Tampilkan postingan dengan label Kajian Pagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Pagi. Tampilkan semua postingan

Agar Tak Lagi Berat Untuk Berqurban

on
Selasa, 21 Agustus 2018
sumber: Pixabay.com

Pernah denger gak teman kita bilang, "Tahun ini aku qurban perasaan", diiringi gelak tawa? Padahal dari segi ekonomi, dia bukan dari kalangan yang kekurangan.

Atau jangan-jangan kita sendiri pun pernah seperti itu? Kalau saya, jujur saja pernah.

Dulu ya, saat kesadaran tentang ibadah qurban belum sampai ke hati, mengeluarkan uang segitu untuk beli kambing, kemudian dibagi-bagi kok rasanya gak kebayang banget. Selalu merasa gak mampu ngumpulin uang untuk berqurban.

Lalu kemudian saya bertemu sebuah tulisan, yang sayangnya saya lupa siapa penulisnya dan dimana membacanya.

Maka, ijinkan saya menuliskannya ulang di sini.

Jika kita merasa berat ketika hendak berqurban, maka kita ingat.

Risalah pertama tentang ibadah qurban dimulai dari kisah Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s.

Sedangkan Ismail, merupakan putra tersayang yang sekian lama dimohonkan Nabi Ibrahim pada Allah melalui doa-doa.

Kira-kira, seberapa berat bagi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail? Tentu beratnya tiada tanding tiada banding.

Maka, jika hari ini kita selalu merasa berat saat hendak berqurban, gak masalah. Karna sejak awal risalah ini turun pun, memang melalui perintah yang sangat berat.

Iya, rasa berat itu wajar. Nabi Ibrahim pun merasakan. Tapi apakah Nabi Ibrahim lantas berhenti, lantak tak menghiraukan perintah Tuhannya? Tidak.

Nabi Ibrahim tetap melaksanakan, setelah diyakinkan oleh putranya sendiri, Ismail.

"Dan Ibrahim berkata: sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu samapi (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku seseungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, seseungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS Ash-Shafaat: 99-111)
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/11623-pelajaran-dari-kisah-nabi-ibrahim-menyembelih-ismail.html
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/11623-pelajaran-dari-kisah-nabi-ibrahim-menyembelih-ismail.html

Apa yang membuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berlapang-dada untuk melaksanakan perintah yang sangat berat itu? Tak lain, karna mereka mengharap Ridha Allah.

Maka hari ini, jika kita masih merasa berat untuk berqurban, penawarnya cukup satu. Mari mengharap ridha Allah. Bukankah itu saja sudah lebih dari cukup dibanding dunia seisinya? 😊

Semoga Allah senantiasa melapangkan rizki kita, dan memampukan kita untuk menunaikan setiap perintah-Nya. Aamiin.

Selamat mempersembahkan qurban terbaik teman-teman 😊

Belajar Dari Ibrahim: Tentang Taat Tanpa Tapi

on
Selasa, 13 September 2016
pixabay.com
Masih suasana idul adha, yah. Sudah habis berapa puluh tusuk sate? Haha.

Sosok yang paling tenar saat idul adham tiba, tentu saja Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam. Karena beliaulah yang menjadi penanda dimulainya ibadah qurban di tanggal 10 Dzulhijjah ini. Sudah banyak pake banget sih yang nulis tentang keteladanan dari seorang Ibrahim, hikmah-hikmah idul adha, de el el. Tapi tetep saja saya pengen nulis pelajaran apa yang bisa kita ambil dari seorang Nabi Ibrahim. Biar ada jejaknya di blog saya. Biar kelak anak keturunan saya bisa membaca apa yang pernah ada dalam pikiran saya melalui blog ini -- jika Allah ijinkan :)

Belajar dari Ibrahim. Bagi saya pelajaran utama dari rangkaian kisah baginda Nabi Ibrahim adalah tentang taat tanpa tapi.

Kita pasti tau, berapa lama beliau menanti untuk dikaruniai buah hati, saat usianya bahkan sudah teramat renta. Kemudian Allah memerintahkannya untuk meninggalkan buah hati yang dinanti-nantikannya itu di sebuah padang tandus, hanya bersama ibunya. Sepi, tanpa bekal, tanpa teman. Hati laki-laki (baik) mana yang tega. Tapi itu perintah. Bahkan Ibrahim memilih untuk tak memberikan penjelasan panjang lebar pada Hajar -- istrinya -- karna takut hatinya goyah. Hanya jawaban 'Ya' yang terlontar saat Hajar bertanya, "Adakah ini perintah Tuhanmu?". Taat tanpa tapi. Apa kabar jika kita yang mendapat perintah semacam itu?

