Kamis, 09 Januari 2014

Lagi-Lagi Tentang Jodoh



Ya, lagi-lagi saya (harus) menulis tentang jodoh. Semoga nggak lantas diartikan bahwa saya adalah “galauers”  yang tengah mengekspos kegalauan saya. Kalaupun saya memang galau, setidaknya saya berusaha mengarahkan energi galau saya ke arah yang positif. hehe

Jodoh. Tema itu seperti nggak pernah ada habisnya ya untuk dibicarakan dan dikembangkan. Apalagi di kalangan gadis-gadis seumuran saya. Umur sudah cukup, sekolah sudah selesai, sudah kerja pula. Tahapan apalagi yang terpenting setelah itu kalau bukan menikah?!

Bohong kalau saya bilang nggak galau tentang hal satu itu. Apalagi ketika sepupu terdekat yang seumuran dengan saya telah dilamar oleh pacarnya. Gimana situasi batin saya nggak runyam? Belumlah harus sibuk menata hati sendiri agar tetap meyakini bahwa semua ada waktunya masing-masing, sudah diharuskan pula menjawab banyak pertanyaan saudara-saudara tentang “kamu kapan”, “sudah punya calon belum”, “kok bisa belum punya”, dll.

Andai semua orang memahami bahwa terkadang ada pertanyaan bermotif peduli justru membuat nggak nyaman hati yang ditanya. Ah, tapi mungkin justru di situ-lah letak ujiannya. Mungkin ujian terberat pada fase ini bagi saya adalah orang tua. Meski tertatih, Insya Allah saya bisa menata hati dan bersabar menanti lelaki yang Allah siapkan untuk saya datang. Tapi untuk memastikan bahwa Bapak dan Ibu pun turut menata hati dan bersabar bersama saya, sulit sekali rasanya.

Sampai hari ini baru sekali saya merasakan jatuh cinta. Benar-benar baru satu orang yang bikin saya nggak bisa tidur karna terus kepikiran, nangis sesenggukan di malam sunyi karna kangen, dan berbagai tingkah aneh lainnya. Malangnya, saya jatuh cinta pada orang yang salah. Kenapa salah? karna dia dan saya nggak se-iman. Lebih malangnya lagi, saya baru tau kalo dia bukan muslim setelah cinta itu tumbuh bersemi. Ah, tapi kisah itu sudah tertinggal jauuuh sekali. Dan saya bersyukur pernah melewati fase itu. Fase yang benar-benar mengajarkan banyak hal. Namun anehnya, lima tahun lebih kisah itu terlewat, saya belum pernah lagi merasakan jatuh cinta. Mungkin Allah mengabulkan doa kecil yang pernah saya ucapkan ketika tengah dibuat tak berdaya oleh “cinta yang salah” saat itu. “ya Allah, buat saya jatuh cinta (lagi) hanya pada laki-laki yang Engkau takdirkan sebagai suami saya”

Emm, tapi  kalau coba saya renungkan, meyakinkan diri sendiri untuk akhirnya bilang, “ya, saya bersedia menikah denganmu!” juga nggak semudah yang saya bayangkan. Kalau lagi mengkhayal sih saya selalu sesumbar bahwa saya akan langsung berkata “iya!” kalau ada laki-laki baik yang datang pada saya. Kenyataannya? Nggak sesederhana itu. Pernikahan bukan sembarang ikatan. Ia adalah sebuah “Perjanjian yang kuat” antara dua manusia dengan saksi Rabb-nya. Banyak yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang, sebagai salah satu ikhtiar pertama menjadikan ikatan tersebut berlanjut hingga Surga-Nya.

Saya pernah diajak menikah sama seseorang yang belum begitu saya kenal menikah. Dia tiba-tiba telfon, bilang jatuh cinta pada saya, sudah istikhoroh berkali-kali dan yakin bahwa saya jodohnya. Aduh, tapi waktu itu saya masih kecil. Kuliah saja belum selesai. Kalau sekarang, yang kadang bikin kepikiran tu soal jarak. Keluarga saya bukan tipe perantau, nggak biasa hidup saling berjauhan. Apalagi saya bungsu. Kakak saya bilang “trayek” jodoh saya antara Jepara-Kudus aja kalau bisa. Tapi jodoh kan rahasia Allah, kan? Bumi Allah membentang teramat luas, dan kita nggak boleh menyempitkan apa-apa yang sudah di luaskan oleh-Nya.

Intinya tetep “sabar” sih, ya. Terutama sabar menjaga kehormatan diri. Berapa banyak orang yang “nggak sabar” menanti jodoh terbaiknya datang, lalu “menjajakan” dirinya secara “murah”? Naudzubillah. Sabar untuk tetap berprasangka baik pada Allah, dan tak lelah melangitkan doa-doa terbaik kita. Semoga Allah membuat saya tetap sabar dan memudahkan hati saya yang sudah lamaaa sekali “terkunci” untuk kembali membuka saat seorang lelaki sholih datang pada wali saya. Aamiin

oOo

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat 

 

9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Setuju banget mba....sepertinya kita senasib :D

    BalasHapus
  3. saya mau ikut dobrak kunci hatinya boleh? :p

    BalasHapus
  4. Ayook2... silahkan kalo bisa :P :D

    BalasHapus
  5. hehe, kalo jodohnya jauh memang jadi mikir lagi. jadi mending nyari yang deket aja :D

    BalasHapus
  6. Masalahnya, nyarinya kemana, Mbak?? haha...

    BalasHapus
  7. Jatuh cintanya setelah menikah saja :D Makasih dah ikut GA-ku ya...

    BalasHapus
  8. Iyaa Mbak, Insya Allah :)
    sama2 Mbak leyla,terimakasih telah berkunjung :)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)