Senin, 19 Mei 2014

Merasa Bersalah

Merasa bersalah tuh rasanya nggak enak banget, yah? Saya paling nggak suka ngerasain perasaan itu, sumpah. Menyiksa sekali.
Beberapa tahun lalu saya pernah merasakan perasaan itu, pada salah satu sahabat saya di SMA. Saat pagi-pagi, tepat setelah upacara saya mendengar kabar Ayahandanya meninggal dunia. Ah, bahkan saya masih ingat persis perihnya. Rasa bersalah seketika mengepung saya ketika ingat bahwa tepat sehari sebelumnya dia menghampiri saya dengan wajah gundah, seperti hendak bercerita sesuatu. Tapi saya, dengan teganya malah mengabaikan itu, lalu justru merecokinya dengan rengekan kekanak-kanakan hanya karna sebuah konflik dengan sahabat saya yang lain (yang juga sahabatnya). Padahal bukankah saat itu saya pun sudah tau bahwa Ayahnya tengah terbaring di Rumah Sakit, dan kondisinya nggak bisa dibilang baik?! Seketika saya merasa menjadi sahabat paling egois sedunia.

Ya, itu kejadian yang membuat saya harus pasrah membiarkan perasaan bersalah bercokol di hati saya, bahkan hingga bertahun-tahun. Perasaan yang membuat saya selalu ingin menangis -- apalagi ketika melihatnya berusaha menunjukkan pada kami bahwa ia baik-baik saja dengan senyumnya yang selalu terkembang, meski gundah tak mampu tertutupi sepenuhnya.

Rasanya belum lama ini rasa bersalah itu mulai luntur. Lalu hari ini, saya tiba-tiba dibayang-bayangi perasaan itu lagi. Pada orang lain, dengan latar belakang lain. Mungkin memang jauh lebih sederhana dari kasus sebelumnya. Saya nggak pengen bercerita detail. Saya sendiri bahkan belum yakin apakah ini hanya perkiraan saya (yang ternyata salah), atau memang seperti yang saya perkirakan. Yang jelas, saat ada seseorang yang tadinya asyik dijadikan teman ngobrol dan berbagai cerita, bahkan saling mencela... tiba-tiba berubah menjadi kaku seperti baru kenal, sungguh sangat cukup membuat saya dibayangi perasaan merasa bersalah. Apakah karna keputusan yang saya ambil?!

Kalau boleh dan kalau bisa, saya pengeeen banget bilang ke dia, "Ayolah, kita masih tetep bisa sahabtan kayak dulu... jangan berubah gitu!!!". Tapi tentu saja saya nggak bisa egois. Dia punya hak untuk nentuin sikapnya.

Yasudahlah, pilihan terbaiknya bagi saya ya menerima perasaan merasa bersalah ini dan berusaha menghilangkannya. Semoga sih perkiraan saya salah, dan ini hanya perasaan saya saja -- jadi sebenernya dia nggak berubah, saya saja yang sensi. Satu lagi, berdoa, agar jika memang saya salah dan dia tersakiti, semoga dia lekas menemukan obatnya (dari Allah) :)

4 komentar:

  1. Semoga segera membaik persahabatannya ya Mbak :)

    BalasHapus
  2. Nek gak ky gt persahabatan rasane 'flat'2 aja
    Nek ada wrne kn terasa lbh indah to hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa siihh mbaakk....
      tp masalahnya gimana kalo jadi nggak mau sahabatan lagiii...

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)