Selasa, 15 Maret 2016

Perasaan Takut Berbuat Dosa, Ke mana Perginya?

Dulu, saat masih SD, saya suka berimajinasi -- mungkin seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Salah satunya saat melihat awan di langit kala siang. Setiap melihat ke langit dan menemukan gumpalan-gumpalan awan, saya berimajinasi bahwa di antara sela-sela awan itu merupakan tempat menghukum anak-anak yang nakal dan berbuat dosa.

Setiap saya berniat berbohong pada Ibu misalnya, saya langsung melihat awan, lalu bergidik ngeri. Saya berimajinasi bahwa kalau saya berbuat dosa -- yaitu berbohong pada Ibu -- maka akan ada nenek-nenek jahat yang mengambil dan membawa saya ke awan-awan itu untuk dihukum. Maka, dengan serta-merta saya pun mengurungkan niat saya untuk berbuat dosa membohongi Ibu.

Lalu bagaimana dengan hari ini?

Seiring dengan berkurangnya imajinasi saya sekaligus bertambahnya pengetahuan saya, saya pun tau bahwa imajinasi saya tentang awan adalah SALAH. Awan sama sekali bukan tempat untuk menyiksa anak yang berbuat dosa -- tentu saja kita semua tau tentang hal ini. Saya sudah mulai tau yang benar -- tentang di mana hukuman atas dosa diberlakukan, dll.

Tapi apakah dengan bertambahnya pengetahuan saya tentang dosa dan hukumannya, menjadikan rasa takut saya akan berbuat dosa juga semakin jauh meningkat dibanding saat saya masih sekedar bermain dengan imajinasi tanpa didasari pengetahuan? Dengan hati perih dan jiwa besar, saya menjawab jujur: TIDAK.

Jika dulu bayangan dihukum di awan sudah mampu membuat saya seketika mengurungkan diri berbuat dosa, bukankah harusnya pengetahuan tentang pedihnya neraka bisa jauh lebih ampuh untuk membuat saya berbuat dosa?! Sekali lagi, sayangnya tidak. Kini, saat hendak berbuat dosa dan terbayang akan neraka, akal (atau nafsu?) saya segera membisikkan: 'Kan Allah Maha Pengampun, nanti Istighfar...'

Laa Ilaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz Zhalimiin...

Pagi ini, di tengah kondisi hati yang diliputi kegelisahan, saya mendengarkan tausiyah Aa' Gym melalui YouTube. Saya pilih acak, yang judulnya sesuai dengan kondisi hati saya. Dan Qodarullah... PAS sekali nasehatnya untuk saya.

Dalam tausiyahnya, Aa' Gym mengatakan, bahwa Ibnu Mas'ud berkata tentang perbedaan orang beriman dengan orang munafik dalam menyikapi dosa yaitu, orang beriman memandang dosa seperti gunung yang amat besar dan siap menimpanya, sedangkan orang munafik memandang dosa seperti lalat. Subhanallah :(

Selain itu, Aa' Gym juga menasehatkan agar kita banyak-banyak bertaubat. Jika sedang dalam kondisi apapun, terutama kondisi sulit, sadarilah bahwa kemungkinan besar sebabnya adalah karna dosa kita yang belum kita taubati. jangan terburu-buru menyalahkan keadaan, apalagi orang lain. Fokus taubat saja. Seperti Nabi Adam yang sama sekali tidak menyalahkan Hawa saat ia diturunkan dari Surga, tapi hanya sibuk mengucap permohonan ampun: 'Rabbana Dzalamna anfusana...', atau seperti Nabi Yunus yang tak sedikitpun menyalahkan kaumnya saat ia dimakan Ikan Paus, melainkan hanya menyibukkan lisan berucap: 'Laa Ilaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz Zhalimiin...'

4 komentar:

  1. Moga selalu istiqomah yah kita saa dlm menolak, memendam atau apalah itu, perbuatan2 yg Allah ngga suka.. Moga dijauhkan.

    BalasHapus
  2. AStaghfirullaah.. :'(
    Semoga bisa istiqomah dalam kebaikan..

    Hammad

    BalasHapus
  3. Semoga kita senantiasa diberi hidayah oleh Allah.. Aamiin..

    BalasHapus
  4. subhanallah... artikelnya bermanfaat banget mbk... makasih yaa :')

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)