Selasa, 15 April 2014

Menaklukkan Ketakutan

Kalian pernah merasa takut? Saya pernah, sering malah. Takut pada sesuatu, takut salah, takut gagal, takut kecewa, dan beragam rupa jenis takut pernah saya alami. Apa saya penakut? Sepertinya iya.
Takut. Perasaan yang ketika melanda terasa amat menyiksa. Tapi anehnya, ketika saya merenungkannya, banyak dari ketakutan saya justru tidak terjadi. So, saya pikir seharusnya saya belajar untuk tidak lagi mudah takut... tidak lagi menjadi penakut.
Sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah Training Kaderisasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) di Salatiga. Training tersebut diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi yang menjadi anggota Rohis dari berbagai Universitas di Semarang. Kami menginap disana dua malam. Pada malam ke-2, ada sebuah acara yang hingga kini amat membekas di hati dan otak saya. Yaitu ketika panitia menggiring kami ke sebuah tanah lapang tak jauh dari tempat kami menginap. Di situ, kami disuguhi tantangan yang benar-benar menantang oleh trainer dalam acara tersebut. Yaitu, kami diperintahkan untuk berjalan melintasi api yang berkobar-kobar.
Ya, sungguh, benar-benar seperti itu... Api dinyalakan, hingga kobarannya setingga dada orang dewasa, lalu kami berjalan menerjang api tersebut - panjang lintasannya sekitar 2 meter. Diawali oleh asisten trainer yang memberikan contoh, lalu satu per satu peserta pun mulai mencobanya - dan selamat tak kurang suatu apapun. Saya? Saya justru menangis tersedu-sedu karna amat ketakutan. Padahal, seharusnya tak ada yang harus saya takutkan. Kami didampingi tenaga trainer profesional untuk melakukan hal tersebut, juga dengan langkah-langkah yang sudah tertata agar kami terlindung dari bahaya. Toh teman-teman saya juga sudah mencobanya - dan mereka tak sedikitpun terluka atau merasa sakit karna api. Ya, itulah... rasa takut seringkali menyandera seluruh akal sehat dan kemampuan berpikir, lalu menyeret kita pada tindakan-tindakan sia-sia. Tapi toh akhirnya saya mencobanya setelah dipaksa oleh sang trainer... dan, See... saya tetap baik-baik saja sampai hari ini. Alhamdulillah.
Lalu setelah acara itu, paginya ada acara outbond. Saat teman-teman asyik ber-flying fox, lagi-lagi saya lebih memilih menghindar. Takut. Tapi lama-lama saya sadar bahwa rasa takut telah membuat dunia saya terasa amat sempiy dan tidak berwarna. Saya sadar dan saya tidak mau terus dijajah rasa takut. Maka, sedikit demi sedikit saya mencoba menaklukkannya. Beberapa tahun setelahnya, saya berwisata alam ke Umbul Sidomukti bersama teman-teman kantor. Di sana kami disuguhi permainan flying fox dan melewati jaring-jaring tali yg membentang melintasi jurang teramat dalam. Untuk yang pertama saya membuktikan bahwa rasa takut tidak akan menghalangi saya. Ya, akhirnya saya berani berflying fox, 2x bahkan. Setelah saya membujuk hati saya sendiri untuk bertahan melawan rasa takut. Tapi sayang saya belum berhasil membujuknya untuk permainan kedua. Lalu naik motor. Ah, berapa tahun langkah saya amat terbatas karna dijajah rasa takut naik motor? Lalu entah bagaimana awalnya hingga saya melawan ketakutan itu... Dan, lagi-lagi... Semua baik-baik saja, dan semua ketakutan saya sama sekali tak terbukti. Alhamdulillah.
Yah, begitulah... Lebih dari itu, kita sering sekali merasa takut pada hal-hal yang sebenarnya sama sekali tak perlu kita takutkan. Takut pada berbagai kemungkinan di masa mendatang contohnya. Ah, bukankah ada Dzat yang Maha mengaturnya? Padahal, rasa takut seringkali tinggallah rasa takut yang tak pernah berarti apa-apa, kexuali hanya membuat langkah kita menjadi amat terbatas.
Lalu takut bermimpi. Ya, bahkan untuk mimpi-mimpi amat sederhana pun dulu saya takut sekali menuliskannya, atau bahkan sekedar mengikararkannya dalam hati. Takut tidak terwujud, takut kecewa, dll. Saat kita takut bermimpi, sejatinya kita takut bekerja keras untuk mewujudkan mimpi tersebut, begitu kata Mbak Prima yang membuat saya amat tertampar.
Maka, hari ini saya berjanji pada diri saya sendiri untuk menaklukkan berbagai perasaan takut yang sering terasa amat membelenggu. Rasa takut akan tinggal hanya rasa takut, yang seringkali justru sama sekali tak terbukti.

3 komentar:

  1. Aku masih takut coba permainan yang berjalan diatas bara api

    BalasHapus
  2. kalau saya takut berenang di kolam 2 meter dnk. #takuttapibangga :-D

    BalasHapus
  3. @Mbak Ika.. Saya juga takut bgt mbak.. tapi dipaksa. yah, the power of kepepet, akhirnya berani :)

    @Mas Andri... Saya malah gak pernah berenang sama sekali, haha :P

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)