Senin, 14 April 2014

Sahabat

Sekitar seminggu yang lalu, saat kondisi fisik saya sedang agak drop, salah satu sahabat baik saya menelfon. Dia bilang entah kenapa sejak pagi ingin sekali menghubungi saya. Ah, sampai sini saja sisi sentimentil saya sudah sangat terkoyak.

Lalu, seingat saya setelah jeda sesaat di antara kami, dia tiba-tiba bertanya... Dengan nada amat sungguh-sungguh, apakah saya tengah memikirkan sesuatu. Dia sempat mengulangi pertanyaan tersebut karna saya hanya tertawa, dan bilang bahwa dia seperti bisa merasakannya. Ahh... Dia mungkin tidak tau betapa saya amat terharu, bahkan menangis mendengar pertanyaannya tersebut. Saya benar-benar nggak nyangka dia sebegitu menyayangi saya. Seingat saya, saya belum pernah melakukan hal yang 'luar biasa' seperti itu untuknya. Saya menangis, meskipun sekuat tenaga menahannya saat itu, dan mengalihkan tema pembicaraan, karna apa yang dia rasa sepenuhnya benar. Ya, hati dan pikiran saya memang tengah amat carut marut saat itu. Tapi saya memilih untuk tidak bercerita. Bukan yidak percaya, bukan. Tapi saya tengah ingin menguji diri sendiri untuk merasa 'cukup' mengadukannya lewat doa-doa.

Kenapa saya tiba-tiba ingin mencerutakan hal ini di sini? Karna saya ingin dia membacanya (tanpa saya memberitahu), dan tau... Betapa saya amat bahagia punya sahabat sepertinya. Dan meskipun saya tak bercerita, pertanyaan dia saat itu sudah amat mencukupi seluruh kebutuhan saya atas peran seorang sahabat di saat seperti itu. Karna lewat tanya itu, saya juga tau... Dia selalu punya doa untuk saya. Pun semoga dengan saya, padanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)