Rabu, 09 September 2015

#SelfReminder: Ukuran "Sepatu" Kita Beda

"Menyenangkan orang, itu baik. Namun bila kamu menaruh kata ‘semua’ di antara dua kata itu, kamu harus hati-hati, besar kemungkinan akan terjadi dua hal padamu:
Satu, kamu sulit menjadi diri sendiri.
Dua, kamu sulit bahagia."
(Tia Setiawati)

Iya juga sih, ya. Ukuran sepatu masing-masing orang berbeda. Sepatu yang si A pakai, belum tentu nyaman untuk dipakai si B. Bahkan seringkali meski nomornya sama pun tetap terasa tidak pas saat memakai sepatu yang bukan punya kita sendiri. Kalau kita memaksa memakai sepatu orang lain, nggak akan ada manfaat selain ketidaknyamanan.

Begitu juga dengan banyak hal dalam hidup ini. Cara seseorang menghadapi sesuatu akan sangat mungkin berbeda dengan cara kita saat menghadapi hal yang sama. Kita nggak bisa memaksanya untuk memaksa dia memakai cara yang sama dengan yang kita pakai. Nggak akan! Kalau kita nekat memaksanya, nggak akan ada kebaikan selain sakit hati atau perseteruan -- nggak peduli sebaik apapun niatmu. Kalau kamu punya cara yang menurutmu baik untuk menuju ke suatu hal baik, bukan berarti cara orang lain salah hanya tujuannya nggak baik hanya karna dia nggak pakai cara yang sama dengan kamu.

Sayangnya, seringkali kita merasa berhak menjadi 'hakim' untuk oranglain, tapi berubah menjadi 'pengacara' paling hebat untuk diri sendiri. Merasa cara kita baik, lalu menutup mata sambil menuding cara orang lain salah. Saya rasa ini salah satu ujung pangkal dari banyak perseteruan di dunia. Tentang perseteruan ibu-ibu pro sufor dan pro ASI, tentang perseteruan antara working Mom dan Stay At Home Mom dan tentang hal-hal yang lebih kecil yang sering kita jumpai dalam keseharian.

4 komentar:

  1. iya.. "kebutuhan" orang itu berbeda beda ya mbak.. memang tidak bisa disamaratakan

    BalasHapus
  2. prioritas udah beda-beda kok saya paling sebel ibu ibu yang saling sensi satu sama lain

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)