Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Ramadhan dan Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Hikmahnya?

on
Jumat, 08 Mei 2020
Ramadhan dan Lebaran tahun 2020 ini, pastilah akan menjadi salah satu Ramadhan dan lebaran tak terlupakan dalam hidup kita. Apalagi kalau bukan karna kita menjalani Ramadhan dan lebaran tahun ini di tengan pandemi covid-19 yang sedang melanda dunia.

beberapa hari lalu, saya melihat postingan bagus dari salah satu akun favorit saya di Instagram, yaitu @quranreview. Di situ, ada postingan yang isinya cukup menyentil orang-orang -- utamanya diri saya sendiri -- yang kadangkala sering bertanya "mengapa harus seperti ini kondisinya?"

@quranreview menerangkan bahwa di dalam Al Qur'an dikisahkan tentang malaikat dan Iblis yang juga pernah bertanya senada dengan itu. Yaitu menanyakan alasan atas ketetapan Allah. Malaikat bertanya 'mengapa?' ketika Allah hendak menciptakan manusia (ada dalam Surah Al Baqarah:30).

Sedangkan Iblis bertanya 'mengapa', ketika Allah memerintahkan untuk bersujud kepada Adam 'Alaihissalam (ada dalam Surah Al Isra':61).

hikmah-ramadhan-di-tenga-pandemi
credit: Pixabay


Lalu apa bedanya antara malaikat dan iblis dalam hal ini? Bedanya terletak pada respon setelahnya. Malaikat langsung berkata:

"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (TQS. Al Baqarah:32)

ketika Allah mengatakan:

"...Senungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (TQS. Al Baqarah:30)

Sedangkan Iblis tetap ingkar dan bertanya dengan nada komplain dengan berkata, "Apakah aku harus bersujud kepada orang yang engkau ciptakan dari tanah?" (TQS. Al Isra':61).

So, kita boleh bertanya-tanya, "mengapa ya suasana Ramadan dan persiapan lebaran tahun ini beda kondisinya seperti ini?" -- boleh, itu manusiawi. Hanya saja, jangan lupa untuk menutupnya dengan berkata, "Subhanallah..." dan menanamkan keyakinan bahwa apapun kondisi yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi kita semua.

Lagipula kalau kita mau merenung lebih jauh lagi, sebenarnya ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini juga membawa banyaaaak sekali hikmah, meski tidak dipungkiri ada jauh lebih banyak kepahitan. Tapi sebagai orang beriman, alangkah baik jika kita tetap mensyukuri hikmah yang ada meski terlihat sedikit di mata kita.

Apa saja sih hikmah Ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini?

Di keluarga saya sendiri, ada beberapa hikmah yang sangat saya rasakan, utamanya untuk diri saya. Di antaranya, fokus ibadah saya jauh lebih baik dibanding Ramdhan tahun-tahun sebelumnya -- terutama sejak punya anak. 2 Ramadhan terakhir setelah saya punya Faza, ibadah saya kacau balau. Tilawah Al Qur'an nggak pakai target, sedapetnya. Dan dapetnya sedikiiittt sekali. Tarawih pun jauh lebih banyak bolongnya, karna orang rumah pada tarawih ke masjid, sedangkan saya belum memungkinkan bawa Faza ke masjid untuk tarawih (karna butuh wkatu lama dan dia pasti crancky).

Tahun ini tilawah dan tarawih saya membaik sekali frekuensinya -- meskipun juga tetap belum bagus-bagus amat. Karena WFH, otomatis waktu saya untuk tilawah jauh lebih banyak. Tarawih pun bisa di rumah bareng dengan keluarga, jadi Faza pun tetap enjoy.

Hikmah selanjutnya adalah kami nggak perlu disibukkan dengan berbagai agenda buka bersama. Sehingga bisa full buka bersama keluarga dan membuat kedekatan semakin terbangun. Bukannya menganggap buka bersama itu agenda yang nggak baik atau nggak penting. Hanya saja diakui atau tidak, jika agenda buka bersama terlalu sering, biasanya ibadahnya juga makin kacau. Soalnya seringkali buka bersama pasti waktunya melewati waktu tarawih.


Sedangkan tentang lebaran, harus diakui berat sekali membayangkan lebaran nanti nggak bisa bertemu dengan keluarga di kampung dan sanak saudara. tapi -- lagi-lagi -- pasti ada hikmahnya. Yang saya rasakan hikmahnya adalah, saya nggak terlalu sibuk memukirkan tentang baju lebaran, sendal lebaran dan berbagai macam hal yang biasanya saya pikirkan setiap menjelang lebaran. Singkat kata, jadi nggak terlalu konsumtif. Apalagi jika melihat banyak sekali saudara yang butuh uluran tangan di tengah kondisi sulit ini.

Subhanallah. Maha suci Allah yanag nggak akan memberi kita cobaan melampaui batas kemampuan kita. Semoga semua ini seger berlalu, dan semoga kita menjadi orang yang berhasil mendapatkan hikmah dari beratnya kondisi ini. Aamiin.

Apa hikmah ramadhan dan lebaran di tengah pandemi ini untuk teman-teman?

#Ramadhan: Shade Favorit Wardah Exclusif Matte Lip Cream

on
Senin, 20 Mei 2019
Pertama kali kenal sama yang namanya lip cream, ya sama Wardah Exclusif Matte Lip Cream ini.

Dan lip cream wardah ini pula yang bikin saya akhirnya tergila-gila sama lip cream. Gak pernah beli lipstik lagi. Belinya selalu lip cream. Satu belum habis, pasti udah tergoda beli lagi. Gitu aja terus, sampe akhirnya saya punya lebih dari 5 lip cream. Sesuatu yang gak pernah saya sangka akan terjadi. Hehehe.

Koleksi lip cream saya gak semua dari wardah sih. Cumaaa, yang paling banyak ya Exclusif Matte Lip Creamnya Wardah. Kenapa? Love banget sama pilihan shadenya!



Banyaaakk, dan aduh bagus-bagus banget menurut saya. Harganya terjangkau pula kan. Makin-makin deh lovenya!

Setelah dua tahun lebih pakai exclusif matte lip cream wardah, saya sudah punya shade terfavorit yang kayaknya akan selalu re-purchase.

1. Mauve On (09)

2. Pinky Plumise (15)

Sedangkan shade yang belum kesampaian saya beli tapi masuk wishlist saya adalah:

1. Fruit Punch (13)

2. My Honey Bee (14)

Satu hal yang saya pelajari setelah dua tahun menjadi penggemar lip cream (sebelumnya mah pake lipstik pun jarang banget).



Bahwa ternyata, memilih shade sebuah lipstik atau lip cream itu gak bisa asal. Gak bisa sekedar lihat pilihan warnanya, terus pilih yang menurut kita bagus. Karna shade yang bagus, belum tentu cocok ketika kita pake.

Makanya kadang kalo beli di counter terus kita nyobanya Cuma dengan cara dioles ke punggung tangan, sampe rumah suka kecewa kan. Lhooo, kok gini. Perasaan tadi bagus, kok ternyata jelek. Gitu kan ya?

Beneran ini saya baru tau banget. Gara-gara beberapa bulan lalu sempet sok-sok beli shade yang nude gitu. Setelah dipake eh ternyata sama sekali gak cocok di muka saya. Karna kesannya bikin uka saya jadi terlihat kusam gitu. Terus beberapa teman komentar, kamu sakit apa gimana kok pucat gitu? Haha.

Nah makanya sama shade lip cream wardah di atas itu saya selalu re-purchase, karna udah merasa cocok banget di muka saya ketika dipakai.

Kalian apa shade favoritnya??

#Ramadhan : Penyebab Bau Mulut Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

on
Rabu, 15 Mei 2019
Sudah jadi rahasia umum ya kalo saat sedang berpuasa, kita sering dilanda permasalahan tentang bau mulut. Iya sih kayaknya sepele. Tapi bisa bikin kepercayaan diri bener-bener anjlok seanjlok-anjloknya lho.


Rasulullah bersabda, "sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi" (HR. Muslim)
Tapi bukan berarti kita gak perlu mencari solusi atas permasalhan bau mulut saat kita sedang berpuasa lho ya.

Terus gimana dong? Kan gak mungkin juga kita sekaligus puasa bicara juga selama ramadhan. Hehe. Bisa pada bingung nanti orang-orang di sekitar kita.

Maka dari itu, kita harus mencari solusi atas permasalahan tersebut. Dan sebelum mencari solusi, alangkah baiknya kita mencari tau, apa saja sih penyebab bau mulut saat puasa.

