Kamis, 18 September 2014

Adakalanya Kita Harus Menutup Telinga

Pada suatu pagi beberapa minggu lalu, sembari memasak bersama, seperti biasa saya bercerita pada Ibu. Tentang betapa jengahnya saya atas sikap beberapa orang di sekitar saya. Saya jengah melihat adaaaa saja cara mereka menilai sesuatu dari sisi negatifnya.

Kebetulan seorang teman belum lama menikah. Dan seperti layaknya orang yang tengah dimabuk asmara, tentu hal yang amat sangat wajar jika ia sering sekali bercerita tentang hal-hal yang berkaitan tentang hidup barunya -- terutama soal suami. Hei, jangankan yang sudah menikah. Yang belum jadi siapa-siapanya aja kalo lagi jatuh cinta kayak nggak pernah capek cerita tentang sosok sang penawan hati tersebut, kan?!

Nah, yang bikin saya jengah adalah... ketika mereka lalu seolah menertawakan. 'Mentang-mentang udah punya suami... suamiiiiii terus yang diomongin'. Oke saya bisa ngerti. Kadang memang jengah juga denger seseorang cerita tentang hal yang itu-itu terus. Tapi masalahnyaaa... sebelum si temen itu nikah, sesaat setelah kabar pertunangannya (yang memang agak mendadak) orang-orang rame ngomongin. 'Kok nggak pernah mau ngomongin soal calonnya ya, suka beneran nggak sih, jangan-jangan dijodohin, bla bla bla...'. Eehh sekarang si temen rajin cerita ganti dikomentarin gitu! Saya sempet ngomong langsung sih, 'Kemaren-kemaren dia nggak pernah mau cerita dibilang kayak nggak beneran suka, sekarang cerita-cerita eeeh dikomentarin gitu! Nanti kalo dia habis nikah nggak pernah cerita-cerita pasti deh pada ngira nggak cinta lah, nggak bahagia lah, dll!'

Saat itu ibu saya cuma senyum. Lalu beliau mengingatkan saya pada kisah tentang seorang bapak, anak dan keledainya. Waktu si bapak dan anak hanya menuntun keledai tersebut, dikatain sama orang, 'bodoh banget sih. Punya keledai kok gak dinaikin malah cuma dituntun aja!'. Setelah si Anak menaiki keledainya, ada yang komentar, 'Ih, anak durhaka! Masa' bapaknya jalan dia enak-enakan naik keledai!'. Saat si anak memutuskan turun dan menyuruh bapaknya naik, ada lagi nih yang komentar, 'Bapak macam apa itu, kok tega sekali sama anaknya'. Lalu ketika mereka berdua akhirnya naik di atas keledai itu, tetep aja ada yang komentar, 'Duh duh duh... dua orang itu nggak punya perasaan ya sama hewan. Masa' keledai kecil dinaikin berdua!'. Pernah denger kisah itu, kan? Saya ceritain ulang pake gaya serabutan sesuka saya. hehe.

Gambar dari sini
Saya beberapa kali denger kisah ini tu Bapak sama Anak. Tapi nemu gambarnya kok Suami sama Istri. hehe. Tapi intinya sama kok :)

Apa yang bisa diambil dari kisah tersebut? Yup, ya seperti itulah hidup di tengah orang banyak. Masing-masing orang punya sudut pandangnya masing-masing, ya seringkali hobi komentarin orang tanpa mau tahu apapun latar belakang masalahnya. Waktu itu Ibu saya berpesan bahwa nggak semua omongan orang harus kita dengar. Adakalnya kita harus menutup telinga dari apapun perkataan orang. Kalo semua kata orang kita dengarkan dan kita pikirkan, akan ada banyaaaakk sekali energi yang terbuang. Bahkan mungkin akan merusak hati kita sendiri dengan banyak rasa sakit hati.

Saya mencatat dengan baik di otak saya nasehat ibu saya itu. Dan hari ini -- ketika saya sedang merasa terganggu dengan omongan beberapa orang -- saya sedang merasa perlu membuka nasehat itu kembali, dan membaginya di sini :)

Ya, bagaimanapun akan selalu ada orang-orang yang menilai kita dari sisi negatif -- nggak peduli sekeras apa kita berusaha untuk berlaku baik. Akan ada banyaaaakkk sekali energi yang terbuang saat kita ngotot pengen bikin semua orang mendukung apapun yang kita lakukan, dan memujinya.

Jadi, yuk, fokus sama penilaian Allah saja :)
#NoteToMaySelf

7 komentar:

  1. Aahh... bener Mbak, omongan orang itu adaaa aja meski kita udah merasa berbuat benar. Hmm.. kalo emang kita udah yakin berusaha berbuat benar, ya gapapa. Tapi kalo masukan dari orang lain ternyata ada benarnya juga, ambil aja. Ya toh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, betul. Intinya harus pinter2 nyaring ya. Jangan semua di dengerin. Tapi kalo mmang nasehat baik ya harus kita dengar.

      Hapus
  2. Klo nggak salah itu kisahnya Nashrudin (klo nggak salah lho ya, hehehe)

    Iya dek Rossa, bener banget. Harus pintar-pintar menyaring kritik dan saran yang diberikan ke kita. Sekadar share, Saya dulu sampai keguguran juga salah satunya karena kebanyakan dengerin komentar orang tentang kehamilan saya... Kejadian itu jadi pelajaran yang sangat berharga buat saya.

    :) Keep sharing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuuhh... pelajaran mahal banget yaa mbak, ituu :((

      Semoga Allah ganti dg yg lebih baik ya mbak :))

      Hapus
    2. Iya, pelajaran mahal. Tp begitulah jalannya. :')

      Insya Allah, makasih doanya ya :))

      Hapus
  3. setuju bangettt
    kenapa
    kita jadi menujukan diri pada hal-hal yang hampa kalau memfokuskan pada penilaian manusia
    semangat cha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang mbak... dan penilaian manusia itu kadang melenakan, yaa..

      Semangat jg mba ninda :))

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)