Sabtu, 14 Desember 2013

Wanita Biasa yang Luar Biasa

Saya tertegun ketika membaca sebuah paragraph tentang keajaiban cinta yang ditulis oleh Mbak Riawani Elyta dalam salah satu postingan terbaru di blog pribadinya.

"Ada banyak kisah nyata tentang keajaiban cinta di sekeliling kita, tentang cinta seorang suami pada istri yang mengalami kecacatan mental, tentang cinta seorang pengemis yang sanggup menembus kobaran api demi menyelamatkan kucing-kucing yang terperangkap di dalam gedung,  tentang kasih sayang seekor hewan pada majikannya yang sudah tiada hingga ia sanggup menziarahi makam majikannya setiap hari, dan lain sebagainya”

Ingatan saya seketika terbang pada kisah hidup seseorang yang tak henti membuat saya kagum, miris, sekaligus merenung. Seseorang yang amat dekat dengan saya, karna tempat tinggalnya tak jauh dari tempat tinggal saya. Kisah tentang kekuatan cinta serta ketabahannya dalam merawat cintanya tersebut, bahkan telah saya dengar sejak pertama kali otak remaja saya mampu memahami ‘rumpian’ orang-orang dewasa di sekitar saya.

Sebut saja ia Bu Hanifah*. Seorang Ibu rumah tangga biasa yang mengabdikan hidup sepenuhnya pada suami dan anak-anaknya, sembari berdagang sembako kecil-kecilan di rumah. Pengabdian yang membuatnya tetap tegar meski suaminya tidak sekali-dua kali ketahuan selingkuh bahkan sampai menikah lagi secara diam-diam. Ya, sudah menjadi rahasia umum di lingkungan tempat tinggal saya bahwa suami Bu Hanifah adalah laki-laki “tukang selingkuh”. Mulai dari selingkuh dengan tetangga sendiri yang hingga sampai pada tahap menikah siri dan menghasilkan anak (lalu selang beberapa bulan diceraikan], sampai pada bermain perempuan yang tak jelas asal-usulnya. Tidak hanya itu, suami Bu Hanifah juga punya perangai amat kasar. Meski setahu saya tidak sampai main tangan, tapi ia sering sekali terlihat membentak-bentak Bu Hanifah, meskipun di depan orang banyak.

Tapi apa lantas dengan begitu Bu Hanifah jadi sering mengumbar aib suaminya dengan curhat sana curhat sini, atau mengabaikan kewajibannya untuk menaati suami? Setahu saya sama sekali tidak. Dari cerita Mbak Ana* – orang dekat saya yang juga saudara Bu Hanifah, Bu Hanifah tetap selalu berusaha menaati suaminya, termasuk selalu minta ijin jika hendak pergi keluar rumah. Yang lebih membuat saya tercengang, beliau bahkan tetap mampu berbuat baik dan menunjukkan kasih sayang pada anak hasil selingkuh suaminya dengan salah satu tetangga tadi.

Ah, jujur saja, melihat kisah hidup Bu Hanifah ini pernah membuat saya gregetan dan sempat berpikir bahwa perbedaan antara tabah dan ‘bodoh’ menjadi tipis sekali disini. Saya tidak terima melihat Bu Hanifah terus menerus diam membiarkan hatinya dirajam duri oleh kelakuan suaminya. Bu Hanifah wanita biasa, bukan? Tidak mungkin ia tidak merasakan sakit atas semua yang dialaminya! Tapi  pandangan saya itu seketika berubah ketika saya kembali mendengar cerita dari Mbak Ana, yang ternyata juga pernah berpikiran hampir sama dengan saya, dan bahkan sempat mengutarakannya langsung pada Bu Hanifah.

“Saya pakai perjuangan bawah tanah saja. Kalau hari ini doa saya belum terkabul, besok Insya Allah pasti terkabul. Lagipula seluruh sakit hati saya jadi tidak lagi ada artinya ketika melihat anak-anak tumbuh dengan baik tanpa harus merasakan kehilangan sosok bapak**,” begitu jawab Bu Hanifah ketika Mbak Ana bertanya mengapa Bu Hanifah tidak mengajukan permohonan cerai saja.

Ah, betapa ini murni tentang wanita dengan ketabahan luar biasa, bukan tentang ia bodoh dan tak tahu harus berbuat apa, juga tentang pengorbanan ibu demi anak-anaknya. Dan tentu saja bagian ini tidak boleh lupa saya ceritakan. Mungkin Allah mengijabah tiap rintih kesedihan Bu Hanifah dengan menjadikan 4 anaknya sebagai anak-anak membanggakan yang sama sekali tidak terlihat mewarisi perangai buruk bapak mereka. Meskipun mereka bukan anak-anak dengan prestasi luar biasa, tapi mereka adalah anak-anak yang dikenal berakhlak baik di mata kami – para tetangganya. Bahkan pada bapak yang tingkah lakunya sering membuat malu pun, mereka tetap saja menunjukkan bakti dan hormatnya – persis seperti yang dicontohkan ibu mereka.

Dulu saya mengira kisah seperti ini hanya ada dalam cerita fiksi dalam novel-novel. Ternyata saya salah. Kisah ini terpampang jelas di depan mata saya.

oOo

*Bukan nama sebenarnya
**Percakapan sebenarnya memakai Bahasa Jawa

oOo

Tulisan ini diikutkan dalam event Kuis GA Novel A Miracle of Touch yang diadakan oleh Mbak Riawani Elyta. Ini pertama kalinya lhoo saya memberanikan diri ikut event Giveaway. sebelum-sebelumnya tiap mau ikut giveaway nggak tau kenapa selalu aja nggak pede. Motivasinya? tentu saja yang utama pengen dapet novel AMOT gratis. hehe



Saya memang selalu penasaran tiap Mbak Elyta menelurkan novel baru, tak terkecuali novel A miracle Of Touch ini. Dan alasan kenapa saya menginginkan novel ini, salah satunya adalah ini novel pemenang berbakat lomba Amore yang diadakan oleh GPU. Pastinya nggak sembarangan novel dong! Pesertanya pasti banyak banget, dan novel ini berhasil menjadi salah satu yang terbaik.

Semoga saja saya beruntung di pengalaman pertama ikut Giveaway ini, Aamiin :) 

2 komentar:

  1. Berkunjung ke tulisan pemenang^^
    Selamat ya, tulisan ini bagus, Pantas banget jadi pemenang GA dan dapet novelnya.
    Belum tentu kalau kita ada di posisi bu Hanifah bisa setabah itu ya :')
    Kirain kisah seperti ini hanya ada dalam sinteron :p

    Saya tunggu kunjungan baliknya ke http://juwitazahar.blogspot.com ya.
    Salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak Mbak Ita :)))

    Iya, saya pasti akan berkunjung balik :)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)