Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan

#Resolusiku2017: Tentang Menjadi Ibu dan Menjadi Cantik

on
Rabu, 04 Januari 2017
#Resolusiku2017. Saya bukan tergolong orang yang rajin menulis resolusi setiap pergantian tahun. Pernah sih sok-sokan nulis resolusi. Tapi ya gitu, karna cuma ikut-ikutan, jadinya cuma anget-anget e'ek ayam, selang berapa hari setelah tahun baru biasanya sih udah lupa. Haha.

Jadi ya gitu, hidup saya kayak air mengalir aja. Gak ada target-target tertentu yang saya tentukan untuk dikejar banget agar harus tercapai di tahun tersebut. Resolusi nikah gimana? Iya, saya pernah bertahun-tahun menjadikan menikah sebagai resolusi. Tapi kan gak yang dikejar banget 'pokoknya gimana caranya harus nikah tahun ini, harus!'. Kan ya gak mungkin, wong saat itu saja saya belum ada calon =D

Alhamdulilkah, resolusi menikah sudah tercapai di 2016 lalu. Bukan dengan cara saya berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya, melainkan mengikuti jalan cerita takdir saja :)

Tapi beda sama tahun ini. Tahun 2017 ini saya punya beberapa resolusi yang Insya Allah akan saya usahakan dengan segenap kemampuan saya agar bisa tercapai. Saya ingin menuliskan resolusi 2017 saya di sini, dengan harapan siapapun yang membaca akan turut meng-aamiin-kannya. Semakin banyak yang turut mendoakan, Insya Allah semakin dekat resolusi-resolusi saya dengan pencapaian.

Langsung aja yuk, berikut ini adalah #Resolusiku2017 saya:

1. Menjadi ibu dari seorang anak yang saat ini masih dalam kandungan saya berumur 31 minggu. Insya Allah dia lahir antara akhir Februari sampai awal Maret 2016. Sejujurnya saya punya resolusi tambahan, yaitu melahirkan secara normal. Alasannya bukan hal-hal semacam 'ingin merasakan jadi ibu seutuhnya dan lain-lain'. Ah, saya gak pernah sedikitpun menganggap bahwa melahirkan secara secar itu berarti belum jadi ibu seutuhnya. Gak ada rumus kayak gitu.

Alasan saya ingin sekali melahirkan secara normal adalah karna katanya kalau normal lebih cepat proses penyembuhannya. Alasan lainnya lagi, karna dari segi biaya melahirkan secara normal pastilah lebih terjangkau untuk ukuran tabungan saya dan mas suami yang gak seberapa. Hehe.

Baca Juga: Catatan Kehamilan

2. Memberi ASI Eksklusif untuk anak saya selama 6 bulan pertama. Ah, ini sih impian setiap ibu ya rasanya. Ibu mana yang gak pengen bisa kasih ASI buat anaknya? Soal ada yang akhirnya terkendala, lagi-lagi itu urusan takdir, kan?

Yang jelas saya ingin memasukkan ini sebagai salah satu resolusi, agar saya lebih semangat dan lebih bersungguh-sungguh untuk berusaha mencapainya. Karna saya tau, dalam prosesnya nanti, pastilah akan ada satu-dua hal yang menjadi tantangan. Dan semoga saya gak menyerah begitu saja saat saya ingat ini merupakan salah satu resolusi hidup saya di 2017.

3. Menghilangkan bekas jerawat di wajah. Haha, ini terdengar gak penting sekali ya sepertinya. Tapi tidak buat saya. Sejak hamil, jerawat saya tumbuh subur bak lumut di musim hujan. Lebih parah dari saat menjelang nikah dulu sepertinya. Katanya sih ini karna pengaruh hormon selama hamil, Insya Allah nanti setelah hamil ilang sendiri. Saya percaya dan yakin dengan pendapat itu sih.

Tapi yang hilang jerawatnya, kan? Soal bekas, itu lain lagi -_-. Beneran saya sedih tiap ngaca dan melihat totol-totol hitam bekas jerawat bertebaran di wajah saya. Lebih sedih lagi jika tiap pasang foto di akun media sosial atau aplikasi messanger banyak yang langsung pada komentarin jerawat saya, gak peduli apapun captionnya. Huhu, langsung merasa dunia ini kejam sekali =((

Maka dari itulah, menghilangkan bekas jerawat dan berusaha membuat wajah saya kembali mulus seperti jaman masih gadis merupakan salah satu resolusi saya. Usahanya bahkan sudah saya mulai sejak hari ini, dengan membeli beberapa produk kecantikan yang katanya aman untuk kehamilan tentunya. Selain jadi ibu, saya juga ingin jadi cantik dong. hehe. Bukan semata-mata ingin dipuji orang-orang. Ingin dipujinya sih sama suami aja =D *masasiiihhhh*

Meski mencanangkan tiga resolusi di atas, saya tetap menanamkan dalam hati bahwa ketercapaiannya tetaplah bergantung pada ridho Sang Penggenggam Alam Semesta. Agar jika ternyata ada yang meleset, saya ikhlas. Gak baper berkepanjangan.

Resolusinya cuma tiga? Iya, tiga aja. Bukan berarti gak ada hal lain yang ingin saya capai di tahun 2017 ini. Tentu saja ada, dan banyaaaakkk. Hanya saja yang saya canangkan resmi sebagai resolusi cukup tiga point di atas saja.

Sekali lagi, saya menulis ini dengan harapan semoga siapapun yang membaca berkenan turut mendoakan resolusi saya di atas. Jadi, dengan segenap kerendahan hati, mohon doanya yaaa teman-teman =))


Nostalgia Putih Abu: Persahabatan Bagai Kepompong

on
Selasa, 09 Februari 2016

Hari minggu kemarin, Andri -- salah satu sahabat baik saya saat SMA, datang ke rumah. Dia sempat nyasar, katanya. Saking lamanya gak mengunjungi rumah saya, mungkin. Bahkan pertemuan kemarin pun merupakan pertemuan kami setelah hampir 5 tahun gak ketemu. Dan Andri datang dengan membawa sebuah kabar bahagia. Sebuah undangan pernikahan.

