Jumat, 11 Januari 2013

Dulu bagaimana? (Sebuah Ironi)



 gb. dari google



Dulu, awal saya hidup di Semarang, saya cukup dibuat takjub oleh fakta yang tergelar di hadapan saya. Apa itu? Adalah saat saya mendengar pengakuan dari beberapa teman baru yang mengaku “belum” terbiasa menjalankan sholat lima waktu dan “belum” bisa membaca Al-Qur’an.

“Belum” diumur yang ke sekian sedang dia adalah seorang muslim sejak lahir? Jujur sangat aneh di benak saya saat itu. Bukan, bukan karna saya merasa sudah sangat baik menjaga sholat lima waktu serta sangat baik bacaan Al-Qur’an saya. Sungguh bukan itu. Sampai sekarang pun saya masih teramat sering lalai menjaga sholat agar selalu di awal waktu. Di lingkungan keluarga besar saya, saya juga termasuk paling payah bacaan Al-Qur’annya.

Mungkin satu alasan kenapa saya menjadi sedemikian heran waktu itu. Saya selama ini amat kuper. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga, yang meski bukan keluarga ‘alim, tapi masih cukup baik menjaga nilai-nilai pokok keislaman. Teman-teman sepermainan saya sejak SD hingga SMA pun cenderung lingkungan homogen. Dan, Segala puji hanya bagi Allah yang telah menempatkan saya di lingkungan sebaik itu.

Seiring berjalannya waktu, timbul pertanyaan baru di benak saya, masih berkaitan itu. Dimana peran orang tua mereka? Tidakkah mereka mengingatkan dan membiasakan anaknya sejak kecil? Ah, mungkin saya terlalu picik memandang persoalan ini. Saya hanya menggunakan keluarga saya sebagai tolok ukur. Bapak Ibu saya mulai keras dan disiplin membiasakan saya sholat lima waktu saya kelas 3 SD. Apa serta merta saya senang hati menjalankannya? Tentu saja tidak. Bagi anak seumuran itu, sholat lima waktu adalah perkara berat dan penuh keterpaksaan. Tapi orang tua saya tidak peduli.

Dalam proses pembiasaan itu, pernah beberapa kali saya ‘bandel’ melewatkan sholat. Ada 2 sholat yang saat itu paling ‘hobi’ saya tinggalkan, yaitu isya’ dan subuh. Dan saat hal itu saya lakukan, maka keesokan paginya Bapak dan Ibu akan menjadikan hal itu sebagai tema ceramah sepanjang hari. Belum lagi 2 kakak saya, yang juga menjadikan hal itu sebagai bahan olok-olok bagi saya. “Hii… nggak shoal isya’ hiii... mau jadi apa?!!!”. Dan cara itu saya rasa cukup efektif untuk menimbulkan efek jera bagi saya saat itu. Saya mulai merasa malu. Mungkin lebih tepatnya malas dijadikan “korban pembantaian” gara-gara hal itu. Hihi

Satu momen berkaitan dengan penanaman kebiasaan sholat dalam perjalanan hidup saya yang kemudian paling saya ingat sampai hari ini adalah ketika saya SMP. Saya lupa berapa umur saya saat itu. Yang jelas saya sudah baligh *sudah dapat mensruasi*. Pernah sekali waktu setelah kecapekan ikut kegiaan extra, saya ketiduran dan meloloskan sholat isya’. Dan saat itulah sebuah kalimat dari kakak perempuan saya meluncur, dan terekam dengan baik hingga hari ini. “Kamu itu, masih ada ditengah keluarga ang selalu ngingetin aja kaa’ gitu, terus gimana nanti kalo kuliah, trus hidup jauh dari keluarga, nggak ada lagi ang ngingetin… mau berapa kali waktu sholat ang kamu tinggalin?”. Dan saya sangat ingat, saat itu juga hati saya berikrar, bahwa sekuat tenaga, saya akan selalu menjaga sholat saya, dimanapun kaki saya menapak. Tekad, yang semoga selalu tertanam dengan baik selama nafas masih berhembus dari raga saya.

Dari pengalaman pribadi tersebut, saya kemudian sadar, bahwa bukan sepenuhya salah teman-teman saya jika mereka lalu masih kepayahan menjaga sholat lima waktu di usia yang sudah baligh. Orang tua dan keluarga tentu punya peran teramat besar disini. Wajarlah kalau kemudian Rasulullah mengingatkan kita untuk mencari pasangan yang kelak akan menjadi partner untuk mendidik anak-anak kita kelak, berdasarkan agamanya, bukan tampan atau kayanya. Meski juga tak seharusnya teman-teman saya itu lantas dengan enteng menyalahkan orang tua mereka sebagai dalih. Bukankah kita sudah cukup dewasa untuk tau apa kewajiban kita sebagai hamba?

Ah, kini saya hanya ingin berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga saya, keluarga serta teman-teman saya selalu dalam iman dan Islam sampai akhir hayat, dan memberi kemampuan pada kami untuk selalu berjalan mendekat pada-Nya. Aamiin…


Rosa,
11 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)