Penyebabnya antara lain adalah kondisi dari rongga mulut kita. Di antaranya adalah:

1. Masih ada sisa makanan yang tidak terjangkau saat kita sikat gigi

2. Adanya gigi yang rusak

3. Adanya karang gigi

4. Kurangnya cairan saliva saat kita sedang berpuasa

Selain dari kondisi rongga mulut, bau mulut bisa juga disebabkan kondisi rongga dalam seperti organ-organ pencernaan kita. Saat sedang berpuasa, lambung tetap mengeluarkan cairan untuk mencerna makanan. Cairan itulah yang kadang mendesak keluar dan menyebabkan bau tidak sedap saat kita berbicara.

Lalu gimana caranya mengatasi permasalahan bau mulut saat sedang berpuasa?

Ada beberapa tips yang patut dicoba.

1. Perbanyak minum air putih saat buka dan sahur.

2. Gosok gigi seusai berbuka dan sahur. Pastikan gosok giginya bersih dan tidak ada sisa makanan yang tertinggal di dalam mulut kita.

3. Periksakan kondisi gigi secara teratur ke dokter gigi. Bisa juga saat menjelang Ramadhan ya. Sebagai salah satu bentuk persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

4. Berkumur tiap wudhu. Berkumur tidak membatalkan puasa lho selama kita bisa memastikan tidak ada yang tertelan.

 Kalau masalah bau mulut saat berpuasa sudah bisa kita atasi, semoga ibadan kita semakin khusyuk ya. Dan kita juga tetap bisa beraktivitas seperti biasa, tanpa minder dan takut orang-orang di sekitar kita terganggu dengan bau mulut kita saat puasa.


#Ramadhan: Sikat Gigi Saat Puasa, Boleh Nggak sih?

on
Selasa, 14 Mei 2019
Sikat gigi saat puasa, boleh gak sih?


Siapa yang masih penasaran dan sering bertanya-tanya soal itu?

Banyak yang masih bingung ya soal ini. Mau sikat gigi kok takut puasanya batal. Tapi kalo gak sikat gigi kok ya takut keluar naganya. Hehehe.

Saya juga sebelumnya termasuk yang penasaran soal ini. Tapi Alhamdulillah setelah belajar, sekarang saya ssudah menemukan sebuah pencerahan yang menentramkan. Cieee.

Iya, lho. Kalo penasaran sama sesuatu, terus udah nemu jawabannya kan bikin tentram dong? Gak peduli seremeh apapun hal itu. Apalagi ini perkara ibadah ya.

 Nah, siapa tau ada yang masih bertanya-tanya, saya ingin sharing tentang ini yaaa.

Berdasarkan hasil belajar saya, sikat gigi saat puasa itu boleh kok. Gak membatalkan puasa.

Atas dasar apa?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak solat" (HR. Bukhari)

Nah, bersiwak ini kan di masa sekarang bisa disamakan dengan sikat gigi ya. Meskipun alatnya beda. Kalo Rasulullah saja hendak memerintahkan kita untuk bersiwak setiap waktu sholat, berarti sikat gigipun gitu. Gak ada kata kecuali di bulan Ramadhan.

Ada beberapa ulama yang menyebut jika makruh menggunakan siwak basah. Namun, ada beberapa ulama yang menyangkal, karna bahkan air bening pun ada rasanya kan? Tapi kita masih boleh kumur-kumur.

Jadi, asal kita bisa memastikan bahwa tidak ada sedikitpun cairan atau pasta gigi yang masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut, Insya Allah sikat gigi saat puasa itu boleh. Jangan sampai ada yang tertelan, apalagi kalo sikat giginya yang tertelan, ya pasti batal dong 😂

Tapi, alangkah baiknya kita berhati-hati demi menjaga puasa kita. Jadi sebisa mungkin sih sikat giginya sebelum subuh, dan setelah berbuka puasa atau sebelum tidur. Biar aman.

Nahh, kalo di hari-hari biasa sikat giginya dua kali sehari doang, terus pas ramadhan tiba-tiba sikat giginya jadi lima kali sehari sih jelas deh, modus itu mah 😂

Wallahu a'lam bisshawwab. Mohon mencari rujukan referensi yang jauh lebih terpercaya background keilmuannya yaa. Jangan hanya puas setelah baca tulisan ini.

#Ramadhan: Cerita Perjalanan Menghilangkan Jerawat dan Tipsnya

on
Senin, 13 Mei 2019
Yang sudah kenal saya dan baca blog ini lama (semoga ada semoga ada semoga ada 😂) pasti tau saya pernah gelisah galau dan merana gara-gara jerawat. Bahkan salah satu trigger di blog ini banyak bahas skincare juga karna saya pernah punya jerawat parah.



Padahal dulu jaman kuliah, saya hampir gak pernah berjerawat. Padahal dulu pake facial foam pun enggak lho. Air doang, udah. Mungkin karna masih muda dan metabolisme masih bagus ya.

Mulai muncul satu-dua jerawat sejak saya kerja dan tinggal di Semarang (lagi) setelah dua tahun tinggal di Jepara. Mungkin karna Semarang polusinya makin meningkat ya. Tapi yang paling parah adalah ketika saya hamil Faza, dan pasca melahirkan Faza. Bener-bener parah pakai bangeettt. Huhu.

Perjalanan untuk menghilangkan jerawat adalah perjalanan yang terjal dan berliku bagi saya. Halah. Hihi.

Iya. Soalnya bandel bangettt jerawatnya. Berbagai produk saya coba, gak mempan. Produk pertama yang akhirnya bisa menolong saya dari keterpurukan gara-gara jerawat adalah sabun NuAmoorea.


Tapi terus saya berhenti pakai sabun itu karna beberapa alasan, dan kembali pakai skincare drugstore. Dan... jerawatnya balik dong! 😭


Saya kemudian memutuskan mencari ilmu tentang perawatan kulit wajah dan skincare. Lalu ketemulah dengan channel-nya Female Daily yang bertajuk #Skincare101 yang saat itu masih dibawakan oleh Affi Assegaf.

Dari situ saya belajar banyak banget. Bahwa ternyata, perkara menghilangkan jerawat itu gak bisa lho sekedar dengan ditemplokin macem-macem produk. Ada pakemnya.

Nah, berikut ini saya ingin membagi beberapa tips untuk menghilangkan jerawat yang saya dapatkan dari perjalanan panjang dan berliku. Hihi. Simak yuuk.

1. Jaga Makanan

Yep. Makanan itu salah satu faktor penting yang menentukan kesehatan kulit kita. Terutama jerawat hormon seperti yang saya alami pasca melahirkan. Jerawat saya merajalela, karna selain hormon yang sedang kacau, juga didorong pola makan saya yang amburadul.

FYI, masa-masa pasca melahirkan saya hampir tiap hari minum coklat panas 2-3 kali sehari. Bayangkan -___-

Jadi kalo pengen kulit sehat tanpa jerawat, perhatikan makanan kita. Banyakin buah, sayur dan air putih adalah koentji.

2. Disiplin Cleansing

Kalo saya pikir-pikir, dulu tu saya dzalim banget sama wajah sendiri. Tiap hari terpapar polusi, debu, dll, tapi gak pernah bersihin muka. Kebangetan ya.

Mau produk apapun ditemplokin, kalo wajahnya gak dalam kondisi bersih, ya percuma. Karna jerawat itu salah satunya yang bikin tumbuh subur ya karna kotoran yang gak dibersihkan dengan sempurna.

Bahkan cleansing itu ternyata gak cukup cuma pake facial foam. Harus double cleansing. Saya baru sekitar 5 bulan ke belakang ini menerapkan double cleansing. Apa itu double clensing? Kapan-kapan saya bahas di postingan berbeda yah.

3. Jaga Kelembaban Kulit Wajah

Lembab, ya. Bukan berminyak.

Karna dulu tu saya sering ngira berminyak sama dengan lembab. Dan lembab artinya akan mudah berjerawat. Wkwkwkwk, ternyata salah kaprah.

Justru salah satu kunci kulit sehat adalah kulit yang terjaga kelembabannya. Karna konon kalo kelemabab terjaga, jerawat gak akan gampang muncul.

Soal gimana caranya menjaga kelembaban, silakan googling. Hihi. Kalo saya sih dengan pake toner yang punya fungsi melembabkan, karna kulit wajah saya termasuk kombinasi kering-berminyak.

4. Rutin Mengangkat Sel kulit Mati

Ini bisa dengan cara scrubing atau pake exfoliating toner ya. Tergantung yang mana yang cocok dan nyaman buat diri sendiri. Kalo saya lebih suka pake exfoliating toner sih.