Andri gak lama di rumah saya, hanya sekitar 30 menitan saja. Tapi efek kedatangannya tertinggal bahkan hingga hari ini. Memori saya seperti kembali memutar episode demi episode masa putih abu-abu 8 tahun silam.

Jika banyak orang mengatakan bahwa masa putih abu-abu merupakan masa-masa paling indah, maka saya akan turut mengaminkannya. Namun jika definisi 'indah' bagi kebanyakan orang adalah 'kisah cinta', maka sama sekali tidak bagi saya. Saya hampir tidak punya sedikitpun kisah cinta di masa SMA. Kalau pertama kali mengenal cinta pada lawan jenis, mungkin iya. Tapi mengenal cinta tidak serta-merta menjadi kisah cinta, kan?!

Masa putih abu-abu saya indah, karna ia dipenuhi dengan segudang kisah manis tentang persahabatan. Ya, pada masa itu saya benar-benar belajar tentang bersahabat. Tentang orang-orang yang luar biasa baik meski bukan saudara. Saya belajar tentang memiliki 'keluarga' meskipun tak setetes pun darah kami berasal-usul sama.

Saya memiliki tiga sahabat. Wahyu Putri Utami -- yang biasa kami panggil dengan sebutan Mami, Novi Andrianto atau Andri, dan Wachid Amilludin atau Amil. Saya biasa memanggil Andri dan Amil dengan sebutan Kakak. Yup, secara otomatis, diantara kami berempat, sayalah bungsunya.


Saya bingung bagaimana menceritakan tentang betapa manisnya kisah kami berempat. Karna saat hendak menceritakannya, dada saya sudah lebih dulu dipenuhi rasa haru, rindu, dan sesak luar biasa. Tanyakan pada seluruh teman seangkatan kami pada masa itu, maka bisa dipastikan semua tau bahwa saya, Mami, Amil dan Andri adalah 'satu paket'.

Mengenang masa putih abu-abu berarti mengenang pertama kali saya jatuh cinta pada seorang kakak kelas, dan Mami dengan memasang muka tembok rela mempermalukan diri meminta foto si 'dia' demi saya. Mengenang masa SMA berarti mengenang saat saya menemani Mami yang sedang pingsan lantaran shock mengetahui 'cinta pertamanya' jadian dengan seorang adik kelas, untuk dibawa ke RSUD Kudus dengan menggunakan becak.

Mengenang masa putih abu-abu berarti mengenang tentang perseteruan saya dan Andri lantaran Andri dengan teman dari kelas sebelah. Bukan, sama sekali bukan lantaran cemburu. Tapi lantaran saya tau bahwa si teman dekat Andri itu tidak bisa menerima kedekatan saya dan Andri sebagai sahabat. Saya dan Andri 3 tahun berturut-turut sekelas, dan selalu saya selalu duduk tepat di depan meja Andri. Selain paling dekat, kami juga paling sering berseteru.

Mengenang masa putih abu-abu, berarti mengenang tentang sebuah penyesalan pada Amil. Menyesal karna saya tau persis dia sedang sedih karna ayahnya tengah sakit serius, tapi saya tak henti merengek padanya tentang perseteruan saya dengan Andri. Menyesal, karna selang sehari setelah saya merengek pada Amil, dia tidak masuk sekolah karna ternyata Ayahnya meninggal dunia. Sungguh saya masih ingat persis ketika saya celingukan mencari Amil yang tak tampak di barisan kelasnya saat upacara. Saya masih ingat persis ketika hendak kembali ke kelas, saya melihat Mami ternyata tengah berada di UKS karna pingsan. Saya masih ingat persis ketika Mami akhirnya membisikkan tentang kabar duka dari Amil sembari tersedu. Saya masih ingat persis betapa menyesalnya saya saat itu yang terlampau tidak peka menafsirkan tatap mata Amil yang penuh gayut keresahan hari sabtu sebelumnya.

Mengenang masa putih abu-abu, berarti mengenang tentang kepedihan luar biasa dalam yang saya rasakan, saat tiba waktunga bagi kami untuk berpisah.

Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu...

Ya, saya amat setuju dengan lirik tersebut. Bagi saya, persahabatan saya di masa putih abu-abu benar-benar ibarat masa 'kepompong' bagi kami, sebelum menjelma menjadi kupu-kupu yang indah dan cantik. Dan hari ini, kupu-kupu itu telah menjelma satu persatu.

Mami kini telah menjadi ibu dari dua jagoan tampan bernama Kenzie dan Keinan, serta satu calon baby yang masih berada dalam kandungan.

Kenzie dan Keinan

Andri, telah mengambil keputusan untuk menjadi imam bagi wanita pilihannya, yang akad nikahnya akan diselenggarakan tanggal 12 Februari 2016, Insya Allah. I'm really happy for you, Kak... :)


Amil, yang dari dulu sudah 'istimewa', semakin menunjukkan keistimewaannya. Semakin dewasa dan matang, terutama pada religiusitasnya.

Saya? Biar orang lain yang menilai :)

Yang jelas, saya belajar. Bahwa waktu akan mampu mengubah segalanya. Sekuat apapun kami menjaga persahabatan kami, kami tetap tal akan bisa memungkiri bahwa kini kami punya dunua kami masing-masing. Tapi saya tau, meski tak selalu berkomunikasi dan tak lagi mengagendakan untuk bertemu, kami tetap merasa saling memiliki satu sama lain :)

Postingan ini diikutsertakan dalam event Giveaway Nostalgia Putih Abu arinamabruroh.com

Pengumuman (Yang Telat) Giveaway Pertama :D

on
Selasa, 08 Desember 2015
Maafkan saya, ya, teman-teman... beberapa hari kemarin saya sedang dijajah, jadi telat sekali bikin pengumuman ini. Iya, saja sedang dijajah kesibukan, kelelahan, serta kemalasan. Hahaha

Saya ucapkan terima kasiiihhhh sekali atas partisipasi teman-teman dalam event kecil-kecilan saya ini. Jujur, saya cukup sulit menentukan siapa yang akan saya pilih sebagai pemenang dan mendapatkan 'tanda cinta' dari saya. Semua jawaban menggetarkan hati saya. Semua jawaban membuat saya semakin sadar betapa kita punya harta tak ternilai yang amat cukup menjadi segala pelipur urusan duniawi kita, yaitu Al Qur'an.

