Selasa, 13 Oktober 2015

Wardhani: Wanita Yang Menemukan Cahaya (2)

sumber
Baca cerita sebelumnya di sini, yaa :)

"Justru mungkin karna saya gak tahu banyak tentang Islam itu, pola pikir saya jadi lebih sederhana. Ketika saya tahu bahwa ternyata berjilbab itu wajib dan ada dalam Al-Qur'an, maka saya memutuskan untuk memenuhinya. Titik. Padahal saya belum sholat, belum bisa ngaji, dan lain-lain"

Saya semakin melongo. Sungguh semua itu karna hidayah, tentu saja. Rasa penasaran saya semakin menggelitik. Dengan hati-hati saya bertanya, "Lalu apa respon kakek-nenek Mbak Dhani??"

"Nah itu... alhamdulillah sekali Kakek dan Nenek sama sekali gak keberatan. Iya sih mereka sempat kaget, tapi kalau memang aku mantap ya mereka mendukung..."

Masya Allah. Saya masih terus terpana mendengar cerita mbak Dhani. Sesekali mata Mbak Dhani berkaca-kaca. Terutama ketika ceritanya sampai pada moment di mana sang kakek membawakannya tiga potong jilbab berwarna putih sepulangnya dari bersepeda pagi, dan ketika Mbak Dhani bercerita betapa perih hatinya ketika seorang diri mengurusi kematian neneknya -- lantaran orangtuanya tengah berada di luar kota -- yang harus dikremasi. Yah, bagimu agamamu, bagiku agamaku -- mungkin kalimat itu yang menguatkan Mbak Dhani. Ketika kakek dan neneknya mampu berlapangdada membiarkan Mbak Dhani berjilbab demi agama yang ia pilih, maka Mbak Dhani pun harus ikhlas membiarkan jasad neneknya dikremasi sesuai keyakinannya meskipun Mbak Dhani sangat ingin jasad neneknya dimakamkan. Pada bagian ini, saya teringat pada Baginda Rasulullah dan paman tersayangnya Abu Thalib. Betapa begitu besarnya kasih sayang Abu Thalib pada keponakannya, dan kasih sayang Rasulullah padanya tak juga mampu meluluhkan hatinya untuk memeluk Islam, jika hidayah memang belum menyapa.

Kembali pada Mbak Dhani. Lalu apa yang ia lakukan setelah berjilbab? Apakah ia mencukupkan diri begitu saja? Tentu tidak. Mbak Dhani lalu mencari guru mengaji. Pada sang guru ia meminta untuk kembali dituntun bersyahadat demi kembali meneguhkan dirinya sebagai seorang muslim. Mbak Dhani juga belajar mengaji, dan dalam setahun pertama masa belajarnya, Mbak Dhani berhasil dua kali mengkhatamkan Al-Qur'an. Allahu Akbar!

Nah, kisah Mbak Wardhani ini adalah cerminan nyata bahwa memutuskan berjilbab tidak harus menunggu jadi sempurna. Alibi-alibi semacam 'aku belum bisa ngaji masa' pake jilbab?!' dan lain-lain jadi terpatahkan, kan? Justru dengan memutuskan berjilbab, maka kita Insya Allah akan terus terpacu untuk memperbaiki diri. Tapi ya kembalinya ke soal hidayah, sih.

Semoga saja kita bukan golongan orang yang menutup diri dan mengabaikan hidayah padahal ia sudah menyapa tepat di depan mata. Aamiin :)

3 komentar:

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)