5. Jangan Sering Pegang Muka Pake Tangan

Ini penyakit saya banget huhu. Jahil banget tangannya. Padahal tangan kan lebih serng kotornya dibanding sterilnya kan -___-

Pokoknya kalo penyakit jahil saya lagi kumat, pasti jerawat bermunculan. Diikat aja apa yaa tangannya. Wkwkwk.

Udah, 5 itu aja tipsnya. Hehe. Pokoknya buat kalian yang sedang berjuang untuk menghilangkan jerawat, jangan menyerah yaaaa.

Jangan berputus asa dari rahmat Allah, hehe.

Luv luv, peluuuuk.

#Ramadhan: Make Up Tanpa Tabarruj Untuk Wanita Berhijab

on
Minggu, 12 Mei 2019
Semua wanita cantik. Tai hampir semua wanita juga merasa harus melakukan beberapa usaha untuk menjadikan dirinya lebih cantik. Atau setidaknya, membuat dirinya sendiri percaya bahwa dirinya cantik.


Salah satunya melalui make up. Make up bisa dibilang jalan paling instan untuk mengangkat kepercayaan diri seorang wanita. Tidak terkecuali wanita berhijab.

Ya iya dong. Wanita berhijab juga pasti tetep pengen terlihat atau merasa cantik. Tetap pengen oles-oles make up juga. Cumaaa, kan tetep harus ada bedanya yaa sama yang belum berhijab.

Bukannya mengkotak-kotakkan sih. Ya tapi namanya keputusan kan pasti ada konsekuensinya. Termasuk konsekuensi atas keputusan memakai hijab 😊

Jadi menurut saya sih, wanita berhijab juga tetep boleh-boleh aja kalau mau pake make up. Asalkan tetap dalam koridor aja.

Nah, salah satu koridor untuk muslimah atau wanita berhijab adalah larangan bertabarruj.

Apa itu tabarruj? Setau saya, tabarruj adalah suatu usaha untuk menampakkan kecantikannya di depan lelaki yang bukan mahramnya. Entah itu melalui pakaian ketat, make up menor, dll.

Jadi harus gimana dong agar wanita berhijab tetap bisa memakai make up tanpa bertabarruj?

1. Luruskan niat

Kayak mau nikah aja yaa luruskan niat. Hihi. Yah tapi emang sih, yang butuh niat lurus mah hampir segala aspek kehidupan. Halah.

Tidak terkecuali make up-an dong. Niatnya harus lurus. Bismillah ingin merawat diri sebagai ciptaan Allah. Bismillah untuk nyenengin suami.

Jadi jangan, Bismillah make up-an biar banyak laki-laki tertarik padaku. Oh, noooo!

2. Jangan terlalu menor atau mencolok

Make up mah katanya soal selera yaa. Tapi kalo menurut saya sih, wanita berhijab sebaiknya tidak terlalu menor atau mencolok yaa make up-nya. Biasa aja. Flawless kayak Raisa gituuu.

3.Tanpa sambung dan cukur

Iyes. Gak perlu pakai bulu mata dan mencukur alis. Karna setau saya dua hal itu dilarang.

4. Cari produk make up yang halal

Ini sih wajib ya. Dan gak butuh penjelasan panjang.

Nahh, dengan 3 hal itu, Insya Allah wanita berhijab tetap bisa pake make up, tapi gak jatuh ke dalam tabarruj ya.

Kalo saya sih emang dasarnya gak terlalu suka pake makeup, dan gak bisa. Hihi. Make up mentok lipstik doang. Bedak pun enggak.

Ada yang kayak saya juga?

#Ramadhan: Yang Harus diperhatikan Saat Banyak Promo Belanja Online

on
Sabtu, 11 Mei 2019
Ramadhan kalo di Indonesia bukan cuma saatnya beribadah pol-polan, tapi juga saatnya belanja pol-polan. Iya apa iya, gengs?



Di bulan ramadhan, perasaan semua-mua jadi terlihat menarik. Apalagi kalo lagi buka marketplace. Wuiihh, Beneran kalap kalo pengendalian diri gak bagus. Belanja online pasti bakal meningkat drastis dari bulan-bulan selain ramadhan. Terbukti dengan jasa ekspedisi yang pasti overload setiap ramadhan. Huhu.

Tentu saja kecenderungan yang seperti ini tidak dilewatkan begitu saja oleh para pebisnis, terutama pebisnis online. Mereka akan melakukan berbagai strategi marketing untuk menggenjot penjualan di bulan penuh berkah ini. Salah satunya dengan cara memberikan berbagai promo belanja online.

Tapi sebagai konsumen, kita kudu tetep cerdas dong. Jangan sampai nafsu belanja kita mendominasi dan membutakan segalanya. *halah

Jadi tetep ada yang harus diperhatikan saat banyak promo belanja online seperti di bulan ramadhan ini. Agar keinginan belanja terpenuhi, tapi tetap gak lepas kendali.

Apa aja sih yang harus diperhatikan saat ada banyak promo belanja online? Cekidoott!

1. Skala Prioritas

Yep. Skala Prioritas adalah segalanya. Skala prioritas adalah salah satu alat pengendalian diri yang paling efektif. Terutama saat banyak godaan promo belanja online seperti sekarang ini.

Saat ada barang yang sedang promo, coba lihat dulu barang tersebut ada di posisi nomor berapa dari skala prioritas kita. Kalo ternyata ada di urutan terbawah, atau bahkan sama sekali gak ada di daftar skala prioritas kita, yaudah gak usah dibeli meski sedang promo dan jatuhnya murah sekali.

Kita kan harusnya membeli apa yang kita butuhkan. Bukan membeli apa yang sedang murah. Murah tapi kalo gak ada manfaatnya bagi kita, ujung-ujungnya pasti cuma akan jadi sampah kan?

2. Cek Harga

Kalo lihat promo tuh kita perempuan kadang suka impulsif. Wuih promo, apalagi ada embel-embel flash sale, udah deh langsung main klik beli aja. Eh begitu transfer, ternyata harganya sama aja dengan harga normal di toko sebelah. Wkwkwkwk.

Makanya, please sempetin cek harga. Jangan impulsif. Cek harga normalnya berapa. Cek harga di toko sebelah berapa. Soalnya gak jarang lho embel-embelnya promo, tapi jatuhnya sama aja, atau kadang malah lebih mahal.

Ini sih rahasia umum ya. Seringkali sebelum promo, harga di mark up dulu. Ya wajar sih. Namanya jualan mah tetep pengennya untung.

3. Ongkir

Ini sih mau lagi banyak promo atau gak ada promo, yang namanya belanja online sih harus memperhatikan ongkir ya.

Kan sering tuh nemu barang jauh lebih murah, tapi begitu ditambah ongkir, jatuhnya lebih mahal. Dih ya ngapain dibeli. Ya mending gak promo, tapi ongkirnya murah dong. Lebih cepet nyampe.

Udah sih. Tiga itu aja yang harus diperhatikan kalo versi saya. Teman-teman ada yang mau nambahi? Tulis di kolom komentar yaa. Siapa tau ada hal yang selama ini luput saya perhatikan. Hehe.

#Ramadhan: Cara Membuat Cilok dan Pengalaman Pertama Membuatnya

on
Jumat, 10 Mei 2019
Saya dan teman-teman di kantor sering berseloronh, jajan itu makin gak sehat kok makin enak ya 😂

Hayoloh bilang enggak? Lha itu jajan penuh mecin, apa sehat? Tapi enak kan? 😅

Gak terkecuali cilok. Snack penuh gluten, hihi. Huhu, saya dan mas suami penggemar berat cilok. Kalo pulang kerja, sering beli cilok dulu, dan dimakan sebelum jemput Faza. Biar Faza taunya sayur sama buah aja. Ahahah.

Ramadhan gini, kok ya tiba-tiba pengen makan cilok. Tapi penjual cilok kesukaan gak ada 😓



Yaudahlah bikin sendiri. Cilok homemade. Nah, apakah yang homemade pasti sehat? Ya enggak juga. Tergantung apa yang dibikin. Hehe.

Ini pengalaman pertama bikin cilok. Jadi bener-bener blank. Untung ada cookpad kan. Langsung deh baca-baca gimana cara bikin cilok. Dan, mayan bingung. Ada yang perbandingan 2:1 untuk terigu:tapioka. ada juga yang sebaliknya, tapioka:terigu.

Setelah menimbang-nimbang, saya pilih opsi untuk nyoba yang 2:1 untuk terigu:tapioka. Dengan pertimbangan, biar gak alot-alot banget lah.

Tapiii, saya tuh sering dodol soal bikin adonan gini. Dan, kejadian lagi. Kebanyakan air pemirsaaaa! Alias keenceran 😭 Gak bisa dibulet-buletin. Yaudah akhirnya saya tambah tepung terigu dan tepung tapiokanya cemplang-cemplung. Jadi entah akhirnya perbandingannya tetap 2:1 atau enggak. Haha.

