Minggu, 21 Juni 2015

#Ramadhan4: Menghamba, Menyambung Taqwa

"Jadikan senantiasa taqwa sebagai bekalmu. Letakkan selalu akhirat di depan matamu." (Imam Ahmad)

"Izinkan kami, wahai Ibunda," kata 'Urwah ibn Zubair dari balik hijab, "berada di sini sejenak. Dan ceritakanlah kepada kami perkara paling memesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam."

'Aisyah Radhiyallahu 'Anhua menarik nafas panjang. Kemudian dengan terisak menahan tangis, beliau bersuara lirih, 'Kaana kullu amrihi 'ajabaa'. Adalah semua perilakunya menakjubkan.

"Aku pernah bertanya," demikian 'Aisyah melanjutkan, "apakah perlu engkau sampai seperti ini, ya Rasulullah, hingga bengkak dan pecaj kakimu karena lamanya berdiri menghadap Rabbmu, padahal telah Dia ampuni bagimu segala yang telah berlalu, yang sedang berlaku, maupun yang akan kautuju?" Beliau menjawab, "Tidak pantaskah aku, wahai 'Aisy, menjadi hamba-Nya yanh bersyukur?"

Inilah Rasulullah yang kita rindu. Betapa sempurna pemahamannya tentang kehambaan yang lekat pada kemakhlukannya. Sebakda keyakinan kukuh itu berakar, tunbuhlah ia menjadi ibadah yang menjulang menggapai langit. Dan keharuan cerita 'Aisyah menjadi saksi, betapa harum, manis, dan lembutnya buah akhlak dari pohon imannya yang dirasakan oleh sang istri.

*Ngutip dari buku Lapis-Lapis Keberkahan, Karya Salim A Fillah, halaman 184-185

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)