Selasa, 13 September 2016

Belajar Dari Ibrahim: Tentang Taat Tanpa Tapi

pixabay.com
Masih suasana idul adha, yah. Sudah habis berapa puluh tusuk sate? Haha.

Sosok yang paling tenar saat idul adham tiba, tentu saja Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam. Karena beliaulah yang menjadi penanda dimulainya ibadah qurban di tanggal 10 Dzulhijjah ini. Sudah banyak pake banget sih yang nulis tentang keteladanan dari seorang Ibrahim, hikmah-hikmah idul adha, de el el. Tapi tetep saja saya pengen nulis pelajaran apa yang bisa kita ambil dari seorang Nabi Ibrahim. Biar ada jejaknya di blog saya. Biar kelak anak keturunan saya bisa membaca apa yang pernah ada dalam pikiran saya melalui blog ini -- jika Allah ijinkan :)

Belajar dari Ibrahim. Bagi saya pelajaran utama dari rangkaian kisah baginda Nabi Ibrahim adalah tentang taat tanpa tapi.

Kita pasti tau, berapa lama beliau menanti untuk dikaruniai buah hati, saat usianya bahkan sudah teramat renta. Kemudian Allah memerintahkannya untuk meninggalkan buah hati yang dinanti-nantikannya itu di sebuah padang tandus, hanya bersama ibunya. Sepi, tanpa bekal, tanpa teman. Hati laki-laki (baik) mana yang tega. Tapi itu perintah. Bahkan Ibrahim memilih untuk tak memberikan penjelasan panjang lebar pada Hajar -- istrinya -- karna takut hatinya goyah. Hanya jawaban 'Ya' yang terlontar saat Hajar bertanya, "Adakah ini perintah Tuhanmu?". Taat tanpa tapi. Apa kabar jika kita yang mendapat perintah semacam itu?

"Tapi Allah, bukankah anakku masih bayi?"

"Tapi Allah, bukankah ini padang pasir? Bagaimana jika mereka lapar, haus, bla bla bla"

Belajar dari Ibrahim, juga seiring-sejalan dengan belajar dari Hajar. Coba bayangin kalau Hajar adalah kita. Mendengar 'hanya' jawaban YA, seribu-satu tapi hampir pasti tak terelekkan.

'Tapi anakmu kan masih bayi, di sini sepi, gimana kalo kita berdua laper??!!!'

'Tapi bagaimana nasib kami? Kamu tega!!! Kamu gak sayang sama kita!!' *ini sih versi lebay-ku, ya =D*

Tapi tidak. Hajar justru menjawab tegas, "Jika memang ini perintah Allah, maka tinggalkanlah kami. Allah tidak akan membiarkan kami". Masya Allah. Taat tanpa tapi.

Pelajaran tak berhenti sampai di situ. Taat tanpa tapinya Nabi Ibrahim masih terus ditempa Allah. Ketika Ismail -- buah hati yang dulu ditinggalkannya di padang pasir mendewasa, Ibrahim kembali diperintah Allah. Tak hanya diminta meninggalkannya, kini Ibrahim diminta menyembelih buah hati tersayangnya itu. Bayangkan! Menyembelih anaknya sendiri. Ibrahim galau. Lalu sebagai ayah yang bijak, ia mendiskusikannya dengan sang buah hati. Seperti ibundanya, Ismali pun berkata tegas, "Lakukanlah ayah, jikalau itu perintah Tuhan". Dan Ibrahim siap menyembelih. Sebelum akhirnya Allah menggantikan posisi Ismail dengan seekor domba dari surga -- yang hingga kini kita replikasi kejadiannya melalui ibadah qurban. Lagi-lagi kita belajar taat tanpa tapi dari Ibrahim. Juga Ismail. Tak ada keluh. Tak ada tanya.

'Tapi kenapa aku harus disembelih ayah??!!'

Tak ada.

Sedangkan apa kabar kita hari ini? Saya pribadi terutama. Taatnya saya pada orang tua, pada suami, bahkan pada Allah masih sebatas taat yang penuh syarat. Bahkan lebih panjang list syaratnya dibanding ketaatannya. Maka idul adha, semoga tak hanya jadi hari di mana kita bisa makan sate, rendang dan rica-rica sepuasnya. Melainkan bisa terus Belajar dari Ibrahim dan keluarganya, tentang taat tanpa tapi, terlebih pada apa yang diperintahkan oleh Tuhan Semesta Alam.

Tambahan sedikit, saya suka sekali dengan status seorang teman di facebook. Ia berkata, Ibrahim takkan sempurna mengaplikasikan cinta pada Rabb-Nya jika istri dan anaknya tak punya cinta yang sama pada Rabb-Nya. Ya, kalau Hajar dan Ismail banyak bantah dan banyak tapi kayak saya, bukan gak mungkin Ibrahim goyah dan mengurungkan niatnya untuk menjalankan apa yang Allah perintahkan.

19 komentar:

  1. Setujes! Jangan mencintai orang tua atau anak melebihi pencipta-Nya. Masih belajar nih, Mbak. Makasih uda mengingatkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mbak... dan itu beraaattt
      mari terus belajar :)

      Hapus
  2. Ibrahim dan keluarganya satu frekuensi iman ya, ca. Jadi ujian apapun bisa dilewati. Meski harus melalui banyak hal yang nggak enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kalo gak satu frekuensi kayaknya bakal susah banget ya

      Hapus
  3. Kurban adalah bentuk nyata keimanan.

    BalasHapus
  4. suami yg taat berarti bisa ada pengaruh dr istri ygtaat jg ya mba:)

    BalasHapus
  5. Kalau kita belum apa apa udah tapi tapi aja hahahha :))

    BalasHapus
  6. Moga kita kompak yaa sa, taat dan cinta Allah..amin.

    BalasHapus
  7. sami'na wa atho'na itu gampang diucapin tapi susah dilakuin :( *refleksi*

    BalasHapus
  8. TAAT itu Kompleks banget ya, dan tetap butuh istiqomah menjalaninya. Semoga bisa, aaamiin

    BalasHapus
  9. Tertuang dalam suarah Al Kautsar. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan

    BalasHapus
  10. Keliatannya ringan dan enteng tapi taat tanpa tapi itu asli susah penerapannya karena kita cenderung utk cari alasan

    BalasHapus
  11. Ikhlas itu pelajaran yang paling tertinggi dalam menjalani ujian kehidupan ya

    BalasHapus
  12. Bener banget mba Anita...
    Apa yang kita tanam akan berbuah di kemudian hari :D

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)