Hasilnya? Ya gak seenak cilok yang beli di abang-abang biasanya sih. Tapi tetap bisa dinikmati kok. Hihi. Habis sama mas suami. Dia mah gak pernah rela hasil jerih payah istrinya terbengkalai 😅

Tapi gara-gara setengah gagal gini, Saya bertekad untuk membuat lagi besok-besok. Insya Allah.

Ada yang penasaran cara membuat cilok? Gampang sih sebenernya.

Cara Membuat Cilok

ini nih hasil karya saya, haha
Terigu, dikasih air panas biar matang, dibiarkan beberapa saat, terus ditambah tepung tapioka, ulekan bawang putih, garam, mrica dan penyedap rasa (mecin, hihi). Kasih irisan daun bawang, terus dibulet-buletin deh kayak bakso.

Setelah itu cemplungin satu per satu ke air mendidih. Kalo udah mengambang, angkat.

Ohya, untuk sausnya, saya bikin saus kacang pake skippy semalam.

Caranya: Haluskan bawang merah, bawang putih, cabe merah. Tumis sebentar, masukkan skippy dan air. Tambahkan garam, gula, kecap secukupnya. Jadi deh!

Itu cara bikinnya yaaa. Saya gak berani kasih takarannya, soalnya lha wong saya aja masih failed 😭

Kalo ada temen-temen yang udah pernah berhasil bikin cilok yang enak, saya mau bangettt dong dibisikin resepnya. Cari di cookpad bingung sendiri malah, mana yang paling enak. Huhu.

#Ramadhan: Resep Soto Ayam Khas Ibuk

on
Kamis, 09 Mei 2019


Kemarin pagi mas suami manyun. gara-gara saya bilang, pengen pulang (ke kampung halaman). Pasalnya, dia tuh paling gak tega kalo saya mellow gara-gara kangen rumah. Tapi di lain sisi, kami sudah sepakat untuk pulang di penghujung Ramadhan, untuk sekalian lebaran di sana.

Ya saya juga gak berniat mau maksa untuk pulang sih. Saya cuma curhat aja, gara-gara tiba-tiba mellow pengen buka puasa pake masakan khas ibuk 😭

Ibuk saya tuh kalo masak suka nyeleneh. Dalam artian, sering gak sesuai pakem yang dipegang oleh orang pada umumnya. Hehe.

Jadi awal-awal saya keluar dari rumah, saya sering bingung. Misal masakan lodeh. Selama saya tinggal sama ibuk, lodeh yang saya tau ya lodeh kayak yang biasa dimasak ibuk. Saya kira, lodeh pada umumnya tu beda. Pas awal-awal saya di Semarang, saya tanya ke ibu-ibu warung, itu sayur apa. Dijawab, lodeh. Dalam hati saya keheranan, kok lodeh kayak gitu? Kok beda banget sama lodehnya ibuk?

Ternyata ibuk yang gak sesuai pakem 😂

Tapi justru itu yang bikin masakan ibuk berkesan banget dan tiada duanya. Gak akan sama dengan masakan orang lain, apalagi masakan warung, soalnya ibu punya rules pribadi. Haha. Jadi semacam signature gitu ya 😅

Selain lodeh, soto ayam khas ibuk pun beda pake banget dengan soto ayam pada umumnya. Huhu, saya suka banget banget banget soto ayam khas ibuk. Tuh kan, pengen mewek lagi, pengen pulang 😭



A post shared by rosasusan.com | sanirosa.com (@rosalinasusanti) on


Jangan tanya soto ayam khas ibuk tu versi soto kudus atau soto semarang, karna kayaknya gak sama dengan dua-duanya, hehe. Tapi cenderung lebih mirip ke soto kudus sih.

Pernah ada orang yang komentar waktu lihat soto ayam khas ibuk. "Soto kok pake wortel sih? kayak sop aja!"

Saya bingung. Lho, emang soto gak boleh pake wortel? Setelah mengamati soto-soto lain yang dijual di warung-warung, saya baru ngeh. Iya juga ya. Soto lain gak ada yang pake wortel 😂

Kalo udah kangen banget sama masakan ibuk, tapi belum bisa pulang, saya biasanya minta resepnya, terus nyoba bikin sendiri. Meski pasti gak bisa sama, mayan lah agak mengobati rindu.

Seperti tadi sore. Saya ngirim chatt di grup keluarga, minta dikirimi resep soto ayam khas ibuk. Eh malah diprovokasi suruh pulang sama kakak-kakak. Huhu. Tapi akhirnya dikasih sih.


Nih yaa saya share resepnya, siapa tau ada yang penasaran 😀

RESEP SOTO AYAM (Khas ibuk saya, hihi)

Bahan utama:
Ayam suwir
Kecambah
Wortel
Daun bawang
Seledri

Bumbu halus:
Bawang merah
Bawang putih
Ketumbar
Mrica
Kemiri
Jinten
Jahe
Garam
Gula

Bumbu tambahan:
Salam
Laos
Serai
Daun jeruk
Bawang goreng untuk taburan
Kecap manis
Sambal

Cara membuat:
Bahan utama cukup di potong-potong dan disiapkan saja. Taruh di piring yang berbeda tiap bahannya. Ohya, kecambahnya direndam pake air panas, lalu tiriskan.

Bumbu halus diuleg, lalu ditumis sebentar sampai harum. Setelah harum, masukkan ke air mendidih. Masukkan wortel yang sudah dipotong-potong ke dalam kuah. Lalu masukkan juga bumbu tambahan berupa salam, laos, serai dan daun jeruk. Tes rasa, jadi deh!

Cara penyajian:
Tata di piring: kecambah, daun bawang, seledri, ayam suwir. Lalu siram dengan kuah sotonya. Tambahkan kecap dan sambal sesuai selera.

Duh ya Allah, nulis resepnya aja saya jadi mellow 😭

Ohiya, maaf yaaa gak pake takaran atau jumlah. Ibuk mah suka gitu kalo ditanya soal takaran. Dikira-kira aja se-pas-nya kata beliau, huhu.

Kalian segininya juga gak sih sama masakan ibu? Menu apa yang paling berkesan buat kalian?

#Ramadhan: Dessert Cup Skippy Untuk Menu Buka Puasa

on
Rabu, 08 Mei 2019
Katanya, jangan berbuka dengan manis, tapi berbukalah dengan yang sayang. Tapi gimana yaaa, berbuka emang enaknya dengan yang manis-manis sih. Apaan sih, gak jelas 😂



Saya termasuk penggemar berat makanan manis. Apalagi akhir-akhir ini sedang hits berbagai varian dessert box yaa. Ada brownis alpukat lah, milkbath cake lah, Cheese cake lumer lah. Hmmmm, nyebutin namanya aja bikin saya kemecer. Hihi. Padahal masih siang.

Tapi dessert box tu harganya mayan kan. Padahal saya sedang mencanangkan program hemat selama bulan Ramadhan. Haha.

Saya gak habis akal dong. Kenapa gak bikin sendiri coba? Tutorialnya di Youtube juga bertebaran. Kayaknya gak susah-susah banget deh.

Akhirnya hari pertama Ramadhan kemarin saya beneran bikin. Mumpung libur kerja. Saya bikin dessert cup, karna kalo box kan seringnya gak bisa habis sekali duduk. Kalo cup kan bisa jadi banyak, dan langsung habis gitu.

Seperti biasa, saya gak suka niru resep plek ketiplek gitu. Pasti adaaa aja yang saya variasi sesuai selera. Hehe, sok-sokan banget ya. Nah, untuk dessert cup yang saya buat kemarin, saya menmabhakan selai kacang Skippy ke remahan biskuitnya, untuk lapisan paling dasar.

Ah, langsung aja deh saya jembreng resep dan cara bikinnya di sini yaaa. Siapa tau ada yang pengen coba juga 😊

RESEP DESSERT CUP SKIPPY

BAHAN:

Lapisan dasar:
Biskuit tanpa selai (Jumlahnya dikira-kira, hehe. Lupa persisnya)
2 sdm Margarin dilelehkan

Lapisan tengah:
450 ml susu full cream
3 sdm gula pasir
2 sdm tepung maizena
1 1/2 sdm agar-agar tanpa warna

Lapisan atas:
Dark cooking Chocolate (gak sempet nimbang berapa gramnya, hiks. Pokoknya sampai pekat lah)
100 ml Susu coklat (Aslinya pake fresh cream ya, cuma kemarin saya gak punya, hehe)
1 sdm margarin dilelehkan

CARA MEMBUAT:

Lapisan dasar:

Hancurkan biskuit. Masukkan margarin yang telah dilelehkan. Aduk rata. Tambahkan Skippy peanut butter, kurang lebih empat sendok makan. Aduk rata, lalu tata di cup yang sudah disipakan. Tekan-tekan menggunakan sendok. Sisihkan.

