Senin, 17 Desember 2012

:: Tentang 9 Matahari ::

Saya membeli novel 9 Matahari ini sekitar sebulan yang lalu di Gramedia Amaris (Semarang). Pertama tertarik beli novel ini karna say abaca tulisan di salah satu blog favorit saya (Rumah Matahari, red). Mbak Syam, si pemilik blog memberikan sedikit uraian tentang kelebihan novel ini.

 gb. ambil dr gugel

Awal-awal baca, jujur saya agak kecewa sih sama novel ini. Mungkin karna saya udah punya ekspektasi cukup tinggi kali ya gara-gara baca uraian mbak Syam tentang ini novel. Kenapa saya kecewa? Pertama, karna novel ini saya rasa nggak bikin penasaran dan nggak bisa bawa jiwa saya ikut masuk ke dunia si Matari. Kedua, novel ini lebih mirip seperti buku harian si Matari. Pembaca sama sekali nggak di ajak untuk benar-benar mengenal detail dunia Matari. Nggak ada penggambaran tentang fisik Matari, fisik orang-orang di kehidupan Matari, dll. Juga nggak ada penggambaran ekspresi dalam dialog-dialog antar tokohnya (yang juga sangat minim). Kenapa itu penting bagi saya? Karna penggambaran fisik, cara berpakaian, dan ekspresi-ekspresi saat bicara berbanding lurus dengan pengahayatan pembaca dan keinginan untuk terus membaca sampai ending. Juga sangat berpengaruh pada imajinasi pembaca atas apa yang ia baca.

Tapi, sampai di pertengahan Bab novel tersebut, emosi saya mulai terbawa. Saat si Matari “tumbang” atas peliknya masalah-masalah hidupnya, dan saat ia mencoba bangkit dan menguatkan kaki untuk kembali tegak menghadapi apapun di depannya setelah bertemu orang-orang baik yang memberinya semangat.

Well, di tengah ‘sedikit’ rasa kecewa saya pada novel ini, saya tetap salut pada sosok Matari. Seorang anak muda yang penuh energy,  dan yang punya tekad teramat besar untuk memperjuangkan mimpi-mimpiny meski dihadang beribu macam kesulitan.
Malu juga kalau inget bahwa dulu aku rajin sekali mengeluh merasa banyak sekali mengalami kekurangan saat masa-masa kuliah. Aku lupa, bahkan mungkin belum sadar, bahwa ada orang-orang seperti Matari yang harus memperjuangkan kuliahnya meski taruhannya adalah nasib perutnya sendiri.

**Ampuni aku yang rajin mengeluh ini Rabb…

Rosa,
17 Desember 2012

2 komentar:

  1. coba baca semi sequelnya Cha, yang judulnya 23 Episentrum mungkin tertarik. kalau saya sendiri sih suka :)

    BalasHapus
  2. belum sempet ke tobuk 2 bulan terakhir ini mbak :(
    beginilah nasib orang yg tinggal di kota yg nggak punya tobuk gedhe... huhu...
    emm,tapi akan saya masukkan sbg daftar buku yg bakal aku intip ;)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)