Sabtu, 07 Desember 2013

Tentang Mode Jilbab

Entah kenapa saya tiba-tiba ingin menulis tentang tema ini. Mungkin salah satunya karna beberapa hari kemarin saya mendapati beberapa teman di dumay nge-share sebuah link yang merupakan tulisan seorang blogger nonis, yang menanggapi tentang perkembangan mode hijab akhir-akhir ini. Sudah beberapa kali saya pengen nulis tentang ini, tapi jujur agak takut. Saya takut nulis sesuatu yang sesat dan menyesatkan, karna minimnya ilmu saya. Tapi, Bismillah, saya sekedar ingin menulis unek-unek saya. Jika ada yang salah, semoga ada yang berkenan meluruskan.

Saya nggak akan bahas tentang hukum berjilbab bagi muslimah disini, karna sudah terlampau jelas: WAJIB!. Saya juga nggak akan bahas tentang ketentuan-ketentuan jilbab yang sesuai syariat, karna sudah banyak sekali tulisan yang membahas tentang itu, dan ditulis oleh orang-orang yang jauh lebih kompeten tentang hal itu. Saya hanya akan menulis tentang pendapat pribadi saya. Emm, mungkin boleh juga dibilang curcolan. haha

Kalau ditanya apa saya pernah tertarik pada warna-warni cara berjilbab yang saat ini bagai jamur di musim penghujan, saya akan menjawab pernah. Saya juga pernah terbawa arus, lalu megaplikasikan beberapa tutorial jilbab di youtube dalam keseharian saya. Tapi tentu saja saya memilih model yang nggak 'over heboh'. Nggak munafik, saya tertarik mengikuti jejak cara berjilbab yang di prakarsai oleh mbak-mbak dari Hijab Comunity ini karna melihat mereka (para anggota hijab comunity) terlihat cantik-cantik, modis, bla bla bla, pokoknya amat menarik bagi mata duniawi lah.

Tapi kemudian saya harus mengakui, bahwa diantara bisikan-bisikan nurani yang Alhamdulillah masih berhasil saya tangkap, saya merasa kosong saat tengah terbawa arus berbagai mode hijab tersebut. Rasanya, gimana yaa... mungkin mirip  rasanya saat saya harus sholat di tengah-tengah suasana hingar bingar keramaian: nggak khusyuk (Kalo ini sih mungkin karna masih tipisnya tingkat keimanan saya ya?). Singkat kata, saya nggak bisa memungkiri kata hati bahwa berjilbab sederhana dan menutup dada, tetap terasa lebih menentramkan hati. Jangan tanya alasannya, saya nggak tau.

Kalau ada yang tanya lagi, lebih suka mana antara dua 'kubu' model jilbab tersebut? Saya akan jawab tegas, saya jauh lebih suka model jilbab sederhana. Saya setuju dengan berbagai artikel tentang hijab syar'i, bahwa sederhana tetap selalu lebih indah untuk muslimah. Tapi kalau saya ditanya apakah saya setuju dengan menjamurnya mode hijab beserta berbagai komunitasnya, emm... saya masih gamang.

Jujur, saya bukan termasuk orang yang antipati sama fenomena ini sih. Mungkin karna masih tipisnya ilmu fiqih saya kali yaa. Tapi kalau boleh berpendapat, saya kurang setuju kalau ada yang men-judge macem-macem para pengikut mode hijab modis tersebut, apalagi para pemrakarsanya. Kan banyak ya jadi tegugah nutup aurat setelah mode hijab berkembang jadi sedemikian rupa ini. Kenapa kita nggak khusnudzon aja, mereka sedang berproses. Semoga semakin hari semakin baik, seiring bertambahnya pengetahuan mereka. Kalau niat awal mereka adalah pengen cantik dan modis dengan model hijab tersebut, semoga mereka nggak stagnan pada niat tersebut. Aduh, soal niat yaa... bener-bener kita nggak bisa meraba. Bener-bener ruang privasi antara Yang Maha menggenggam hati dan manusia ybs.

Sedangkan kalau untuk para pemrakarsa, seperti Mbak Dian Pelangi, dkk... aduh, nggak tau kenapa hati saya ngilu kalau ada yang bilang bahwa orientasi mereka ya ujung-ujungnya duit dan bisnis. Lagi-lagi, soal niat... bukankah kita nggak pernah punya porsi untuk menilainya? Saya nggak memungkiri saya termasuk yang (pernah) salut dengan Dian Pelangi, saat saya mendengar motivasi serta perjalanannya membesarkan mode hijab menjadi seperti ini.

Tapi saya nggak menutup mata juga sih dengan berbagai sisi negatif dari perkembangan mode hijab modis ini. Ada beberapa sisi yang mulai kebablasan dan prinsip baku yang diterjang dengan ringan. Seperti, model hijab yang amat berlebihan hingga jadi amat abu-abu itu hijab atau hiasan kepala. Belum lagi bergaya dengan punuk unta. Aduh, bukankah peringatan tentang itu mengerikan sekali? Dan yang paling utama, hijab yang di padu-padankan dengan model baju yang ketat, lekuk tubuh masih jelas, dll.

Intinya, saya se-iya sama teman-teman yang berharap, semoga mereka (dan saya) nggak stagnan pada tingkatan hanya fokus pada penampilan, semoga mereka (dan saya) juga menyeimbangkan dengan pengetahuan agama kita ini yang terus ditingkatkan, dll. Tapi tidak perlu saling mencela. Jika cara berjilbab kita sudah terlihat lebih baik, bukan berarti kita boleh 'mengejek' mereka yang belum sampai pada taraf pemahaman tentang hal tersebut. Saya sedih kalau melihat 'dua kubu' ini terkesan saling menyerang. Mari berdakwah dengan cara yang manis, seperti cara Rasulullah menasehati orang badui yang kencing di masjid :)

Oh ya, tambahan sedikit... untuk penyeimbang, ada lho anggota hija comunity yang amat menjaga prinsip-prinsip syar'i (yang saya tau dari tulisan-tulisan di blognya). Salah satunya, Mbak Kivitz. Waahhh, saya sih kalah jauuuhhh bumi sama langit.

oOo

Tulisan ini hanya uneg-uneg yang ada di hati saya. Murni Subjektif. Mungkin akan banyak ketidaksesuaian yang disebabkan minimnya ilmu saya. Saya juga masih kacau dalam hal istiqomah berjilbab syar'i, jadi tulisan ini semoga bisa jadi refleksi dan pelajaran untuk diri saya sendiri.

Wallahu a'lam Bishawwab... 


2 komentar:

  1. Berhijab sekarang malah menjadi tren mode ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, bagai dua sisi mata pisau ya mbak...

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)