secara otomatis melihat warna dari hidup lebih banyak orang.

Tapi apa semua orang yang ingin punya banyak teman otomatis akan secara mudah gampang mendapatkan teman? Ternyata enggak loh :) Saya contohnya. Beberapa tahun lalu saya selalu iri sama salah satu sahabat saya yang sepertinya mudah sekali akrab dengan banyak orang. Setiap sedang bersama dia saya merasa jadi butiran debu *halah*. Karna dia bisa dengan mudah ngobrol santai dan akrab dengan orang-orang yang kami temui, sementara saya hanya diam jadi pendengar setia. Bete banget kalau ada di situasi seperti itu -_-

Lalu saya belajar dan mengamati. Saya gak mau terus-terusan jadi orang yang lingkungan pertemanannya hanya terbatas itu-itu saja. Kemudia saya berhasil menemukan salah satu kunci tentang cara mendapatkan teman baru -- terutama di lingkungan baru. Apa itu?

Jangan sungkan menyapa lebih dahulu!

Simple ya caranya?! Tapi ternyata juga gak mudah loh kalau gak dibiasakan. Beberapa tahun lalu saya dilabeli oleh teman-teman dekat saya sebagai orang yang paling malas menyapa lebih dulu. Haha. Saya selalu dihantui pikiran, 'gimana kalo nanti saya dicuekin? gimana kalo orangnya jutek? gimana kalo bla bla bla bla bla bla' yang akhirnya bikin saya selalu mengurungkan niat untuk menyapa.

Alhamdulillah perlahan saya sudah mulai bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu. Saya mulai punya keberanian untuk menyapa lebih dulu. Seperti saat saya mulai ikut acara kajian buka puasa di Wisata Hati. Saya selalu berusaha menyapa orang yang duduk di kanan-kiri saya, yang alhamdulillah sekarang jadi teman :)

Tapi juga ada yang harus kita perhatikan saat memutuskan untuk menyapa dahulu, yaitu: Hindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat gak nyaman apalagi kepo!

Gimana cara mengetahui apakah pertanyaan itu akan membuat orang yang kita tanya nyaman atau sebaliknya? Kalau saya, cara paling simplenya sih dengan menggunakan diri sendiri sebagai tolok ukur.

"Kalau saya ditanya gini sama orang yang baru kenal kira-kira saya akan merasa gimana, ya?" 

Pertanyaan-pertanyaan yang bikin gak nyaman bin kepo itu yang seperti apa sih? Contoh nih contoh:

X: Mbaknya kerja di mana?
Y: di Perusahaan ABC, mbak
X: Oh, di situ. Gajinya berapa, Mbak?
Y: *langsung pengen copot sendal*

Hahahaha!! 

Atau contoh lain, baru kenal beberapa menit tiba-tiba tanya umur dan komentar, "kok belum nikah kenapa, Mbak?" *sueerrrr bukan tjurhat, hihihi*

Yah, kalau baru kenal sih tanyanya yang umum-umum dulu aja. Misalnya, "Dateng ke kajian sama siapa, Mbak? Sudah sering datang ya, Mbak?" dll. Dari pertanyaan-pertanyaan yang ringan itu, kita bisa tahu apakah dia welcome sama kita atau gak. Kalau dia welcome pasti obrolan akan mengalir dengan asyik. Tapi tetep, yaaa.... jangan kepo sama hal-hal sensitif dulu!

Terus satu lagi yang gak kalah penting, untuk bisa diterima dengan senang hati oleh orang lain menurut saya sebaiknya kita memposisikan diri sebagai pendengar dulu -- atau dengan kata lain kita banyak melempar pertanyaan tentang dirinya. Tunjukkan bahwa kita 'tertarik' untuk berteman dengan dia. Bukan malah kita langsung asyik menceritakan diri kita. Yeee, males kali! Haha. Orang kan pada umumnya senang didengarkan, ya :)

Nahh, yang terakhir: Jangan lupa minta kontaknya!