"Tapi Allah, bukankah anakku masih bayi?"

"Tapi Allah, bukankah ini padang pasir? Bagaimana jika mereka lapar, haus, bla bla bla"

Belajar dari Ibrahim, juga seiring-sejalan dengan belajar dari Hajar. Coba bayangin kalau Hajar adalah kita. Mendengar 'hanya' jawaban YA, seribu-satu tapi hampir pasti tak terelekkan.

'Tapi anakmu kan masih bayi, di sini sepi, gimana kalo kita berdua laper??!!!'

'Tapi bagaimana nasib kami? Kamu tega!!! Kamu gak sayang sama kita!!' *ini sih versi lebay-ku, ya =D*

Tapi tidak. Hajar justru menjawab tegas, "Jika memang ini perintah Allah, maka tinggalkanlah kami. Allah tidak akan membiarkan kami". Masya Allah. Taat tanpa tapi.

Pelajaran tak berhenti sampai di situ. Taat tanpa tapinya Nabi Ibrahim masih terus ditempa Allah. Ketika Ismail -- buah hati yang dulu ditinggalkannya di padang pasir mendewasa, Ibrahim kembali diperintah Allah. Tak hanya diminta meninggalkannya, kini Ibrahim diminta menyembelih buah hati tersayangnya itu. Bayangkan! Menyembelih anaknya sendiri. Ibrahim galau. Lalu sebagai ayah yang bijak, ia mendiskusikannya dengan sang buah hati. Seperti ibundanya, Ismali pun berkata tegas, "Lakukanlah ayah, jikalau itu perintah Tuhan". Dan Ibrahim siap menyembelih. Sebelum akhirnya Allah menggantikan posisi Ismail dengan seekor domba dari surga -- yang hingga kini kita replikasi kejadiannya melalui ibadah qurban. Lagi-lagi kita belajar taat tanpa tapi dari Ibrahim. Juga Ismail. Tak ada keluh. Tak ada tanya.

'Tapi kenapa aku harus disembelih ayah??!!'

Tak ada.

Sedangkan apa kabar kita hari ini? Saya pribadi terutama. Taatnya saya pada orang tua, pada suami, bahkan pada Allah masih sebatas taat yang penuh syarat. Bahkan lebih panjang list syaratnya dibanding ketaatannya. Maka idul adha, semoga tak hanya jadi hari di mana kita bisa makan sate, rendang dan rica-rica sepuasnya. Melainkan bisa terus Belajar dari Ibrahim dan keluarganya, tentang taat tanpa tapi, terlebih pada apa yang diperintahkan oleh Tuhan Semesta Alam.

Tambahan sedikit, saya suka sekali dengan status seorang teman di facebook. Ia berkata, Ibrahim takkan sempurna mengaplikasikan cinta pada Rabb-Nya jika istri dan anaknya tak punya cinta yang sama pada Rabb-Nya. Ya, kalau Hajar dan Ismail banyak bantah dan banyak tapi kayak saya, bukan gak mungkin Ibrahim goyah dan mengurungkan niatnya untuk menjalankan apa yang Allah perintahkan.

Jika Hendak Berkurban, Jangan Lupakan Hal Ini

on
Selasa, 30 Agustus 2016

Idul Fitri rasanya baru kemarin, ya. Tiba-tiba sebentar lagi kita akan kembali mendengar gema takbir bergemuruh di seluruh pelosok negeri. Yup, Idul Adha sebentar lagi menghampiri :)

Apa yang sudah kita siapkan untuk menyambut akan datangnya idul adha? Baju baru? Sepatu baru? DUh, kalau itu rasanya idul fitri aja cukup kali, ya. Saat idul adha, betapa lebih bijaknya kita jika menyisihkan uang yang tadinya mau dibuat beli macem-macem itu untuk berkurban saja. Beli baju kan dua ratus-tiga ratus ribu, mana cukup buat kurban! Itu kan kalau budget buat sekali beli. Coba kalau budget setahun dikumpulin! Hehe. Intinya, mari berusaha agar kita menjadi orang yang mampu berkurban. Jangan malah terus-terusan terlena pada zona 'merasa' tidak mampu, dan terlanjur fasih mengatakan, "aku sih kurban perasaan aja!" tiap idul adha datang.