Tapi, sesulit apapun tentu saja saya harus tetap mengambil keputusan, kan :)

Dengan mengucap Bismillah, saya memilih jawaban Intan Novriza Kamala Sari sebagai jawaban terbaik yang sukses bikin mata saya berkaca-kaca. Berikut ini jawaban dia:

Ikutan ya mbak. Udah follow blog ini sejak beberapa waktu lalu :D
Ini ayat Al-Qur’an yang paling berkesan buat aku,

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).
(Q.S.Ar-Ra'd (13): 26)

Subhanallah.

‘Bertemu’ dengan ayat ini membuatku seperti diingatkan kembali tentang betapa kecilnya urusan duniawi jika dibandingkan dengan urusan akhirat.


Barangkali kita pernah merasa, sudah berusaha keras sekali, tapi hasilnya belum sesuai dengan apa diharapkan.

Barangkali pernah merencanakan sesuatu dengan sangat rapi, tapi ada hal kecil yang mengacaukan rencana tersebut.

Sebuah kutipan orang bijak mengatakan ->> “Jika engkau ingin berbicara pada Allah, maka sholatlah. Jika engkau ingin Allah berbicara padamu, maka mengajilah.”

Dalam kehidupan ini, bekerja keras memang harus kita lakukan. Tapi ada yang harus diperbaiki mengenai pola pikir. Bekerja untuk apa sih? Mendapat harta berlimpah atau mendapat berkah dari Allah?

Yang harus kita percaya adalah jika Allah sudah ridho, hidup ini akan bahagia. Jika penghasilan yang kita terima diberkahi Allah, berapapun akan terasa cukup.

Trims mbak :)
Tunggu jilbabnya sampai, ya, Intan :)

Nahh, Alhamdulillah saya juga mendapatkan rizki dari arah yang tidak terduga-duga. Seorang sahabat yang sekaligus blogger kondang menghibahkan sebuah pashmina untuk saya, sebagai tambahan hadiah untuk event ini. Dan saya memilih Mbak Inayah sebagai penerima pashmina tersebut. Alasannya? Bagi saya amazing sekali, karena Mbak Inayah 'menemukan' ayat tersebut melalui mimpi :)

Laluuu, saya juga memutuskan untuk memberi 'tanda cinta' untuk satu lagi jawaban. Tanda cintanya yaitu berupa sebuah bros bunga karya Mbak Susi. Dan bros itu akan saya persembahkan untuk Mbak Ninda yang menurut saya jawabannya JLEB dan ngena.

Nah, sayangnya karna satu dan lain hal, saya gak bisa nampilin foto pashmina dan brosnya tersebut. Hihi. Jadi ditunggu saja ya teman-teman :)

Semoga giveaway ini nggak hanya berakhir sampai sini, tapi bisa 'berbuntut' silaturahim yang terus berlanjut. Aamiin :)

Giveaway Pertama :)

on
Rabu, 11 November 2015
Huaa... Akhirnya saya ngadain giveaway :D

Sebenarnya ini cuma sekedar latihan sih buat saya. Pertama, karna ini giveaway pertama saya. Kedua, hadiahnya amat sangat sederhana sekali :) Dan ketiga, saya belom siap untuk bikin 'soal' yang susah-susah, karna itu berarti juga butuh tenaga dan waktu 'lebih' untuk menentukan pemenang.

Okay, langsung saja, yaa.. Aturan main giveaway pertama saya sangat sederhana, Insya Allah.
1. Follow blog saya ini, ya.. Tapi ga wajib kok, yang berkenan saja :)
2. Tulis di kolom komentar: sebutkan ayat Al-Qur'an atau hadist yang paling berkesan buat kamu, berserta alasannya. Kenapa soalnya kayak gini? Biar sembari menilai, saya juga sekaligus belajar, Insya Allah :)
3. Pesertanya punya alamat di Indonesia, ya. Hehe.
4. DL-nya 30 November 2015, yaaa...

Udah gitu aja sih :)

Apa hadiahnya? Ini dia:

Tuu kaann, hadiahnya sederhana sekali: khimar berbahan satin :) dan maaf yaa, habis disimpen di lemari, ga sempet nyetrika :D

Semoga berkenan meramaikan 'hajatan' sederhana pertama saya, yaaa... Dan semoga lewat 'hajatan' ini, saya mendapat banyak teman baru, aamiin :)

#BeraniLebih Percaya Diri Dan Melawan Rasa Minder

on
Kamis, 30 April 2015
Tadi malam seorang sahabat mengirim sebuah link tentang salah satu event lomba melalui Whatsapp. Hadiahnya cukup menggiurkan. Tapi 'penjajah' saya segera menyerang. Penjajah itu apa lagi kalau bukan rasa minder.

"Hadiahnya menggiurkan, pastilah yang ikut buanyaaaakk. Pasti yang ikut yang tulisannya sudah keren dan sudah malang-melintang di event-event lomba semacam ini. Ahh, pasti nggak menang deh!" begitu pikir saya.

Saya lalu mengungkapkan pikiran tersebut ke sahabat saya tersebut. Ia bilang, jangan terlalu sering melihat lawan kalau hal itu membuat kamu jadi minder. Tidak ada salahnya mencoba, rizki kan nggak ada yang tahu... bisa buat sarana belajar berkompetisi juga -- begitu tambahnya. Ia memotivasi saya untuk #BeraniLebih percaya diri dan tidak takut mencoba.

Ah, jangankan mengikuti lomba yang hadiahnya cukup besar seperti ini. Dulu, untuk akhirnya memberanikan diri mengikuti event giveaway yang penyelenggaranya adalah teman sendiri, dan pesertanya adalah orang-orang yang sudah sangat familiar saja saya harus membujuk diri sendiri mati-matian dulu. Padahal setelah memberanikan diri ikut beberapa giveaway, nyatanya nama saya sempat terpilih beberapa kali menjadi pemenang. Artinya, apa yang saya takutkan tidak selalu terjadi -- bahkan lebih sering salahnya.

