Kamis, 30 Januari 2014

Warna-Warni Dunia Kerja



Nggak terasa sudah setahun lebih saya berada di dunia kerja, mencicipi cita rasanya, juga berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan dengan dunia saya sebelumnya. Ya, dunia kerja dan dunia kampus (sekolah), tentu saja berbeda jauh. Kalo saat masih sekolah atau kuliah kita masih seneng grubyak-grubyuk sama temen-temen, hal itu pasti akan sangat jarang bisa kita lakukan sama temen kerja. Kalo saat kuliah ato sekolah kita ‘kompak’ banget menyelesaikan berbagai tugas bersama, bahkan tak segan untuk saling membantu, nggak begitu halnya saat sudah ada di dunia kerja. Meski kita diwajibkan untuk bisa saling bekerja sama, tetap saja masing-masing orang punya jobdesc-nya masing-masing, dan harus mereka selesaikan masing-masing pula. Iya, kan?

Sejauh ini, saya selalu berusaha untuk nggak lepas bersyukur telah ‘diletakkan’ Allah di tempak kerja saya ini. tempat yang memberi saya banyak sekali kesempatan untuk belajar. Belajar lebih banyak hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya, juga tentang warna-warni sisi kehidupan. Ya, bukankah kita harus selalu belajar – bahkan dari keburukan sekalipun?

Setahun kerja, saya sudah beberapa kali mengalami pergantian rekan kerja. Dan dari beberapa kali pergantian tersebut, saya mulai bisa menemukan ‘pola’ sikap teman-teman kerja saya (mungkin termasuk saya sendiri). Setiap ada rekan kerja baru, beberapa teman cenderung membangun ‘tembok’. Lalu yang berkembang selanjutnya adalah berbagai ‘kasak-kusuk’ tentang berbagai sikap (yang terlihat) negative dari rekan kerja baru tersebut. Beberapa kali pola tersebut terulang, saya jadi bisa sedikit menarik kesimpulan. Kalo terlihat banyak sekali sisi negative dari rekan kerja baru tersebut, bukan karna dia memang benar-benar seperti itu, tapi semata karna kita yang sudah lebih dulu membangun ‘tembok’ yang menghalangi kita untuk bersedia mengenal dan menilai secara objektif rekan baru kita tersebut. Yah, mungkin mirip-lah sama penyebab orang yang susah move on *yang ini sok tau*.
Kalo soal persaingan dan konflik kepentingan antar rekan kerja sih mungkin sudah termasuk hal klise ya di dunia kerja. Sering denger cerita dan beberapa kali lihat sendiri juga orang yang sibuk cari muka di depan atasan. Apalagi iri-irian soal perbedaan ‘penghargaan’ yang diberikan pada masing-masing karyawan. Hmm…

Sadar ato nggak, kadang ada beberapa dari kita yang menodai jalan rizki yang sebenarnya halal. Contohnya, dengan saling menghasut ato menjatuhkan citra rekan kerja misalnya. Semoga kita masih punya cukup harga diri untuk menghindarkan diri dari cara-cara rendah seperti itu. Kalo soal iri karna adanya perbedaan ‘penghargaan’, saya pikir nggak papa selama kita bisa menempatkan iri itu sesuai porsinya – yang bisa mendorong kita untuk lebih berprestasi lagi.

Satu lagi hal penting yang saya pelajari dari dunia kerja ini adalah: berani mengakui kelebihan teman, dan nggak pegecut untuk mengakui kekurangan serta kesalahan kita. Dan itu sama sekali nggak gampang! Denger atasan memuji hasil kerja rekan kita, kalo kita nggak berjiwa besar sangat berpotensi bikin telinga dan hati jadi panas. Apalagi kalo di sisi lain ternyata ada kerjaan kita yang salah atau kurang sempurna… wah, wah… benar-benar hati yang teramat lapang untuk mengakuinya dengan legowo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)