Nah, kalau sudah mampu dan tahun ini hendak berkurban, jangan sampai melupakan hal ini. Saya juga inget gara-gara kemarin ada yang mengingatkan. Hehe. Makanya pengen mengingatkan teman-teman yang lain juga lewat tulisan ini. Siapa tau ada yang lupa, atau malah belum tau :)

Apa sih hal yang gak boleh dilupakan itu?

Ini nih:

”Barangsiapa yang telah memiliki hewan yang hendak diqurbankan, apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya hingga dia selesai menyembelih.” (HR. Muslim 5236, Abu Daud 2793, dan yang lainnya)
(Sumber: https://konsultasisyariah.com)
Nahh, sudah ingat dan sudah tau ya sekarang?! Jika kita punya niat hendak berkurban di idul adha besok, maka saat memasuki tangga 1 Dzulhijjah yang di kalender masehi jatuh pada hari Sabtu tanggal 3 September 2016 besok, maka janganlah memotong kuku atau rambut hingga hewan kurban kita selesai disembelih.

Emang kenapa sih?

Sebelum tanya kenapa, mari kita tanamkan dulu kuat-kuat dalam hati kita, bahwa apapun yang Allah atau Nabi Muhammad perintahkan atau anjurkan itu pastilah baik. Pastilah ada manfaatnya. Pastilah ada hikmahnya.

Jujur saja sebelumnya saya juga belum tau apa hikmah dari hadist tentang larangan memotong rambut dan kuku bagi shohibul kurban mulai 1 Dzulhijjah tersebut. Tapi qodarullah, tadi siang saya membaca sebuah artikel yang memaparkan tentang hal tersebut.

Kenapa kita gak boleh memotong rambut dan kuku sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban kita disembelih?

Salah satu hikmahnya adalah, agar seluruh anggota tubuh kita masih diperhitungkan turut berkurban dan mendapat pembebasan dari api neraka.

Wallahu A'lam bisshawwab...

Apa Itu Puasa Ayyamul Bidh?

on
Jumat, 05 Agustus 2016
Apa itu puasa ayyamul bidh? Kenapa saya tiba-tiba tertarik menuliskan ini? Karna di sekitar saya ternyata ada beberapa orang yang belum familiar dengan puasa sunnah yang satu ini. Hingga pada suatu hari -- pertama-kalinya saya mengamalkan puasa ini setelah sekian lama hanya menyimpannya sebagai teori di memori -- ada teman yang 'menuduh' saya puasa untuk tujuan tertentu, kana saya puasa tiga hari berturut-turut pada hari yang menurut beliau gak biasanya orang puasa. Hihi.

Baca ceritanya disini: Puasa Untuk Siapa?

Tapi saya sangat bisa maklum sih. Puasa sunnah yang sangat tenar di masyarakat kita sepertinya adalah senin-kamis. Sehingga, saat ada yang puasa selain di hari senin atau kamis di bulan Ramadhan, maka akan ada pertanyaan 'puasa apa?' untuknya. Wajar. Tapi saya pengen membagi apa yang saya tau -- meski sedikit -- agar 'kewajaran' atas ketidaktahuan itu semoga lambat-laun menghilang, dan tulisan ini siapa tau bermanfaat bagi yang tengah mencari tau.

Puasa ayyamul bidh adalah puasa sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Puasanya selama tiga hari berturut-turut pada tengah bulan -- bulan hijriyah, setiap bulan. Berikut hadist yang menjadi salah satu pendukung puasa sunnah ayyamul bidh ini:

Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1- berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan shalat Dhuha, 3- mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178) (dikutip dari muslim.or.id)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) (dikutip dari muslim.or.id)
Saya pribadi, bukan orang yang istiqomah menjalankan puasa sunnah ayyamul bidh ini. Sejak tau ilmunya, sepertinya belum sampai lima kali saya menjalankan. Alasannya macem-macem. Yang paling sering ada dua. Lupa tanggal (karna lebih seringnya memperhatikan tanggal masehi buat ngitung kapan gajian *ups*) dan yang kedua, kebetulan adaaa aja acara yang bikin ragu buat puasa pas tanggal seharusnya puasa. Ah, tapi ya itu cuma alasan pembenaran, seharusnya tetep harus dilawan. Untuk lupa tanggal, ada solusi sebenarnya. Tiap awal tahun sekarang ada orang yang berbaik hati membuatkan kalender puasa sunnah. Semoga Allah membalas kebaikan orang tersebut.