Rasanya, penyakit minder saya ini sudah menjajah saya sejak masih TK. Saya ingat sekali dulu pernah dinasehati guru saya karena saya terlalu sering sibuk memperhatikan pekerjaan teman saya, sehingga pekerjaan saya justru terbengkalai. Dan saya ingat sekali alasan saya memperhatikan pekerjaan teman saya adalah karena saya merasa pekerjaan dia jauh lebih bagus dibanding pekerjaan saya.

Ah, rasanya rasa minder sudah terlalu lama menjajah saya. Saya tahu saya tidak akan membuat lompatan yang luar biasa jika saya terus-terusan seperti ini. Saya akan semakin jauh tertinggal dari teman-teman saya yang lain. Saya tahu bukan hal mudah untuk menghilangkan sifat minder dalam diri saya yang sudah melekat sekian lama. Tapi saya yakin bukan hal yang tidak mungkin, asal tekad saya teguh. Ya, Bismillah, saya bertekad untuk #BeraniLebih percaya diri dan melawan rasa minder.



Twitter: @Rosa_Alrosyid
Facebook: Rosalina Susanti

[Hijab Syar'i or Hijab Model?] Merasa Menjadi Diri Sendiri Dengan Jilbab Sederhana

on
Rabu, 11 Maret 2015
 “Perumpamaan wanita yang berjilbab dengan wanita yang tidak berjilbab itu seperti emas murni yang belum ditambang, dan mutiara yang telah diolah. Mereka sama-sama bernilai. Bedanya, kalau emas murni bebas dijamah para penambang yang seringkali tangannya kotor penuh lumpur. Sedangkan mutiara yang telah diolah, diletakkan dalam kotak kaca. Tak semuanya boleh menjamahnya, hanya orang-orang tertentu yang punya hak yang bisa”

Kata-kata tersebut diucapkan oleh Mbak Inas – pengisi mentoring mingguan di kampus dulu. Kata-kata yang membuat kemauan saya untuk berjilbab lebih baik terpantik, kemudian menjelma menjadi kobaran tekad.

“Saya takut diomongin para tetangga, mbak, kalau saya pakai jilbab. Kan saya bukan anak pesantren,” ucap saya saat masih dalam masa pertimbangan untuk memulai berjilbab di rumah. FYI, sebelumnya saya sudah pakai jilbab, hanya saja cuma ketika bepergian atau saat kuliah.

“Memangnya yang harus pakai jilbab hanya yang dari pesantren saja? Ocha pilih mana, nggak diomongin tetangga tapi Allah nggak ridho sama Ocha, atau diomongin tetangga tapi Allah ridho sama Ocha?” jawab Mbak Inas.

Beberapa hari setelah obrolan itu, Alhamdulillah saya benar-benar memutuskan untuk memperbaiki jilbab saya – terutama ketika di rumah.

Beberapa tahun belakangan ini, keputusan untuk berjilbab mungkin bukan keputusan yang ‘luar biasa’ dan aneh lagi. kalangan artis muda yang dulu masih amat jarang yang berjilbab pun yang berhijrah terus bertambah jumlahnya. Meski begitu, bukan berarti keputusan tersebut tidak perlu lagi kita apresiasi.

Entah kapan tepatnya dan siapa pencetus pertamanya yang membuat mode jilbab di Indonesia menjadi amat berwarna seperti hari ini. Berbagai macam tutorial cara berjilbab menjamur di Youtube. Dan jilbab tak lagi dilabeli kuno dan kampungan seperti entah berapa tahun silam.

Saya pernah turut mencoba mengubah gaya berjilbab saya dengan meniru beberapa tutorial jilbab yang tekun saya tonton di Youtube. Ya, di tengah ketidakstabilan kondisi hati saya setelah lepas dari lingkungan pergaulan kampus yang amat kondusif, saya berusaha ‘mengupgrade’ penampilan menjadi sedikit lebih modis. Tapi tidak lama. Karna pada akhirnya, saya sadar saya tengah membohongi hati saya sendiri. Saya tidak nyaman dengan gaya berjilbab seperti itu. Saya merasa sedang tidak menjadi diri saya sendiri. Saya masih selalu jatuh cinta setiap melihat muslimah engan jilbab panjangnya. Rindu mengetuk-ngetuk, dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali menjadi diri saya sendiri: berjilbab dengan sederhana.

Tapi tentu saja bukan berarti berjilbab modis itu salah. Saya tidak termasuk dalam lingkaran yang punya keyakinan seperti itu. Saya justru prihatin saat beberapa orang – sesama muslim – justru ramai-ramai mencemooh para muslimah yang memilih berjilbab modis. Hei, kita sama-sama muslimah, kita saudara! Bukankah lebih baik jika kita saling mendukung? Jika ada saudara kita yang memilih berjilbab modis, jangan serta-merta dijudge bahwa niatnya untuk tabarruj. Sejak kapan kita diberikan hak untuk menilai niat seseorang? Rasanya lebih baik dan lebih bijak jika kita saling mendoakan agar selalu diberi keistiqomahan dalam kebaikan. Iya, kan? :)


RESOLUSI BLOG 2015

on
Jumat, 23 Januari 2015


www.indonesian-hijabblogger.com

Saat pertama kali bikin blog, rasanya saya nggak punya niat dan tujuan macem-macem. Alasan yang mendasari saya akhirnya membuat blog -- yang saat itu bener-bener autodidak tanpa melihat tutorial apapun ada dua, dan dua-duanya sungguh sangat sederhana, yaitu: coba-coba dan sudah mulai jenuh dengan facebook :D
 

