Tentang Rizki

on
Selasa, 06 Desember 2016

Seusai menemani ibu mertua menghadiri tasyakuran pernikahan putri teman kuliahnya hari sabtu kemarin, kami sholat dhuhur di masjid gak jauh dari lokasi acara. Setelah wudhu dan hendak mengambil mukena di almari masjid, tiba-tiba seorang wanita sebaya dengan saya menghampiri. Dengan tutur kata lembut ia mengajak sholat berjamaan, dan meminta saya menjadi imamnya. Saya sempat menolak dan meminta mbaknya saja yang menjadi imam, tapi ia kekeuh ingin saya mengimami. Baiklah, akhirnya saya bersedia.

Setelah salam dan dzikir beberapa saat, kami bersalaman. Si mbak yang menjadi makmum saya tersebut tiba-tiba berujar, 'mbak, tolong doakan saya agar segera hamil juga. Kan mbaknya lagi hamil, katanya doa ibu hamil Insya Allah mustajab'.

Masya Allah. Hati saya terenyuh seketika. Ingin sekali saya memeluknya, namun rasa canggung akhirnya membuat saya hanya mengelus-elus pundaknya sembari menjawab, 'Aamiin yaa Rabb... iya mbak, saya doakan Allah segera perkenankan seorang keturunan untuk mbak ya. Tetap tawakal dan jangan berhenti ikhtiar ya, mbak...'

Obrolan pun berlanjut. Termasuk memperkenalkan nama diri masing-masing. Mbaknya bernama Iva (bukan nama sebenarnya), umurnya sepantaran dengan saya, dan sudah tiga tahun menikah. Lalu mbak Iva bertanya dimana saya tinggal. Saya bercerita bahwa saya masih tinggal bersama mertua. Saya pun bertanya balik dengan pertanyaan yang sama. Saya kira Mbak Iva masih tinggal bersama mertua juga. Entah kenapa saya sok tau sekali. Ternyata Mbak Iva telah memiliki rumah sendiri bersama suaminya. Gak ingin merepotkan orangtua, katanya.

Ada sebersit iri yang seketika mengusik. Mbak Iva yang penampilannya amat sederhana dan pekerjaan yang gajinya pastilah gak beda jauh sama saya, ternyata sudah punya rumah sendiri. Sedangkan saya dan suami masih numpang. Perasaan itu masih sempat terbawa saat perjalanan pulang. Lalu saya sadar dan beristighafr. Bukankah takaran rizki Allah gak pernah salah dan selalu adil seadil-adilnya?! Lagipula, picik sekali rasanya jika saya iri pada Mba Iva hanya karena ia sudah memiliki rumah sendiri, dan melupakan fakta bahwa saya sudah dikaruniai Allah rizki berupa kehamilan, sedangkan Mba Iva belum.

Beginilah manusia. Seringkali lupa pada apa yang telah dikaruniakan, dan justru hanya fokus pada yang belum ada dalam genggaman.

oOo
Ingatan saya lalu terlempar pada potongan obrolan dengan seorang teman yang sudah lebih dewasa di kantor, pada hari sebelumnya.

Awalnya ia menanyakan apa perkiraan jenis kelamin anak saya menurut hasil USG.

"Insya Allah kambing dua, Pak" jawab saya. Kambing dua (untuk aqiqah) menyimbolkan bahwa anak saya Insya Allah berjenis-kelamin laki-laki.

"Lho, kalau bisa lebih dari dua kenapa tidak. Kan lebih bagus, anggap saja sedekah untuk anak" sahut teman saya tersebut.

Saya tersenyum, mengiyakan. "Doakan ada rizki ya, Pak" lanjut saya.

"Lho, kalau cuma ada rizki, gak usah doa, karena sudah pasti ada. Kan Allah menjamin rizki setiap hamba-Nya. Doanya itu, semoga ditambahkan rizki dari arah yang gak kita duga-duga, dan semoga diberikan rizki yang barakah" jawab teman saya.