Jadi mulai sekarang, kalau ada teman atau siapapun yang puasa selain hari senin atau kamis, cek tanggal, mungkin ia tengah berpuasa sunnah ayyamul bidh :) Jadi jangan malah dicurigai macem-macem, ya. Hehe.

Buat Para Single, Baca Doa Ini

on
Senin, 27 Juni 2016
Apa salahnya sih berstatus single? Ya gak ada yang salah! Kalo memang Allah masih memandang kita pantesnya jadi single dulu, ya jalani saja sebaik-baiknya. Lantar kenapa banyak orang seperti hobi sekali 'mengusik' orang dengan status single dengan berbagai macam pertanyaan yang bikin panas telinga? Entahlah, saya juga gak tau. Saya pernah merasakan jadi single, dan semoga saya tetep selalu ingat untuk gak ikutan 'usil' tanya-tanya kalo sekiranya gak bisa bantu.

Nah, bagi si single, kenapa sering merasa gak nyaman dengan status singlenya? Rasanya ingin sekali segera mengakhiri status tersebut dengan sebuah akad nikah. Setidaknya dulu seperti itu yang saya rasakan. Menurut saya sih wajar. Itu fitrah. Allah menganugerahkan kebutuhan fitrah untuk berpasangan dengan lawan jenis pada semua manusia. Jika semuanya sudah dirasa siap, baik ilmu, umur, finansial dll, ya wajar saja si single tak ingin berlama-lama terus menyandanga status tersebut. Iya, kan?

Sayangnya, keinginan untuk segera melepas status single tersebut seringkali gak semudah yang kita angankan. Allah selalu punya skenario-Nya sendiri yang kadang susah kita tebak. Orang yang kita gadang-gadang menjadi teman hidup, ternyata tak memiliki keinginan yang sama. Ada orang yang menginginkan kita, tapi tak kuasa membuat kita berkata 'iya'. Atau bahkan seperti tak ada satu pun bayangan, harus dengan siapa kita mewujudkan keinginan agar tak lagi jadi single. Ya, serumit itu kadang keadaannya. Dan saya sepertinya sudah pernah mencicipi semuanya. *Haha, buka aib*

Tapi kita bisa apa selain berdoa dan berusaha. Tapi dalam konteks jodoh, menurut saya, sebagai wanita andalan utama kita adalah doa. Mau usaha, usaha yang seperti apa? Dari dulu saya bingung. Kalo kata Tere Liye, berperilaku baik dan memperluas pergaulan adalah contoh bentuk usaha sih. Tapi yang terpenting tetaplah doa.

Mumpung masih bulan Ramadhan, apalagi ini sudah masuk sepuluh hari terakhir, saya ingin membagi lafal doa yang dulu sebelum menikah gak pernah putus saya baca. Doa ini kalo gak salah diajarkan oleh Ustadz. Yusuf Mansur melalui sebuah acara di televisi. Pertama kali mendengar dan alhamdulillah langsung hafal, saya jatuh cinta seketika pada doa ini. Sederhana, tapi sudah amat mencakup banyak hal. Begini lafalnya:

Rabbi Habli Min ladunkan zaujan thayyiban,
wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhiroh

Artinya kalo gak salah:
Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku seorang pasangan yang baik,
yang bisa menjadi sahabat bagi urusan agama, dunia, dan akhirat

Indah banget, kan? Kurang apalagi kalo sudah dianugerahi pasangan seperti itu?! Sejak tau lafal doa itu, saya selalu mengucapkannya sepenuh hati setiap selesai sholat, baik fardhu maupun sunnah. Saya gak lagi mengucapkan doa panjang lebar dan detail semacam 'anugerahkanlah untukku jodoh yang tampan, sudah kerja mapan, sudah punya rumah sendiri, rajin sholat, pinter ngaji, bla bla bla', karna ujung-ujungnya saya malah jadi gak khusyuk doanya karna sambil mikir, 'apa lagi ya, apa lagi ya?' hehe.
Saya gak bilang kalo istiqomah baca doa itu akan segera bertemu jodoh, ya. Ustadz Yusuf Mansur juga gak bilang gitu. Saya juga baca doa itu lima tahun lebih kalo gak salah sampai akhirnya Allah perkenankan saya bertemu jodoh. Tapi apa salahnya kan berdoa? Kan Allah berjanji, 'ud 'uni astajiblakum -- barangsiapa berdoa pada-Ku maka akan Ku perkenankan. Masa' kita mau gak percaya? :)

Jadii, buat para single, yuk jangan lelah dan jangan bosan berdoa! Kalo bingung mau doa apa atau gimana kalimatnya, doa pake doa di atas aja, sederhana tapi indah :) Semoga kita semua Allah jodohkan dengan pasangan yang bisa menjadi sahabt bagi urusan dunia maupun akhirat. Aamiin.

