Kamis, 05 April 2012

Sepotong Hikmah dari 'Mbah Temi' dan 'Bu Jamilah'

Setelah (dengan ijin Alloh) berhasil menyelesaikan studi S1-ku, aku menghabiskan masa menanti wisuda dirumah, sembari memulai langkah berikhtiar mencari kerja. Masa-masa yang, jujur saja terkadang terasa amat membosankan. perasaan jenuh yang terus-menerus menekan, tentu saja tidak baik kalau dibiarkan. Maka, aku mencari pelarian. Bukan, tentu saja bukan narkoba.hehe...
Aku berusaha mendayagunakan waktuku sebisa mungkin untuk hal-hal yang menurutku bermanafaat. Selain itu, aku mencoba menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik yang karna satu dan lain hal (terutama karna males) sempat beberapa waktu aku tinggalkan. Dan salah satu kebiasaan yang sedikit demi sedikit kembali aku tanamkan adalah: Sholat berjama'ah ke masjid.

Rumahku amat dekat dengan masjid. Yaah... langkah dari rumah lah... *kaya' judul lagu dangdut ya?!*. Tapi bukan tentang itu yang ingin aku ceritakan saai ini, dalam tulisan ini. Aku ingin bercerita tentang hal lain, yang semoga menghamparkan jauh lebih banyak ibrah.
Jumlah jama'ah wanita sholat 5 waktu di masjid dekat rumahku tidak terlalu banyak. Yaa... rata-rata 2 Shaff lah. Jadi tidak terlalu sulit untuk memperhatikan siapa-siapa yang terbilang rutin sholat berjama'ah. Di antara tidak banyak orang-orang yang istiqomah sholat berjamaah itu, ada 2 orang yang amat menarik perhatianku, serta menyentuh sisi terdalam hatiku. Sebutlah ia Mbah Temi dan Bu Jamilah.

Mbah Temi. Tahukah kalian... ia adalah seorang wanita renta. Umurnya sepertinya sudah melewati angka 80. Dan berkat karunia Alloh, beliau masih teramat sehat. Namun, se-sehat-sehatnya seorang renta, bisa kalian bayangkan seperti apa fisik dan staminanya?! Padahal rumahnya tidak bisa dikatakan dekat untuk ukuran beliau. Belum lagi kontur jalannya yang naik turun. Dan Mbah Temi, hampir tak pernah meninggalkan sholat jama'ah di masjid, subuh sekalipun. Ia segera beranjak ketika adzan dikumandangkan, memaksa tubuh tuanya untuk sepenuhnya mengabdi pada Robb-Nya, semampu yang ia bisa. Lalu, bagaimana dengan kita para anak muda dengan stamina prima??? Tidak malukah kita jika masih saja terus menurutkan rasa malas yang memang sering amat keterlaluan menjajah diri kita???

Bu Jamilah. Ia seorang janda yang hidup sebatang kara. 2 anak perempuannya sudah berumahtangga, sedang anak lelaki satu-satunya merantau ke ibu kota, menjemput janji masa depannya. Bu Jamilah pernah terserang stroke beberapa tahun lalu. Tubuh bagian kanannya sudah dinyatakan lumpuh. Tapi dengan kekuasaan Alloh, Bu Jamilah dapat kembali berjalan dengan perantara ikhtiar pijat syaraf yang di lakukannya. Tentu saja jangan pernah membayangkan Bu Jamilah berjalan sebagaimana kita berjalan. Ia berjalan amat tertatih, dengan bantuan tongkat kayu seadanya. Tapi lihatlah, tidak jauh berbeda dengan Mbah Temi, ia selalu ada diantara para manusia yang bersama-sama bersujud menyembah Tuhan-Nya. Bahkan, sekali waktu aku melihat ia bermunajat di masjid di jam-jam sholat dhuha. Sekali lagi, lalu bagaimana dengan kita para anak muda??? Bukankah nikmat sehat masih melekat utuh dalam raga kita?!

Ayolah... Tak usah berdebat soal 'bukankah wanita lebih utama sholat dirumah' dan hal-hal semacamnya. Biarlah itu menjadi urusan Alloh. Cukuplah mengambil hikmah serta ibroh dari membaranya semangat mereka untuk mempersembahkan bakti untuk Sang Pencipta-Nya, untuk kita ambil lalu kita transformasikan menjadi amal sholeh kita.

Ya... Semoga kita tidak lantas menunggu hingga sama rentanya dengan Mbah Temi atau sama payahnya dengan kesehatan Bu Jamilah untuk memulai langkah untuk mengistiqomahkan sunnah-sunnah, terlebih yang wajib... untuk kita pegang kuat-kuat hingga ia takkan terlepas, bahkan sampai nyawa yang lebih dahulu terlepas dari raga ini.


Wallahu a'lam bishawwab, 
Yang menulis belum tentu lebih baik dari yang membaca


Rosa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)