Supaya jalinan pertemanan baru itu gak berakhir sampai acara itu berakhir juga, pastikan kamu udah punya kontaknya sebelum kalian berpisah. Kontak BBM, nomor HP, akun FB, de el el de el el. Sepulangnya dari situ, tinggal follow up, deh. Sapa dia sekali-sekali. Biar pertemanan bisa berlanjut terus :) Pada bagian ini saya juga masih belajar banget nih.

Sekian dulu yaa saran dari saya yang juga masih belajar ini. Semoga bermanfaat :)

#SelfReminder: Ukuran "Sepatu" Kita Beda

on
Rabu, 09 September 2015
"Menyenangkan orang, itu baik. Namun bila kamu menaruh kata ‘semua’ di antara dua kata itu, kamu harus hati-hati, besar kemungkinan akan terjadi dua hal padamu:
Satu, kamu sulit menjadi diri sendiri.
Dua, kamu sulit bahagia."
(Tia Setiawati)

Iya juga sih, ya. Ukuran sepatu masing-masing orang berbeda. Sepatu yang si A pakai, belum tentu nyaman untuk dipakai si B. Bahkan seringkali meski nomornya sama pun tetap terasa tidak pas saat memakai sepatu yang bukan punya kita sendiri. Kalau kita memaksa memakai sepatu orang lain, nggak akan ada manfaat selain ketidaknyamanan.

Begitu juga dengan banyak hal dalam hidup ini. Cara seseorang menghadapi sesuatu akan sangat mungkin berbeda dengan cara kita saat menghadapi hal yang sama. Kita nggak bisa memaksanya untuk memaksa dia memakai cara yang sama dengan yang kita pakai. Nggak akan! Kalau kita nekat memaksanya, nggak akan ada kebaikan selain sakit hati atau perseteruan -- nggak peduli sebaik apapun niatmu. Kalau kamu punya cara yang menurutmu baik untuk menuju ke suatu hal baik, bukan berarti cara orang lain salah hanya tujuannya nggak baik hanya karna dia nggak pakai cara yang sama dengan kamu.

Sayangnya, seringkali kita merasa berhak menjadi 'hakim' untuk oranglain, tapi berubah menjadi 'pengacara' paling hebat untuk diri sendiri. Merasa cara kita baik, lalu menutup mata sambil menuding cara orang lain salah. Saya rasa ini salah satu ujung pangkal dari banyak perseteruan di dunia. Tentang perseteruan ibu-ibu pro sufor dan pro ASI, tentang perseteruan antara working Mom dan Stay At Home Mom dan tentang hal-hal yang lebih kecil yang sering kita jumpai dalam keseharian.

Kepingan Nasehat

on
Selasa, 08 September 2015
"Kalau ingin punya anak-anak yang baik, yang sholih-sholihah, yang bisa jadi investasi akhirat, apa mungkin seorang ibu bisa meraihnya dengan berleha-leha? Tidak mungkin! Imam Syafi'i itu dilahirkan oleh bapak dan ibu yang sudah berjuang untuk menjadi orang baik jauh sebelum mereka menikah. Wanita itu akan jadi seorang ibu, dan seorang ibu merupakan madrasah pertama. Maka seorang wanita harus berjuang untuk menjadi baik. Apa mudah? Tidak! Yang namanya berjuang pasti berat. Tapi tetap harus diperjuangkan. Karna untuk jadi orang baik itu ibarat naik gunung. Berat, penuh rintangan, harus kuat fisik dan mental. Tapi jadi orang buruk ibarat menceburkan diri ke arus.. gampang!"

**Potongan nasehat minggu petang

Berkumpul Dengan Orang Sholih

on
Jumat, 04 September 2015
pinterest

Dulu, salah satu tujuan saya pindah kerja ke Semarang adalah agar saya memiliki jangkauan yang lebih luas untuk menemukan hal-hal yang membuat semakin baik sebagai manusia. Menemukan komunitas-komunitas orang dengan energi positif, punya kesempatan untuk mengikuti berbagai forum keilmuan, dll.