Yup, saya sudah mulai bosan curhat di facebook. Lagian, kayaknya nggak elegan kalo curhat panjang kali lebar di status FB. Iya, kan? Nah, maka saya mencari alternatif lain untuk bisa curhat lebih panjang dan lebih elegan. Pilihannnya ya blog. Saat itu saya membuat blog bersamaan dengan sahabat karib saya juga. Lalu diikuti oleh sahabat-sahabat karib saya yang lain. Hihi, semacam efek domino gitu lah. Jadi, niat awal bikin blog ya cuma mau buat 'diary' aja awalnya. Hehe
 

Sama sekali nggak nyangka kalo akhirnya saya sampai sejauh ini di dunia blogging. Emm, iya blog saya memang bisa dibilang nggak siginifikan perkembangannya -- padahal sudah dua tahun lebih blog ini lahir. Beda banget sama para emak-emak kece di salah satu komunitas yang dalam beberapa bulan blognya sudah pesat sekali perkembangannya. Tapi saya menikmati dan mensyukuri setiap prosesnya -- selambat apapun itu. Toh saya sadar diri, saya memang nggak benar-benar fokus mengambangkan blog ini. Sekali lagi, saya bahkan nggak nyangka bisa seistiqomah ini merawat blog ini. Para sahabt saya yang dulunya ramai-ramai ikut bikin blog bahkan sudah jatuih bergelimpungan hanya dalam beberapa hari. Passwordpun kayaknya udah pada lupa. Haha. Apalagi melihat jumlah follower yang semakin meningkat (meskipun nggak banyak-banyak banget, hehe), jumlah komentar yang masuk -- yang artinya ada yang mau baca blog saya -- sungguh saya bersyukur. Insya Allah saya akan tetap menjaga komitmen saya untuk blogging with heart. Apapun yang saya tulis, saya pengeeennn banget ada manfaatnya buat yang baca - sekecil apapun itu. Apa nggak pengen punya blog yang menghasilkan? Nggak munafik, pengen lah! Tapi sekali lagi, itu bukan tujuan utama -- meski mungkin suatu hari akan saya upayakan. Tapi blog saya sudah menghasilkan kok -- meski bukan materi. Beberapa kali menang GA itu termasuk penghasilan, kan? hehe. Ahyaa, satu lagi penghasilan yang tak ternilai bahkan dengan materi: menghasilkan persahabatan! :)
 

Kenapa saya akhirnya bisa istiqomah merawat blog ini? Mungkin salah satunya karna saya punya tujuan. Yang dari awalnya cuma mau bikin diary, lama-lama saya pengen blog bisa jadi sarana saya menunjukkan eksistensi dan melatih kepercayaan diri. Kenapa melatih percaya diri? Karna dulu saya paling nggak pede kalo ada orang yang baca tulisan saya :D. Lalu seiring berjalannya waktu tujuan saya berkembang. Saya ingin berkontribusi dalam menyampaikan kebaikan. Yah, sekali lagi... meski belum seberapa. Meski seujung kuku pun rasanya belum ada, bagi saya yang penting saya nggak cuma diam tanpa aksi sedikit pun. Maka, agar saya tetap istiqomah ke depannya, di tahun 2015 ini pun saya mencanangkan resolusi untuk blog ini. Apa itu? Hanya ada dua, dan semoga dua-duanya bisa saya penuhi -- dengan ijin Allah, Aamiin.

1. Beli Domain

Yupp... di tahun 2015 ini pengen banget rasanya URL blog ini berubah jadi: www.rosa-alrosyid.com :) Sudah beberapa kali dimotivasi sama Mba Esti, sih, untuk segera beli domain. Tapi nggak tau kenapa, ya, kok niatnya nggak segera membulat. Memang sih, sebanyak apapun yang kasih motivasi, kuncinya tetep ada pada diri sendiri. Tapi, Bismillah... Insya Allah tahun 2015 ini saya bertekad mau merealisasikan ini.




2. Menyelenggarakan Giveaway



Saya sudah beberapa kali ikut serta di ajang Giveaway, dan sudah beberapa kali juga menang. Hehe. Tapi belu pernah sekalipun jadi penyelenggaranya. Hehe. Sudah pernah hampir bikin, tapi nggak tau kenapa niatnya tiba-tiba loyo lagi. Sudah 'ngeri' duluan bayangin ribetnya menilai tulisan para peserta, me-list siapa aja yang ikut, dll. Ah, intinya belum benar-benar niat aja, sih. Nah tahun ini semoga saya bisa menyelenggarakannya. Pengen banget bisa berbagi -- meskipun mungkin hadiah nggak seberapa dan amat sederhana. Rasanya ada kebahagiaan lain saat menerima hadiah dari teman blog penyelenggara GA, meskipun sebenernya hadiah sama sekali nggak seberapa dari segi materi. Hadih terbesar dari sebuah GA menurut saya adalah terjalinnya silaturahim dan persahabatan. Dengan menyelenggarakan GA nanti, saya berharap semoga dapet lebuh banyak lagi teman lewar aktivitas nge-blog ini :)

Yup, dua itu saja resolusi saya. Terlihat sederhana. Tapi kalo nggak benar-benar diniatkan juga pasti nggak bakal kesampaian. Bismillah, semoga Allah kuatin niat saya :)

Kalo kamu, apa resolusi blog kamu di tahun 2015 ini? Share, yuk! :)


Tulisan ini diikutkan dalam IHB Blog Post Challenge

Masjid Arrahmah Purwogondo-Jepara, Anggun nan Menyejukkan di Tengah Keramaian

on
Selasa, 22 Juli 2014

Masjid Arrahmah Purwogondo, terletak persis di pertigaan Purwogondo – Jepara. Masjid itu berdiri anggun dan amat menyejukkan dipandang, ditengah hiruk pikuk lalu lintas kendaraan dan aktifitas manusia di sekitar situ, karena memang daerha tersebut merupakan titik pertemuan dari beberapa arah dan dekat dengan kawasan pertokoan dan pasar. Hari minggu kemarin saya sholat ashar di Masjid itu. Interiornya sangat indah, dengan nuansa Jepara yang amat kental – terlihat dari banyaknya aksen ukiran di semua kusennya. Suasananya di dalamnya amat syahdu, se-syahdu memandang bangunannya.




