Senin, 20 Juni 2016

Ironi Ramadhan

Ramadhan bulan mulia, semua orang (muslim) pasti sudah tau itu. Di bulan ini, Allah menjanjikan berbagai keistimewaan dan pahala berlipat-ganda atas tiap ibadah kita. Tapi apakah semua orang yang sudah tau akan keistimewaan bulan Ramadhan lantas jadi memuliakan bulan Ramadhan? Sayangnya enggak. Malah banyak juga yang mengistimewakan bulan Ramadhan, tapi dengan cara yang salah. Beberapa cara mengistimewakan yang salah itu sayangnya menjelma menjadi sebuah kebiasaan yang mengakar, yang menjadi sebuah ironi setiap bulan Ramadhan tiba. Apa saja ironi itu?

Shopping

Bulan Ramadhan bagi sebagian orang juga bisa berarti bulannya shopping habis-habisan. Jujur sebagai wanita memang berat melawan godaan promo Ramadhan yang luar biasa hebohnya. Coba saja datang ke mall, maka mata kita akan disuguhi berbagai tulisan promo di sana-sini. Dari yang masih nyampung sama suasana Ramadhan dan lebaran, seperti promo baju muslim/muslimah dan promo kue lebaran, sampai yang gak nyambung sama Ramadhan dan lebaran seperti promo pakaian dalam dan promo blazer wanita, dll.
Kalo gak pandai-pandai menjaga hati biar gak kebablasen, bisa dipastikan dompet langsung jebol saat datang ke mall di bulan Ramadhan seperti ini. Jujur saja saya juga masih sering tergoda sih. Salah satunya ya tergoda promo blazer wanita itu, kayaknya oke kan dipake kerja :)

Tapi saya ingat lagi,, bukankah Ramadhan adalah bulan pengendalian diri termasuk dari nafsu berbelanja? =)

Buka Puasa

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana seluruh umat muslim diwajibkan berpuasa. Dan kata pak Ustadz, puasa itu  gak sekedar gak makan gak minum di siang hari. Ada esensi yang lebih dari sekedar itu, yaitu tentang pengendalian diri. Pengendalian diri dari segala hal, tak terkecuali mengendalikan diri dari nafsu makan yang berlebihan. Kalo puasa – gak makan gak minum – kemudian saat buka puasa makan bermacam-macam menu, lalu melahapnya hingga susah nafas gara-gara kesusahan, bukankah ini sebuah ironi? Ironi, betapa ternyata muatan pendidikan yang Allah berikan kepada kita melalui puasa belum berhasil kita resapi.

Belum lagi soal budaya buka puasa bersama. Buka bersama tapi sholat maghribnya jd kelupaan, atau jadi di akhir waktu misalnya. Atau buka bersama sampai sholat tarawih di masjidnya kelewatan *yang ini jujur saya termasuk yang masih melakukan =(( *

Media Sosial

Kalo ironi ini mungkin belum jadi kebiasaan yang berakar dan berulan dari tahun ke tahun sih. Media sosial itu bagai dua mata pisau. Gak ada salahnya memang main media sosial selama bulan Ramadhan, asalkan ibadahnya tetep terjaga. Apalagi kalo main media sosial dalam rangka berdakwah, menyampaikan pesan-pesan kebaikan, bersilaturahim atau berbagi ilmu. Bisa jadi bagian dari ibadah juga, kan?

Tapi kalo main media sosial di saat Ramadhan untuk saling adu argumen, ngotot, nyinyir sana-sini, komentar ina-inu tentang kasus yang terjadi... duh dek, betapa sia-sia Ramadhan bagi kita? Setelah Ramadhan lalu (Ramadhan tahun berapa ya tepatnya? Saya lupa, hehe) kita disuguhi adu argumen soal calon presiden A dan calon presiden B, Ramadhan kali ini kita disuguhi tentang adu argumen soal Satpol PP VS pemilik warteg yang melanggar perda. Dan entah kenapa, kasus kayak gitu kok pembahasannya jadi panjang kali lebar di media sosial. Hmmm...

Masih banyak lagi sih ya ironi-ironi yang kita lihat di bulan Ramadhan. Mau menambahi? Monggo di kolom komentar, ya =)) yang jelas, yuk ah... jangan jadi lalai mengoptimalkan bulan Ramadhan ini dengan ketataatan pada Allah.

4 komentar:

  1. Yuk, optimalkan bulan Ramadhan ini dengan ketataatan pada Allah...

    BalasHapus
  2. Share makanan saat blm buka, ironi... ngecesss

    BalasHapus
  3. Ironi aku adalah...males ngapa ngapain

    BalasHapus
  4. Ironiii.. ketika tidur dijadikan sebagai alibi "ibadah" hihihih

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)