Ini lapisan dasar. Remahan biskuit dicampur margarin dan Skippy


Lapisan tengah:

Masukkan susu ke dalam panci. Masukkan juga gula pasir, tepung maizena dan agar-agar. Aduk rata, lalu masak di atas api sedang. Aduk-aduk terus hingga meletup-letup.

Tuangkan ke atas lapisan dasar yang sudah di tata di dalam cup sebelumnya. Sisihkan.

Lapisan atas:

Masukkan susu ke dalam panci. Hancurkan DCC, campurkan ke dalam susu. Setelah itu, ditim, sampai coklatnya meleleh.

Setelah coklat meleleh sempurna, masukkan lelehan margarin. Tuangkan ke adonan paling atas yang sudah ditata di cup.

Masukkan kulkas. dan, JADI DEEEHH 😍 *Foto yang udah jadinya nyusul yaa. Hehe.

Dan ternyata enaaaakk loh! *Biarin muji masakan sendiri*

Soalnya dessert box atau dessert cup pada umumnya kan rasanya pasti dominan coklat, susu atau keju gitu kaaan. Nahh kalo yang ini selain creamy-nya susu dan legitnya coklat, lidah kita juga akan disuguhi rasa gurihnya selai kacang.

Dimakan pas habis tarawih dalam kondisi barusan keluar dari kulkas, eeuuughhh... Masyaa Allah, nikmat!

Selamat mencoba yaaaa 😊

#Ramadhan: 5 Tempat Buka Puasa Favorit di Semarang yang Pernah Saya Kunjungi

on
Selasa, 07 Mei 2019
5 Tempat buka puasa favorit yang pernah saya kunjungi. Iya, cuma 5. Kan kemarin saya sudah bilang, kalo enggak bener-bener lolos kriteria, ya saya lebih milih buka puasa di rumah.

Tapi gimana pun, harus diakui sih, bulan Ramadhan tanpa sekalipun buka puasa di luar rasanya kayak ada yang kurang. Dan ini 5 tempat buka puasa di kota Semarang yang pernah saya kunjungi dalam 5 ramadhan terakhir, semenjak saya berdomilisi di Semarang.



Dan uniknya, 4 dari 5 tempat yang saya kunjungi untuk buka puasa di bawah ini, saya kunjungi dengan orang yang sama. Siapa dia? Teman sekamar saya waktu masih ngekos. Buahahaha. Segitu gak punya temennya ya saya.

Yaudah yuk, langsung aja saya kasih review singkat tentang 5 tempat buka puasa favorit di Semarang yang pernah saya kunjungi.

1. SS (Spesial Sambal)

Ini sih tempat makan ter-laaafff sepanjang masa. Gak cuma di Ramadhan. Di luar Ramadhan pun, saya dan mas suami seperti punya ritual wajib makan di SS sebulan sekali. Hehe.

Kenikmatan makan di SS itu sejauh ini belum tertandingi dengan kenikmatan makan di tempat makan lain, meski dengan tempat yang jauh lebih nyaman. Khususnya bagi pecinta pedas, pasti setuju deh sama pendapat saya ini.

Sambelnya TOP. Nasinya bisa nambah sepuasnya tanpa kena charge tambahan, pilihan lauk dan sayurnya variatif, harganya super duper terjangkau pula. Kurang apa coba?

Cumaaa, kalo waktunya buka puasa ya siap-siap aja sih melihat pengunjung yang membludak. Lah, hari biasa aja kalo jam makan siang pasti penuh banget kok!

Dan sedihnya, kalo mau buka bersama di SS tuh gak bisa booking tempat dulu sebelumnya gitu. Jadi harus ada yang dengan rela datang lebih awal demi nge-cup tempat. Hiks.

2. Rodjo Resto

Rodjo Resto terletak di jalan Pemuda yang sangat strategis untuk dijangkau. Dari tampilan bangunan, nama, dan cara menyambutnya, kita pasti langsung bisa menebak kalau Rodjo Resto ini merupakan resto yang menawarkan sajian khas nusantara.

Iya. Nusantara banget. Ada plecing kangkung, udang saus padang, sayur bening, garang asem, dll. Dari segi harga, eemm, mayan sih. Standar resto lah.

Tempatnya nyaman untuk dijadikan tempat buka puasa bersama para sahabat atau keluarga. Cumaa, mushollanya super kecil, dan lokasinya jauh dari masjid. Jadi kalo mau buka puasa bersama di Rodjo sih menurut saya mending batalin dulu pake takjil, sholat di masjid, baru deh meluncur ke Rodjo Resto.

Plusnya, Rodjo ini bisa reservasi tempat dulu. Jadi gak perlu unyel-unyelan kayak di SS.

3. Delman Resto

Ini gak jauh beda sama Rodjo sih. Delman Resto juga menwarkan berbagai sajian khas nusantara. Dari segi cita rasa, sama enaknya sih menurut saya (apa sih yang gak enak buatkuu? haha). Cuma setting tempatnya lebih nyenengin menurut saya.

Delman Resto terdiri dari bagian inddor dan outdoor. Kita bisa memilih sesuai keinginan, asalkan masih kosong. Huehehehe.

Bagian utama resto atau bagian indoornya, merupakan sebuah rumah joglo khas Jawa, yang terbuat dari kayu yang telah diukir. Sedangkan bagian outdoornya terdiri dari gazebo-gazebo yang juga bergaya khas Jawa. Di sekitar gazebo ada taman-taman yang ditata sedemikian rupa. Nyenengin mata pokoknya.

Cuma dulu pas buka puasa di situ dan milih di bagian outdoor, nyamuknya mayan siihh. Ahihihi.

Seperti halnya resto-resto lain di jam buka puasa, Delman Resto juga super pueeenuuh! Dan o'onnya, dulu saya gak reservasi dulu. Alhasil, baru dapet tempat sekitar jam 7-an malam. Huhu, bye-bye sholat tarawih 😭

4. Giggle Box

Setelah 3 tempat makan di atas menawarkan sajian khas nusantara, kalo Giggle Box ini merupakan resto yang menawarkan menu-menu western. Aduh entahlah apa aja contoh menunya, saya gak hafal. Susah-susah euy. Hihi.

Saya udah pernah cerita tentang Giggle Box ini tahun lalu sih di blog. Waktu habis buka puasa bersama juga.

Bagi saya yang lidahnya njowo banget, Giggle Box ini menawarkan citarasa western yang sangat bisa diterima lidah saya. Enak-enak banget sumpah. Entah beneran enak, entah karna udah laper sih sebenernya. Soalnya waktu itu saya juga baru bisa buka puasa makan besar sekitar jam setengah delapan malam. Hehe. Nunggu agak sepi soalnya bawa duo bocil.

 Yang hobi foto, dijamin betah banget sih di Giggle Box. Semua sudutnya dibuat instagramable banget. Sukak!

5. De Lasco

Kalo yang ini sebenernya buka tempat buka puasa favorit saya, melainkan favorit keluarga saya. Hehe. Habisnya, berkali-kali buka puasa bersama, di situ terus.

De Lasco ini tuh semacam pemancingan gitu. Tapi ya gak ada yang mancing juga deng. Pokoknya menu utamanya ikan-ikanan gitu lah. Bakar maupun goreng.

Para sesepuh pada suka ke sini soalnya bisa sekalian terapi ikan. Saya sih ogah! Gak tahan gelinya eewww.

Yeaayy, udah 5! Silakan dipilih dipilih mau cobain yang mana dulu. Hehe. Atau jangan-jangan sudah pernah semua juga?

Eh FYI, dari 5 tempat buka puasa di atas, kayaknya yang bener-bener jadi tempat saya buka puasa (saat adzan magrib berkumandang) itu cuma SS dan Rodjo deh. 3 yang lainnya mah sudah bukan buka puasa lagi. Wong dapet tempatnya rata-rata jam 7 malam. Hehe.

Yah begitulah. Ramadhan. Gak ada tempat buka puasa yang sepi kayaknya.

#Ramadhan: Buka Bersama, Yes or No?

on
Senin, 06 Mei 2019
Salah satu ciri khas Ramadhan yang belum berubah dari tahun ke tahun adalah banyaknya ajakan reuni dengan tajuk buka bersama.

Saya bukan termasuk orang yang sering datang ke acara buka bersama sih. Karna emang temennya gak banyak. Haha. Tapi dari undangan yang banyak itu pun, biasanya akan saya pilah-pilah ulang. Mana yang perlu saya hadiri, mana yang gak perlu.