Terapi Hati

on
Jumat, 20 Juni 2014
Sedih dan bahagia. Bersemangat lalu malas. Merasa sangat sibuk kemudian sama sekali tidak punya kegiatan hingga dirantai bosan. Ya, begitulah hidup. Silih berganti, bergilir satu sama lain.

Seperti saat beberapa tahun lalu saya rasakan. Setelah berhasil menyelesaikan skripsi dan melewati ujian pendadaran dengan baik, tibalah saya pada masa tunggu sebelum wisuda. Mau apa? Bertahan di kost rasanya hanya membuang-buang biaya hidup saja. Mau mulai melamar kerja juga belum bisa maksimal karna hanya berbekal surat keterangan lulus. Pilihan terbaiknya tetap saja ‘anteng’ di rumah. Tapi saya merasa bisa mati bosan kalau tidak mencari kesibukan saat itu. Sayangnya waktu itu saya belum kenal dunia blogging, kecuali hanya sebagai ‘diary’ semata XD

Entah mendapat ide darimana waktu itu, saya tiba-tiba kepikiran untuk ‘berkarya’. Dan pilihan saya saat itu jatuh pada flannel. Yup, flannel memang sedang sangat naik daun waktu itu. Maka, dengan modal kurang dari lima puluh ribu, saya berbelanja kain flannel, lem lilin dan peniti di toko Satria – di kawasan Jalan Pemuda Semarang, ditemani seorang sahabat karib. Sesampainya di rumah, saya segera ‘bermain-main’ dengan kain flannel tersebut, menjadikannya bros jilbab – berbekal tutorial yang saya unduh dari internet.
Bros buatan saya yang kalau dibandingkan dengan buatan Mbak Susi ibarat bumi-langit itu kemudia saya titipkan di toko kakak perempuan saya yang kebetulan jug amenjula macam-macam aksesoris. Dan, wow… ternyata bros saya laku! Meski tidak seberapa hasilnya, mengingat kemampuan saya membuat bros juga hanya sekitar 3 bros sehari, tapi senang sekali rasanya waktu itu. Uang dari hasil penjualan saya gunakan untuk beli pulsa, karna orang tua saya tidak pernah memberikan jatah pulsa pada anak-anaknya, dan tidak pula memberi uang jajan saat sedang libur sekolah/kuliah – saya rasa itu salah satu bentuk pendidikan buat kami :).



Sayang, saya orangnya ‘anget-anget tai ayam’ :(. Semangat sekali di awal, mlempem kemudian. Apalagi setelah diterima kerja, otomatis kegiatan membuat bros saya tinggalkan sama sekali. Sampai akhirnya saya sampai pada titik yang sering disebut dengan istilah ‘titik jenuh’. Saya jenuh dengan aktivitas serba monoton di tempat kerja. Ditambah beberapa hal yang membuat mood dan perasaan menjadi labil sekali. Karna mood baca juga sedang agak buruk, akhirnya saya kembali memutuskan berpaling pada flannel. Saya membeli beberapa lembar kecil-kecil kain flannel yang dijual seharga Rp 1500,-, lalu kembali saya buat menjadi bros. tapi kali ini saya tidak menjualnya, melainkan saya pakai sendiri. Hihi. Dan seperti biasa, saya kembali bosan :(.

Salah dua karyaku :D

Waktu akhir maret lalu berkesempatan silaturahim ke rumah Mbak Susi, saya benar-benar dibuat takjub. Takjub pada keahlian beliau menyulap kain flannel menjadi bermacam-macam bunga indah dan menjadikannya sumber penghasilan. Takjub juga karna ternyata segala sesuatu itu ada ilmunya, dan dengan ilmu semua jadi lebih mudah. Memotong kelopak yang dam bayangan saya tampak amat rumit ternyata bisa jadi sederhana saat beliau memberitahukan tips dan triknya.

Saya jadi membayangkan, betapa menyenangkannya bisa menghasilkan uang dari bidang yang hobi yang memang sangat kita cintai. Selain menyenangkan saat melihat hasil karya kita, berketrampilan seperti ‘terapi hati’ bagi saya. Kegiatan itu terbukti ampuh membunuh kebosanan dan memperbaiki mood yang semula sangat berantakan. Beberapa hari ini, hasrat untuk berketrampilan lagi mulai kembali mengemuka. Tapi saya masih menundanya, untuk memastikan terlebih dahulu agar saya lebih bisa konsisten dan tidak sekedar (lagi-lagi) ‘anget-anget tai ayam’.

DARE TO DREAM!!! :)

on
Jumat, 16 Mei 2014
Dulu saya paling enggan ngomongin soal mimpi. Kenapa? mungkin karna saya pengecut :p. Iya, saya memang pengecut. Saya terlalu takut jika mimpi-mimpi saya ternyata tidak mampu saya gapai, lalu saya jatuh dalam lubang kecewa yang terlalu dalam *halah!*. Tapi nggak begitu dengansekarang. Sejak mulai (lumayan) rajin nge-blog dan cukup sering baca rancangan mimpi banyak orang, saya baru sadar bahwa berani bermimpi itu keren. Keren banget. Dan saya pikir berani bermimpi juga bisa jadi salah satu indikasi bahwa saya punya 'iman'. Bukankah Tuhan saya berjanji bahwa Dia akan memperkenankan permintaan Hamba-Nya yang mau meminta? Dan bukankah Dia juga berkata melalui sebuah hadist bahwa Dia sesuai persangkaan Hamba-Nya? Lalu, kenapa nggak saya kombinasikan saja: Bermimpi, berdoa, yakin akan tercapai, plus usaha tentunya :)

Yup! Jadi, entah kapan mulainya -- yang jelas belum lama, saya memutuskan untuk berani belajar bermimpi. Apa buktinya? Salah satunya saya memutuskan untuk bikin 'ruang baru' di rumah maya saya ini, yang saya kasih nama 'Kotak Mimpi'. Di situ saya 'memberanikan diri' untuk membiarkan mimpi-mimpi saya dibaca orang lain. Dulu jangan harap saya berani melakukan hal tersebut. Kan sudah saya bilang, dulu saya pengecutnya nggak kira-kira :D. Oh iya, tuh di deskripsi profil saya juga saya bilang saya sedang belajar bermimpi. Haha
dr. Google

