Jumat, 20 Maret 2015

Meneladani Khadijah Atau Fatimah?


Sayyidah Khadijah dan Sayyidah Fatimah adalah dua nama wanita luar biasa yang pasti sudah sangat akrab di telinga para muslimah. Dua wanita yang amat dicintai Rasulullah dan sama-sama mendapat jaminan surga. Dua nama tersebut kemudian menjadi nama yang paling terkemuka untuk menjadi tolok ukur keteladanan bagi para muslimah.

Bahkan, kisah mereka dalam memperjuangkan cinta sejati – yang kebetulan mewakili dua sisi yang berbeda – juga sering dijadikan banyak wanita sebagai tolok ukur. Sayyidah Khadijah memilih memperjuangkan cinta dengan mengambil inisiatif terlbih dahulu. Ia meminta seorang perantara yang dapat dipercaya untuk menyampaikan pada Muhammad tentang maksud mulianya. Sedangkan Fatimah berbeda. Ia memilih diam, menyimpan rapat perasaannya pada Ali. Fatimah mencintai dalam diam, hingga takdir Allah yang membuat ia akhirnya dipersatukan dengan cinta sejatinya.

Saya sering membaca tentang curahan hati seorang muslimah yang mengibaratkan penantian dan kisah cintanya seperti kisah Sayyidah Fatimah Radhiyallahu anha. Tapi ada perbedaan mencolok yang juga sering didapati. Jika Sayyidah Fatimah menyimpan rapat perasaannya pada Sayyidina Ali hingga – konon – bahkan setanpun tak dapat mengetahuinya, maka ini menjadi bagian yang teramat sulit hati ini. Menyimpan perasaan tapi sibuk stalking berbagai akun socmed si dia? Menyimpan perasaan tapi sering kirim sinyal melalui status-status galau, berharap dia membaca? Yah, mungkin saya juga pernah melakukannya (pengakuan dosa :D).

Seorang teman pernah bilang (FYI, teman saya ini laki-laki dan sudah menikah), “salahnya banyak wanita yang belum menikah tu mereka menunggu, menunggu, menunggu. Padahal kan nggak ada salahnya kalau mereka ambil inisiatif telebih dahulu dengan mengajak menikah!”

Waktu itu saya cuma melongo. Nggak tahu harus komentar apa. Iya, mungkin memang begitu. Tidak ada salahnya wanita ambil inisiatif terlebih dahulu. Meskipun tentu saja dibutuhkan persiapan mental yang jauh lebih mapan sebelum melakukannya. Karan akan selalu ada dua kemungkinan: diterima atau ditolak.

Yang disayangkan, dalam kelaziman budaya masyarakat kita, masih saja ada yang menganggap bahwa nggak seharusnya wanita menawarkan diri terlebih dahulu. Stigma bahwa meneladani sikap Sayyidah Fatimah yang menyimpan rapat perasaannya seolah jauh lebih mulia, sedangkan menawarkan diri terlebih dahulu seperti yang dilakukan Sayyidah Khadijah adalah memalukan sepertinya terbentuk secara tidak sengaja. Padahal sama sekali nggak seperti itu sebenarnya. Dua cara tersebut sama-sama mulia – kita pasti setuju tentang itu. Tapi tentu saja kita harus menimbang dengan matang sebelum meutuskan untuk meneladani satu dari dua cara memperjuangkan cinta tersebut.

Jika masih merasa mampu menyimpan perasaan, memperjuangkan melalui doa sekaligus menjaga kehormatan perasaan, mungkin meneladani sikap Sayyidah Fatimah adalah pilihan yang mulia. Tapi jika perasaan sudah semakin meletup-letup, benak tak bisa lepas dari bayangan wajah si dia, mungkin menyiapkan mental untuk meneladani cara Sayyidah Khadijah menjadi pilihan yang lebih bijak. Yang jelas, niat utama yang harus terus diluruskan: Lillati ta'ala. Wallahu a’lam bisshawab :)

Kalau ada yang memperjuangkan cinta dengan caranya Sayyidah Khadijah, boleh dong dibagi ceritanya ;)

9 komentar:

  1. Khadijah atau Fatimah, semua kembali ke niat lagi...
    hati2 saja dalam bertindak :)
    Insya Allah ada jalan

    BalasHapus
  2. selalu memohon petunjuk pada Allah, itu yg terbaik ya... :)

    BalasHapus
  3. Wah bagus sekali tulisannya ya Mba, intinya luruskan niat ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Terimakasih, semoga bermanfaat :')

      Hapus
  4. Mengingatkan gie akan niat menikah, makasih ya mbak informasinya. Semoga Allah menuegerakan jodohnya bagi yang belum berjodoh dan memanjangkan jodohnya bagi yang sudah menikah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terimakasih kembali, mbak :))

      Hapus
  5. Kalau masih ada laki-laki yang memandang cara Sayyidah Khadijah sebelah mata, sungguh dia bener-bener kolot Mbak :3

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)