Jadi, kalau ditanya, "buka bersama, yes or no?"

Saya akan jawab: tergantung. *anaknya hobi nggantung* 😂

Tergantung apa? Banyaakk faktornya.

1. Siapa yang mengajak

Yup, ini faktor utama. Siapa dulu yang ngajak?

Kalo yang ngajak itu teman dekat, selama gak ada halangan saya akan mengusahakan sekuat tenaga. Bahkan sering juga saya yang menjadi penggagasnya. Terutama teman dekat yang lama gak ketemu.

Soalnya buka bersama tu salah satu momentum ya. Kalo hari-hari biasa pasti effort untuk ketemunya beda. Jadi ya sekalian kangen-kangenan gitu.

Nah, kalo yang ngajak adalah teman yang sekedar kenal, atau undangan buka bersama yang merupakan forum besar (misal, buka bersama satu angkatan SMP atau SMA), saya lebih sering mangkir sih.

Kenapa?

Karna di forum besar seperti itu, seringnya kita hanya bertegur-sapa dan berbasa-basi seperlunya, ujung-ujungnya ngobrol sama yang udah akrab juga. Yaudah sih buka bersamanya sama yang akrab aja kalo gitu.

Itu sih masih mending. Kadang juga pada sibuk sama gadget masing-masing. Huhu. Bukan bersama kalo gitu namanya. Main gadget bersama. Hehe.

2. Lokasi buka bersama

Sejujurnya, salah satu yang bikin paling males datang ke buka bersama adalah lokasinya. Tempat makan mana sih yang pas waktunya buka puasa gak rame? Suka nyesek kalo mau buka puasa aja harus waiting list sampe menjelang Isya' baru dapet tempat 😭 Kecuali udah booking dari jauh hari ya.

Saya sebenernya paling seneng kalo lokasi buka bersama adalah di rumah salah satu teman. Gak papa deh iuran buat masakan dan macem-macemnya. Tapi paling enggak gak perlu unyel-unyelan sama ratusan orang lainnya.

Apalagi sekarang udah bawa bocah kan yaaa. Hadeehh, yang tua aja kalo rame banget bisa jadi cranky. Apalagi bocah.

3. Skala prioritas

Jelas sih ini. Ketika ada ajakan buka bersama, salah satu penentu saya akan datang atau enggak, ya tergantung skala prioritasnya.

Misal di hari yang sama, ada ajakan juga dari keluarga untuk buka bersama, ya pasti pilih keluarga dulu dong.

Atau misal pas ada ajakan buka bersama, Faza-nya lagi kurang fit, ya saya gak akan maksain diri untuk datang.

Semua orang pasti gini deh kayaknya.

Jadi kesimpulannya, buka bersama -- Yes or No?

Kalo harus pilih salah satu saya cenderung lebih banyak 'No'-nya. Hehe. Kecuali Menurut 3 pertimbangan di atas, lolos semua kriterianya, ya saya Yes.

Kalau kamu gimana? Udah dapet berapa undangan buka bersama untuk Ramadhan tahun ini? 😀

5 Hal Yang Harus Dipersiapkan Untuk Menyambut Ramadhan

on
Rabu, 16 Mei 2018
credit: Pixabay.com

Wow besok sudah Ramadhan ya! Masya Allah. Hawa-hawa Ramadhannya sudah terasa sekali. Iya gak sih? Semoga kita diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu ramadhan. Aamiin.

Setiap menjelang Ramadhan, pasti ada kebahagiaan dan semangat tersendiri yang gak pernah kita rasakan di bulan-bulan lainnya kan? Salah satunya adalah semangat untuk ibadah pol-polan selama bulan Ramadhan. Meskipun saat Ramadhan berakhir, pasti adaaa aja rasa nyesel. Merasa belum maksimal beribadah, dll.

Tapi meski perasaan menyesal -- merasa belum maksimal -- itu terus terulang hampir setiap tahun, gak berarti kita jadi hopeless dan merasa ga perlu lagi mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan dong. Harus tetap semangat. Namanya juga ikhtiar. Dipersiapkan saja masih gak maksimal, apalagi gak dipersiapkan. Ya kan?

Nah, ini nih 5 hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut Ramadhan versi saya. Kalo ada yang mau nambahin, feel free untuk sharing di kolom komentar yaaa.

1. Kondisi badan yang fit

Ini kunci banget sih. Meski sebagai muslim kita pasti percaya bahwa puasa itu menyehatkan, tetap saja perubahan ritme makan dan tidur yang berubah kadang bikin tubuh limbung. Maka, memastikan kondisi bada fit merupakan hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut Ramadhan, kalo pengen bisa maksimal ibadah.

Caranya? Bisa dengan makan bergizi, minum multi-vitamin, madu, dll. Atau ada juga salah satu teman saya yang sejak H-sebulan Ramadhan men-training dirinya untuk bangun jam 3 dini hari. Biar gak kaget kalo pas Ramadhan harus menyiapkan sahur untuk keluarga.

2. Alat Ibadah

Hayooo siapa yang mukenanya belum dicuci sejak sebulan lalu? Hahaha.

Nah, untuk menyambut Ramadhan, pas banget ya sepertinya untuk bebersih alat ibadah. Mencuci mukena, sajadah, sarung, dll. Jadi nanti pas dipake tarawih ke masjid udah pada bersih dan wangiii 😇

3. Dana

Lho, kok dana? Yaiya dong. Menyiapkan dana itu salah satu persiapan penting menurut saya.

Lihat aja harga-harga kebutuhan pokok banyak yang naik pas Ramadhan. Belum lagi jajaran pedagang kaki lima yang menjajakan takjil aneka rupa, yang pasti bikin iler menetes-netes. Gimana coba kalo gak ada dana? 😂

Enggak deng, bercanda 😅

Menyiapkan dana itu penting, karna betapa bahagia jika di bulan Ramadhan kita bisa berbagi jauh lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Iya gak iya dong?

4. Daftar menu berbuka dan sahur

Katanya, salah satu momen krusial kalo mau masak itu menentukan mau masak apa. Kadang kalo gak kunjung nemu ide, jadi hilang mood terus gak jadi masak deh.

Untuk meminimalisir hal itu, sepertinya menyiapkan daftar menu untuk buka puasa dan sahur menjadi hal yang penting ya. Biar gak bingung tiap hari. Tinggal eksekusi aja.

5. Froozen Food

Daftar menu sahur udah siap, kalo bangunnya kesiangan mau apa? Hahaha.

Maka, froozen food adalah sang penyelamat yang harus dipersiapkan keberadaannya saat menyambut Ramadhan. Mau froozen food yang instan pabrikan atau yang homemade, tentu kembali ke pilihan masing-masing.

Dari 5 hal di atas, point mana yang belum kalian persiapkan untuk menyambut Ramadhan?

Anyway, Selamat menyambut bulan suci Ramadhan untuk teman-teman semua. Mohon dimaafkan segala khilaf saya 😊

Marhaban Yaa Syarurramadhan... Marhaban Yaa Syahrusy siyam...

Ramadan Ekstra : Tips Belanja Online Hemat Selama Bulan Ramadan di Tokopedia

on
Sabtu, 05 Mei 2018
Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan kedua saya sebagai seorang ibu. Ramadhan tahun lalu, saya gak maksimal sekali dalam beribadah. Selain sempat mengalami gangguan hormon yang bikin nifas saya gak kunjung berhenti, saya juga sempat kepayahan berpuasa. Mungkin karna masih kejar setoran pumping, dan badan saya belum bisa beradaptasi. Jadi beberapa hari sempat memutuskan gak berpuasa sesuai anjuran dokter.

Baca juga: Menikah Itu

Maka dari itu, Ramadhan tahun ini saya berharap sekali menjadi Ramadhan Ekstra bagi saya. Ekstra ibadahnya, ekstra sehatnya. Karna meskipun sudah gak kejar setoran pumping, tapi ada tantangan lain kali ini.

Lagi-lagi tantangannya ya karna sekarang saya sudah jadi ibu. Si Faza sedang aktif-aktifnya. Lagi seneng-senengnya belajar jalan. Yang sudah punya anak, pasti terbayang capeknya masa-masa ini.

Kalau dulu, Ramadhan pasti semangat banget pergi belanja ke pusat perbelanjaan besar. Karna pasti banyak promo kan. Tapi kalau sekarang, pergi belanja sambil gendong Faza, sekaligus dalam kondisi puasa, duh gak ada bayangan deh. Haha, kulemah.

