Selasa, 06 Oktober 2015

Study Pranikah :)


Hari minggu tanggal 4 oktober 2015 kemarin, saya bersama beberapa teman saya mengikuti sebuah acara yang cetar membahana *halah* =D acara apakah itu?

Oke, stop menghubung-hubungkan antara bahas soal nikah dengan galau. Apa salahnya? Nikah itu ibadah yang mulia, kan? Gak pernah ada yang salah jika yang belum menikah mendamba-dambakan sebuah pernikahan. Apalagi jika ditindaklanjuti dengan mencari ilmu tentang pernikahan yang didambakannya itu. *alibinya keren banget gak sih =P*

Study pranikah ini diselenggarakan oleh Wisata Hati Semarang, bertempat di Wisata Hati Building yang terletak di Jalan Simongan Nomor 69 Semarang. Emm, kami sempat nyasar-nyasar dulu waktu berangkat. Biasaaa, penunjuk jalannya gak oke *tunjuk hidung sendiri* =(

Menurut panitia, acara ini diselenggarakan karena melihat tingginya kasus tentang rumah tangga yang dikeluhkan oleh jamaah Wisata hati Semarang di forum Konsultasi. Nah, kemungkinan salah satu penyebabnya adalah banyaknya orang yang menikah tanpa terlebih dahulu membekali diri dengan ilmu. Berawal dari situlah ide acara ini tercetus.

Study pranikah ini dimulai Pukul 09.00 sampai Pukul 03.00. Kurang sih menurut saya. Banyak materi yang kelewatan. Tapi yasudah, semoga akan Allah kasih kesempatan lagi di lain waktu untuk belajar. Pematerinya ada dua. Yang pertama Ustadzah Diyah Zubair (Huhu, seneeeng ketemu Ustadzah Diyah lagi. Dulu waktu kuliah pernah ikut kajian Minggu pagi di rumah beliau. Cara nyampein materinya selalu ngena sampe hati) yang menyampaikan tema tentang “Apa itu Nikah?”dan Ustadz Syafi’i yang menyampaikan materi tentang “Fiqih Berkeluarga”.

Pada materi pertama, Ustadzah Diyah lebih banyak menyampaikan materi lewat cerita. Cerita-cerita nyata yang menggiring kami pada sebuah pemahaman tentang apa itu nikah. Dan saya mewek di dua cerita pertama =’( tentang pasangan suami-istri yang melakukan pemeriksaan karena sudah cukup lama belum dikaruniai keturunan. Saat akhirnya sang suami diberitahu dokter bahwa istrinyalah yang positif mandul, sang suami memaksa dokter untuk mengatakan sebaliknya pada sang istri. Karena apa? Karena sang suami tahu bahwa saat ia mengambil istrinya sebagai pasangan, ia bertanggungjawab penuh pada sang istri, tidak terkecuali sedih dan bahagianya. Masya Allah =’) tapi Ustadzah Diyah bilang laki-laki model begini gak tahu apa masih terbit lagi apa gak =D

Lewat cerita-cerita yang disampaikan Bu Diyah saya mengambil kesimpulan. Nikah adalah sebuah perjalanan di mana kita akan bertemu banyaaakkk sekali hal yang menuntut kita untuk memanajemen hati sebaik-baiknya. Terutama tentang lapang dada. Dan untuk setiap kelapangan dada kita, yakinlah bahwa Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang luaaaasss sekali. Duh, jujur saya malu dan jadi pengen ngaca lagi. Pantas saja sampai hari ini Allah belum ijinkan saya berumahtangga, karna pada kenyataannya saya masih belum mampu berlapangdada atas banyak hal.

Materi yang kedua agak berat sih. Tentang Fiqh, dan yang ditampilkan dalam slide presentasinya tuh hadist dan ayat yang menjadi landasan dalam teks aslinya (tulisan arab gundul gituh, ampun dije lah! =D). Yang jelas Ustadz Syafi’i menyampaikan (dan menekankan) tentang pembedaan hak dan kewajiban antara suami dan istri tentang masalah harta. Pemberian materi dari suami ke istri itu wajib hukumnya, yaitu dinamakan nafkah. Suami juga wajib memberikan hal-hal yang sepadan untuk istri, misalnya makanan, tunggangan, fasilitas, dll. Jadi jangan mau ya Girl’s kalo nanti suami kamu makan steak terus kamu Cuma makan tempe. Apalagi kalo suami naik mobil, istri naik angkot. Gak bener itu =P. Nah, kalo istri punya uang sedangkan suami sedang gak punya, maka gakpapa istri membantu suami, dan itu dihitung sebagai sedekah. Panjang sih ya soal ini. Ohya, Ustadz Syafi’i juga menjelaskan tentang urutan saat akad, lalu saat pasangan pengantin berada di kamar berdua untuk pertama kalinya, dan tentang apa itu khiyar. Saya gak bisa jelasin tapinya, postingan sudah terlalu panjang. Hehehe. Maapkeun ya, teman =))

Yuk, isi masa-masa penantian kita (kita?) dengan banyak-banyak belajar dan membekali diri dengan ilmu sebelum benar-benar terjun ke kawah candradimuka bernama pernikahan =))

Ohiya, salah satu teman saya yang juga ikut acara tersebut Insya Allah akan melepas masa lajang awal tahun depan. Happy for you, Dear... meskipun saya ‘patah hati’ kamu tinggal, saya tetap bahagia buat kamu *Kiss* *Kiss*

16 komentar:

  1. Bagus nih study pranikah.. Dulu aku pernah ikut kursus 3 bulan ilmunya mantep2

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow... 3 bulan mbak??? kereeenn... ayo bagi ilmunya mbak :)

      Hapus
  2. Semoga habis ikut study pernikahan dan mempelajari ilmunya, mba segera dapatkan juga sosok yang ditunggu selama ini :)

    BalasHapus
  3. Semoga segera nyusul temannya ya, ca. Jadi penasaran apa di sini juga ada. :D

    BalasHapus
  4. krn aku jg blm bs sabar dan blm jd org baik

    BalasHapus
  5. semoga ikut nyusul juga ya :D

    BalasHapus
  6. Baguuus ini ya acaranya, kalau di Bogor ada, aku mau deh ikutaan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, kalo ada jangan sampe ga ikut.. rugi :D

      Hapus
  7. semoga yg nulis dan yg baca cepet nyusul, yess

    BalasHapus
  8. Aahh ini penting banget yaa.. Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya yaaaa.. :D

    BalasHapus
  9. waaah, semoga segera ditemukan dengan jodohnya mbak, hehehe

    masfikr

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)