Minggu, 01 Februari 2015

Tentang Perasaan: LELAH

Saya pernah merasa mantap pada seseorang, yang juga mengaku mantap pada saya
Sayangnya, rasa mantapnya ternyata tak cukup besar untuk membuat dia memperjuangkan saya
Dan sayangnya lagi, ternyata saya tak cukup sabar untuk menunggu dia punya cukup keberanian untuk memperjuangkan saya
Baiklah, mungkin dia memang bukan untuk saya....

Saya pernah merasa... kadang mantap kadang tidak... fluktuatif, pada seseorang yang seolah sangat mantap pada saya
Padahal onak dan duri begitu nyata membentang di hadapan kami
Hingga kami akhirnya sadar, tidak seharusnya kami terus membiarkan tubuh kami terus terlukai karna memilih memaksakan diri melewati jalan penuh duri tersebut
Baiklah, mungkin dia memang bukan untuk saya...

Dan hari ini, saya sampai pada titik di mana saya hampir tak lagi berani mendefinisikan kemantapan saya sendiri
Setelah beberapa kali definisi yang saya buat sebagai pijakan untuk mengambil keputusan nyatanya justru menikung saya begitu saja
Ya, saya sampai pada titik di mana saya merasa lelah
Saya lelah karna ada beberapa orang yang seolah menuntut saya meraba perasaannya melalui berbagai pertanda yang terus mereka tunjukkan
Saya lelah karna saya merasa jadi punya kewajiban menjaga perasaan beberapa orang, sementara saya tengah tertatih untuk menjaga perasaan saya sendiri
Ya, saya lelah
Lelah menerka dan bertanya, "Lalu yang mana yang benar-benar untuk saya?"

Semoga ini bukan catatan putus asa

14 komentar:

  1. cuma satu kata mbak yang bisa saya sampaikan,... "Sabar", Allah pasti akan memberikan apa yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas :)
      Ohya, masnya salah satu perawat di RSISA kah?

      Hapus
  2. Rosa sayaaang..... aku pengen meluk kamu say...
    Tapi ada yang udah berani "nembak" nggak? Kalau memang ksatria dan tangguh, maka jika ada rasa harus berani "nglamar". Nha, kalau emang dia atau mereka (eh?) menyatakan itu, tantang aja, berani nglamar ke ortu nggak?. Eh kamu nggak harus jawab komenku ini ya...., Kalau niat aja nggak, kenapa harus kaujaga perasaan tuh doi? Hai doi! (doi mana tuh orgnya?) Apa sih maksud loh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... jawabannya kapan2 kalo ketemu langsung ya mbak :D

      Hapus
  3. Mbak Rosa.. aha tulisannya bikin Februari yang udah mendung jadi tambah mendung dech :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... mendung itu syahdu sinna :)

      Hapus
  4. Mba Rosa...
    Sabar ya... semoga diberikan jalan keluar yang terbaik, karena Allah selalu sayang pada kita...
    dan jujur untuk kebaikan diri sendiri itu lebih baik meskipun awalnya terasa berat ^^
    semangat Mba'

    BalasHapus
  5. dalam hidup ini kita mungkin pernah demikian sangat menginginkan seseorang
    tetapi entah kenapa segala hal tidak mendukung kita untuk bersama dengan dia
    nikmati saja

    kita mungkin pernah menangis dalam sujud sujud kita karena rasa ingin memiliki yang begitu besar sampai rasanya hati kita tidak kuat lagi menahan

    tapi tetaplah kuat
    meskipun harus menikmati semua rasa sakit itu
    pilihan Allah adalah yang terbaik
    insyaAllah

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaahh... bikin gerimis mbak bacanya :')

      Hapus
  6. Pasti mbak ada fase lelah setelah berusaha mempertahankan seseorang yang ternyata endingnya bukan untuk kita. Maybe you just need a break :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ika, bener... I need a break :')

      Hapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)