Sholat Ritual VS Sholat Aktual

on
Jumat, 11 Desember 2015
Sholat ritual VS sholat aktual? Lho, apa itu? Memangnya ada, ya, istilah seperti itu?

Saya mendapat materi ini dalam salah satu pertemuan kajian pagi rutin di kantor saya. Pertama tentang sholat ritual. Kita semua yang mengaku muslim pasti tahu bahwa kita terikat kewajiban untuk melakukan ritual sholat minimal 5 kali dalam sehari. Ritual sholat ini menjadi jurang pemisah dan pembeda antara muslim dan kafir. Tapi apa jika kita sudah selalu menunaikan sholat 5 waktu lalu sudah cukup? Tentu saja belum.

Sebagian besar dari kita pasti familiar dengan ayat Innassholata tansa anil fahsya' i wal munkar -- sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Nah, inilah yang dinamakan sholat aktual. Yaitu sebuah cerminan sikap sebagai seorang muslim yang senantiasa menunaikan sholat. Jadi sejatinya, tidak cukup hanya dengan menunaikan sholat lalu kewajiban kita sebagai muslim selesai. Perlu ada tindak lanjutnya. Kata Pak Ustadz, jeda antar-waktu sholat adalah saatnya untuk menindaklanjuti sholat ritual kita melalui sholat aktual. Dengan berbuat baik, menghindari perbuatan keji dan munkar, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Lalu mengapa banyak orang yang sholat belum mampu membuat mereka tercegah dari perbuatan keji dan munkar? Mungkin karna salah satunya mereka masih memaknai sholat sebagai ibadah ritual semata.

Wallahu a'lam bishawwab...

Cara Mengatasi Kesedihan

on
Senin, 07 Desember 2015
Yang namanya hidup pastilah ada sedih dan senang. Kita nggak mungkin kenal bagaimana rasanya sedih, kalo kita belum pernah merasakan senang. Begitu juga sebaliknya. Maha besar Allah yang menciptakan segala sesuatunya secara seimbang :)

Sayangnya, kita sering kurang sabar menerima pergiliran siklus sedih dan senang itu. Saat kebahagiaan yang sedang menjadi bagian kita, kita sering lupa diri, hingga ketika sudah saatnya siklus bahagian berganti nestapa, kita kewalahan mengendalikan perasaan sendiri. Kata pak Ustadz, sedih dan senang itu sama-sama bentuk ujian dari Allah -- bagaimana kita merespon dua hal itu. Cuma, sebagai manusia kita, kesedihanlah yang lebih sering kita hayati sebagai ujian.

Meskipun sedih-senang merupakan siklus rutin kehidupan, sayangnya masih banyak orang yang bingung cara mengatasi kesedihan. Lihat saya status-status socmed -- betapa banyak yang meratapi kesedihannya dengan mengumbar di media sosial. Yang paling ekstrim tentu saja kasus-kasus bunuh diri. Semua itu merupakan cerminan betapa banyak orang yang belum tahu cara mengatasi kesedihan.

Beberapa hari lalu saya tengah dilanda kesedihan. Saya menangis semalaman, mencoba tidur, lalu terbangun beberapa kali untuk melanjutkan tangisan. Alhamdulillah, tidak lama kemudian Allah menunjukkan pada saya tentang cara mengatasi kesedihan saya, melalui salah satu materi pelatihan yang diadakan oleh kantor tempat saya bekerja.

Bagaimana cara mengatasi kesedihan tersebut?

Sederhana saja. Hanya dengan mengatakan dengan sepenuh hati, dan menanamkannya pada pikiran:

"Semua ini pasti akan berlalu..."

