Rabu, 12 Oktober 2011

Selamat Jalan Teman…


Ah, Septi…
Pagi ini wajahmu begitu jelas membayang di pelupukku
Semalam, episode – episode ketika kita masih tinggal dalam naungan atap yang sama pun berkelebat mengganggu nyenyak tidurku
Bukankah baru kemarin rasanya aku menemuimu untuk meminjam helm…?
Bukankah baru kemarin aku melihat kamu masih tampak bugar, dengan senyum terkembang laksana bunga bermekar kala semi tiba…?
Ah, Septi…
Sore kemarin tiba – tiba aku mendengar namamu di sebut
Disebut dalam sebuah rangkaian kalimat yang di awali kata ‘Innalillahi wainnailaihi roji’un’
Bukankah kamu masih begitu belia?
Bukankah masih banyak sekali asa yang ingin kamu perjuangkan dengan segenap ikhtiarmu?
Sayangnya, aku pun tau… kamu tak pernah punya pilihan lain atas takdir langit yang telah tergores sempurna dalam lauhul mahfudzNYA
Ketika sebuah kecelakaan tunggal yang terjadi saat malam tengah di puncak kematangan, mengantarmu pada dekapan Izrail yang mulia
Ah, Septi… semoga penutupanmu adalah Khusnul Khotimah…
Jika hari ini aku menulis, dan menangis… bukan karna aku ingin memberatkan langkahmu disana
Jika hari ini aku menulis, semata karna aku ingin mengenang beberapa saat kebersamaan kita
Meski aku dan kamu tidak dekat, pun tak sekalipun saling mencurahkan isi hati, namun bukankah tak sekalipun pula aku dan kamu berselisih?!
Kamu yang dulu sering menjadi teman sahurku untuk puasa sunnah…
Kamu yang kala pagi masih berembun sudah mengajakku beli bubur dan ketan karna kuliahmu jauh lebih awal...
Kamu yang tak pernah ingin merepotkan hingga sering sekali tampak sendiri membeli makan…
Ah, Septi…
Kenangan kita memang tak banyak… kebersamaan kita pun tak tertera dengan pena emas
Namun kepergianmu, tetap saja menggoreskan selaksa luka yang nyeri menyelusup di dada
Kamu, membuatku pernah merasakan kehilangan seorang temann yang terjemput ajal untuk kali pertamanya
Ah, Septi…
Nyeri sekali rasanya wajah ayumu pucat pasi dengan kapas disana – sini senja kemarin…
Gemetar kaki dan dadaku melihat tubuh lincahmu terbujur kaku tak berdaya, tak bernyawa
Septi… benarkah itu kamu, orang yang pernah tinggal satu kost denganku?
Benarkah itu kamu yang ternyata lebih dulu pergi kea lam keabadian?
Ah, ternyata memang benar, itu kamu…
Akhirnya, aku hanya mampu menggumamkan sebait doa untukmu…
Semoga Allah mengampuni segala dosamu serta menyambut kedatanganmu dengan kemuliaan…
Semoga Allah menggantikan rumahmu di dunia dengan rumah yang lebih indah disana… semoga Allah menggantikan keluargamu di dunia dengan keluarga yang lebih baik pula disana…
Semoga kepergianmu mampu memberikan pelajaran untuk kami yang sering sekali lalai… bahwa apapun yang kita kejar dan dapatkan di dunia, kematian akan tetap dating merampasnya, tanpa perlu permisi atau mengetuk pintu sebelumnya…
Semoga kepergianmu menjadi pengingat bagi jiwa – jiwa rapuh kami, bahwa tak ada yang lebih dekat dengan kita melainkan ajal…
Allahummaghfirlaha, warkhamha, wa afihi, wa’fu anha, waj’alil jannata matswaha…

**Aku dedikasikan untuk temanku “Septiya Anggraeni”
yang terjemput ajal pada  Senin petang, 10 Oktober 2011

Aku tulis bersama lantunan “Khusnul Khotimah” (Opick)
Selasa fajar, 11 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)