Sabtu, 12 Juli 2014

#Ramadhan14: Belajar Parenting, Tentang Porsi Kasih Sayang Untuk Anak

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
 
oOo
 
Baca tentang kisah seorang ibu di Gaza yang mengantarkan anaknya untuk turut menjadi pejuang, saya mrinding. Benar-benar tidak terbayang kecamuk perasaan manusiawi sebagai seorang ibu yang teramat menyayangi anaknya, bercampur keteguhan iman serta keyaknan atas janji Allah jika ia merelakan anaknya berjuang di jalan-Nya. Tidak lama setelah membaca kisah tersebut, saya lalu membaca postingan terbaru di web parenting nabawiyah. Ah, membaca judulnya saja hati saya bergetar. "Ibu, Kuatlah Demi Surga Anakmu..."

Dalam artikel tersebut diceritakan tentang kisah Asma yang dimintai ijin oleh Abdullah bin Zubair untuk berangkat ke medan perang, dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding. Asma, meskipun tau persis resiko besar dibalik peperangan tersebut adalah kehilangan anaknya, tak mengjinkan anaknya mundur sedikitpun dari peperangan tersebut -- justru menyemangatinya. Apa lagi yang menguatkannya jika bukan keyakinan atas janji Allah akan surga-Nya -- mengalahkan perasaan manusiawinya sebagai seorang ibu.

Bagaimana dengan fenomena hari ini? Di sekitar saya, banyak saya jumpai ibu yang 'salah' menempatkan kasih sayangnya. Mengartikan kasih sayang dengan memberikan apapun yang diminta sang anak, memastikan anak terus-terusan ada di zona nyaman, dll. Padahal bukankah there is no growth in the comfort zone?
 
Saya terlampau sering melihat seorang anak yang merengek meminta sesuatu, ditolak oleh ibunya, lalu sang anak menangis meraung, lalu luluhlah hati ibunya, dan memilih untuk menuruti. Jelas saja sang anak saat itu telah belajar bahwa menangis adalah senjata ampuh agar semua keinginannya dikabulkan. Apalagi soal membiasakan anak untuk sholat, mengaji, puasa, dll. Berapa banyak ibu yang beralasan, 'Ah, kasihan, tidurnya masih pulas...' saat hendak membiasakan anaknya sholat subuh?! Berapa banyak ibu yang berkata, 'Ah, tidak tega, kan belum wajib, nanti lemes...' saat hendak mengajari anaknya berpuasa ramadhan.

Saya juga miris melihat tidak sejalannya visi dan misi, baik antara Ayah dan Ibu, atau dengan lingkungan keluarga terdekat yang lain. Beberapa kali saya melihat seorang ibu tegah menegur anaknya tentang suatu hal, lalu tiba-tiba sang Ayah mengeluarkan statement pembelaan bagi sang anak, di depan sang anak langsung. Atau seorang kakek/nenek yang mengabulkan permintaan cucunya, padahal permintaan tersebut sebelumnya tidak dikabulkan oleh orang tuanya. Tentu saja sang anak telah belajar bahwa perkataan ayah-ibunya tidak harus selalu dipatuhi, karna masih ada pihak lain yang akan 'membelanya' dan mengabulkan permintaannya.

Ah, tapi saya lebih dari tau dan sadar, bahwa semua itu memang tidak mudah. Saya baru sebatas belajar teori semata. Beberapa hari lalu saya mendapat gambaran tentang betapa susah menguatkan hati untuk 'tega' demi mendidik seorang anak. Saat keponakan pertama saya yang baru tahun pertama belajar berpuasa merengek pada saya untuk diijinkan minum karna merasa sangat haus setelah main sepeda. Berat sekali rasanya bertahan untuk tetap 'tega' membiarkannya kehausan, meski alhamdulillah akhirnya saya berhasil mengalihkan perhatiannya. Saat itu saya kemudian tau apa gerangan yang membuat banyak ibu terlampau tak berdaya menolak permintaan sang anak.

Allah memang menganugrahkan perasaan sayang yang tak terhingga luasnya di hati seorang ibu untuk anaknya. Namun itu bukan berarti para ibu boleh saja mengekspresikannya dengan tak terhingga pula. Sesuatu yang tidak sesuai porsi dan tidak sesuai tempat memang selalu tidak baik. Tak terkecuali dengan kasih sayang.

"Bila ibu tidak tega mengajarkan anak hafalan, dengan alasan kasihan masa kecilnya dihabiskan untuk serius bukan untuk bermain; yakinkah anak kita akan menjadi anak yang menyematkan Quran dalam dadanya di setiap waktu hidupnya?
Jika tidak tega mengajarkan anak sholat lima waktu dengan alasan belum wajib baginya dan khawatir membangunkannya terlalu pagi; Maka yakinkah anak kita akan menjalankan dan menjaga sholatnya hingga maut menjemputnya?
Bila tidak tega mengajarkan anak berpuasa dengan alasan masih kecil, khawatir kurang gizi dan alasan lainnya; Yakinkah anak kita nantinya akan menjaga puasanya semulia puasa Abdullah bin Zubair?"
(Kutipan dari artikel "Ibu, Kuatlah Demi Surga Anakmu" - www.parentingnabawiyah.com)

4 komentar:

  1. bener banget ka, yang aku liat jaman sekarang itu bukan anak yang nurut sama orangtua tapi malah orangtua yang nurut sama anak yah.. *heraaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. tapi ya itu... memang berat bgt nolak keinginan anak bagi seorang ibu, kalo gak dibarengi sama prinsip yg kuat...
      semoga kelak kita bisa :)

      Hapus
  2. Memang gak mudah untuk menerapkan disiplin dan bersikap tegas pada anak, apalagi kalau orang di sekitar gak mendukung (suami, orangtua kita, atau saudara) untuk kita bersikap demikian. Kalau saya lebih fleksibel sih mbak, tegas atau gak tergantung kondisi aja, sama tergantung mood saya :p hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya ibu tu punya sayang yg luasnya gak terkira ya, mak...
      tp kalo gak sesuai porsi ngasihnya, ya itu td... bisa malah bikin anak gak bs maju...

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)