Coba deh diinget-inget... sudah berapa-puluh kali kita mengalami kesedihan yang sama, atau bahkan yang jauh lebih besar? Nyatanya, semua itu berlalu dan kita masih baik-baik saja hingga hari ini, kan? Jadi, santai sajalah... Semua itu pasti akan berlalu :)

Setelah mendengar hal itu dari pemateri, saya mencoba mempraktekkannya. Saya mengatakannya dengan ikhlas, dan sungguh-sungguh... dan, taraaa.... dada saya yang semula masih sesak oleh kesedihan, tiba-tiba menjadi terasa lapaaaang sekali :)

Semoga bermanfaat teman-teman, selamat mencoba :) 

#KajianPagi: Posisi Sujud Yang Benar

on
Kamis, 04 Desember 2014
Bismillah...

Di blogpost kali ini, Insya Allah saya ingin membahas satu dari bermacam gerakan dalam sholat, yaitu sujud.

Sujud adalah salah satu bagian paling istimewa dalam sholat. Yah, semuanya istimewa sih, ya... tapi kalo ada yang teristimewa, mungkin adalah sujud.

Buktinya ada hadist ini:

"Dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika dia sujud. Maka perbanyaklah doa" (HR. Muslim, Abu 'Awamah dan Baihaqi)

Selain hadist di atas, dari segi filosofi juga sujud rasanya istimewa sekali, yah. Bayangin aja... kita dengan sukarela meletakkan bagian tubuh yang sering jadi hal yang kita banggakan (otak dan wajah) di lantai yang biasa kita injak-injak. Buat siapa? Buat Yang Maha Segalanya, dong, ya :)

Nah nah... berhubung sujud itu istimewa sekali, pastinya nggak mau dong ya kalo sujud kita asal-asalan. Ingat, sujud itu bagian dari ibadah, dan setiap ibadah ada aturannya -- nggak asal :) Emang apa sih yang harus dipelajari dari sujud? Kan cuma gitu-gitu aja?! Eits, jangan gampangin, ya... Yuk belajar bareng hal-hal yang harus kita perhatikan dari sujud kita.

1. Menuju Sujud

Saat dari posisi berdiri (setelah ruku') menuju sujud, ada hal yang harus kita perhatiin banget nih ternyata. Jadi kata Pak Ustadz Muhtar Arifin Sholeh (narasumber Kajian Pagi YBWSA), yang sampai di lantai duluan tuh nggak boleh lutut duluan -- melainkan harus telapak tangan duluan. Hayooo, pasti banyak deh yang masih lutut duluan yang sampai lantai :)

Nih hadistnya:

"Apabila kamu sujud, maka jangan meletakkan lutut terlebih dahulu seperti unta, namun letakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut" (Hadist shahih diriwayatkan Ahmad, Abu Daud)

2. Posisi tangan

Saat sujud, tangan juga harus diperhatikan. Siku nggak boleh nempel di lantai.

Terus, nggak boleh terlalu dekat dengan lambung (tangannya harusnya agak membuka).

“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Tapi kata Pak Ustadz, dalam hal ini ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kalo perempuan diperbolehkan agak masuk karna untuk menyangga dadanya. Tapi beliaunya nggak nunjukin dasar dalilnya sih :(

3. Wajah

Sujudnya yang tulus, ya, dear... jangan kayak orang terpaksa dan jijik gitu. Lihat deh, kalo orang sujud terus yang nempel cuma keningnya, sedang hidungnya dijauhin dari tempat sujud, kesannya kayak orang nggak ikhlas, kan, ya?! Iya, jadi yang bener hidung itu harus nempel lantai saat sujud.

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani

4. Posisi Kaki

Posisi kaki yang benar saat sujud adalah dengan menghadapkan jemari kaki ke arah kiblat, atau lebih gampangnya, jari-jari kaki harus ditekuk.

 “Beliau menghadapkan punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

Selain itu, posisi tumit harus nempel, ya, dear... jangan jauh-jauhan. hehe

 “Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud).” (HR. At Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan dishahihkan Al Albani)

5. Saat Bangun

Yang juga nggak kalah penting dan harus kita perhatikan adalah posisi saat bangun dari sujud untuk berdiri ke rakaat selanjutnya. Saat bangun dari sujud, kita harus bertumpu dengan kedua telapak tangan lho, dear... bukan satu tangan doang :)

Selain itu, saat di rakaat ganjil harus istirahat duduk dulu, enggak langsung berdiri. (Hihi, ini nih saya yang masih sering salah berarti)

