Rabu, 02 April 2014

Kebijaksanaan Hidup

Zaman mungkin berubah, tapi nilai-nilai kebijaksanaan tidak akan berubah. Begitu kata salah satu penulis (sayangnya saya lupa namanya) saat menjadi bintang tamu di acara Just Alvin bersama Alberthine Endah, Zara Zetira, dll. Ya, saya mengamini kalimat tersebut. Kebijaksanaan hidup tak pernah diajarkan secara formal. Kita bisa belajar hal itu dari mana saja, bahkan dari hal-hal teramat sederhana yang kita lihat atau alami. Saya sedang belajar untuk hal itu, dan saya bersyukur mendapatkan potongan-potongan pelajaran itu selama long weekend kemarin.

Yang pertama saat saya berkunjung ke rumah Mbak Susi. Belajar banyak hal dari beliau, cerita macem-macem secara random, lalu sampailah saya pada  cerita itu. Tentang reaksiku saat ada seorang tetangga yang berkata kurang enak pada saya, lalu saya ‘balas’ dengan menyindirnya melalui status yang… yah, cukup pedas. Jujur, sampai saat saya bercerita di depan Mbak Susi hari itu, saya merasa tindakan saya sama sekali nggak salah – bahkan sudah cukup ‘bijak’ karna saya ‘hanya’ membalas melalui status. Hingga Mbak Susi membuat saya seperti terbangun dari pengaruh obat tidur. Ya, ekspresi Mbak Susi benar-benar membuat saya merasa ‘disentil’.

“Ih, gitu banget ik…” ucap Mbak Susi sembari mengernyitkan dahi. Sampai detik itu saya tetap merasa nggak salah. Hingga Mbak Susi bercerita tentang ucapan seorang sahabat karib masa kecilnya pada Mbak Susi, yang sama sekali nggak enak didengar telinga. Bahkan bisa dibilang ucapan teman Mbak Susi itu 8x lipat lebih nggak ngenakin hati dibanding ucapan tetangga saya tadi. Lalu apa Mbak Susi membalas? Ternyata tidak. Beliau memilih menanggapinya dengan senyum. Ah, kalau saya yang jadi Mbak Susi, entah apa yang akan saya lakukan.

Saat itulah saya sadar, sekaligus malu pada diri saya sendiri. Saya lalu teringat sebuah nasehat dari salah satu penulis favorit saya Tere Liye, terkadang cara membalas terbaik adalah justru dengan tidak membalas.

Pelajaran kedua saya dapat pada hari minggu, di Semarang. Saat itu saya bersama teman saya hendak makan siang di sebuah restoran cepat saji. Saat masih menunggu makanan, kami tiba-tiba dibuat terperangah oleh sikap seorang pengunjung. Tempat makan itu memang ramai sekali hari itu, hingga cukup sulit menemukan meja kosong. Seorang bapak-bapak bersama tiga anaknya terlihat hendak menempati meja yang nggak jauh dari meja kami. Meja yang hendak ditempati tersebut masih penuh dengan bekas makan pengunjung sebelumnya. Dan entah apa yang ada di benak bapak tersebut, baru saja seorang waiter hendak membersihkannya, si bapak sudah lebih dulu kalap dan membabibuta membuangi semua bekas makanan termasuk sisa minuman yang ada di mejanya ke lantai. Semua mata tentu saja langsung terarah padanya.

Saya dan teman saya berkali-kali istighfar, nggak habis pikir sama sikap bapak tersebut sekaligus nggak tega lihat si mas waiter yang berkaca-kaca. Ibu-ibu di sebelah kami bahkan nggak berhenti menggerutu – tampak geram sekali melihat tingkah si bapak. Yang jauh lebih miris, si bapak membawa 3 anak laki-lakinya yang turut memperhatikan tingkah bapaknya tersebut.

Saya pun berpikir, apa si bapak merasa dia punya banyak uang hingga ia bisa bertindak sesuka hati? Atau merasa bahwa ia tengah berposisi sebagai ‘raja’? Ah, sayangnya mungkin si bapak lupa, bahwa tindakannya tersebut justru tengah menyorengkan abu di mukanya sendiri. Si bapak mungkin lupa bahwa tindakannya tersebut justru sangat tidak menghargai dirinya sendiri. Ya, karna sejatinya diri kita sendiri-lah yang bisa menunjukkan seberapa pantas kita dihargai oleh orang lain.

4 komentar:

  1. kalo aq bilang, kita yg lbh tau siapa kita :D

    BalasHapus
  2. @Jiah... setuju2 *manggut*
    fotonya udah aku kirim yah neng ;)

    BalasHapus
  3. kalau sy mendpt perlakuan spt itu, biasanya malah sy baikin tu org, lama2 dianya gak enak sdri....prnh sy difitnah sp2 rasanya mgkn dia sdh kasih kotoran dimuka sy, sp tmn2 gemes krn sy ttp berbuat baik kpdnya, tp berlalunya wkt, dia meminta maaf sdri dan mlh jd berubah baik kpd sy...

    BalasHapus
  4. @Mbak Irowati... waahh, berarti Mbak termasuk orang yg lapang dada sekali yaa... kalo saya suka nggak bisa mengendalikan diri :(

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)