Selasa, 02 Juli 2013

Jilbabku (tak seindah dulu)



Sudah berapa lama saya sadar mengenakan jilbab? Baru tiga tahun. Apa selama tiga tahun kesadaran itu jilbab saya sudah baik? Belum. 

Perjalanan saya hingga sampai pada sebuah gumpal kesadaran bahwa berjilbab adalah kewajiban yang tak bisa ditawar memang bukan kisah luar biasa. Saya tidak menemui banyak rintangan, seperti larangan dari keluarga atau semacamnya, seperti kisah-kisah mengharukan dari banyak saudari muslimah kita di luar sana. Satu-satunya rintangan yang saya temui adalah diri saya sendiri. Tentang bagaimana saya memantapkan hati, lalu memulai langkah untuk selangkah lebih baik sebagai seorang hamba.


gb. diambil dr google


Jilbab sudah saya kenal sejak kecil. Lalu belajar mengenakannya saat mask SMA, meski baru sebatas pake’ jilbab kalo ke sekolah, selebihnya belum. Meski sejak kelas 2 SMA, benih-benih impian bahwa saya akan berjilbab tak hanya ke sekolah mulai tersemai. Segala puji hanya bagi Allah, yang telah membuat hatiku dan hati keluargaku memilih UNISSULA sebagai tempatku melanjutkan studi. Ya, tempat itulah yang menjadi gerbang dari banyak sekali bongkah-bongkah hidayah.

Sejak kuliah semester 2 dan mulai sesekali mengikuti kajian keislaman, mulai ada larik-larik keresahan yang datang mengusik. Tentang kesadaran bahwa saya belum memenuhi salah satu kewajiban paling pokok dari seorang wanita yang mengaku Allah sebagai Tuhannya, Rasulullah Nabinya, dan Al-qur’an Kitabnya.

“Saya pengen berjilbab, Mbak. Tapi malu. Di desa saya, yang sehari-hari pake’ jilbab umumnya tu orang pondokan, yang pinter ngaji. Lha , saya? Ngajinya aja masih kacau. Takut juga nanti di omongin sama tetangga-tetangga…” curhat saya pada Mbak Inas, mentor ngaji saya saat itu.

Beliau tersenyum manis, lalu berkata lembut, “Pilih diomongin tetangga, tapi Allah ridho sama Rosa, atau nggak diomongin tetangga tapi Allah nggak ridho sama Rosa?”

Kata-kata tersebut, begitu menghujam dalam ke hati saya saat itu. Gumpal keresahan makin menjadi. Hingga muaranya, dengan mengucap Bismillah, saya memantapkan hati untuk berjilbab saat itu.

Lalu selama tiga tahun kesadaran berjilbab saya itu, terus berusaha memperbaiki jilbab saya? Ini yang paling saya sedihkan dari diri saya. Bukankah manusia yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah manusia yang celaka? Yaa Robb… ampuni hamba dhoif  ini…

Ya, ternyata saya lengah. Saya lalai menjaga hidayah yang Allah anugrahkan pada saya. Hidayah yang ribuan orang tak pernah beruntung mendapatkannya. Tidak, saya tidak melepas sama sekali jilbab saya. Naudzubillah, semoga Allah menghindarkan saya dari yang seperti itu.

Tapi lihatlah, saya mulai melonggar dalam menjaga jilbab saya. Prinsip-prinsip syar’I dalam berpakaian mulai saya lupakan. Jilbab saya mengecil. Bahkan saya melonggar saat ada sepupu laki-laki atau ipar yang tiba-tiba datang sedangkan saya dalam keadaan tidak berjilbab.

Astaghfirullah… sebegitu futurnya kah saya? T.T

Dan hari ini, menjelang Ramadhan seminggu lagi, dengan menyebut nama Allah, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan kembali berproses memperbaiki diri, meski selangkah demi selangkah, meski sendiri, tanpa ada teman-teman yang selalu siap menemani proses perbaikan diri saya. Semoga Allah meridhoi niat dan keinginan saya, serta memudahkannya. Aamiin…

Refleksi 3 tahun perjalanan jilbab saya, semoga saya istiqomah.

Pancur, 29 Juni 3013

4 komentar:

  1. Hidayah memang datangnya dari Allah kak. Tapi kalau kita nggak menjaga hidayah itu ya percuma. Sayang kan, kalau seorang akhwat nggak berjilbab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, doakan saya istiqomah menjaga hidayah dan istiqomah berusaha menjadi lebih baik :)

      Hapus
    2. amin ya rabbal alamin :-)

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)