6. Thuma'ninah

Ahaa... sebagai penutupnya, point yang juga sangaaatt penting adalah harus thuma'ninah! Sering kan ya kita lihat orang yang sujudnya cepet banget. Kayaknya belom juga dahi beneran nempel di lantai, eeehh udah bangun aja. Hehe. Masih inegt hadist di point 1 tadi, kan? Sujud itu salah satu kondisi dimana kita dekeeettt banget sama Allah. Masa' iya sih kita rela membiarkan moment istimewa itu berlalu begitu saja dengan kilat khusus (Pos kaliii) tanpa dinikmati sedikitpun? So, yuk nikmati sujud kita dengan thuma'ninah saat sujud :)

"Bersujudlah sehingga engkau berthuma'ninah dalam sujud, dan bangunlah dari sujudmu, sehingga engkau berthuma'ninah dalam duduk" (Muttafaqun 'alaih)

Kata Pak Ustadz, sujud itu momentum dimana kita terus diingatkan ulang untuk tawadhu'/tidak sombong. Yang Maha Tinggi itu Allah, bukan kita :)

Maka, yuk perbaiki sujud kita, lalu perbanyak doa di dalamnya. Semoga Allah menggenapkan segala hajat kita dengan Rahmat-Nya, Aamiin :)

Sekian materi kajian pagi yang bisa saya share di sini. Feel free buat komentar, diskusi, ataauuu yang paling penting feel free buat mengoreksi jika memang ada yang salah dari apa yang saya ulas di atas, ya. Saya masih belajar, ilmunya baru setebal kulit bawang, jadi pasti banyak banget salahnya :)

Wallahu A'lam Bisshawwab

#KajianPagi: Sholat Berjamaah Bagi Wanita

on
Rabu, 12 November 2014
Bismillah...

Di blogpost saya yang ini saya janji mau sharing soal Sholat berjamaah bagi wanita, kan, yah?! Materi yang mau saya tulis di sini masih tetep saya dapet dari kajian pagi di YBWSA. Tentu saja akan sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat.

Ohya, tapi sayangnya saya banyak ketinggalan nyatet hadist-hadist yang Pak Ustadz tayangkan melalui slide :(( Jadi mungkin saya akan minim menulis teks hadist di sini, tapi yang jelas Pak Ustadz waktu menerangkan berdasar banyak sekali hadist kok. Jadi nggak asal sesuai pendapat dia aja.

Oke, langsung aja, ya.

Pasti udah banyak yang tau kan soal hadist yang bilang bahwa sebaik-baik sholat wanita itu di rumah? Dan hadist itu sempet bikin saya galau abis. Secara, rumah saya tuh cuma lima langkah dari masjid, dan udah dibiasakan jamaah ke masjid -- paling enggak magrib. Jadi gimana dong, berarti saya sholatnya di rumah terus aja? Pikir saya waktu itu.

Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ternyata kata Pak Ustadz, hadist itu nggak bisa ditelan mentah-mentah. Ada sebab-akibatnya, ada syarat-syaratnya. Dan jangan lupa, dilihat juga hadist-hadist lain tentang tema serupa.

Iya, memang ada hadist yang bilang sebaik-baik sholatnya wanita itu di dalam rumah. Karna apa? Ini salah satu bentuk kasih sayang Allah yang begitu luar biasa memuliakan wanita. Wanita lebih baik sholat di rumah, karna apa? Karna dikhawatirkan saat wanita sholat ke masjid, ia akan menimbulkan fitnah. Dan ini memang sudah sering saya jumpai langsung. Sholat ke masjid, lalu di siul-siul cowok. Atau, sholat ke masjid, lalu habis itu ketemu temen cowok -- dan lanjut ngobrol. De el el.

Nahh, penyebab-penyebab semacam itu yang bikin sebaik-baik sholatnya wanita itu di dalam rumahnya. Dan tentu saja itu nggak cuma berlaku buat sholat ke masjid. Pada dasarnya, mau pergi ke manapun -- selain ke masjid -- kalo dikhawatirkan menimbulkan fitnah yah tetep lebih baik ada di dalam rumah. Jadi bukan saat sholat aja yang lebih baik di dalam rumah.

Yang nggak boleh dilupakan, ada pula hadist yang isinya tentang anjuran untuk para suami (atau wali) untuk mengijinkan istri mereka (atau anak perempuan mereka) pergi ke masjid jika memang mereka minta ijin. Jadiii, boleh ke sholat berjamaah ke masjid bagi wanita, cuma memang nggak wajib seperti untuk laki-laki. Daaann, jangan lupa syarat-syaratnya dipenuhi dulu. Apa itu? Menutup aurat, menjaga kehormatan, dan nggak boleh pake wangi-wangian. Ini bukan cuma kalo pas mau ke masjid aja, kan, yah sebenernya? :) Ohyaa, satu lagiii... harus dengan seijin wali atau suami.

Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim)

Untuk tambahan sedikit, menurut Ustadz Muhtar (pemateri kajian pagi), sholat berjamaah bagi wanita (imam dan makmum semua wanita) itu bentuk shaffnya lurus, imam ada di tengah-tengah barisan -- nggak seperti kalo sholat berjamaah dengan lelaki. Ini juga ada hadistnya.

 “’Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi

Ohyaa, yang paling penting... ternyataaaa... sholat berjamaah hanya berdua dengan laki-laki yang bukan mahrom kita itu NGGAK BOLEH loh! Karna termasuknya berkhalwat. Hayoooo... jadi nggak boleh bangga, yah, kalo sering sholat berdua sama mas pacar :p Nanti jadinya ibadah sambil melanggar aturan Allah dong :)))

Okee, sekian sharing saya kali ini. Feel free buat komentar dan diskusi, yaaa... asalkan tetap mengutamakan kesopanan :)

Wallahu a'lam bishawab.. ingatkan saya kalo ada yang salah dari apa yang saya tulis :)

#KajianPagi: Barisan Dalam Sholat Berjamaah

on
Kamis, 06 November 2014
Bismillah...

Materi kajian pagi yang ingin saya bagi pertama kali adalah tentang kesalahan yang masih sering kita jumpai dalam sholat berjamaah. Pasti sudah pada tau, kan, kalo saat sholat berjamaah shaff (barisan) harus rapi, lurus dan rapat? Tapi masih seriiiing banget kita jumpai barisan yang masih semrawut. Bolong sana bolong sini, miring sana miring sini. Nah nah... jangan-jangan kita nih salah satunya yang masih suka 'bandel' dan 'cuek' sama kerapian shaff saat sholat berjamaah. Padahaaaalll, kalo kita simak hadist yang satu ini, kita harusnya merenung dan sadar betapa tentang shaff dalam sholat berjamaah ini bukan masalah sepele.

Berdirilah secara bershaf-shaf niscaya Allah mengokohkan barisan-barisanmu (persatuan di kalangan umat Islam), atau jika tidak maka Allah akan menjadikan hati-hatimu saling berselisih. Lalu Rasulullah melanjutkan sabdanya: Aku melihat seorang lelaki di antara kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan mata kakinya ke mata kaki temannya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Daruqutni)

Kemarin, ustadz pengisi kajian pagi lalu mengajak kami merenungi hadist tersebut. Coba baca lagi.  Berdirilah secara bershaf-shaf niscaya Allah mengokohkan barisan-barisanmu (persatuan di kalangan umat Islam), atau jika tidak maka Allah akan menjadikan hati-hatimu saling berselisih. Kita pasti sepakat bahwa persatuan umat Islam masih compang-camping di sana-sini. Dan harusnya kita prihatin, kan? Nah, membaca hadist tersebut, tidakkah kita merenung... jangan-jangan salah satu sebab Allah belum membuat hati kita bersatu adalah karna kita belum memberi perhatian lebih pada shaff sholat kita.

Patokan sederhana shaff yang rapi itu kata Ustadz bahu kita harus saling menempel dengan bahu sebelah kita. Mata kaki kita harus saling menempel (bukan menginjak, ya) dengan mata kaki sebelah kita. Lebih simpelnya lagi, posisi berdiri kita saat sholat, lebar kaki usahakan lebarnya kurang lebih sama dengan lebar bahu kita. Dan tentu saja soal ini harusnya disosialisasikan lebih luas. Karna kalo kita paham tapi masih banyak teman/sodara kita yang nggak paham, ya akhirnya tetep gak bisa rapi, dong. Makanya, yuk yuk bagikan ilmunya :)

Ohya, mungkin ini jauh lebih harus diperhatikan sama kaum adam, ya. Karna mereka (sejatinya) yang wajib sholat berjamaah di masjid. Sedang jika wanita nggak wajib. Soal ini Insya Allah akan saya tulis di post selanjutnya.

 So, yuk yuk... perhatikan dan perbaiki shaff sholatnya, yaa... :)

Materi ini saya ambil dari Kajian Pagi di Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung
disampaikan oleh Ustadz Muhtar Arifin Sholeh

Signature

Signature