Kamis, 31 Maret 2016

Mengikhlaskan Kenangan Masa Kecil Sebagai Korban Bullying


Memutuskan untuk menuliskan tentang ini memaksa saya menimbang ulang beberapa kali. Hingga akhirnya saya merasa mantap. Kenapa saya memilih menuliskan tentang ini? Sementara selama ini hanya orang-orang terdekat dalam hidup saya lah yang tau. Saya memilih menyimpan kenangan atas sakit dan sedihnya. Tapi kemudian saya sadar, dengan menyimpan ternyata tidak membuat kenangan menyedihkan itu serta-merta terhapuskan. Karna saya tau dan mengakui, selama ini saya menyimpannya bukan dalam rangka telah mengikhlaskan, melainkan menyimpannya sebagai dendam.

Tapi tidak dengan hari ini. Semalam saya membaca tentang pentingnya cleansing atas hal-hal buruk yang pernah kita alami. Sekuat apapun mencoba mengabaikan, selama kita belum melakukan cleansing, hal tersebut akan terus meneror diam-diam. Dan secara tidak sadar mempengaruhi beberapa hal dalam kepribadian kita. Dengan rendah hati dan ikhlas, saya mengakui... rasanya ada hal-hal buruk dalam diri saya yang masih terpengaruh oleh kenangan masa kecil saya. Maka hari ini, dengan menuliskannya di sini, saya ingin pelan-pelan mengikhlaskan semuanya dan memaafkan mereka yang pernah melukai saya.

Saya lahir di sebuah desa yang letaknya bisa dibilang cukup terpencil yang ada di wilayah Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Desa saya terletak 8 km dari Kota Kecamatan. Masa kecil hingga SMA saya habiskan di desa tersebut. Saya melewati masa sekolah dasar di sebuah SD Negeri yang letaknya di desa sebelah.

Teman-teman saya di SD mayoritas berlatar-belakang ekonomi menengah ke bawah, bahkan lebih banyak yang ada di tingkatan 'bawah' dibanding yang menengah. Pasa masa itu, ibu dan kakak perempuan saya sudah amat memperhatikan 'penampilan' saya. Pergi ke sekolah dengan dandanan rambut 'aneh-aneh' meniru rambut artis cilik jaman itu. Sepatu, tas, dan perlengkapan sekolah saya pun tergolong bagus. Setidaknya jika dibandingkan teman-teman saya kebanyakan. Tas lusuh, sepatu lusuh, baju lusuh, bahkan tidak jarang ada yang tidak bersepatu. Sungguh ini bukan dalam rangka menghina. Saya hanya menceritakan kondisinya. Intinya, penampilan saya saat itu tampak 'berbeda' dengan mayoritas teman.

Mungkin karna saya tampak 'berbeda', beberapa teman saya juga memandang saya berbeda. Beberapa di antaranya amat jaga jarak dengan saya. Beberapa kali saya mendengan mereka mencibir (ini doa sih sebenarnya, tapi saat itu saya belum kenal istilah berpikir positif) saya dengan istilah 'wong sugih' (orang kaya), yang membuat mereka - entah segan, sungkan atau apa saya tidak tau - menjaga jarak dengan saya. Lalu, beberapa teman lelaki sekelas saya menjadikan saya sebagai sasaran empuk untuk terus-terusan dikerjain, diusilin, dll. Ada saja ulah mereka. Saya sudah lupa detil apa saja tindakan mereka pada saya. Tapi saya masih sangat ingat takutnya, was-wasnya, sedihnya, dan tersiksanya.

Masa-masa SD merupakan masa yang amat menyiksa bagi saya. Seingat saya, saya tidak pernah pergi ke sekolah dengan hati sukacita. Karena alasan inilah saya benci jika ada yang memanggil saya dengan panggilan 'santi'. Kenapa? Karena Santi adalah nama sapaan saya di jaman SD. Dan karena itu pulalah saat saya berhasil lulus dengan nilai tertinggi di SD saya, saya memutuskan untuk membenci teman-teman SD saya yang pembully itu. Bahkan ekstrimnya, untuk beberapa nama yang saya ingat paling 'jahat' saat itu, saya putuskan untuk pura-pura tidak mengenal mereka. Saya tidak pernah bersedia disapa apalagi menyapa saat sekali waktu berpapasan di jalan.

Tapi buat apa? Apa untungnya buat saya? Bukannya mengobati luka, saya justru membuat kenangan masa kecil itu semakin bernanah. Maka hari ini, melalui tulisan ini, saya memutuskan... Bismillah, saya akan berusaha mengikhlaskan semua kenangan masa kecil saya itu.


Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.


Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.
~Kurniawan Gunadi~

11 komentar:

  1. Kebayang takutnya ya mba saat itu. Semoga sekarang setelah menuliskannya, bebannya jadi berkurang ya mba.

    BalasHapus
  2. Ini membuka pandangan saya soal bully membully, selama ini banyaknya cerita merendahkan karena miskin atau kekurangan mba, ternyata terlihat kaya dan bagus bisa di bully juga yaa, poinnya karena "berbeda" kita di bully.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, soalnya kalo di sinetron seringnya digambarkan korban bully tuh yg paling miskin

      Hapus
  3. Ini membuka pandangan saya soal bully membully, selama ini banyaknya cerita merendahkan karena miskin atau kekurangan mba, ternyata terlihat kaya dan bagus bisa di bully juga yaa, poinnya karena "berbeda" kita di bully.

    BalasHapus
  4. saya juga korban bully mba.. tapi kebalikannya.. karena dulu sekolah nggak pakai sepatu, trus pernah juga pakai sepatu tapi kaos kaki sdh bolong :P

    kadang sedih sih kalau ingat meskipun sebenarnya ga pengen mengingat2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) sama mbak, sedih plus perih.
      Alhamdulillah keadaan sudah jauh lbh baik yaa mbak

      Hapus
  5. Menjadi catatan buat saya, ternyata korban bully adalah anak yang terlihat paling berbeda, di lingkungannya. Semoga setelah menuliskan ini, jika bertemu teman-teman SD yg suka Bully dulu, mba sudah bisa tersenyum :)

    BalasHapus
  6. hmm... memang sulit situasinya cha, semoga kita bisa samasama belajar melepaskan

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)