Tapi bersyukur yaa sekarang belanja online sudah semakin mudah. Dunia dalam genggaman. Jadi ngapain harus keluar rumah kalau belanja online lewat Tokopedia saja sudah sangat mudah dan lengkap? Dengan begitu, Ramadhan bisa bener-bener menjadi Ramadhan yang ekstra. Gak banyak buang waktu di luar rumah untuk belanja, jadi waktunya bisa digunakan untuk ekstra ibadah atau menemani anak bermain saja. Asyik, yaaa.

Saya punya beberapa tips belanja online hemat kebutuhan bulan Ramadan Ekstra di Tokopedia nih. Simak yuk 😉  :


1.    Bandingkan harga setiap toko online di Tokopedia

Tokopedia memiliki banyak sekali toko online berkualitas. Jadi sangat memungkinkan kita untuk membandingkan harga berbagai produk kebutuhan dengan lebih mudah. Cukup cari produk yang dibutuhkan, ribuan produk dengan berbagai harga akan langsung tersaji di depan mata dan siap untuk dibeli. Untuk menghemat pengeluaran belanja online saat Ramadan, cukup pilih produk dengan harga tepat dan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan kita.

2.    Pilih produk berkualitas dari kreator lokal

Untuk membuat Ramadan Ekstra, bukan berarti harus selalu gunakan barang branded dengan harga selangit. Mending dihemat untuk berbagi saat lebaran nanti kan 😇 Tokopedia, e-commerce dengan produk terlengkap memiliki koleksi  berbagai produk hasil kreasi kreator lokal maupun brand terkenal dunia. Jadi mending menghemat pengeluaran belanja kita di bulan Ramadan dengan memilih produk kreasi dari kreator lokal yang hadir dengan kualitas bersaing namun dengan harga yang lebih miring. Bisa sekalian mendukung dan mencintai produk dalam negeri juga kan?

Baca juga: Tentang Mahal dan Tidak Mahal

3.    Cari toko online terdekat

Saat berbelanja online, komponen biaya yang tak boleh terlupakan dan kadang bikin maju-mundur adalah biaya ongkos kirim (ongkir). Untuk menyiasati ini, pilihlah toko online yang lokasinya paling dekat dengan lokasi kita agar ongkirnya gak terlalu besar. Di Tokopedia, kita dapat mengetahui lokasi toko online secara detail sehingga kita dapat memilih toko online dengan lokasi terbaik.

4.    Pilih cara pembayaran yang tepat

Salah satu kemudahan berbelanja online di Tokopedia adalah pilihan cara pembayarannya. Berbagai metode pembayaran dapat kita gunakan mulai dari Saldo Tokopedia, transfer bank, kartu kredit, cicilan, hingga pembayaran melalui minimarket. Memilih metode pembayaran yang sesuai dengan kondisi keuangan tentu dapat menghemat pengeluaran saat berbelanja online.

Jadi, meski gak punya ATM pun tetap bisa belanja di Tokopedia, yaitu dengan memilih metode pembayaran melalui minimarket.

5.    Pilih metode pengiriman paling efisien

Dalam melakukan pengiriman barang yang kita beli, Tokopedia memberikan beberapa alternatif pengiriman, mulai dari pengiriman secara konvensional hingga kurir instan melalui jasa transportasi online. Dalam memilih metode pengiriman ini, jangan lupa membandingkan biaya ongkos kirim terbaik diantara metode pengiriman yang ada untuk menghemat belanja online kita.

6.    Belanja sekaligus

Sebelum belanja, langkah baiknya kita membuat list kebutuhan kita. Kalau sudah ada list, kita bisa memilih salah satu toko online di Tokopedia yang menjual lebih dari satu barang yang ada di list kita tersebut. Jadii kita bisa belanja sekaligus dari satu toko. Metode ini akan membuat kita menghemat waktu dan terutama ongkos kirim.

7.    Manfaatkan promo dan diskon 

Promo atau diskon memberikan pengaruh yang signifikan untuk menghemat pengeluaran kita dalam berbelanja online. Siapa sih yang gak suka sama promo atau diskon? Apalagi emak-emak :D

Di bulan Ramadan kali ini, Tokopedia memberikan kesempatan baru bagi pembeli dalam menikmati bulan Ramadan. Dengan rangkaian promo sepanjang bulan Ramadan yang bisa kita gunakan untuk buat Ramadan kali ini makin Ekstra. Wow wow, bikin mata ijo yaaa.

Makin Ekstra lagi, masih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yang akan membuat Ramadan Ekstra menjadi lebih Ekstra! Layaknya festival belanja online “Black Friday”, kejutan seperti apa yang bakal buat pengalaman belanja online di bulan Ramadan Ekstra ini jadi lebih special?

Pas banget yaaa. Tanggal 25 Mei kayaknya THR turun deh. Harus siap-siap mantengin Tokopedia! Apalagi salah satu kejutannya adalah ekstra flash sale. Pasti seru banget! Flash sale itu kalo beruntung, kita bisa dapat barang yang oke banget tapi dengan harga yang jauh di bawah harga normal. Siapa coba yang gak pengen?

selain ekstra flash sale, masih banyak lagi kejutan Ramadhan ekstra dari Tokopedia. Pokoknya, marilah kita siap-siap mantengin Tokopedia biar gak ketinggalan. Yuk yuk 😍

Membeli Masalah Dengan Sedekah

on
Kamis, 15 Juni 2017

Bismillahirrahmanirrahim,
Apa yang saya ceritakan dalam tulisan ini, Insya Allah semata karna ingin berbagi hikmah.

Kita pasti sudah sering sekali mendengar tentang manfaat sedekah. Ratusan buku dan ribuan artikel mengulas tentang ini. Apalagi ada salah satu Ustadz yang sempat mengkhususkan diri untuk berdakwah soal sedekah ini. Siapa lagi kalau bukan Ustadz Yusuf Mansur.

Tapi... kita-kita ini, meskipun sudah tau ilmunya, sudah khatam teorinya, tetap saja suka maju-mundur kalau disuruh praktek. Atau jangan-jangan cuma saya yang kayak gini? =D

Iya, meski sudah tau bahwa salah satu manfaat sedekah adalah membantu kita keluar dari berbagai masalah tetap aja sedekahnya hitung-hitungan. Mau dapet jodoh, sedekah dua rebu rupiah. Beuh, sama dong dengan tarif toilet *eh*.

Meskipun yaaa... Allah pastilah gak hitung-hitungan seperti ini. Tapi cek deh Qur'an Surah Ali Imran ayat 92:

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui

Em, Anyway... saya yakin kebanyakan dari kita sudah khatam teorinya. Sekarang saya mau cerita tentang pengalaman pribadi saya. Sekali lagi, Insya Allah niat saya karna ingin berbagi hikmah.

Jadi, sekitar dua bulan lalu hidup saya penuh dengan kegalauan. Wkwkwk. Sudahlah babyblues masih bertubi-tubi menyerang, pikiran saya juga dibuat gak tenang oleh beberapa hal.

Salah satunya tentang gimana nanti Faza ketika saya sudah masuk kerja. Saya, mas suami, bahkan bapak-ibu mertua pun sama sekali gak ada bayangan dan referensi siapa yang akan kami percayai untuk menemani Faza nanti. Sedangkan kalau resign, sungguh saya belum siap :(

Saat sedang berbagi rasa dengan mas suami, beliau meminta saya tetap tenang dan yakin. Yakin bahwa Allah pasti akan menolong. Saya yang imannya masih cetek langsung ngeyel lah!

"Waktunya tinggal sebulan dan kita sama sekali belum ada bayangan mas, gimana aku bisa tenaaaaang??!!" *drama queen mode: ON*

Tapi lain waktu saat saya sedang agak waras, tiba-tiba saya ingat cerita salah satu teman blogger -- Mbak Esti Sulistyawan. Beliau pernah cerita, saat menjelang masuk kerja setelah cuti melahirkan, beiau juga galau sekali karna belum mendapat pengasuh untuk putri cantiknya. Karna Mbak Esti merasa sudah gak mampu mencari jalan keluar sendiri, akhirnya beliau meminta bantuan Allah dengan cara menyedekahkan beberapa bagian (saya lupa persisnya berapa bagian) gajinya. Dan qodarullah, gak lama setelahnya Mbak Esti mendapat mbak pengasuh untuk putrinya.

Nah, saya cerita itu sama mas suami. Tapi ya udah, cerita aja. Gak terus bilang, "Ayo mas, sedekah!" =D Padahal katanya yakin sama manfaat sedekah. Tapi yang di otak isinya ngitung terus. Kalo disedekahin segini, nanti tinggal segini, dan seterusnya -___-

Beberapa hari kemudian, dapet konfirmasi bonus tahunan dari kantor cair, YEAY! Saya sama mas suami kan sekantor, jadi dapetnya dua ya. Segerrr. Haha.