Terus kemarin waktu lagi jalan-jalan (bahasa kerennya sih Blogwalking), saya nemuin giveaway menggiurkan dari Mbak Winda. Gimana nggak menggiurkan... kita disuruh nulis mimpi kita, terus di janjiin hadiah yang bikin mata ijo *oke, lebay!* :D. So, rugi banget deh rasanya kalo nggak ikut. Kali ini saya mau nulis beberapa mimpi saya yang saya yakin sekali akan mampu mewujudkannya (dengan ijin Allah, tentu saja). Saya bakal nulis 4 mimpi (saja) di tulisan kali ini. Salah satu udah pernah saya tulis sih di Kotak Mimpi. hihi. Oke, saya tulis dari mimpi yang paling kurang penting ke yang paling penting, yah. Emm, penting semua sih sebenernya bagi saya. Mungkin yang tingkat manfaatnya paling rendah lebih tepatnya :p.

1. Saya pengeeeeennn banget nonton live konser Kahitna. Kalo boleh ditambahkan lagi, saya pengen nontonnya nggak sendirian, tapi sama 'Bapaknya anak-anak' :D. Iya, saya tuh sukaaa banget sama Kahitna, terutama sama Kang Hedi Yunusnya. Saya nge-fans sama tuh orang sejak SD loh! *siapa nanya?!*. Saya juga pengennya nonton pake golden tiket -- biar nyaman dong tentunya. Tiketnya kayaknya lumayan mahal, ya? Nah, makanya saya pengen sama 'Bapaknya anak-anak'. Kenapa? Biara ada yang bayarin lah! :p. Ehh ehh, satu lagiii... saya nanti mau naik ke panggung, terus ngasih bunga ke Kan Heidi. Semoga diijini sama 'Bapaknya anak-anak'. Ahahaha. Saya berharap impian ini bisa terealisasi Tahun depan -- pokoknya pas Kahitna bikin konser. *udah ada si 'Bapaknya anak-anak' belum yaaa pas ituu T.T*. Kalo mimpi ini gak tercapai? Saya tetep bakal nonton konser Kahitna: LEWAT YOUTUBE!! :p

2. 23 tahun saya hidup di dunia, saya belum pernah naik kereta lhooo *nangis guling-guling*. Teruuuussss??? Ya saya pengen naik kereta!!! Terserah tujuannya ke mana, terserah sama siapa (cuma kalo bisa nggak mau sendiri). Pengeeeen banget segera mewujudkan impian yang ini. Cuma bener-bener nggak tau sama siapa. Mungkin kalo tujuannya bisa yang deket-deket dulu kali yaaa. Dari Semarang ke Jogja, misalnya. Lebih jauh lagi sih pengen kayak film 5cm tuh... ke Mahameru, trus kesananya naek kereta. Haha. Ayoookkk dooong, siapa yang mau ajak/temenin saya naik keretaaa???!!! *muka melas*. Saya berharap sudah bisa ngrasain naik kereta sebelum akhir tahun ini. Maka, mulai sekarang mau maksa-maksa temen buat mau nemenin saya kali yaaa. Haha. Kalo nggak ada yang mau atau keadaan nggak memungkinkan, emm, saya mau naek kereta wisata di Pantai Kartini - Jepara aja kali yaaaa.

3. Punya perpustakaan di rumah. Ini sih sebenernya impian udah nggak tau dari jaman kapan, udah lamaaaa. Dari segi usaha, yah paling nggak jumlah koleksi buku saya sudah mengalami peningkatan yang lumayan dibanding sejak pertama mimpi saya tercetus. Tapi ironisnya, saya belum punya rak buku! *tersedu*. Saya udah berencana beli rak buku beberapa kali, tapi nggak tau kenapa adaaaa aja yang bikin jadi tertunda. Kenapa pengen punya perpustakaan di rumah? Motivasinya jangka panjang banget sih kalo ini. Berharap dengan ada perpustakaan di rumah, anak-anak saya nanti jadi cinta baca. Kalo saya sih belum bisa dibilang cinta-cinta banget -- tapi kan saya pengen generasi penerus saya jauh lebih baik dari emaknya. Heuheu. Pengen banget lihat mereka kelak akan jauh lebih tertarik pada buku cerita dibanding acara-acara televisi yang bakal bikin mereka lihat joget kayak kebanyakan acara akhir-akhir ini T.T. Emm, pokoknya sebelum akhir tahun ini saya sudah HARUS beli rak buku dan bikin perpustakaan mini di ruangan yang sudah saya siapin di rumah.

4. Mimpi terakhir yang mau saya deklarasika di sini adalah: Jadi Ibu yang bisa ngasih ASI eksklusif ke anak-anak saya nanti sampe mereka umur 2 tahun. Kenapa? Yah, alasan utamanya tentu saja tentang kelebihan ASI yang segambreng dan kayaknya nggak perlu saya jabarkan di sini (pasti udah banyak yang tahu lah, ya!). Yang saya tahu, kalo anak ngASI tuh pasti ikatan batin sama ibunya jauh lebih kuat. Motivasi lain, saya pengen membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya pasti bisa. Soalnya, lingkungan saya akhir-akhir ini, yang dulunya 'fanatik' sama ASI tuh mulai bergeser pemahamannya, dan seolah beranggapan "Ya nggak papa nggak ASI, asal dikasih Sufor yang Muahaaal!". Ya Allah... yakin deh sufor yang mahal sekali itu tetep nggak bakal bisa ngalahin produknya Allah. Iya, nggak?! Waktu Mbak saya hamil, terus saya mencoba menekankan agar dia kasih ASI eksklusif ke anak nanti, dia bilang, "Saya nggak se-naif kamu! Lihat sikon aja!". Omaigad, saya naif?! Iya, soalnya dia beranggapan saya belum bener-bener tau susahnya kasih ASI eksklusif sambil tetep kerja. Tapi kaaann.. itu buktinya banyak juga kok yang bisa. Bahkan sampe ada yang stok ASI-nya berlimpah dan cukup buat berbulan-bulan ke depan. So, saya bertekad akan membuktikan bahwa saya BISA! Emm, saya udah nge-keep botol-botol yang buat nyimpen ASI itu sih (punyanya kakak ipar yang nggak jadi ke-pake). Jadi nanti nggak usah beli. Heuheu. (Nikah aja belum udah nge-keep botol penyimpan ASI??? Ya nggak papa!!!). Semoga akhir tahun depan saya sudah benar-benar bisa merasakan menjadi BundASI. *berdoa khusyuk*, Aamiin.

