Kamis, 03 Juli 2014

#Ramadhan5: Konsep Doa

La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” (QS Al Anbiya’ [21]: 87)
 
oOo
Kemarin saya  baca tulisan Ustad Salim A Fillah. Dan... ngrasa tersentil. Selama ini kita -- kebanyakan orang di jaman ini, khususnya saya -- lebih sering disibukkan sama konsep 'kekuatan pikiran' yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Konsep yang menekankan bahwa saat kita berdoa kita harus menjelaskannya secara detail, bahkan termasuk 'deadline' terkabulnya pinta kita... bahwa kita harus selalu membayang-bayangkan apapun yang kita pinta karna konon 'Semesta memberikan apa yang kita pikirkan', bla bla bla...

Tidak. Saya tidak sedang menyalahkan atau mencel konsep tersebut. Saya termasuk yang setuju kok sama konsep di atas. Bukankah konsep tersebut juga selaras dengan salah satu hadist yang mengatakan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya?! Iya, saya tidak sedang mencela, saya hanya sedang menyeimbangkan mainse.
 
Tulisan Ustadz Salim diatas benar-benar mengingatkan saya. Mengingatkan agar saya tidak over pede sama kekuatan pikiran saya sendiri, lantas membuat rasa pasrah saya pada Allah jadi berkurang. Takutnya, kalo mainset hanya terpaku pada konsep di atas tanpa diseimbangkan, saat apa yang kita pinta dalam doa terwujud, kita akan berpikir, "Nah, kan... itu karna kekuatan pikiran saya", sedang Allah jadi nomor sekian. Mengingatkan kita juga untuk, yuk tengok cara para nabi dalam berdoa. Salah satu contohnya adalah doa nabi Yunus saat tengah berada dalam perut ikan, seperti yang ada di awal tulisan ini.
 
Yah, begitulah. Mungkin sudah waktunya kita (saya) belajar tentang kepasrahan, ketundukan, serta merendahkan diri di hadapan Allah dengan serendah-rendahnya. Berikut kutipan random dari tulisan Ustad Salim. Lengkapnya, silakan baca di blog beliau.
 
Doa Yunus, betapa sederhana. Tapi indah dan mesra. Akrab dan hormat. Takzim dan syahdu. Demikianlah pada pinta para Nabi di dalam Al Quran, kita menemukan lafazh doa, ruh tauhid, sekaligus keindahan adab. Hari ini, ketika kita disuguhi fahaman antah berantah bahwa doa harus dirinci-rinci, dibayang-bayangkan, dan dijerih-jerihkan; seakan dengan demikian ia lebih cepat dikabulkan, mari berkaca pada doa Yunus.

Tak ada di sana pinta untuk mengeluarkannya dari perut ikan, apalagi desakan agar segera. Tak ada di sana rajuk-rajuk manja, hiba-hiba memelas, apalagi kalimat perintah yang pongah. “Doa Dzun Nun, ‘Alaihis Salam”, demikian menurut ibn Taimiyah, “Adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al Quran.” Doa itu mengandung 2 hal saja, merunduk-runduk mengakui keagungan Allah, dan berlirih-lirih mengadukan kelemahan diri.
 
Selanjutnya, kita menginsyafi bahwa hanya Allah-lah sandaran terkuat, terkokoh, terhebat. Bukan diri, ilmu, ataupun hal-hal yang kita daku sebagai milik yang menjadi tempat bergantung. Bukan anak maupun pasangan, bukan kerabat maupun kawan, bukan rekan ataupun atasan. “Aku bertawakkal hanya kepada Allah”, adalah ikrar kepasrahan kita. Bahwa tiap tapak yang terayun serta tiap langkah yang terpijak ini, Allah-lah yang mengatur, mengarahkan, dan menepatkannya.
 
Wallahu a'lam Bishawwab...

5 komentar:

  1. Alhamdulillah, terima kasih sudah mengingatkan, dek Rosa... Keep blogging.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mbak... terimakasih sudah bersedia membaca :)

      Hapus
  2. salam kenal mbaaa...wah, terima kasih sudah mengingatkan..saya juga sering merasa bersalah karena doa kok "memaksa", bukannya menundukkan kepala dan percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik..TFS yaaa..salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak :)
      Iya ya, kadang seolah kita tu bos yg harus dituruti maunya -_-

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)