Beberapa bulan di sini, saya sempat agak kecewa. Saya merasa apa yang menjadi tujuan saya di atas ternyata tidak semudah yang saya bayangkan untuk bisa tercapai. Saya tak kunjung menemukan apa yang saya cari. Niat untuk kembali mengikuti mentoring mingguan seperti saat masih berstatus mahasiswa juga ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Kendalanya yang kendala paling 'klise' bagi kebanyakan orang: waktu. Mentoring mingguan ada di jam-jam kerja, karna mentoring tersebut memang sebenarnya untuk mahasiswa, jadi waktunya menyesuaikan dengan jam kuliah mereka.

Sambil meredam kecewa, saya terus berusaha mencari info. Dan, Alhamdulillah... setelah penantian yang begitu panjang #tsaahh saya dipertemukan dengan Wisata Hati. Setelah beberapa minggu lalu berkesempatan mengukti acara Riyadhoh yang juga digawangi oleh Wisata hati, Alhamdulillah Allah ringankan hati dan kaki saya untuk mengikuti program-program dakwah mereka. Salah satu yang sudah 3 kali (semoga istiqomah berlanjut) adalah kajian buka puasa. Kajian ini diselenggarakan setiap hari senin dan kamis. Kajian dimulai sekitar pukul 17.00, lalu jeda saat adzan magrib berkumandang untuk membatalkan puasa. Kami disuguhi takjil berupa minuman (kadang teh hangat, kadang es buah) dan macam-macam kudapan. Setelah menikmati takjil, kami sholat magrib berjamaah, lalu dilanjutkan dzikir dan doa. Nah, yang menarik, para jamaah diperkenankan minta didoakan secara khusus di moment ini. Caranya dengan mengisi form sebelum acara dimulai. Banyak yang meminta untuk didoakan agar dimudahkan kuliahnya, diluaskan rizkinya, diampuni dosa kedua orangtuanya, didekatkan jodohnya, dll. Masya Allah... moment ini bikin mrinding buat saya. Kami para jamaah yang hadir belum semua saling kenal. Tapi Insya Allah kami tulus saling meng-aamiin-kan doa masing-masing. Semoga dengan begitu doa kami lebih dahsyat mengguncang langit. Aamiin. Apa setelah itu acara selesai? Belum :) Setelah doa bersama, kajian dilanjutkan hingga adzan Isya' berkumandang. Dilanjutkan lagi dengan sholat Isya' berjamaah, lalu setelah itu dibagikan nasi box untuk makan bersama (meski ada beberapa yang dibawa pulang). Ah ya, acara ini GRATIS lho, hehe. Tapi ya semoga tidak membuat niat jadi salah arah ya :P

Alhamdulillah saya merasa menemukan apa yang selama ini saya cari. Benar ya, salah satu obat hati adalah berkumpul dengan orang-orang sholih. Kemarin sore hati saya terenyuh sekali. Yang datang ke kajian tersebut cenderung warna-warni. Ada seorang mahasiswa S-2 yang datang ke kajian untuk mengisi waktu luang. Yang bikin kagum, beliaunya ini hampir tiap hari datang ke kajian (di tempat yang berbeda-beda). Alasannya, ya itu tadi... dia gak pengen ada waktu luang yang sia-sia (FYI, mbaknya modis banget nget nget, dan cuantikkkk. Jadi jangan mengira yang 'hobi' datang ke kajian hanya yang jilbabnya luebarrrr aja ya :P). Banyak pula diantara para jamaah yang datang karna tengah ada masalah. Satu yang sama: mereka tengah mengayunkan kaki untuk bersama-sama 'mencari' Allah. Ohya, yang warna-warni gak cuma 'motif' para jamaah untuk datang ke kajian lho. Dari segi penampilan juga cenderung warna-warni. Ada yang berjilbab luebaarrr, ada pula yang super modis. hehe

Konon, harimau akan menerkam kijang yang sendirian. Berjamaah dengan orang sholih selalu lebih baik, Insya Allah. Karna dengan memiliki banyak teman yang 'satu frekuensi', semoga kita memiliki teman yang akan segera mengingatkan jika kita mulai melenceng.