Itu dulu aja kali yaaa mimpi yang saya deklarasikan di sini. Tentu saja bukan berarti mimpi saya cuma itu. Yang jelas, sejauh ini saya percaya bahwa menuliskan mimpi berarti berdoa dalam cara yang lain. Saya harap saya selalu ingat untuk menyertakan Allah dalam tiap impian saya. Dan saya harap, dengan menuliskan mimpi di tempat yang memungkinkan untuk di baca orang (banyak), semoga akan semakin banyak pula yang bersedia turut mengaminkannya :)

Diary Sang Zombigaret

on
Kamis, 15 Mei 2014
Aku terbaring di ruangan sepi yang seluruh temboknya dicat warna putih. Mataku menatap kosong langit-langit kamar. Hening. Tiga orang yang paling aku kasihi pun seperti terbungkam, hanya tangan mereka yang sesekali tampak menyeka sudut mata.

Ah, sesak sekali rasanya dadaku. Tak sedikitpun pernah terlintas dalam benakku bahwa aku akan menjelma zombie seperti ini. Bukankah dua bulan lalu sakit di lidahku ini tak lebih dari sekedar sariawan biasa? Ya, hanya sariawan – yang semakin hari semakin nyeri.

“Ayolah, Yang… periksa ke dokter yang lebih ahli…”

“Kamu apaan sih… nggak usah parno berlebihan gitu deh! Ini tuh cuma sariawan, Cuma agak parah. Lagian kemarin kan aku juga udah periksa!”

Begitulah. Berkali-kali dia mengingatkan, berkali-kali pula aku membantah. Hingga seminggu lalu aku tak lagi mampu menahan rasa sakit di mulutku, lalu memilih menuruti apa katanya. Dia pula yang susah payah mengatur pertemuanku dengan Dokter Ridwan – dokter spesialis Onkologi paling senior di kotaku.

“Saya curiga ini adalah tumor ganas…”

Kalimat Dokter Ridwan tersebutlah yang menjadi awal kiamat bagi diriku. Kalimat yang seperti menobatkan gelarku sebagai zombie – manusia setengah mayat. Dan di sinilah aku hari ini. terbaring dalam ruangan sepi, dengan baju warna hijau menyerupai daster ibuku, orang-orang berbaju putih bersih, dan berbagai peralatan yang mengerikan sekali di mataku.

“Harus di biopsy – untuk tahu tingkat keganasan tumornya…”

oOo
“Ayolah… lo laki bukan, sih? Ini bakal bantu kamu banget biar mata tetep bisa melek!” Kata Andre, temanku. Malam itu kami sedang mengerjakan laporan praktikum semalam suntuk. Ah, aku tidak pernah membayangkan kuliah di jurusan teknik yang sejak dulu menjadi impian akan seberat ini. Dan entah begaimana aku memulainya, akhirnya benda kecil panjang berwarna putih itu menjelma sahabat karibku. Agar tetap terjaga, begitu dalih pembenaranku ke Ibu dan pacarku yang tak begitu suka pada sahabat baruku tersebut.

Ya, ternyata aku memang tidak salah. Sahabat karibku itu memang ampuh sekali membuat aku selalu terjaga. Bahkan hingga hari ini. Aku terjaga bersama rasa sakit yang entah bagaimana harus mendeskripsikannya. Sakit luar biasa yang tak sedikitpun pernah terlintas di benakku.

“Ya, positif kanker… stadium 3…” ucap Dokter Ridwan lirih.

Aku menangis. Meraung. Meratapi takdirku. Kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa bukan teman-temanku yang mempengaruhiku mengakrabi benda laknat itu??!! Ibuku pingsan. Ayahku tersedu. Kekasihku memilih menyembunyikan wajahnya dariku. Oh, Tuhan…

Sejak saat itulah aku ‘resmi’ menjadi zombie. Tak ada lagi wajah ganteng yang kata banyak orang pantas jadi artis. Yang tersisa hanya wajah tirus serupa tengkorak hidup. Tak ada lagi rambut a la Boyband Korea, karna satu persatu helainya mulai rontok – sebagai efek kemoterapi dan radioterapi.

Lalu bagaimana masa depanku? Kuliahku yang tinggal dua semester lagi? Kuliah yang dulu aku jadikan alasan terkuat mengakrabi barang laknat itu. Ah, terlambat. Tak lagi ada guna semua sesal itu. Lihatlah, semua orang memandang dengan raut – entah iba atau takut – melihatku berjalan dengan di papah salah satu temanku serta seorang suster pendamping. Ya, aku memaksa datang untuk melakukan seminar atas tugas akhirku. Aku tidak tahu apa ini masih ada gunanya bagi hidup seorang zombie. Yang pasti, aku ingin membuktikan pada orangtuaku bahwa aku berani bertanggung jawab atas resiko apapun di balik setiap pilihan hidupku – termasuk pilihan untuk pernah menjadikan benda putih itu sebagai teman.

oOo
**Tulisan ini saya tulis sambil terkenang sosok seorang teman yang telah berpulang ke Haribaan Allah hampir setahun lalu: Gandhung Wahyu Irawan. Meski saya tak tahu persis apa sebenarnya penyebab utama atas kanker lidah yang menuntunnya pada ajal. Semoga Allah melapangkan alam kuburnya, serta mengganti tempatnya di dunia dengan tempat yang lebih baik 'di sana'. Aamiin.

Signature

Signature