Saya tertegun. Ah, iya juga ya. Kadang kalimat doa kita kurang tepat, tapi gak sadar sampai dengan ijin Allah ada yang mengingatkan. Saya sering berdoa, 'Ya Allah, berilah saya rizki', padahal gak satu detik pun Allah pernah membiarkan saya tanpa rizki. Itu hal yang sudah dijamin oleh Allah, bahkan yang atheis dan gak beriman pun Allah jamin rizkinya. Yang gak pernah dijamin itu adalah keberkahan atas rizki yang kita terima. Maka berkah haruslah kita mohonkan. Begitu juga rizki dari arah yang gak kita duga-duga. Selain perlu dimohonkan, hal tersebut harus kita usahakan.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

 Apa usahanya? Cukup dengan berusaha menjadi orang yang taqwa.

oOo
Ingatan saya lalu meloncat ke beberapa sosok perempuan. Mereka perempuan-perempuan muda yang baru saja ditinggalkan sang suami menghadap pencipta, sedang bersamanya ada seorang balita yang menjadi tanggu jawab.

Saya yang hanya melihat, seringkali justru resah. Bagaimana mereka menjalani hari-hari ke depan. Bagaimana ia memenuhi segala kebutuhannya bersama putri tercinta. Yang mengagumkan, tak sedikitpun mereka menampakkan keluhan ataupun keresahan seperti yang saya rasakan. Yang mereka perlihatkan justru usaha demi usaha untuk menjemput rizki yang telah dijaminkan-Nya.

Saya malu melihat mereka. Betapa memasuki umur kehamilan tujuh bulan ini, saya sering dihinggapi keresahan soal rizki. Saat ini belum lahir saja kadang keteteran mengatur keuangan agar bisa cukup. Lalu bagaimana nanti jika anak saya sudah lahir dan yang pasti pengeluaran pasti bertambah, sedangkan gaji stagnan? Bagaimana nanti jika saya gak berhasil menemukan pengasuh untuk anak saya saat saya harus bekerja? Kalau saya resign, apa cukup jika hanya bergantung pada gaji satu pintu dari suami?

Astaghfirullah...

Sedangkal itu ternyata tauhid saya :( Saya lupa bahwa Allah menjamin rizki setiap hamba-Nya. Saya lupa bahwa rizki bukan soal seberapa banyak, namun soal seberapa berkah. Yang banyak tapi gak berkah, belum tentu cukup. Sedangkan yang sedikit tapi berkah, pasti cukup. Saya tau ilmunya, tapi ternyata ilmu itu belum benar-benar merasuk ke jiwa saya.

Daripada meresahkan sesuatu yang di luar jangkauan, bukankah lebih baik saya menyibukkan diri saja dengan meminta agar Allah karuniakan keberkahan dalam setiap rizki yang saya terima?!
7 komentar on "Tentang Rizki"
  1. Hiks :(

    samaaaa.... kadang terbersit iri melihat teman-teman yang sudah punya rumah sendiri, hidup nggak sama mertua lagi.. padahal kalu dikulik hidup dengan orangtua akhirnya aku bisa kesana kemari karena aja yang jaga si kecil, ada teman ngobrol di rumah, ada yang bisa dimintai pendapat seputar persoalan perempuan, dll.

    rejeki sudah diatur ya.. tggl mau bersykur apa tidak.

    makasih remindernya Mba... *ketjup

    BalasHapus
  2. Makjleb banget kalimat penutupnya, bukankah lebih baik meminta Allah mrmberikan keberkahan dalam setiap rejeki. Kita sering lupa meminta keberkahan dalam rejeki, sibuk meminta rejeki saja

    BalasHapus
  3. Noted buat saya juga ini Mbak.
    Terima kasih :')

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Aku jg minta rizki yg berkah tiap solat. Byk tp gak berkah ya sayang

    BalasHapus
  6. Rizki yg berkah, amin....

    BalasHapus
  7. memang sawang sinawang ya cha :(

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung, tinggalkan kesanmu ya :)

Signature

Signature