Eh pas mas suami pulang ke Jepara (waktu cuti melahirkan kami LDR-an Jepara-Semarang), beliau bilang bahwa beliau akan menyedekahkan seluruh bonus tahunan bagiannya. Sembari berdoa agar kami diberi kemudahan dalam menemukan 'teman' yang baik untuk Faza kalau nanti saya sudah masuk kerja.

Gimana perasaan saya waktu itu?

Terenyuh. Masya Allah, suamikuuu.

Tapi di sisi lain tetap ada perasaan semacam: Hah, semua??? Aduh, harusnya sebagian aja, atau seperempat aja. Kan lumayan sisanya bisa buat ini itu -____-

Iya, saya gak muna, sempat ada perasaan seperti itu. Meski saya cepat-cepat berusaha memungkiri.

Selang semingguan (kalau gak salah), mas suami yang -- saat itu ada di Semarang -- telfon. Ia mengabarkan sesuatu yang membuat saya menyesal karna sempat menyayangkan keputusan beliau soal sedekahnya.

Mas suami cerita, ibu mertua saya baru saja ngobrol dengan tetangga depan rumah -- sebut saja Bu Heri. Bu Heri bercerita, bahwa cucunya yang saat ini ditemani oleh Mbak Hana ketika ibunya kerja, rencananya akan ditemani oleh Bu Heri sendiri mulai bulan depan. Jadi mulai bulan depan Mbak Hana sudah lepas kontrak dengan anaknya Bu Heri.

Allahu Akbar!

Saya merinding. Pasalnya, hampir gak ada bayangan skenario seperti ini dalam benak kami sebelumnya. Jujur, Mbak Hana adalah orang yang dari awal kami 'incar'. Karena beliau juga lah yang menemani keponakan pertama mas suami dari bayi hingga umur dua tahun. Jadi track record Insya Allah kami sudah paham betul. Orangnya sangat telaten dan lembut. Tapi apa daya ketika beliau sudah dikontrak oleh tetangga depan rumah kami saat saya masih hamil 7 bulan.

Siapa sangka Mbak Hana dilepaskan tepat ketika kami butuh. Subhanallah walhamdulillah :') Saya dan mas suami menangis seketika saat itu.

See? Padahal mas suami baru sekedar bertekad untuk sedekah. Belum benar-benar mengeluarkan sedekah. Tapi kemudahan kontan Allah berikan jalan keluarnya.

Tapi di atas semua itu, ini semata-mata pastilah karna rahmat dan pertolongan Allah untuk kami. Sama sekali bukan karna kebaikan kami.

Sekali lagi, cerita saya ini semata-mata karna ingin mengingatkan diri saya pribadi agar tak sungkan bersedekah, sembari berharap cerita ini membawa manfaat bagi orang lain yang membaca.

Mari membeli masalah dengan sedekah :)

Ramadhan Saat Masih Sendiri VS Ramadhan Setelah Menikah

on
Kamis, 16 Juni 2016
Salah satu doa rutin saya yang ada di urutan atas beberapa Ramadhan lalu adalah tentang jodoh. Ramadhan tahun ini, Alhamdulillah doanya sudah bisa berubah, karna telah diijabah :) Otomatis Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang amat istimewa buat saya. Ramadhan yang serba baru. Status baru, rumah baru, suasanan tarawih baru, suasana buka dan sahur baru. Dan sesuatu yang baru biasanya selalu memancing saya untuk membandingkan dengan yang sebelumnya.

Apa ada perbedaan antara Ramadhan saat saya masih sendiri dulu VS Ramadhan setelah saya menikah? Ya jelas ada dong! Mau tau apa aja perbedaannya? Sini siniii, saya ceritai =))

Soal Hati

Cieeehh, soal hati. Wkwkwk.

Iya, ada perbedaan yang sangat signifikan soal hati menjalani Ramadhan saat masih sendiri dengan saat setelah menikah. Dulu saat masih sendiri, Ramadhan tuh hawanya galau terus. Baper terus. Kapan bisa buka bareng suami, kapan bisa sahur bareng suami, dan terutama galau mikirin soal lebaran nanti.

Iya, saat masih sendiri, hari pertama Ramadhan aja rasanya udah kepikiran banget soal lebaran. Bukan, ini bukan soal baju lebaran. Ini soal tradisi yang entah siapa pencetusnya, yang bikin para jomblo jadi parno tiap menjelang lebaran. Apalagi kalo bukan soal pertanyaan "kapan nikah" atau "udah ada calon belum", yang selalu datang bertubi-tubi tiap lebaran!

Setelah nikah Alhamdulillah jadi jauh lebih tenang rasanya hati ini. Tenangnya bukan cuma karna gak perlu lagi takut nanti ditanya-tanya pas lebaran sih. Kalo soal pertanyaan sih, setelah menikah pun orang-orang pasti punya pertanyaan usil lain lagi -_-

Pokoknya ada ketenangan hati yang belum pernah saya rasakan sebelumnya lah. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an, salah satu tujuan menikah memang membuat kita menjadi tenteram, kan? :)




Buka dan Sahur

Pas masih gadis, eh, pas masih sendiri maksudnya, buka ya paling sama keluarga. Emm, tahun lalu ngenes ding... sendirian! Soalnya saya jadi anak kost, dan satu kost saya anak-anak kuliahan yang kebetulan lagi pada libur semesteran -_- Kalo sekarang? Ya sama suami dong yang jelas :P Sama keluarga baru (bapak-ibu mertua dan ipar) juga.

Tapi gak cuma itu perbedaannya. Dulu sebelum menikah, sahur pasti harus dibangunin dulu sama ibu. Banguninnya pake usaha super keras, karna saya orang pelor. Haha. Begitu bangun, semua sudah siap. Nasi udah diambilkan, susu sudah dibuatkan, saya tinggal duduk manis lalu makan. Sudah disiapin semua sama ibu saya. Buka juga gitu. Udah disiapin semua. Kadang saya bantu sih dikit-dikit kalo gak lagi ngerasa lemes banget. Iya, se-gak-tau-diri itu saya, bahkan sampai ramadhan tahun lalu. Sekarang? Gak mungkin lagi saya kayak gitu kecuali kalo saya mau dilabeli sebagai istri durjana. Haha.

Sekarang, pulang kerja saya harus mikir nyiapin menu buat buka. Sebisa saya aja sih. Kalo pas lagi di rumah mertua, ya tetep harus bantu-bantu nyiapin macem-macemnya. Sahur juga gitu. Udah gak ada lagi acara pura-pura gak denger kalo pas dibangunin. Hihi.

Soal Ibadah

Sedih plus malu sih sebenernya nyeritain ini. Jujur aja, ramadhan setelah menikah ini saya merasa kuantitas ibadah (mahdhah) saya menurun banget :( Kalo soal kualitas ya wallahu a'lam ya, bukan kapasitas saya buat menilai. Terutama tilawah. Menurun buangetttt. Sampai Hari ke-11 Ramadhan ini, jumlah juz yang sudah saya selesaikan mungkin hanya separuh dari pencapaian saya saat masih sendiri alias sebelum menikah. Huhu.

Kenapa kok bisa gitu? Kalo boleh saya beralasan sih, soal waktu. Dulu nunggu waktu buka tilawah, setelah tarawih tilawah, setelah sahur tilawah, siang tilawah. Sekarang, nunggu waktu buka ya masih di dapur. Setelah sahur beresin macem-macem, kadang juga tidur. Hihi. Setelah tarawih cuci piring. Siang doang sih yang masih tetep tilawah, Insya Allah. Iya sih, saya tau ini alibi saya aja. Harusnya saya bisa atur waktu dengan lebih baik lagi biar ibadah gak berkurang. Maka dari itu saya merasa bersalah :( Tapi kata Mas Suami, sebenernya tiap aktivitas istri itu berpahala dan bisa diniatkan sebagai ibadah. Adem dengernya :) Semoga tiap aktivitas saya bernilai ibadah. Aamiin.

Rasanya masih banyaaakkk lagi sih perbedaannya, tapi otak saya tiba-tiba blank apa aja. Maklum, udah jam segini. Hehe. Intinya, beda bangetttt lah antara ramadhan saat masih sendiri VS ramadhan setelah menikah. Kalo ditanya enakan mana, ya enak semua lah. Ada plus-minus dan seneng-sedihnya masing-masing. Nikmati saja lah pokoknya setiap fasenya :) Semoga kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat bertemu ramadhan dengan sebaik-baiknya. Selamat menanti waktu berbukaa #eh. Hihi

Signature

Signature