Jadi, sudahkah kalian berkumpul dengan orang-orang yang sholih? :)

Tentang Baju: Pilih Beli Jadi Atau Jahitin?

on
Selasa, 01 September 2015
Jaman sekarang, baju bagi wanita sepertinya bukan sekedar kebutuhan untuk menutupi tubuh saja, ya?! Ia sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Apalagi ada pepatah jawa yang mengatakan ajining raga ana ing busana.  Jadilah bisnis pakaian, utamanya pakaian wanita, menjelma menjadi sebuah komoditi yang luar biasa perkembangannya.

Eleuh eleuh, saya ngomong apa sih itu… sok yes banget :D

Tapi bener kan, ya? Please, bilang iya, biar saya seneng :D :D berapa banyak orang yang merasa terhormat jika mengenakan baju dengan merk tertentu, atau dengan kisaran harga tertentu? Banyak, kan?!! Kamu salah satunya? Saya sih enggak :D

Bilang saya kampungan. Bilang saya payah. Bilang saya gak modis. Memang bener itu semua! Hahaha. Saya adalah satu dari mungkin sedikiiittt orang yang selalu heran – amat sangat heran – jika mengetahui ada orang yang dengan ikhlas membeli baju mencapai angka yang setara dengan biaya hidup saya sebulan di kota Semarang sebagai anak kost. Lebih heran lagi kalau saya tahu kalau buat biaya hidup si orang tersebut pas-pasan. Apa iya ada? Ada lho, ada!!

Sampai seumuran gini saya belum pernah deh sekalipun beli baju yang harganya lebih dari 250 ribu. Kaget gak, kaget gak, kaget gak? Haha. Calon istri hemat banget, kaannn? *kibas jilbab* :D Makanya saya Cuma mringis kalau lihat gamis-gamis jualannya para artis berjilbab yang haraganya 500 ribuan ke atas. Hehe.Pokoknya prinsip saya, sesuka apapun sama suatu barang kalo mahal ya gak jadi suka :P

Bakat ekonomis saya ini gak hadir dengan sendirinya kok. Semesta yang membuat saya seperti ini :D tau kenapa? Saya punya seorang ibu yang sejak muda merupakan seorang penjahit, dan kakak perempuan yang merupakan penjahit ‘jadi-jadian’ :D jadi, seumur hidup rasanya saya gak pernah merasakan jahitin baju ke orang, atau bayar ongkos jahitan. Hehehe. Nah, karna dari kecil udah terbiasa memakai baju hasil karya ibu saya sendiri – yang mana sebelum bikin pasti diukur dulu, jadi pas bajunya jadi bisa pas banget sama badan saya – saya jadi gak terbiasa beli baju jadi dari toko. Beneran, jaraaaaang banget.

Pas udah gedhe gini dan sudah punya penghasilan sendiri, jujur kadang pengen sih beli baju di toko seperti kebanyakan orang gitu. Tapi beberapa kali hendak mewujudkan keinginan itu dengan datang ke toko, yang ada saya pasti kebingungan. Merasa gak ada yang pas dan cocok. Lebaran dua tahun lalu saya ngotot beli gamis jadi dari toko. Dan hasilnya, saya nyesel sampe sekarang beli gamis itu, dan jaraaaang banget di pakai. Gak suka, waktu itu nurutin nafsu doang :D

Yup, punya ibu dan kakak yang pintar menjahit adalah salah satu hal yang amat saya syukuri. Karna jika orang lain merasa jahitin baju itu jauh lebih boros karna biayasanya jadi doble (beli kain plus bayar penjahit), saya sama sekali enggak karna gak harus bayar ongkos jahit. Hehe

di Nikahan kakak uni. Saya yang paling kecil dan imut (haha) pake gamis hasil jahitan Kakak

ini juga jahitan Kakak duet sama Ibu. Please, abaikan magic com dan bagian bawah yg kusut krn sy males nyetrika ulang :p

Kalau kamu, lebih suka beli baju langsung jadi di toko, atau lebih suka jahitin?

Signature

Signature